Actions

Work Header

Truth or False

Chapter Text

7 hari telah berlalu semenjak lonjakan energi sistem meningkat. Orang-orang dapat menggunakan skill mereka lagi. Beberapa dengan sponsor yang masih hidup dapat memakai skill secara maksimal.
Sedangkan sebagian lain harus rela menggunakan skill dengan kekuatan minum--- mengingat konstelasi yang mereka pilih telah padam 24 tahun silam.

Beberapa bangunan selepas kiamat yang menggunakan energi dari sistem, kembali beroperasi dengan lancar. Salah-satunya adalah rumah sakit di dalam Komplek Industri Kim Dokja, dan disana, sosok yang 4 tahun silam tertidur lelap, telah terbangun sebagai poros dari kekuatan sistem dunia berada.

 

*****

 

Kim Dokja memandang ke arah jendela yang jernih, menampilkan penampakan langit yang biru tanpa awan. Burung-burung dan mahluk dengan bentuk berbeda beterbangan, serta pemandangan taman rumah sakit yang terlihat 'hidup'.

Pepohonan yang tumbuh rimbun nan kuat. Bunga yang dirawat dengan skill tertentu hingga terlihat selalu segar. Perawat yang tengah membacakan dongeng pada anak-anak yang menjalani rawat inap. Staff rumah sakit yang hilir mudik kesana kemari. Pengunjung yang menemani kerabat mereka yang dirawat.

Seminggu berlalu seperti ini dan Kim Dokja masih merasa bahwa dirinya tengah bermimpi. Mimpi yang indah, tidak nyata dan hanya ada karena keinginan alam bawah sadarnya.

Itu cukup membingungkan, terutama jika memikirkan bahwa dirinya beberapa hari yang lalu masih berada di tempat yang berbeda, menunggu waktu bereinkarnasi menjadi inkarnasi sekali lagi, atau kembali membuka mata untuk mendapati pemandangan luar angkasa dari dalam kereta.

Tapi siapa yang menyangka, ia bisa benar-benar kembali. Meski sejujurnya, ia tak mengingat bagaimana caranya hingga ia bisa terbangun di bumi. Ke rumahnya.

Tok... Tok... Tok...

Dokja menolehkan kepala, bersamaan dengan pintu yang dibuka. Itu Lee Seolhwa, dengan penampilan yang elegan. Gaun selutut berwarna pastel, jas dokter, sepatu high heels serta rambut bergelombang yang di gerai. Wajahnya yang tak tampak menua makin mempesona karena polesan make up natural.

Jika tidak mengingat sosok ini adalah kekasih (masa lalu) Yoo Junghyuk, Dokja mungkin sudah meneteskan liurnya.

"Selamat pagi, Dokja-ssi. Bagaimana perasaanmu hari ini?"

"Pagi, Seolhwa-ssi." Dokja menatap tangannya yang terkepal, "Sepertinya mulai membaik. Tanganku tidak kaku lagi dan semalam aku sudah bisa kembali berjalan dengan bantuan tongkat."

"Itu perkembang yang bagus."

Seolhwa memindai infus, lalu memeriksa beberapa bagian dongeng yang telah pulih sepenuhnya. Ia tersenyum lebar, agak takjub dengan proses pemulihan Dokja yang lebih cepat dari pasien lainnya.

Tapi jika ia mengingat siapa sosok sesungguhnya yang tengah terduduk di ranjang rumah sakit itu, Seolhwa tak merasa aneh. Sebab sosok pria yang seminggu lalu masih terlihat seperti anak berusia 9 tahun itu adalah dewa yang menjaga keseimbangan dunia. Bahkan dunia mereka yang tak lagi memiliki Star Stream masih bisa menggunakan sistem dongeng dengan lancar.

Semua itu berkat Kim Dokja.

"Bagus, segalanya telah membaik. Dongengmu lengkap, tubuhmu telah pulih dan sepertinya moodmu cukup cerah hari ini."

Dokja terkekeh, "Semalam Sooyoung dan Hayoung datang kemari dengan bagian novel yang belum disertakan dalam cetakan. Aku cukup terhibur saat membacanya, terutama saat menyadari bahwa bagian novel spesial itu dibuat dari kisah Hayoung."

"Ah, kau sudah membaca semuanya? Pasti diriku tak sering muncul di dalam novel."

"Seolhwa-ssi, porsimu memang tak banyak, tapi keberadaanmu dalam tim sangat berpengaruh besar."

Dokja mengingat bagaimana ia harus meninggalkan Seolhwa di bumi untuk menjadi pemimpin yang menggantiknnya di Komplek Industri sekaligus menjadi Dokter. Keduanya bukanlah pekerjaan yang mudah, tapi Seolhwa bisa melakukannya dengan sangat baik. Dokja, sekali lagi, kembali terpukau oleh kemampuan heroine dari novel aslinya ini.

"Untuk itu, Seolhwa-ssi, aku sangat berterima kasih atas kerja kerasmu selama ini."

"Dokja-ssi."

"Ya?"

"Terima kasih juga telah pulang kesini." Seolhwa mengusap surai hitam pemuda itu, "Meski kita tak cukup dekat, tapi kembalinya dirimu benar-benar membuat perasaanku lega."

Pipi Dokja memerah. Ia tau sentuhan itu hanya bentuk rasa syukur dari Seolhwa atas kembalinya dirinya. Namun, meski begitu, ia tetaplah pria 29 tahun (atau pria berusia 2000 tahun lebih, jika mengingat perjalanannya sebagai Most Ancient Dream) yang belum pernah disentuh oleh wanita secantik Lee Seolhwa.

Seperginya Seolhwa, Dokja menghabiskan waktu untuk menonton televisi. Berita dalam dan luar negri bermunculan. Karena keberadaan sistem yang kembali pulih, beberapa orang yang memiliki skill mulai mengembangkan kemampuannya dan sebagian lagi menggunakan kekuatan mereka sebagai fondasi bisnis.

Seperti yang dilakukan Gong Pildu. Pria yang rambutnya telah putih seluruhnya itu menjadi salah satu yang tersorot kamera setelah sukes menjadi miliyarder penjual tanah. Beberapa mahluk buas yang dibawa oleh skenario telah berkembang biak, dan keberadaanya telah menyebar diseluruh pelosok bumi. Karena banyak orang menginginkan hidup yang aman, skill Gong Pildu pun menunjukan taringnya, yang mana akhirnya dalam 2 tahun belakangan ia berhasil meraup pundi-pundi uang dan menjadikannya pria terkaya di dunia nomer 4.

Lalu berita beralih ke bagian pemerintahan. Disana Han Dong Hoon tengah melakukan jumpa pers untuk mengkonfirmasi kembalinya Kim Dokja. Disana juga ada Yoo Sangah yang menjadi juru sesi tanya jawab, sebagai perwakilan dari Kim Dokja Company.

'Sangah-ssi, apakah dengan kembalinya Kim Dokja, Dokkaebi dan Skenario akan dimulai lagi?'

'Bagaimana dengan sistem konstelasi? Apakah Konstelasi dapat kembali menggunakan kekuatan mereka? Dan jika iya, bagaimana jika mereka menyalah gunakan kekuatan mereka?'

Yoo Sangah dengan tenang menjawab pertanyaan dari orang yang ia tunjuk tadi, "Pulangnya Kim Dokja ke bumi bukan berarti kiamat kembali berlanjut. Dokkaebi di dunia ini hanya tinggal satu dan merupakan rekan dari Kim Dokja Company, yaitu Raja Dokkaebi, Biyuu. Selain itu, skenario tidak akan terulang kembali karena wewenang itu ada ditangan Kim Dokja dan Biyuu sendiri."

"Lalu untuk sistem konstelasi, kami telah mendapat informasi bahwa beberapa konstelasi yang masih hidup telah kembali mendapat kekuatan penuh mereka. Juga, dengan kembalinya Raja Dinding, Pemerintahan di seluruh dunia serta konstelasi yang terhubung dengan kami akan membuat kesepakatan perdamaian, dimana dimulai dari lusa nanti, tepat saat pengesahan kesepakatan ini dilangsungkan, tidak ada konstelasi ataupun inkarnasi yang diperbolehkan menggunakan kekuatan mereka secara semena-mena."

Dokja tersenyum, ia sangat menyadari potensi Yoo Sangah sejak lama. Dimana tidak hanya menjadi penerus Sakyamuni, Yoo Sangah juga diberkati dengan kepercayaan diri dan kecakapan dalam berbicara di depan publik. Berbeda dengan Kim Dokja yang hanya akan membuat warga gelisah, mengingat bagaimana caranya menanggapi dalam jumpa pers beberapa tahun silam sebelum skenario terakhir dimulai.

Jumpa pers yang disiarkan secara langsung itu terus bergulir hingga seorang wartawan dari Channel Televisi Swasta SSS mengajukan pertanyaan.

'Yoo Sangah-ssi, selepas seminggu kepulangan Kim Dokja-nim, kami mendengar rumor bahwa Kim Dokja-nim masih dalam tahap pemulihan. Bukankah Kim Dokja-nim adalah Raja Dinding? Kenapa ia tak menggunakan skill untuk mempercepat penyembuhannya? Atau apakah rumor mengenai hilangnya kekuatan Kim Dokja-nim benar adanya? Dan jika kekuatan Kim Dokja-nim tidak hilang, apakah ia akan diadili atas perbuataannya pada dunia?'

Pertanyaan itu membuat wartawan lain ikut gempar. Mereka ikut memberi banyak pertanyaan, namun mulut mereka segera terkatup rapat saat roda mandala muncul dibelakang tubuh Yoo Sangah. Wajah wartawan yang menanyakan pertanyaan tadi tak lagi terlihat congkak, melainkan pucat pasi seolah darah telah dikeluarkan dari tubuhnya.

'Y, Yoo Sangah-ssi! Bukankah anda telah mengatakan bahwa penggunaan kekuatan semena-mena tidak boleh disalah gunakan? Lalu apa--'

"Bukankah saya mengatakannya dengan jelas? Kesepakataan itu memang akan ditanda tangani LUSA NANTI, disiarkan diseluruh channel televisi dan sistem dibawah kendali Biyuu sehingga seluruh dunia dapat melihatnya. Dan hari ini kesepakatan itu belum ditanda tangani, bukan begitu?"

"Terlebih, Nona Kang, kekuataan saya aktif saat saya merasakan ada bahaya yang akan menganggu pimpinan saya, dan anda, tanpa sengaja telah mengaktifkannya."

'Tapi saya hanya bertanya--'

"Ya, anda memang hanya bertanya. Tapi pertanyaan itu juga akan di dengar publik, dan apabila publik salah mengartikan pertanyaan anda maka..."

Yoo Sangah mengulas senyum tipis, tak mengalihkan pandangan dari wartawan tadi yang bisa pingsan setiap saat, "Ekhm, maaf, saya mungkin memang telah lancang."

"Jadi sampai mana kita tadi? Ah, ya, Kim Dokja-nim memang sedang dirawat karena adanya masalah dalam proses pengembalian dongengnya. Namun segalanya berjalan dengan---"

Layar televisi yang menampilkan sosok Yoo Sangah mati. Kim Dokja menghela nafasnya, segera mengetahui siapa yang dengan lancang memasuki kamar inapnya tanpa suara dan mengganggu acara paginya.

"Kembalikan remotnya, Yoo Joonghyuk."

"Kau tidak perlu mendengarnya."

"Tapi aku ingin."

"Itu akan mengganggu pemulihanmu."

"Oh, ayolah... Aku sudah pulih. Jangan perlakukan aku seperti boneka porselin yang bisa pecah kapan saja."

Dokja mengirimkan isyarat kembalikan-remot-tv-sekarang. Namun Yoo Joonghyuk tak mengindahkan. Ia segera menaruh remot di dekat televisi, yang mana membuat Dokja kesal karena ia harus berjalan jika ingin mengambilnya.

Tapi bahkan sebelum ia bisa turun dari ranjang, Joonghyuk sudah menariknya kedalam pelukan. Dengan posisi Dokja masih duduk, ia tenggelam di antara dada dan lengan besar sang protagonis. Membungkus tubuhnya yang mengurus dengan hati-hati.

Dokja tidak terkejut, ia hanya menghela nafas pelan, lalu diam seperti patung. Ini adalah pertemuan keenam mereka selama seminggu, dan Joonghyuk mulai bertingkah.... Hm, bagaimana Dokja mengatakannya, Joonghyuk entah kenapa berubah menjadi lebih lengket dari sebelumnya.

Perubahan ini terjadi di hari pertama. Setelah seharian menghabiskan waktu untuk melepas rindu, seluruh anggota Kim Dokja Company sepakat untuk mentukan siapa yang menjaga Dokja malam itu dengan suit. Tapi Yoo Joonghyuk tiba-tiba menunjuk dirinya, berinisiatif menjadi yang pertama menjaga Dokja. Tentu saja itu sangat mengejutkan tim, mengingat Joonghyuk bukan tipe orang yang mau direpotkan.

Dokja juga takjub, tapi itu langsung sirna saat teman-temannya pergi. Sebab sebelum ia membuka suara, Yoo Joonghyuk yang duduk disamping ranjangnya tiba-tiba menunduk, menangis. Itu adalah kali pertama Dokja melihatnya menangis, jadi ia panik. Dirinya mencoba menghibur Joonghyuk dengan menepuk bahunya beberapa kali, tapi itu tak membantu banyak.

Tak bisa melihat sang protagonis dalam kondisi itj, Dokja pun berdoa semoga Joonghyuk tak menebasnya, lalu memeluk kepala yang menunduk di dekatnya. Joonghyuk mulanya tertegun, namun tak lama kemudian ia membawa kedua tangannya melingkari punggung Dokja, membalas pelukan itu erat-erat.

Selepas kejadian itu, apabila mereka hanya berdua, maka Joonghyuk akan menjadi lebih manis dengan melakukan skinship ringan. Seperti menepuk kepalanya, menggegam tangan atau berpelukan. Dokja sejujurnya tidak begitu menyukai skinship, dan ia cukup mengenal Joonghyuk yang seratus persen lurus. Jadi setiap Joonghyuk menggegam tangannya, ia akan membalas. Tapi bila Joonghyuk memeluknya, maka ia akan diam saja.

Mereka tak pernah membicarakan hal ini, jadi Dokja menghargainya dengan tidak menggunakan topik ini sebagai bahan candaan. Namun karena saat ini wajah Joonghyuk terlihat tak senang, Dokja berinisiatif bertanya.

"Hei, Yoo Joonghyuk, ada apa denganmu?"

"..."

"Joonghyuk, aku bertanya, kau ini kenapa?"

"..."

"Joonghyuk-ie."

"Beraninya manusia biasa seperti dia berniat mengadilimu."

"Oh, itu. Bukankah wajar jika mereka berfikir untuk menghakimiku?"

"Kau tidak bersalah, Kim Dokja."

Dokja tersenyum lebar saat menyadari alasan mood Joonghyuk memburuk, "Apa kau sangat mengkhawatirkan aku hingga membuat wajah seperti itu?"

"Apa aku tidak boleh mengkhawatirkanmu?"

Senyum Dokja segera sirna. Well, ini mulai terasa menyeramkan. Biasanya saat Joonghyuk dijahili ia akan membalas dengan "Akan kubunuh kau!" atau melayangkan tatapan tajam yang menusuk jiwa. Jadi saat ini, ketika Joonghyuk membalas candaannya dengan pertanyaan serius, Dokja tidak bisa merasakan kelucuan didalamnya.

"Joonghyuk-ah, apa saja yang terjadi padamu hingga kau berubah sebanyak ini?"

"Aku menunggumu." Joonghyuk melepaskan pelukannya, membingkai wajah tirus Dokja dengan sebelah tangan, membimbingnya naik pada tatapan protagonis yang tajam tapi juga hangat, "Semua ini karena aku terlalu sabar menunggumu kembali, Kim Dokja."

Mulai hari itu, Kim Dokja tak pernah berani berfikir mengenai kemungkinan 'lurus-nya' Yoo Joonghyuk.