Actions

Work Header

Cool Daddy and Handsome baby.

Chapter Text

Minggu pukul 06.11, di rumah kediaman Oh, Kyungsoo baru saja terbangun, ia lalu mengambil handphonenya mengecek jadwalnya hari ini. Karena hari ini jadwalnya kosong ia pun menghela nafas, ia lalu memfoto dirinya sendiri dan memposting foto itu ke instagram miliknya, menyapa semua fansnya. ia tersenyum tipis saat kakak-kakaknya berkomentar di post itu. Kyungsoo masih bersantai di atas kasurnya, Baekhyun masuk ke dalam kamarnya.

 

"Kyungsoo, morning." sapanya sambil duduk di sisi kasur.

"Semangat sekali eonnie... ada apa?" Kyungsoo menatap Baekhyun sambil memeluk bantalnya.

"Sekarang kita kan libur nih, pergi ke mall yuk, jalan-jalan sambil refreshing." Baekhyun menatap sang adik dengan penuh semangat.

"Mall? Ga mau ah, aku ingin istirahat sehari penuh di rumah. Capek dari dua hari kemarin jadwal full." jawabnya sambil terus tiduran di atas kasurnya.

 

"Ukh, Ayolah eonnie... memang ga bosen apa, diam satu hari penuh di rumah?" Baekhyun kembali membujuk sang kakak. Baekhyun memasang wajah imutnya, berharap bisa berhasil membujuk sang kakak untuk menemaninya pergi ke Mall bersama.

 

Kyungsoo menatap Baekhyun dengan tatapan galaknya,"Tidak Baekhyun, aku benar-benar ingin istirahat di rumah, kau bisa ajak Sehun atau yang lainnya kan.." Kyungsoo kembali menghela nafas lalu dia membalikan badannya memunggungi Baekhyun.

Baekhyun lalu mengerucutkan bibirnya dan mengedikan bahunya,"Haaah baiklah baik... kalau begitu selamat istrirahat eonni..." Gadis itu pun berjalan keluar dari kamar sang kakak. Ia pun berjalan ke arah pintu kamar sang adik bungsu, setelah mengetuk kamar Sehun ia membukanya dan masuk ke dalam kamar, ia melihat jika sang adik sudah rapi dan siap untuk pergi.

 

"Arre, Sehun...kamu mau berangkat ke mana? Apa ada pekerjaan?" Tanyanya Baekhyun heran. sang adik tersenyum dan menatap sang kakak.

"Tidak ada pekerjaan sih tapi Sehun sudah ada janji mau pergi sama teman. Jadi, ya aku sekrang sudah siap. Ada apa Eonnie?" Sehun kembali merapikan penampilannya.

"Umh sudah ada janji ya... uh, sayang sekali." gumamnya sambil bersandar di daun pintu.

Melihat itu Sehun mengernyitkan keningnya,"Ada apa eonnie? Kenapa kelihatannya murung seperti itu hum?" tanya Sehun lembut dengan tatapan cemas.

"Aku mau ajak kamu main ke mall gitu, tapi ternyata kamu ga bisa, Kyungsoo juga bilang dia malas, masa ajak Chen Oppa sih, atau Suho Oppa.." Jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.

 

"Kenapa eonnie tidak ajak teman eonnie? Chanyeol Oppa contohnya~" Ucapnya sengaja menggoda sang kakak, senyum jahil terpatri di wajah cantiknya.

"aish apaan sih Sehun, masa aku yang ajak? ish, risih... ga mau deh. ya sudah daripada diejek sama kamu mending kaka pergi sendiri saja..." ucapnya yang kesal lalu pergi keluar dari kamar Sehun.

Sehun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu ia kembali menatap cermin dan melihat penampilannya. Baekhyun yang kesal karena tidak ada yang bisa ia ajak hanya berjalan sambil menghentakan kakinya ke ruang keluarga, di sana ia bertemu dengan Heechul yang sedang mengupas buah jeruk, tanpa menunggu lagi ia langsung duduk di samping Heechul dan memeluknya manja.

 

"Eomma~.. " ucapnya manja.

"Ada apa sayang? kenapa murung seperti itu eoh? ada masalah? ada yang gangguin kamu?" tanya Heechul mencemaskan anaknya itu, ia menyimpan jeruk yang sedang ia kupas ke atas piring.

 

"Tidak ada yang mau main sama aku, Kyungsoo dia bilang malas pergi ke mana-mana, Sehun... dia pergi sama temannya, masa aku ajak Suho oppa or Chen Oppa? aish ga mau sama mereka, pasti mereka bawel." ceritanya.

Heechul mengusap sayang rambut Baekhyun,"Aduh, kasian anak eomma yang cantik ini, bagimana kalau pergi ke mallnya bersama eomma saja?"

"beneran eomma? eomma mau nemenin aku? beneran?" tanya Baekhyun sambil menatap penuh semangat Heechul.

Heechul tersenyum senang,"Iya sayang, tapi eomma harus ijin dulu ke appamu ne, kamu tahu sendiri gimana appamu itu." ucapnya sambil mengusap kepala Baekhyun.

 

"Baiklah... Biar aku saja yang ijin ke appa, eomma siap-siap aja ne..." ucapnya riang sambil berlari menuju ruang kerja sang appa, sementara Heechul terkekeh melihat kelakuan putrinya yang satu itu lalu ia pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.

Setelah sampai ke dalam ruangan Kyuhyun,"Appa... Appaaa..." panggilnya, ia dengan penuh semangat duduk di sofa ruang kerjanya.

 

Kyuhyun melihat kelakuan sang anak hanya terkekeh dan tersenyum,"Ada apa Baekhyun?"

"Appa, aku ajak eomma jalan-jalan ke mall boleh kan ya? kan hari libur." Baekhyun menatap Kyuhyun penuh harap.

"Berdua saja? ya sudah, kamu dan eomma pasti bosan ya di rumah... tapi, perginya sama supir aja ya, jangan biarin kamu atau eomma yang nyetir." ucap sang appa.

"Siap appa... Gomawo, kita berangkat dulu yaaa.. pai pai..." Baekhyun langsung pergi keluar ruang kerja.

Baekhyun dan juga Heechul pergi dari rumah menuju mall. Sementara itu Suho kini sedang dalam perjalanan menuju apartemen Irene, ia berulang kali menghembuskan nafasnya selama perjalanan, ia benar-benar tak menyangka jika perasaannya yang tulus malah terbalaskan dengan kepalsuan. Tak lama ia sampai di lobby apartemen dan memarkirkan mobilnya di parkiran depan apartemen itu agar mudah ketika ia keluar nanti. Lalu ia masuk dan langsung menuju lantai lima di mana apartemen Irene berada, setelah sampai ia memencet bel dan menunggu pintu di buka.'Ceklek'

 

Irene keluar dari apartemennya dan tersenyum pada Suho, ia terlihat cantik dengan rambut hitam panjang tergerai, make up natural dan bibir yang dipoles lipstick berwarna orange, ia mengenakan baju off shoulder berwarna biru muda, dipadu padankan dengan celana jeans ketat juga highheels hitam.

"Halo chagi, ayo aku sudah siap." ia menutup dan mengunci pintu lalu berjalan ke arah Suho, ia mengalungkan tangannya ke lengan Suho.

Suho menahan diri untuk tidak menepis tangan Irene dan menganggukan kepalanya,"Ya ayo, kita berangkat." Mereka pun pergi menuju Cafe yang cukup ramai, Suho sudah memesan satu tempat privasi untuk mereka. setelah mereka duduk pelayan mendekati mereka dan memberikan buku menu.

 

Suho melihat menu itu dan langsung memesan."Aku pesan Mocca late dan waffle kopi saja." ucapnya sambil memberikan buku menunya pada pelayan.

"Aku greentea smoothie sama strawberry Waffles saja..." Irene pun selesai memesan.

Pelayan itu mencatat pesanan keduanya lalu ia menganggukan kepalanya kepada Suho dan Irene, dan ia pun pergi untuk menyampaikan pesanannya ke dapur. Irene kembali tersenyum pada Suho dan ia memegang tangan suho.

"Chagi, tahu ga aku senang sekali akhirnya kita bisa jalan berdua lagi, beberapa minggu ini kan kamu selalu saja sibuk kalau aku ajak jalan." ucapnya manja sambil memegang lembut tangan kanan Suho.

"Iya kamu benar, kita sudah lama tidak jalan berdua Ren." jawabnya masih berusaha tenang mengatur emosinya.

"Ish kok ga panggil aku chagi seperti biasa sih? aneh tahu ga sih... kamu panggil Ren kan waktu kita belum pacaran." protesnya sambil memanyunkan bibirnya.

Suho hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun,'Itu sih maunya kamu... tsk, kenapa kamu melakukan semua ini Ren? aku sayang banget sama kamu, kamu tidak tahu sesakit apa perasaan aku terluka sampa sedalam ini,  sakit tapi tidaka berdarah... hahaha... bego juga sih aku sampai percaya dan sayang banget sama kamu, cinta aku hanya dijadikan mainan sama kamu.' batinnya, ia bahkan tak menyadari jika Irene memanggilnya sejak tadi.

"Chagi... Chagi... hei, Chagiii~~" Irene menggoyangkan tangan Suho, membuat Suho kembali dari lamunannya.

"Hmm, ya ada apa Ren?" Suho menatap Irene yang sedang mengernyitkan keningnya.

"Kamu kenapa sih dari tadi melamun terus?" protesnya kesal.

Suho menghela nafas dan memijat pelan keningnya,"Huft, bukan apa-apa, hanya masalah pekerjaan, mian Ren..." ucapnya.

Belum sempat Irene bertanya lebih lanjut, pelayan mengantarkan makanan mereka,"Ini silahkan pesanan kalian berdua, ini untuk tuan dan ini untuk nona... jika butuh yang lainnya silahkam panggil saya kembali, terima kasih dan selamat menikmati." ucapnya sopan, pesanan sudah dihidangkan dan pelayan itupun pergi.

 

Irene dan Suho pun mulai memakan pesanan mereka,"Chagi, apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?" tanya Irene setelah beberapa saat mereka makan dalam hening.

Suho menatap Irene,"hmm iya ada, menurutmu apa?" tanyanya balik dengan suaranya yang sedikit dingin.

"Umh, masalah kantor? Memangnya apa lagi yang menjadi beban pikiranmu sekarang? kamu bahkan belum membicarakan tentang pernikahan kita, kamu selalu fokus dengan pekerjaanmu itu." jawabnya sedikit cemberut.

"Yakin hanya mengenai hal itu? Apa kamu tidak punya sesuatu yang kamu rahasiakan padaku?" Suho sudah menghabiskan makanannya, kini ia meminum minuman miliknya.

mendengar ucapan Suho, Irene mengernyitkan keningnya,"Ap- apa maksud kamu sih? Aku tidak punya rahasia apapun." sanggahnya sambil kembali menghabiskan waffle miliknya.

Suho menatap Irene intense dengan kedua mata tajamnya,"Yakin, kamu tidak menyimpan rahasia dariku?"

Irene mulai merasa panik, meskipun begitu ia berusaha tetap tenang."Chagi~ a-aku be-beneran tidak punya rahasia apapun." Irene menatap Suho dengan tatapan khawatir.

"Kalau memang seperti itu gue mau nanya sesuatu." Suho kembali menatap Irene dengan tenang.

Irene menganggukan kepalanya"Iya apa itu?"

"Well, Jay.... kau kenal siapa dia?" tanyanya sambil mengeluarkan handphone miliknya.

'Deg' mendengar nama itu membuat jantungnya berdegup dengan kencang,"J-Jay... aku ga kenal dengan laki-laki yang namanya Jay Chagi, memang dia siapa? Klienmu? ah atau calon traineemu?" ucapnya mulai gugup/

Suho mendengus dan memperlihatkan foto di handphone miliknya ke Irene,"Ini Jay yang kumaksud." tunjuknya.

 

Melihat foto yang ada di handphone Suho ia membelalakan kedua matanya,"Membulatkan kedua matanya, panik maksimal. Ch-chagi... erm ba-ah siapa memangnya dia?" ia berusaha tenang namun gagal.

"Kenapa kamu panik? Bukannya kamu tadi bertanya bagaimana aku bisa tahu dia kan bukannya siapa dia? Oh, tentu saja aku sudah tahu semuanya Irene, kamu pikir aku tidak akan tahu? Yah aku sadar kalau aku bodoh sudah percaya sama kamu. Tapi, kamu ingat kan sebuah pepatah Sepintar-pintarnya manusia menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga." jelas Suho tenang.

Mendengar penjelasan Suho Irene tak bisa berkata apapun sama sekali, melihat itu Suho tersenyum kecut dan kembali berbicara,"Iya aku sudah tahu semuanya, kalau kamu sebenarnya pacaran denganku hanya untuk memanfaatkanku doang... padahal kamu sudah berpacaran sama Jay, waw hebat banget." setelah mengatakan itu Suho bertepuk tangan dan tertawa miris. "Wow Hebat, kalau kita sampai menikah... fiuh, untungnya tuhan masih sayang ma gue, semua kepalsuan, semua sandiwaramu terbongkar padaku." Suho menghela nafas dan mengusap wajahnya,"Orang-orang sekitarku masih sayang padaku, jadi aku bisa tahu dari mereka semua, dan kamu juga tidak perlu bertanya aku tahu dari siapa."

 

Irene berpikir keras, berusaha menutupi kebohongannya,"Chagi, kamu tidak bisa menyimpulkan begitu saja hanya karena kamu mendengar dari orang-orang sekitar kamu! bisa saja kan semua itu cuman bohong dan rekayasa!"

"Rekayasa? pfft hahaha, lucu sekali Irene... aku sudah punya banyaaak bukti, bahkan aku melihatdengan kedua mataku sendiri kamu berduaan bersama laki-laki itu, mesra sekali bahkan sampai sekamar di hotel, dan keluar di pagi hari, bahkan kita tidak sejauh itu kan?" Suho terkekeh pelan.

"Aap-apa? itu, orang lain! bukan aku! Chagi percayalah, itu bukan aku! Bisa saja, ada orang yang mau memfitnahku!" Irene berusaha meyakinkan Suho.

"Very funny, bisa tidak kamu berkilah lebih pinter lagi Iren? Sudah jelas semua yang aku sebutkan itu fakta, masih saja mengelak, wow, luar biasa."Suho kembali bertepuk tangan dan bersandar ke sandaran kursi.

"Kalau memang kamu punya buktinya mana? jangan menuduh tanpa bukti..." tantang Irene yang masih berusaha tenang.

"Kamu mau lihat buktinya? Ok fine." Suho langsung menunjukkan foto-foto hasil jepretan sendiri mengunakan handphonenya, lalu foto yang diberikan oleh teman, keluarga, juga orang yang ia suruh. "Lalu aku juga ada bukti percakapamu dengan laki-laki itu."

Irene melihat semua bukti itu, hanya bisa menahan nafas, Suho kembali berucap,"So, butuh apalagi? Oh mau aku panggil Jay untuk datang ke sini?" tantangnya.

 

"Ba-bagaimana bisa kau mendapatkan semua ini? Bisa saja itu hasil editan kan?" menatap Suho, sambil memikirkan cara agar ia bisa mengelak.

"Edit? Kamu tahu sebagian dari foto itu adalah hasil diriku sendiri." Suho menaikan sebelah halisnya."Lagi pula aku sudah memastikan semua itu asli. Well, karena semua sudah terbukti, aku hanya mau mengatakan kalau pernikahan kita batal dan kita putus...." ucapnya tenang dan tegas.

"Gak Chagi, please give me a chance... aku bakal putusin Jay, dan aku bakal berubah Chagi... please...." Irene mengnggenggam tangan Suho erat.

Melepaskan genggaman Irene dan menatap gadis itu sangat dingin,"No, aku sudah memberimu kesempatan ketika aku menanyakan siapa laki-laki itu sebelumnya, tapi kamu tidak jujur padaku. So, kamu sudah tidak kesempatan apapun lagi." Jawabnya sangat tegas.

 

Irene terdiam menatap Suho sambil menggigit bibirnya, tubuhnya bergetar menahan marah dan malu.

"Well, karena sudah jelas, jangan pernah menghubungi atau menemui aku lagi. Sekali lagi hubungan kita dalam bentuk apapun sudah berakhir." Melepaskan cincin tunangan mereka dan menyimpannya di atas meja,"Ah tenang saja, aku yang bayar makan ini." membayar semuanya lalu pergi.

Suho pergi dari cafe itu tapi ia tak langsung pulang, ia hanya membawa mobilnya tanpa tujuan. Di tempat lain, lebih tepatnya taman bermain, Sehun sudah menunggu di gerbang taman bermain menunggu Kai dan anaknya. Tak lama terdengar suara anak kecil mendekati dirinya.

 

"Sehun Noonaaaa...mian Tae Ho telat." Tae Ho membungkuk memberi salam lalu menatap Sehun.

Sehun yang melihat anak itu tersenyum lembut,"Gwenchana Tae Ho,kamu lucu sekali hari ini."

"Hehehehehhe makasih, noona juga cantik.." Ucapnya jujur dengan senyuman manis di wajahnya.

"Gomawo Tae Ho, ah appa mu mana?" Sehun menatap Tae Ho dan melihat sekeliling.

Tae Oh melihat ke arah belakangnya dan menunjuk sang ayah,"Itu dia Appa..."

Pada saat yang sama Sehun menolehkan kepalanya ke arah yang ditunjuk Tae Oh, saat yang sama Kai mengangkat kepalanya dan menatap wajah Sehun, senyuman terpatri di wajahnya.

"Selamat Pagi, maaf kami terlambat," sapanya sopan.

"Pagi, aku sudah membeli tiket untuk kita bertiga.. jadi, kita tinggal masuk saja." Ucapnya lembut diakhiri senyuman manis.

"Ah tidak perlu, seharusnya aku yang membayar." ucap Kai.

Sehun tersenyum dan terkekeh pelan,"Tidak apa-apa, lagipula hanya tiket dan biar cepat juga, liat saja di sana, kalau sekarang mengantri... antriannya sudah terlalu panjang." Ucapnya sambil menunjuk antrian yang memang sangat panjang.

"Wah kau benar, kalau begitu nanti akan aku ganti." ucapnya santai, melihat gelagat Sehun yang akan menolak ia langsung menambahkan,"Eits, jangan menolak okay, aku tak suka jika ahrus berhutang, nah Tae ayo kita masuk." ia menuntun Tae menuju pintu masuk. Mereka bertiga pun masuk ke dalam taman bermain.