Actions

Work Header

Familiar Stranger

Work Text:

                Ini bukan kisah patah hati atau tragedi yang biasa kusajikan.

 

                Bukan juga sebuah kisah yang menceritakan kiat-kiat untuk bertahan hidup di dunia yang hancur.

 

                Ini adalah sebuah kisah jatuh cinta, antara seorang penulis dengan pembaca, di mana hubungan ini mereka saling membutuhkan satu sama lain—sebagai sosok yang mengerti keinginan sang pemilik belahan hati.

 

[]

 

omniscient reader’s viewpoint adalah milik Sing Shong. Saya tidak mengambil keuntungan berupa materiil apa pun dari fanfiksi ini, semata-mata dibuat sebagai hiburan saja. Seluruh karakter di sini adalah pinjaman fandom.

 

                familiar stranger | by natsume rokunami

                Teen & Up Auidences—Kim Dokja x Han Sooyoung

                Romance / Hurt, Comfort—Indonesian—Alternate Reality

                Separate oneshot—contains many errors and cliches here.

 

                didedikasikan untuk Takano Ryousei

 

                                enjoy!

 

[]

 

                NORMALNYA manusia merasa kesepian ketika berhari-hari tidak berinteraksi dengan sesamanya, walau sekadar bertukar sepatah dua patah kata. Itu adalah cara mereka mengisi kebutuhan sosial mereka, di mana ketika kau berbicara, orang lain akan merespon. Mungkin ada saja jenis manusia yang sudah merasa puas berbicara kepada diri sendiri atau dinding kamarnya? Aku tidak tahu, tapi aku berharap bukan aku satu-satunya manusia aneh di muka bumi ini.

 

                Kebutuhan sosialku sudah terpenuhi ketika membuat duniaku sendiri melalui untaian kata yang kutuangkan ke dalam media kertas digital. Terkadang aku akan meraih kertas dan pena, lalu mencoba menulis lanjutan cerita yang bisa kuingat sebelum lupa, kemudian kutaruh di bawah bantal sebelum tidur dengan harapan aku dapat masuk ke dunia itu lagi. Dunia yang sebenarnya bukan impian indah para manusia, tapi memberiku rasa rindu tak bertuan dengan perasaan yang sama sekali tidak asing. Aku lupa siapa mereka secara detail, aku lupa kisah apa yang telah kami tulis bersama seiring berjalannya petualangan kita, atau seberapa kacau dunia itu yang membuat kami bergandengan tangan untuk mengakhiri semuanya.

 

                Aku ingin merasakan perasaan itu lagi, tapi tidak ada yang kuingat. Figur mereka terlihat buram, meski berulang kali aku mencoba membayangkan visual mereka di dalam kamarku. Aku mencoba menggambarkan mereka lewat tulisan dan biodata kecil, namun tidak cukup untuk membuatku tahu siapa mereka. Nama yang tanpa sadar kutulis pun aku tidak kenal, tapi terasa begitu familiar, menghantui pikiranku tiap malam.

 

                Suster berkata mungkin aku sedang jatuh cinta.

 

                Tapi kepada siapa aku menaruh cintaku ini?

 

                Meski mungkin, aku memang jatuh cinta, tapi terdapat perasaan aneh lain yang sama sekali tidak asing, seolah rindu dengan kawan lama. Rindu akan semuanya. Semua yang telah tertinggal jauh beribu tahun lamanya, aku rindu sekali.

 

                Sempat aku berpikir, mungkinkah aku adalah wujud reinkarnasi? Tapi kepada siapa aku bisa bertanya tentang keakuratan teori ini? Benarkah ada teori reinkarnasi? Di mana buktinya?

 

                Sejauh ensiklopedia yang kubongkar di perpustakaan tempatku tinggal, belum kutemukan pernyataan para ahli bahwa reinkarnasi memang nyata, dan apa penyebabnya. Semua terlihat merujuk kepada konspirasi, aku tidak pernah percaya dengan teori konspirasi.

 

                Hari ini pun kuhabiskan dengan membongkar isi perpustakaanku, mengganggu anak-anak lain, hingga para suster membawaku kembali ke dalam kamar ditemani beberapa buku pilihan untuk kebutuhan tulis-menulisku. Dengan referensi ini, aku tahan mendekam di kamar selama tiga hari, berkutat di balik meja bersama laptop dan kertasku. Namun sebelum para suster benar-benar meninggalkan kamar, aku meminta sesuatu kepada mereka.

 

                “Bolehkah aku mempublikasikan ceritaku ke internet?”

 

 

oOo

 

 

                Sudah seminggu ini aku fokus dengan tulis-menulis. Kamar mandi ada di samping kamarku dengan pintu masuk di dalam kamar, serta makanan selalu diantarkan sesuai jadwal oleh para suster yang bertugas. Mereka juga bertugas membersihkan kamarku dan menyediakan sprei baru di kala aku bekerja, aku tidak perlu khawatir oleh kebutuhan pokokku. Jari-jemariku masih sibuk mengetik cerita dengan laptop pribadi yang disambungkan kepada stopkontak untuk mengisi daya. Terus mengetik dari ketika matahari mengucapkan selamat pagi hingga matahari tergelincir untuk mengucapkan selamat tidur kepada bulan. Jendela kamar baru kututup ketika langit sudah berganti warna malam, kulitku sensitif dengan udara dingin yang menusuk tiap kali waktu menunjukkan pukul delapan malam.

 

                Permintaanku diiyakan oleh suster, aku diperbolehkan mempublikasikan ceritaku ke internet dengan syarat aku perlu memakai nama pena untuk menyembunyikan identitasku. Sebenarnya identitas tidak penting, aku hanya ingin menuangkan apa yang ada di dalam kepalaku dengan harapan orang lain membacanya. Manusia-manusia di tempat ini tidak pernah tertarik oleh tulisanku, namun mereka membiarkanku melakukan apa yang kumau, itu saja sudah cukup.

 

                Aku hanya perlu mencari pembaca yang bersedia mengikuti kisahku sampai akhir, seperti sedang mencari seseorang yang akan mendengarkan segala omong kosongku tentang imajinasi dan ingatan yang kabur. Tidak perlu banyak orang, satu saja sudah cukup, aku hanya ingin mereka membaca kisahku, meski mereka tidak pernah memberi komentar apa pun.

 

                Platform menulis yang kugunakan ini membiarkanku melihat berapa banyak yang membaca, yang berkomentar, dan berapa banyak yang menaruh ceritaku di dalam rekomendasi. Fasilitas seperti ini sudah lebih dari cukup untuk penulis solo sepertiku. Sudah bisa tahu berapa banyak yang membacanya saja cukup, karena memang itulah keinginanku.

 

                Dari bab pertama yang kupublikasikan, sudah ada sepuluh pembaca yang masuk. Dari sepuluh pembaca itu, hanya satu saja yang berkomentar bahwa ia menunggu kelanjutan kisahku. Bagaimana aku tidak senang? Seseorang baru saja berkata bahwa ia menunggu ceritaku! Meski aku tidak tahu seperti apa kesan dia ketika membacanya, komentar sejenis itu saja sudah cukup bagiku.

 

                Hari kedua, jumlah pembacaku semakin naik dari bab pertama sampai ke bab lima. Aku tidak memasang target bab berapa cerita ini akan selesai, aku akan mengakhiri ceritaku ketika ceritaku sudah berkata cukup. Tentu saja bukan aku yang mengakhiri kisah ini, melainkan cerita itu sendiri. Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana mengakhiri sebuah cerita dengan latar sebesar yang kubuat sekarang, sehingga aku menuruti apa yang ceritaku mau. Kalau itu bisa membuat alurnya masuk akal, aku tidak keberatan berapa banyak bab yang harus kutulis.

 

                Seling waktu berjalan, musim terus berganti, aku terus melanjutkan ceritaku sampai ratusan bab. Sebentar lagi angkanya akan menyentuh ribuan. Aku tumbuh berkembang dengan tulis-menulis, rasanya aku tak pernah kesepian karena selalu memikirkan bagaimana agar ceritaku terus berlanjut, untuk memuaskan pembacaku, untuk mencari seseorang yang bisa menerima segala omong kosongku dengan sabar. Tentu saja, jumlah pembacaku semakin menyusut hingga menyisakan satu orang saja.

 

                Orang yang selalu menaruh komentar kecil agar aku tetap melanjutkan cerita.

 

                Aku tahu, cerita dengan jumlah bab sebanyak ini pasti akan membuat pembaca bosan. Tapi tidak dengan pembaca satu ini, ia selalu setia menunggu setiap hari—ya, aku menulis satu bab per hari—di platform yang sama. Komentarnya pun selalu sama, hanya berbeda posisi dan titik koma.

 

                Aku terus menulis untuknya.

 

                Seharusnya dia bisa memberiku kritik dan saran kalau sudah membaca ceritaku sejauh ini, namun tidak. Ia tidak punya kalimat lain selain ‘cerita yang bagus, kutunggu kelanjutannya’. Terkadang aku menemukan diriku sendiri bingung, mengapa dia begitu setia? Bukan berarti aku berharap dia meninggalkan ceritaku, tapi, dari segi logika manapun—apakah ada pembaca yang tahan membaca dengan bab sebanyak ini?

 

                Logika itu pun dipatahkan oleh keberadaan dia di bab yang baru saja kupublikasikan.

 

                Pembaca seperti itu memang ada, aku tidak bisa membantah.

 

                Aku ingin bertanya padanya, namun aku tidak ingin pemikiran pribadiku ini mengganggunya membaca cerita.

 

                Sadar tak sadar, cerita ini seperti kudedikasikan untuknya seorang, kepada dia yang selalu setia menunggu kelanjutan ceritaku, ketika orang lain sudah meninggalkanku dari lama.

 

 

oOo

 

 

                Bab tiga ribu, aku sudah mencapai titik akhir dari cerita.

 

                Lebih tepatnya, aku tidak tahu lagi apa yang bisa kuperas dari otakku untuk membuat ceritanya terus berlanjut. Tentu saja pembacaku yang setia itu pasti lelah, aku tidak bisa mengulur akhir cerita lebih lama lagi. Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana cara mengakhiri ceritaku ini, aku merasa cerita ini baru akan berakhir kalau aku mati. Tapi, lagi, aku tak mau mengulur waktu. Sebuah cerita harus mencapai titik akhir. Cerita yang kubuat adalah fiksi yang harus berakhir sebelum aku mati, bukan cerita hidupku yang baru akan berakhir ketika aku meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

 

                Pada dasarnya, semua manusia adalah penulis kisah mereka sendiri.

 

                Aku mengecek kolom komentar. Di bab terakhir ini, komentar dia sedikit berbeda.

 

                Tubuh yang entah sejak kapan sudah tumbuh dewasa ini bangkit dari kasur, kupelototi layar ponsel dengan tatapan tidak percaya.

 

                “Saya sedih karena kisahmu sudah berakhir, terima kasih atas cerita dan kerja kerasmu, tls123.”

 

                Kalimatnya berbeda, dia sedih karena ceritanya kuakhiri? Jujur saja, membaca komentar itu menumbuhkan rasa bersalah dalam benakku. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Tidak ada lagi yang keluar dari otakku, semua sudah kosong, dan visual yang selalu menghantui kamarku ini telah tiada. Aku pun berencana ingin keluar dari tempat ini ketika suster—yang sudah berganti generasi—ini mengizinkanku keluar. Usiaku sudah dewasa, aku perlu mencari kehidupan baru di luar sana. Ceritaku ini akan kujadikan tropi kebanggaan tersendiri dan jejak pembacaku adalah penyerahnya.

 

                Bahkan ia menaruh ceritaku di dalam rekomendasi meskipun komentar orang lain dan rating pembaca lain cukup jelek. Tapi entah kenapa aku tidak peduli, aku hanya peduli dengan apa yang dipikirkan pembacaku satu itu.

 

                Mungkin, aku tumbuh berkembang bersamanya.

 

                Aku menemaninya, berbagi cerita, dan dia setia mendengarkan tanpa letih.

 

                Ya, aku hanya peduli pendapatnya seorang.

 

                Aku mencoba untuk tidak terganggu oleh komentar terakhir pembacaku sampai hari ketika aku keluar dari tempat ini pun tiba. Kuseret koperku dari kamar yang telah bersih dan dikosongkan, keluar dari bangunan tempat aku tumbuh, melewati anak-anak yang masih mengenakan pakaian seragam. Sosok mereka baru habis ketika kakiku melangkah keluar dari pintu. Para suster hanya memberi ucapan selamat tinggal pendek dan kembali bekerja, tapi aku tidak begitu peduli.

 

                Gerbang di depan mataku terlihat mengilap oleh terik cahaya matahari musim panas. Kugeser gerbang tersembut sembari menghalau cahaya dengan tangan.

 

                Seseorang sudah berdiri di depanku, seakan telah menunggu. Aku mengerutkan kening, aku tidak kenal siapa dia, tapi kenapa aku tidak merasa berhati-hati? Aku cukup waspada kalau bertemu orang asing, namun dengan orang ini? Aneh.

 

                Rasanya seperti aku pernah bertemu dengan dia, tapi di mana?

 

                Tinggiku mencapai bahu pria itu, mengenakan jas putih dan kemeja hitam, serta menggenggam ponsel, lalu tersenyum padaku.

 

                “Han Sooyoung.”

               

                Aku menyadari ada keberadaan orang lain tidak jauh dari kami, seperti memberi kami ruang untuk berbicara. Seorang pria maskulin dan perempuan, di belakang mereka berdiri sepasang anak kecil yang seperti akan menangis ketika mereka bertemu lirik denganku.

 

                Daripada itu, kenapa orang ini tahu namaku?

 

                “Sebenarnya kau masih bingung bagaimana cara untuk mengakhiri ceritamu, kan?”

 

                Kemudian, ia meraih tanganku, memeluknya dengan sepasang tangannya yang kasar—tanganku tenggelam di dalamnya. Lirihan pria itu terkesan seolah baru saja bertemu dengan seseorang yang telah ia rindukan keberadaannya dari lama.

 

                “Aku pernah bilang padamu,” ia menarikku keluar dari batas gerbang rumah sakit Seoul yang kutempati, “bahwa aku akan mengakhiri ceritamu.”

 

                Membawaku ke dalam pelukannya.

 

                Aku tidak tahu apa maksudnya.

 

                Aku tidak tahu siapa dia.

 

                Aku juga tidak tahu kenapa tanganku bereaksi pada dia, membalas genggaman hangatnya.

 

                Aku juga tidak tahu—

 

                —kenapa aku tersenyum dan menangis padanya?

 

                “ … Kim Dokja?”

 

                Nama itu adalah nama dari karakter ceritaku.

 

                Aku tidak tahu apakah ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Namun visual yang sering menemaniku di kamar, kini muncul dalam bentuk nyata di depan mataku.

 

                “Selamat datang kembali di kehidupan yang ke 123, dan untuk yang terakhir, Han Sooyoung.”

 

 

.

 

.

 

.

 

End

 

.

 

.

 

.

 

a/n: basically, han sooyoung dkk itu kek lahir lagi dari kehidupan sebelumnya, dan ini kehidupan mereka yang ke 123. Han sooyoung nulis novelnya berdasarkan kisah mereka yang ternyata gak ending2, ending pun malah dunia tetep gak berubah. Tapi di kehidupan 122, mereka bisa manage buat bikin hidup ke 123 nanti lebih baik seperti kehidupan normal, dan sampai ke hidup 123, bener dunia tetep normal gak perlu survival2an lagi. Mereka nunggu sampe han sooyoung namatin novelnya (yang han sooyoung sendiri gak bisa nentuin dengan tepat ending novelnya gegara di kehidupan 123 itulah ending itu bisa ditulis), dan han sooyoung kenapa masuk ke rumah sakit jiwa karena dia nunjukin tendensi tersebut, dibuktikan dari dia ngekeong di kamar buat nulis novel dan sering nunjukin tendensi bicara sendiri ke visual2 yg dia buat di kamar, atau dinding kamarnya sendiri. Orang lain di kehidupan 123 itu lihat dia gila, tapi sebenernya yg dia bayangin itu bener2 terjadi di kehidupan sebelumnya.

 

Kenapa dokja bilang dia bakal namatin cerita han sooyoung? Ofkors karena di dunia yg normal ini mereka bisa jadi manusia normal, ngejalin hubungan kek manusia pada umumnya, gak perlu takut dikejar kematian lagi. Kalian bisa imajinasikan sendiri gimana dokja namatin kisah mereka ehehehe //PLAK

 

Rencana mau bikin chap dua versi readernya, karena udah dapet ide dari orang yg kudedikasikan cerita ini. Moga aja lancar jaya yah

 

Buat takano ryousei, semoga kamu suka ya!