Actions

Work Header

Pesantren An-Nista

Chapter Text

naerossi & grettama

mempersembahkan

Pesantren An-Nista : Tak Kenal Maka Tak Sayang

 

“Matsuoka Rin, Kagami Taiga, Kuroo Tetsurou,” Ustad Ukai memulai penjelasannya, “kalian bertiga mendaftar untuk program ‘Satu Bulan Sejuta Berkah’, jadi tentu masa belajar kalian di sini adalah sebulan penuh... Tujuan pembelajaran program ini seharusnya bisa kalian baca di brosur... tapi yang utama adalah supaya kalian bisa memahami ajaran Islam dengan lebih baik dan mengamalkannya... oh iya dan belajar disiplin... untuk jadwal kegiatan sehari-hari sudah tertempel di lorong asrama, kalau ada yang tidak kalian mengerti bisa ditanyakan ke teman sekamar... uh, apalagi ya? Ya pokoknya begitu...”

Kagami melongo mendengar penjelasan yang menurutnya sama sekali tidak meyakinkan itu, sedangkan Rin masih sibuk merutuki ponselnya yang minim sinyal. Untuk check in di Path saja tidak bisa, tempat terpencil macam apa sih, ini?

“Tapi!” Ustad gondrong itu tiba-tiba berseru, membuat mereka kaget, “Jangan sampai ada yang bawa rokok, minuman keras, apalagi narkoba di sini. Itu sangat dilarang, dan nggak cuma kalian yang akan dapat masalah, tapi saya juga bakal kena batunya nanti. Mengerti kalian?”

“Ya, Ustad!” jawab Rin dan Kagami bersamaan―Kagami sempat teringat pada sebatang rokok yang dibawa si Aomine itu saat mengantarnya kemari tadi pagi. Sedangkan Ustad Ukai menyipit ke satu orang yang tidak menjawab.

Si jabrik Kuroo, ia sama sekali nggak mendengarkan pertanyaan Ustad Ukai barusan―gadis berjilbab merah muda di selasar gedung yang sedang mengobrol dengan Tachibana itu lebih menarik untuk diperhatikan. Ternyata memang benar kata Akaashi, justru wanita yang bodinya tertutup itu lebih mengundang penasaran. Dia bertanya-tanya lekuk indah seperti apa di balik terusan panjang bermotif bunga itu... dan ketika gadis itu menoleh ke arahnya, mata sipitnya yang sendu di balik kacamata itu bagai panah asmara yang menusuk hatinya... serasa ada lantunan Unchained Melody mengalun di ruang tunggu gedung utama pesantren itu.

“Oi,” sebuah sikutan di lengan kanan membuat lagu tadi berhenti, “ditanyain Ustad tuh.”

“Oh? Y-ya, ustad!” ia segera menjawab, namun sayang sekali ketika ia berbalik ke selasar, gadis itu sudah pergi, dan Tachibana sudah kembali ke ruangan mereka. Kuroo mendecak kecewa.

“Baiklah, Tachibana, tolong antar mereka ke kamar yang tadi sudah disiapkan, ya.”

“Ya, Ustad. Yuk saya antar!”

Merekapun mengikuti Tachibana yang berkeliling sambil menjelaskan satu-persatu tempat yang mereka lalui. Walaupun dari luar terlihat sederhana, ternyata pesantren ini lumayan luas juga. Tempat ini terdiri dari pondok-pondok terpisah yang dihubungkan dengan jalan setapak, dengan banyak tanaman hias yang terpangkas rapi di kanan-kirinya. Sedangkan di luar pagar asrama terlihat area persawahan dan pohon-pohon tinggi yang membuat area ini tidak terlihat dari jalan raya. Dan yang paling terasa sejak berada di sini adalah, udara di kaki gunung yang masih sangat sejuk.

“Oh iya, sebenarnya tadi bukan Ustad Ukai ketua yayasan, Ustad setahun terakhir sakit-sakitan terus, jadi sementara anaknya yang menggantikan... Maaf ya kalau terlihat agak urakan, tapi dia orangnya baik, kok,” Tachibana tersenyum, dan mereka bertiga meringis maklum.

-

“Serangan Kaos Kaki Terbang!”

Untuk ketiga kalinya, si rambut hitam menepis berbagai macam benda yang dilempar tepat ke arah kepalanya. Sirna sudah niatnya untuk belajar tajwid. Kali ini amarahnya sudah memuncak, ia memungut kaos kaki hitam yang tergeletak di bawah meja belajarnya dan meremasnya menjadi buntelan mematikan (?). Si pelempar tadi, yang merasa tindakannya barusan sudah kelewatan, mulai menelan mudah ketakutan. “A-ampun Kageyama... aku kan cuma bercanda...”

“Bercanda, gundulmu! Kalau mau ngulang kelas tajwid, jangan ajak-ajak gue, bego!” Kageyama melempar buntelan kaos kaki itu dengan amarah memuncak.

“HUWAAA!” Hinata menunduk di depan pintu tepat saat pintu kamar itu terbuka. Puk. Tepat mengenai seseorang berambut merah (atau ungu?) yang muncul di depan pintu dengan menyeret koper.

“HAH!!” Mereka berdua sama-sama kaget, sungguh tidak menyangka perang kaos kaki ini akan melibatkan orang tak dikenal. Tapi ternyata si rambut merah tidak marah, ia hanya menatap Hinata yang masih jongkok di depannya dan Kageyama yang masih membeku di dekat meja belajar, kemudian berjalan keluar dan menutup pintu dengan kasar.

Kageyama dan Hinata saling bertukar pandang ketika mendengar adu mulut di luar.

“Tapi, Matsuoka―“

“POKOKNYA AKU NGGAK MAU SEKAMAR SAMA MEREKA, TITIK!”

“Gi-gimana dong, yang tadi itu siapa ya? Anak baru? Kalau dia lapor Ustad Ukai gimana? Gara-gara Kageyama, sih!” Hinata menjambak rambutnya frustasi.

“Ya emang siapa yang mulai duluan?!” Kageyama hampir menjitak Hinata namun pintu kamar mereka terbuka kembali, dan mereka lega karena itu bukan Ustad Ukai atau si anak baru yang kena timpuk tadi. Melainkan sesama pemilik kamar itu. Yamazaki Sousuke.

“K-Kak Sou!”

Tapi mereka mengkeret lagi melihat Sousuke melangkah masuk dengan menggandeng si anak baru tadi, yang masih cemberut dan terlihat ogah-ogahan. “Ayo, sini. Tidak apa-apa. Kalian berdua, siapa yang lempar-lemparan kaos kaki tadi?”

“Kageyama!”

“Hinata yang mulai!”

Sousuke menghela napas. “Kalian ini sampai kapan sih mau pecicilan terus kayak anak SD? Sekarang minta maaf dulu! Bagaimanapun kita berempat bakal sekamar, masa iya kalian baru ketemu aja langsung berantem?”

Hinata akhirnya berdiri dan mengulurkan tangan. “Maaf ya, tadi Kageyama nggak sengaja. Hinata Shoyo.”

Hinata menatap Kageyama dengan malas. “Kageyama~ ayolah~”

Kageyama tidak beranjak dari posisinya, malah cemberut melempar pandangan ke luar jendela. “Uh... K-kageyama Tobio. Maaf ya.”

Rin sebenarnya masih gengsi, tapi sejujurnya dua anak ini terlihat menyenangkan. Ia membalas uluran tangan Hinata, “Matsuoka Rin.”

Sousuke tersenyum. “Nah, gitu dong. Kalian ngobrol saja dulu, aku keluar dulu ya.” Ia keluar menemui Makoto yang masih menunggu bersama dua anak baru lainnya. “Sudah beres kok.”

Makoto menghela napas lega. “Makasih ya, Sousuke. Aku nggak tahu harus gimana supaya bisa bujuk Matsuoka, bisa repot kalau Ustad Ukai dengar keributan tadi.”

“Iya, iya... udah sana kamu lanjut antar yang lain. Aku mau siap-siap ke masjid, sudah hampir waktunya adzan zuhur.”

Dengan perginya Makoto dan dua pemuda kota itu, Sousuke kembali masuk kamar untuk mengambil sarung dan peci, namun ternyata bersamaan dengan Rin yang hendak keluar. “Ah, Matsuoka...”

“Rin.”

“...eh?”

“Panggilnya Rin saja.”

-

“Nah, jadi kita bertiga tinggal sekamar, ada satu lagi tapi dia sedang ada keperluan di luar asrama, jadi kalian kenalannya besok saja ya,” Makoto berkata sambil mempersilakan mereka masuk sebuah kamar berukuran 5 x 5 meter. Kagami dan Kuroo berkeliling, menilai kamar yang akan mereka tempati bersama. Dua tempat tidur susun, dua meja belajar, dua lemari kayu tertutup yang tingginya seukuran Kagami, dan dua rak terbuka yang berisi buku-buku dan beberapa sajadah. Sebuah jendela besar berteralis terletak di antara dua tempat tidur itu, menghadap langsung ke lapangan rumput di tengah area pesantren. Semilir angin sejuk berhembus dari sana, membuat Kagami mengerti kenapa semua ruangan di sini tidak ada yang menggunakan pendingin udara maupun kipas angin. Yah, tempat ini nggak terlalu buruk juga sih.

“Tempat tidur kalian yang sebelah sana ya, silakan berunding sendiri buat menentukan siapa atas dan siapa bawah,” ujar Makoto, kemudian terdengar suara lantunan azan yang begitu merdu dan indah dari speaker di langit-langit kamar. Entah kenapa suara Azan itu membuat hati Kagami merasa tenang, damai, dan ia bahkan juga merasa terpanggil. Kagami memejamkan matanya, meresapi lantunan azan itu baik-baik. Ketika Makoto kembali berkata, “Ah, setelah ini ikut solat berjamaah di masjid, ya,” Kagami bahkan sama sekali nggak berpikir untuk menolak.

-

Entah sudah berapa kali Kagami membolak-balik posisi tidurnya. Ia mendapat hak tempat tidur bawah, entah apa alasan Kuroo memilih kasur di atas. Jam dinding menunjukkan angka sebelas. Ia membiarkan jendela kamarnya terbuka karena masih ingin menikmati semilir angin yang minim polusi ini, dan mengamati rumput-rumput di luar sana yang menimbulkan suara gemerisik pelan karena tertiup angin―tidak ada seorangpun yang tampak di halaman berumput itu. Tapi ia masih saja tak bisa tidur. Bukannya ia homesick atau apa, tapi ia... lapar. Padahal kegiatan di pesantren hari ini hanya solat berjamaah dan mendengarkan tadarus (karena ia belum bisa membaca tulisan Arab jadi ia diperbolehkan menyimak dulu saja) tapi ternyata lumayan membutuhkan banyak asupan nutrisi juga. Atau dianya saja sih yang dari sononya memang terlalu gampang lapar.

‘Laper banget... kira-kira di kantin masih ada makanan nggak ya... lagian emangnya boleh ke kantin jam segini?’ batinnya sambil mengelus perut.

“Lo laper, ya?”

“ASTAGA!” ia terguling dari tempat tidur karena suara dari sesosok kepala yang muncul di jendela. “AOMINE!”

“Ssssst jangan keras-keras!” Aomine mendesis. “Gue tanya, lo laper gak? Abisnya gue laper banget, tapi gak ada yang mau diajakin keluar. Ada mi ayam enak di deket halte, kesana yuk.”

Kagami berdiri sambil mengelus pantatnya yang sakit pasca terbentur lantai dingin asrama. Ia tak habis pikir, kenapa sih anak ini selalu muncul dari tempat-tempat tak terduga dan membuatnya malu? Tapi ada benarnya juga sih, mendengar kata mi ayam membuat perutnya keroncongan lagi...

“Tuh kan, nggak usah malu-malu. Gue tunggu di pintu depan asrama, ya!”

“Eh, tu―” terlambat, Aomine sudah keburu menghilang. Menghela napas, ia mengambil jaket dan berjalan keluar. Ia sendiri pun tak mengerti, kenapa pula ia selalu sudi menuruti cowok aneh ini?

Akhirnya ia mengikuti Aomine menyusuri jalan ke arah halte―demi apa orang ini jalannya cepat sekali padahal jalan setapak itu hanya diterangi lampu neon remang-remang tiap beberapa meternya. Ia harus mempercepat langkah agar tidak tertinggal di jalanan sepi itu.

“Oi, jangan cepat-cepat dong—aduh!” ia menabrak punggung berjaket hitam itu. “Bilang-bilang dong kalau mau berhenti!”

Yang diprotes malah menoleh sambil nyengir, “Sori, sori. Tuh, udah nyampe.”

Kagami mengerjap melihat warung tenda sederhana berwarna dengan tulisan “MI AYAM ENAK” tersablon di kain tendanya. Seingatnya tadi pagi di sekitar sini tidak ada warung...

“Ini cuma buka malam hari,” ujar Aomine seolah bisa membaca pikirannya, membuat Kagami sedikit merinding. Ia lagi-lagi mengekor Aomine, yang memasuki warung itu sambil menyapa si bapak penjual. “Yo, Bang Takao!”

“Oh, Mas Daiki! Tumben bawa teman?”

Kagami mengangguk sopan pada penjual mi yang ternyata masih muda itu. Pemuda itu mulai mengobrol dengan Aomine, sementara Kagami memandang sekelilingnya―warung itu ternyata hanya terdiri dari sebuah gerobak yang diberi tenda dan bangku-bangku plastik di sisi-sisinya. Ia duduk di salah satu bangku di dan disusul Aomine.

“Lo sering makan di sini?”

“Iya, lumayan, lagian nggak ada warung lain di sekitar sini sih,” Aomine menerima dua mangkok bergambar ayam jago yang disodorkan padanya dan memberikan satu untuk Kagami, “Emang kenapa? Jangan bilang nggak doyan mi ayam?”

“Doyan, kok,” Kagami mulai menepuk-nepuk pantat botol saos dan mengaduk mi-nya dalam diam. Sampai kemudian Aomine membuka suara.

“Jadi, kenapa lo mau masuk pesantren?”

Kagami tidak langsung menjawab. Ia masih sibuk melahap mi-nya, Aomine menunggu. Ketika akhirnya Kagami angkat bicara lagi, ia hanya bilang, “Gue pengen masuk Islam.”

Jujur, Aomine terkesima dengan jawaban itu. “Lho, lo belum masuk Islam?”

Kagami menggeleng, menambah sambal ke mi-nya dan menolehkan kepalanya ke arah Aomine. “Belum. Gue lahir di sini, tapi gue gedhe di Amerika. Ini gue baru balik lagi ke Indonesia. Dari kecil gue nggak pernah belajar agama. Bisa solat dikit-dikit sih. Tapi cuma dari buku.”

Aomine mengangkat alis, heran sekaligus takjub. “Trus, kenapa Islam?”

Kagami terdiam lagi, tampak menimbang-nimbang jawaban yang akan dia lontarkan. “Sebenernya nggak harus Islam sih,” ujarnya akhirnya. “Agama yang mana aja boleh. Toh Tuhan itu Esa kan? Cara beribadahnya aja yang beda-beda. Tapi…,” Kagami menusuk-nusuk potongan ayam di mangkuknya, “tadi siang gue denger azan Dzuhur di pesantren. Dan entah kenapa azan itu bikin niat gue buat masuk Islam makin mantep.”

Aomine tidak merespon. Sepertinya ia masih berusaha mencerna penuturan Kagami.

Kagami tertawa kecil. “Yah, pokoknya gitu lah. Gue juga susah jelasinnya, soalnya cuma bisa gue rasain di sini,” ujarnya lagi seraya menunjuk dadanya, kemudian kembali fokus ke mi ayamnya. “Lo sendiri, kenapa lo mau masuk pesantren?”

Kagami sudah ingin sekali menanyakan itu sejak tahu bahwa Aomine anak pesantren. Karena kalau dilihat dari modelnya yang nggak bisa lepas dari rokok, jelas kehidupan pesantren tidak cocok untuknya.

Kali ini, giliran Aomine yang tertawa kecil. “Gue yatim piatu,” jawabnya ringan, seolah itu bukan masalah besar, membuat Kagami cuma bisa membelalakkan mata.

Aomine melambaikan tangannya sambil lalu. “Jangan dipikirin. Gue juga nggak inget muka orangtua gue karena meninggalnya udah sejak gue bayi banget. Anyway,” ia melanjutkan, berusaha menjaga agar atmosfer percakapan mereka tetap ringan, “Ustad Kiyoshi yang mungut dan ngerawat gue sejak kecil sampe segedhe sekarang ini di pesantren ini. Nggak kayak lo, gue dari kecil cuma tau Islam doang. Tapi gue bersyukur sih.”

Kagami mengangguk-angguk. “Lo ngerti banyak tentang Islam dong? Langsung belajar dari Ustad Kiyoshi?”

Aomine tertawa. “Nggak juga. Islam itu luas banget. Ustad Ukai Senior aja sering bilang beliau masih harus banyak belajar banyak. Apalagi gue.”

Kagami nyengir dan meninju bahu Aomine pelan. “Nggak nyangka lo punya sisi bijak juga.”

Aomine membalas cengiran Kagami. “O, jelas dong,” responnya. Mereka kembali fokus ke mi ayam masing-masing, sampai Aomine mendongak lagi ke Kagami dan bertanya, “Serius azan Dzuhur tadi yang bikin lo mantep milih Islam?”

Kagami mengangguk yakin. “Iya. Kenapa?”

Aomine tersenyum dan menggeleng. “Nggak. Nggak apa-apa. Tanya doang.”

Mungkin sebaiknya Kagami nggak perlu tahu kalau yang adzan tadi siang itu Aomine.

-

“Rin...”

“Hng...”

“Rin, bangun...”

Rin menggeliat, tapi matanya masih terpejam. “Iya, pa, ‘bentar lagi,”

“Rin, ini udah subuh...”

“Iya paaaa,” Rin bangkit duduk dan siap-siap ngomel, “Rin kan udah bilang bentar lagi, lagian Pak Sarwo kan juga biasanya masih nyuci mobil—lho?” ia mengerjap, hidung mancung di hadapannya bukan milik ayahnya, bukan milik Pak Sarwo, apalagi milik Mbok Inem. Itu milik Sousuke.

“Udah adzan subuh, kalau telat nanti kamu dihukum ustad lho. Ayo cepat wudhu,”

Rin cepat-cepat lari ke kamar mandi sebelum wajahnya makin memanas karena malu.

-

Kuroo tidak terbiasa bangun pagi buta, dan ia benci dilihat orang dengan rambut acak-acakan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, kalau ia menyempatkan diri styling rambut dulu, bisa-bisa ia kena hukuman karena telat ikut solat subuh berjamaah. Ia menguap lebar ketika Makoto menjajarinya dalam perjalanan kembali dari masjid menuju asrama.

“Masih ngantuk ya? Padahal udara pagi segar sekali lho, kalau kamu mau coba menghirupnya dalam-dalam,” ujar Makoto sambil tersenyum. Kuroo jadi bertanya-tanya, apakah memang tampang default-nya anak ini sudah disetting buat senyum terus apa gimana. Ah, tapi, ngomong-ngomong tentang yang seger-seger(?), ia jadi ingat sesuatu.

“Ngomong-ngomong, Tachibana, cewe yang kemarin ngobrol sama kamu di deket ruang Ustad Ukai itu siapa?”

Makoto memperlambat langkah kakinya, mengingat-ingat sebentar. “Oh! Kiyoko, ya?”

Kuroo menatapnya penuh harap. Makoto melanjutkan, “Kiyoko itu dari kantor yayasan pusat, kadang-kadang dia kesini buat ketemu sama Ustad Ukai senior. Tapi kemarin ternyata Ustad nggak ada, jadi dia balik lagi deh. Memang kenapa?”

Kuroo mendesah kecewa. Ternyata cewek cantik itu bukan penghuni pesantren ini, tapi tak apalah toh masih banyak gadis lainnya yang bisa digaet. “Oh gitu ya... Tapi ngomong-ngomong, asrama putri di sini sebelah mana? Kok dari kemarin aku belum lihat ada cewe selain Kiyoko-Kiyoko itu,”

Makoto berhenti, matanya mengerjap bingung. “Kuroo... ini kan, pesantren khusus laki-laki.”

Hening.

Angin subuh berhembus perlahan.

Jarum di jam tangan Kuroo berdetak.

Jangrik di semak-semak berderik nyaring.

“EEEEHHHHHHH?!”

 

-

 

Tachibana Makoto (20) – Santri teladan, merangkap sebagai santri kepercayaan Ustad Ukai senior maupun junior karena memang sudah tinggal di pesantren sejak kecil. Baik hati, tidak sombong, pintar mengaji, pokoknya mantu idaman para ibu-ibu. Cuma kadang kebaikan hatinya sering bikin dia kerepotan sendiri, makanya dia sering minta tolong macem-macem ke Sousuke.

Yamazaki Sousuke (20) – Santri teladan nomor dua setelah Makoto, ia bersama Aomine menjabat sebagai muazin utama di masjid pesantren. Kabarnya tahun lalu sempat dicalonkan buat kompetisi semacam abang none di kabupaten, tapi batal karena dia bantuin Makoto merawat Ustad Ukai senior yang mendadak masuk rumah sakit.

Kageyama Tobio & Hinata Shoyo (15) – Duo santri pecicilan yang katanya mau bersaing buat ikut kompetisi tadarus nasional, tapi tiap ada kesempatan buat belajar mereka malah selepet-selepetan sarung atau lempar-lemparan peci atau bahkan perang kaos kaki di asrama. Langganan dihukum tiap ramadhan karena suka nyalain petasan buat ngagetin orang tarawih.