Actions

Work Header

Pesantren An-Nista

Chapter Text

naerossi & grettama 

mempersembahkan

Pesantren An-Nista : Hari Pertama

 

“Matsuoka... Rin?”

Rin mendongak dari ponselnya, seorang pria dengan baju koko putih dengan bordir cokelat di bagian kerah dan sarung krem motif kotak-kotak, tersenyum sambil mengulurkan tangan.

“Tachibana Makoto. Ustad Ukai sedang ada tamu, jadi saya disuruh nemenin kamu sebentar.”

Ia berdiri dan menjabat tangannya―ternyata pria ini lebih tinggi dan lebih besar darinya. “Oh, iya...”

Ia duduk kembali sementara si Tachibana tadi masih berdiri membaca kertas di tangan kirinya. “Hm, kamu dari Jakarta ya... jadi mau tinggal di sini satu bulan? Mumpung libur semester jadi mau refreshing ya?”

Refreshing mbahmu, Rin melengos. Kalau nggak dipaksa ayahnya sih, mana mau ia tinggal dan menghabiskan liburan di tempat antah berantah seperti ini.

“Tapi tadi Ustad Ukai bilang bakal ada tiga orang, kok baru kamu yang datang...”

-

“Uhh, toilet, toilet...” Kagami Taiga sudah pucat tidak karuan, menahan pipis selama perjalanan dua jam di bis membuatnya luar biasa sengsara. Sambil meremas tali ranselnya, ia berjalan cepat melewati jalan pedesaan yang becek. Sopir bus tadi bilang pintu gerbang pesantrennya hanya sepuluh menit dari halte, tapi kenapa masih belum kelihatan juga? Ia sudah tidak tahan lagi, rasanya pipisnya sudah di ujung tanduk (?).

Lagipula jalanan ini sepi sekali... hanya ada jalan setapak yang ia lalui, tidak ada persimpangan, tidak ada rumah penduduk, hanya ada pepohonan dan semak-semak... toh tidak akan ada yang tahu...

Akhirnya Kagami Taiga membuat sebuah keputusan krusial demi keselamatan kandung kemihnya. Ia meletakkan ranselnya yang berat ke atas sebuah batu besar tidak jauh dari situ, dan lari ke balik pohon besar beberapa meter dari jalan setapak tadi.

Rumput di situ masih basah karena embun pagi, jadi tidak akan ada yang tahu kalau Kagami menyiramnya lagi dengan air seni.

“Ahh... Leganya... Rasanya udah mau mati... ASTAGA MATI GUE!!!” Kagami segera berbalik dan menutup resleting jinsnya gugup. Gimana nggak kaget kalau tiba-tiba ada sesosok kepala muncul dari semak-semak di sebelahnya.

Si kepala misterius awalnya masih bengong, tapi kemudian dia berdiri dan tertawa terbahak-bahak. Kagami mendesis malu tapi sekaligus bersyukur karena ternyata itu manusia, bukan penunggu pohon yang marah karena disiram air kencing.

“Ka-kamu siapa kok tahu-tahu ada di situ?”

“Gue udah daritadi kok jongkok di situ, lo aja yang nggak lihat?”

Kagami menggeram sebal, orang itu masih terbahak sambil mengusap air di ujung matanya. ‘Lo item sih makanya gue nggak lihat,’ batinnya. Ia memperhatikan orang itu dari atas ke bawah, kaos oblong hitam, celana pendek abu-abu, sarung yang diselempangkan... dan rokok terselip di jemari tangan kirinya.

“Hahaha... aduh, ehem, sori,” ujar pamuda kampung itu lagi, kelihatan jelas masih susah payah menahan tawa, “Gue nggak sengaja lihat. Tapi, wow, man, hahaha...”

Kagami melotot. “A-apa sih...” ucapnya, berusaha sekeras mungkin mengabaikan fakta bahwa peler-nya barusan dilihat orang asing. Akhirnya demi harga dirinya yang masih tersisa, ia memutuskan buat nggak meladeni orang aneh ini lagi, dan segera kembali ke tempat ia menaruh ranselnya. Anggap saja nggak terjadi apa-apa, anggap nggak terjadi apa-apa...

“Oi, tunggu! Kelihatannya lo dari kota, ngapain pagi-pagi ke desa begini? Mau naik gunung? Camping? Tapi kok sendirian?” pemuda itu menjajari langkahnya.

Kagami mendengus sebal, tapi mungkin orang ini penduduk lokal yang lebih tahu daerah ini. “Tahu Pesantren An-Nista? Dari sini masih jauh nggak sih?”

Si penduduk lokal berhenti, jadi Kagami ikut berhenti. “Lo mau ke pesantren An-Nista? Jalannya bukan lewat sini, dari halte harusnya nyebrang dulu...”

“Heee? Tadi sopirnya nggak bilang kalau disuruh nyeberang, cuma bilang kalau harus jalan sepuluh menit?”

Pemuda berkulit cokelat itu menepuk jidatnya. “Ya kan di pinggir jalan ada plangnya, walaupun kecil sih. Ya lo nggak bakal nyampe kalo lewat sini, yang ada malah ke arah gunung... Sini gue anter.”

Kagami mengernyit, haruskah ia percaya dengan orang ini? Orang yang sama dengan pria yang mengintip organ privatnya (dan memujinya)? Gimana kalau ternyata dia orang mesum? Gimana kalau ternyata dia berniat jahat?

Tapi ia juga belum mau tersesat di gunung dan dimakan beruang... Akhirnya Kagami menghela napas. “Oke deh.”

Pemuda keling itu nyengir lebar dan mengulurkan tangannya ke arah Kagami. “Gue Aomine Daiki, betewe.”

-

“Yakin lo mau ke sini?”

Kuroo nyengir ke sahabatnya, “Gue kan udah bilang, gue nggak akan pernah back off dari tantangan.”

“Yah gue nggak ngerti sih ngapain juga lo mesti nanggepin tantangan Akaashi dan Kenma, tapi yaudahlah. Jangan lupa kirim ke gue fotonya kalo ada cewe cantik ya! HAHAHA!” Kuroo menggumam ‘adududuh’ ketika temannya menepuk punggungnya dengan kekuatan penuh sambil tertawa membahana. Kekuatan tangan atlet voli andalan universitas memang nggak bisa diremehkan.

“Gue cabut dulu ya, makasih udah mau nganter, Bokuto.”

“Yosh. Semangat ya! Hubungi gue kalau lo tiba-tiba pengen balik.”

Kuroo nyengir lagi, kemudian menyeret kopernya memasuki gerbang pesantren. Bokuto masih menatapnya dari dalam mobil, ia tidak habis pikir dengan temannya itu. Baru semalam mereka mengadakan pesta di rumah Akaashi, dan Akaashi serta Kenma menantang Kuroo―yang notabene playboy kelas kakap di universitas dan bisa mendapatkan gadis manapun―kecuali gadis pesantren, begitu kata mereka berdua.

Maka, Bokuto, selaku sahabat sejati sehidup semati, rela mengantar Kuroo jauh-jeuh ke pesantren di pedesaan untuk membuktikan kejantanan sahabatnya itu.

“Yah, paling-paling juga besok dia telepon karena nggak betah... mana mungkin Kuroo betah di pesantren...”

 

 

-

 

 

Matsuoka Rin (15) – Anak manja kekinian yang cuma tahu foya-foya ngabisin duit ayahnya. Jadi ayahnya ngirim dia ke pesantren supaya mandiri dan tahu susahnya hidup jauh dari orang tua.

Kagami Taiga (18) – Baru lulus SMA, mengalami krisis jati diri (?), jadi memutuskan buat mencoba belajar agama Islam. Nggak sengaja lihat brosur pesantren tentang program Pesantren Kilat “Satu Bulan Sejuta Berkah” yang berlokasi di pedesaan dengan udara sejuk dan pemandangan indah. Tapi di hari pertama malah kesuciannya ternoda karena anunya diliat cowo lain (?).

Kuroo Tetsurou (20) – Anak kuliahan semester tiga, playboy kelas kakap. Digadang-gadang bisa mendapatkan gadis manapun yang ia mau. Jadi ia terima saja tantangan Akaashi dan Kenma untuk mendapatkan hati gadis pesantren. Tapi ternyata di Pesantren An-Nista, tidak hanya para gadis yang membuatnya kepincut.