Actions

Work Header

Miyakowasure -都忘れ-

Chapter Text

 


 

Miyakowasure -都忘れ-  ; Touken Ranbu x Wasurenagusa

 


 

Disclaimer :

Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Shinsengumi (Mokuhiroku, Kekkonroku, Hiyokuroku) Wasurenagusa © Rejet

 

Warning : AU HEADCANON AUTHOR, Typo, Crossover, OOC, OCs (MCWasurenagusa, mention pedang yang belum ada di game )

 



 

Suasana hujan yang menenangkan, memberikan rasa sejuk sekejap di tengah-tengah musim panas. Rintik-rintik hujan yang menghantam permukaan tanah, awalnya deras namun tak lama kemudian jatuh satu persatu menimbulkan ritme teratur yang nyaman.

 

Orang pernah berkata bila suasana seperti ini menyejukkan hati.

 

Tapi hal itu tampaknya tak berlaku bagi dirinya.

 

Hari seperti ini mengingatkannya pada banyak hal yang membuatnya kesal.

 

Ah, lagi, ia selalu menyalahkan segala sesuatu pada hal lain.

 


 

1

Miyamayomena

- 深山嫁菜(ミヤマヨメナ)-

 


 

Ia merasa sudah tertidur sangat lama.

Ia terbiasa dengan sebuah suasana hampa, gelap, dimensi kosong dimana ia bisa tidur dengan sangat lelap.

Dan kali pertama ia membuka matanya lagi, seorang perempuan muda berambut panjang sepinggang  tengah duduk bersimpuh dihadapannya. Parasnya yang lembut menampakkan raut wajah penuh antisipasi dan sebuah binar takjub di matanya.

Tapi ia tak menggubrisnya, karena semuanya terlihat tampak sangat kabur. Ingatan yang terkumpul paling awal dan paling kuat miliknya adalah tentang pria itu. Sisanya, terasa masih mengawang. Ada di sana, tapi tak dapat ia rasakan dengan jelas, tak dapat digapai olehnya.

Kepalanya terasa agak sakit.

“Selamat datang, Yamato no Kami Yasusada-san…”

Suara lembut perempuan itu sontak membuat perhatiannya fokus kembali dengan keadaannya sekarang. Meski suasana disekitarnya tampak seperti ruangan tradisional yang familiar di matanya, ia dapat segera merasakan bahwa ada yang tak benar dengan dimensi ini, sebuah ruang waktu yang membuatnya bertanya-tanya.

Ketika matanya beradu pandang dengan iris coklat hangat perempuan itu, suatu sensasi yang tak dapat ia jelaskan dengan kata-kata merambati dirinya. Tangannya seolah bergerak sendiri  ketika perempuan itu mengulurkan tangan kepada dirinya.

Sebuah perasaan hangat merambati sekujur tubuhnya, sebuah perasaan yang terlalu familiar, terlalu nyaman, seolah mengatakan bahwa seharusnya ia mengingat sesuatu. Sebuah hal yang sangat penting tapi juga menyakitkan.

Perasaan ini membuatnya ketakutan.

Dan kepalanya masih berdenyut.

 

[ 誠 ]

 

Bila pria itu mengatakan bahwa keberadaannya di dunia ini adalah untuk Kondou Isami dan Hijikata Toshizou, maka ia ada di dunia ini untuk pria itu, Okita Souji.

 

Jika seorang Okita Souji memilih untuk bertarung sebagai komandan unit satu Shinsengumi, maka ia akan ada di samping pria itu dan turut bertarung demi dirinya.

 

Ia adalah sebuah hasil tempaan yang dikatakan sulit untuk dipakai. Tapi di tangan seorang Okita Souji, kekuatan miliknya bisa ditunjukkan semaksimal mungkin.

 

Ia bahkan bertarung dan bertahan di hari itu, malam bersejarah di bawah terang sinar rembulan yang seolah mengejek padanya, yang berdiri sampai akhir sementara kedua orang terdekatnya ambruk di atas lantai kayu yang dingin dan berbau anyir darah.

 

Lalu….

 

[ 誠 ]

 

Sejauh ini ia mengerti bahwa para tsukumogami seperti dirinya dipanggil ke tempat seperti ini untuk melawan pasukan yang ingin mengubah alur sejarah dunia.

Yamato no Kami Yasusada sudah mulai terbiasa dengan rutinitas barunya. Kashuu Kiyomitsu yang datang lebih dulu sering membantunya, bahkan uchigatana tersebut sudah terlihat sangat akrab dengan majikan mereka, sang saniwa perempuan yang terlihat lemah lembut dan tak memiliki bidang khusus dalam pertarungan.

Bukankah merepotkan bila ada orang yang tak bisa bertarung dalam keadaan seperti ini?

Ada bagian dalam diri Yasusada yang sudah berteriak menahan dirinya agar mengontrol perkataan yang akan ia ucapkan, dan untungnya ia berhasil.
 

Padahal majikannya yang baru ini memang sangat baik hati, seorang perempuan yang setiap saat dapat dilihat menemani para tantou bermain di waktu luangnya. Seorang sosok yang lembut namun sigap saat memberikan sebuah perintah. Perempuan muda yang tampak selalu tersenyum dan menyapa semua orang yang ia jumpai di kediaman mereka sekarang ini.

Yamato melihatnya sebagai seorang yang kelewat gembira dan semangat dalam kondisi udara dingin seperti ini. Lagi-lagi ia harus menahan diri agar tak mengatakan hal seperti itu.

Perasaan yang ia dapatkan terhadap perempuan ini sejak pertama kali bertemu tak pernah berubah. Ada sesuatu yang menganggu Yamato setiap kali bercakap-cakap dengan majikan barunya, sang saniwa.

Ia tidak tahu, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan.

Hingga pada suatu kejadian, ia mencapai sebuah kesimpulan yang paling masuk akal baginya.

Saat itu mereka semua tengah memacu kuda, memantau keberadaan musuh seperti biasa, hingga sesuatu yang tampak seperti sebuah desa muncul dalam jarak pandang mereka.

Nikkari Aoe yang memimpin di depan langsung menyadari ada sesuatu yang salah. Dan sesuai dengan apa yang sudah sering mereka bahas disetiap pertemuan mereka, satu isyarat darinya membuat seluruh anggota pasukan kecil mereka berpencar dan masuk dalam formasi.

Semuanya tampak berjalan lancar. Mereka sengaja memasuki desa mati itu untuk memeriksa keadaannya, berjaga-jaga apabila ternyata ada musuh mereka yang bersembunyi disana –meski mereka tampak tak terlalu pintar untuk berpikir seperti itu. Mereka semua tidak terlalu khawatir bila ada hal yang tak diinginkan terjadi, karena desa ini tampak tak terlalu luas dan mereka masih bisa mengetahui letak satu sama lain lewat suara.

Yamato masih sempat melihat Horikawa Kunihiro berbelok untuk memeriksa area di arah yang  berlawanan, sebelum memacu kudanya agar sejajar dengan sang saniwa.

Ia baru memperhatikan keberadaan sebuah pedang yang tersampir di pinggang sang saniwa. Berarti majikannya ini setidaknya bisa membela diri, meski tentu tak sekuat mereka para toudanshi.

Tapi itu tak membuat Yamato menurunkan tingkat kewaspadaannya. Hal yang seumur hidupnya selalu ia lakukan, mencurigai keadaan dan setiap musuh, kemampuan miliknya yang tak akan ia lupakan begitu saja. Medan pertarungan mereka yang terdiri dari banyak bangunan kecil dan rapuh ini termasuk dalam banyak pengalaman bertarung yang ia miliki.

Ia berpesan pada sang saniwa agar berhati-hati pada bangunan-bangunan di sebelah kanannya, yang ditanggapi dengan sebuah anggukan serius.

Dan benar saja.

Seakan diberi aba-aba, sebuah kelebat hitam melompat ke arah mereka, beberapa kaki dari rumah tua nyaris hancur yang mereka lewati. Wakizashi musuh, ada dua jumlahnya.

Yamato merapatkan diri ke arah perempuan itu, mengitari kudanya dan menempatkan diri di tengah-tengah sang saniwa dan musuh yang bergerak cepat ke arah mereka.

Ia menghunuskan pedang tepat pada waktunya. Setelah bunyi dentang bilah besi bertemu, ia segera melompat dari kudanya, karena bertarung di atas hewan berkaki empat itu bukanlah keahliannya.

Seharusnya itu adalah pertarungan yang mudah.

Yamato no Kami Yasusada sudah mulai terbiasa dengan gerakan tubuhnya sejak ia dibangkitkan kembali ke dimensi ini. Wakizashi pertama berhasil ia musnahkan hanya dengan beberapa halauan pedang, sebuah dorongan keras, disusul tebasan secepat kilat. Ada rasa kepuasaan tersendiri baginya ketika mengetahui kemampuannya menggunakan senjata mulai terasa alami lagi.

Masalahnya ada pada saat ia tak memperhatikan arah bergerak musuh yang satunya lagi.

Yang ia ketahui selanjutnya, sebuah suara dentang besi terdengar, bukan oleh dirinya.

Uchigatana itu tak dapat menyembunyikan raut terkejutnya.

Perempuan itu setidaknya berhasil mempertahankan dirinya sendiri, pedang yang dibawa sang saniwa kini sudah berada di tangan. Bilah yang ukurannya kira-kira sama seperti uchigatana itu berhasil menangkis serangan musuh.
 

Namun sang saniwa nyaris terjatuh dari kudanya setelah benturan yang cukup keras itu.
 

Kaki Yamato secara otomatis bergerak cepat, tangannya bergerak tangkas menyingkirkan wakizashi kedua itu dengan dua tebasan dari belakang.
 

Samar-samar terdengar suara Horikawa Kunihiro, bergerak kembali ke arah mereka berdua dan mengatakan sudah tak terlihat lagi ada musuh di daerah sebelah sana.
 

Yamato berusaha tenang. Seharusnya ia tetap tenang, ia sudah sering melakukan pertarungan, sudah terbiasa menyaksikan aksi brutal. Tapi ia menyadari tangannya yang sedikit gemetar. Bukan karena adrenalin, tetapi karena sesuatu yang lain, sebuah rasa takut ketika ia melihat wakizashi musuh mengincar perempuan itu.
 

Kenapa ia merasa takut karena hal seperti itu?
 

“Yamato-san?”
 

Ia terlonjak ketika merasakan sebuah tepukan pelan di bahu kanannya. Saat ia menoleh yang didapatinya adalah sebuah raut wajah khawatir sang saniwa.
 

“Yamato-san, apa anda baik-baik saja…?”
 

“Seharusnya saya yang mengatakan itu, aruji.” Ada sebuah rasa sesak di dalam dirinya, seperti hendak marah, padahal ia tahu bahwa perempuan itu benar-benar khawatir akan dirinya.
 

Sang saniwa tampak terkejut dan bingung. Tangannya membeku di udara, awalnya hendak menyentuh uchigatana itu lagi, namun tak jadi. Saniwa itu hanya tersenyum gugup.
 

[Sebenarnya aku tahu kalau kau benar-benar mengkhawatirkanku. Tapi aku bukan orang yang baik, jadi aku tak bisa mengatakan ‘terima kasih’ dengan jujur. Mungkin aku tak akan pernah mengatakan kata-kata itu padamu.]
 

“Maaf, tadi aku yakin bahwa Yamato-san akan melindungiku saat lengah…” Kata sang saniwa pelan. “Aku akan lebih berhati-hati untuk selanjutnya.”

Yamato terdiam sejenak.
 

“Yang penting anda tidak apa-apa…”
 

Anggota pasukan mereka yang lain mulai berdatangan. Yamato masih diam tak bergeming, memandangi tanah dengan perasaan gusar. Satu tangannya mengurut kening, sesaat tadi ia mendengarkan suara seseorang, tapi bukan itu yang pusingkan.

Kenapa malah dia yang minta maaf?
 

Sekarang Yamato semakin merasa kesal pada majikan barunya ini, penyebab dari semua rasa kebingungannya.
 

Ya, ia tak menyukai perempuan itu.

 

[ 誠 ]

 

Matanya menangkap keberadaan seorang asing, yang pernah dilihatnya di ruangan Okita setelah kejadian di Ikedaya itu, dan kini orang tersebut tengah sibuk mondar-mandir membawa tumpukan cucian para prajurit di markas mereka

 

Ia menanyakan alasan keberadaan orang baru itu pada Kijinmaru, karena secara teknis majikannyalah yang membawa orang itu ke tempat ini.

 

Orang tua dari penghuni baru markas mereka itu merupakan korban jiwa di tengah pertarungan Shinsengumi dan Choshu di Ikedaya, maka Hajime membawanya ke markas, dan sekarang ia diberikan izin bekerja di tempat ini.

Tentu saja, kalau  dia ternyata seorang mata-mata dari Choshu, kita tak perlu ragu untuk menghabisinya, apalagi tak semua orang bisa melihat kita, kata pedang milik Saitou Hajime itu sebagai info tambahan.

 

Kijinmaru Kunishige memang hidup sesuai namanya dan seperti majikannya.

 

Bukannya ia tak setuju, tapi orang baru itu sering pula ditugaskan untuk menjadi asisten Okita, dan semakin sering ia melihatnya, ia merasakan sebuah toleransi sepihak tercipta setiap dia  datang membawakan obat untuk sang komandan unit satu.

 

(Karena sejauh ini yang bisa melihat sosok esksitensi dirinnya hanyalah sang majikan)

 

Maka seiring berjalannya waktu, tanpa bertanya pun Yamato mulai mengerti penyebab sikap tuannya yang terkadang dingin dan kasar, emosi-nya yang naik turun bagai pelana kuda setiap orang itu berusaha merawatnya. Meski Okita memang tipe yang tak senang bila ada orang lain mengkhawatirkannya (Yamato paling sering dimarahi olehnya karena itu), kata-kata pedas pria itu menjadi lebih sering ditujukan untuk sosok yang selalu bersikeras untuk merawatnya.

 

Entah ia harus menyalahkan siapa. Emosi yang muncul karena eksistensi orang yang mulai berperan penting dalam kehidupan tuannya itu, atau keberadaan mengerikan dalam tubuh tuannya yang mulai menggerogotinya perlahan tapi pasti.

 

Mungkin keduanya.

 

[ 誠 ]

 

Beberapa kali kepalanya serasa dipukuli benda berat, seakan mengatakan ada suatu hal penting yang seharusnya ia ingat, tetapi sekuat apa pun ia berusaha mengingat, ia tak mendapatkan apa-apa.
 

Yamato tak tahan lagi, seharusnya ia melakukan pembicaraan ini sejak pertama kali sampai. Namun kesempatan yang pas tak pernah muncul.
 

Akhirnya ia berhasil mendapatkan waktu untuk berbicara dengan Kashuu Kiyomitsu, waktu berbicara empat mata dalam jangka lama tanpa perlu diganggu yang lain.
 

Haa? Apa maksudmu?”
 

Tak pernah berubah, pikir Yamato, antara kesal dan dan bersyukur. Uchigatana yang pernah bersamanya dulu itu adalah toudan pertama yang ada bersama sang saniwa. Karena sudah lebih lama berada di tempat ini, dan terlihat sangat akrab, Yamato berpikir ia bisa membicarakan hal ini dengannya.
 

Maka ekspresi kebingungan di wajah lawan bicaranya itu membuatnya frustasi.
 

“Sudahlah, jawab saja.” Ulang Yamato. Dikeraskannya suara untuk melawan ramainya bunyi hujan yang turun deras. Ruangan dengan pintu kertas geser memang tak dapat diharapkan untuk meredam suara dari luar. “Apa kau pernah merasa bertemu dengan aruji sebelum tinggal disini?”
 

Ia tak tahu apakah Kashuu juga merasakan hal yang sama seperti dirinya atau tidak. Mereka belum pernah lagi berbicara empat mata seperti ini dalam rentang waktu yang cukup lama.
 

“Tidak tuh.” Kashuu berhenti memoles kukunya. Merentangkan tangannya jauh-jauh, memperhatikan hasil pekerjaannya. “Hmm…Lebih tepatnya, aku tidak yakin.”


Yamato menghela napas, menepuk lantai kayu yang ia duduki dengan frustasi. “Ini buang-buang waktu.”
 

“Kenapa malah kau yang kesal sih?” Kashuu Kiyomitsu memang selalu terang-terangan jika sudah berbicara hanya berdua dengannya.

 
“Tidak tahu. Setiap aku berbicara dengannya, aku selalu merasa kebingungan. Aku…Aku tidak menyukai.”

 
“Yang lain tak ada yang berpikiran seperti itu, masalahnya ya ada di dalam dirimu sendiri, Yasusada.”

 
Aku tahu itu!” Desisnya cukup keras. Bila pandangan mata bisa membunuh, mungkin sekarang ia bisa menghabisi satu pasukan musuh mereka dalam sekejap. “Tapi kenapa aku? Kenapa aku yang harus merasa seperti ini?”

 
Ketika ia menengadah, sekilas ia melihat sebuah ekspresi asing di wajah yang sudah sering ia lihat itu, entah apa.

 
“Kalau begitu, menyerah saja.” Ucap Kashuu serius. Samar-samar terdengar suara-suara penghuni citadel lain yang melewati ruangan di belakang mereka, tampaknya hujan sudah mulai mereda. “Jangan berusaha mengingatnya.”

 
“Tidak bisa.” Digenggamnya lengan haori biru muda yang ia kenakan dengan sangat kencang. “Aku harus tahu. Aku harus mengingat….”

 
“Kenapa kau merasa harus mengingatnya?”

 
“Karena aku tak ingin kehilangan kenangan yang membuatku… Menjadi diriku sekarang.”

 
Seorang Yamato no Kami Yasusada, uchigatana yang pernah dipakai oleh Okita Souji. Eksistensinya yang muncul karena rasa hormat dan penuh kasih pada pria itu… Dan…

 
Pikirannya kosong.

 
Kosong, ia tahu harusnya ada sesuatu setelah itu.

 
“Kalau ternyata kau berhasil mengingat, apa kau tetap akan merasa tidak suka pada aruji?”

 
Suara derai hujan yang lebat sudah mereda sepenuhnya, hanya tersisa rintik-rintik kecil yang berjatuhan ke tanah dari atap.

“Aku tidak tahu.” Satu tangannya mengusap wajah dengan gusar. “Bagaimana denganmu?”
 

Kashuu malah diam, tak menjawabnya dengan cemoohan atau semacamnya yang ia kira akan datang.
 

“Kiyomitsu?” Panggil Yamato.
 

Uchigatana yang berpakaian nuansa merah itu bangkit berdiri, tak membereskan barang-barangnya, beranjak keluar dari ruangan.
 

“Istirahat sana, besok kau harus ekspedisi pagi-pagi, kan?” Kata Kashuu. “Aku baru ingat ada tugas berbelanja. Daah.”
 

Pintu geser dibiarkan terbuka dan bunyi langkah kaki pun menjauh.
 

“….?” Yamato mengernyit.
 

Tapi ia berusaha tak memikirkan apa yang baru saja terjadi karena yang ada adalah kebingungannya yang semakin bertambah.
 

Yamato mulai merasakan dirinya semakin sering menghela napas panjang.

 

[ 誠 ]

 

“Permisi, Okita-- Oh!”

 

Ia berbalik, mendapati orang baru itu, ekspresi terkejut tampak jelas di wajah. Tangan yang menggeser pintu itu berhenti di tengah jalan.

 

“Ma…Maaf, saya tak tahu ada orang lain disini...”

 

“Kau bisa melihatku?”

 

“Eh?”

 

Yamato mendapati dirinya bertanya dengan tenang. Ia tak tahu apakah ini hal yang bagus atau tidak, tetapi perempuan itu sekarang bisa melihat dirinya…

 

“Hei, kau bisa melihatku?” Ia bertanya sekali lagi.

 

“I..Iya?” Perempuan itu menjawab dengan gugup. “Anda siapa…?”

 

Belum sempat ia menjawab, Izumi no Kami Kanesada melenggang masuk dari arah yang berlawanan, seakan tak terjadi apa-apa.

 

“Oi, Yasusada, kau lihat Nagasone-san tidak?”

Ia menahan diri untuk tidak mengatakan ‘kau ini perusak suasana ya’. “Tidak, aku belum melihatnya hari ini.”

 

“Anu, maaf… Apa maksud anda?”

 

Kedua uchigatana itu menoleh ke arah sang perempuan. Yamato mencapai kesimpulan bahwa hanya dirinya yang terlihat oleh perempuan itu.

 

“Maaf, bukan apa-apa.” Yamato tersenyum. “Nona, anda mencari Okita-kun? Tadi dia pergi mencari udara segar di taman.”

 

“A..Ah, baiklah, terima kasih. Saya permisi dulu…”

 

Benar-benar sebuah kejadian yang tak disangka olehnya.

 

“Tunggu, tadi ada apa sih?”

 

Yamato baru teringat ada satu sosok lagi di ruangan itu dan mendapat dorongan untuk menjitaknya.

 

[ 誠 ]

 

Mrow

Yamato tersentak.

 
Salah satu harimau Gokotai berdiri beberapa kaki dari tempatnya duduk di pinggir bangunan tradisional itu. Kedua mata binatang yang polos itu seakan bertanya-tanya tentang apa yang sedang ia lakukan, menunduk menangkupkan kepalanya kedalam tangan berusaha meredakan sakit yang ia rasakan dalam kepalanya.


Namun tangan lebih cepat dari pikiran, dan dengan spontan ia menghantamkan pangkal pedangnya di lantai kayu , menimbulkan suara debum keras yang membuat mahluk kecil berkaki empat itu kabur dari jarak pandangnya.

 
Sedikit lagi, sebentar lagi ia tahu apa yang harus ia ingat kembali.


Di tengah suasana mendung, bau lembab yang mengambang di udara, sensasi dingin yang menjalar ke segala arah ini, Yamato berpikir bahwa ia bisa menenangkan diri dan mendinginkan kepalanya.

 
Lalu, tak disangka, ia merasakan kehadiran seseorang yang menghampiri dari arah kanannya.

 
“Yamato-san, apa tidak kedinginan?”

 
Sang saniwa.

 
“Ah, tidak kok.” Ia bergeser sedikit ketika sang saniwa ikut duduk bersimpuh di sampingnya. “Anda sendiri, seharusnya lebih baik ada di dalam ruangan, aruji.”

 
Perempuan itu tersenyum kecil, tangannya menyodorkan sesuatu, dan ketika melihat benda tersebut, tangan Yamato otomatis meraba ke arah lehernya sendiri.

 
“Horikawa-kun baru selesai mengeringkannya.” Sang saniwa menjelaskan, memberikan syal putih yang biasanya dikenakan sang uchigatana kemana pun ia pergi.

 
“Ah… Terima kasih.”

 
Yamato sebenarnya berharap agar sang saniwa segera beranjak pergi, tapi perempuan itu kemudian berbicara.

 
“Akhir-akhir ini, kuperhatikan Yamato-san seperti memiliki banyak pikiran.” Mulai sang saniwa, yang segera mengibaskan kedua tangannnya. “Ah, tapi aku bukan bermaksud ikut campur, hanya saja kalau Yamato-san ingin membicarakannya agar lebih lega…”

 
“Terima kasih atas perhatian anda, aruji.” Ia hanya berharap agar suara tawanya tidak terdengar dipaksakan. “Saya hanya merasa kurang sehat, tapi itu bukan suatu hal yang besar. Sungguh.”

 
Tidak, Yamato bukannya tidak menyukai sosok majikan barunya ini karena ia masih mengingat tentang Okita. Majikannya yang baru ini sangat baik, terlalu baik malah. Bahkan penuh perhatian sampai seperti ini.

 
Jadi mengapa ia merasa tak nyaman?

 
Perempuan itu juga termasuk seseorang yang peka, karena setelah itu ia hanya tersenyum penuh pengertian. “Baiklah, tapi kalau ada apa-apa, katakan saja, ya?”

 
Yamato hanya mengangguk.

 
Lalu sang saniwa segera bangun dan berjalan menjauh.

 
Disentuhnya lagi kain yang melingkari lehernya, kini dengan sebuah perasaan yang lebih tenang. Pikirannya menjadi lebih tenang dan jernih.

 
Bau hujan di udara menguat.

 
“Benar-benar menyusahkan…”

 
Ia tak tahu kata-kata yang meluncur keluar dari mulutnya itu ditujukan untuk dirinya sendiri atau tidak.

 
Saat ini yang ia tahu pasti adalah fakta bahwa ia tidak menyukai perempuan yang sangat baik padanya itu.

 
Karena melihat keberadaan perempuan itu mengingatkannya pada masa-masa penuh kebahagiaannya.

 
Masa-masa yang tak bisa terulang lagi.

 
Karena kehadiran perempuan itu seakan mempertanyakan apakah dirinya siap menerima semua memori yang belum terkumpul di kepalanya.

 

(Sebuah memori dimana ia memahami betul perasaan Okita pada orang itu….)

 

[ 誠 ]

 

“Meski aku akan meninggalkannya, meninggalkanmu…” Suara itu terdengar lirih, tidak penuh percaya diri seperti biasanya. “Yamato, kau mengerti maksudku, bukan?”

 

Yamato no Kami Yasusada sangat tidak suka jika Okita sudah berkata seperti itu.

 

“Okita-kun, hentikan.”

 

“Kau akan menjaganya untukku, kan?” Tapi pria itu tetap melanjutkan. “Dan meski aku tak bisa merasakannya lagi, Kashuu…”

 

“Hentikan!”

 

Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama ini, Yamato terperangah ketika tuannya itu mengembangkan sebuah senyuman.

 

“…..Ah, akhirnya kau marah padaku.”

 

“Okita-kun… Dia akan sangat sedih kalau mendengar perkataanmu itu.” Agak sulit untuk menjaga suaranya agar tak bergetar.

 

“Kuharap tidak.”

 

“Dia pasti sedih.”

 

“Kenapa kau seyakin itu?”

 

Yamato berjalan mendekati Okita. Di tengah malam yang sunyi, keduanya melakukan percakapan dengan suara pelan, tapi ia ingin sekali berteriak.

 

“Karena perasaanku juga sama sepertinya.”

 

Okita masih bersandar di pinggir pintu, kini berbalik dan Yamato tak bisa melihat ekspresi wajahnya.

 

“Aku ini benar-benar tak pantas memiliki orang-orang seperti kalian dalam hidupku.”

 

 .

 

“Aku ini tidak pantas untuk membahagiakannya.”

 

[ 誠 ]

 

 

 

Chapter Text



Miyakowasure - 都忘れ -   ; Touken Ranbu x Wasurenagusa

 


 

Disclaimer :

Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Shinsengumi (Mokuhiroku, Kekkonroku, Hiyokuroku) Wasurenagusa © Rejet

 

Warning : AU HEADCANON AUTHOR, Translate drama CD berantakan bertebaran, Typo, Crossover, OOC, OCs (MCWasurenagusa)

 



 

 

 

Ia melihat langit malam berhiaskan cahaya yang saling menyusul bersama dengan pria itu.

“Kembang api ya… Aku selalu bertanya-tanya, apa yang ada di benak orang ketika melihat kembang api.”  

Pria itu menatapi langit dengan sebuah pandangan yang tak bisa ia baca.  

“Apa kau melihatnya sebagai bunga yang kuat dan cantik, atau bunga yang hanya ada sekejap dan pasti gugur? Setiap aku melihat kembang api di masa kecilku, aku selalu berpikir untuk hidup seperti bunga yang tumbuh dan selalu bermekaran.”

Lalu pria itu berkata dengan getir.

“Ah, tapi tak ada kembang api yang akan terus bersinar, bukan?”

Suara-suara letupan yang teredam di kejauhan mengisi keheningan. Ia bergeser sedikit ke arah pria itu.

“Hidupku ini bisa dibandingkan dengan senkou hanabi, berpendar kecil dan lama… Tapi aku lebih suka menjadi kembang api yang bersinar paling terang dari semuanya selama sesaat, lalu menghilang tanpa jejak. Hidup yang seperti itu tampak lebih baik daripada yang kau kira.”

Semuanya diucapkan tanpa beban, mengalir begitu saja.

Dan hal itu membuat sesuatu di dalam dirinya merasa sangat pedih, menyesakkan.

“Tapi memang hidupku ini akan menjadi yang paling singkat dari semuanya. Aku…”

‘Jangan berkata seperti itu, kumohon’ adalah yang ingin ia ucapkan kepada pria itu.

“Apa? Jangan menggenggam tanganku tiba-tiba seperti itu! Kau ini, sebegitu sukanya bergandengan tangan?”
 

Karena pria itu seakan tak ingin lagi terikat dengan dunia ini.

“…Aku tidak akan pergi kemana-mana.”

Pria itu tertawa kecil.

“Jangan melihatku seperti itu. Semua yang kukatakan tadi itu hanya bercanda.” Pria itu tersenyum kecut.“Terkejut? Aku memang senang membuat gurauan buruk, kau tahu itu kan?”

Nada suara pria itu kembali datar.

“Genggamanmu terlalu erat, tanganku sakit.”

Tapi pria itu tak melepaskan tangannya.

“…Kau tahu, ada sesuatu yang kuingat setelah bertemu denganmu, sesuatu yang sudah lama tak kupikirkan. Kau ingin tahu apa itu?”

 

 .

 

“Aku ingat akan rasa hangat yang diberikan orang lain.”

 

 


 

2
Noshungiku
-
野春菊 ( ノシュンギク )-

 


  

 

Ketika ia membuka mata, pemandangan langit-langit ruangan yang gelap menyambutnya. Napasnya sedikit memburu, tangannya berkeringat dan mencengkeram erat futon.

Sejak sampai di tempat ini, ia semakin sering mendapat mimpi.

 
Ia selalu bermimpi tentang pria itu. Seseorang yang ia yakin betul tak pernah dijumpai dalam hidupnya, meski setiap mimpi yang ia dapat seolah membuat keberadaan orang itu terasa wajar saja. Di satu sisi terasa aneh baginya, di sisi lain ia tak mempermasalahkannya.

 
‘Siapa sebenarnya… Pria itu?’

 
Perempuan itu tahu jawabannya tak akan datang jika hanya berbaring menatap kayu di langit-langit ruangan, atau pun berpikir keras lalu kembali tidur dan berusaha masuk kembali ke dalam mimpi.

 
Dia sangat letih, kali ini ia berusaha tak terlalu memikirkan pria asing itu. Kejadian di siang hari tadi sudah cukup menguras energi.

 
Kalau bukan karena Yamato no Kami Yasusada menolongnya, mungkin dia sudah babak belur, atau lebih parah lagi ia sudah mati.

 
Ketika dirinya menjadi seorang saniwa, segala konsekuensi yang telah diinformasikan telah ia pahami. Dan setelah ia terjun ke dunia ini dan melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya harus ia hadapi, ada sebuah keraguan yang mulai muncul dalam dirinya.

 
Dia hanya seorang perempuan berumur 20 tahun, baru saja menyelesaikan tingkat pendidikan tertinggi. Dunianya yang normal dan sama seperti semua orang pada masanya, berubah ketika ia iseng mengikuti uji coba menjadi ‘saniwa’ bersama seorang temannya.

 
Tentu, ia mempelajari praktek bela diri. Namun ada beberapa hal dimana segala ilmu yang sudah dipelajari mendadak hilang dari kepala ketika dihadapkan dengan situasi serius yang sebenarnya. Dentan dan getaran bilah besi bertemu dengan pedangnya yang bahkan belum ia hunuskan masih terasa nyata, membuat tangannya bergetar.

 
Tapi bukan hanya itu masalah yang ia pikirkan.

 
Berusaha menutup matanya dan kembali tidur, namun ekspresi dari penyelamatnya siang tadi. Meski Yamato sendiri mungkin tak sadar bahwa dirinya sempat menangkap sekilas sebuah kegusaran di wajah itu.

 
Salahkah bila terlalu mempercayai seseorang yang baru saja ia kenal?


Mengingat bahwa Yamato berada di belakangnya pada saat itu benar-benar membuatnya fokus pada musuh yang muncul menyerangnya, yakin bahwa uchigatana itu bisa mengatasi musuh yang lain.

 
Tugas mereka memang berbahaya. Koreksi, dirinyalah sebagai seorang saniwa yang memberi kehidupan dan membuat para toudanshi ikut mempertaruhkan kembali nyawa yang mereka dapatkan.

 
Ia terlalu banyak berpikir. Tubuhnya lelah, mempengaruhi pikirannya yang kacau balau.

 
Segalanya bisa berjalan lancar, semua butuh waktu, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan sugesti seperti itu. Dan satu hal yang jelas, ia ingin agar dirinya dapat diandalkan dan juga sebaliknya, karena perasaannya kepada mereka semua adalah tulus.

 
Ia percaya akan hal itu.

 

[ ]

 

Dia telah melihat neraka dengan mata kepalanya sendiri.

 

Segalanya berlangsung dengan cepat. Kericuhan yang tiba-tiba meledak, orang-orang yang berhamburan keluar dari bangunan penginapan, beberapa dengan pedang di tangan, dengan  liar meneriakkan berbagai hal tentang keadilan palsu sebagai pembenaran atas tindakan mereka.

 

Bunyi berkelotakan dari nampan yang ia jatuhkan bersamaan dengan dinding kertas terkoyak menampakkan hunusan tajam pedan di seberang sana.

 

Dia berlari, menghindari orang-orang beradu pedang. Suara-suara semakin ramai.

 

Dengan cepat digesernya pintu ruangan, berteriak memperingatkan kedua orang tuanya.

 

Ia melihat ayahnya ambruk, begitu pula ibunya. Sebuah bilah besi berdesing di udara, dan bahunya terasa sakit. Tak ada suara yang sempat keluar dari mulutnya.

 

Ia ingin menangis,ia ingin lari, tapi rasa takut dan tak berdaya yang begitu hebat seakan menjerat kaki, membuatnya membatu di tempat.

Dalam segala kekacauan itu, matanya menangkap sesuatu.

 

Kibaran putih-biru di tengah gelap malam dan cahaya bulan…

 

[ ]

 

 

Sebagai seorang saniwa, ia mulai terbiasa dengan rutinitas baru yang dijalaninya. Butuh waktu yang cukup lama membiasakan diri dengan kegiatan yang dulu belum pernah ia lakukan.
 

Dulu bercakap-cakap dengan banyak orang jarang ia lakukan, hanya segelintir teman dekat saja yang bisa dianggap sangat dekat dengannya. Kini didapatinya hal-hal kecil seperti sapaan di pagi hari dapat membuatnya bahagia.

 
Saat tidak ada kegiatan ekspedisi atau acara pergi keluar lainnya, sang saniwa sering duduk di pinggir kolam. Terkadang ditemani beberapa toudanshi, yang paling sering adalah Hirano dan Maeda, namun biasanya Kashuu Kiyomitsu sering pula duduk bercakap-cakap cukup lama. Kali ini uchigatana itu tengah berada di dojo, sibuk berlatih, dan ia tak ingin menganggunya.

 
Shukun? Ada apa?”

 
Ia tersentak, mendapati Maeda menatapinya dengan bingung. Tangan tantou itu masih menggenggam mahkota bunga setengah jadi.

 
“Sebaiknya kita pindah ke dalam saja?” Hirano yang kini menoleh ke arah mereka setelah saudaranya menanyakan keadaan sang saniwa ikut pula mengkhawatirkannya.

 
“Ah, tidak bukan begitu! Aku melamun, maaf ya…”

 
“Saya pikir aruji-sama kelelahan.” Ujar Hirano dengan serius, namun tawa kecil dari sang saniwa meyakinkan Hirano kalau perempuan itu baik-baik saja.

 
“Tapi benar kata Hirano, apa sebaiknya anda tidak istirahat di dalam saja?” Celetuk Maeda.

 
Perempuan itu meletakkan lilitan bunga yang sedang dipegangnya, kemudian menepuk lembut kepala kedua tantou itu dengan sayang.

 
“Terima kasih, bukankah kalian yang seharusnya istirahat? Apa kalian tidak lelah setelah ekspedisi kemarin?”

 
“Kami baik-baik saja kok!” Keduanya menjawab dengan serempak, membuat sang saniwa tertawa kecil. Terkadang ia lupa, meski memiliki rupa manusia, mereka juga mempunyai tingkat energi yang lebih tinggi.

 
Kedua tantou Awataguchi itu tengah mengajarinya merangkai mahkota bunga. Ketika ia menyinggung tentang hal itu, keduanya dengan penuh semangat menawarkan diri untuk mengajarinya.

 
Maeda yang sudah selesai menimang mahkota bunga miliknya dengan dua tangan, memutar dan memperhatikan bentuknya.

 
“Entah kenapa berwarna seperti Izumi-san dan Yamato-san.” Kata Maeda pada Hirano, sambil menunjuk warna bunga yang mereka pakai. Bunga-bunga itu memang memiliki tangkai yang cukup panjang dan tumbuh cukup banyak di area citadel, namun hanya memiliki dua variasi warna.

 
Hirano memiringkan kepala, kedua alis bertautan.

 
“Tapi itu lebih terlihat seperti ungu muda dan putih.”

 
“Kalau menurut aruji-sama bagaimana?”

 
“Hmm, warnanya memang ungu muda. Tapi benar juga, jadi teringat haori milik mereka berdua ya.” Perempuan itu tersenyum. “Dan…Sudah selesai!”

 
Rangkaian mahkota bunga yang dibuat sang saniwa sedikit lebih besar dari milik Hirano dan Maeda. Beberapa tangkai dan daun hijau mencuat keluar dari lingkaran yang dibentuk.

 
“Wah, bagus!” Ujar Maeda sambil bertepuk tangan kecil.

 
“Tidak serapi kalian.” Sang saniwa tertawa gugup.

 
“Ah, tapi hasil origami anda selalu rapi kok.” Kata Hirano.

 
“Oh, benarkah? Terima kasih, Hirano-kun.” Kerajinan tangan bukanlah keahliannya, origami merupakan pengecualian, mungkin karena ia cukup melipat kertas saja. Hanya bentuk-bentuk dasar saja, tidak ada yang rumit.

 
Dan entah mengapa, kegiatan origami memberikan sebuah perasaan nostalgia baginya.

 

 

[ ]

 

Pria itu datang di tengah malam, meminta izin untuk masuk dengan suara yang pelan. Benar, biasanya ialah yang pergi ke ruangan pria itu untuk membawakan obat, yang selalu dibalas dengan helaan napas jengkel atau ucapan tentang kondisi tubuhnya yang tak perlu dikhawatirkan.

Kali ini ia tahu mengapa pria itu mendatanginya. Gerak-gerik tubuh ketika mengatakan bahwa ia sempat ragu ketika mengayunkan pedangnya, tertawa getir dan berkata bahwa ia hanya emosional, mencemooh agar tidak menganggapnya lemah.

Sebetulnya tak ada kata-kata yang sanggup mewakili apa yang sedang pria itu rasakan saat ini.

“Kumohon… Buat aku melupakan hal itu.”

Suara pria itu bagai desau angin, bergetar tepat di telinganya. Bisikan nyaris tak terdengar, tersirat dengan rasa putus asa yang selama ini tak pernah diperlihatkan padanya.

Sejak pertama kali mereka bertemu, ia tak pernah mengerti apa yang sebenarnya ada di pikiran pria itu. Setelah lama bersamanya, ia tetap tak mengerti menapa pria itu selalu berusaha bersikap dingin dan kasar, seakan berusaha menjauhkan diri.

”Kamu… Adalah orang yang terlalu baik, kau tahu? Itu sebabnya aku berakhir dengan selalu bergantung padamu…”

Kedua tangan pria itu mendekapnya semakin erat. Kegusaran yang ditampilkan dengan jelas oleh mulut yang tak memberinya kesempatan untuk mengambil napas.

“…Apa kau takut aku akan mencekikmu lagi?”

Ia menggelengkan kepala. Ya pria itu bisa saja membunuhnya saat itu juga. Tapi melihat pria itu bertingkah laku seakan dunianya sudah hancur, itulah yang membuat dirinya ketakutan.

Selalu saja, kata-kata yang terdengar jahat, selalu keluar dari mulut pria itu.

“Jika aku membunuhmu, apa mungkin aku bisa melupakan orang itu...?”  

Pria itu bergumam, cengkeraman tangannya semakin keras di pada lengan yang hanya balas memeluknya. Tidak bertanya, membiarkan pria itu mengeluarkan semua kemarahan dalam hatinya. Ia sendiri tak dapat berkata apa-apa, tahu semua ucapan yang ia berikan tak akan menenangkan pria yang menjadi kaishakunin Yamanami Keisuke siang tadi.

Ia membuka mata, bertemu sesaat dengan pandangan penuh emosi yang bercampur. Pria itu membuka mulutnya, namun ia tak dapat mendengarnya dengan jelas.

“….Bahkan setelah menumpahkan amarahku padamu, kau…”

Lalu semua itu berakhir dengan sebuah ucapan selamat malam singkat dan langkah kaki yang menjauh.

Pria itu berhenti berjalan, berbisik pada dirinya sendiri.

“Meski aku selalu mengharapkan kebahagiaan untukmu, aku tetap saja egois. Aku melakukannya lagi… Tampaknya aku tak berubah sejak malam pertama itu…”

Sebuah senyum sedih terukir di wajah pria itu.

“Dengan begini, kau akan segera muak padaku.”

 

[ ]

 

 

Sang saniwa menyadari bahwa ia telah berdiri memandangi rintik hujan terlalu lama, tersentak sendiri ketika mengingat apa yang harusnya ia lakukan saat itu.

Tanda-tanda dari langit kelabu beberapa jam yang lalu membuatnya serta Hirano dan Maeda bergegas membantu Horikawa untuk mengambil semua pakaian yang sedang dikeringkan sejak kemarin. Kebanyakan akan diambil sendiri oleh pemilik masing-masing, tapi ada juga yang membantu untuk meletakkannya di ruangan setiap toudanshi.
 

Syal milik Kashuu dan Yamato adalah yang terakhir ia bawa.
 

Udara yang dingin di lorong luar ruangan membuatnya mengantuk, hari ini pun ia kurang tidur. Terjaga di tengah malam dan berusaha tidur kembali ternyata bisa menguras tenaga. Menutupi mulut dengan satu tangan sambil menguap, ia nyaris tidak melihat salah satu orang yang dicarinya.
 

“Kashuu-san!”
 

Kashuu Kiyomitsu menoleh, tidak jadi memasuki ruangan yang ditempatinya bersama Yamato. Uchigatana itu mengulurkan tangan, menerima syal yang diberikan kepadanya.
 

“Uwaah, semua kain yang habis dicuci dan dijemur itu enak sekali~”
 

Sang saniwa terkikik geli. “Syal itu memang favoritmu ya?”
 

Kashuu tersenyum sambil melilitkan syal itu di lehernya.
 

“Tentu saja, menambah keindahanku kan?”
 

“Kashuu-san pakai apa pun selalu cantik kok… Oh.” Ia teringat dengan mahkota bunga yang ia buat tadi, dibawanya seperti memakai gelang agar tidak mengenai syal yang baru dikeringkan.
 

“Kashuu-san, tolong menunduk sedikit.”
 

“Eh, ada apa? Ada sesuatu di atas kepalaku?”
 

Uchigatana itu menurut saja, lalu merasakan sesuatu menyentuh kepalanya.
 

“Mm, Kashuu-san memang cocok dengan bunga.” Perempuan itu kemudian mengangguk pada dirinya sendiri.
 

Hening sesaat, sebelum Kashuu tertawa geli, membuat sang saniwa kebingungan.
 

“Benarkah? Terima kasih, aruji.” Masih setengah tertawa, tangan Kashuu membenahi letak mahkota bunga di atas kepalanya.
 

Dipikirnya sesaat tadi Kashuu tidak menyukainya, maka sang saniwa lega dan ikut tersenyum mendengar tanggapan uchigatana itu.
 

“Ah, omong-omong, ini syal Yamato-san, kutitip saja disini ya.”

 
“…Rasanya terakhir kulihat dia ada di belakang sana.” Ujar Kashuu. “Berikan saja padanya sekarang, dia itu sering tak memperhatikan kondisinya sendiri.”

 
Meski tak mengerti mengapa Kashuu berkata seperti itu, sang saniwa mengangguk. Kondisi cuaca yang sedang dingin seperti ini, lebih baik ia berikan sekarang saja.

 
Ia mendadak gugup sendiri, dulu mudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa sikap Yamato yang agak kaku padanya hanya perasaannya saja. Namun belakangan ini setiap ia berbicara dengan toudanshi itu, kentara sekali Yamato menguarkan aura agar tidak mendekatinya –berbeda dengan apa  yang Ookurikara sering lakukan.

 
Sang saniwa tetap melangkahkan kaki, bergerak ke arah belakang citadel.

 
Sosok Yamato yang tengah duduk diluar tertangkap ekor matanya.

 
“Yamato-san, apa tidak kedinginan?”

 
Yang dipanggil tampak tak terkejut, menggeser posisi duduk ketika ia datang menghampiri. Cara Yamato melihatnya tanpa menyiratkan perasaan yang tak bisa ia baca selalu membuatnya gelisah.

 
Hanya pembicaraan kecil dan menyerahkan syal itu. Lebih tepatnya ia yang berbasa-basi dengan menawarkan diri apabila Yamato perlu mengatakan suatu keluhan atau semacamnya.

 
“Saya hanya merasa kurang sehat, tapi itu bukan suatu hal yang besar. Sungguh.”

 
Ah, ia mengerti. Sedang tak ingin diganggu. Kalau sudah seperti ini, ia tak akan mendorong lebih jauh.

 
“Baiklah, tapi kalau ada apa-apa, katakan saja, ya?” Perempuan itu tersenyum.

 
Dia segera bangun dan berjalan menjauh, kembali ke arahnya datang. Helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Ia tak tahu mengapa, namun ia tak bisa mengacuhkan sesuatu seperti itu. Namun ia tak bisa menanyakannya pada uchigatana itu. Bila ia bertanya pun mungkin tak akan dijawab.

 
Ia hanya bisa berharap di hari esok ia bisa lebih berani dan membuat kemajuan agar apa pun yang membuat Yamato no Kami Yasusada merasa tak nyaman dengannya bisa berubah dan membuatnya lebih mengerti tentang uchigatana itu.

 

 

[ ]

 

“Kenapa kau tidak mengerjakannya di dalam saja?”

Wanita tua itu tersenyum ketika merasakan tangan sang pemuda membantunya berdiri, bersikeras agar ia tak duduk menatapi isi kebun yang putih dengan salju. Tak baik untuk kesehatannya, pemuda itu selalu berkata begitu.

“Aku senang menghirup udara musim dingin…”

“Tapi tetap saja… Omong-omong kau sedang membuat apa?”

“Syal untuk kalian berdua. Nona di seberang jalan datang berkunjung dan mengajariku cara membuatnya, menarik bukan?”

Untuk sebuah ruangan dalam sebuah rumah kecil yang hanya ditinggail oleh wanita tua itu, suara-suara dari luar masih dapat mengisi keheningan di dalamnya.

“…Kalian?”

“Tadi ada Kashuu-san disebelah Yamato-san…”

“Oh...” Yamato mengerjapkan mata. “Dia benar-benar ada disini?”

Wanita tua itu kebingungan.

“Aneh… Tadi dia ada disini…?”

“…Kenapa dia harus bersembunyi begitu?” Gumam pemuda itu pada dirinya sendiri.

“Apa dia seorang yang pemalu?”

Yamato mendengus.

“Ah, sudahlah. Jangan dibicarakan lagi.” Ujar pemuda itu. “Kenapa kau tidak membuat tiga saja, untuk dirimu sendiri juga?”

Wanita tua itu terdiam sebentar.

“Hmm…Apa sebaiknya aku membuatkan haramaki saja untuk kalian?”

“….Kurasa membuat benda bernama ‘syal’ itu lebih baik.”

 

[ ]

 

 

 Ia kembali terbangun di tengah malam.

 
Menangkupkan kepala kedalam kedua tangannya, memejamkan mata dengan erat, mendengarkan suara-suara malam hari di luar ruangan, segala macam cara dilakukannya agar segera terlelap.

 
Sia-sia.

 
Perempuan itu menyerah. Bangkit dari posisi tidurnya, memijat kedua matanya yang letih, lalu berjalan menuju pintu dan menggesernya sepelan mungkin.

 
Angin malam yang menerpanya selama perjalanan menuju dapur semakin membuatnya terjaga. Biarlah malam ini ia terjaga saja, pikirnya, tapi mulutnya yang terasa kering kini menjadi prioritas utama.

 
Semua penghuni rasanya sudah tertidur, dia tak menjumpai orang lain di dapur. Biasanya ada saja yang pergi kesana dengan alasan yang sama.  

 
Ketika ia keluar dari dapur, berhenti sejenak, sekadar memperhatikan keadaan malam hari itu, ia menyadari sesuatu yang aneh.

 
Ia mengerjapkan mata, mengusapnya berkali-kali. Efek kurang tidur? Ilusi? Pepohonan dan semak-semak mengelilingi citadel ini, tak ada orang lain selain mereka yang menghuni daerah ini.

 
Seharusnya tak ada cahaya dari luar pagar.

 
Mendadak suasana terasa mencekam baginya. Haruskah ia membangunkan seseorang? Cahaya itu tak terlihat seperti kebakaran, namun cukup terang hingga bisa dilihat olehnya. Mungkin karena pengaruh area sekitarnya yang tanpa penerangan.

 
Dia berdoa dalam hati agar keputusannya mengambil lentera dan membuka pintu pagar belakang untuk memeriksa cahaya itu tidak berakhir buruk.

 
Setengah perjalanan, dan ia sudah mulai menyesal. Malam tanpa listrik dan hanya bergantung pada penerangan lentera tak semudah yang ia bayangkan. Ia menyadari semakin jauh ia berjalan, tanah menjadi semakin rata tanpa kerikil dan bebatuan, tak perlu khawatir bila ia tersandung. Namun kegelapan disekelilingnya membuatnya sangat waspada.

 
Seharusnya ia tidak mengikuti jalan setapak ini, namun ada suatu dorongan dalam dirinya yang mengatakan bahwa semua baik-baik saja dan aman. Sebuah perasaan aman dan tentram ketika ia bersama para toudanshi lain, perasaan yang sama namun terasa penuh nostalgia.

 
Ia mengira akan menemukan sumber cahaya api unggun besar atau semacamnya.

 
Yang ada dihadapannya adalah area terbuka, seakan ia berada di tempat lain, bukan dari lingkungan pepohonan hutan. Sebuah rumah kecil, tampak tua. Kayu-kayunya terlihat berumur namun tidak lapuk. Kesan pertama yang didapat adalah tempat yang nyaman untuk ditinggali.

 
Cahaya itu berasal dari dalamnya.

 
Perempuan itu terdiam lama di depan pintu. Kalau pun ada orang di dalamnya, apa yang harus ia lakukan? Apa ini semacam perangkap oleh musuh mereka?

 
Sesuatu di dalam dirinya seakan mendorongnya untuk segera menggeser pintu.

 
Tak ada seorang pun di dalamnya. Hanya ruangan kecil dengan dua buah lemari menempel di dinding, perapian menyala di tengah ruangan. Ada sebuah tirai di sebelah lemari paling pinggir, yang ia asumsikan menyambung dengan sebuah ruangan lain.

 
Dia tidak berniat untuk menyibak tirai itu, memasuki rumah itu dan mendekati tungku perapiannya saja sudah membuatnya merasa tak sopan karena memasuki rumah orang lain.

 
‘…Rumah orang lain…?’

 
Ia menoleh, berusaha mencari tanda-tanda kehidupan. Api di tungku seakan baru dinyalakan, sangat berbahaya menyalakan api seperti ini lalu ditinggal begitu saja. Dimana orang yang meninggali rumah ini?

 
Sang saniwa menghampiri lemari, menyadari rak kedua dari bawah terbuka. Dia tak ingin mengobrak-abrik apa pun, hanya kebiasaannya tak tahan untuk membereskan ruangan yang berantakan agar para tantou yang senang berlari dalam ruangan tidak tersandung atau sejenisnya.

 
Benda-benda di atas tumpukan pakaian membuat tangannya membeku.

 
Kertas-kertas origami, sebagian sudah dilipat. Kebanyakan membentuk kincir angin, bentuk-bentuk sederhana lainnya. Sebuah kushi kanzashi berwarna coklat dengan ukiran bunga sederhana tampak terawat juga diletakkan di bagian atas.

 
Napasnya tercekat. Tangannya bergetar. Kepalanya sakit. Ia tak tahu kenapa.

 
Berat, tak bisa bernapas.

 
Ia tak menyukai ini.

 
Hentikan.

 

[ ]

 

Ia menarik pria itu keluar dari ruangannya.

 
Beberapa hari setelah ia membawakan obat, kembali mendapat perlakuan sengit, berbagai ucapan tentang bagaimana pria yang semakin hari semakin pucat itu selalu merasa marah bila ia mengkhawatirkannya. Tentang bagaimana ia tak perlu berada disisinya karena pria itu tak pantas membahagiakannya.

 
Tak akan merubah perilakunya, kata pria itu. Dia tak akan bertahan hidup lama untuk menemani dirinya, teriak pria itu.

 
Ia tak tahan lagi.

Pria itu masih mengeluarkan berbagai protes ketika ia membawanya ke area taman markas.

 

Ia ingin memperlihatkan pemandangan ini. Kelopak-kelopak sakura yang berguguran tertiup angin malam dan berlapiskan cahaya rembulan.

 

Mereka berdua berdiri dalam diam selama beberapa saat.

 

 “…Meski hidupku akan singkat, bila aku gugur dengan indah seperti itu, mungkin bukan hal yang buruk. Semua orang pada akhirnya akan…”

 

Ia merengut sedih. “Kenapa anda harus mengatakannya seperti itu?”

 

“Kau yang membawaku kesini. Jangan menyalahkanku mengingatkanmu tentang rapuhnya kehidupan sambil melihat bunga berguguran seperti ini--”

 

Pria itu berhenti berbicara, mengepalkan tangan kelewat erat. Berbalik hendak pergi dari tempat itu.

 

Ia mendekati pria itu, berbicara dengan bibir yang menahan tangis.

 

“Bahkan ketika bunga gugur pun, mereka akan bermekaran kembali. Begitu juga dengan anda, Okita-san.”  

 

Pria itu berhenti dan memandangnya, terkejut.

 

 “Yang perlu dilakukan adalah menumbuhkan yang lain, lebih indah dan kuat. Jadi… Jangan memaksakan dirimu. Fokus saja agar kondisi anda lebih baik agar bisa menjadi lebih kuat untuk berikutnya?

 

Okita tidak menolak ketika ia menggenggam tangannya. Pria itu malah tertawa pelan. Raut wajahnya tak terbaca.

 

“Kamu ini bicara apa…” Ujar Okita, setengah berbisik. “Dasar, keras kepala.”

 

-

 

“Mungkin selama ini aku selalu menanti seseorang untuk mengatakan hal itu padaku.”

 

[ ]

 

 

Terisak kecil, membiarkan tetesan air mata berjatuhan, ia berkata pelan.

 
“Okita-san….?”

 

 

 

Chapter Text


 

Miyakowasure - 都忘れ -  ; Touken Ranbu x Wasurenagusa

 


 

 

Disclaimer :

Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Shinsengumi (Mokuhiroku, Kekkonroku, Hiyokuroku) Wasurenagusa © Rejet

 

 

Warning : AU, Translate drama CD berantakan, Typo, Crossover, OOC, OC (MCWasurenagusa, mention pedang yang belum ada di game)

 



 

 

 

Pria itu berkata bahwa keberadaannya di dunia ini adalah untuk Kondou Isami dan Hijikata Toshizou.

Keberadaan Kashuu Kiyomitsu di dunia ini adalah untuk pria itu, Okita Souji.

Maka pada malam itu, malam bersejarah di bawah terang sinar rembulan yang menyapu kilatan bilah besi dan amis darah, mereka bertarung sekuat tenaga.

Ia sudah siap ketika melihat tebasan dari seorang sonno joui itu mengarah ke pada siapa. Ia tak mempedulikan lawan di hadapannya dan menangkis tebasan itu tepat pada waktunya.

Namun benturan dari bilahnya mengenai sisi yang kurang tepat, ia terhuyung. Ayunan bilah pedang lain datang dan menghantamnya.

Suara getaran besi yang kemudian terpatah.

“Kashuu!”

Giliran Okita yang menebas orang berikutnya, meneriakkan namanya. Namun suara berikutnya yang keluar dari mulut komandan unit satu Shinsengumi itu membuat Kashuu berkeringat dingin.

Ia ingin menyuruh pria itu berhenti, ia ingin bahwa dirinya baik-baik saja. Jangan khawatirkan dirinya, kalau kondisi tubuh Okita sendiri sudah mulai seperti itu…

“Kenapa… Harus disaat seperti ini…!”

Pandangan Kashuu memudar, ia merasa memudar. Tangannya berusaha meraih sosok Okita…

 

.

 

Ia pernah hilang dan kembali.

Ia patah, berkeliaran tanpa arah tanpa tujuan.

Lalu mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Kemudian ia pergi lagi, kembali dalam tidur yang panjang.

Lalu…

 


 

3

Azumagiku

-東菊 (アズマギク)-

 


 

 

 

Ada sesuatu yang janggal.

Sesuatu yang bukan hanya miliknya. Sesuatu yang seharusnya ada pada tuannya yang baru. Sesuatu yang ia bagi dengan Yamatonokami Yasusada.

Memori. Ingatan.

Bagi Kashuu Kiyomitsu, kenangan yang ia bawa bersama dirinya sekarang tak pernah pergi. Sesuatu yang ikut ambil bagian dalam membentuk sebilah pedang Kashuu Kiyomitsu. Sesuatu yang ada bersamanya ketika ia pergi, tak tahu kapan akan kembali atau bisa bertemu lagi dengan orang-orang kesayangannya.

Detik pertama ketika ia membuka mata, Kashuu Kiyomitsu mengira waktu telah terulang kembali. Berbagai hal muncul di dalam kepala ketika Kashuu Kiyomitsu membuka mata. Mengingat semua alur kehidupannya, seperti baru kemarin terjadi.

Menit berikutnya, ia ingin tertawa.

Karena kali ini perempuan itu adalah tuannya yang baru. Dengan senyum lembut yang sama, tak lebih tua dari saat dulu mereka bertemu pertama kali. Matanya yang lembut dan cemerlang. Caranya mengikat rambut, pakaian tradisional yang ia kenakan, semua sama seperti yang ia ingat dulu.

Figur yang bersimpuh sejajar dengan pandangan mata, menatapnya dengan senyum gugup.

Persis, saat pertama kali Kashuu melihatnya dulu. Membuatnya langsung berpikir bahwa semua ini pasti mimpi.

Yang keberapa kali ini? Kedua kalinya? Ketika ia berpikir akan benar-benar pergi dari dunia ini, namun nyatanya ia kembali lagi.

Dia berkata pada perempuan itu, ‘akhirnya kita bertemu lagi’.

Namun dari cara perempuan mengerjapkan mata dan menatapnya bingung, lalu cara berbicaranya saat memperkenalkan tempat baru ini, bagi perempuan itu pertemuan mereka sekarang adalah yang pertama.

Hanya ada mereka berdua, baik dulu dan sekarang. Saat perempuan itu pergi meninggalkan dunia, saat ia kembali menjadi aruji bagi para toudanshi.

Kashuu Kiyomitsu menutup mata, mendengarkan suara perempuan itu kembali menjelaskan dimana letak dojo dan ruang makan, membiarkan angin musim semi menerpa pipinya. Suasana damai dan percakapan normal.

Ah, kata suara dalam pikirannya, perempuan ini lebih banyak tersenyum sekarang.

“Mulai hari ini, mohon bantuannya, Kashuu-san.”

Kashuu Kiyomitsu tersenyum sambil menatap mata perempuan yang berbalik ke arahnya.

“Tentu saja.”

Mungkin lebih baik seperti ini.

.

Atau itulah yang ia pikirkan.

Suasana malam masih sangat sepi di hari-hari awal, ketika hanya ada enam toudanshi dan satu Saniwa. Saat itu ia sering mendapati perempuan itu duduk di teras, termenung sendirian menatap pekarangan kosong.

“Hei, ada apa?”

Perempuan itu menoleh cepat, terdiam sesaat sebelum menangkap pertanyaan Kashuu.

“Ah, selamat malam,” jawab perempuan itu, “aku belum mengantuk, jadi…”

Kashuu menghampiri untuk duduk disampingnya, menerima saja jawaban itu tanpa mempertanyakan bagaimana wajah perempuan itu tampak lelah.

“Kashuu-san sendiri?”

“Sama.” Ujar uchigatana itu, merebahkan di atas lantai kayu dingin.

Dalam diam keduanya memperhatikan langit malam. Cerah, tak ada awan yang menutupi hamparan bintang di atas sana. Kashuu setengah memandangi langit-langit beranda berbahan sama dengan lantai kayu. Pikiran melanglang buana entah kemana.

Gemerisik dedaunan pohon tertiup angin malam mengalihkan perhatian perempuan itu.

“Angin malam mulai kencang… Sebaiknya kita masuk saja.”

“Kalau begitu kenapa kamu memilih duduk di sini dari tadi…”

Perempuan itu hanya tersenyum.

“Langitnya cerah sekali, tak seperti di tempatku berasal,” Saniwa itu mulai menjelaskan, “jadi aku selalu berusaha menikmati pemandangan ini.”

 “Hoo…”

Kashuu Kiyomitsu bertumpu pada kedua sikunya, melirik ke arah perempuan yang kini bergerak dari posisi duduknya. Ia pun menyadari bagaimana mata perempuan itu masih memandangi langit malam.

Apa yang dilihatnya, apa yang ada dipikirannya saat melihat langit itu, Kashuu Kiyomitsu tak tahu.

Biarlah, seperti ini pun tak apa. Kashuu Kiyomitsu berpikir bahwa keadaan yang sekarang lebih baik.

(Lalu kehidupan yang dulu tetap saja mencari cara untuk kembali, untuk diingat, untuk tidak dilupakan.)

 

[ ]

“Kiyomitsu?!”

Yang namanya dipanggil menoleh, berlutut di hadapan lemari. Penampilannya tak serapi biasanya, rambut tergerai berantakan. Bilah pedang yang dibalut kain beserta serpihan ujungnya yang patah kini terhampar di atas lantai.

Yamatonokami Yasusada menghambur ke arahnya, menariku kedua bahu Kashuu dan mengguncang tubuhnya.

“Kamu… Ini benar-benar kamu, Kiyomitsu?”

Yasusada nyaris tersenyum sebelum menyadari tatapan kosong yang diberikan  lawan bicaranya.

“…Kiyomitsu?”

“Okita… Tidak bisa melihatku lagi, kan?”

Yasusada mengendurkan cengkeraman tangannya, membuka mulut untuk mengatakan ‘itu tidak benar’, namun tak dapat mengucapkannya. Pandangan yang diberikan Kashuu masih kosong, seakan menembusnya, seakan Yamatonokami Yasusada tak ada disana.

“Tapi kau masih ada disini.” Kata Yamato gigih. “Kamu… Kamu kembali.”

Kali ini Kashuu Kiyomitsu benar-benar menatapnya.

“…Ya.” Bibir pucat itu berbisik. “Tapi tubuhku tak seperti dulu lagi.”

 ]

 

Ketika suasana tempat barunya ini mulai ramai, datanglah Yamatonokami Yasusada. Mereka bahkan sempat bercakap-cakap cukup lama ketika Yasusada keluar dari ruang penempaan. Sekaligus menunjukkan tempat tinggal barunya, Kashuu juga menanyakan beberapa hal lain.

Segera saja ia tahu ada yang janggal.

“Oh, dan lihat pohon sakura itu.” Kashuu menunjuk kearah pekarangan. “Kalau mekar pemandangannya akan sama seperti di tempat dia dulu.”

Yasusada mengangguk, sebelum terdiam dan mengerutkan kening.

“Dia…?” Ucap Yasusada bingung. “‘Dia’ siapa?”

“Ah, awalnya aku juga tidak mempercayai ini, tapi begitu melihatnya aku langsung tahu--”

Kashuu Kiyomitsu membeku di tempat, teringat akan apa yang pernah dibicarakan Honebami dan Namazuo Toushirou.

“Yasusada, apa kau kehilangan ingatanmu…?”

“Hah? Tidak…!” Jawab Yasusada dengan cepat, sebelum memelintir ujung rambutnya dengan ragu. “Maksudku, tidak semuanya…”

“Jadi kau merasa ada yang hilang?”

“Kurang lebih…”

Yasusada menoleh ke arahnya.

“Tentu saja aku masih mengingat Okita dan dirimu. Apa ada lagi yang harusnya kuingat…?”

Saat yang tepat bagi Maeda dan Hirano untuk melewati taman dan bertemu dengan mereka. Kashuu masih terdiam di tempat dan membiarkan kedua tantou Awataguchi itu menggamit tangan Yasusada dan menariknya pergi ke ruang makan. Dipandanginya ketiga toudanshi itu sampai menghilang.

Kashuu Kiyomitsu ingin tertawa.

Kesempatan kedua yang diberikan kepadanya sekarang ini memang terlalu sempurna. Namun segala hal harus seimbang, mungkin inilah hal yang direbut dari dirinya. Bukankah perasaan keduanya tak pernah berubah? Mengapa mereka tidak mengingatnya?

Mengapa hanya dirinya yang mengingat semua kenangan mereka?

 

 ]

Yasusada pergi berlatih pagi-pagi buta dengan Kijinmaru, salah satu yang dapat melihatnya setelah ia patah. (Melihat ekspresi kaget dari pedang itu sangat memuaskan).

Membuatnya berada di posisi berjalan mengelilingi markas Shinsengumi baru, menikmati suasana pagi yang segar.

Lalu Kashuu mendengar suara Okita berbicara dengan perempuan itu.

Dia tahu siapa perempuan itu, Kashuu sering melihatnya. Dari Yasusada, dari setiap percakapan yang ia dengar, dari interaksi Okita dengan perempuan itu sendiri.

Dan di sana, merunduk di pekarangan, perempuan itu menengadah ke arah Okita yang berdiri memayunginya.

“—Mereka itu burung yang bermigrasi. Mereka akan lupa dengan kita jika kembali musim semi ini. Lagipula, kita bahkan tak tahu kapan akan melihat mereka lagi.

Lagi-lagi, nada bicara seperti itu. Sesuatu yang familiar baginya.

Dulu pun, Okita pernah menggunakan intonasi dingin seperti itu padanya. Dulu sekali.

Namun Kashuu tahu apa yang sebenarnya ada di balik nada bicara itu. Sebuah usaha untuk menjauhkan orang lain, agar tak terlanjur terikat dengan lawan bicaranya. Berusaha menjauhkan perempuan itu dari dirinya.

“Hah,” Kashuu bersandar pada tiang kayu, menggelengkan kepala. “Jahat sekali kamu padanya, Okita.”

Perempuan itu berjalan menjauh, Okita berbalik.

Mata mereka bertemu.

Kashuu menahan napasnya.

Namun pria itu hanya menggumamkan sesuatu dan berbalik menatapi tembok kosong di depannya.

Tentu saja, sakit rasanya. Kashuu sendiri tak tahu mengapa Okita tak bisa melihatnya lagi. Dia masih berusaha mencoba, beberapa kali. Semua selalu berakhir dengan Okita yang hanya berlalu.

Maka Kashuu pun hanya bisa menghela napas dan kembali memasuki ruangan.

Saat itulah Yamatonokami Yasusada melompat dari luar tembok dan mendarat tanpa suara di pekarangan. Okita tak menoleh.

“Sudah selesai latihan?”

Yasusada mengerjapkan mata.

“Iya. Apa yang sedang kamu lakukan disini—Ada apa?”

Okita tak langsung membalas pertanyaan Yasusada.

“Tidak… Rasanya tadi ada orang disana.”

 ]

 

Berdasarkan dari apa yang diceritakan Nikkari Aoe padanya, kejadian yang terjadi hari itu dapat diatasi dengan cepat. Anggota unit yang turun ke lapangan hari itu semuanya kembali dengan selamat.

“Apa Yamato-san baik-baik saja?”

Maka Kashuu hanya melirik singkat sang Saniwa, lalu kembali memoles jari manis kiri tangan perempuan itu dengan warna biru pastel.

“Khawatirkan dirimu sendiri dulu, Aruji.” Kata Kashuu Kiyomitsu. “Dia baik-baik saja kok.”

Perempuan itu masih tampak ragu.

“Hanya saja tadi… Sepertinya dia marah padaku.” Saniwa menghela napas. “Salahku juga, kurang berpengalaman dalam bertarung…”

“Tenang saja, dia tidak akan bisa marah lama-lama padamu.”

“Eh? Maksudnya?”

“Bukan apa-apa.”

“O..Oh, baiklah.” Sang Saniwa terdiam sejenak, menggeser posisi duduknya. “Kashuu-san…”

“Hmm?”

Uchigatana itu sibuk merapikan polesan terakhirnya dan meniup pelan jari sang Saniwa. Kashuu baru menoleh setelah tak ada balasan lagi dari lawan bicaranya. Ia sempat berpikir suara perempuan itu terlalu pelan dan teredam derai hujan yang mulai menguat.

“Tidak, bukan apa-apa.” Perempuan itu menggerakkan jemari kedua tangan. “Ah, cantiknya! Terima kasih banyak, Kashuu-san.” 

“Sama-sama~” Ujar Kashuu, sebelum teringat sesuatu. “Hei, setelah ini kamu tidak ke kebun, kan? Sia-sia hasil karyaku itu nanti.”

Tawa perempuan itu tak pernah gagal membuatnya tersenyum. Sang Saniwa sudah bergerak dari posisi duduknya dan menggeser pintu.

“Tidak kok, aku sudah janji dengan Kasen-san untuk mendengarkan puisinya.”

“Baiklah, ingat untuk menyeretnya ke ruang makan sore nanti.”

“Iya, tenang saja~”

Pintu ditutup dan suara langkah sang Saniwa menjauh.

Tak berapa lama setelah itu, terdengar langkah kaki dengan ritme lain datang dari arah berlawanan. Kashuu tak menoleh saat pintu digeser terbuka dan suara hujan terdengar jelas, ia sibuk membuka botol pemulas kuku berwarna lain.

Kashuu sudah tahu bahwa yang memasuki ruangan adalah Yasusada yang langsung merebahkan diri di atas tatami. Dia diam seperti itu beberapa saat, tak mengucapkan sepatah kata apa pun. Suara hujan mulai teredam lagi.

“Kiyomitsu…?”

“Hm?”

“Apa kau pernah merasa bertemu dengan aruji sebelum saat ini?”

Kashuu memandang Yasusada, berusaha tak membuat suara napasnya tercekat.

Haa? Apa maksudmu?”

“Sudahlah, jawab saja.” Yasusada sudah duduk dan menatap serius ke arahnya. “Apa kau pernah merasa bertemu dengan aruji sebelum tinggal disini?”

Kashuu Kiyomitsu berusaha memfokuskan diri pada polesan kedua di telunjuk kirinya.

“…Tidak tuh.”

Kata-kata tersebut keluar secepat yang ia bisa. Padahal ia ingin Yasusada mengingatnya, bukan? Namun yang Kashuu mau bukan begini. Ia ingin memori itu diingat tanpa bantuannya, ia ingin Yasusada menyadarinya sendiri.

Tapi semakin mereka berbicara, mengertilah Kashuu bahwa Yasusada mengartikan apa yang dirinya rasakan dan apa yang seharusnya diingat menjadi berkebalikan. Yasusada benar-benar tidak mengingat apa-apa tentang perempuan itu.

“Kalau begitu, menyerah saja.” Kashuu menatap Yasusada. Kalau memang ternyata harus seperti ini, maka Kashuu Kiyomitsu tak bisa melakukan apa-apa. “Jangan berusaha mengingatnya.”

“Tidak bisa. Aku harus tahu. Aku harus mengingat….”

Dalam hatinya Kashuu menghela napas lega.

“Kalau ternyata kau berhasil mengingat, apa kau tetap akan merasa tidak suka pada aruji?”

“Aku tidak tahu. Bagaimana denganmu?”

Pertanyaan yang cukup bagus, batin Kashuu dalam hati. Dulu mungkin ia akan menjawab ‘ya’. Sekarang, perempuan itu adalah seseorang yang berharga baginya. Mungkin tak sejauh apa yang dirasakan Okita pada perempuan itu, tapi ia akan melakukan segalanya untuk mereka.

Namun jika ia membalas pertanyaan Yasusada sekarang…

“….”

 

 ]

“Dia bisa melihat kita!”

Kashuu hanya melirik Yasusada yang mengumumkan hal itu dengan kelewat bersemangat, tapi sorot matanya yang menyiratkan bingung dan takut tak dapat ia lewatkan.

“Dia bisa melihat mu.” Ujar Kashuu. “Bukan aku.”

“Jelas-jelas tadi dia melihat ke arahmu dan mengucapkan ‘selamat pagi’ juga.”

Kashuu hanya mendecih dan memalingkan wajah.

Dia mengira jika Okita sekarang lebih mengingat perempuan itu, maka ia akan menghilang. Dia berpikir bahwa mungkin inilah akhirnya.

Tapi dia tidak ingin dilupakan.

Sekali lagi Kashuu mendapati dirinya berdiri sendirian di dalam ruangan itu, memandangi apa yang tersisa dari bilah beserta patahan yang disimpan oleh Okita.

Kashuu nyaris tak mendengarkan bagaimana pintu digeser terbuka, bagaimana perempuan itu tertegun sejenak di ambang pintu.

“Anu, maaf, saya mau membersihkan ruangan ini…”

Butuh beberapa waktu baginya untuk memproses apa yang terjadi dan menerima bahwa perempuan itu memang dapat melihatnya.

“….”

Kashuu memilih untuk tak menjawab. Salah lihat, perempuan itu pasti salah lihat.

Kemudian perempuan itu berkata lagi,

“Maaf, tapi…Apa anda… Um, sama seperti Yasusada-san?”

 ]

 

Kashuu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur, hendak mengambil segelas air. Tak banyak toudanshi yang masih terjaga malam itu.

Angin bertiup kencang dengan ritme tak teratur.

Ia delapan langkah menuju pintu dapur ketika dilihatnya pintu pagar belakang terbuka, dengan cahaya terang tak bergerak di ujungnya.

Napas yang ia miliki dalam tubuh manusianya terasa berhenti sesaat.

“Kiyomitsu-san?”

Dari arahnya datang tadi muncul Maeda, tampak mengantuk dengan rambut acak-acakan. Kashuu menunjuk ke arah pintu pagar yang terbuka. Bahkan mata Maeda pun melebar melihat hal itu.

“Maeda, tolong bangunkan Hasebe.”

Sesuatu terasa tidak benar. Tanpa berpikir panjang Kashuu Kiyomitsu berlari tanpa alas kaki menuju arah cahaya itu. Ia tak tahu mengapa sebuah rasa khawatir mulai merambatinya.

Malam itu tertutup awan, Kashuu hanya berpedoman pada cahaya di depan sana. Kakinya terantuk beberapa kali, namun Kashuu tak menggubrisnya.

Sebuah rumah yang familiar, semakin membuatnya  berkeringat dingin. Ia tak memelankan laju lari hingga sampai di ambang pintu rumah kecil itu. Kenapa bangunan itu ada di tempat terbuka seperti ini, apakah ini jebakan musuh atau semacamnya.

Yang membuatnya semakin takut adalah bagaimana aura yang diberikan dari bangunan itu terasa hangat dan penuh nostalgia.

Pintu rumah kecil itu terbuka saat ia datang. Kashuu harus menghentikan pacu larinya dengan mencengkeram kedua sisi pintu, mengatur napas dan segera mendapati sosok belakang sang Saniwa.

Perempuan itu meringkuk, bahu bergetar menahan isak tangis yang tak dapat dihentikan.

“…Aruji.”

Perempuan itu membalikkan badan dengan cepat, wajah masih berurai air mata. Kedua tangannya di depan dada, tampak mendekap sesuatu yang tak dapat dilihat dari posisi Kashuu.

Uchigatana itu berjalan mendekat, menyamakan tingginya dengna perempuan yang tengah bersimpuh itu. Digenggamnya kedua tangan perempuan itu.

“Ayo kita kembali, disini tidak aman.” Ujar Kashuu datar.

Sang Saniwa masih sesenggukan, berusaha mengangguk.

Ketika mereka keluar, Kashuu menuntun Saniwa dengan lentera yang dibawa perempuan itu tanpa menoleh lagi kebelakangnya, berjalan secepat mungkin kembali ke arah jalan mereka datang yang untungnya masih ada.

Kashuu Kiyomitsu baru bisa menarik napas lega ketika dilihatnya sosok Maeda dan Hasebe di dekat pintu pagar. Ada pula Shishiou dan Hirano ikut berjaga bersama mereka.

Aruji, lain kali tolong bilang kami dulu kalau keluar semalam ini...” Kashuu berusaha mencairkan suasana, masih menepuk-nepuk punggung sang Saniwa.

Mata perempuan itu masih sembab, namun air matanya sudah berhenti. Tangannya yang menggenggam sebuah kushi kanzashi masih di posisi yang sama.

“Kashuu-san…”

“Ya, Aruji?”

Apa yang dikatakan perempuan itu berikutnya sangat pelan, Kashuu nyaris tak mendengarnya.

Aku… Mengingat beberapa hal.

 

 ]

“Kenapa akhir-akhir ini tidak menampakkan diri, Kashuu-san?” Perempuan itu tertawa pelan. “Yamato-san juga jarang kulihat…”

Kashuu tak tega mengatakan padanya, tentang bagaimana  Yasusada sudah pergi lebih dahulu, masuk ke dalam tidur panjang.

Bagaimanapun juga, ia sendiri tak mengerti bagaimana ia diberi kesempatan kedua untuk kembali, namun hal yang sama tak terjadi bagi Yasusada dan Kijinmaru.

Dia mau tak mau berpikir mungkin ini hal terakhir yang bisa ia lakukan untuk Okita.

Tapi ia harus memberitahu perempuan itu tentang kenyataannya.

“Yasusada sudah pergi. Tidak sempat berpamitan dengan kita.” Kata Kashuu lembut.

Perempuan tua itu hanya bisa menghela napas, namun senyumannya tak berkurang.

“Begitukah…” Ujarnya pelan. “Berarti memang sudah waktunya ya…”

Hamparan salju mulai meleleh, memberikan ruang bagi hijaunya kehidupan baru. Suara-suara musim semi mulai terdengar di segala sudut. Orang-orang berlalu lalang di depan rumah kecil mereka.

 “Apa kau juga akan pergi, Kashuu-san?”

Kashuu membenahi letak syal yang ia kenakan –syal buatan perempuan itu. Ia duduk disampingnya, menggenggam tangan perempuan itu dengan sayang.

“Tidak, tidak. Aku akan menemanimu sampai akhir.”

(Baru setelah itu aku akan menyusul.)

“Terima kasih, Kashuu-san.”

Tangannya sudah berubah, berkeriput dan kasar, tak seperti saat dia muda dulu. Suaranya serak bukan hanya karena udara dingin namun karena umur. Pengelihatannya mulai buram, jalannya sangat pelan. Kanzashi yang selalu ia pakai kini menghiasi rambutnya yang memutih.

Perempuan itu sudah tak semuda dulu, namun senyum yang selalu terukir di wajahnya itu tak pernah berubah.

“Aku sangat senang mengenal kalian berdua,” lanjut perempuan itu, “meski waktu yang diberikan singkat sekali… Aku benar-benar bersyukur….”

 ]

 

Cahaya lampion yang berbaris rapi menuju jembatan di tengah malam berkabut. Letak bangunan yang sudah diatur sedemikian rupa per-blok serta jalanan tanah berdebu untuk dilewati banyak orang.

Kashuu tak pernah melihatnya dari posisi di atas atap seperti ini.

“Menurut perkiraan, mereka akan berusaha menahan unit Hijikata Toshizo di jembatan Sanjou, demi menggagalkan serangan Shinsengumi di Ikedaya.”

Saniwa mereka dan Konnosuke memberikan arahan singkat, bagaimana mereka harus berpencar dalam area yang ditentukan agar jika terjadi sesuatu mereka dapat saling membantu di titik yang mengalami masalah berat.

Dengan area penuh gedung dan suasana malam seperti ini, hanya ada Kashuu dan Yasusada sebagai uchigatana dapat membantu jika mereka berhasil menggiring musuh ke area yang lebih luas. Atsu, Maeda dan Hirano Toushirou, lalu Aizen Kunitoshi, sebagai para tantou yang akan menghadapi musuh di area yang sempit untuk bertarung.

Kashuu hanya memandangi bahu perempuan itu dari belakang. Mereka tak mendapat kesempatan berbicara lebih banyak sejak kejadian malam kemarin. Tiba-tiba sang Saniwa berkata mereka mendapat misi di daerah tempat kejadian Ikedaya ini.

Tak apalah, pikir Kashuu. Setelah misi ini selesai, ia akan membicarakannya.

Uchigatana itu menghirup angin malam kota, menghembuskannya tanpa suara.

“Yasusada, siap?”

Yang dipanggil menoleh ke arah Kashuu. Uchigatana yang mengenakan syal merah itu menatap balik, menunggu jawaban, karena ia menyadari bagaimana Yasusada juga menatapi pemandangan di bawah mereka.

“Ya.”

Kashuu dan Yasusada mengambil jalur yang berbeda, berhati-hati agar tak terlihat oleh penduduk yang mungkin masih beraktivitas di tengah malam. Yasusada bergerak dengan Saniwa mereka, menyeberang menuju ke ujung lain jembatan Sanjou. Maeda dan Hirano yang sudah berpengalaman di posisikan beberapa bangunan dari sisi jembatan tempat masukan musuh akan datang.

Sama seperti operasi sebelumnya, mereka mengekspektasikan sebanyak 6 sampai 12 musuh.

Semua berjalan lancar, Kashuu membantu menghabisi siapa pun yang tak sempat dicegat oleh Atsu Toushirou. Beberapa cahaya lilin di dalam rumah mulai dinyalakan, membuat keduanya segera berpindah tempat dengan cepat dan tanpa suara.

“Disebelah sini sudah selesai, apa kita bergabung dengan yang lain sekarang?” Atsu menoleh kebelakang mereka, memelankan laju larinya.

Siluet Aizen yang meloncat di atas atap di belakang mereka menarik perhatian Kashuu.

“Sepertinya sebentar lagi mereka selesai… Atsu, aku pergi duluan ke tempat Yasusada dan Aruji, tunggulah yang lain sebelum bergabung dengan kami.”

“Baiklah!”

Langkahnya berlari di atas kayu jembatan, berdentum cepat hingga ia menjejak tanah lagi. Kashuu berhenti untuk mengatur napas, mengerutkan kening melihat kekosongan malam Kyoto.

Terlalu sepi.

Baru ia berpikir seperti itu, telinganya menangkap dentang besi bertemu besi, tertutup di area bangunan di dekat jembatan.

Kashuu berlari lagi, berusaha mencari sosok Yasusada dan sang Saniwa. Hampir saja ia melewati mereka, kalau tidak melihat sekilas dari arah jalan kecil antar rumah di sebelah kirinya. Di sisi lain blok jalan, perempuan itu bertumpu pada satu lutut, memandang ke arah sesuatu yang tak dapat ia lihat.

Kashuu berlari melewati jalan kecil itu, nyaris menjatuhkan beberapa kotak kayu yang ditumpuk. Sesuatu tidak beres, dimana Yasusada—

Aruji?!

Ia baru berhenti tepat di samping perempuan yang nyaris ambruk itu, mencengkeram kedua bahunya agar tidak menghantam tanah. Badan perempuan itu bergetar, matanya yang mulai berair tak menoleh ke arah Kashuu, masih terpaku pada pemandangan di depannya.

Aruji, ada ap—“

Kashuu Kiyomitsu membeku di tempat.

Ia melihat Yasusada, bilah pedangnya menahan serangan sosok musuh. Namun, sama seperti Saniwa mereka, Yasusada tampak bersusah payah untuk tidak membeku di tempat. Gerak-gerik tubuhnya tak menunjukkan usaha untuk membalas serangan dan hanya menerima setiap tebasan yang datang.

Kashuu tahu penyebabnya.

Karena musuh itu, satu orang musuh dengan asap gelap yang mengelilinginya. Kulit dan daging rontok menampakkan tulang-tulang yang masih merekat, ditambah sepasang tanduk seperti gading yang mencuat dari tulang tengkoraknya. Tulang belulang yang mencuat tajam dari balik punggungnya seperti ekor raksasa.

Karena musuh yang menyerang uchigatana itu menggunakan teknik yang hanya dilatih oleh Kashuu dan Yasusada. Sebuah ayunan pedang yang sangat familiar bagi mereka.

Karena iris emas yang mereka kenal di dalam rongga mata itu menatap kosong ke arah Yasusada, lalu tiba-tiba teralihkan pada Kashuu.

 

.

 

Karena musuh di depan mereka itu adalah Okita Souji.

 

 

 

#

 

Okita menoleh ke arah perempuan yang berjalan disampingnya, tersenyum kecil dan nyaris tertawa melihat apa yang dipegang oleh gadis itu.

“Ah… Itu, kincir angin yang dulu kuberikan padamu? Kamu masih menyimpannya?” Pria itu menggelengkan kepala, heran. “Kenapa kau tidak buang saja?”

Perempuan itu menggelengkan kepala, mendekap erat kertas origami lusuh yang disatukan dengan sebuah tangkai kayu tipis.

“Kalau begitu, buatkan aku yang baru, Okita-san.”

“Kau ingin aku buatkan satu lagi?” Okita bergumam.

“Atau kita bisa membuat yang baru, lalu membawa masing-masing satu.” Perempuan itu masih tersenyum bahagia.

Keduanya berjalan berdampingan, di bawah naungan pepohonan sakura yang belum mekar.

“Kamu akan menganggapnya sebagai hadiah dariku?”

“Tentu saja!”

“Hmm, begitukah…”

Perempuan itu memandangnya penuh tanya.

“Ah, aku hanya berpikir untuk memberikanmu sesuatu yang berbeda, lain kali,” Okita mengatakannya dengan nadanya yang biasa, seakan tanpa beban. “Tapi kalau dengan benda seperti saja kamu sudah senang, tidak jadi.”

“Eh, eh?” Perempuan itu berhenti berjalan. “Hadiah lain seperti apa?”

Pria itu menghela napas, seolah-olah berpikir keras.

“Baiklah… Ada dua pilihan. Aku tak bisa memilih, jadi kubiarkan kamu yang memilih.”

Perempuan itu menunggu. Okita memelankan langkah dan berbalik ke arahnya.

“Meski sudah agak terlambat, yang pertama adalah sebuah kanzashi.”

.

Okita tersenyum lembut.

.

“Lalu yang kedua--”

 

 

 

Chapter Text

 


 

Miyakowasure - 都忘れ -  ; Touken Ranbu x Wasurenagusa

 


 

 

Disclaimer :

Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Shinsengumi (Mokuhiroku, Kekkonroku, Hiyokuroku) Wasurenagusa © Rejet

 

Warning : AU, Translate drama CD berantakan, Typo, Crossover, OOC, OCs (MCWasurenagusa, mention pedang yang belum ada di game)

 



 

 

 

Ia selalu bermimpi, setelah bertarung dan berjuang bersama para rekannya, untuk kemudian hidup dengan tenang—

(--terbang ke langit biru itu, mengatakan perasaannya yang sebenarnya kepadamu.)

 

 


 

4

Gymnaster savatieri

 


 

 

-Bunkyuu 3-

Saat itu, mereka baru saja tiba di Kyoto.

Okita Souji awalnya selalu merasa aneh, merasakan seseorang mengikutinya, namun ketika ia menoleh, tak ada siapa pun disana. Awalnya ia kira seseorang yang berniat menantang duel atau lebih parah lagi musuh, namun bukan aura itu yang ia rasakan dari orang yang mengikutinya.

Pemuda itu menghela napas, menghentikan ayunan tongkat kayunya, menyudahi pikirannya yang masih merasakan keberadaan seseorang yang selalu mengikutinya.

Sejak kapan semua ini dimulai?

(‘Mungkin karena kita baru pindah, suasana jadi berbeda dan kau jadi waspada, Souji’, kata Kondou sambil tertawa, sebelum pergi untuk mencari pedang Kotetsu seperti yang ia inginkan.)

Okita mengernyit. Ia merasakannya jauh sebelum mereka pergi dari Edo, saat ia membeli pedang itu—

Tak ada orang lain di halaman saat itu, latihan pagi para anggota baru sudah berlalu, Okita lanjut berlatih sendirian. Sannan-san sedang beristirahat dan Kondou-san sedang pergi.

Tapi di sanalah dia, anak berpakaian sederhana itu. Duduk di samping uchigatana  yang ia sandarkan di pohon, menatapinya dengan penuh minat.

Okita balas menatapnya, tanpa emosi apa pun. Kalau dia diharapkan untuk menghabisi penyelundup ini dengan pedang kayu, ia bisa melakukannya. Tapi anak ini memberikan sebuah rasa ragu.

 “… Apa yang kamu lakukan disini.” Okita menambahkan lagi. “Siapa kamu?”

Anak itu menghela napas (persis seperti dirinya) sebelum menunjuk ke arah uchigatana di sampingnya.

“Tentu saja aku ada di sini karena kau membawaku, Okita-san.”

Okita masih menatapi anak itu, tak mengerti.

“….Haa?

 

[ ]

 

Sangat, sangat aneh. Anak yang mengaku dirinya adalah personifikasi dari uchigatana miliknya…

Okita melihat penampilan Kashuu yang lebih muda dan selalu memanggilnya ‘anak kecil’ (terkadang membuat Kashuu kesal). Harus Okita akui, mereka banyak mengobrol dan berlatih di dojo sekarang. Menurut anak itu sendiri, pengalamannya hidup dalam rupa seperti itu belum banyak, maka penampilannya pun masih tampak muda.

(Seperti manusia.)

“Saitou-kun.”

Sang kapten unit ketiga Shinsengumi hanya melirik ke arahnya sebelum kembali berjalan dengan cahaya lentera menerangi patroli mereka. Pria itu memang tak banyak berbicara jika sedang bertugas.

“Ya?”

Tak ada yang mencurigakan di daerah perumahan ini. Okita melanjutkan pertanyaannya.

“Apa pedangmu punya wujud manusia?”

Okita bertanya sembari melirik ke arah Kashuu yang mengikuti mereka, berjalan beberapa kaki darinya.

Biasanya tipe orang seperti Saitou Hajime akan memandangnya seakan dia minum sake terlalu banyak. Keduanya sering menjadi rekan latihan satu sama lain, namun bagi Okita hanya orang seperti Kondou-san saja yang akan langsung mengaggapnya serius.

(Terutama sejak Hijikata mengajaknya minum sake lalu dia mabuk, dengan pedang di tangan, dan Saitou berhasil menghentikannya, mungkin sejak saat itu respek mereka masing-masing semakin tinggi.)

“Kijinmaru? Iya.”

Maka ketika Saitou dengan santai menjawab seperti itu, giliran Okita yang terdiam.

“…Kamu tahu aku bertanya serius kan.”

Mereka bergerak ke arah jalan menuju kuil, terpencil dan sepi. Saitou memindahkan tangkai lentera dari tangan kiri ke kanan.

“Saya tahu.” Jawabnya setelah terdiam cukup lama. “Justru karena Okita-kun yang bertanya, saya langsung tahu maksudmu.”

Kashuu masih berjalan di belakang mereka, kini tampak mengernyit ke arah udara kosong di sebelah kanan.

“Ah, tapi aku tak bisa melihat Kijinmaru-mu.”

 “Saya juga tidak bisa melihat Kashuu.” Saitou bahkan tak menoleh. “Tapi tentu saja, hanya beberapa orang yang bisa melihat mereka.”

“He… Begitu ya.” Gumam Okita. “Apa yang lain juga punya ya.”

“Mungkin saja.”

Hawa dingin semakin menusuk, mereka semakin mendekati area kuil, tujuan patroli terakhir mereka.

Saitou menggenggam pangkal pedangnya dengan tenang. Okita sudah mulai biasa melihat pedang itu tersampir di sisi kanan tubuh Saitou, bukan di kiri seperti kebanyakan orang lain.

Dengan hati-hati pula ia menangkap dan menyingkirkan lentera yang dilempar Saitou agar tidak mengganggu pertarungan mereka berdua dengan segerombolan orang yang melompat keluar dari semak-semak di kiri-kanan mereka.

“Wah, sudah berapa lama mereka menunggu gelap-gelap begini?” Komentar Kashuu, entah kepada Okita atau pada Kijinmaru.

“Hal seperti itu, tidak perlu dipikirkan.” Sang kapten unit satu itu segera menghunuskan uchigatana di pinggangnya, menangkis bilah yang datang dari sisi kirinya dan mengembalikan serangan tak sampai hitungan detik.

Okita Souji merasa luar biasa tenang dalam keadaan ini. Mungkin karena ia berdua dengan Saitou yang bisa ia percaya. Mungkin karena ia tahu para penyerang mereka hanya para roushi yang merasa keberadaan Shinsengumi menyusahkan, orang-orang yang tak perlu mereka bunuh, hanya perlu ditangkap untuk interogasi.

Mungkin karena ia tahu ada seorang lagi yang menjaga sisi belakangnya.

Bagaimana Kashuu Kiyomitsu menangkis serangan yang ditujukan ke punggungnya (Tennen Rishin Ryuu, sama seperti yang Okita pelajari) membuat Okita bertanya-tanya apa yang dilihat oleh para penyerang mereka. Dua anggota Shinsengumi, atau mungkin empat orang?

Okita teringat ketika ia membeli uchigatana itu. Sulit digunakan, atau sesuatu seperti itu. Ia sendiri tak peduli, selama ia masih mampu memegangnya dengan satu tangan dan dapat menebas, Okita akan memakainya. Katakanlah ia terdengar sangat dingin jika berpikir seperti itu, namun ia tak peduli.

Itulah yang awalnya ia pikirkan.

“Hei, ingat, harus tangkap mereka hidup-hidup.” Kali ini Kashuu mengatakannya dengan keras dan jelas ke arah Okita.

Musuh terakhir datang mengayunkan pedang dari atas. Dari posisi hendak menangkis, Okita segera menghadapkan pangkal pedangnya dan menghantam dagu orang itu. Teriakan dan bunyi dentum bertemu tanah menyudahi usaha penyerangan malam itu.

 Okita memperhatikan bilah pedang di tangannya.

(Sulit untuk dipakai?)

“Kashuu.”

Yang dipanggil menoleh ke arah Okita.

“Kerja bagus.”

Untuk sesaat, uchigatana itu terdiam sebelum tertawa lebar.

 

[ ]

 

Kira-kira setahun setelah itu, sebuah uchigatana lain masuk dalam kehidupannya.

“Kurasa pedang ini lebih cocok untukmu.”

Kuwajirou mengatakan seperti itu setelah menyerahkan Yamatonokami Yasusada kepadanya. Tak ada nada seakan merendahkan diri, melainkan seperti sebuah pengakuan bahwa pria itu tidak meragukan kemampuan Okita untuk mengeluarkan kekuatan sebenarnya dari uchigatana itu.

“Ooishi-san, saya masih punya dia.” Okita memberikan gestur pada uchigatana dengan saya merah gelap yang tersampir di pinggangnya.

“Punya dua itu juga wajar kan.”

“Seperti Hijikata-san maksudmu?”

“Iya.”

Setelah berbagai perdebatan pun akhirnya Okita bersikeras untuk membayar sebelum menerima uchigatana itu.

Kashuu yang sedari tadi diam di sampingnya kini ikut duduk di beranda, memandangi bilah pedang yang dengan hati-hati Okita keluarkan dari saya yang gelap mengkilat.

“Hoo…” Gumam Kashuu.

“Hm?”

“Dia punya ukiran Tanahashi di nakago-nya.”

Okita sebagai manusia tak mengerti bagaimana Kashuu bisa melihat bagian nakago yang jelas tertutup, namun sebelum ia bisa menanyakan hal itu, Kashuu tidak lagi memperhatikan bilah uchigatana di tangannya. Kashuu menjulurkan kepala dan menyeringai ramah ke sebelah kiri Okita.

“Salam kenal, Yasusada.”

 

[ ]

 

“Jangan memandangku seperti itu, kalian berdua.”

Kashuu balas menatap Okita dan seluruh otot wajahnya seakan semakin mengerut. Yasusada sudah siap berlari keluar ruangan untuk memanggil Nagasone atau Kondou.

Udara di dalam ruangannya hangat, namun tangannya sedingin angin malam di luar sana. Tangannya itu sudah bersiap untuk menahan batuk kering yang akan datang lagi dan lagi.

“Harusnya kau bilang pada Sannan-san atau Kondou-san.” Desis Kashuu.

“Batuk darah seperti ini bukan sesuatu yang harus mereka khawatirkan.” Okita berdecak. “Aku masih bisa bertarung.”

“Orang ini—“

“Okita-kun, Kiyomitsu benar. Jika sudah batuk darah seperti itu berarti ada suatu penyakit dalam tubuhmu kan?” Akhirnya Yasusada bersuara.

“Aku tidak apa-apa.” Okita menggerit gigi, bersikeras.

Kashuu menghela napas yang sengaja dipanjangkan.

“Kamu mau jadi seperti Harada, tak peduli pada tubuhmu sendiri?”

“…Kenapa kau tiba-tiba mengungkit dia--”

Kashuu memijit keningnya. Entah sengaja atau tidak, Okita selalu berusaha meredam suara batuknya agar tak terdengar hingga ruang sebelah.

“…Aku akan ambil air untukmu.”

Kashuu pun berdiri dan meninggalkan ruangan. Yasusada memainkan ujung lengan bajunya, menundukkan kepala.

“Jangan keras kepala begitu. Kami hanya khawatir dengan keadaanmu.” Yasusada kembali melanjutkan, sebelum Okita sempat membantah lagi. “Aku tahu kau tak ingin Kondou-san khawatir, tapi apa bedanya dengan apa yang aku dan Kiyomitsu rasakan? “

Aku tak butuh bantuan’ nyaris keluar dari mulutnya, namun Okita mengerti apa yang dirasakan Yasusada. Okita sendiri siap mati kapan saja demi Kondou dan para anggota Shinsengumi yang lain, tapi Kashuu dan Yamato sendiri tak ingin ia pergi seperti itu.

Kapten unit satu Shinsengumi itu tak mengganggap keduanya sebagai seseorang yang dapat diperintah seenaknya, ia sudah menganggap keduanya sebagai rekan kerja. Ia hanya kesal karena kondisi kesehatannya yang menurun. Ia kesal membuat keduanya khawatir. Ia kesal Kondou-san yang memerlukannya malah menyuruhnya beristirahat.

Okita menghela napas, berusaha meredakan emosinya. Kashuu sudah marah padanya, Yamato bisa ikut memarahinya kapan saja.

“Baiklah,” akhirnya ia berkata pada Yasusada, “aku akan istirahat. Tapi aku akan ikut penyerangan tiga hari lagi. Harus ada yang memimpin unit satu.”

Yamatonokami Yasusada menghela napas. Setengah lega, setengah jengkel. Itu adalah kompromi paling akhir yang tak bisa ditawar lagi oleh Okita.

 

[ ]

 

-Genji 1-

Lenyap. Hari itu Kashuu Kiyomitsu menghilang.

Ia benci bagaimana bilah pedang yang ada di tangannya itu berderak mengerikan, bagaimana ujung besi di tangannya dan di tangan Kashuu patah bersamaan.

Bagaimana tubuhnya hanya bisa merespon dengan rasa sakit mendadak dan segalanya menjadi gelap setelah itu.

(Ia kehilangan kekuatannya.)

Kematian raga atau kematian jiwanya, Okita tak tahu yang mana akan datang lebih cepat. Ia berharap raganya yang akan mati terlebih dahulu.

 

###

 

Disaat itulah, perempuan itu datang.

 Lebih parahnya lagi, Kondou menugaskan perempuan itu untuk mengawasi dan merawatnya.

Ia mengerti kenapa Kondou membuat keputusan tersebut dan di saat yang bersamaan ia tidak ingin menerima semua kenyataan ini.

Sejauh ini kah ia harus terjatuh?

Tak terhitung berapa kali Okita berkata pada perempuan itu untuk tidak mencampuri urusannya, bahwa dia menganggunya.

(Berapa kali ia membuat air mata menetes dari mata perempuan itu.)

Okita ingin sekali pergi ke ruangan Kondou-san dan berteriak di depan pria itu.

Sama seperti kedua uchigatana-nya dulu, perempuan ini selalu berwajah pucat setiap berusaha memaksanya beristirahat. Mengesalkan.

Dari cara Yasusada memandangnya pun ia tahu semua perlakuannya pada perempuan itu sudah kelewat batas. Tak terhitung berapa kali usahanya dengan kasar menakuti dan berkata akan membunuh perempuan itu jika ia melakukan satu kesalahan saja. 

Perempuan itu tak pernah pergi. Dengan air mata tertahan dan bibir yang bergetar, perempuan itu berkata;

Jika anda sebegitunya ingin membunuh saya… Tolong lakukan setelah anda sembuh total.”

Kata-kata itu terngiang di dalam kepala Okita.

Mungkin perempuan itu ingin menunjukkan ia tak takut pada semua perkataannya dengan cara itu; selalu tersenyum, mendengar semua kata-kata tak enak dan malah diam di sisinya.

Seberapa pun ia ingin perempuan itu pergi, seberapa jahat dirinya pada perempuan itu…

Kenapa ia tidak pergi juga?

 “Kau tahu dia hanya khawatir kan, Okita-kun…” Ujar Yasusada saat Okita memaksakan diri untuk berlatih di dalam dojo.

Begitu juga denganku’, tersirat dari nada Yasusada yang menggantung.

Sejak perempuan itu bisa melihat Yasusada, terkadang Okita sering melihat keduanya berbincang-bincang. Entah di dapur, entah saat menyiapkan air mandi atau mengeringkan pakaian.

 “…..”

Okita ingin berkata ‘aku tahu’, namun tak bisa ia katakan. Ia tahu semua orang khawatir, tapi ia benci itu.

(“Karena kau gagal membantu Kondou-san dan Hijikata-san? Karena kau takut menyusahkan orang lain dan ditinggalkan oleh mereka?” Suara Kashuu saat percakapan mereka berdua dulu bergaung di dalam ingatannya.)

 “Beri dia kesempatan, jangan keras kepala!” Yasusada menangkis serangan Okita, lalu mundur selangkah. ”Aku berkata seperti ini karena aku tahu bukan fisikmu saja yang butuh istirahat! Kiyomitsu juga--”

Okita mengayunkan pedang kayu dengan tenaga yang lebih dari seharusnya dan membuat Yasusada berteriak kaget.

“Apa maksudmu, Yamato?”

Yamatonokami Yasusada mendadak terdiam.

 

###

 

Lambat laun Okita mulai mengikuti apa yang dikatakan Yasusada. Beri kesempatan, membuka hatinya. Okita mulai mendengarkan perempuan itu. Meski ia masih sering menggerutu, Okita mengingatkan diri untuk memberi kesempatan.

(Sebuah langkah tepat? Sebuah kesalahan?)

“Kamu orang yang sangat aneh.” Okita mengatakan itu langsung kepada yang dimaksud.

Perempuan itu hanya tertawa.

Percakapan mereka mulai terasa lebih normal. Okita bahkan mengajaknya keluar ke festival dekat markas Shinsengumi. Ia menyadari bagaimana perempuan itu selalu menoleh keluar mendengar suara-suara musik dan keramaian pasar malam.

Mereka berjalan menyusuri sungai, ketika kembang api mulai bermunculan di langit malam.

Tak sengaja pula apa yang ia pikirkan meluncur keluar dari mulutnya.

Jika masa hidupnya memang ditakdirkan singkat, Okita Souji ingin lebih berguna bagi Kondou dan Hijikata, bukan menjadi lemah seperti ini.

 “Aku lebih suka menjadi kembang api yang bersinar paling terang dari semuanya selama sesaat, lalu menghilang tanpa jejak. Hidup yang seperti itu tampak lebih baik daripada yang kau kira.”

Okita masih tak mengerti mengapa perempuan itu menggenggam tangannya sangat erat saat itu, namun ia tak melepaskannya.

 

[ ]

 

-Keiou 1-

Setahun ia lalui, Okita merasa kembali normal—atau lebih tepatnya, perlahan fisiknya mulai membiasakan diri dengan keadaan yang sekarang.

Tapi Okita Souji tak bisa menyalahkan fisiknya karena sesaat itu ia bimbang.

Ragu untuk menggerakkan tangannya, untuk menebas kepala Yamanami Keisuke. Sannan tersenyum dan memilihnya menjadi kaishakunin agar rasa sakit setelah bilah bertemu perut tak terasa. Itulah tugas Okita, itulah yang seharusnya ia lakukan. Ia tahu hal seperti ini bisa terjadi dan ia sudah mempersiapkan diri.

Yasusada tak mengatakan apa pun, tak tahu harus mengatakan apa. Uchigatana itu hanya bisa menatapnya—seakan ingin menenangkan, namun gagal. Akhirnya Yasusada memalingkan wajah, menoleh ke arah pojok halaman yang hampa. Mulut membisikkan sesuatu kepada seseorang, namun Okita tak memperhatikan. Pikirannya penuh dengan hal lain.

Kesalahan terfatal, ia mengecewakan Sannan-san, ia mengecewakan Kondou dan Hijikata. Ia membuat Yasusada melakukan ini. Seharusnya Okita dapat melakukannya dengan mudah, tanpa emosi, tanpa merasa bersalah—

Segalanya terasa kabur, siang telah berganti malam.

Kedua kakinya membawa Okita ke depan pintu kamar perempuan itu.

Okita melihat bagaimana perempuan itu terkejut sesaat. Ia menyadari bagaimana perempuan itu tak berkomentar selama berbagai kata-kata Okita keluarkan dari mulutnya.

Tak berlari dari Okita setelah semua kemarahan ia keluarkan. Mengapa perempuan itu tidak melawannya, mengapa mata perempuan itu menatapnya penuh simpati?

Seakan tahu Okita tak mengetahui apa yang harus ia lakukan setelah ini, setelah dengan egoisnya, ia tumpahkan semua rasa frustasi kepada perempuan itu.

 (Perempuan yang aneh, perempuan yang penuh belas kasih)

Okita berhenti, keluar dari ruangan setelah mengucapkan selamat malam.

Ia ingin berkata pada Yasusada, apa gunanya semua ini setelah ia hancurkan dengan perbuatannya yang tak pernah berubah.

 “Dengan begini, seharusnya kau akan segera muak padaku…”

 

[ ]

 

“Terkadang, aku berpikir apa sebaiknya kita ikat dia di pohon sampai dia mau mendengarkan perkataan kita.”

“Tak akan berhasil, kau tahu kepalanya keras seperti batu.”

“Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?”

“Tidak ada.”

Yasusada menghela napas. Kashuu Kiyomitsu tak berkata apa-apa lagi.

 

[ ]

 

Perempuan itu dan Okita berdiri dalam diam selama beberapa saat.

Ia ingin segera angkat kaki dari tempat itu, kemana pun, tanpa perempuan itu.

Ia yang membuat perempuan itu menangis di tengah kelopak-kelopak sakura yang berguguran. Selama ia berada di sisi perempuan itu, Okita akan menghancurkan segalanya. Sudah banyak luka yang ia tinggalkan di dalam hati perempuan itu.

Batuknya kembali kambuh. Tubuhnya kembali melemah. Okita yang paling tahu.

Itu sebabnya ia semakin menjauhkan diri.

Okita Souji tahu, jika bersama perempuan itu, ia akan semakin menyakitinya.

(Perempuan itu layak menerima yang lebih baik daripada dirinya.)

Okita mundur perlahan.

“Bahkan ketika bunga gugur pun, mereka akan bermekaran kembali. Begitu juga dengan anda, Okita-san.”

Perempuan itu maju selangkah.

“Yang perlu dilakukan adalah menumbuhkan yang lain, lebih indah dan kuat. Jadi… Jangan memaksakan dirimu. Fokus saja agar kondisi anda lebih baik agar bisa menjadi lebih kuat untuk berikutnya?”

Okita menahan napas, ia tak tahu sejak kapan. Ia juga tak menyadari mengapa ia merasa lega.

Kenapa perempuan itu sangat yakin ia dapat berubah, kenapa perempuan ini percaya ketika ia tak mempercayai dirinya sendiri, seketika Okita mengerti semuanya.

“Kamu ini bicara apa…” Ujar Okita, setengah berbisik. Ia menyerah, ia tak dapat mengelak.  “Dasar, keras kepala.”

(Perasaan yang dimiliki perempuan itu padanya.)

“Mungkin selama ini aku selalu menanti seseorang untuk mengatakan hal itu padaku.”

(Sebuah kata yang tak bisa ia ucapkan.)

 

[ ]

 

-????-

 

Pada akhirnya ia tak ingin pergi, namun tubuhnya tak punya pilihan.

Penyakit itu tak punya mata, penyakit itu asal memilih siapa saja yang ada.

 

 

Ia masih sempat membuat permohonan terakhirnya pada Yasusada, beberapa waktu sebelum maut menjemput.

Ia tak takut akan kematian.

Ia hanya menyesal bagaimana ia harus pergi meninggalkan mereka semua, orang-orang yang ia kasihi.

Bagaimana pada akhirnya ia meninggalkan perempuan itu dan tak dapat membahagiakannya.

Penyesalan selalu datang terlambat. Ia hanya bisa berdoa demi kebahagiaan orang itu…

 

 

Saat ia melihat cahaya itu, ia mengingat sebuah senyuman. Perempuan itu, ya. Meski ia mengatakan sesuatu yang tak enak didengar pun, perempuan itu selalu tersenyum.

(Ah, aku ingin bertemu dengannya.)

 

 

Ia mendengar suara.

Ugokaneba – Yami ni hedatsuya – Hana to mizu.”   Suara itu terdengar hampa, tak bernyawa. “Jika bunga di atas air tak bergerak, maka mereka akan terpisahkan oleh kegelapan.

Rangkaian kata yang familiar. Puisi terakhir sebelum ia pergi.

“Kegelapan yang akan memisahkan kalian, bukan?”

Benar. Kematian memisahkan mereka. Kondou-san. Hijikata-san. Sannan-san. Kashuu. Yasusada.

Lalu, perempuan itu…

“Tidakkah kau ingin bertemu dengan mereka?”

Sebuah cahaya muncul di area pengelihatannya. Apa yang ia rasakan sebagai 'tangan', berusaha menggapai titik terang itu.

Ia menjanjikan sesuatu kepada orang itu….

 

 [ ]

 

 

 

 

 

-2205-

“Jika aku harus mati, aku ingin mati di bawah bulan seindah itu.”

 

Perempuan itu segera menggelengkan kepalanya. Ia sedang berada di tengah sebuah misi. Fokuskan diri, kesampingkan sejenak kelebat berbagai memori dalam kepala, pikirnya.

Baru kemarin ia mendapatkan gambaran apa yang terjadi dulu, namun kini ia sudah menghadapi masalah lain. Adanya laporan pergerakan aneh waktu kejadian di Ikedaya.

Fokuskan diri dengan apa yang harus ia hadapi sekarang, sang saniwa membatin pada dirinya sendiri.

“Yamato-san, sebaiknya kita bersembunyi di dekat bangunan itu.”

Perempuan itu menunjuk bangunan rumah  yang paling dekat dengan sisi lain jembatan. Yamatonokami Yasusada mengangguk, bergerak cepat di sampingnya.

Berlutut dan mengintip dari balik tembok kayu, Yasusada memeriksa kembali ke arah mereka datang tadi. Tugasnya dengan sang saniwa disini adalah sebagai barisan paling akhir, jika ada musuh yang berhasil lolos dari serangan para tantou. Jaraknya dengan posisi Kashuu dan Atsu terpisahkan oleh jembatan ini, namun dari gelapnya malam Yasusada tak dapat melihat gerak-gerik siapa pun.

Hampir 15 menit mereka duduk di balik salah satu rumah kayu itu.

Yasusada memperhatikan ujung jembatan dalam diam. Sang saniwa juga tak berusaha mengungkit topik apa pun. Jelas ini saat yang tidak tepat untuk membicarakan masa lalu yang baru ia ingat.

Bagaimana sikap Yasusada kepadanya karena mereka berdua sama-sama tak mengingat apa pun, sang saniwa mengerti. Namun Kashuu yang tak mengucapkan apa pun saat membawanya pulang dari rumah kecil yang muncul entah dari mana itu, membuatnya bertanya-tanya.

Tak ada tanda-tanda musuh yang melewati jembatan. Jalan besar di belakang mereka juga kosong. Tak ada seorang pun yang keluar malam itu.

“Sudah hampir setengah jam.” Sang saniwa memelankan suara. “Berdasarkan laporan, ada pergerakan janggal di tahun ini, tapi tak ada yang aneh.”

“Sebentar lagi harusnya selesai.” Gumam Yasusada. Menyadari bagaimana perempuan itu menarik napas lega, Yasusada memeriksa untuk terakhir kalinya ke arah jembatan. Apa yang mereka takutkan menjadi masalah besar, tampaknya tak akan terjadi…

Ah, dia terlalu cepat berpikiran seperti itu.

Aura dingin menusuk yang datang tiba-tiba dari belakang mereka membuat Yasusada reflek menyentuh pangkal pedangnya. Sang saniwa yang menangkap gerakan itu ikut menoleh ke belakang mereka.

“Bukan dari seberang sana saja, ternyata?” Gumam Yasusada. “Aruji, tolong mundur--”

 Kelebat hitam besar melompat dari atas. Desing bilah besi diayunkan Yasusada. Perempuna itu melompat mundur di belakang Yasusada, bilah pedanganya sendiri sudah bersiap di tangan. Keduanya menahan napas ketika memandangi dengan jelas sosok yang menyerang mereka.

Wajah. Keduanya membeku ketika melihat wajah itu. Mereka mengenalinya. Meski bentuk tubuhnya hampir serupa dengan para jikansokougun, meski tulang dan daging hitam menggerogoti hingga ke rahangnya…

Mata emas yang hampa, menusuk jiwa.

“Okita-kun…?”

Tangan Yasusada bergetar, menahan bilah pedang yang nyaris memotong kepalanya. Ia tak tahu harus mencerna informasi yang mana—musuh dihadapannya adalah Okita Souji, atau bagaimana perempuan dibelakangnya juga membisikkan nama Okita dengan nada yang ia tak mengerti.

Mereka saling mendorong mundur. Detik berikutnya, ‘Okita’ kembali menghujamkan serangan ke arah Yasusada.

Yasusada tak bisa memutuskan untuk tetap menahan terus serangan yang datang sampai bilahnya sendiri patah, atau menebas ‘Okita’ di hadapannya.

Keputusannya di ambil oleh sang saniwa, yang memakai kesempatan itu dan berhasil melukai apa yang merupakan bahu dari ‘Okita’.

“Aakh…!”

Tapi sang saniwa tak dapat melanjutkan serangan. Tangan ‘Okita’ masih berusaha menebas Yasusada, namun tulang ekor bergerigi dari punggung ‘Okita’ bergerak bebas. Perempuan itu terhempas jatuh setelah menahannya agar tak tertancap oleh tulang belulang.

Perempuan itu berusaha berdiri lagi, tapi karena kaki menyentuh tanah terlebih dahulu dengan menahan berat tubuhnya, nyeri mulai menjalar di lutut kanannya. Sang saniwa berusaha berdiri, namun seluruh tubuhnya bergetar.

 Matanya terasa panas.

Aruji! Ada ap—“

Perempuan itu tersentak, mendapati Kashuu sudah berada di belakangnya.

Sama seperti mereka tadi, ketika melihat siapa yang mereka hadapi, Kashuu Kiyomitsu tercenung.

“Itu benar-benar dia?”

Kashuu membantu perempuan itu berdiri.

“Ya… Ya dan tidak. “ Sang saniwa tampak terguncang. “Okita-san yang ada di masa ini berada di Ikedaya, kita sudah pastikan tadi. Tapi… Ini…”

Kashuu tidak bertanya lagi. Fakta bahwa musuh di hadapan mereka sekarang sangat berbahaya sudah cukup untuk membuatnya menghunuskan pedang.

“Istirahatlah dulu.” Ucap Kashuu, sebelum berlari menuju Yasusada. Tepat pada waktunya untuk menahan ayunan bilah pedang Okita dari atas kepala. Yasusada yang mulai kelelahan tak sempat menangkisnya.

Memakai kesempatan itu juga, Kashuu berhasil melukai sedikit bagian perut ‘Okita’.

“Kiyomitsu!”

“Kamu ragu-ragu karena melawan dia kan?”

Mereka berdua mundur. Mata masih mengawasi ‘Okita’ di depan mereka, yang tampaknya meneliti pendatang baru yang melukainya.

“Ukh…” Yasusada tak membantah ucapan Kashuu.

“Aku tak tahu apa dia ini Okita, tubuhnya seperti dirasuki para musuh kita. Jika ini memang begitu…” Kashuu menggenggam pundak kawannya.  “Maka kita tidak bisa membiarkannya bertemu dengan ‘kita’ dan Okita Souji di masa ini.”

Bagaimana pun juga, tugas mereka sekarang adalah menjaga agar tak ada sejarah yang berubah.

Yasusada terdiam sejenak, sebelum menghembuskan nafas dan fokus menatap ‘Okita’.

“…Benar. Kau benar.”

Sesaat keadaan mereka penuh nostalgia, ketika mereka pernah berlatih tanding dengan kapten unit satu Shinsengumi itu.

Kini, keadaannya berbeda.

“Tapi bagaimana kita bisa mengalahkannya?” Yasusada mengernyit. “Teknik dan keahliannya sangat tinggi. Ini seperti melawan jikansokougun pemegang oodachi.”

‘Okita’ dalam bentuk musuh tiba-tiba melesat ke arah mereka.

Kashuu menerima ayunan pedang yang diarahkan kepadanya. Kali ini Yasusada menjegal kaki ‘Okita’ sebelum Kashuu berusaha menendang tulang dada musuh mereka. Kembali ekor bertulang bergerak, kali ini untuk menerima tendangan kaki Kashuu.

Mereka kembali terpisah beberapa kaki.

“Teknik yang sama, seperti dulu…” Gumam Kashuu. “Tapi ada yang janggal…”

“Ya, mungkin— Karena ekor dari tulang itu.“ Yasusada menyeka peluh di keningnya. “Tapi setelah itu—Ah!”

Kali ini musuh mereka merubah targetnya, melesat ke arah sang saniwa. Yasusada berhasil bereaksi, mengejar tepat di belakang dan menghentikan ‘Okita’ tepat di depan sang saniwa dan kembali bilah besi mereka beradu.

Perempuan itu masih berusaha berdiri, kini menangkis balik tangan bebas ‘Okita’ yang berusaha mencakarnya.

Tenaga Yasusada yang terkuras mulai terlihat sehingga kakinya tak kuat menahan, lalu tulang belulang yang mencuat keluar dari lengan ‘Okita’ menancap di area bahunya.

“Yasusada, tahan dia!”

Yasusada mencengkeram bilah pedang yang datang dengan tangan kiri meneteskan darah. Uchigatana di tangan kanan masih dibelit ekor tulang  ‘Okita’, yang kini saling membentur dan membuat bunyi gemeretak mengerikan.

Sebelum tangan ‘Okita’ yang bebas kembali menghantam pedang yang dipegang sang saniwa, Kashuu melompat dan menghunuskan bilah pedang ke punggungnya.

Tepat di area jantung ‘Okita’—jika mahluk itu masih mempunyainya.

 “Aah, maaf, Okita.” Kashuu berusaha berbicara dengan suara bergetar. “Aku tak bisa biarkan Yasusada yang melakukan ini padamu.”

‘Okita’ tak membalas. Semua gerakan tubuhnya berhenti, asap hitam disekujur tubuhnya mulai mengurai ke udara.

Saniwa berusaha bertumpu pada kedua sikunya. Yasusada mulai mengendurkan cengkeramannya. Kashuu dengan kuda-kudanya bergeming tak bergerak dari posisinya. Dari bilah pedangnya, ‘darah’ masih menetes pelan di tubuh ‘Okita’.

“……?”

Kashuu tak dapat melihat apa yang dilakukan sang saniwa, perhatiannya teralihkan oleh asap hitam yang lama kelamaan berubah menjadi cahaya-cahaya kecil terbang tertiup angin. Baru setelah itu ia menarik keluar pedangnya. Tubuh itu ambruk, hanya ditahan dengan kedua tangan sang saniwa.

“….Apa aku… Bermimpi?”

Baik Kashuu Kiyomitsu maupun Yamatonokami Yasusada menahan napas ketika mendengar suara familiar itu.

“Okita-kun?” Bisik Yasusada, terperangah.

“….Yamato? Kenapa kau menangis?”

Yasusada tak dapat berkata apa-apa lagi, hanya bisa menggenggam tangan pria itu dan terisak dalam diam.

Barulah Okita menyadari bentuk tulang tangannya.

“Apa ini, apa aku melukai kalian…?”

“Nyaris.” Kashuu mendengus.

“Ah, akhirnya aku bisa melihatmu lagi.”

“Sebegitunya kau ingin melihatku sampai mengambil rupa seperti ini?”

“Mungkin.” Okita terkekeh pelan. “…Aku ingin minta maaf padamu, Kashuu.”

“Tidak perlu minta maaf,” Kashuu menggelengkan kepala, akhirnya tersenyum. “Bukan salahmu, bukan salah siapa pun.”

“Tetap saja, aku tak tahu kalau kau masih berada di dekatku setelah itu.”

Kashuu mengeluarkan suara ‘hah’ pelan.

Kemudian arah mata Okita mengikuti Kashuu yang menoleh ke arah sang saniwa.

“Kau kah itu…? Ini benar-benar mimpi.”

Sang saniwa sendiri berusaha berbicara tanpa tercekat. Perempuan itu setengah terisak dan tertawa.

“Iya, Okita-san, ini mimpi.”

Kini iris emas itu seakan hidup, memandang balik ke dalam mata perempuan itu. Tangan Okita bergerak pelan, menyentuh pipinya.

Okita tersenyum. Sebagian kakinya sudah hilang, terurai menjadi cahaya.

“Ah… Aku tak mengira bisa melihat kalian lagi.”

“Aku juga.”

“Semuanya gelap, aku tidak tahu apakah itu surga atau neraka.” Gumam Okita. “Kemudian… Ada kalian.”

Berdasarkan penjelasan tersebut, sang saniwa terdiam. Apa yang akan terjadi kalau mereka tidak bertemu disini dan membiarkannya tetap berada dalam kondisi seperti itu, ia tidak berani memikirkannya.

Yasusada mulai tampak tenang. Tangan Okita digenggamannya mulai mengurai ke udara.

“Kali ini kita benar-benar berpisah, ya?” Kata Yasusada.

“Ini kesempatan terakhirku…. Setidaknya aku bisa melihat kalian lagi.”

(Butir-butir cahaya melayang, untuk sesaat Kashuu berani bersumpah cahaya itu menjadi kelopak bunga sakura.)

Perempuan itu membuai kepala Okita dalam pelukannya.

“Aku menjanjikanmu sesuatu.”

“Okita-san sudah pernah menepatinya.” Bisik sang saniwa.

Untuk terakhir kalinya, Okita tersenyum.

“----."

Mata perempuan itu kembali terasa panas, bibirnya bergetar.

Ketika cahaya pertama dari ufuk timur muncul, angin berhembus, mendorong pergi uraian cahaya dengan lembut. Terdengar suara Atsu dan anggota unit mereka yang lain menghampiri. Pertarungan mereka sudah selesai. Okita sudah pergi.

Terbang menuju langit fajar.

 

.

.

.

.

.

 

 

“(Bahkan jika aku menjadi bunga yang layu dan menghilang tanpa jejak, kamu akan terus mengawasi sampai aku mekar kembali…

Kau luar biasa, kau tahu itu?”)

 

.

.

.

.

.

 

[ ]

 

“Ah, aku hanya berpikir untuk memberikanmu sesuatu yang berbeda, lain kali,” Okita mengatakannya dengan nadanya yang biasa, seakan tanpa beban. “Tapi kalau dengan benda seperti saja kamu sudah senang, tidak jadi.”

“Eh, eh?” Perempuan itu berhenti berjalan. “Hadiah lain seperti apa?”

Pria itu menghela napas, seolah-olah berpikir keras.

“Baiklah… Ada dua pilihan. Aku tak bisa memilih, jadi kubiarkan kamu yang memilih.”

Perempuan itu menunggu. Okita memelankan langkah dan berbalik ke arahnya.

“Meski sudah agak terlambat, yang pertama adalah sebuah kanzashi.”

.

Okita tersenyum lembut.

.

 

“Lalu yang kedua--

Sebuah kata,”

.

.

“Aku mencintaimu.”

 

[ ]

 

 

.

.

.

.

.

 

Miyakowasure 都忘れ / Miyamayomena 深山嫁菜 / Noshungiku 野春 / Azumagiku 東菊 / Gymnaster savatieri

Hanakotoba (花言葉) :
Selamat tinggal’- Farewell (別れ)
Kesedihan dalam perpisahan - Sorrow of Separation (しばしの別れ)
‘Sampai berjumpa lagi’ - Until we meet again (また会う日まで)

 

.

.

.

.

.

 

 

[Tamat]