Actions

Work Header

L-001

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : OOC, OC, headcanon author.


 


 

"Sebaiknya kau menggunakan formasi echelon."

"...Entahlah, rasanya lebih aman untuk persenjataan jika menggunakan horizontal."

Yamanbagiri Kunihiro rasanya gatal sekali ingin mencengkeram kepala sang saniwa di kedua sisinya. Jadi bola-bola persenjataan lebih penting dari pada formasi, begitu? Memang benar mempertahankan keutuhan persenjataan itu baik tapi kekuatan serangan mereka jadi tidak maksimal jika terus begini.

"Tenang saja, kalau kita sampai di pemimpinnya, nanti aku pasti memilih formasi yang terbaik."

Sang saniwa perempuan tersenyum santai, menepuk antusias bahu Yamanbagiri Kunihiro.

"Lagipula, kalian kan kuat. Aku percaya pada kekuatan kalian."

Yamanbagiri Kunihiro hanya bisa menghela napas. Terserah apa kata majikan barunya ini saja.

Ketika pemuda yang mengenakan kain putih seperti jubah itu tak protes lagi, sang saniwa mengembalikan perhatiannya ke hologram yang menampilkan formasi, lalu memicingkan mata ke arah titik-titik hitam di kejauhan yang bergerak ke arah mereka.

Jikansokougun, musuh mereka, sebuah angkatan pasukan yang ingin mengubah masa lalu. Seharusnya mereka akan selesai membersihkan daerah ini sebentar lagi, namun apa boleh buat, sejak kemarin rute yang sudah mereka tentukan di peta belum menunjukkan tanda-tanda terbuka.

Melihat para toudanshi beraksi melawan para monster itu sungguh mengagumkan. Berdasarkan pengalaman dan memori mereka dulu, serangan serta keahlian mereka sangat kuat. Ia sebagai saniwa cukup memberikan arahan saja. Pedangnya yang selalu ia bawa bahkan tak pernah keluar dari sarungnya.

Tak sampai hitungan 10 menit, musuh mereka bisa dimusnahkan.

Perjalanan kembali di lanjutkan. Sang saniwa memimpin di depan dengan Yamanbagiri Kunihiro.

"Kemarin ada kumpulan pepohonan dan batu besar di sana, kan?" Yagen Toushirou membenahi letak kacamatanya. Meski penampilannya anak kecil, namun tantou satu itu sangat dewasa. Sambil menunjuk ke arah sebuah tanah terbuka dari balik pepohonan, ia melanjutkan. "Kita bisa lewat sekarang, taishou."

"Oke, ayo maju!"

Di hamparan padang rumput yang luas, tampak titik-titik hitam dengan rona ungu, aura gelap yang menusuk mulai terasa ketika mereka mendekat. Musuh mereka sudah dekat.

Sang saniwa turun dari kudanya, menyapu udara kosong di hadapannya, dan munculah sebuah hologram. Ia berbicara pada earpiece-nya.

"Hei, Konnosuke. Ini node boss-nya kan?"

Rubah dengan corak wajah unik di dalam hologram meloncat. "Ya, betul."

Akhirnyaaaaaaa, batin sang saniwa dalam hati. Tak sia-sia ia terus maju ke medan peperangan mereka ini selama setengah hari ini. Berdasarkan pengalaman, semakin cepat membasmi musuh, semakin baik. Spartan, memang. Tapi ia memberikan jam istirahat kok.

"Kalau begitu, sebaiknya kita maju sekarang?" Dengan nada melankolis Souza Samonji berkata.

Akita, Aizen, Yagen, Gokotai segera maju memasang posisi menyerang. Bahkan kelima harimau mini milik Gokotai ikut bersiaga dan menggeram kecil.

"Formasi mereka echelon."

"Oke, formasi square kalau begitu." Lihat, saniwa selalu tepat janji.

Dan begitulah, hari ini mereka berhasil membereskan para musuh dan sang saniwa dengan bahagianya bisa melanjutkan ke daerah yang lainnya.


 


Mereka kembali ke citadel seperti melewati sebuah portal tak terlihat. Hanya seorang saniwa dan para toudan yang bisa melakukannya, agar masa lalu tidak terganggu kestabilannya.

Sang saniwa mengambil posisi citadel di Sagami no Kuni. Semua kandidat saniwa bebas memilih lokasi yang sudah disiapkan. Saking banyaknya kandidat saniwa, para penyelenggara proyek ini akhirnya membuka semakin banyak lokasi. Bizen dan Sagami adalah yang pertama. Untungnya ia bisa masuk ke Sagami yang ia pilih, karena Yokohama tempat asalnya di masa depan dulu adalah bagian dari Sagami.

Viva pre-register, batin sang saniwa dalam hati.

Bersandar di tiang beranda koridor taman tengah, menghadap ke arah pemandangan kolam, sang saniwa menyapu tangannya di udara dan membaca berbagai artikel di hologram. Proyek ini baru saja dimulai beberapa hari dan sudah banyak saniwa yang melaporkan hasil pekerjaan mereka. Banyak yang sudah berhasil mendapatkan banyak toudanshi, ada yang sudah melaporkan hasil ekspedisi, dan banyak lagi.

Sang saniwa menggeser hologram sambil menguap.

Baru beberapa hari tinggal permanen di citadel ini rasanya sudah seperti di rumah sendiri. Meski bangunan tradisional luas ini baru dihuni oleh dirinya, Yamanbagiri, Souza, Kashuu, Yamato, Gokotai, Aizen, Yagen, Akita, Ima no Tsurugi, dan Midare.

Rasanya ia harus mencari beberapa tachi.

Ini demi keadaan teknis juga, dan mungkin ia terlalu santai. Kalau seperti ini terus, ia akan makan gaji buta namanya.

Dibilang santai pun, sebenarnya ia cukup dibuat pusing dengan perilaku para toudan yang diluar bayangannya.

Baru-baru ini Kashuu membongkar kotak kosmetiknya yang entah bagaimana bisa ada di dalam koper yang ia bawa dan sang saniwa akhirnya menyerahkan seluruh nail polish miliknya pada uchigatana itu. Daripada harus tersakiti dengan jurus pandangan memelas milik Kashuu -sama ampuhnya dengan milik Ima no Tsurugi- lebih baik ia berikan saja, lagipula ia tak terlalu sering memakainya.

Yang membuatnya penasaran adalah mengapa para toudan ini rasanya familiar dengan barang-barang yang tak ada di zaman mereka. Apa karena datanya juga tercampur dengan mereka yang lama berdiam di museum dan menjadi saksi bisu perubahan zaman? Entahlah, tapi sang saniwa merasa bahwa semakin hari ia menjadi semakin filosofis saja.

Sang saniwa menghela napas.

"Aruji-sama jadi terlihat seperti nenek tua deh."

"Ima-chan, makanya rambutku jangan diikat seperti itu- ADAW!"

Ima no Tsurugi yang sedari tadi menyisir dan bermain dengan rambut sang saniwa kini sedang berusaha mengikat rambut saniwa yang panjangnya hanya sebahu itu membentuk buntalan di atas kepala.

"Makanya Aruji-sama temani aku bermain~"

Tantou yang satu ini sedari tadi tak bisa diam. Mencorat-coret kertas dengan kuas, membongkar isi lemari, bermain dengan gelangnya, sampai akhirnya sang saniwa yang sedang duduk-duduk pun di datangi.

"Sebentar dulu, aku punya banyak pekerjaan…" Sang saniwa memperhatikan angka persediaan tamahagane dan batu asah di hologram. Agak kritis.

Ima no Tsurugi sekarang sudah berguling-guling di samping sang saniwa. "Tapi aku bosan, Aruji-samaaa."

"Ya sudah, kamu meluncur dari ujung ke ujung engawa ini dengan kain, sekalian membersihkan lantai."

"Eeeeh…"

Dan ketika sang saniwa berpikir Ima sudah kembali mencari kesibukan dengan berlarian di taman, sang tantou tersebut berlari lagi ke arahnya.

"Aruji-sama, lihat, lihat!"

"Hmm?" Awalnya sang saniwa masih sibuk dengan hologramnya, Sampai sang tantou menarik-narik ujung lengan bajunya.

Suara dengkur pelan dari arah yang ditunjuk Ima no Tsurugi membuatnya menengadah ke atas. Dekut burung macam apa yang- Ah.

Dua dari lima macan putih kecil Gokotai tengah mendekam di atas cabang pohon.

"Waii, harimau kecil~! Kenapa kalian ada disana?" Ima berjingkrak kegirangan.

Dari kondisi yang dilihat sang saniwa hanya bisa berasumsi bahwa sama seperti kucing, mahluk-mahluk berkaki empat tersebut memiliki tingkat rasa ingin tahu yang sama, sehingga mereka berada dalam suatu keadaan klasik yaitu ;

"Ima-chan, kurasa mereka tak bisa turun."

Ima menoleh ke arah sang saniwa yang masih tak bergerak dari posisi duduknya.

Disaat yang bersamaan, kedua harimau kecil tersebut mengeluarkan suara memelas.

"Aku bisa melompat dan mengambil mereka!"

"Jangan coba-coba melompat dengan geta-"

Terlambat, tantou milik Minamoto no Yoshitsune itu sudah melompat tinggi bagai tengu dan membawa turun kedua harimau kecil itu masing-masing satu di kedua tangannya.

Sang saniwa akhirnya berdiri dan mengenakan sandalnya, bergerak ke arah Ima. "...Tidak lucu lho ya kalau kau terluka."

"A...Aruji-sama!"

Keduanya menoleh ke arah Gokotai datang menghampiri mereka berdua. Wajahnya panik seperti habis dikejar harimau- sebenarnya, tiga harimau kecil memang mengekor di belakangnya.

"Oh, Gokotai."

"Disitu rupanya kalian…" Ucap tantou tersebut ke arah kedua harimau kecilnya yang masih dibawa Ima.

"Mereka terperangkap di pohon tadi." Ima menjelaskan dengan ceria.

"E-Eh?! Maaf, Aruji-sama!" Gokotai membungkuk panik.

"Eh? Tidak apa-apa, namanya juga kucing- Eh, harimau, maksudku."

Harimau-harimau milik Gokotai ini awalnya sempat mengagetkannya, sewaktu pertama kali sang saniwa mendapatkannya. Niatnya membangkitkan pedang, mendapat bonus lima binatang yang tiba-tiba langsung melompat ke arahnya.

Dan sekarang kelima harimau itu sekarang sudah mengelilingi mereka dan salah satunya dengan asyik menyundul kaki sang saniwa.

"Omong-omong, apa mereka punya nama?" Tanya Ima, mengangkat salah satu harimau kecil tersebut.

"Um, tidak…" Jawab Gokotai. Ekspresinya kebingungan. "Biasanya mereka akan datang sendiri kalau kucari."

Sang saniwa menggaruk daerah telinga salah satu harimau tersebut. Harimau-harimau putih ini memang hanya menuruti Gokotai saat mereka melawan musuh. Di dalam citadel ini, sikap mereka langsung berubah menjadi seperti kucing domestik.

"Awalnya kukira mereka ganas." Ujar sang saniwa. "Tapi mungkin mereka jinak karena kamu mengalahkan mereka?"

"Aruji-sama… Sudah saya bilang kalau saya tidak mengalahkan mereka.. Uu…"

"Go-Gokotai, aku hanya bercanda, maafkan saniwa ini."

"Tapi enak ya, dikelilingi binatang selucu ini~" Komentar Ima.

Asalkan ukuran tubuh mereka tidak bertambah besar saja, pikir saniwa.

Saking sibuknya mereka bercengkerama dengan mahluk-mahluk berkaki empat itu, tanpa disadari ada dua yang luput dari perhatian mereka.

Entah insting apa yang dimiliki oleh dua harimau pecinta tempat tinggi itu, tapi mereka kembali menaiki pohon.

Yang pertama kali menyadarinya adalah Gokotai, yang tak sengaja menengadah ke atas. "Aah…! Kalian ini…!"

"Hah? Ima-chan, bukannya tadi kau sudah membawa mereka turun?" Sang saniwa hanya melongo.

"Eh? Mereka berdua yang tadi naik pohon?"

Turun dua, naik dua pula. Rasanya hanya ada tiga anak baik dalam kumpulan harimau mini ini. Struktur tubuh harimau dan kucing memang dibuat bisa memanjat, tapi jika mereka ingin turun harusnya posisi mereka seperti berjalan mundur.

Rasanya dua harimau itu tak akan mengerti bila diberi instruksi seperti itu.

Sebelum Ima bisa melompat terlalu tinggi lagi, sang saniwa sudah menjulurkan tangan ke atas. "Ayo, ayo, turun kalian. Sebelum aku memanjat kesana-"

Ternyata keduanya tanpa ragu langsung melompat ke arah sang saniwa yang merentangkan tangannya dengan gestur 'ayo kesini'.

Sang saniwa melupakan satu fakta krusial. Meski harimau dan kucing rumahan berasal dari satu familia, tingkah laku yang mirip, tapi proporsional tubuh mereka berbeda.

Kaki-kaki gempal pendek yang mendarat cantik di atas wajahnya ternyata memberikan tekanan yang lebih berat dari perkiraannya, membuat suara 'GUOOGH' aneh keluar dari mulutnya dan sukses jatuh ke tanah.

"Aruji-samaaa!"

Sang saniwa pasrah menerima nasib berbaring di tanah dan dikerubungi lima harimau putih kecil dan dua tantou yang berusaha membantunya berdiri.

Pokoknya nanti kalau dia kembali ke masa depan, ia harus kembali dengan membawa tangga lipat.

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning :  OOC, OC, headcanon author.

 


 


 

"Apa anda membawaku kesini karena kita memiliki masalah keuangan?"

Siapa yang tidak kaget ketika ditanya seperti itu.

Sang saniwa menoleh ke bawah, Sayo menengadah ke arahnya dengan wajahnya yang biasa. Saat ini mereka berdua tengah berada di keramaian kota terdekat dari citadel. Sang saniwa sering berganti daerah agar tak menarik perhatian orang-orang. Biasanya ia pergi sendiri, tapi kali ini ia hendak membeli banyak barang. Sesudah mengingatkan Yasusada dan Kashuu agar mereka bersikap normal dan tidak membuat keributan, ia dan Sayo pergi ke sisi lain kota itu dan memasuki sebuah toko kain.

Dan hal pertama yang dikatakan sang tantou padanya setelah mereka sampai di toko mau tak mau membuatnya terkejut.

"Apa keadaan citadel kita terlihat seperti itu?"

"...Tidak."

"...Ini soal masakan di dapur yang terlalu sederhana ya?"

Sayo menggelengkan kepala dengan cepat.

Sang saniwa belum membiasakan dirinya untuk berhenti bercanda dengan nada datar seperti itu pada Sayo. Anak itu rasanya lebih serius daripada Yamanbagiri Kunihiro, bedanya, yang belakangan disebut tak ragu untuk menohoknya dengan sarung pedang kapan saja.

Tantou Samonji itu berkata seperti itu bukan tanpa alasan, sang saniwa tahu itu. Mengingat sejarah Sayo yang ia baca, ia mengerti tingkah lakunya yang seperti ini. Mungkin lain ceritanya bila Sayo tak hidup di daerah yang tak tertimpa bencana paceklik.

"Tidak apa-apa, koban kita masih banyak, aku ini hemat lho." Sang saniwa menempelkan ibu jari dan telunjuknya, tak sengaja informasi yang kurang penting juga keluar dari mulutnya. Tentu saja gajinya yang sebenarnya dari proyek ini bukan berupa emas batangan. "Aku tak akan pernah menjualmu."

Sayo terdiam mendengar jawaban sang saniwa dan hanya memandangi gulungan-gulungan kain di toko itu.

Mereka pergi ke toko kain karena sang saniwa berpikir terlalu ke depan, berkata bahwa ia membutuhkan banyak kain untuk pakaian para toudanshi sehari-hari dan untuk hal lainnya.

"Sayo, kamu suka warna apa selain biru?"

Pertanyaan ini membuat Sayo mengernyit kebingungan. "Warna… Kesukaan?"

Sang saniwa membalas dengan anggukan kepala. Kedua tangannya sibuk membuka sebuah gulungan kain merah bermotif kupu-kupu dan meraba permukaannya. "Apa kau tak ingin memakai warna lain…? Entahlah, mungkin Yamanbagiri Kunihiro harus memakai ini kalau aku mencuci kain penutup kepalanya itu."

Akhirnya, setelah terdiam lama hingga sang saniwa memanggil pemilik toko dan meminta tolong untuk bisa melihat contoh kain yang lainnya, Sayo menjawab dengan suara kecil.

"...Terserah anda saja."

"Eh? Yang benar?" Sang saniwa mengambil acak gulungan di kanannya. "Yang ini bagaimana?"

"Lebih cocok untuk Souza-niisama."

Ternyata sang saniwa mengambil yang berwarna merah jambu.

 

###

 

Mereka berdua sedang duduk memakan dango sambil menunggu Yasusada dan Kashuu ketika Sayo memulai pembicaraan.

"Orang yang anda benci." Ucap Sayo, memandangi porsi dango miliknya. "Apa anda memiliki orang yang anda benci dan sangat ingin membalas dendam padanya?"

Sang saniwa menggigit dua dango sekaligus karena lapar. Ia tidak tahu kenapa ide topik pembicaraan ini muncul disaat seperti ini.

"Ada." Kata sang saniwa setelah selesai menelan, lalu jari telunjuknya terangkat. "Hmm…Satu, dua, tiga, empat… Banyak lho."

Itu bukan jawaban dan cara menjawab yang sesuai dengan perkiraan Sayo, karena anak itu memandang saniwa dengan mulut terbuka.

"Sayo?"

"Majikanku dulu hanya dendam pada satu orang saja." Sayo memandang sang saniwa. "...Atau anda sedang bercanda lagi?"

"Pertanyaanmu serius seperti itu, mana mungkin aku bercanda saat menjawabnya." Sang saniwa menggelengkan kepala, kemudian mengangkat Sayo ke pangkuannya.

"?!" Sang tantou membeku di tempat karena tindakan tiba-tiba sang saniwa, tak terbiasa dengan keadaan seperti ini.

"Kalau boleh jujur, aku itu mudah tersinggung, tapi sebenarnya kalau sudah lama tidak bertemu, kurasa tidak apa-apa." Sang saniwa mengernyit. "Ah, tunggu, jadi sebenarnya aku tak memiliki dendam lagi?"

Pemiliknya yang satu ini sangat tidak konsisten.

"Bagaimana anda melakukannya?" Tanya Sayo, setelah menyerah menyingkirkan tangan saniwa yang mengalungi lehernya. "Tidak memiliki dendam lagi?"

Orang-orang hilir mudik di hadapan mereka, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mata sang saniwa memandangi kedai soba di seberang jalan.

"Karena aku sudah lupa." Jawab sang saniwa. "Banyak hal lain yang kukerjakan dan lama-lama… Aku lupa apa penyebab dendam itu."

"Itu terdengar mustahil, aruji." Sayo mengernyit. "Aku digunakan untuk membalas dendam, hal yang merupakan motivasi majikan untuk tetap hidup dan..."

Pipi tantou Samonji itu diserang dengan cubitan pelan jari sang saniwa. "Aku punya satu permintaan untukmu. Tolong jangan berpikir kalau keberadaanmu saat ini untuk digunakan seperti itu."

Sayo terdiam.

"Kau ada disini karena aku membutuhkan bantuanmu."

"...Aku tak perlu membalas dendam siapa pun?" Sayo menengadah. "Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Membantu melawan musuh saat ini, tentunya...Tapi terkadang cukup dengan keberadaan seseorang saja, perasaanmu bisa menjadi tenang. Aku, contohnya, sangat senang dengan keberadaan kalian semua." Tangan sang saniwa mengacak rambut Sayo. "Kuharap kau merasa seperti itu jika tinggal di citadel."

Sayo memandangnya dengan ekspreksi tak terbaca, antara terkejut dan senang, membuat sang saniwa gemas.

Ketika akhirnya Yasusada dan Kashuu datang, keduanya menuntut hak untuk dibelikan dango pula.

 

###

 

"Tempat ini, kenapa harus luas sekali sih…"

Ia selalu mengeluh seperti itu setiap harus menempuh jarak dari kebun menuju ruangannya. Sang saniwa sedang melewati lorong beranda taman tengah sesudah selesai membantu dengan masalah para harimau kecil Gokotai yang tampaknya mulai terobsesi dengan tomat, ketika dilihatnya sebuah pemandangan baru yang membuatnya tersenyum.

Meski berusaha memelankan langkah kakinya, Souza Samonji segera menoleh ke arah datangnya sang saniwa. Sayo tengah tidur siang di pangkuannya, bergelung dengan posisi yang mengingatkan sang saniwa akan salah satu harimau Gokotai.

"Siang ini cuacanya bagus." Sang saniwa memulai basa-basi, ikut duduk di samping sang uchigatana dengan nampan teh dan sisa kulit jeruk di antara mereka.

Souza hanya tersenyum, mengelus pelan kepala Sayo.

"Kalian berdua mulai dekat, ya?" Tanya sang saniwa.

"Sebagai satu saudara penyandang nama Samonji, tentu saja." Souza mengangguk. "Meski baru kali ini kami bertemu langsung."

Nada melankolis Souza memang sudah biasa baginya, tapi kali ini sang saniwa mendengar hal yang berbeda dalam nada suara itu.

Sang saniwa beberapa hari ini memang memperhatikan Sayo yang mulai membuka diri, mulai bercakap-cakap dengan sang uchigatana Samonji saat keduanya tengah bertugas di kebun. Tak seperti para tantou Awataguchi yang langsung akrab, Sayo dan Souza awalnya masih canggung.

"Saya tak terlalu tahu bagaimana kehidupannya dulu." Ucap Souza, berkata memecahkan keheningan, lalu tersenyum lembut. "Tapi rasanya menyenangkan, memiliki saudara."

Sang saniwa melirik ke pangkuan Souza, dan tersenyum kecil. "Begitu? Bagus deh."

 


 


 

 

Beberapa hari kemudian, sang saniwa menghilang selama 2 hari sebelum kembali ke citadel.

Saat ini, Ima, Akita, Sayo, dan Gokotai tengah asyik menggambar dengan pensil warna dan krayon yang ia bawa dari rumahnya. Ia hanya bisa kembali ke masa depan sebulan sekali -entahlah, itu peraturannya.

Itu pun ia hanya berjumpa sebentar dengan orang-orang di rumah, dan mengambil beberapa barang pribadi.

Para tantou rasanya senang sekali ketika ia membawa peralatan mewarnai itu, mereka langsung menggambar berbagai macam hal di atas kertas setelah sang saniwa menunjukkan cara pemakaiannya yang sama seperti kuas dan tinta -hanya lebih berwarna-warni dan sama-sama tidak untuk di konsumsi. Mungkin kapan-kapan ia harus membawa puzzle raksasa miliknya kesini.

Ima no Tsurugi katanya ingin kendama dan temari, ia janji akan membelikan jika mereka ada kesempatan pergi ke kota lagi.

Filosofi terbarunya; membuat mainan buatan tangan sama sulitnya seperti membuat troops emas.

"Aruji-sama, Aruji-sama! Coba lihat ini!"

Ima dan Gokotai menghampirinya, keduanya memperlihatkan hasil karya mereka. Sang saniwa mengibaskan tangan di udara dan menghilangkan hologram-hologram yang sedang dikerjakannya.

Tangan sang saniwa mengambil kedua kertas yang disodorkan kepadanya, diperhatikannya gambar milik Gokotai dulu. 5 harimau kecil. "Wah, gambar Gokotai bagus ya."

Pujian sang saniwa membuat Gokotai tersenyum gembira.

"Lalu gambar Ima-chan, ini kamu dan….?"

"Itu Iwatooshi!" Sahut Ima dengan gembira.

Iwatooshi? Rasanya nama itu termasuk dalam salah satu data pedang yang bisa didapatkan…Ah, ya. Sang naginata tunggal dalam data.

"Dulu aku dan Iwatooshi pernah bersama waktu Benkei dan Yoshitsune-sama…."

"I..Ima-chan, jangan nangis dong…" Karena sang saniwa paling bingung dengan cara menenangkan anak kecil yang menangis. "Nanti kalau stok tamahagane sudah 12000-"

"Terlalu lama, Aruji-sama."

"Ampun, Ima-chan."

Sang saniwa terselamatkan ketika Akita dan Sayo mendatangi mereka dan juga hendak memperlihatkan hasil karya mereka dengan penuh semangat.

"Aku menggambar pohon-pohon di taman!" Kata Akita, disambut dengan tangan sang saniwa yang mengacak pelan rambutnya. "Ada Yagen, Atsu, dan Midare juga!"

Sayo mengulurkan gambarnya dengan wajah berbinar-binar. Ada gambar Sayo dan Souza di atas kertas itu.

"Gambar kalian semua bagus-bagus ya." Puji sang saniwa sungguh-sungguh karena keahlian artistiknya berada di bawah 0 derajat Celcius.

"Iya, Aruji-sama, tapi kapan Iwatooshi bisa datang?"

Diungkit lagi.

 

###

 

Pada suatu ketika sang saniwa pergi ke bangunan penempaan pedang.

"Kau ingin mencoba membuat dengan apa kali ini?" Tanya Yamanbagiri Kunihiro yang mengikutinya.

Sang saniwa berdiri tegap, tangannya memegangi sebuah kipas lipat biru yang terlipat rapi yang berkali-kali dibuka dan ditutupnya. Matanya penuh determinasi, sama seperti sang pandai besi kecil yang dengan sabar selalu menunggu instruksinya.

Ima no Tsurugi sekalinya menginginkan sesuatu tak akan menyerah. Sudah beberapa hari ini sang saniwa ditagih terus tentang janjinya yang akan berusaha mendapatkan sang naginata itu. Maka setelah semedi 7 hari 7 malam, barulah sang saniwa memberanikan diri pergi ke ujung lain citadel-nya dan kini berhadapan dengan sang pandai besi.

Akhirnya setelah keheningan mencekam dan pandangan menusuk Yamanbagiri Kunihiro, sang saniwa berkata, tegas dan mantap;

"All 999."

Si pandai besi kecil masih diam, dengan senyumannya yang saat ini di mata Yamanbagiri Kunihiro tampak seperti siap melahap mentah-mentah ekspektasi tinggi perempuan di hadapannya.

Yamanbagiri Kunihiro sendiri rasanya ingin tinggal bertapa di gunung saja seperti saudaranya yang belum didapatkan oleh sang saniwa ini.

"Oi."

"Pakai ema Fuji."

"Oi, saniwa."

"Ema Fuji kataku."

"Terakhir kali kau melakukan ini dia memberikanmu Yasusada lagi, kau ingat?"

"Tapi kan aku tidak membangkitkan Yasusada nomor 2." Cukup satu saja masing-masing pedang di citadelnya, mana kuat dirinya mendengar raungan 'ora orA ORA!' setiap uchigatana tersebut berlatih dengan Kashuu di bangunan dojo.

"Itu bukan resep untuk mencari naginata."

"Aku tahu, tapi hari ini aku merasa cukup beruntung."

"Dan sekarang kau bergantung pada instingmu."

"Yaah, mau bagaimana lagi, bahkan teknologi hebat dari masa depan harus bertekuk lutut pada sistem RNG."

"….Kau serius ya."

"Yap."

"Coba pikirkan lagi."

"Ini keputusan final, Yamanbagiri Kunihiro ."

Yamanbagiri Kunihiro menghela napas dan semakin menurunkan kain yang menutupi kepalanya.

"Terserahmu sajalah."

Sang saniwa memberikan isyarat dan sang pandai besi kecil segera melakukan pekerjaannya.

Ketika pandai besi itu selesai melemparkan tamahagane, sang saniwa langsung memeriksa hologram, tangan bergetar penuh antisipasi.

Angka yang tertera menunjukkan 03:20:00.

Yamanbagiri Kunihiro yang memperhatikan hologram dari balik bahu sang saniwa sampai harus mengguncangnya beberapa kali sampai ia yakin kalau sang saniwa tidak pingsan di tempat.

"TETSUDAI, MANA TETSUDAI!" Pekik sang saniwa, menahan diri untuk tidak berlari keliling ruangan.

"Tenanglah sedikit!" Uchigatana Kunihiro itu meraih sebuah kayu berukir terdekat dan memberikannya pada si pandai besi.

Sebagai pedang yang dari awal mendampingi sang saniwa, Yamanbagiri Kunihiro tetap merasa heran bagaimana situasi membangkitkan roh para pedang ini bisa dilakukan.

...Asalkan yang muncul bukan pedang itu.

Meski sang saniwa sudah menenangkannya berkali-kali kalau data pedang itu belum bisa didapatkan karena suatu hal, sehingga tak akan muncul dalam waktu yang lama…

Uchigatana itu menggelengkan kepalanya. Membatin pada dirinya sendiri agar tidak memikirkan hal itu lagi.

Sang pandai besi kecil menyerahkan sebuah bilah pedang pada sang saniwa, yang meraihnya dengan hati-hati.

Mustahil! 03:20:00 itu...

Sang saniwa menahan napas, merapalkan sesuatu yang sudah ia sering ucapkan untuk proses pembangkitan pedang ini.

Bilah pedang tersebut melebur ke udara, menjadi kelopak bunga berjatuhan, entah itu hologram atau kelopak bunga asli, ia tak pernah ambil pusing, sudah berkali-kali prosesnya seperti ini. Tapi tetap saja rasa antisipasi setiap menebak siapa kira-kira yang berhasil dibangkitkan kali ini…

Sebuah sosok tinggi berambut panjang, dengan aura ketenangan yang luar biasa, pakaian yang tampak familiar di mata sang saniwa. Hologram menampakkan empat buah kelopak sakura dibawah logo tachi. Sebuah suara menyadarkan sang saniwa.

"Kousetsu Samonji adalah nama saya…."

Sang saniwa melotot dan mundur teratur.

"SOUZAAAAA-SAAAN! SAYOOOOOOO!"

Belum selesai pedang baru itu berkata-kata, sang saniwa sudah cabut keluar ruangan.

Kousetsu menoleh tanpa ekspresi ke arah Yamanbagiri Kunihiro.

Uchigatana Kunihiro itu hanya mengangkat bahu.

Tapi yang ia tahu pasti, Ima no Tsurugi harus disogok dengan waktu bermain yang lebih lama agar tak menempel di punggung sang saniwa seperti koala selama 24 jam.

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.

 


 


 

Siang itu meski sudah menjelang sore, matahari masih bersinar terik, tetapi sang saniwa yang tengah bekerja di kebun mengurut keningnya berkali-kali bukan karena pusing kepanasan.

Akhir-akhir ini setelah citadel-nya semakin ramai dengan kedatangan beberapa toudan baru, suasana ramai memang lebih meningkat.

Salah satu contoh yang paling sering terlihat, setiap Mutsu no Kami Yoshiyuki dan Izumi no Kami Kanesada bertemu, secara tak langsung kedua pihak yang dulu bisa dibilang berseteru ini selalu membuat keributan, keributan dalam arti ada saja yang mereka bisa perdebatkan.

Biasanya pola kronologisnya dimulai dari hal-hal remeh, lalu entah bagaimana apa yang mereka ributkan bisa menjadi debat kusir yang menjalar ke hal lain lagi. Entah tentang sarapan hari itu, jadwal bertugas mereka di kebun yang berbarengan, siapa yang kalah suit harus menyalakan lentera dan obor di malam hari, dan seterusnya.

"Kane-san itu," Kata sang saniwa, memicingkan mata dan berjongkok mengikis sedikit tanah yang mengelilingi daikon yang belum di panen. "Mudah dipancing ya?"

Ia dan yang lainnya tak merasa terganggu, hanya heran saja bagaimana tachi dan uchigatana tersebut tahan saling melemparkan argumentasi dengan rekor paling lama yang dihitung Yagen adalah setengah jam.

Yamanbagiri Kunihiro yang juga sedang membantu di kebun menatapnya dengan datar. "Kata Horikawa, 'Kane-san entah kenapa tak pernah mengerti dengan Mutsu-san yang terlalu santai itu jadi mereka sering berdebat'."

"Begitu ya…?"

Apa termasuk kategori tsundere? Pikir sang saniwa dalam hati.

"Mungkin kau harus mengganti jadwal bekerja mereka di kebun." Ujar Yamanbagiri Kunihiro sambil menggemburkan tanah kosong yang hendak ditanami.

Sang saniwa menyeka keningnya yang berkeringat dengan handuk yang melingkari lehernya. "Hmm… Tapi kalau mereka masih sering begitu hanya karena dulu mereka itu di pihak yang berbeda kan tidak enak."

"Setidaknya mereka tidak menyelesaikan masalah mereka dengan berduel."

"Benar juga."

Memang keduanya lebih sering mendebatkan sesuatu sampai terlihat seperti lomba pidato mimbar terbuka. Yang satu memiliki kedisiplinan tinggi dan sedikit sensitif, yang satunya lagi santai tapi pintar bernegosiasi. Satu-satunya hal sama dari mereka berdua, menurut sang saniwa, adalah pengaruh pemilik mereka dulu pada diri mereka masing-masing.

Tiba-tiba suara dentum cangkul bertemu batu keras terdengar, memekakkan telinga.

Sang saniwa menoleh cepat, terkejut melihat pemandangan yang sedang terjadi jauh di belakangnya.

Kedua orang yang sedang diperbincangkannya dengan Yamanbagiri tadi kini sedang berhadapan, dengan suatu ketegangan yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Sang saniwa dan Yamanbagiri Kunihiro hanya saling berpandangan, bingung.

"...Begitu? Jadi kau menganggapnya seperti itu?"

"Aargh! Kau ini memang...!"

Dan kini kedua sudah berdiri berhadapan, masing-masing seperti sudah siap untuk saling melemparkan peralatan berkebun yang ada di tangan mereka.

"Hei, kalian-"

"Kalian berduaCukup sampai disitu."

Yamanbagiri Kunihiro menengadah dengan cepat. Sang saniwa yang mulutnya tersembunyi di balik tangan dan handuk yang menyeka pipinya, bangkit berdiri, menuding keduanya dengan gestur mengancam.

"Ada apa? Tumben kalian seperti ini." Lalu sang saniwa bertanya dengan tenang.

Keduanya tampak terkejut, seakan baru ingat bukan hanya mereka yang sedang bekerja di kebun.

Mutsu hanya terdiam, lalu pergi tanpa berkata-kata, menoleh balik pun tidak. Begitu pula dengan Kane-san yang hanya mendecih.

"Hei, Mutsu no Kami…!" Panggilan Yamanbagiri Kunihiro pun tak diacuhkan.

"Biarkan saja orang itu." Kata Kane-san, tampak kesal, lalu pergi menjauhi mereka berdua sambil menggumamkan sesuatu.

Tak mendapat jawaban yang jelas, sang saniwa menggelengkan kepalanya dan menghela napas.

"Nyaris saja tanaman terongnya rusak."

Karena merusak terong favorit pemilik citadel itu yang susah payah ditumbuhkan secara alami dan sedikit bantuan teknologi oleh sang saniwa sama saja seperti meminta diri untuk digetok garpu tala dan dilebur sampai menjadi konpeito.

"Prioritasmu dimana sih?!" Yamanbagiri Kunihiro mengayunkan sekop ditangannya karena ucapan yang merusak suasana itu.

Sang saniwa menghindar sambil kayang, hasil memuaskan dari latihan yoga. "Coba cari Horikawa, suruh dia bicara dengan Kane-san."

"Kau sendiri?"

"Ke pantai."

Yamanbagiri Kunihiro mengernyit. "Hah?"

 

###

 

"Ah, ternyata memang disini."

Mutsu no Kami Yoshiyuki menoleh ke arah sang saniwa yang mendatanginya. Cukup terkejut karena sang saniwa entah bagaimana tahu ia berada di tempat ini, tempat favoritnya yang sering ia kunjungi di waktu senggang. Rasanya hanya Mutsu saja yang sering berdiam diri memandangi pasir yang terhampar dan permukaan laut yang berkilau dibawahnya. Para toudan yang lain jarang pergi ke tempat ini.

"Saniwa…?"

Ketika sampai di samping Mutsu pun, sang saniwa tak mengatakan apa-apa, hanya diam dan ikut mengagumi pemandangan di depannya.

Ada perasaan familiar ketika bau khas laut menerpa wajahnya.

Berbeda dengan pantai yang dipenuhi orang saat libur, ramai oleh berbagai macam kegiatan rekreasi maupun ekonomi, pantai yang terletak cukup dekat dengan citadel-nya ini sepi. Dataran tempat citadel-nya dibangun lebih tinggi dan memiliki jalan menurun berkelok-kelok menuju karang tinggi pantai, serasa memiliki pantai pribadi.

"Ayo turun. Seingatku ada jalan ke bawah sana."

"Hah?" Mutsu mengerjapkan mata. Hal pertama yang dikatakan sang saniwa adalah ajakan untuk turun lebih dekat ke pasir pantai.

"Ya daripada harus lari ke hutan baru belok ke pantai, terlalu ribet."

Bingung, membicarakan apa sih majikannya yang satu ini, tapi akhirnya ia ikuti juga perempuan itu.

Menuruni bebatuan dan semak-semak berpasir, suara debur ombak terdengar semakin jelas. Pasir pantai yang dipenuhi kerang kecil-kecil itu tak terlalu kasar, banyak rumput laut yang terdampar dan berayun-ayun terseret air laut biru jernih. Bangunan citadel mereka terlihat dari bawah sini, meski tertutupi pepohonan.

"Indah, kan?" Jawab sang saniwa. "Tempatku dulu tinggal juga dekat laut, tempat kerjaku yang lain juga. Makanya aku memilih daerah ini."

"Pilihan yang sangat bagus." Mutsu terkekeh, kemudian terdiam sejenak.

"Batas portal barrier citadel juga sampai ke daerah ini lho."

"Ah, pantas saja, tak ada orang luar disini."

Desir angin laut mengisi keheningan diantara mereka.

Diliriknya sang uchigatana yang sibuk memandangi lautan.

"Apa yang kau pikirkan setiap melihat laut?"

Kali ini Mutsu langsung menjawab.

"Ryouma." Katanya. "Ketika pertama kali Kaientai berlayar… Haha, wajahnya itu tak akan pernah kulupakan."

Jawaban yang dapat dimengerti, karena Mutsu no Kami Yoshiyuki memang dimiliki oleh Sakamoto Ryouma, salah satu tokoh terkenal era Bakumatsu.

Sang saniwa sendiri banyak membaca buku-buku sejarah, dan mengetahui pentingnya peran Sakamoto Ryouma pada saat itu. Ia membayangkan bagaimana caranya hidup pada zaman dimana politik sakoku masih dilaksanakan dan koneksi dengan negara asing Belanda-VOC hanya boleh melalui Nagasaki.

Tentu, dari periode waktunya berasal di masa depan, globalisasi sedang mencapai puncaknya. Relasi hubungan luar negeri tampak baik-baik saja. Tapi jika dibandingkan dengan zaman ini, perasaan anti orang asing seperti masih dapat dirasakan.

"Seperti apa kondisi masa depan?" Tanya Mutsu tiba-tiba.

"Hm?" Kali ini sang saniwa mengerjapkan mata, kaget meski mendapat pertanyaan standar para toudan yang penasaran dengan waktu dunia tempatnya berasal. Mungkin karena hanya sebagian besar tantou saja yang antusias memintanya untuk bercerita.

"Bagaimana menjelaskannya… Yah, gedung-gedung bangunan lebih tinggi, manusia bertambah banyak, teknologi canggih- meski mobil terbang belum disempurnakan…"

"Mobil? Apa itu?"

"Hmm… Bila dibandingkan dengan jaman Bakumatsu, kendaraan jalur darat seperti kereta kuda, untuk transportasi jarak jauh."

"Hoo…"

"Dan juga, seperti yang bisa kau lihat, teknologi mengirim orang pergi ke masa lalu seperti ini. Masih banyak lagi." Sang saniwa memberikan gestur tangan ke arah dirinya sendiri, sebelum mengambil inisiatif untuk duduk-duduk di atas pasir, diikuti pula oleh Mutsu. "Intinya, banyak hal yang berkembang dan berbeda dari zaman ini."

"Dalam arti yang bagus atau jelek?" Mutsu terkekeh.

"Haha, keduanya." Kata sang saniwa. "Mungkin tak seperti yang diharapkan Sakamoto Ryouma."

Senyum canggung terukir di wajah Mutsu. "Ah, jangan begitu. Dia itu orang yang berpikiran terbuka kok."

Jingga matahari sore menyapu permukaan laut dan pantai. Suara-suara burung camar terdengar samar-samar.

"Kamu benar-benar mengetahui banyak hal tentang Sakamoto Ryouma."

Uchigatana berdialek Tosa itu tertawa.

"Aku sudah berada di kediaman Sakamoto sejak zaman kakeknya, lalu aku ikut bersamanya sewaktu ia dappan, keluar dari Tosa-han."

Sang saniwa pernah membaca tentang ini, bahwa pada zaman itu, Jepang yang masih memakai sistem pembagian wilayah daerah -han- yang sangat ketat dan masih menutup diri dari negara asing, belum memakai sistem prefektur.

Keluar tanpa izin dari penguasa daerah setempat -dappan- merupakan pelanggaran serius dan hukumannya adalah mati.

"Meski sewaktu ia kecil aku juga sering melihatnya, kakak lelaki-nya baru mengeluarkanku yang warisan keluarga dari tempat penyimpanan, sewaktu ia dappan." Mutsu membentangkan kedua tangannya. "Lalu kami melihat banyak hal mengagumkan di luar Tosa. Dunia ini luas, sangat luas!"

Antusiasme Mutsu saat membicarakan majikannya yang terdahulu itu mau tak mau membuat sang saniwa ikut tersenyum. Menyenangkan juga mendengarkan uchigatana itu bercerita.

"Impiannya itu hanya satu, agar Jepang keluar dari sistem feodalisme, waktu itu di Tosa perbedaan kelas samurai joshi dan kashi masih diterapkan. " Mutsu mengatakannya dengan berapi-api. "Makanya ia beranggapan bahwa modernisasi diperlukan, agar semua orang memiliki kesetaraan yang sama tanpa diskriminasi."

"Kurasa impiannya itu sudah tercapai, Mutsu. Sakamoto Ryouma adalah orang yang sangat terkenal di negeri ini. Bahkan jauh sebelum zamanku berasal." Balas sang saniwa.

"Wah, benarkah?"

Sang saniwa mengangguk. "Meski disayangkan sekali dia meninggal sebelum melihat Restorasi Meiji..."

"Masa-masa buruk yang tak terlalu kuingat jelas." Kali ini Mutsu tak tersenyum. "Aku hanya tahu Toba-Fushimi, topik yang kurang bagus dibicarakan dengan mereka. Senjata api mulai masuk dan memang lebih unggul. Bahkan pihak Bakufu juga pada akhirnya menggunakan senapan."

Toba-Fushimi, tempat puncak perang antara kekuatan pemerintahan shogun atau Bakufu melawan Kekaisaran. Pihak Kekaisaran memang lebih dulu mengadopsi sistem senjata api.

Sang saniwa terlalu banyak membaca buku sejarah hingga tahu dan mengerti maksud 'mereka' dalam perkataan Mutsu. Shinsengumi berada dibawah Bakufu yang kalah.

Sewaktu mereka menuntaskan musuh di peta area pertama, sang saniwa belum mendapatkan Izumi no Kami Kanesada, tapi ia membawa Mutsu no Kami Yoshiyuki bersamanya.

Perempuan itu menganggut-anggutkan kepala. "Hm, apa ada hubungannya dengan pertengkaran kalian tadi?"

Topik pembicaraan mereka memang sudah berputar cukup lama hanya untuk sampai di pertanyaan ini.

"Apa?" Mutsu mengerjapkan mata. "Oh, yah..."

Mutsu no Kami Yoshiyuki tak berkata-kata lagi selama beberapa saat. Begitu juga dengan sang saniwa yang malah mengubek pasir dengan sebuah kerang cukup besar yang dia temukan di sampingnya.

Pokoknya ia harus tahu apa yang diperdebatkan dua pedang itu, adalah yang ada dalam pikiran sang saniwa.

"Kurang lebih begitu." Uchigatana itu memulai. "Atau lebih tepatnya dia yang mulai mengungkitnya. Mana kutahu persis tentang perang itu."

"Hmm…"

"Si Izumi itu, selalu tak setuju dengan ini." Mutsu mengeluarkan salah satu benda yang selalu terselip di pinggangnya. "Dia berkata hanya seorang pengecut yang menggunakan senjata api."

"Tapi menurutku, tidak begitu." Lanjut Mutsu sambil mengangkat pistol miliknya itu tinggi-tinggi, menelitinya. "Lihat saja Ryouma. Ahli pedang hebat, tapi ia mendukung peradaban baru ini, demi kemajuan negara ini juga."

Mutsu memelankan suaranya. "Ia memakai senjata ini, tapi dia juga berkata, 'Pedang adalah bagian dari jiwa! Untuk mengalahkan musuh, yang penting bukan hanya itu saja, tapi juga kepercayaan dengan dirimu sendiri dan caramu mengatasinya!'..."

Lalu sama cepatnya dengan munculnya nada pelan suara itu, ia kembali tersenyum.

"Dan dengan membawa benda ini, aku akan terus teringat tentang perkataannya itu, juga sebagai tanda usahanya dalam mempertahankan Jepang." Mutsu memutar pistol itu di tangannya. "Yaah, aku sendiri juga adalah sebuah uchigatana, tapi senjata ini memang cukup efektif."

Sang saniwa yang sedari tadi dengan tekun mendengarkan mulai angkat bicara. "Kau ini memang penuh dengan semangat ya, Mutsu."

"Ahaha! Itu mungkin pengaruh Ryouma."

"Hmm…" Gumam sang saniwa. "Jadi kalian sering berdebat tentang itu."

"Izumi no Kami… Dia itu tak pernah mengerti."

"Tentu saja tidak." Sang saniwa meregangkan kedua tangannya.

Saat ini sang saniwa baru merasakan pentingnya ia menjadi seorang pihak dari masa depan, ia merasa sedang seperti memberikan pendapat dalam acara diskusi kelas.

"Maksudku, Kane-san memegang teguh Kyokuchu Hatto, jadi jalan pikirannya berbeda denganmu." Ujar sang saniwa. "Menurutku tidak masalah jika kalian memiliki ideologi sendiri. Hanya saja, ada waktu dan tempat untuk mendiskusikannya."

Mengingat bagaimana tadi sewaktu di kebun Mutsu dan Kane-san sudah nyaris bentrok.

"Tapi menurutku bukan disana letak masalahnya…" Sang saniwa mulai mengingat sesuatu. "Kau tahu bagaimana majikan Kane-san yang dulu meninggal di Hakodate, Mutsu?"

Mutsu mendengus. "Aku saja tak tahu siapa yang sebenarnya membunuh Ryouma."

Ia meringis mendengar nada tajam Mutsu. "...Benar juga, tapi bukan itu maksudku, aku baru ingat kalau Hijikata Toshizou meninggal karena tertembak."

Mungkin karena semilir angin sejuk dan suasana pantai disekitar merekalah yang membuat bahan pembicaraan yang menjadi semakin berat ini terasa tenang.

"Cobalah untuk… Berdamai dengannya, kurasa." Jujur saja sang saniwa bingung harus mengatakan apa. Tentu ia berusaha bersikap netral disini, tapi ia mengerti letak permasalahan kedua toudan tersebut.

"Memang hal semacam ini adalah salah satu hal yang aku tahu akan terjadi, tapi kuharap masalah seperti ini bisa diselesaikan dengan baik." Lalu sang saniwa menambahkan dengan cepat. "Akan kucoba juga untuk berbicara dengannya."

Mutsu tersenyum lebar. "Ahaha, baiklah, akan kucoba!"

Sang saniwa hanya balas tertawa pula.

Ombak bergulung-gulung, angin laut terasa semakin dingin. Matahari sudah sejajar di horizon laut, menandakan senja yang perlahan akan digantikan oleh malam.

"Sebaiknya kita kembali, sudah mulai malam." Sang saniwa bangkit berdiri dan membersihkan hakama biru gelap-nya. "Sepertinya Hori yang memasak untuk malam ini, ayo."

 


 


 

 

Sang saniwa membawa Kane-san dan Mutsu dalam satu pasukan bersamanya saat mereka mengeksplorasi daerah Echizen.

Dan sejauh ini keadaannya baik-baik saja.

"Bagaimana?"

Izumi no Kami Kanesada alias Kane-san bertanya pada sang saniwa yang turun dari kudanya dan tengah meneliti hologram.

"Yah… Ada sesuatu yang agak aneh disini, tunggu sebentar."

Sang saniwa sengaja. Menyuruh Yamanbagiri Kunihiro, Mutsu, Namazuo, Kousetsu, dan Ima no Tsurugi untuk pergi terlebih dahulu memeriksa area di depan mereka karena ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Hasilnya adalah meninggalkannya berdua saja dengan sang tachi -yang datanya masih dipertanyakan antara tachi atau uchigatana.

"Ini tidak aman, kau tahu?"

Kane-san sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam hal strategi.

"Iya, aku tahu. Aku hanya perlu membicarakan sesuatu denganmu."

Toudan berambut panjang itu mengernyit bingung.

"Apa kau masih marah pada Mutsu?"

Sang saniwa melirik Kane-san, menunggu jawaban. Hologram menunjukkan titik-titik bergerak para toudan yang berada jauh di bawah jalan berbukit ini.

"Tidak."

"Yang benar nih?"

"Kubilang tidak, kenapa sih?" Balas Kane-san sengit.

Sang saniwa mengangkat kedua tangannya di udara. "Aku hanya bertanya, ini salah satu tugasku sebagai saniwa, hm?" Ditepuk-tepuknya punggung personifikasi pedang yang lebih tinggi darinya itu. "Kemarin aku sudah mendengar penjelasan Mutsu, bagaimana denganmu?"

Izumi no Kami Kanesada menghela napas. "Sudahlah, bukan apa-apa-"

"Masalahnya kalau kalian berdua berdebat terus sampai membuat rusuh citadel, aku harus memberi tindakan keras untuk kalian berdua." Potong sang saniwa. "Nah, aku tak ingin sampai seperti itu. Kalian semua para toudan ada disini kan untuk membantuku melawan para musuh, bukan untuk saling bertengkar satu dengan yang lain."

Helaan napas Kane-san semakin panjang dan sang saniwa hanya bisa nyengir.

"Wanita keras kepala."

"Trims."

Kedua kuda yang ada disamping mereka bergerak-gerak gelisah. Samar-samar mulai terdengar suara ramai, denting besi bertemu besi, dan terdengar pula sebuah suara tembakan.

"Si bodoh itu masih juga menggunakan senjata itu." Gerutu Kane-san. "Aku hanya percaya pada kemampuan dan keindahan pedang. Itu sebabnya aku kesal. Memakai senjata api seperti itu…"

Sang saniwa terdiam mendengarkan. Memang cara bertarung Kane-san yang ia lihat selama ini sangat elegan dan cepat, mampu menjadi bahan topik pembicaraan 1 jam penuh semangat dan kekaguman oleh Horikawa.

"Oh." Sang saniwa mengerjapkan mata. "Benar juga. Kalian belum pernah berada dalam satu party seperti sekarang ya?"

Sang tachi kebingungan dengan perkataan sang saniwa itu. Antara dia memang pelupa atau karena sistemnya yang membuat satu pasukan berisi dengan para toudan yang levelnya sama.

Sang saniwa mengajaknya bergerak sedikit lebih jauh, dan menunjuk ke arah para toudan lain yang sedang bertarung.

Izumi no Kami Kanesada teralihkan perhatiannya ke arah sang pembuat suara tembakan, Mutsu. Tetapi kemudian uchigatana itu menyarungkan kembali pistolnya, bertarung dengan satu tangan dengan tachi musuh. Gerakannya cepat dan fokus, mantap tanpa memakai gerakan yang tak diperlukan, khas aliran Hokushin Ittou-ryuu yang dipelajari seorang Sakamoto Ryouma, namun memiliki keunikannya dan improvisasi sendiri, cara bertarung yang tak pernah dilihatnya.

Ia tak mau mengakui kalau ia kagum saat ini. Lagipula ia jadi teringat Itou Kashitarou yang juga menggunakan aliran itu -meski sebenarnya juga mengingatkannya pada anggota Shinsegumi lain seperti Yamanami Keisuke dan Toudou Heisuke.

Entah kenapa ia merasa kesal sendiri.

"Jadi, kau belum pernah melihatnya caranya bertarung saat ini, Kane-san?"

Kane-san tak menjawab pertanyaan itu. Seharusnya mereka fokus dengan keadaan sekitar dalam situasi seperti ini. "Lihat, mereka sudah selesai bertarung, sebaiknya kita-"

Ringkikan kedua kuda mereka langsung membuat sang tachi berbalik ke belakangnya dan menarik keluar pedangnya. "Apa-apaan ini...!"

Sang saniwa memandangi hologramnya dengan raut wajah tak terbaca. "Aah, sial, disini letak keanehannya…"

 

###

 

Suara familiar horagai membuat Mutsu menoleh ke arah bukit dimana sang saniwa masih berada.

Tiupan cepat tiga kali dari alat pemberi sinyal berbentuk kerang yang selalu dibawa sang saniwa saat mereka keluar ke area luas seperti ini sontak saja membuat mereka berlima kaget. Mundur, begitu artinya.

"Ada apa? Kita kan sudah mengalahkan pasukan musuh?" Ima no Tsurugi berkata keheranan.

"Ada yang tak beres, apa dia tak melihat dari layar anehnya itu kalau musuh disini sudah...?" Gumam Yamanbagiri Kunihiro.

Mutsu dan Ima sudah berlari cepat, Yamanbagiri Kunihiro menyempatkan diri untuk menyambar sebuah pedang yang dijatuhkan musuh mereka yang kini mulai melebur ke udara sebelum mengejar keduanya. Namazuo harus menarik lengan pakaian Kousetsu agar tachi itu mempercepat doa-doanya di depan apa yang tersisa dari musuh-musuh mereka yang mulai melebur juga.

Ketika mereka sampai di atas bukit, sebuah pemandangan mengejutkan menanti mereka.

Ima segera melompat ke arah tantou musuh terdekat. Dengan levelnya yang tinggi, musuh di area ini hanya membutuhkan satu tebasan bilah pedang kecilnya. Dan kemudian tantou itu melesat untuk membantu sang saniwa.

Mutsu tak pernah melihat sang saniwa bertarung. Saat ini pun, ia tak bertarung, namun hanya menahan serangan pedang dari seorang tachi musuh, berdiri beberapa kaki dari para kuda yang memang sudah dilatih agar tetap tenang dalam keadaan seperti ini. Tangan sang saniwa dengan tenang dan sigap membuka dan menutup kipas biru miliknya, yang berdentang setiap bertemu dan menepis permukaan pedang.

Ia baru tahu kalau kipas itu bukan kipas biasa, melainkan sebuah tessen.

Yamanbagiri Kunihiro dan Namazuo membantu Kane-san menghadapi yari dan tachi musuh lainnya, Kousetsu menggumamkan sesuatu sebelum menghalangi sebuah yari musuh yang hendak menyerang Mutsu dari samping.

Sang uchigatana dengan pistol yang tersampir di pinggangnya itu menghitung cepat, biasanya musuh mereka berjumlah sama dengan-

Mutsu merutuk dan meraih Smith & Wesson model 2 .32 miliknya. Tiga dari kelima pelurunya sudah termuntahkan keluar pada pertarungan sebelumnya dan membantunya mengalahkan dua musuh.

Ia berlari. Dua peluru terakhirnya ia arahkan sosok yang tiba-tiba muncul di dari arah kiri Izumi no Kami Kanesada.

Suara tembakan terdengar dan sesuatu berdesing tepat di sampingnya, mau tak mau membuat Kane-san menyadari keberadaan satu tachi musuh yang muncul tiba-tiba disampingnya.

Namazuo mengambil alih yari musuh yang sedang dihadapinya dan menghalaunya ke sisi lain.

Waktu yang Mutsu butuhkan untuk mengganti isi peluru terlalu lama.

Baik Mutsu no Kami Yoshiyuki maupun Izumi no Kami Kanesada, keduanya telah siap dengan pedang mereka di tangan.

Tachi musuh yang terhuyung-huyung itu teralihkan perhatiannya ke arah datangnya tembakan, dan detik berikutnya pedang Kane-san sudah selesai menebasnya dengan satu ayunan tajam di satu sisi, dan tusukan kilat pedang Mutsu di sisi lainnya.

Ambruklah musuh terakhir dari pasukan tambahan yang menyerang mereka itu.

"Aruji, anda baik-baik saja?" Tanya Namazuo saat sang saniwa, dengan Ima no Tsurugi sudah menempel di punggungnya seperti koala, datang berlari ke arah mereka.

Sang saniwa mengangkat ibu jarinya. "Baik-baik saja! Whew, untung kalian segera datang. Nyaris saja kami diserang tiba-tiba begitu."

"Kenapa dua pasukan musuh bisa langsung menyerang bersamaan seperti ini…" Gumam Kousetsu.

"Entahlah…" Sang saniwa kembali membuka hologram. "Tapi tenang saja, tak ada lagi tanda-tanda aneh di area ini."

Mereka sibuk berdiskusi singkat, tapi sang saniwa masih sempat melihat dua toudan yang berdiri cukup jauh dari mereka, membuatnya tersenyum puas sendiri.

Mutsu dan Kane-san sudah saling melotot, tapi yang pertama kali memecahkan suasana adalah sang uchigatana berdialek Tosa itu.

"Yah, maaf karena dirimu harus diselamatkan oleh sebuah peluru." Ujar Mutsu sambil menyeringai.

"... Tidak apa." Izumi no Kami Kanesada mendecih kecil.

"He?"

"Teknikmu dalam mengalahkan musuh lebih bagus dari yang kukira." Kane-san mengernyit. "Jadi menggunakan senjata api, kurasa tidak apa-apa- OI!"

"Ahaha, tentu saja teknikku bagus! Kalau senjata api ini tak berfungsi, tentu saja aku harus menggunakan pedang untuk bertarung, Izumi!"

Yamanbagiri Kunihiro hanya menghela napas melihat pemandangan dihadapannya, dimana Mutsu menepuk keras bahu Kane-san dan akhirnya mereka berdua pun ribut kembali, kali ini Ima sudah meloncat dari sang saniwa dan ikut bergabung dengan Namazuo yang kini juga menambah keramaian dengan mengatakan sesuatu yang membuat pedang wakil komandan Shinsengumi semakin kesal.

"Ah, lega jadinya." Ujar sang saniwa puas, lalu menoleh ke arah Yamanbagiri Kunihiro. "Iya kan?"

"Hmph." Yang di ajaknya berbicara hanya tersenyum simpul. Dirasakannya sebuah tepukan di bahu, dan ia menoleh hanya untuk mendapati Kousetsu Samonji yang menunjuk sesuatu digenggamannya.

"Siapakah itu?"

"Ah, iya." Yamanbagiri Kunihiro menyerahkan sebuah pedang yang ia ambil tadi pada sang saniwa. "Ini dijatuhkan oleh pasukan musuh pertama tadi."

Tangan sang saniwa memutar pedang tersebut, menelitinya. Sebuah uchigatana lagi, sarung pedangnya unik. Kemudian ia membuat gerakan seperti menjumput udara, sebuah hologram muncul di atas pedang tersebut.

"Ooh…!" Sang saniwa terkesiap, lalu dengan antusias berteriak. "Hei, kalian! Kita dapat anggota baru!"

Sungguh sebuah hari yang menyenangkan dan melegakan bagi sang saniwa. Mutsu dan Kane-san sudah saling berbaikan, dan kini ia mendapatkan Hachisuka Kotetsu.

Sang saniwa nyaris bersalto setinggi lompatan Ima no Tsurugi.

 

 

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : OOC, OC, headcanon author,  typo,  interpretasi sejarah dengan referensi seadanya .

 


 


 

Sang saniwa termasuk orang yang mengikuti kemajuan teknologi di zamannya, namun ia dibesarkan dalam keluarga yang menjaga keseimbangan antara hal tradisional dan kemajuan teknologi, sehingga waktu luangnya lebih banyak digunakan untuk membaca buku-buku yang koleksinya tak kalah dari yang ada di perpustakaan zamannya, dan kebiasaan itu bertahan sampai sekarang.

Seperti sekarang misalnya, sang saniwa tengah membaca berita dan artikel-artikel 'koran' dari masanya.

Ima no Tsurugi sedang tidur siang, sehingga acara membacanya saat ini bisa berjalan lancar tanpa rambutnya yang disisiri dan berusaha diikat oleh sang tantou yang cepat bosan bila tak ada aktivitas –bermain, bukan disuruh bekerja di kebun. Biasanya Ima no Tsurugi sering mengajak bermain para tantou lain, terutama Sayo, tapi tantou pendiam yang oke saja diajak bermain itu kini lebih sering menghabiskan waktunya dengan Souza dan Kousetsu Samonji.

Kasen Kanesada dan Hachisuka Kotetsu, dua dari lima uchigatana starter yang sudah lengkap berada di citadel ini, lebih sering membicarakan literatur yang umurnya sangat jauh dari bahan bacaan dan artikel yang dimengerti oleh saniwa, jadi perempuan itu jarang ikut membicarakan tentang bahan bacaan keduanya.

Contohnya;

[/Tes kepintaran robot kembali menjadi pembicaraan hangat-]

Judul artikel seperti itu sempat membuat Gokotai dan Atsu yang mengintip dari balik punggungnya bertanya selama 30 menit penuh tentang apa yang sebenarnya yang sedang ia baca.

Ia termasuk orang yang masih terkagum-kagum dengan kecepatan perubahan teknologi semacam ini, meski tak mau berurusan dengan teknik pembuatannya. Sang saniwa sendiri tak tahu dia hendak menjadi apa sewaktu ia masih bersekolah, dia adalah orang yang simpel, tak ingin repot, mengambil kuliah saja hanya untuk mengambil gelar sejarawan, tahu-tahu nasib membawanya ke posisi dimana ia berhubungan dengan proyek kembali ke masa lalu ini.

Untung dia tak harus berurusan dengan mesin dibagian kontrol.

Angin semilir masuk dari pintu yang tergeser setengah dan memberikan pemandangan langsung ke arah bangunan penempaan dan kebun bunga, suasana yang seperti ini nyaris membuat sang saniwa tertidur. Jarinya menggeser hologram ke halaman selanjutnya.

[/Perusahaan xxxx Kembali Mengajukan Rencana Pembuatan Game Virtual Reality-]

Sang saniwa mendengus. Mereka setidaknya punya 3 anime yang membuktikan bahwa hal tersebut sangat berbahaya, sehingga perusahaan hak paten hologram dan perusahaan proyek ini -keduanya perusahaan teknologi terbesar di negeri ini- terus menolak rencana tersebut.

Ironisnya, pembuatan game semacam itu tak pernah diberi persetujuan karena proyek kembali ke masa lalu ini saja sudah dianggap beresiko dan memakan banyak biaya.

Ia menguap lebar, menutup hologram dan menggantinya dengan hologram berwarna lain, semacam hologram profil pribadinya yang berisi berbagai macam hal mulai dari isi kontak pribadi sampai sistem pemantau khusus proyek ini.

Salah satunya yang paling sering ia kunjungi dan menjadi bahan bacaannya adalah forum khusus proyek ini, sebuah forum berkumpul khusus para saniwa seperti dirinya.

[/Resep Jiji yang kucoba itu 400/700/500/400 dengan Ema!]

Nah ini. Baru dibuka sudah ada judul topik pembicaraan besar seperti ini.

Memang akhir-akhir topik favorit saat ini adalah cara dan resep untuk mendapatkan sang pedang legendaris yang katanya sudah memiliki detail data lengkap dan tinggal dicari saja.

"Hmm…"

Otak sang saniwa mulai berpikir cepat, haruskah ia diam di titik aman atau pergi menerjang kenekatannya.

Sebuah pertanyaan sia-sia dan retoris.

###

"Hari ini aku ingin mencoba menggunakan ema lagi."

Satu hari lagi dimana sang saniwa menyeret citadel-nya ke ambang kebangkrutan dan sudah pasti membuat seorang Kasen Kanesada mengurut keningnya sebelum curhat kepada Izumi no Kami Kanesada yang bercerita pada Horikawa yang bercerita pada Yamanbagiri Kunihiro yang kemudian menjewer sang saniwa.

Makanya Yamanbagiri Kunihiro sudah tidak berekspresi apa-apa lagi setiap sang saniwa memiliki impuls untuk menghabiskan persediaan penempaan pedang citadel.

"Kau tahu, aku mulai meragukan benda yang kau sebut ema ini."

"Jangan begitu, percayalah sedikit kalau benda ini bisa membawa keberuntungan."

"Keberuntungan 100 Yasusada, maksudmu."

Sang saniwa menyedot hidungnya dengan sedih di kain tudung Yamanbagiri Kunihiro. Uchigatana satu ini selalu berhasil membuatnya baper.

Entah mengapa ia harus diberi wujud sebagai seorang pemuda yang paling sering merasakan yang namanya migrain. Kalau sang saniwa memiliki impuls untuk menghamburkan persediaan, Yamanbagiri Kunihiro memiliki impuls untuk mengunci kepala sang saniwa dan menjitaknya. Hal itu pernah ia lakukan sekali, dan perempuan itu malah meringis jenaka. Tengkorak kepala sang saniwa memang keras.

Sang uchigatana sudah mulai belajar untuk tidak menyimpan pikiran memusingkan lama-lama dalam kepalanya.

"...Kau yakin?" Tanya Yamanbagiri Kunihiro yang sudah bersiap memberikan ema pada sang pandai besi kecil.

"Lempar ema-nya, lempaar!" Sang saniwa mengibaskan kipas lipatnya dengan sikap yang sengaja dibuat semangat padahal pasrah.

"Hmm." Mungkin setelah ini ia harus meminta Horikawa untuk memasakkan makanan favorit sang saniwa untuk makan malam kali ini. Saudara satu penempanya itu sudah hafal betul makanan favorit setiap mahluk di citadel ini.

Sebuah hologram muncul disampingnya, dan sang saniwa mengintip takut-takut dari balik kipas lipatnya.

'Kalau 01:30:00 lagi tidak apa-apa deh, hidup ini memang tidak ada yang berjalan lancar, roda kehidupan itu selalu berputar, dimana-mana kehendak RNG itu absolut, RNG always win,RNG adalah dewa yang tak mengenal belas kasih, atau memang para orang atasan itu sengaja menciptakan RNG seperti ini karena alasan biaya atau semacamnya, amin saja kalau benar bisa Mikazuki Munechika, tunggu, mungkin kalau aku membersihkan ruangan ini akan ada variabel RNG yang berubah, atau itu tidak ada hubungannya? Ah kenapa pula cara mendapatkan data pedang harus bergantung pada keberuntungan buta seperti ini, ya kalau timernya 03:20:00 lagi boleh lah, tapi setelah kemarin itu keberuntunganku memang seperti tersedot habis, jangan khilaf, sekarang saja timernya 03:59:48 ya beginilah nasib itu tidak ada yang- HM?'

Mata sang saniwa membesar seperti bola-bola troops.

"HMMM?!"

Sang saniwa berusaha membesarkan hologram itu sebesar yang ia bisa. Lima kelopak bunga dan lambang tachi.

Rasanya ia harus memeriksakan diri ke dokter mata.

"Kenapa? Apa kau perlu kuguncang lagi atau perlu tetsudai—"

"Jangan!" Sang saniwa menyabetkan tangannya ke arah Yamanbagiri Kunihiro. "Tampar aku dulu—Tidak, pukul aku!"

"Haah?!"

Yamanbagiri Kunihiro sih mau saja, tapi tumben sang saniwa menawarkan diri.

"Ini nyata…!" Suara sang saniwa bergetar. Wajahnya tampak memucat dengan sebelah pipi yang merah dan berdenyut-denyut. Tangannya bergetar ketika menerima bilah pedang yang diangsurkan si pandai besi kecil yang kali ini senyumannya menyiratkan 'selamat, kuota keberuntunganmu bulan ini lenyap!'.

Efek yang muncul ketika bilah tersebut dibangkitkan berbeda. Bilah pedang indah itu seakan tertimpa cahaya, menonjolkan bentuk lengkungan pola iregularnya dan melebur didampingi bias pelangi, kelopak-kelopak bunga yang bertebaran berputar dengan sebuah pola indah pula.

Keadaan sang saniwa saat ini bisa disamakan ketika dulu sewaktu SMA ia menaiki White Cyclone di pembukaan Nagashima Spa Land yang baru. Awalnya antusias, lalu terguncang, lalu berkata 'cukup sekali saja nyawaku nyaris melayang'.

Kenapa ia tiba-tiba merasa seperti itu? Karena yang muncul di hadapannya sekarang adalah personifikasi tachi Sanjou legendaris, Mikazuki Munechika.

"Mikazuki Munechika. Mereka memanggilku seperti itu karena—"

"HhhhhhhhhHHHHHHHHHHHOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!?"

Sang saniwa meninju udara, memutar-mutar si pandai besi kecil seperti berdansa, lalu mengguncang-guncang Yamanbagiri Kunihiro, bahkan mengecup pipinya hingga uchigatana itu melongo.

Mikazuki Muchika yang ada dihadapannya hanya tertawa 'ha ha ha'.

Kelopak-kelopak bunga sakura yang bertebaran rasanya terlihat lebih indah.

 


 


 

 

Ima no Tsurugi mulai merasa bahwa sang saniwa tak sayang padanya.

"Kenapa malah Mikazuki yang datang?" Tantou itu menggembungkan pipi, bagian belakang baju sang saniwa sudah digenggamnya dengan sangat erat.

"Ima-chan jangan begitu." Bisik sang saniwa kebelakangnya. "Yang ramah dong, kalian kan satu kelas penempa…"

"Aku maunya Iwatooshi!"

"Hahaha, tidak apa-apa. Mereka yang bersabar biasanya akan mendapat hasilnya, saniwa-san."

"Mikazuki-san…!" Sang saniwa ingin menangis terharu rasanya sejak kedatagan tachi legendaris ini. Menangis dalam artian positif dan negatif karena pembawaannya yang seperti orang tua kadang membuatnya terbawa suasana santai, tapi tanaman terong di kebun nyaris jadi korban dari tachi yang ternyata tak tahu cara berkebun ini.

Di sisi lain, sang saniwa sebenarnya berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau keputusan membawa Mikazuki Munechika langsung ke lapangan adalah sesuatu yang benar. Karena di dalam pikiran perempuan itu biasanya keadaan sempurna seperti ini paling rentan diterpa badai ganas.

"Siap kan? Kalian semua siap kan?" Sang saniwa memutar kudanya untuk menghadap ke arah pasukan mereka yang akan memasuki daerah Azuchi hari ini. Ima no Tsurugi yang berkuda bersamanya masih menggembungkan pipi ke arah Mikazuki yang hanya tertawa. Namazuo sedang mengatakan sesuatu pada Sayo yang duduk di depannya. Ookurikara hanya mendengus. Semuanya memiliki tingkat kekuatan yang cukup tinggi, kecuali Mikazuki yang baru ia dapatkan.

"Kenapa sekarang malah kau yang gugup?" Yamanbagiri mengernyit ke arahnya. Mereka semua sudah melakukan hal ini berkali-kali dalam keseharian mereka dan sang saniwa dengan percaya diri akan memimpin mereka di depan.

"Entahlah… Membawa seorang Mikazuki Munechika yang langka…" Sang saniwa mulai merasakan keringat dingin. "Tunggu, kalian semua sudah kuberikan omamori kan?"

Semuanya mengangguk. Kalau soal keamanan, harta pun tak akan ia segan-segan pakai.

"Apa kita mulai saja lagi dari peta Aizu?" Usul Namazuo.

"Tidak, tidak, daerah itu sudah tidak cocok lagi untuk menambah kekuatan kalian… Sekalian disini saja- Mikazuki-san, anda siap?"

Mikazuki tersenyum. "Selalu siap kapan pun anda mau."

Sang saniwa membenahi letak pedang kecil yang ia sampirkan di pinggangnya dan letak kipasnya, memantapkan hati dan berharap semua berjalan dengan lancar.

###

Namazuo Toushirou awalnya maklum saja melihat sang saniwa yang sedikit-sedikit melirik khawatir ke arah pedang terbaru di pasukan mereka kali ini. Kata sang saniwa, tachi yang umurnya tua itu susah sekali didapatkan, maka akan sangat sakit hati rasanya kalau nanti Mikazuki terluka berat. Tapi mau bagaimana lagi, sejak pindah ke area yang mereka sebut dengan 'peta daerah ke 3', sang saniwa akan selalu membawa beberapa toudan yang baru datang bersama mereka yang memiliki kekuatan cukup tinggi untuk langsung melawan musuh disini.

"Apa saniwa-san selalu seperti ini?"

Namazuo menoleh ke arah kanannya, untung saja Sayo sedang tak mengenakan topinya. "Tidak, kali ini karena Mikazuki-san ada disini."

Mikazuki tertawa kecil. "Semua yang kutanyai berkata seperti itu. Ah, aku jadi merasa tak enak hati."

"Mungkin kalau nanti anda berhasil menyelesaikan daerah ini tanpa luka, baru aruji bisa tenang."

"Hmm, begitukah."

Kuda sang saniwa berbelok ke kiri, dan mereka semua mengikutinya. Kuda Namazuo berada sedikit di belakang.

"Dan beberapa waktu yang lalu ada kejadian aneh." Tambah Namazuo. "Dua pasukan musuh menyerang sekaligus, hanya sekali itu saja sih, tapi aruji masih khawatir akan terjadi hal seperti itu lagi."

"Jadi, tak harusnya seperti itu?"

"Yah… Begitulah." Wakizashi itu sendiri sebenarnya tak terlalu memahami penjelasan sang saniwa mengenai 'sistem dari pusat seharusnya meminimaliskan jumlah musuh agar pertarungan tak terjadi dalam rentang waktu yang bertubi-tubi.

Mereka kembali memasuki dataran yang pepohonannya mulai jarang dengan cukup banyak bukit.

"Apa anda sempat bertemu dengan Honebami di citadel?"

Tiba-tiba Namazuo balik bertanya, dan kali ini Mikazuki Munechika yang menoleh keheranan, sebelum kemudian wajahnya berubah normal lagi karena mengingat sesuatu.

"Aah, benar juga, Namazuo bersaudara dengan Honebami ya? Hm, kemarin lusa aku berpapasan dengannya di dekat taman."

"Apa dia… Mengingat sesuatu?"

Kembali senyuman khas Mikazuki terbentuk di wajahnya. "Sama sekali tidak. Kudengar dari Ima no Tsurugi kalau kau dan Honebami kehilangan ingatan kalian?"

Hal tentang kehilangan ingatan yang dialami olehnya dan Honebami Toushirou sudah pernah dibicarakan oleh sang saniwa. Malah saat itu keduanya dipanggil ke kamar sang saniwa, duduk menunggu dan memperhatikan bagaimana sang saniwa menghubungi orang pusat lewat hologramnya dan berdiskusi dengan Konnosuke. Awalnya sang saniwa mengira ada kesalahan teknis dalam data yang didapatkan, namun ternyata data mereka yang ada memang seperti itu.

("Maaf ya, Namazuo, Honebami.")

Waktu itu ia hanya saling berpandangan dengan saudara wakizashi-nya, lalu tertawa renyah dan berkata agar sang saniwa tak perlu khawatir. Namazuo sendiri tak bermasalah dengan ini.

Meski Honebami hanya menggelengkan kepala dan berkata 'tak apa', sekilas Namazuo dapat melihat suatu sirat kesedihan di wajah datar itu.

"Aruji menceritakan beberapa hal yang ia baca tentang kami dan memberikan beberapa buku untuk dibaca." Kata Namazuo. "Tapi tentu berbeda rasanya, jadi kukira kalau berbicara dengan Mikazuki-."

"Namazuo."

Suara Sayo mengalihkan perhatiannya. Sang saniwa sudah memberikan isyarat agar mereka bersiap-siap dengan pasukan musuh yang mulai terlihat. Formasi horizontal. Sang wakizashi memastikan bila Mikazuki mengerti isyarat tersebut, dan ternyata tachi tersebut sudah mengerti. Memang setiap toudan yang baru datang akan langsung diberikan seminar singkat oleh sang saniwa sebelum dimasukkan ke dalam pasukan.

Ya, tuan mereka itu harusnya tak perlu khawatir, pikir Namazuo. Karena Mikazuki Munechika beraksi dengan tenang dan bahkan teknik berpedangnya bagus. Dua kali ia dibantu oleh Mikazuki -dan juga Ima no Tsurugi yang entah mengapa sepertinya masih dalam mode ngambek dan mengadakan kompetisi sepihak dengan tachi tua yang selalu tertawa itu. Apalagi kali ini perjalanan mereka menuju node boss daerah itu termasuk cepat.

"Bagaimana, apa saniwa-san sudah percaya dengan kekuatanku?" Dengan senyum tenang Mikazuki berkata pada sang saniwa.

Sang saniwa meringis malu.

"Iya, sedari tadi aku khawatir karena setahuku Mikazuki-san itu belum pernah digunakan untuk bertarung." Kata sang saniwa jujur. "Tapi manusia macam apa aku ini kalau membangkitkan anda hanya untuk menjadi pajangan lagi? Dan teknik anda tadi memang hebat. Ya kan, Ookurikara?"

"Kenapa kau malah bertanya padaku?"

Sang tachi Sanjou terdiam beberapa saat sebelum tertawa lagi untuk yang kesekian kalinya.

Menonjolkan pola unik yang merupakan ciri khas penempaan cara lama yang ada pada bilahnya. Tebal dan tipis merata, perbedaan keras besi yang dipakai, menyerupai bulan sabit. Kehebatan sang pedang indah bukanlah pada fisik bilahnya, namun dari teknik bertarungnya.

Indah bukan berarti rapuh adalah pelajaran yang bisa dipetik oleh sang saniwa.

 


 


 

 

"Apa ini yang anda sebut sebagai skinship?"

Tapi ternyata kehebatan Mikazuki Munechika yang kemarin ia lihat ada efek sampingnya. Ia tarik kembali pelajaran yang ia petik kemarin.

"Ya ampun Mikazuki-san, ini hanya pijat biasa..."

Setelah dibuat panik rutin oleh para harimau Gokotai yang kali ini menceburkan diri dan berenang di kolam, perempuan itu didatangi oleh Sayo yang datang dengan wajah horor yang otomatis langsung ia asumsikan adanya keadaan darurat siaga satu ; dan memang seorang Mikazuki Munechika yang berbaring setengah hidup di depan kandang kuda merupakan pemandangan yang membuat sport jantung.

("Dia akan baik-baik saja." Cetus Honebami kalem, yang kemudian mengernyit sendiri karena mengatakannya seakan hal itu sudah sering ia lihat.)

"Ternyata tulang punggungku mulai bermasalah, hahaha." Mikazuki tengah berbaring menelungkup dan sang saniwa mulai merasa aneh juga karena toudan satu ini benar-benar seperti pria tua renta.

Pintu ruangan ia biarkan bergeser terbuka, membiarkan udara segar masuk dan suara-suara para tantou yang sedang bermain di taman tengah terdengar samar-samar. Sambil mengganti handuk dari baskom berisi air panas, sang saniwa tersenyum sendiri mendengarkan suara nyanyian Ima dan Midare. Beberapa hari ini, sejak ia berhasil menepati janjinya untuk membelikan bola temari untuk Ima yang langsung tidak mengambek lagi, lagu ini memang sering terdengar setiap mereka memainkan temari ;

"Anta gata doko sa? Higo sa
Higo doko sa? Kumamoto sa
Kumamoto doko sa? Senba sa
Senba yama ni wa tanuki ga otte sa
Sore o ryoshi ga teppo de utte sa
Nite sa, yaite sa, kutte sa
Sore o konoha de choito kakuse~"

Baiklah, beberapa lagu anak-anak itu memang menyeramkan karena tangga nada tradisional yang digunakan, apalagi ada lagu dengan arti liriknya yang bisa dipikirkan secara literal, tapi menenangkan juga mendengarkan lagu tersebut karena kehidupan di citadel ini jadi terasa lebih hidup.

"Apa anda pernah bermain dengan higo temarisaniwa-san?"

Rupanya Mikazuki juga mendengarkan.

"Ah… Sekali saja, rasanya." Sang saniwa bersyukur ia membawa P3K berisi Salonpas super besar meski awalnya ia sendiri tak tahu mau digunakan untuk apa benda itu. "Beberapa permainan tradisional hanya tinggal teori saja, di masaku."

"Bagaimana dengan karuta?"

"Yang dengan nyanyian itu?"

"Tidak, tidak, yang satunya lagi."

"Cara bermainnya kan banyak…"

"Hahaha, benar juga."

"Tapi kalau kendo, iya. Di zamanku berasal, masih ada kendo." Sang saniwa menyuruh Mikazuki untuk duduk dan menggunakan siku untuk memijat bahunya. "Sering jadi jihou kalau pertandingan regu."

"Oh? Tetapi kenapa saniwa-san tidak menggunakan pedang untuk bertarung?"

"Boleh dong." Jawab sang saniwa kelewat cepat. "Aku punya pedang sih, tetap kubawa, tapi kan ada kalian. Tessen lebih bagus untuk pertahanan diri."

"Begitukah…" Mikazuki hanya bisa memanggut-manggutkan kepala.

Gratak.

Sang saniwa sport jantung lagi sampai menyentakkan kedua tangan di udara. Tulang pinggang Mikazuki tadi sudah berbunyi dan sekarang ada bunyi lagi. Ini tulangnya dari besi atau bagaimana sih?

"Saniwa-san… Sebenarnya aku mempunyai beberapa pertanyaan tentang… Proyek ini."

"Hmm?!" Sang saniwa masih kaget, kemudian menyadari bahwa tachi tersebut sedang membuka topik serius.

"Bagaimana sebenarnya kami para tsukumogami dibangkitkan? Tak semua manusia memiliki kekuatan spiritual yang cukup untuk itu."

Perempuan itu terperangah dan meneliti ekspresi serius toudan tersebut sambil mengernyit. "Apa itu tadi bunyi tulang tengkorak anda, Mikazuki-san?"

"Hahaha, rasanya bukan."

Ah, baiklah, kali ini benar-benar serius, pikir sang saniwa.

"Langsung ke poin utamanya ya…" Sang saniwa berusaha mengatur jawabannya. "Bagaimana menjelaskannya… Orang-orang di zamanku berasal berhasil menemukan cara menggunakan teknologi untuk menunjang kekuatan spiritual. Hanya membantu lho, bukan menambah kekuatan spiritual. Lalu melalui kamilah, para saniwa, data kalian para tsukumogami –para toudan- bisa dibangkitkan. Data-data itu didapatkan dari bentuk bilah kalian."

"Aku juga penasaran dengan kondisi tubuh manusia seperti anda yang bisa pergi ke masa lalu."

"Kami para saniwa, maksudmu?" Kata sang saniwa. "Ada semacam seleksi kecil, memeriksa tingkat energi spiritual dan fisik, kalau tidak lolos berarti fisik tubuhnya tak cocok untuk tugas seperti ini. Kebanyakan orang yang dipilih pun ada yang tidak lolos di bagian pemeriksaan energi spiritual karena tak sesuai dengan batas yang ditentukan, juga karena fisik kurang cocok." Ia belajar agar tak menjelaskan proses perpindahan benda fisik secara detail sejak Akita, Maeda, dan Atsu memucat ketakutan mendengar penjelasannya. Atau mungkin penjelasannya waktu itu diasumsikan sebagai 'bagian tubuh manusia yang bisa diurai'? Aslinya sih tak seperti itu.

Sang saniwa menunggu pertanyaan lain, tangannya berhenti memijat sebentar karena pegal.

"Lalu… Apakah citadel ini juga berganti teritori waktu." Tak lama kemudian Mikazuki bertanya lagi. "Setiap kali kita pergi untuk melawan musuh, daerah dan waktunya berubah, bukan?"

"Tak persis seperti itu." Dalam otaknya, sang saniwa pusing sendiri bagaimana harus menjelaskan hal ini dengan sederhana. "Koordinat teritori waktu citadel ini sudah ditentukan berada di timeline dan daerah yang jauh dari daerah peperangan atau konflik pada tanggal-tanggal yang ada dalam sejarah. Kita mencari teritori waktu musuh yang berbeda setiap kali kita melewati portal."

"Jadi, banyak teritori waktu yang sebenarnya bisa didatangi?"

"Kurang lebih…. Seperti itu." Belum lagi dengan berbagai sugesti tentang kemungkinan menembus teori parallel universe, proyek kembali ke masa lalu ini saja masih memiliki berbagai hal yang harus diperkuat dan diperbaiki. "Ah sudahlah, jangan terlalu dipusingkan. Aku sendiri tak terlalu mengerti. Yang penting aman. Kita juga tidak mengganggu warga desa yang ada, citadel ini tak akan bisa dilihat oleh orang lain."

"Hahaha, maafkan pertanyaan-pertanyaanku ini ya."

"Tak masalah, para toudan yang lain awalnya juga bingung. Itu hal yang wajar." Sang saniwa mengibaskan tangan.

Samar-samar terdengar suara Yasusada dan Horikawa yang memanggil para tantou, berkata bahwa makanan ringan buatan Horikawa sudah siap dihidangkan.

"Apa ada pedang yang anda inginkan saat ini?" Dan sesi tanya jawab mereka pun berlanjut.

Ya kamulaaah, batin sang saniwa dalam hati. "Tidak juga, kenapa memangnya?"

"Apa anda tidak menginginkan pedang yang sangat kuat?" Ujar Mikazuki setengah terkantuk, keenakan dengan pijatan sang saniwa. "Misalnya… Ame no Murakumo no Tsurugi?"

Sebuah tawa keras mendadak dari sang saniwa membuat Mikazuki tidak mengantuk lagi, apalagi pundaknya untuk sesaat tadi malah dipukul bukannya dipijat.

"Kusanagi no Tsurugi? Wah, rasanya tak mungkin." Sang saniwa masih tertawa kecil. "Proyek ini tak bisa mencapai teritori waktu zaman Joumon sejauh itu –mungkin lebih jauh lagi. Lagipula, datanya tak mungkin di dapatkan karena pedang itu didasarkan dari mitologi dan keberadaannya tidak diketahui, jadi tak mungkin mendapat datanya."

Ia sebagai kandidat saniwa, dulu harus mengikuti sosialisasi tentang proyek ini, dan waktu itu penjelasannya adalah jarak waktu terjauh yang bisa dicapai hingga saat ini adalah periode Heian. Jika bisa sampai ke periode transisi Yayoi ke Nara pun, mungkin hanya ada beberapa data chokutou yang bisa berfungsi. Lagipula musuh mereka tidak menandakan kemunculan pada masa sejauh itu, dan dijelaskan pula bahwa Kusanagi hanyalah sebuah mitos legenda, kalau ada pun pasti susah mendapatkan izin untuk mengambil datanya, hal yang melibatkan kerepotan sia-sia antar para petinggi.

"Begitukah?"

"Ima-chan saja berkata ia tak pernah melihat pedang itu. Memangnya Mikazuki-san pernah melihatnya?"

Pertanyaan itu hanya dibalas sebuah tawa. Sang saniwa mengartikannya sebagai 'tidak'.

Tampaknya pedang yang setengah cerita legenda dan setengah asli yang berhasil bertahan hingga zaman ini, datanya masih bisa didapatkan karena bilahnya memang ada. Semacam Shishiou yang muncul namanya dalam Heike Monogatari. Sang saniwa sendiri membaca di forum bahwa toudan satu ini datang satu paket dengan Nue dari legenda itu.

"Tachi milik Watanabe no Tsuna, bagaimana?"

"Ah, Mikazuki-san, anda ini ternyata memang mengerikan. Itu tachi Munechika juga kan?" Kali ini sang saniwa tertawa gugup. "Kalau soal 'kekuatan', data-data pedang yang paling diutamakan sebenarnya adalah kelompok Tenka Goken." Atau begitulah yang ia dengar sewaktu pertama kali mengikuti proyek ini.

Mikazuki memiringkan kepala. "Tenka goken? Lima pedang terhebat di negara ini?"

"Anda termasuk di dalamnya." Kata sang saniwa dengan sedikit kebingungan. "Yah, sebutan itu mulai muncul sekitar era Meiji dan Taishou, jauh dari zaman anda. Tapi kalau tidak salah di era Muromachi sudah ada sebutan lainnya. Anda tak ingat?"

"Hahaha, aku merasa tersanjung." Ujar Mikazuki. "Ya, rasanya dulu ada sebutan lain, tapi aku tak terlalu ingat… Ootenta dan yang lainnya juga, kalau tidak salah?"

Sang saniwa mengangguk. "Doujigiri Yasutsuna, Ootenta Mitsuyo, Onimaru Kunitsuna, Mikazuki Munechika, Juzumaru Tsunetsugu."

Sang tachi dari periode Heian itu tampaknya mulai mengerti.

"Ah… Tenka Goken, begitu? Kami memang pernah berada di keluarga Ashikaga bersama Honebami, kecuali Juzumaru Tsunetsugu itu." Mikazuki mengeluarkan nada suara yang menandakan ia sedang bernostalgia. "Doujigiri, ya...? Hahaha, rasanya menyenangkan juga jika dia bisa datang."

"Eh? Kenapa begitu?"

"Siapa tahu dia membawa Shuten-douji bersamanya."

Sang saniwa nyaris menghancurkan tulang bahu pedang uzur itu dengan pijatan ujung sikunya.

Nue, yang bersama Shishiou milik Minamoto no Yorimasa yang mengalahkannya, sampai saat ini katanya tidak menunjukkan masalah apa-apa. Shuten-douji yang dikalahkan Minamoto no Yorimitsu yang menggunakan Doujigiri Yasutsuna?

Lalu Watanabe no Tsuna itu, yang melawan Ibaraki-douji kan?

Semua usulan pedang dari Mikazuki Munechika ini menyeramkan sekali.

Untung saja Ima no Tsurugi milik Minamoto no Yoshitsune tidak memiliki sejarah menebas youkai.

Sang saniwa naif sekali, berpikir bahwa tachi Sanjou meski fungsi utamanya dulu sebagai dekorasi dan sudah banyak memakan asam garam kehidupan serta melewati berbagai zaman sehingga perilakunya seperti pria tua, adalah benar-benar orang tua cinta damai. Rupanya masih banyak yang belum ia ketahui tentang Mikazuki Munechika.

"Ah, Shuten-douji itu salah satu dari tiga youkai terkuat, ya? Tapi jika ada Onimaru, dan kudengar pemilik Juzumaru adalah seorang pendeta Buddha, rasanya tak akan terjadi apa-apa." Lanjut sang tachi tersebut, masih dengan nada penuh nostalgia.

Sekarang sang saniwa berdoa agar data Tenka Goken masih lama akan dikeluarkan, tidak dikeluarkan juga tidak apa. Tenka Sansou saja yang keluar duluan, Otegine sudah datang di citadel-nya.

Sang saniwa sedang tak ingin membahas lebih lanjut tentang Onimaru yang menebas monster dalam mimpi, serta Juzumaru yang katanya penempanya berasal dari aliran Aoe juga, mengingat bagaimana Nikkari Aoe terkadang bekerja sendirian di kebun dan tampak bercakap-cakap dengan patung Jizo di tepi pagar pembatas.

Tak ingin pusing dan memahami cara kerja youkai –yang setelah dipikir lagi sama saja dengan keadaannya yang dikelilingi para toudan, ia segera merubah topik sambil tetap memijat bahu tachi tua itu.

"Hahaha, aku hanya bercanda." Tawa khas Mikazuki kini keluar dengan sedikit lebih pelan. "Siapa tahu dengan berkumpulnya kami berlima, atau mungkin lebih, Honebami bisa mengingat sesuatu."

Sang saniwa mengerjapkan mata. Ternyata pedang uzur ini sedang memikirkan tentang itu? Sayo dan Namazuo memang sempat bercerita sedikit ketika sang saniwa menanyakan keadaan sang tachi Sanjou tersebut saat turun ke daerah lawan untuk pertama kalinya kemarin.

"Mikazuki-san… Anda ngambek karena tidak diingat ya." Kata sang saniwa yang sudah biasa dengan Ima no Tsurugi yang sering melakukannya.

"Tidak, tidak…. Bukan begitu." Jawab Mikazuki. "Hanya merasa sedikit lucu saja. Baru pertama kali aku mengalami yang namanya dilupakan."

Perempuan itu tidak berkomentar, karena tak mengerti maksudnya. Ia sendiri tak bisa melakukan apa-apa tentang ingatan dua wakizashi Toushirou itu.

"Saniwa-san, punggungku sudah terasa lebih baik." Ucap Mikazuki dengan maksud agar sang saniwa berhenti memijatnya dan bisa beristirahat. "Pijatan anda seperti ahli pijat, ya?"

Sang saniwa pun berhenti sambil tersenyum kecil, kemudian bangkit berdiri, meregangkan kaki dan berjalan turun melewati pintu yang terbuka. "Aku biasa memijat kakekku, dulu."

"Apa anda baru saja membandingkanku sebagai pria tua?"

"Lho, Mikazuki-san sendiri yang bilang kalau dipanggil 'Jiji' pun tidak apa, kan?"

Sang saniwa lega ketika tawa khas Mikazuki keluar kembali dengan lebih ringan. "Aah, baiklah. Apa ada pertanyaan lagi?"

"Semua pertanyaanku saat ini sudah terjawab semuanya." Mikazuki menggelengkan kepala sambil memukul-mukul pelan punggungnya. Dilihatnya sang saniwa membuka sebuah hologram dari udara kosong, suatu hal yang masih terasa aneh di mata sang tachi sampai saat ini. "Apa anda harus kembali bekerja di tempat penempaan?"

Sang saniwa meringis. "Tidak, Yamanbagiri Kunihiro melarangku pergi kesana seminggu ini, dia sepertinya punya indra keenam kalau aku sudah berjarak 4 meter dari tempat itu…"

"Hmm, dia memang sangat tegas dengan saniwa-san." Hal yang paling sering ia lihat di citadel sejak ia pertama kali sampai adalah uchigatana tersebut yang selalu melotot ke arah sang saniwa. "Kalau tak salah, Yamanbagiri itu adalah dua pedang yang berbeda ya…?"

Sang saniwa hanya melirik hologramnya sekilas sebelum memandang Mikazuki. "Itu Yamanbagiri, bukan Yamanbagiri Kunihiro."

"Oh." Mikazuki tak mengerti mengapa nada suara sang saniwa tiba-tiba menjadi serius. "Apa data keduanya sudah ada?"

"Tidak, Yamanbagiri… Entah, rasanya ada masalah permintaan izin atau apalah, aku tak terlalu mengikuti." Sang saniwa kemudian tersenyum. "Tapi, Mikazuki-san, tolong jangan membicarakan hal seperti itu dengannya, ya? Aku sudah senang dengan Yamanbagiri Kunihiro yang sekarang. Masalah asli atau tidak, aku tak peduli. Aku percaya dengan kekuatan seorang Yamanbagiri Kunihiro."

"Begitukah? Akan kuingat baik-baik." Mikazuki Munechika tak bertanya lebih jauh lagi, tapi ia tampak mengerti, dan tersenyum. "Anda ini…. Ternyata sangat peduli pada para toudan."

Sang saniwa mengedipkan mata dengan jenaka dan meniru suara tawa Mikazuki. "Karena aku seorang saniwa, tentu saja."

Sebuah hologram baru muncul diatas hologram yang sebelumnya, membuat sang saniwa mengalihkan perhatiannya lagi. "Mikazuki-san, anda duluan saja, ternyata sudah jam makan siang ya…"

"Saniwa-san sendiri, mau pergi kemana?"

Sang saniwa menunjuk hologramnya. "Aku harus berbicara dengan seseorang, tolong katakan pada Horikawa kalau aku akan sedikit terlambat!"

Dan pemilik citadel itu pun berlalu, menyeberangi taman, sibuk melakukan sesuatu dengan hologramnya, dan menggumamkan sesuatu yang Mikazuki dengar sebagai 'usul, yari Katou Kiyomasa? Yang benar saja, aku harus berkata apa pada Gokotai…'

Yang ada sekarang adalah Mikazuki dan ketenangan suasana citadel. Bau khas rerumputan, percikan air dan ritme souzu bertemu batu, suara-suara kesibukan para toudan lain yang terdengar sangat jauh.

Sang tachi berumur sangat tua itu menarik sebuah helaan napas yang sangat panjang. Mikazuki Munechika tak menyangka ia bisa ada dalam suasana damai seperti ini. Bukan suasana 'damai' sebagai sebuah dekorasi, bukan suasana 'damai' sebagai pajangan di dalam museum. Keadaan ini, dimana ia bisa hidup seperti yang ia inginkan…

Semuanya terasa bagai mimpi baginya, terasa tidak nyata, situasi yang terlalu nyaman ini…

Ah, aku memang sudah hidup cukup lama, Mikazuki tertawa sendiri dalam hatinya.

"Mikazuki?"

Sebuah suara familiar membuatnya menoleh cepat ke ujung lorong, mendapati sosok Honebami Toushirou. Kedua lengan panjang bajunya dan celananya digulung ke atas, menandakan ia baru saja datang dari tugas berkebun.

"Semua sudah berkumpul di ruang makan." Kata wakizashi itu pelan. "Ayo."

"Ah, Honebami. Baiklah." Mikazuki memang belum mengingat letak-letak ruangan dalam citadel ini.

Ia baru saja bangkit berdiri ketika Honebami bertanya lagi.

"…Bagaimana punggungmu?"

"Hm?" Mikazuki terdiam sejenak, memproses pertanyaan yang tak disangka olehnya itu. "Aah, sudah tidak apa-apa, berkat saniwa-san."

Honebami pun akhirnya hanya mengangguk kecil, sebelum menyadari bahwa orang yang disebut oleh Mikazuki tadi tidak ada di tempat. "Dimana aruji…?"

"Pergi sebentar, dan akan sedikit terlambat untuk makan."

"…Hm…"

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, wakizashi bersurai putih itu berbalik kembali ke arahnya datang tadi. Sang tachi pun mengikutinya.

"Horikawa memasak nimono. " Honebami berkata lagi. "Aruji menyarankan seperti itu karena tidak tahu apakah kau mau makan daging atau tidak."

Sang tachi tertawa. Dalam pembicaraannya dengan sang saniwa tadi, perempuan itu tak mengungkit sama sekali tentang selera makannya. Pasti ia terlalu banyak membaca buku sejarah hingga berpikiran sampai sejauh itu.

"Hahaha, kamu sendiri bagaimana?"

"…Aku tak keberatan dengan daging."

Dalam perjalanan singkat mereka menuju ke ruang makan, mereka terus bercakap-cakap, membuat Mikazuki Munechika tersenyum pada dirinya sendiri. Ia berharap agar dirinya boleh menghabiskan waktu di dunia menyenangkan seperti ini lebih lama lagi.

 

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

 

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.

 


 


 

 

“A...Aruji-sama… Ima-kun terjepit di tangga loteng!”

 

“Aaah! Taishou! Kane-san dan Yamato-san mau berantem tuh!”

 

ARUJI-SAMA PANEN TERONGNYA DIBAWA KABUR MACAN GOKOTAI!!

 

Entah sudah berapa kali Ookurikara mendengar teriakan-teriakan seperti itu, disertai dengan sang saniwa yang melesat dengan kecepatan penuh, terutama jika mendengar yang terakhir itu. Terkadang terlihat dengan Konnosuke yang menongkrong di atas kepalanya atau Ima no Tsurugi yang bergelayut di punggung sang saniwa.

 

Dan ia hanya mengabaikan saja pemandangan seperti itu.

 

Ya, sejak sampai di tempat bernama citadel ini, Ookurikara jarang berkomunikasi dengan para toudan lain dan lebih sering mengasingkan diri, memperhatikan semuanya dalam diam.

 

Awalnya tempat paling tenang adalah daerah sebuah pohon tinggi di taman tengah, maka ia pun sering duduk dalam ketenangan gemerisik dedaunan dan batang-batang pohon kokoh yang mampu menahan berat tubuhnya.

 

Lalu seiring bertambahnya jumlah toudan, entah mengapa area taman tengah semakin sering dipakai untuk berbagai aktivitas.

 

Maka Ookurikara pun memutuskan untuk berpindah tempat.

 

Area pekarangan luar tempat ini lebih luas lagi dari taman tengah, mengingatkannya pada pemandangan halaman depan sebuah kuil (padahal citadel ini memang kuil). Pohon yang ditanam dengan jarak yang sudah diatur sedemikian rupa mengapit sebuah bangunan kuil kecil yang dijaga dua pasang patung komainu. Dari bangunan tempat para toudan biasanya berdoa dan membunyikan lonceng sebelum berangkat ekspedisi ini ada lorong terbuka yang menyambungkannya dengan bangunan utama. Kerikil-kerikil kasar bertebaran memenuhi halaman, dipisahkan menjadi dua bagian oleh jalan setapak yang berakhir di tangga batu dengan gerbang torii merah besar  --meski mereka tak pernah menuruni tangga super tinggi itu untuk keluar dari citadel dan lebih menggunakan teknologi portal.

 

Di siang hari biasanya area ini tak terlalu ramai, tempat yang pas untuk Ookurikara.

 

Tuannya yang baru ini gencar sekali mengajaknya untuk bersosialisasi dengan yang lain, yang menurut Ookurikara sangat menyebalkan.

 

Sebagian besar dirinya selalu ingin menyendiri, tidak peduli pendapat yang lain, merasa lebih tenang jika mengobservasi terlebih dahulu sebelum bertindak.

 

Omong-omong soal observasi, dari pohon yang berdiri tegak tak kalah kokoh dengan yang ada di taman tengah, ia bisa melihat beberapa aktivitas yang berlangsung di bagian lorong terbuka dpinggir bangunan utama itu.

 

Dilihatnya ketiga toudan Samonji tengah berjalan bersama. Sejak saling mengenal satu sama lain, mulai terlihat sangat dekat, dalam artian Souza mulai mengikuti sang saniwa yang senang sekali mencubiti pipi Sayo dengan kilau mata berbinar, dan Kousetsu yang selalu otomatis mengusap kepala Sayo setiap bertemu tantou itu.

 

Ookurikara berusaha tidak terlalu mengingat kembali masa-masanya dulu yang pernah mengalami keadaan seperti itu. Mengingat bagaimana kebiasaannya mengobservasi dan serba peka ini muncul dari kewaspadaan tingkat tinggi terhadap tingkah onar sebuah tachi yang tak kalah uzur dari Mikazuki Munechika.

 

Entah kenapa ia merinding sendiri kalau sang saniwa tiba-tiba mengumumkan ia berhasil mendapatkan pedang yang lehernya terkadang benar-benar minta dicekik itu.

 

Ada suara yang memanggil Sayo dari ujung lorong, membuat Ookurikara mengalihkan perhatiannya kembali, dan meski tak bisa melihat sosok suara tersebut, ia mengenalinya sebagai Atsu Toushirou. Maka tantou Samonji itu pun mengatakan sesuatu pada kedua saudaranya sebelum berlari kecil ke arah tantou Awataguchi yang pernah bersamanya di keluarga Kuroda itu. Souza dan Kousetsu pun tak lama kemudian berlalu di ujung lorong lainnya.

 

Suasana pun hening kembali.

 

Nah kan, ia jadi mengingat kembali masa saat dulu ia berada di klan Date.

 

Mungkin, kalau benar sang saniwa tiba-tiba berhasil mendapatkan Shokudaikiri Mitsutada atau Tsurumaru Kuninaga, mereka akan mengatakan berbagai macam hal padanya seperti ; ‘Sudah lama tak berjumpa ya?’ atau ‘Ya ampun Kuri-chan, kau sudah besar!’ atau ‘Lho? Sada-chan tidak bersamamu?’ atau ‘Hei kau ingat tidak waktu kau tidur dan ngiler di bajuku?’ atau ‘Yang lain mana? Belum datang?’.

 

Setengahnya itu pasti diucapkan Mitsutada dan setengah lagi adalah Tsurumaru yang minta dijitak.

 

Ia menggelengkan kepala. Bukannya ia mengakui kalau masa-masa itu memang cukup menyenangkan untuknya. Saat itu pun ia masih, dan selalu, mengingatkan dirinya tentang perbedaan yang ia miliki dengan pedang lainnya.

 

(Taikogane Sadamune adalah kasus lain, anak itu memang lebih berpikir positif darinya.)

 

Toudan berkulit gelap itu berusaha menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.

 

“Ah, Ookurikara-san!”

 

Kalaupun Ookurikara kaget karena ia mendengar suara menyapa dari arah bawah, ia tak menunjukkannya. Ia pun hanya balas memandang wajah ramah wakizashi Kunihiro yang tengah mendongak dan membawa beberapa benda di tangannya. Pasti habis pergi ke kota, karena Namazuo dan Nikkari Aoe juga sudah berjalan memasuki bangunan utama.

 

“Ookurikara-san, apa nanti malam ingin makan sesuatu yang lain? Soalnya hari ini banyak yang memesan macam-macam.”

 

“....Terserahmu.”

 

Horikawa yang murah senyum itu menganggukkan kepala. “Baiklah, berarti miso dan ichiya-dofu lagi ya!”

 

Ookurikara mengernyit. Meski ia selalu mengiyakan saja apa yang mau dimasak, Horikawa Kunihiro sekarang sudah tahu makanan favoritnya. Ia tidak protes tentu saja, tapi tak berniat juga untuk bertanya darimana ia bisa tahu hal seperti itu.

 

Ia kemudian kembali bersandar pada batang pohon, kedua tangan di belakang kepala sebagai bantal. Berusaha menikmati kembali suasana sepi...

 

“A..Anu, maaf, Ookurikara-san…”

 

Banyak yang mengatakan tatapan matanya itu menakutkan, terbukti dari Gokotai yang sudah tampak seperti siap pingsan kapan saja sesudah memanggilnya dari bawah dengan takut-takut. Padahal Ookurikara hanya menunduk sedikit ke bawah untuk melihat siapa lagi yang memanggilnya kali ini.

 

Gokotai dan Midare, sebuah kombinasi yang jarang dilihatnya. Ookurikara hanya diam, tak membalas, menunggu lanjutan yang ingin disampaikan tantou yang meski suaranya lembut itu masih bisa ia dengar dari tempatnya duduk.

Tapi setelah ditunggunya beberapa saat, akhirnya Midare yang melanjutkan, masih menggandeng tangan tantou yang kelewat gugup di belakangnya.

 

“Tolong bawa turun macan-macannya Gokotai-kun dong!” Midare berkata dengan ceria.

 

Butuh beberapa saat bagi Ookurikara untuk mencerna maksud perkataan itu, karena ia masih melihat tiga ekor macan di bawah sana, sebelum disadarinya ada dua buah sosok tambahan yang mengawasi dirinya, satu dahan di atas kepalanya. Dua pasang mata besar memelas yang balik memandang iris matanya.

 

Jadi ini sebabnya saniwa mereka sering berteriak-teriak ke atas pohon.

 

Kedua macan Gokotai itu diam tak bergerak ketika tangannya meraih mereka, sesuatu yang cukup mengejutkan bagi Gokotai karena macan-macan yang paling senang membuat sensasi itu biasanya akan meronta-ronta meski berusaha ditolong.

 

Tanya saja Mutsu yang kelewat semangat untuk menolong dan mendapat tanda terima kasih berupa pendaratan cantik di atas kepalanya seperti sang saniwa.

 

Midare berbisik pada saudaranya. “Tuh kan, tidak apa-apa, Ookurikara-san baik kok!”

 

Gokotai masih sedikit gugup saat menerima kedua macannya yang super aktif itu dari Ookurikara yang sudah turun dari pohon, kedua matanya masih saling beradu pandang dengan dua mahluk putih kecil itu.

 

“Terima kasih banyak, Ookurikara-san…!”

 

“Sama-sama.”

 

Ookurikara akhirnya berkedip, kedua macan kecil itu ikut berkedip pula. Midare hendak memekik ‘aaaaaaww’.

 

Lalu keduanya pun segera berlalu, dan kini ia mendapati dirinya memikirkan bahwa bisa dikatakan tadi adalah kali pertama ia bercakap-cakap singkat dengan dua tantou Toushirou itu.

 

Awataguchi bersaudara yang jumlahnya setengah isi citadel, dalam sehari ia bisa melihat dua kali, entah itu siapa saja, pokoknya para Toushirou itu pasti ada saja lewat di depannya,  beraktivitas di dalam citadel. Tapi biasanya ia tak merasa memiliki urusan dengan mereka.

 

Setelah Midare dan Gokotai pergi saja,  ia melihat Honebami yang setengah ditarik oleh Hirano dan Maeda yang hendak menunjukkan sesuatu entah apa. Menyusuri lorong pinggir dari jarak pandangnya sebelum menghilang dengan suara-suara yang menjauh.

 

Hening kembali.

 

“Ookurikara.”

 

Akhirnya ia memutuskan untuk tidak kembali ke atas pohon, sudah dua kali berinteraksi dari atas pohon dan kini Yamanbagiri Kunihiro memanggilnya juga. Hari ini tampaknya ia tak bisa menyendiri barang sebentar saja.

 

Ia hanya menatap balik uchigatana yang tak pernah lepas dari kain tudungnya itu. Toudanshi kepercayaan sang saniwa akhir-akhir ini sering ditugaskan untuk membantu beberapa pekerjaan sang saniwa. Kali ini pun Yamanbagiri Kunihiro tampak membawa sebuah kertas dan pena --kata majikan mereka kedua benda itu sama perbandingannya dengan gulungan perkamen serta kuas dan tinta.

 

“Besok kau ikut dalam ekspedisi ke daerah Mino sebagai ketua pasukan. Bisa?”

 

“Terserahmu saja.” Jawab Ookurikara yang sudah cukup lama tidak keluar dari citadel. Ia pernah beberapa kali menjadi ketua pasukan ekspedisi, yang sistemnya sedikit lebih berbeda karena sang saniwa tak ikut serta turun ke lapangan, sehingga ketua pasukan ekspedisi akan diberikan hak khusus untuk membuka portal dimensi jika Konnosuke terlalu sibuk dengan hal lain.

 

Yamanbagiri Kunihiro menganggapnya sebagai sebuah ‘ya’. “Baiklah, jam 11 pagi besok bersiaplah disini.”

 

Dan sama seperti yang lain, uchigatana bertudung itu pun berlalu.

 

Entah mengapa seperti ada badai yang lewat, cepat datang dan cepat pula pergi. Ookurikara seperti tak diberi kesempatan untuk menghela napas panjang karena hal berikutnya yang ia dengar dan rasakan ada sesuatu mengenai pipinya.

 

Dan sebuah bunyi plop pelan.

 

“Oh, dia memang percaya sekali padamu, karena kau selalu datang tepat waktu meski bilang ‘terserah’ terus.”

 

Ookurikara memelototi sang saniwa, yang entah bagaimana sudah berada beberapa kaki darinya, memegan sebuah benda asing berbentuk botol dan tangannya berada di depan mulutnya yang meniupkan sesuatu.

 

Sang saniwa salah mengartikan pandangan penuh rasa gusar itu dan malah menjelaskan tentang benda yang sedang ia bawa. “Aah, ini gelembung sabun, mau kuberikan pada para tantou.”

 

Sang saniwa tetap meniupkan gelembung ke arah Ookurikara.

 

“Hentikan itu.” Kata Ookurikara yang akhirnya mendapat alasan untuk menghela napas sangat berat.

 

“Maaf, maaf, sekalinya bermain gelembung seperti ini rasanya tak bisa berhenti.” Sang saniwa terkekeh dan menutup botolnya. “Jadi! Bagaimana harimu? Semua baik-baik saja?”

 

“Jangan ganggu aku.” Balasnya cepat.

 

“Aku tidak akan mengganggu, hanya menanyakan keadaan saja.” Perempuan itu tersenyum kecil. “Tapi baiklah, tampaknya kau benar-benar butuh waktu untuk menyendiri, aku pergi dulu…”

 

Ookurikara tak pernah mengerti sikap majikan barunya yang selalu berhasil membuat Yamanbagiri Kunihiro dan Kasen Kanesada pusing tujuh keliling itu. Lega juga karena bisa mendapatkan ketenangan yang diinginkannya, namun ia memiliki sesuatu yang tak pernah bisa ia sampaikan, dan kebetulan saat ini tak ada orang lain...

 

“Hei.” Ucapannya itu menghentikan langkah kaki sang saniwa. “....Apa pendapatmu tentang pedang sepertiku?”

 

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” Perempuan itu berbalik dan memiringkan kepala.

 

Pertanyaan yang bagus, karena Ookurikara sendiri spontan bertanya seperti itu. Dirinya adalah mumeito ; tanpa rasa bangga dan ukiran nama dari pembuatnya, hanya sebuah bilah pedang biasa. Mungkin dia tak akan punya nama jika bukan karena ukiran penghias dalam bentuk naga itu.

 

Ookurikara mencengkeram pangkal pedangnya. “Karena aku mumeito, yang tak memiliki nilai--”

 

“Tak ada nilainya? Kenapa kau berkata seperti itu?” Sang saniwa bersidekap dan mengernyit.  “Apa pemilikmu yang sebelumnya pernah berkata seperti itu?”

 

“Tidak.”

 

Tentu saja tidak, pikir sang saniwa dalam hati.

 

“Kau ada disini bukan sebagai koleksi, aku tak peduli kau mumeito atau bukan.”

 

Sang saniwa kembali melanjutkan ketika pihak yang memberikan pertanyaan terlihat terpana mendengarkan jawabannya.

 

“Aku membutuhkan pertolongan kalian semua, membutuhkan kekuatan seorang Ookurikara Hiromitsu. Menurutku, tanpa ukiran pun kau tetap sempurna.” Ia memang selalu memberikan jawaban yang frontal tanpa basa-basi bila sudah ditanyakan mengenai hal pendapat seperti ini.

 

“Yah itu menurutku, tapi kalau kau tak suka-- Kalau kau memang merasa seperti itu...”

 

“Terserahmu saja.”

 

“Eh?”

 

Tangan sang saniwa gatal untuk mengetikkan ‘Ookurikara, gejala remaja akil balik’ atau ‘Ookurikara, Yamanbagiri Kunihiro v.0.2’ dilaporan hologramnya (Tentu saja dia tidak mengetikkan hal itu).

 

Kemudian sang saniwa mengacungkan kedua ibu jari tangannya.

 

“Lagipula, ukiran nagamu lebih keren.”

 

“...Hah?”

 

Sang saniwa masih sempat menahan diri untuk tidak tersenyum sendiri melihat Ookurikara yang sedikit melongo. Ia masih sayang nyawa, meski ekspresinya itu membuatnya gemas.

 

Merasa urusan sudah selesai, giliran sang saniwa yang balik menanyakan sesuatu yang sebenarnya dari tadi ingin ia tanyakan saat mendatangi Ookurikara dengan gelembung sabun.

 

“Oh iya, kau lihat Yamanbagiri Kunihiro atau Horikawa tidak?”

 

“Baru saja lewat tadi, keduanya.”

 

“Wah, aku mau menyakan tentang makan malam…”

 

“Ada miso dan ichiya-dofu.”

 

Sang saniwa menjerit. Untung botolnya ditutup.

 

SERIUS? MISO? BUATKAN NASU DENGAKU SEKALIAAAN!!

 

Sang saniwa kabur dengan kecepatan 4,2 detik dan Ookurikara pun untuk kesekian kalinya merasakan sebuah fenomena badai yang cepat datang dan cepat pergi.

 

Sang saniwa memang dapat berubah dari kekanakan menjadi sangat serius dalam kecepatan cahaya, contohnya seperti tadi itu.

 

Jawaban atas pertanyaannya itu, agak berbeda dengan apa yang pernah diberikan oleh Masamune, tapi keduanya memiliki inti yang sama…

 

Ookurikara mendengus.

 

Rasanya ia mampu membiasakan diri dengan suasana tempat tinggal barunya ini.

 

 


 




“Konnosuke, apa ini artinya Ookurikara tak ingat bahwa ia pernah memiliki ukiran penempanya sebelum ukuran-nya dirubah?”

 

Rubah virtual yang setengah memejamkan mata itu mengerjap. Hari sudah beranjak malam, ia menoleh ke arah sang saniwa yang masih bekerja di tengah-tengah cahaya lilin dan sinar redup hologram.

 

“Saya tidak tahu, Saniwa-san. Tapi data pedang yang ada dan keberadaan spiritual pedang yang berhasil dibangkitkan akan bercampur menjadi satu dan tidak dapat dipastikan bagaimana hasil akhirnya.”

 

Sang saniwa merasa harus menyalakan filter penjelasan bahasa sederhana untuk rubah itu.

 

“Hmm…” Adalah balasannya, masih memikirkan percakapannya dengan Ookurikara siang tadi. Tetapi masakan lezat Horikawa untuk makan malam tadi nyaris membuatnya tak fokus sekarang. Inilah kekuatan memasak yang enak.

 

Perempuan itu menguap lebar.

 

Disingkirkannya semua hologram yang tengah terbuka, percaya penuh pada kekuatan auto save,  lalu membenamkan kepalanya ke dalam kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Duduk di atas tatami dan bekerja di meja rendah seperti ini memiliki keuntungan tersendiri baginya, meski di pagi hari Yamanbagiri Kunihiro akan mengomelinya agar tidur dengan benar di atas futon, bukannya di lantai dan meja

 

Sebuah suara derap kaki terdengar cukup jelas di malam hari yang sepi, apalagi ruangan sang saniwa yang berada di ujung terdalam bangunan yang nyaris seperti terisolasi dan hanya memiliki akses dari satu koridor saja.

 

Ia langsung menoleh ke arah satu-satunya area dinding dengan pintu kertas geser yang dikelilingi tembok kayu. Siluet pendek yang terbentuk dari penerangan di dalam ruangannya berhenti tepat di depannya.

 

“Siapa?” Sang saniwa menoleh, masih membaringkan kepala di meja.

 

Pintu tergeser sedikit, dan yang pertama kali ditangkap olehnya adalah sepasang mata yang berair, seketika itu juga membuat sang saniwa duduk tegak.

 

“Ima-chan--” Kata-katanya terhenti ketika toudan kecil itu segera melemparkan diri dan membenamkan wajahnya dipelukan sang saniwa, sesenggukan.  “Oke, oke, shh..Shh…”

 

Digendongnya tantou itu keluar dari ruangannya. Ia tak perlu bertanya lagi. Beberapa kali Ima no Tsurugi mendatanginya dalam keadaan seperti ini. Jawabannya selalu sama ; mimpi seorang pria muda, berjalan memegangi seruling dan haori indah berkibar di atas kepalanya, tersenyum dan menuntun tangannya untuk membuat perutnya berdarah-darah.

 

Dengan pelan ditepuk-tepuk dan diurutnya punggung tantou itu. Sambil menyanyikan sebuah lagu dengan sangat lirih dan pelan, sang saniwa berjalan pelan-pelan ke arah ruang tidur para tantou.

 

“Aku disini, aku ada disini, Ima-chan.”

 

Lentera -lentera sudah lama dipadamkan dan sang saniwa dapat melihat cukup jelas hanya dengan bantuan cahaya bulan. Kepala Ima no Tsurugi dielus-elusnya dalam usaha untuk menenangkannya kembali. Ia tak pernah protes ketika tantou yang umur sebenarnya termasuk tua itu butuh ditenangkan seperti ini.

 

Digesernya dengan sangat pelan pintu geser untuk ruangan terbesar kedua di bangunan itu (setelah ruangan tempat makan bersama). Suara-suara pelan tarikan dan hembusan napas terdengar, semua tantou tampak tertidur sangat lelap. Ima tidur di bagian yang dekat dengan pintu keluar dalam ruangan yang memiliki pintu geser dua sisi ini, sehingga wajar ia bisa bangun dan keluar tanpa membangunkan yang lainnya.

 

Sang saniwa membaringkan Ima dengan pelan, memastikan bahwa tantou itu benar-benar sudah tidur dengan nyaman. Kemudian ia berdiri tegak kembali, matanya menyusuri seluruh isi ruangan dengan cahaya penerangan minim tersebut, memperhatikan satu persatu mereka semua yang tengah tidur di dalam ruangan tersebut.

 

Berjingkat agar tak menginjak ekor harimau Gokotai yang bergelung di dekat kepala Yagen dan Aizen, sang saniwa dengan hati-hati menyelimuti kembali Aizen yang gaya tidurnya nyaris menendang Sayo, lalu melepaskan kacamata Yagen yang masih terpakai, meletakkan benda itu di samping bukunya yang terbuka. Sang saniwa memandangi sekilas ruangan para tantou itu, kemudian menggeser kembali pintu ruangan tradisional itu dari luar.

 

Kejadian seperti ini memang lebih banyak terjadi dengan Ima no Tsurugi. Sayo pernah membangunkannya di tengah malam karena hal yang sama, tapi belakangan ini tantou Samonji itu sudah tak mengalami mimpi buruk dan jika ada pun pasti pergi mengunjungi Souza dan Kousetsu. Para tantou Awataguchi biasanya sering menenangkan satu sama lain, terutama Yagen yang terlihat sangat dewasa.

 

Bangun di tengah malam begini, rasa kantuknya mendadak hilang. Diputuskannya untuk mengambil jalan memutar yang lebih jauh kembali ke kamarnya, hendak menghirup udara malam dari taman tengah.

 

###

 

Sang saniwa sudah melatih diri agar tidak cepat sport jantung, maka ketika berbelok di lorong taman tengah, ia hanya mengernyit melihat sosok seseorang tengah duduk di pinggir lantai lorong.

 

“Jirou-san?”

 

Hal pertama yang dilakukan Jiroutachi saat menoleh dan tersenyum lebar ke arah sang saniwa adalah mengangkat cangkir sake-nya tinggi-tinggi dan melambaikan tangannya.

 

“Belum tidur?” Tanya sang saniwa pada satu-satunya oodachi yang baru datang di citadel ini.

 

Saniwa-chan sendiri, ada apa malam-malam begini?” Jiroutachi balas bertanya, dengan riang meneguk habis isi cangkirnya sebelum mengambil guci sake yang ia letakkan di samping kirinya.

 

“Ah, tidak Ima-chan mendatangi kamarku…” Kata sang saniwa, hendak duduk sebelum kemudian berdiri lagi. “Mau tambah sake lagi? Persediaan di dapur masih banyak.”

 

“Eh, kamu mau minum juga?” Oodachi cantik itu mengerjapkan mata. “ Nanti tak dimarahi Yamanbagiri?”

 

“Ya jangan bilang-bilang ke orangnya dong… Tunggu sebentar ya”

 

Perjalanan ke dapur kira-kira hanya membutuhkan waktu beberapa menit dari daerah tempat Jiroutachi duduk, maka tak lama kemudian sang saniwa sudah ikut duduk di samping oodachi itu dan menyesap sake-nya sedikit.

 

“Seperti sedang tsukimi ya?”

 

Komentar sang saniwa tiba-tiba di tengah suasana hening malam itu. Pepohonan yang tengah bermekaran menggugurkan kelopak-kelopak bunga yang dibantu desir angin.

 

“Itu kan pertengahan musim gugur, sekarang masih musim semi.” Jiroutachi terbahak pelan, tak sekeras yang ia lakukan di siang hari.

 

Sang saniwa menepuk bibirnya sendiri. “Hm, benar juga…Lebih mirip hanami kalau begitu.”

 

Kecepatan Jiroutachi menghabiskan isi cangkirnya masih sering membuat sang saniwa keheranan. Dirinya sendiri hanya sanggup menghabiskan 2-3 cangkir kecil sake.

 

Memang, sejak ia mendapatkan Jiroutachi yang dijatuhkan musuh mereka beberapa hari yang lalu, stok sake di dapur menjadi lebih cepat habis. Guci-guci berisi alkohol itu ada di dapur sebagai hiasan saja untuknya, atau terkadang dipakai sedikit untuk bahan masakan. Tapi mengambil satu guci penuh untuk langsung diminum?

 

Jiroutachi patut diberikan acungan empat jempol.

 

“Jadi Ima-chan mendapat mimpi buruk...” Komentar sang oodachi ketika sang saniwa selesai bercerita. “Itu sih, memang wajar. Aku juga pernah, hahaha!”

 

Sang saniwa memutar-mutar cangkir sake di tangannya. Angin malam sudah mulai tak dirasakannya lagi karena efek kehangatan sake sudah mulai bekerja. “Yah, tapi ini sudah beberapa kali terjadi, dan aku bingung bagaimana harus menenangkannya…”

 

Saniwa-chan sendiri bagaimana?”

 

“Ya?”

 

“Sering terbangun tengah malam karena mimpi buruk?”

 

“......Aah, tidak pernah.”

 

Jiroutachi tampaknya menahan diri agar tak tertawa keras dengan volume suara yang biasa ia pakai di siang hari.

 

“Apa? Kenapa?” Sang saniwa bertanya.

 

“Kamu tak pandai berbohong ya?”

 

“Karena kukira Jirou-san membicarakan yang terjadi di citadel ini, bukan yang kualami diluar.”

 

Oodachi itu menuangkan sake lagi untuk kesekian kalinya.

 

“Begitukah~”

 

“Hmmm.” Sang saniwa menganggukkan kepala. Dibiarkannya percakapan menggantung di udara. Ia kini lebih tertarik dengan suasana keheningan malam ini yang menenangkan. Bintang-bintang di langit malam yang terlihat sangat jelas di atas sana, bersama bulan penuh yang tak tersembunyi oleh awan.

 

“Pemandangan malam disini terasa lebih alami, lebih indah dari zamanku berasal.” Celetuk sang saniwa tiba-tiba. “Ah, tapi, aku sering menunjukkan banyak hal dari zamanku pada Mutsu, harusnya aku tak mengatakan hal yang jelek-jelek begitu.”

 

“Haha! Dia memang yang selalu paling tertarik dengan zaman saniwa-chan berasal.”

 

Sang saniwa mengangguk menyetujui. Tangannya meletakkan cangkir sake dan berhenti mengisinya kembali, ia dapat merasakan dirinya mulai mabuk.

 

“Jirou-san.” Ucap sang saniwa, matanya menerawang menatap pepohonan. “Jirou-san, apa anda menyesal berada di sini?”

 

“Hmm? Kenapa pertanyaannya seperti itu?”

 

Perempuan itu kali ini memandangi telapak tangannya. “Entahlah… Terkadang aku masih bertanya-tanya, apakah yang kulakukan sekarang sudah benar atau tidak. Memanggil kalian semua untuk membantuku, melawan musuh-musuh yang hendak merubah masa lalu…”

 

“Yah, dan sekarang kamu sudah ada di dalam ‘masa lalu’ kan?” Jawab Jiroutachi, tersenyum ke arah sang saniwa. “Terkadang hati membutuhkan waktu untuk menerima apa yang sudah kita mengerti.”

 

Sang saniwa melongo. Dia memang mabuk. Puitis sekali kata-kata yang baru saja ia dengar dari mulut oodachi itu.

 

“Hei, jangan salah, aku ini realistis, kyahaha!” Lagi-lagi oodachi itu tertawa. “Aku hanya mengatakannya sesuai kenyataan, serius!”

 

Sang saniwa mengurut keningnya, dan bangkit berdiri. “.......Rasanya aku benar-benar butuh tidur.”

 

“Setuju~” Jiroutachi masih dalam posisi duduk, dan sudah melambaikan tangan pada sang saniwa. “Selamat tidur! Mimpi indah!”

 

###

 

Lalu keesokan paginya, kedua mahluk yang bangun di tengah malam itu sama-sama tak mengingat apa yang sebenarnya mereka bicarakan kemarin.

 

Atau setidaknya itulah yang diklaim oleh sang oodachi.

 

 


 

 

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

 

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author.


 

 


 

 

Shishiou terkadang terbawa suasana tenang citadel ini.

 

Letak  tempat ini memang bukan di atas gunung, apalagi di dekat mata air yang memiliki air terjun yang memercikkan air segar. Bukan juga sebuah tempat di tengah hutan bambu yang lebat. Bukan pula di antara hamparan sawah atau hamparan ilalang terbuka.

 

Meski begitu, ia tak pernah lengah dengan keadaan sekitarnya.

 

Jiji, jangan tidur disini dong.”

 

Memang angin yang bertiup di taman tengah sering memberikan efek mengantuk, namun satu-satunya yang bisa tertidur sambil duduk seperti yang sedang ia lihat sekarang hanyalah Mikazuki Munechika.

 

“Ooh… Shishiou  rupanya.” Kata Mikazuki yang masih mengerjapkan mata, sebelum tertawa. “Ah, karena tak ada Nue, aku jadi sedikit bingung.”

 

Sudah tiga orang yang mengatakan hal seperti itu padanya hari ini.

 

“Yaah, tadi pagi aku ke kota, dia kutinggal di kamar.”

 

Mikazuki baru memperhatikan tangan Shishiou yang penuh membawakan tumpukan buku model dijilid yang menurutnya cukup kuno. Sang saniwa memang sering membeli buku di kota, dan menyimpannya di ruang terpisah yang ada di sebelah kamarnya. Kalau sang saniwa tak sempat keluar, maka biasanya ia menitipkan pesan untuk mereka yang kebetulan bertugas belanja, kali ini adalah Shishiou, Nikkari Aoe, dan Otegine.

 

Nue tak dibawa Shishiou setiap ia ke kota, tak mau mengambil resiko terlihat oleh khalayak ramai di siang hari. Sang saniwa juga setuju dengannya, meski youkai tak semuanya bisa dilihat orang-orang yang memiliki kemampuan spiritual cukup tinggi, selalu saja ada kasus orang-orang tertentu yang bisa melihat.

 

“Jadi saniwa-san tidak pergi keluar hari ini?”

 

“Sepertinya tidak.” Mengingat terakhir kali ia berpamitan wajah sang saniwa tertutup berbagai kertas dan hologram.

 

Shishiou sendiri sebenarnya kurang begitu mengerti apa gunanya kertas-kertas yang biasanya ditulis oleh sang saniwa, atau benda asing seperti layar yang mengambang di udara itu. Yang pasti setiap akhir bulan Yamanbagiri Kunihiro atau Kasen Kanesada akan hilir mudik masuk ke ruangan sang saniwa.  

 

Sang saniwa pernah bercerita bahwa pihak atasannya meminta laporan dalam bentuk dokumen berkas dan juga dalam bentak digital hologram, untuk berjaga-jaga katanya. Perempuan itu selalu mengeluh berkas yang harus ditulisnya menumpuk banyak, tapi pada akhirnya tumpukan menggunung itu selalu diselesaikan tepat waktu.

 

Kasen Kanesada, yang terang-terangan memohon pada sang saniwa agar tidak diberi tugas lagi untuk mengurus kuda dan lebih memilih berada di kebun --meski kedua opsi tersebut benar-benar bukan bidang yang ia sukai, akhirnya lebih sering membantu Yamanbagiri Kunihiro dalam mengurus apa yang disebut tuan mereka itu sebagai ‘kertas-kertas laporan merepotkan’.

 

Shishiou lebih senang disuruh keluar daripada duduk diam dalam ruangan jadi disuruh keluar membeli buku pun ia senang saja.

 

“Mau dibantu?” Tanya Mikazuki, masih memperhatikan tumpukan buku yang dibawanya.

 

“Oh, nggak berat kok, tak apa-apa.” Hal terakhir yang dibutuhkan Shishiou adalah membuat tulang punggung pedang uzur itu retak. “Sebentar lagi juga--- Jiji, jangan tidur dong.”

 

“Ahahaha, maaf, maaf.”

 

###

 

Daaaan selesai!” Sang saniwa menempatkan kertas terakhir di atas tumpukan dengan hentakan keras. “Sudah, kirimlah dengan entah bagaimana caramu itu tumpukan ini ke orang-orang atas itu, Konnosuke!”

 

Dari sudut ruangan, Yamanbagiri Kunihiro menggumamkan ‘akhirnya’ dengan cukup keras.

 

“Makan siang, makan siang.” Kaki sang saniwa pegal juga duduk terlalu lama. “Ah, kau duluan deh, aku mau jalan-jalan dulu.”

 

“Jangan lama-lama.” Ujar sang uchigatana sebelum berlalu.

 

“Hmm.” Tangan sang saniwa memeriksa untuk terakhir kalinya tumpukan kertas, lalu membuka hologram dan menggeser isinya dengan cepat. “Heran, apa perlunya menulis manual kalau sudah ada hologram?”

 

Konnosuke melompat ke atas tumpukan kertas. “Bukankah anda menyukai buku? Kenapa malah tidak suka sekarang?”

 

“Ada perbedaan besar antara membaca buku dan menulis laporan, Konnosuke.” Karena meski suka merasakan tekstur kertas dan melihat tinta-tinta membentuk huruf pun, ia lebih terbiasa dengan hologram

 

Pada jam makan siang seperti ini, suasana taman tengah memang selalu menjadi sedikit lebih sepi. Ada suara aneh sedikit saja, maka sang saniwa bisa langsung waspada, meski hal seperti itu jarang ia khawatirkan karena pasti akan muncul peringatan hologram kalau ada hal asing yang melewati barrier pengaman-- mampus apa itu hitam-hitam di bawah pohon.

 

Tangan sang saniwa sudah bergerak mengambil tessen, ketika perempuan itu menyadari bentuk familiar gumpalan hitam yang semakin ia dekati semakin ia kenali.

 

“Nue…?”

 

Mata yang dimiliki oleh mahluk itu terbuka, memandang sang saniwa yang sudah berjongkok dihadapan youkai yang datang satu paket dengan Shishiou itu. Mahluk itu bergelung seperti semak raksasa di bawah bayang-bayang pohon yang biasanya dipanjati oleh harimau-harimau Gokotai.

 

“Oh iya, tadi pagi Shishiou pergi ke kota juga.”

 

Nue tak pernah bersuara, bahkan saat tangannya menepuk surai yang selalu tampak halus dan empuk tersebut, mahluk itu tak mengeluarkan tanda-tanda tak nyaman. Lebih tepatnya, Nue jarang memberikan tanda-tanda bahwa dia adalah mahluk yang hidup.

 

Sang saniwa bisa mencoret ‘ingin mengelus bulu Nue’ dalam daftar hal-hal yang harus ia lakukan sebelum mati.

 

“Kamu ini dari perspektif mananya wajah seperti kera…?” Gumam sang saniwa, masih mengelus bulu lebat Nue. Karena dalam mitologi yang ia tahu Nue memiliki deskripsi fisik yang cukup beragam sepert chimera.

 

Lalu sang saniwa mendapatkan sebuah ide.

 

“Hei, hei, apa Shishiou sering memakaimu seperti bantal?” Perempuan itu sudah bersandar pada Nue. “Rasanya enak juga tiap hari bisa begini--

Nue tidak bergerak, mahluk itu tidak melakukan apa-apa, merespons dalam bentuk apa pun tidak.

 

Rasanya seperti tidur di atas bulu angsa.

 

Namun sang saniwa tersentak, duduk tegak lagi, tak jadi membenamkan diri di lautan empuk itu. Punggungnya berdenyut, seperti ditusuk-tusuk. Seperti sebuah luka lama yang dibuka lagi.

 

“Maaf, maaf, kalau kau tak suka, bilang dong…” Sekarang sang saniwa sudah memasang pose seperti Mikazuki setiap punggungnya bermasalah.

 

Masih tak ada tanggapan dari mahluk yang bersangkutan.

 

Aruji!

 

Nue bergerak untuk pertama kalinya sejak sang saniwa melihatnya hari itu. Rasanya seperti melihat gumpalan permen kapas hitam yang bergerak pelan ke arah Shishiou yang berlari menghampiri mereka.

 

Sang saniwa memiliki ekspektasi terlalu tinggi bahwa Nue bisa saja terbang lalu hinggap di bahu Shishiou.

 

“Ooh, Shishiou. Kau sudah makan siang?”

 

Tachi yang tengah mengangkat Nue melingkari bahunya itu mengerjapkan mata.

 

“Apa?” Jawabnya kebingungan. “Oh, belum. Daripada itu, aruji baik-baik saja kan?”

 

Sang saniwa melongo.

 

“Hah…?”

 

“Dia ini,” Shishiou menyentil ujung hidung Nue --kalau itu bisa disebut hidung-- “Bisa sedikit galak. Dia tidak melakukan apa-apa kan?”

 

“Apanya yang ‘melakukan apa-apa’, dari tadi dia seperti batu.” Sang saniwa terkekeh, tangan masih mengurut punggungnya. “Ah, kau mendapatkan buku-buku yang kucari?”

 

Shishiou menyeringai lebar. “Semuanya! Sudah ada di ruangan yang biasa.”

 

“Ohooo! Terima kasih banyak, Shishiou!” Sang saniwa tertawa. “Tapi kurasa kita harus ke ruang makan sekarang, bisa-bisa diomeli Hori-chan kalau kita tidak makan siang.”

 

“Aku menyusul. Aruji duluan saja.”

 

“Baiklaah.”

 

Shishiou memperhatikan sang saniwa yang menaiki undakan koridor dan menghilang ketika berbelok di ujungnya, lalu ia mengernyit ke arah Nue.

 

“Kau tidak melakukan apa-apa kan?”

 

Bulu-bulu Nue bergetar.

 

“Itu bukan jawaban. Apa maksudmu?”

 

Sebuah suara siulan kosong mengalun pelan. Bagai suara burung murai yang menyedihkan menembus di malam hari, sangat familiar bagi Shishiou. Tangannya secara otomatis mengelus wajah sang youkai.

 

“Aku percaya padamu kok.” Shishiou menghela napas.  “Sekarang-- Hei jangan langsung tidur lagi!”

 


 

 


 

 

Derap kaki, suara hentakan, suara bahu bertemu lantai kayu.

 

“Haaa… Otot-ototku…”

 

“Kau terdengar seperti Mikazuki.”

 

“Aku masih 27 tahun……

 

Dojo latihan yang terletak di area pinggir bangunan pada sore itu dipakai oleh sang saniwa dan Yamanbagiri Kunihiro yang diseretnya untuk menemani latihan.

 

“Tak biasanya kau mengajakku untuk latih tanding.”  Yamanbagiri Kunihiro menurunkan pedang kayu yang ia arahkan ke leher perempuan itu.

 

“Sesekali aku harus tetap mengingat gerakan kaki dan tanganku sendiri.” Sang saniwa melemparkan handuk, yang segera ditangkap oleh sang uchigatana. “Aah, tapi aku selalu kalah cepat darimu, Yamanbagiri Kunihiro. Kalau kena benturan pedangmu sekali saja bisa tamat riwayatku.”

 

Sang saniwa tertawa ketika uchigatana itu hanya mendengus.

 

....Kau selalu memanggil namaku seperti itu.”

 

Meski mereka sudah duduk bersebelahan, sang saniwa kembali mengacungkan pedang kayu miliknya.

 

Heei, sudah berapa kali kita membicarakan ini?” Muncul sebuah senyuman geli yang setengah tertahan di wajah sang saniwa. “Kau mau kupanggil ‘Yamaku-nii’ seperti Midare waktu itu?”

 

Uchigatana itu langsung merinding.

 

“Tidak.” Jawabnya cepat. “Atau lebih baik lagi, tak usah menyebut namaku lagi.”

 

“Lalu bagaimana caraku memanggilmu nanti, hmm?” Sang saniwa kini selalu punya tendensi untuk mencubit pipi para tantou hingga menjadi sebuah reflek tersendiri kalau gemas dengan seseorang. Pipi Yamanbagiri Kunihiro juga termasuk di dalamnya. “Duh, kamu ini lucu sekali.”

 

“Saniwa, hentikan.”

 

“Kamu, nggak imut.” Balas sang saniwa.  “Ya sudah, kalau kau yang meminta sendiri, Kunihiro.”

 

.......Hmph.”

 

“Eh, aku jadi terdengar seperti Kane-san ya.”

 

Sang saniwa menghindari lemparan handuk Yamanbagiri Kunihiro.

 

Aruji-dono, aruji-dono!

 

Sang saniwa menoleh, mendapati sosok rubah Nakigitsune yang gemar berbicara di ambang pintu geser.

 

Aruji-dono, apa anda melihat Nakigitsune?”

 

“Lho, memangnya tadi kalian terpisah?” Rubah kecil itu ia angkat seperti boneka, ringan. “Kaliankan selalu berdua.”

 

“Tadi kami sedang bertugas di kebun! Lalu saya tertidur, tahu-tahu saya ada di ruangan Nakigitsune, tapi saya tidak melihatnya dimana pun!”

 

Berjalan sambil menenangkan seekor rubah kecil yang panik itu tidaklah semudah yang saniwa kira.

 

“Harusnya sekarang dia sudah selesai bertugas.” Yamanbagiri Kunihiro menjawab pandangan penuh tanya sang saniwa yang tidak terlalu ingat lagi jadwal semua penghuni citadel yang semakin lama semakin banyak.

 

“Baiklah, tenang dulu, ada tempat yang belum kau periksa?”

 

Rubah Nakigitsune itu berhenti meronta dan memasang pose berpikir, lalu kembali memandang sang saniwa. “Area gerbang depan dan taman tengah.”

 

Ah.

 

“...Perasaanku tidak enak.” Gumam sang saniwa.

 

“Kau selalu berkata seperti itu setiap pergi ke tempat penempaan.” Gumam Yamanbagiri Kunihiro.

 

“Ya kalau itu lain lagi ceritanya.”

 

Maka ketika mereka bergerak ke area taman tengah, sang saniwa segera menengadah ke atas pohon.

 

Kenapa malah Nakigitsune yang ada di atas pohon! Kenapa bukan rubahnya!

 

Sang saniwa sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ia harus melakukan sesuatu pada pohon di taman tengah ini. Eksorsis kah, penebangan kah, apa pun itu.

 

“Kenapa saya harus memanjat pohon, aruji-dono? Rubah tinggal di atas tanah!” Rubah Nakigitsune lebih terdengar bingung daripada tersinggung.

 

“Nakigitsune, sedang apa disana?” Tanya Yamanbagiri Kunihiro.

 

Uchigatana yang lebih jarang bersuara dari Honebami itu berbalik sebelum menunjukkan sesuatu di kedua tangannya.

 

“Aku lelah.” Ucap sang saniwa sungguh-sungguh ketika melihat dua macan Gokotai di kedua tangan Nakigitsune.

 

“Mereka tak bisa turun.” Nakigitsune berkata dengan secukupnya.

 

“Dan sungguh baik hatimu memanjat untuk mengambil mereka.” Ujar sang saniwa.

 

“Ooh, Nakigitsune!! Lain kali jangan pergi tiba-tiba begitu!! Aku khawatir sekali!”

 

Uchigatana dengan topeng di wajahnya itu sudah menuruni pohon dan menyerahkan kedua harimau Gokotai yang tampak siap untuk kembali memanjat kapan saja itu kepada sang saniwa, barter dengan sang rubah yang dengan girang bergulung di lehernya.

 

Sang saniwa sudah bisa menerima banjir jilatan para harimau, tapi sekarang ia benar-benar tak habis pikir kenapa harimau-harimau kecil ini senang sekali memanjat pohon.

 

“Kunihiro, mulai besok kau kutugaskan bersama Gokotai untuk mengawasi harimau-harimau ini 24 jam penuh.”

 

“Jangan berkata yang aneh-aneh.”

 

 

 

 

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

 

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.

 


 

 


 

 

Sudah bukan rahasia lagi bahwa majikan mereka paling sayang dengan para tantou.

 

Tentu saja perempuan itu menyayangi dan memperhatikan mereka semua, tapi afeksinya kepada para tantou lebih terlihat jelas karena seluruh tsukumogami yang memiliki perawakan anak kecil itu tidak ada yang protes setiap menerima serangan pelukan dan ciuman.

 

Karena faktor sikap sang saniwa yang nyaris seperti ibu-ibu padahal punya anak pun belum inilah Yamanbagiri Kunihiro sering terseret dalam percakapan tidak masuk akal yang selalu membuatnya mengurut kening.

 

Untungnya kali ini ia cukup mendengar saja tanpa perlu terlibat langsung dalam dialog sang saniwa dengan Konnosuke.

 

“Persediaan citadel ini sudah melebihi batas yang sudah ditentukan. Tetsudai dan Irai banyak, arang sangat banyak, bijih besi banyak, air berlimpah, batu asah banyak. Kurang apa lagi?”

 

“Mungkin anda harus punya lebih banyak ema juga?”

 

“Bah! Tak ada efeknya. Non. Nada.

 

“Dicoba lagi?”

 

Suara ratapan terdengar.

 

Berapa kali lagi?

 

“Entahlah, tapi bukannya memang harus berkali-kali?”

 

Yamanbagiri Kunihiro sudah menarik kain tudungnya jauh-jauh agar tidak dipakai untuk mengelap air mata sang saniwa.

 

“Jangan memandangku seperti itu!” Ujar uchigatana itu dengan kesal karena akhirnya tersseret dalam dialog yang sudah terjadi entah berapa kali. “Aku sudah tidak melarangmu untuk pergi ke ruang penempaan lagi kan?”

 

Program berhemat yang dijalankan dibawah pengawasan ketat ala Kasen Kanesada membuahkan hasil, dan kini Yamanbagiri Kunihiro sudah tidak mengkhawatirkan keadaan ekonomi citadel mereka.

 

“Iya, tapi aku trauma melihat angka 0 dan 3 dan 0.”

 

Otegine yang ada di seberang Yamanbagiri Kunihiro berusaha menahan tawa sambil menepuk-nepuk kuda yang sedang ia beri makan, lebih terlihat seperti menghindari mulut kuda yang berusaha menggigitnya.

 

“Hatiku hampa meski sudah ada Jiji.” Sang saniwa bergumam.

 

“Tapi Mikazuki Munechika itu harta nasional, nasional!” Ujar Konnosuke.

 

Otegine berpindah ke samping sang saniwa. “Coba saja lagi minggu depan, mungkin hari ini kau kurang beruntung.”

 

Perempuan itu malah semakin murung.

 

Otegine mengerjapkan mata. “...Apa aku salah bicara?”

 

“Abaikan saja dia.” Jawab Yamanbagiri Kunihiro.

 

“Segaiwa… Ima-chan semakin sering mengambek… Bagaimana ini…”

 

Sang saniwa mulai curhat pada kuda dan memonyongkan bibir seperti hendak mencium kuda tersebut. Di mata Otegine sekarang keduanya mirip seperti binatang bernama unta. Yamanbagiri Kunihiro bergulat dengan  ekspresi wajahnya antara hendak tertawa dan memberengut.

 

Konnosuke berpindah dari bahu sang saniwa ke pundak sang Otegine.

 

“Hanya masalah yang biasa, nanti dia tenang sendiri.”

 

Otegine langsung mengerti. Itu berarti Ima no Tsurugi sedang menagih janji sang saniwa lagi. Sementara itu Yamanbagiri yang sudah melihat tingkah sang saniwa berkali-kali seperti ini menghiraukan ocehan putus asa perempuan itu.

 

“Haah… Iwatooshi, kapan kau mau datang…”

 

“Kenapa kau tidak suruh atasanmu untuk langsung saja memberikan semua tsukumogami yang mereka punya?”

 

Sang saniwa menganggap itu sebuah ide yang sangat jenius sebelum Konnosuke mendepak ke arah telinga sang saniwa dengan kaki-kaki kecilnya.

 

Bukan seperti itu cara kerjanya!

 

“Iya, iya! Aku tahu!”

 

Otegine dan Yamanbagiri ingin segera pergi dari tempat yang penuh dengan pertengkaran manusia dan rubah virtual serta ringkikan kuda-kuda yang ikut meramaikan suasana.

 

###

 

Sehari penuh, rasanya satu hari ini kepala Yamanbagiri Kunihiro tidak diberikan kesempatan untuk tenang.

 

Semua dimulai dari pagi itu.

 

Saniwa mereka punya kebiasaan untuk selalu memeriksa kalender hologramnya sebelum menentukan kapan mereka harus ekspedisi atau turun ke lapangan langsung. Ia tak terlalu mengerti apa pentingnya.

 

“Untuk jaga-jaga saja.” Jawab sang saniwa ketika ditanya mengenai hal itu.

 

Ia hanya menyadari kalau sang saniwa jarang mengajak Ima no Tsurugi dalam teritori waktu tertentu ke Atsukashiyama, daerah dengan kesulitan cukup tinggi, tempat mereka yang sudah memiliki level tinggi dilatih berulang kali sampai Sayo pun sudah bisa mengalahkan oodachi musuh dengan sekali tebas saja.

 

Dua hari sudah berlalu sejak ocehannya di istal dan Yamanbagiri Kunihiro baru mengerti kenapa mereka turun lagi ke area ini.

 

“Kau ini tak pernah menyerah.”

 

Komentar dari toudanshi yang sering ia tunjuk menjadi pemimpin pasukan utama membuat sang saniwa tertawa.

 

“Yang bilang aku menyerah siapa?”

 

“Semua ocehanmu kemarin lusa itu.” Balas Yamanbagiri.

 

“Kau tahu aku bagaimana kan. Harus mengomel dulu sebelum merasa lega.” Sang saniwa menarik kekang kuda, memelankan lajunya. “Kenapa? Apa kau sudah capek? Kita kembali saja, masih ada banyak waktu.”

 

“Bukan begitu.” Yamanbagiri Kunihiro memperhatikan area yang sedang mereka lewati. Jalan tanah berbatu di dataran tinggi menuju area pegunungan, dengan kata lain tembok tanah tinggi di seluruh sisi kanan mereka, serta pepohonan dengan berbagai ukuran yang meski tidak rimbun,  bisa menyembunyikan keberadaan mereka dan begitu pula musuh dari pasukan mereka.

 

Dulu mereka pernah melewati daerah seperti ini, dilain waktu mereka melewati daerah Atsukashiyama lain yang lebih terbuka. Namun Yamanbagiri Kunihiro selalu meningkatkan kewaspadaannya dengan area seperti ini.

 

Lalu ada satu hal yang masih ia pertanyakan.

 

“Ini bukan teritori waktu yang seperti biasa.” Yamanbagiri Kunihiro memulai. “Bukan zaman Muromachi-Kamakura.”

 

“Aku dapat laporan ada kelompok musuh di daerah ini pada teritori waktu tahun 1500-an.” Jawab sang saniwa. “Semoga saja tidak berpengaruh pada acara mencari Iwatooshi ini.”

 

“Tapi jangan berharap terlalu tinggi.”

 

Sang saniwa mengerti akan kekhawatiran uchiagatana itu, dan seperti biasa, hanya tertawa ringan.

 

Mereka melewati jalan yang terjal dan sempit itu berdua-dua. Horikawa dan Souza mengikuti di belakang mereka, lalu Akita dan Nikkari Aoe, dan di akhir barisan ada Kousetsu.

 

Kyoudai, apa kau melihat sesuatu?”

 

Yamanbagiri Kunihiro belum sempat menjawab pertanyaan dari saudara wakizashi-nya ketika gerakan pepohonan di atas kiri memperlihatkan sekelebat bayangan yang terlihat jelas bagi mereka semua.

 

“Bukan waktu yang bagus untuk bertarung.” Nikkari Aoe berkata. “Setidaknya untuk Kousetsu. Jalan ini terlalu sempit.”

 

“Jangan berhenti.” Sang saniwa membuka sebuah hologram dan segera menutupnya. “Sedikit lagi harusnya ada jalan yang lebih lebar.”

 

Semua kuda mereka pacu dengan cepat dan waspada.

 

“Hei, terakhir kali kita berhenti lama untuk istirahat, waktu itu Ima-chan gembira sekali ketika melihat pohon pinus merunduk itu--”

 

“Saya tahu anda berusaha mencairkan suasana, tapi sebaiknya kita segera sampai di area terbuka.” Souza berkata, menggantikan Yamanbagiri Kunihiro yang sudah siap menegur sang saniwa kapan saja.

 

Suara-suara berdesing memenuhi udara selama beberapa saat.

 

Sang saniwa berhasil menghalau beberapa anak panah dengan tessen yang ia keluarkan tepat waktu. Tak perlu diragukan lagi bahwa para toudanshi juga berhasil menangkis serangan tadi. Para kuda meringkik panik namun hanya sebentar, dengan segera kembali tenang mengikuti arah tarikan kekang, hasil dilatih berulang kali untuk menghadapi keadaan seperti ini.

 

Tapi siapa yang tak akan kaget jika sesuatu menabrak saat berkuda dengan kecepatan tinggi.

 

Kudanya mengangkat kedua kaki depan tinggi-tinggi, tapi sang saniwa sudah menghantam tanah dengan punggung terlebih dahulu dan meluncur di atas akar-akar kasar dan tumpukan tumbuhan liar yang mengikuti tanah menurun.

 

Secara bersamaan para musuh lainnya bermunculan, mengepung mereka.

 

Keparat!

 

Yamanbagiri Kunihiro merutuk dan itu bukanlah hal yang bagus.

 

Kyoudai, tenanglah.” Horikawa tengah menangkis serangan tachi musuh yang melompat ke arahnya, mereka semua sudah turun dari kuda, jelas tak bisa melanjutkan ke area yang lebih luas. Prioritas sudah berubah untuk membantu sang saniwa yang beberapa kaki berada di bawah sana. Ia hanya bersyukur bentuk menurun tanah tidak curam sehingga sang saniwa tidak terluka parah.

 

“Akita, mohon bantuannya!”

 

“Baik!” Tantou Awataguchi itu sudah melesat untuk membantu sang saniwa, melewati musuh-musuh yang ditahan oleh para anggota pasukan lain.

 

Sementara itu sang saniwa berusaha bangkit berdiri, kepala dan punggungnya masih berdenyut. Udara seakan dipaksa keluar lewat mulutnya ketika tadi punggungnya bertemu tanah dan tertindih uchigatana musuh yang langsung menghunuskan pedang ke arah lehernya.

 

Untung tenaga terakhirnya ia gunakan untuk menahan bilah pedang dengan tessen dan berguling, memaksakan otot-ototnya bergerak dari rasa nyeri untuk menghindari serangan, membiarkan lengannya tergores dan gravitasi menghantamkan uchigatana musuh itu terlebih dahulu ke batang pohon besar dan tak berkutik ketika Akita datang dan menebasnya sebelum sempat berdiri lagi.

 

“Anda tidak apa-apa, shukun?”

 

Sang saniwa mengernyit, menepuk wajahnya yang kotor oleh tanah dan terhuyung ketika berusaha berdiri, Akita memegangi lengannya dengan cemas.

 

“Aaah, lenganku yang malang-- Bercanda, bercanda. Aku tidak apa-apa.””

 

Melihat ekspresi horor dari sang tantou mencegah sang saniwa untuk bercanda lebih lanjut. Lengan atasnya perih, bukan sesuatu parah. Punggungnya berdenyut luar biasa sakit namun ia tidak ingin membuat Akita khawatir.

 

“Lihat! Setidaknya dia menjatuhkan sesuatu… Dan bukan naginata.”

 

Shukun…” Akita hanya bisa geleng-geleng kepala.

 

Bukan bilah naginata seperti yang ia harapkan, tapi ia belum pernah melihat tachi seperti ini, jadi ini pasti pedang baru.

 

Awas!

 

Teriakan peringatan yang berasal dari Horikawa terdengar mendekat. Akita sendiri berhasil berekasi tepat waktu, namun karena ukuran tubuhnya yang kalah besar dari oodachi musuh,tantou itu hanya memperlambat gerakannya sebelum terhempas ke samping.

 

Akita!!

 

Bunyi dentang besi membuat telinganya berdenging.

 

Refleks pertama sang saniwa adalah menarik keluar pedang baru yang masih berada di tangan, tepat waktu menahan bilah musuh yang datang.

 

Bahkan ia sendiri pun nyaris terhempas.

 

Namun ia terkejut ketika merasakan berat pedang di tangannya yang terurai menjadi kelopak-kelopak sakura menghalangi pengelihatan, otomatis ia melepaskan pedang itu, dan detik berikutnya giliran oodachi musuh yang terjungkal kebelakang.

 

Horikawa dan Kousetsu datang dan menghabisi oodachi musuh itu.

 

“Anda tidak terluka kan?”

 

“Hah?” Sang saniwa melongo, menatapi sebuah sosok asing yang berdiri di depannya.

 

Sang saniwa tak sengaja memanggil sebuah tsukumogami di tengah pertarungan. Biasanya ia akan melihat dulu, tapi karena tadi ia bergerak secara insting, sekarang ia tahu siapa pedang di hadapannya ini.

 

“Menahan serangan dan membuat musuh lengah, hal yang cukup keren, bukan?” Pria berpakaian dengan nuansa hitam itu tertawa. Mata emasnya menyiratkan keramahan, didukung dengan uluran tangan hendak membantu sang saniwa berdiri.

 

“Ah, maaf. Namaku adalah Shokudaikiri Mitsutada. Aku bisa menebas tempat lilin perunggu… Ya, itu sama sekali tidak keren...”

 

“....Oh...”



A..Aruji, tidak boleh begitu.” Tegur Horikawa melihat wajah sang saniwa mengharapkan sebilah naginata.

 

 


 

 

Empat hari telah berlalu sejak pasukan mereka membawa Shokudaikiri Mitsutada ke citadel.

 

Satu hal positif yang terus-terusan dikatakan sang saniwa pada toudanshi terbaru itu adalah bahwa ia malaikat penyelamat dapur bersama Horikawa. Mau bagaimana lagi, satu-satunya tempat pelarian sang saniwa dari acara mengambek Ima no Tsurugi adalah makanan enak atau jubah kain Yamanbagiri Kunihiro.

 

Bagi para penghuni citadel ini, sudah biasa ramai di hari pertama kedatangan seorang toudan baru, sebelum kemudian hari-hari berjalan seperti biasa. Yang dulu pernah berada di bawah naungan satu keluarga atau saling kenal akan disuruh oleh sang saniwa untuk membantu membiasakan diri hidup di lingkungan baru ini.

 

Begitu pula kasusnya saat ini bagi Ookurikara.

 

Bukannya ia tidak suka. Ia memang kenal Mitsutada, bahkan cukup lama. Mungkin karena mereka sudah lama tidak bertemu saja, mungkin ada beberapa hal yang sudah tak diingatnya lagi. Hal-hal kecil seperti melihat penutup mata yang selalu dipakai Mitsutada bahkan saat tidur, Horikawa yang mengtakan bahwa ia tak pernah melihat tachi itu lepas dari sarung tangannya setiap saat, membuat sesuatu di dalam pikirannya berkata bahwa ada sesuatu yang berubah.

 

“Apa Sada-chan sudah datang ke tempat ini?”

 

….Mungkin memang hanya efek sudah lama tidak bertemu.

 

“Belum.” Ookurikara memunggungi lawan bicaranya, tampak tak tertarik untuk berbicara. Ia masih memandangi seekor harimau milik Gokotai yang mengendap-endap di depannya, sekedar mencari kesibukan.

 

“Oh begitu?”

 

Toudanshi yang baru datang itu sudah lama rasanya tidak dipelototi oleh Ookurikara ketika ia duduk disampingnya.

 

“Kau ada disini saja sudah mengejutkannya.”

 

Shokudaikiri Mitsutada tertawa lepas.

 

Rasanya sudah lama ia tidak berada dalam suasana santai seperti ini. Selalu mengingatkan akan waktu dimana ia atau Sadamune berusaha mengajaknya untuk menikmati kudapan dan secangkir teh, hal-hal seperti itu. Ditambah lagi suasana tenang tanpa teriakan-teriakan galau sang saniwa yang masih belum mendapat naginata, sungguh sebuah hari yang langka untuk bersantai. 

 

“Rasanya seperti dulu saat kita semua berkumpul.”

 

“Kita sudah tidak berada di Sendai lagi.”

 

Ookurikara yang selalu berkata langsung pada pokok permasalahan, semakin membuatnya mengingat kehidupannya dulu.

 

“Aku tahu.”

 

Ekspresi datar Ookurikara tampak semakin suram. Sang mumeito semakin merasa ada yang aneh, ia tak tahu apa. Dari mulutnya sendiri tadi ia berkata bahwa mereka sudah tidak berada dalam keadaan mereka yang dulu, tapi ia ingat bahwa tachi ini memprioritaskan diri sendiri paling belakang.

 

Ini dia sebabnya Ookurikara tidak mau memikirkan tentang orang lain, otaknya lelah sendiri.

 

Perbincangan mereka berhenti dan Mitsutada mengerjapkan mata.

 

“Ada apa?”

 

“Kau menyebalkan setiap menyimpan masalah sendiri.”

 

Jawaban yang semakin membuatnya bingung.

 

“Apa maksudmu, Kara-chan?”

 

Ookurikara sudah siap melempar benda terdekat di tangannya sebelum menyadari yang sedang menyundul telapak tangannya sekarang adalah salah satu macan Gokotai.

 

Keramaian yang datang dari arah kebun juga ingin membuatnya segera pergi mencari tempat yang lebih sepi.

 

“Ooh, Mitsutada! Ookurikara-- Yah malah pergi.” Mutsu membawa keranjang penuh sayuran di satu tangan sekaligus Sayo yang duduk di pundaknya.

 

“Banyak juga panennya, Mutsu-kun.” Mitsutada menerima bawaan Mutsu itu. “Ah, kalian belum makan siang kan? Aruji juga, dimana dia?”

 

“Masih di pantai. Kau tahu lah, dia masih belum menyerah soal waktu yang tepat untuk berpose membelakangi debur ombak raksasa.”

 

“Jangan tanya.” Sayo melompat ke tanah, menjawab pandangan penuh tanya Mitsutada. “Aruji memang selalu ke pantai setelah selesai membuat laporan.”

 

“Apa masih lama?”

 

“Biasanya sih iya.” Mutsu no Kami Yoshiyuki menoleh ke arah barat sambil tersenyum. “Tapi aku tidak menyalahkannya, pemandangan pantai memang yang paling bagus!”

 

“Ah, kalau begitu biar aku saja yang mengantar makan siangnya.” Kata Mitsutada akhirnya. “Lagipula aku belum pernah pergi ke sana.”

 

“Benar juga.” Mutsu mengangguk-angguk. “Tunggu dulu, apa kau tahu arah ke pantai?”

 

“Aku baru mau bertanya.” Toudanshi yang mengenakan penutup mata itu tertawa.

 

“Hrmm, aku akan latih tanding dengan Horikawa setelah ini. Oh, Sayo bisa menunjukkan jalannya. Iya kan?”

 

Sayo Samonji mengangguk.

 

“Baiklah, aku ke dapur sebentar.” Mitsutada bermaksud untuk sekalian meletakkan keranjang yang sedang dibawanya. “Mutsu-kun, jangan lupa makan siangmu!”

 

“Tenang sajaa!”

 

###

 

Tempat ini sangat aneh.

 

Bila keluar ke sisi lain akan mendapat pemandangan berkesan hijau. Bila Berjalan keluar sedikit dari sisi lain, menuruni jalan berkelok-kelok dan menemukan pemandangan pantai dari tebing tinggi, lalu ada jalan turun lagi dari batuan alami yang diapit seperti gua dan ketika sampai di dasarnya seperti memasuki tempat rahasia. Di dasarnya batu-batu karang tajam semakin sedikit dan lantai pasir halus mulai mendominasi.

 

Tantou Samonji yang berjalan di depan Mitsutada memperlambat langkahnya, mendekat ke satu-satunya sosok yang sedang duduk di tepi tebing. Awalnya mengira sang saniwa akan ada di bawah sana.

 

“Hmm? Kalian berdua, ada apa?”

 

Perempuan itu menyadari keberadaan keduanya, berpaling dari hologram di depannya. Ekor Konnosuke menyembul, tampaknya rubah itu bergelung dipangkuan sang saniwa..

 

“Makan siang.” Sayo mengulurkan dua kotak kayu yang dibungkus kain.

 

“Aah, maaf jadi merepotkan kalian.”

 

“Tidak apa, lagipula aku belum pernah kesini.” Mitsutada masih mengamati pemandangan disekitarnya. Memang pemandangan seperti ini memberikan suatu ketenangan tersendiri, ia mulai mengerti antusiasme Mutsu.

 

Sementara itu sang saniwa sudah merasa berada di surga. Perut kosongnya yang mulai terisi dengan makanan rasa kualitas tinggi, mata berkaca-kaca menahan haru, rasanya ingin berguling-guling kegirangan.

 

“Anda sedang apa sih?” Konnosuke menjejak pundaknya.

 

Hrrmp!! Hmmmf!

 

Aruji, ditelan dulu.” Ujar Sayo, tersenyum sedikit.

 

“INI APA ENAK SEKALI!!”

 

“Ahahaha, terima kasih, hanya tofu dengaku biasa.”

 

“Pokoknya enak~” Kata sang saniwa. “Apa kau sendiri sudah makan?”

 

“Sudah-- Oh?”

 

Sang saniwa mengikuti arah yang dipandang oleh sang toudanshi. Dua kapal besar dengan desain lama seperti yang sering ia lihat pada ilustrasi buku, muncul dari balik tebing diseberang dan berlayar cukup dekat dengan pantai tempat mereka berada. Pemandangan yang tak biasa karena pantai dekat citadel mereka ini tak pernah dipenuhi orang dari alur waktu lain.

 

“Tidakkah kita akan dilihat ?”

 

“Tenang saja, ada barrier pelindung. Kerjanya seperti kaca satu arah.”

 

Konnosuke menggerakan telinganya. “Terlalu besar untuk kapal nelayan.”

 

“Hmm, entahlah. Tahun berapa di luar sana, masih akhir 1500-an? Aku tak boleh ikut campur.” Sang saniwa menghabiskan sisa makanannya. “Yang pasti bukan untuk perang. Mungkin mereka menyelundupkan sesuatu.”

 

“Kenapa begitu?” Tanya Mitsutada, tangan memainkan tali pengikat penutup matanya.

 

“Armada untuk perang tahun segini mungkin sibuk di daerah barat sana, sedang berusaha menguasai Joseon dan Ming.”

 

Sayo telah menghabiskan makanannya juga, kini tengah memperhatikan hologram sang saniwa yang masih melayang di udara. Salah satu kotak pada bagian ekspedisi berubah warna berkali-kali.

 

“Yamanbagiri Kunihiro dan yang lain sudah kembali.” Tantou itu memberitahu sang saniwa.

 

Tangan sang saniwa menyapu udara, menutup hologram. Diliriknya sang tachi pendatang baru yang masih memperhatikan pantai, entah benar-benar menikmati pemandangan atau sedang memikirkan hal lain.

 

“Mitsutada, masih mau disini? Aku dan Sayo akan kembali ke citadel.

 

“Ah, aku ikut.”

 

Kelompok kecil itu kembali ke dalam bayangan teduh pepohonan yang berbaris mengiringi jalan menanjak menuju citadel, Konnosuke berlari kecil, susul menyusul dengan Sayo. Beberapa kaki dibelakang ada sang saniwa dan Shokudaikiri Mitsutada yang berjalan sedikit di belakang.

 

Perempuan itu melambatkan langkah kakinya. Kedua tangan ditangkupkan di belakang punggung.

 

“Ada masalah apa? Katakan saja.”

 

Mitsutada mengerjapkan mata. “Aku tidak--”

 

“Eits, aku tahu ekspresi semacam itu.” Sang saniwa nyengir lebar. “Ayolah, aku tidak menggigit kok.”

 

Tuannya yang sekarang ini memang serba tahu, atau mungkin dirinya yang menjadi lebih mudah dibaca. Ookurikara memang sudah curiga tapi ia tak menyangka sang saniwa juga akan menanyakan langsung padanya.

 

Tachi itu mengalihkan pandangan ke depan, melihat Sayo dan Konnosuke yang sekarang melompat ke bahu Sayo. Sang saniwa masih menunggu.

 

“Apakah anda tidak ingin mengubah masa lalu…?”

 

“Tentu saja tidak.”

 

“Kalau begitu… Apa anda pernah ingin kembali ke masa lalu?”

 

“...Apa kau sedang serius?”

 

Mitsutada memegangi kepalanya, sisi mata yang tertutup.

 

“Tidak, tidak. Lupakan saja.”

 

“Kalau kau sedang serius, tak apa kok. Kau tahu tidak, hari pertama Ima-chan datang dia mengira sudah kembali ke masa Yoshitsune, lalu setelah kukatakan bukan, ia mengurung diri di kamar selama 2 hari.”  Sang saniwa menendang kerikil kecil. “Baru ada Yamanbagiri Kunihiro dan Gokotai saat itu, ah gara-gara kamu aku jadi ingat saat itu.”

 

 Mitsutada terdiam. Kenangan masa lalu seperti itu selalu mendatangi sejak pertama kali sampai di tempat ini. Terutama masa ketika ia berada dalam klan Date, karena meski sebelum itu ia berada di tangan Oda Nobunaga bahkan termasuk favorit, ia nyaris tak melakukan apa-apa.

 

“Aku merasa lebih hidup jika mengingat kejadian-kejadian di masa lalu.” Ujar Mitsutada. “Seperti ada sesuatu yang membuatku ingin kembali ke saat-saat seperti itu.”

 

“Awalnya memang akan sulit. Memori yang paling menyenangkan juga dapat menahanmu untuk menerima kenyataan.”

 

“Tapi hanya itu yang kupunya, aruji.”

 

“Aku tidak bilang kau harus melupakan memori masa lalumu.” Kata sang saniwa. “Buat saja yang baru, sekarang, di citadel ini.”

 

Mitsutada tertawa mendengar itu. “Kalau anda mengatakannya seperti itu, memang benar juga.”

 

Tembok luar tempat tinggal mereka mulai terlihat. Sang saniwa melambaikan tangan, mengizinkan Sayo dan Konnosuke untuk berlari ke dalam mendahului mereka.

 

“Mitsutada.”

 

Sang saniwa menghentikan langkahnya, maka Mitsutada pun ikut terdiam di tempat.

 

“Sebenarnya aku tak menyangka akan menemukanmu.”

 

Ketika sang saniwa mengulurkan tangan hendak menyentuh penutup mata Mitsutada, toudanshi itu mundur mendadak. Tinggi mereka berbeda cukup jauh namun Mitsutada merasa sang saniwa benar-benar bermaksud meraih mata kanannya. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan di depan orang lain.

 

Perempuan itu juga diam, tangan masih di udara. Senyuman yang terukir di wajahnya penuh pengertian.

 

“Bolehkah?”

 

Mitsutada ragu. Ia sedang tidak bertarung melawan musuh namun saat bertarung pun ia tak pernah merasa-- Takut? Khawatir? Dia tahu pasti mengapa ia merasa takut, tapi ia tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.

 

Kembali matanya menangkap senyuman itu dan rasa ragunya mulai menghilang.

 

“...Baiklah.”

 

Sang saniwa berharap ia akan menemukan pasangan mata kuning emas yang sama. Jemarinya menyentuh kulit kasar gelap berkeriput yang mengelilingi pasangan mata emas yang nyaris tak bisa terbuka.

 

“Banyak bilah pedang yang sudah hilang. Orang-orang atasan itu punya berbagai cara untuk mendapatkan data, baik dengan yang asli, duplikat, bahkan hanya dari gambar di buku-buku tua.” Kata sang saniwa. “Jadi kurasa mereka memakai data dari bilah aslimu....”

 

Penutup mata terpasang kembali, sang saniwa juga menebak  kondisi tangan Mitsutada. Awalnya ia tak menyangka akan ada efek dari data bilah asli, dari hologramnya pun menunjukkan tak ada masalah dengan performa Mitsutada. Sang saniwa punya beberapa informasi mengenai sistem mengolah data para toudanshi namun ia tak tahu mengapa hal seperti ini bisa terjadi.

 

“Apa terasa sakit?”

 

“Tidak sama sekali.” Gumam Mitsutada. “Tapi jadi terlihat tidak keren...kan?”

 

Hening.

 

HAAAAA?

 

Pandangan mata sang saniwa dan ekspresi sang saniwa yang begitu spontan membuat Mitsutada semakin memalingkan wajah. Sang saniwa sudah memperkirakan apa yang terjadi pada mata dibalik penutup itu namun jawaban yang biasanya ia kira akan dapat dari seseorang seperti Kashuu membuatnya terperangah.

 

“Mitsutada, sini kamu.” Sang saniwa menarik lengan tachi yang hendak berbalik pergi itu . “Shokudaikiri Mitsutada!”

 

Kedua tangannya memegangi bahu dan memaksa toudanshi itu untuk menyamakan tinggi mereka.

 

“Bilahmu yang sekarang, hitam legam, pangkalnya berkarat, tumpul. Sebuah keajaiban kau bisa bertahan, ya.”

 

“Anda tak perlu menyebutnya dengan detail.” Mitsutada meringis.

 

“Bagiku semuanya itu menunjukkan kegigihanmu bertahan dalam keadaan berat sekali pun.” Suara sang saniwa terdengar serius. “Benar-benar keren.”

 

Mitsutada terkesiap.

 

“Benarkah?”

 

“Yep. Super keren. Bahkan caramu muncul pertama kali di depanku sangat keren.” Ditepuknya bahu Mitsutada berkali-kali. “Jadi jangan berpikiran seperti itu lagi, oke?”

 

“Baiklah.” Jawab Mitsutada masih dengan wajah terkejut.

 

“Sudah lega?” Sang saniwa tersenyum lebar ketika tachi terbarunya itu mengangguk. “Bagus. Lain kali kalau ada apa-apa bicarakan saja padaku atau yang lain ya.”

 

Sang saniwa berbalik dan berjalan melewati pintu luar yang terbuka lebar. Mitsutada masih terdiam di tempat, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

 

Satu kesimpulan yang ia dapat bahwa tuannya yang kali ini pun sangat keren.

 

“Setelah ini kurasa kau harus konsultasi dengan Kashuu.”

 

“...Eh?”

 

 

 

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.

 


 


 

“Tahu tidak… Mitsutada menanyakan padaku apa aku pernah ingin kembali ke masa lalu…”

Jiroutachi tak menyangka akan tiba hari dimana ia harus menghentikan seseorang untuk minum-minum. Tangan kiri sibuk memegang kiseru dan tangan kanan segera mengambil gelas sake dari tangan sang saniwa dan dipinggirkan ke sisi lain lantai kayu. Beberapa hari ini sang saniwa sering duduk menikmati pemandangan malam bersamanya. Oodachi itu senang-senang saja ditemani, sang saniwa kalau sudah sedikit mabuk itu selalu membuatnya tertawa

“Saniwa-chan, sekarang kau sudah ada di masa lalu.”

“Bukan,” Sang saniwa menggelengkan kepala, “aku tahu bukan itu maksudnya.”

“Lalu?”

“.....” Ada jeda panjang dari otak yang sudah setengah pusing karena alkohol. Lalu sang saniwa berkata dengan serius, “...Sesuatu seperti memutar balik waktu dan mengembalikan semua kesempatan 01:30:00 di penempaan menjadi lebih baik…?”

Dahahaha! Kayaknya bukan itu juga deh.” Suasana yang sudah tengah malam seperti ini menahan Jiroutachi untuk tidak tertawa kencang.

“Hmm, yang jelas aku mengerti apa maksudnya.” Sang saniwa kembali meraih cangkir sake sebelum sempat dicegah. “....Ah, bahan pembicaraan kita berubah terus ya?”

“Makanyaaaa, kubilang jangan minum terlalu banyak.” Kali ini botol sake segera dipegang Jiroutachi. “Terakhir kali kita minum-minum, kau langsung sakit kepala. Ingat tidak?”

“Ingat. Justru itu tujuanku.”

Jiroutachi tak pernah bisa menganggap serius perempuan ini, entah dirinya sendiri yang berlebihan atau memang pada dasarnya perempuan itu terlalu berterus terang. Pembicaraan mereka sekitar setengah jam yang lalu sebenarnya berputar-putar pada sang saniwa yang pusing tujuh keliling karena kedatangan tachi terbaru hasil tempa mingguan beberapa hari yang lalu (jadwal diatur oleh Yamanbagiri Kunihiro agar sang saniwa tak kalap memakai resource).

Untuk pertama kali dalam hidup sang saniwa terjungkal jatuh di ruang penempaan karena yang muncul dari badai sakura adalah jeritan ‘WA!’ luar biasa keras yang tidak ia duga akan datang karena ia segera memakai tetsudai sebelum melihat penunjuk angka di hologramnya.

Untuk kesekian kalinya sang saniwa berguling pergi karena tidak mendapatkan naginata dan malah kedatangan seorang Tsurumaru Kuninaga.

Gabungkan kedua hal itu, ditambah lagi ulah sang tachi berpakaian serba putih yang mudah bosan sehingga sering bermain dengan para tantou dan membuat jengkel para korban kejahilannya --terutama Ookurikara, membuat sang saniwa sukses ingin izin pergi bertapa seperti Yamabushi Kunihiro. Sayangnya perempuan itu masih punya banyak pekerjaan jadi ia harus berpuas diri hanya dengan sake.

“Aku,” Mulai sang saniwa lagi, “aku berusaha untuk mengerti kalian semua, tapi…”

Sambil mengepalkan tangan sang saniwa berkata dengan lirih kepada kegelapan malam.

Tapi bisa-bisanya dia makan terong goreng yang jelas-jelas sudah ada label namaku!

“Baiklah~ Cukup, kau mabuk.” Jiroutachi sempat berpikir untuk membangunkan Yamanbagiri Kunihiro, tapi lebih mudah mengangkat sang saniwa yang sudah mulai melantur ini kembali ke ruangannya. Ada apa sebenarnya antara manusia ini dengan makanan favoritnya?

“Aku serius!” Sang saniwa memukul lantai. “Dan dia makan pakai kecap. Kecap! Kurang ajar! Apa-apaan itu!?”

Jiroutachi sudah setengah jalan untuk benar-benar menggendong perempuan itu kembali ke ruangannya ketika hologram lingkaran kecil muncul di depan sang saniwa. Kehidupan di museum mengajarinya sedikit tentang huruf dan angka latin. Jiroutachi dapat membaca tulisan ‘E-005’ sangat besar yang memenuhi layar. Sang saniwa mengerjapkan mata.

Tak hanya sekali ini hologram lingkaran itu muncul tiba-tiba. Akhir-akhir ini semakin sering hingga mereka mulai terbiasa. Namun sang saniwa selalu membiarkan hologram itu hingga hilang sendiri, mengacuhkan layar virtual itu. Kali ini pun perempuan itu membiarkan hologram tersebut berkedip terus hingga berdenyar hilang setelah beberapa detik.

“Tidak apa dibiarkan begitu?” Tanya sang oodachi.

Sang saniwa memandangi layar yang melayang di hadapannya dengan pandangan kosong.

“Biarkan saja.”

“Kemarin juga seperti itu lho?”

Wajah sang saniwa yang sudah merah karena alkohol semakin memberengut.

“....Aku balik duluan.”

Jiroutachi hanya bisa menggelengkan kepala.

 


 

Dia baru tahu tempat ini punya loteng.

Sempit, tangga kayunya pun kecil. Letaknya agak di bagian dalam bangunan utama. Tsurumaru sudah menyusuri setiap sudut bangunan kuil super luas ini sejak hari kedua ia sampai, mencari berbagai tempat tersembunyi untuk keperluan tertentu yang dapat meramaikan suasana tempat yang terlalu tenang ini. Beberapa ia temukan karena mengekor para harimau Gokotai yang senang berpetualang, meski dua diantaranya selalu menuju ke arah pohon dan selalu ia bawa turun kembali sampai bosan. Tangga menuju ruangan kecil ini pun ia temukan berkat mahluk-mahluk kecil berkaki empat itu.

Tak ada yang sedang mengawasi, tentu saja.

“Mutsu, nanti kalau kau mau lihat lagi bisa kok. Bantu bersih-bersih dulu.” Kata sang saniwa pada Mutsu yang memutar bola dunia di meja pendek untuk terakhir kalinya sebelum uchigatana itu kembali membantu mengatur isi ruangan penyimpanan buku milik sang saniwa.

“Aizeeen, gasing-gasing ini mau disimpan atau tidak?” Kembali sang saniwa yang tengah membantu para tantou membereskan ruangan mereka berkacak pinggang sambil memegang sesuatu di tangan.

“Aah! Gasing kayu buatanku!” Aizen nyengir kegirangan.

Suara sang saniwa masih terdengar dari sana terakhir kali Tsurumaru melewati ruangan itu, para toudanshi sedang sibuk membersihkan ruangan mereka masing-masing yang terletak di bagian luar.

Kalau saja Taikogane Sadamune ada disini pasti lebih seru, pikir Tsurumaru. Tidak ada yang sedang bisa diajak bermain, semua penghuni tengah sibuk melakukan kegiatan bersih-bersih bulanan. Peraturan sang saniwa yang tak boleh dilanggar dan paling disetujui, kebersihan itu nomor satu.

 Area tempat loteng itu berada masih sepi, kamar-kamar kosong yang belum dihuni.

Lotengnya tidak dipakai, kosong penuh debu. Tsurumaru berdecak kecewa. Mengharapkan sesuatu seperti harta karun atau benda aneh lain yang dibawa perempuan itu dari zamannya berasal. Mutsu no Kami Yoshiyuki dengan antusias sering memperlihatkan berbagai benda futuristik yang di dapat dari sang saniwa kepadanya, atau siapa pun yang punya waktu luang dan bersedia mendengar celotehan sang uchigatana. Mitsutada juga dengan gembira memberitahu segala kegunaan dan kehebatan benda bernama kulkas yang ada di dapur mereka.

Tsurumaru harus merangkak dan menunduk ketika duduk bersila agar kepala tak mengenai langit-langit kayu. Benar-benar kosong tak dihuni mamalia pengerat. Kalau saja kamar di bawahnya dihuni mungkin ia sudah mengetuk-ngetuk lantai atau membuat suara-suara mengerikan.

“Ah, gawat,” Tsurumaru tersadar hakama putih dan telapak tangannya sudah kotor dengan debu,  “Mitsu-bou bisa marah melihat ini.”

Tachi berpakaian serba putih itu hendak turun ketika suara langkah kaki samar terdengar mendekati tangga loteng. Tsurumaru menyesal tidak mengambil tepung dari dapur.

“....tak mau istirahat?”

“Sebentar lagi juga selesai.”

Sang saniwa dan Yamanbagiri Kunihiro, kombinasi yang paling sering terlihat di citadel. Ia sudah diperingatkan agar tidak melakukan apa pun itu yang ia rencanakan setiap melihat jubah kain uchigatana Kunihiro yang sedang dijemur. Insiden dengan sang saniwa beberapa hari yang lalu masih membuat perempuan itu memberengut setiap bertemu Tsurumaru.

Tsurumaru mengurungkan niat untuk turun dari loteng.

“Bagian sini juga mau dibersihkan?” Tanya Yamanbagiri Kunihiro.

Suara teredam kaki mengetuk lantai kayu. “Bolehlah, tapi nanti saja. Dua atau tiga ruangan juga sudah cukup, setelah ini aku butuh beberapa orang untuk--”

Sang saniwa mendadak berhenti berbicara, berdecak kesal. Tap tap tap.

“...Dijawab saja apa susahnya?” Ujar Yamanbagiri Kunihiro.

“Tidak semudah yang kau kira.” Suara sang saniwa masih terdengar kesal.

“Sampai Horikawa juga menanyaiku tentang hologram itu.”  Kembali uchigatana itu bersuara. “Kalau kau ditelepon terus-terusan seperti itu artinya ada sesuatu yang penting kan?”

“Justru karena aku tahu apa yang akan dibicarakan, aku malas mengangkatnya.”

Giliran Yamanbagiri yang berdecak kesal.

Suara sang saniwa bergerak mendekat ke arah loteng. Tsurumaru bersiap-siap.

“Lagipula berbicara dengannya itu sangat menyebalkan jadi--”

“Hoi!”

Bunyi keras terdengar ketika tulang kepala bertemu dagu, yang tidak diantisipasi oleh kedua belah pihak, berakhir dengan sang saniwa yang nyaris jatuh dan Tsurumaru Kuninaga yang meringis kesakitan. Yamanbagiri Kunihiro menghampiri tangga dengan cepat.

“Apa yang kau lakukan disana?!”

“Uuh, kejutan?” Tachi itu mengusap dagunya yang masih berdenyut. “Maaf, maaf, niatku tidak seperti ini, haha…”

“....Tsurumaru-san.”

Setelah melewati berbagai macam kejadian dalam hidup, baru kali ini Tsurumaru merasa hukuman dari langit itu terasa nyata. Suara sang saniwa sudah datar, sangat datar dan tajam.Hitam arang memandang tajam mata emas sang tachi, seakan ia bisa melihat menembus dan membawa jiwa toudanshi satu ini kembali ke masanya, pergi ke Sendai atau lebih tepatnya ke patung Guanyin yang terkenal itu, naik sampai ke bagian kepala dan menyuruhnya terjun bebas.

Pengaruh alkohol masih ada di dalam kepalanya.

“Pilih mana. Pupuk di kebun atau jadi kuli?”

“...Hah?”

###

Bila disuruh memilih antara mengurus para kuda atau pergi berbelanja, Otegine akan pilih yang kedua. Beberapa kuda oke saja dengan yari itu, sisanya selalu berusaha menggigit rambutnya. Dikiranya ia jerami? Maka Otegine menurut saja kalau sudah diminta tolong untuk ikut berbelanja. Ada sesuatu dalam keramaian kota yang membuatnya merasa lebih hidup. Efek dari sering mengalami perjalanan jauh. Meski tidak seperti sankin koutai dimana ia harus bolak-balik pergi, ia cukup pergi sebentar membeli barang dan segera kembali ke citadel. Lebih cepat, tak butuh waktu bertahun-tahun.

“Banyak juga kita belanja…”

“Kan untuk banyak orang.” Otegine membenarkan letak seikat besar kain di bahunya sebelum menoleh ke arah Tsurumaru. “Kuat tidak?”

Keramaian kota membuat mereka berpencar. Sang saniwa pergi bersama Sayo, Ima no Tsurugi, serta Shishiou. Otegine dan Tsurumaru bertugas membawa barang yang besar. Mereka sedang berjalan menuju titik temu yang sudah ditentukan, jembatan kayu yang memisahkan pusat dan daerah kosong pinggiran.

“Kuat, kuat.” Tsurumaru membawa bungkusan kain berisi daging. “Daripada aku disuruh pegang pupuk organik lebih baik aku bantu membawa barang saja.”

Otegine tertawa.

“Kau tahu… Kau harus mencoba mengurangi ‘kejutan’ itu.”

Otegine mendapat sebuah pandangan aneh dari sang tachi serba putih.

“Sedang kucoba, tapi ada yang aneh kalau terlalu sepi. Rasanya ada yang kurang.” Tsurumaru menyeringai. “Dia sangat marah ya?”

“Lebih tepat dibilang sangat kesal?” Tuan mereka itu bisa sangat santai, terkadang konyol, bahkan sering dimarahi oleh Yamanbagiri Kunihiro. Ada saat-saat tertentu dimana perempuan itu bisa serius, itu pun bisa dihitung dengan jari. “Kau datang di waktu yang tidak tepat, sabar saja ya.”

“Ah, karena dia sedang mencari naginata.

“Iya.” Otegine bergumam setuju. “Lalu karena layar lingkaran melayang aneh itu.”

“Apa yang aneh?”

Tsurumaru sangat bangga pada dirinya sendiri karena tidak tersentak kaget mendengar suara sang saniwa yang tiba-tiba ada di belakang mereka berdua. Sayo dan Ima no Tsurugi mengekor di belakang, tangan penuh dengan kotak kayu.

“Sudah semua kan?” Tanya Shishiou.

Sang saniwa menghitung ulang semua barang yang mereka bawa. Sambil mengusap dagu, perempuan itu terdiam, lalu menghitung lagi.

“....Ya ampun, aku lupa mau membeli kecap dan peralatan minum sake baru.”

“ Ampun deh, aruji.”

“Yang terakhir itu juga penting!” Sang saniwa membela diri. “Sekalian kubelikan dango deh untuk kalian.”

“Mau!” Ima no Tsurugi menjawab dengan penuh semangat.

“Kalau begitu kalian tunggu sebentar. Tsurumaru, Sayo, ikut aku.”

“Kami tunggu di jembatan!” Otegine sudah mengambil alih barang bawaan kedua toudan yang dipanggil sang saniwa.

###

Ketiga orang tersebut kembali ke dalam keramaian jalan kota. Orang-orang sibuk hilir mudik di kiri dan kanan, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sayo berjalan mendahului mereka, masih dalam jarak pandang sang saniwa sehingga perempuan itu tak khawatir mereka akan terpisah.

“Peralatan minum baru.” Komentar Tsurumaru agar mereka berdua tidak diam-diam saja. “Boleh juga tuh.”

“Sekedar variasi.” Jawab sang saniwa, tak menoleh, bergeser mendekat ke arah Tsurumaru untuk menghindari gerombolan orang melawan arus di sisi kiri “Bosan pakai yang lama terus.”

“Hee...”

Sayo berhenti, berbalik dan menunjuk ke arah penjual dango. Sang saniwa segera membeli beberapa, seperti yang dijanjikan. Mereka bertiga kembali berjalan dengan mulut mengunyah kue bola.

“Aku ingin bertanya.”

Tsurumaru mengangkat sebuah pertanyaan yang cukup lama ada di kepalanya. Sang saniwa tampak sedang tidak marah, kalau tidak dijawab pun ia tak masalah.

“Tentang apa?”

“Kalau kau mati, apa yang akan terjadi dengan tempat ini?”

Sang saniwa menoleh. “Kamu ini benar-benar penuh kejutan. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?”

“Ah? Jadi seharusnya aku tidak boleh bertanya mengenai itu?”

“Tidak juga. Pertanyaan bagus.” Senyuman yang terukhir di wajah perempuan itu sangat mencurigakan. “Menurutmu bagaimana?”

“Tempat ini akan menghilang.” Tsurumaru menebak. “Atau akan ada saniwa baru menggantikanmu?”

Kalau boleh jujur ia kaget (dalam hati) ketika perempuan itu malah tertawa, bahkan Sayo pun menoleh. Sebuah reaksi di luar perkiraan. Apa saking kesal sampai tertawa seperti itu?

“Sejauh ini belum ada kejadian seperti itu,” ada kata 'lebih baik begitu’ yang tak terucap di akhir kalimat, “tapi kemungkinan hal terakhir tadi yang akan terjadi.”

“Jadi sama seperti menggantikan kami yang patah?”

“Asal kau tahu saja, aku tak akan pernah membiarkannya terjadi.”

“....Jangan marah lagi dong.”

“Aku tidak marah...” Sang saniwa mengurut kening.

“Banyak pikiran?” Kata Tsurumaru. “Melarikan diri dari hologram lingkaran?”

“Terkadang aku tak tahu kau sengaja atau tidak membuat orang marah.”

“Aku melihatnya seperti itu.”

“Yah, kau tidak salah.”

“Itu… Alat komunikasi kan?” Tsurumaru menggaruk kepala. “Kenapa tidak dijawab saja? Lebih cepat beres kan lebih baik.”

Sang saniwa tak menjawab.

Saat itulah Tsurumaru menyadari warna biru di depan mereka tak terlihat.

“Dimana Sayo?”

Keramain orang banyak masih berjalan di sekitar mereka. Sang saniwa tersentak, juga berusaha mencari Sayo di depannya. Namun ia harus bergeser ketika segerombolan orang menyeruak melawan arah.

“Apa dia mengambil jalan pintas?” Gumam sang saniwa, setelah beberapa kali berteriak memanggil tantou itu. Area ini masih familiar baginya, jalan antar bangunan kayu di sebelah kiri juga masih ia kenali. Ia memberikan gestur agar Tsurumaru mengikutinya. “Lewat sini.”

Suara keramaian meredam ketika mereka berdua memasuki jalan sempit, sedikit lebih gelap karena bangunan kayu yang menghalangi cahaya matahari. Satu atau dua orang melewati mereka.

“Kau yakin dia lewat sini?”

“Tadi kita lewat sini, lebih cepat--”

Tsurumaru hanya bisa angkat bahu. Lebih cepat, memang terlihat seperti itu karena setelah berbelok lalu berjalan lurus dan akhirnya berbelok lagi ke sisi lain, toko tujuan mereka nampak di seberang sana.

Masalahnya ada tiga orang berperawakan sangar muncul di depan dan belakang mereka.

“Duh.” Gerutu sang saniwa.

Perampok di tengah hari seperti ini baru pertama kali dialami Tsurumaru, mengingat tempat tinggalnya sedari dulu di kediaman golongan menengah ke atas. Bukan berarti ia tak tahu tentang kondisi ekonomi kebanyakan orang tak beruntung di masa itu. Mungkin karena sang saniwa membeli banyak barang dan kebetulan terlihat, apalagi mereka banyak berkeliling kota tadi.

“Tuan-tuan, bisakah kita bicara dulu--”

“Serahkan seluruh uang kalian sekarang juga!” Salah seorang yang menghalangi di depan mereka mulai berbicara, kilatan besi terlihat jelas dari wakizashi tanpa nama di tangannya.

Sang saniwa menyikut pelan Tsurumaru yang memunggunginya. Keenam orang yang menutupi jalan mereka bersenjata. Mereka berdua hanya punya sisa tusuk dango. Oke.

“Kau ambil depan, aku belakang?” Bisik sang tachi yang mulai menyesal tidak membawa pedangnya.

“Yap.” Balas sang saniwa. “Buat mereka pingsan saja.”

Improvisasi dengan tusuk dango yang dilempar dengan sasaran wajah berhasil membuka sebuah peluang bagi keduanya untuk memberikan pukulan dan tendangan pertama. Para perampok yang tak menyangka akan perlawanan tiba-tiba tersisa menjadi empat orang.

Tsurumaru tak terbiasa bertarung dengan tangan kosong, tapi melihat kemampuan orang-orang yang hanya menggertak dengan wajah dan senjata ini ia bisa bereskan dalam waktu singkat. Luas tempat berkelahi mereka sempit jadi setelah dipikir lagi pedangnya tak akan berguna selain menimpuk orang dengan pangkalnya. Pukulan di area atas perut, pukulan di area leher, berusaha tidak membunuh seperti kata perempuan itu tadi.

Ada suara teriakan dan segera tachi itu berbalik.

Kelebat kecil melompat dengan gesit dari belakang sang saniwa. Sayo Samonji menggunakan pangkal sarung pedangnya untuk menghantam punggung salah satu penyerang. Sang saniwa menghantamkan diri ke arah orang terakhir yang mencengkeram lengannya, membiarkan bilah pedang  nyaris mengiris lengan sebelum memberikan pukulan cepat di leher, membiarkan satu tubuh lagi ambruk ke tanah.

“Ah, selesai juga.” Sang saniwa meringis ke arah Tsurumaru. “Kau tidak apa-apa?”

“Kau sendiri?”

“Baik-baik saja, karena ada Sayo~” Kata sang saniwa pada Sayo yang sekarang wajahnya permanen antara murka dan lega.

Setelah dimarahi dengan pandangan menusuk dan kata-kata singkat dari sang tantou Samonji karena mereka tidak berjalan mengikutinya, barulah mereka mendatangi tempat tujuan akhir mereka dan bergegas pergi ke jembatan.

###

Ia baru mau berpikir hari ini berakhir dengan cukup tenang ketika sebuah hologram lingkaran kembali muncul di depan wajahnya setelah makan malam dan dari belakang punggungnya terdengar suara Tsurumaru.

“Ha! Sudah kubilang lebih baik segera dijawab.”

Tsurumaru Kuninaga memang ahli dalam muncul tiba-tiba dan pergi dengan kecepatan penuh sambil tertawa-tawa sebelum ia sempat bereaksi. Tangan di udara yang hendak memukul beralih mengacak rambut dengan frustasi.

Ugh.”

Harus diakui, apa yang dikatakan tachi Kuninaga itu benar.

Sambil berjalan menuju ruangannya, sang saniwa menghela napas. Dibiarkan cahayan neon berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya menekan hologram yang menampilkan angka dan huruf yang sama.

[“Kenapa baru angkat sekarang?”]

Mendengar suara orang di seberang sana saja sudah membuatnya kesal. Tapi masih bisa ia tahan.

“Ya sudah aku tutup saja.”

[“Hei, hei. Jangan begitu dong.”]

“Apa maumu.”

[“Kapan kau akan kembali ke sini?”]

“...Entahlah.” Sebuah pertanyaan yang sudah ia duga akan datang. Ide untuk segera tidur di atas futon yang ada di hadapannya dan membiarkan orang di seberang sana mengoceh sendiri terdengar sangat bagus.

[“Tapi kau akan kembali kan? Masa kau mau membiarkanku mengerjakan laporanmu terus!”]

Sang saniwa mendengus keras.

“Yang pasti nggak sekarang.”

[“Aku tak tahu bagaimana dengan tempatmu sekarang, tapi keadaan disini mulai tegang. Masalah-masalah baru.] Ada sebuah jeda. [“Kalau sampai di tempatmu juga, berarti ada kemungkinan--”]

Apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan?

[“...Itu saja sih.”] Lanjut suara laki-laki dari dalam hologram. [“Hanya memastikan kau akan kesini lagi atau tidak. Butuh beberapa bantuan disini, kau tahu?”]

“Selalu ada orang baru.”

[“Kau tahulah, lebih baik yang sudah berpengalaman dari pada membuang waktu mengajari yang baru.”]

“Dan ini sebabnya aku menganggapmu sangat menjengkelkan.”

[“Oi--”]

“Dah.”

Satu masalah selesai, sekarang ia hanya ingin berguling di atas futon empuk. Tidur.

 

 

 

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

 

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.

 


 


 

Aroma musim semi menerpa wajahnya.

 

Hal yang aneh, padahal ia ingat betul hawa musim panas yang mulai merambat seluruh sudut tempat tinggal mereka. Barulah ia menyadari pemandangan tinggi kota dari balik jeruji besi tipis di depan wajahnya. Tubuhnya kecil dengan warna bulu yang indah. Merambat pula siulan shakuhachi sendu, membuat siapapun yang mendengarnya terbuai alunan mendayu. Suara kagura suzu yang berderik teratur membuat ritme menghipnotis.

 

Orang-orang berbicara di kiri dan kanannya, entah tentang dia, entah tentang orang lain. Udara menipis. Sesak. Ia ada di dalam sebuah ruangan, masih di dalam jeruji. Derap kaki berlarian panik, bayangan-bayangan datang dan pergi menghindari entah apa yang membuat kehebohan di ujung lorong. Lalu segalanya berguncang –ia membenturkan diri ke arah jeruji, berusaha membebaskan diri. Lalu bentuknya berubah menjadi kupu-kupu. Ia bisa bebas, menerobos sela-sela jeruji.

 

Berat. Ia tak dapat terbang tinggi. Berat. Ia berusaha menoleh. Sayapnya putus. Berat. Timah panas meleleh keluar dari sela-sela jari dan--

 

“Souza.”

 

Wajah Yagen menyambut ketika mata Souza membelalak terbuka.

 

“Kau ada di ruanganmu.” Ujar Yagen, dengan ketenangan yang bahkan membuat Souza Samonji mulai berusaha menarik napas teratur ketika bangkit duduk di atas futon. Tangannya masih bergetar ketika sang tantou menggenggamnya saat memberikan segelas air, membantu untuk minum. “Semuanya baik-baik saja.”

 

“Semuanya… Baik-baik saja….”  Ulang uchigatana itu. Tangan meraba futon empuk dan hendak meraih—

 

Ia spontan berbalik ketika mendapati tak ada dua sosok yang ia cari di sebelah kirinya.

 

 “Dimana--?!”

 

Souza mengikuti arah pandang Yagen ke arah pintu yang terbuka, cukup tergeser untuk angin musim panas masuk dan memperlihatkan Kousetsu yang duduk membelakangi mereka di tepi lantai kayu, menggumamkan kata-kata menenangkan pada Sayo di dalam gendongan, membenamkan wajah di bahunya.

 

Dari ujung mata, Yagen melihat bahu Souza yang mulai rileks. Mereka berdua terdiam seperti itu untuk beberapa saat.

 

“Cobalah tidur lagi setelah ini.” Kata Yagen, menepuk pelan tangan Souza yang masih digenggamannya. Setelah itu baru ia berdiri hendak keluar dari kamar para Samonji.

 

“…Yagen.”

 

“Hmm?”

 

“…Terima kasih.”

 

Tantou Awataguchi itu tersenyum.

 

Kousetsu menoleh saat Yagen menepuk bahunya, mengangguk penuh terima kasih. Sayo sudah tertidur lagi.

 

 Yagen Toushirou mengambil lentera yang ia tinggalkan di luar kamar para Samonji, kembali melanjutkan patroli malamnya. Ketika Kousetsu menggeser pintu tadi saat ia melewati kamar mereka, hanya cukup dengan saling pandang saja ia langsung tahu apa yang terjadi.

 

 Ia bertemu lagi dengan orang lain ketika berbelok di lorong luar.

 

 “Oh, Yagen.”

 

Taishou.

 

Perempuan itu mengacak rambutnya sendiri dan membuatnya semakin berantakan. “Bagaimana?”

 

“Otegine dan Tonbogiri, lalu Sayo dan Souza.” Yagen mengayunkan lentera. ”Waktu aku pergi dari kamarku tadi semua masih tertidur pulas.”

 

Mereka berbicara dengan suara pelan, tersirat nada tegang dan lelah menggantung di udara. Sang saniwa memijit mata, menghembuskan napas dengan keras.

 

“Kau sendiri bagaimana?”

 

Yagen tertawa pelan. “Kemarin tidak parah, semoga hari ini tidak.”

 

Sang saniwa memukul pelan lengan Yagen, memandang dengan peringatan agar tak bercanda seperti itu.

 

“Serius, aku baik-baik saja.” Balas Yagen.

 

Tantou itu mengerti kekhawatirannya. Sudah tiga malam berturut-turut dimana seharusnya seluruh penghuni dapat tidur dan beristirahat dengan tenang, berubah dengan suasana tak nyaman, lentera-lentera yang kembali menyala. Bergiliran para toudanshi terbangun di tengah malam karena mimpi buruk.

Awalnya, seperti biasa, dimana Ima no Tsurugi akan berlari ke arah ruangan sang saniwa. Menit berikutnya diikuti oleh Kasen yang melintas di depan ruangannya, baru kembali dari jalan-jalan malam dengan alasan menenangkan diri. Pada malam kedua ketika sang saniwa tengah duduk seperti biasa bersama Jiroutachi, terdengar teriakan dari ruangan Doudanuki. Dari beberapa kamar cahaya mulai dinyalakan, Yasusada sudah berdiam diri di luar kamar ketika sang saniwa lewat. Keesokan malam terjadi hal yang serupa dengan beberapa toudanshi sampai sang saniwa memutuskan untuk menghentikan segala kegiatan yang harusnya mereka lakukan hari itu.

 

Malam keempat ini pun sang saniwa terjaga berusaha mencari penyebabnya.

 

“Sudah kubilang serahkan saja pada kami. Kukira kau akan minum-minum dengan Jiroutachi.”

 

“Dia dan Tarou-san sedang menenangkan Hotarumaru dan Aizen.”

 

Yagen tak bertanya lagi. Mereka berdua berjalan beriringan hingga sampai di lorong bercabang, jalan memutar kembali ke area dalam bangunan dan lorong terbuka menuju bagian depan kuil.

 

“Aku sedang bertanya pada beberapa saniwa di tempat lain,” sang saniwa menjentikkan telunjuk dan ibu jari ke udara kosong. Hologram kecil muncul di depan mereka. “Ada yang juga seperti kita, ada yang tidak. Tak ada yang tahu kenapa.”

 

Giliran Yagen yang kini menepuk lengannya.

 

 “Kembalilah tidur,” ujar Yagen, “berharap saja tak terjadi yang lebih buruk lagi.”

 

“Yah, semoga.” Gumam sang saniwa. “Selamat malam, Yagen.”

 

“Malam.”

 

Cahaya lentera Yagen bergerak menjauh dan barulah sang saniwa memutuskan untuk memeriksa daerah gerbang kuil.

 

Kalau bukan karena suasana tegang yang mengambang di udara saat ini ia akan mengatakan kalau malam ini sangat indah. Langit tak berawan menampilkan bintang-bintang dengan sangat jelas, pemandangan yang jarang ia lihat.

 

Bulan purnama bersinar tepat di atas sana.

 

Terakhir kali ia menikmati bulan purnama pada zamannya datang pula gerhana matahari kedua dan ketiga, gejala berturut-turut dalam waktu singkat yang sempat menjadi bahan pembicaraan, menyeretnya masuk ke dalam pekerjaan sebagai saniwa.

 

[“Aku tak tahu bagaimana dengan tempatmu sekarang, tapi keadaan disini mulai tegang. Masalah-masalah baru.”]

 

Ah, ya, terima kasih kepada kata-kata itu dan kelembapan malam musim panas yang semakin membuat kepalanya siap meledak kapan saja memusingkan mimpi buruk masal ini. Baju yang juga sudah melekat di kulit karena keringat semakin membuatnya frustasi dan tak nyaman.

 

Ia nyaris berjalan menabrak sosok yang muncul dari arah berlawanan.

 

“Uups--Kashuu?”

 

Uchigatana itu mengerjapkan mata. Bahkan dalam pakaian tidur dan rambut yang diurai pun Kashuu terlihat sangat rapi.

 

Aruji? Apa yang kau lakukan disini?”

 

“Patroli. Kau sendiri sedang apa?”

 

“Yasusada.” Kashuu mengendikkan kepala ke arah sosok yang sibuk mondar-mandir di pekarangan. Bunyi kerikil bergesekan dengan alas kaki yang disengaja terdengar dengan ritme teratur.

 

“Yasusada tiga kali berturut-turut…” Gumam sang saniwa.

 

“Sudah berusaha kutenangkan.” Ujar Kashuu pelan.

 

 “Bagaimana denganmu?”

 

“Tak separah dia.”

 

Sang saniwa memandang Kashuu dengan sedih. Ia tak bisa memberikan ukuran untuk hal yang dapat menjadi mimpi buruk bagi Kashuu Kiyomitsu, tapi berdasarkan sejarah uchigatana yang berdiri di depannya ini ia tak menyangka akan mendapat jawaban yang terasa tanpa beban.

 

“….Kalau ada sesuatu panggil aku, ya?” Ditepuknya bahu Kashuu. “Jangan terjaga terlalu lama.”

 

“Aku yang harusnya mengatakan itu.” Kashuu Kiyomitsu tertawa pelan.

 


 

Honebami Toushirou mengerjapkan mata.

 

Biasanya ia akan memimpikan sebuah bayangan hitam berjalan melewati dinding kertas. Bayangan tulang yang bergerak pelan dan mencuat ke segala arah. Terkadang semua gelap, panas, sesak.

 

Maka ia terbangun setelah mendapati diri berdiri sendirian ditengah padang rumput malam, disertai angin berdesir, tanpa tanda kehidupan selain dirinya. Tak ada gangguan. Sepi.

 

“Honebami….nii-san?”

 

Honebami bertumpu pada siku kiri, bertemu dengan mata Akita yang setengah mengantuk dengan tangan di bawah dagu, meringkuk seperti anak kecil.

 

“Honebami-niisan, baik-baik saja?”

 

Ah.

 

Wakizashi itu menepuk sayang kepala Akita sambil mengangguk, lalu menyuruhnya untuk tidur kembali. Barulah kemudian Honebami memeriksa keadaan kamar Awataguchi. Para tantou untungnya tertidur pulas. Yagen tampaknya baru kembali dari berpatroli, langsung menghempaskan diri tanpa melepaskan kacamata.

 

Yang tidur berada di barisan kanan Honebami kosong. Ia tahu Nakigitsune sering pergi ke atap, namun Namazuo…            

 

Dengan hati-hati Honebami membenahi selimut Akita sebelum merangkak keluar futon, memutari Yagen dan melepaskan kacamatanya sebelum bergerak menuju pintu dalam diam.

 

Honebami terbiasa keluar dari futon dan ruangannya tanpa suara, mungkin karena Namazuo yang merasakan getaran sedikit saja akan terbangun. Saudaranya itu pernah berkata bahwa kata ‘namazu’ dalam namanya yang membuatnya begitu.

 

(Itu sih Onamazu dibawah tanah, tidak bisa dimakan, kata Atsu yang salah fokus.)

 

Honebami menggeser pintu hingga tertutup dan mendengar suara-suara percakapan yang sengaja dipelankan.

 

“…selalu seperti ini, tidak apa-apa.”

 

“Darimananya ‘tidak apa’?”

 

Mengambil beberapa langkah pelan dari pintu kamar, ia menjulurkan kepala dan mendapati Ichigo dan Namazuo tengah berbicara di aula pertemuan, salah satu ruangan besar yang jarang mereka pakai.

 

Kedua saudaranya itu pasti juga mendapat mimpi buruk. Ia tahu apa yang mereka bicarakan. Ia pernah melihat apa yang mereka lihat meski di waktu dan tempat yang berbeda.

 

Tapi dia tidak mendapatkannya selama tiga hari ini.

 

Sama dengan alasannya tak mengatakan hal ini pada sang saniwa, Honebami tak ingin mengganggu kedua saudaranya itu, memutuskan berganti arah menuju area yang sering ia datangi.

 

Ketika ia sampai, kembali terdengar suara percakapan. Tampak dua sosok dalam penerangan cahaya bulan tengah berbicara, satu berdiri dan seorang lagi duduk. Sosok sang saniwa yang berdiri dan mengatakan sesuatu dengan serius lalu menganggukkan kepala dan berbalik pergi.

 

Kelebat kaki sang saniwa menghilang di ujung lorong, namun sosok yang diajak berbicara tengah duduk diam sejenak, memandangi pohon. Seakan menikmati heningnya malam yang dibisiki desir angin.

 

Lalu menoleh ke arah Honebami.

 

“Semuanya baik-baik saja?”

 

Honebami tertegun, tak tahu bagaimana Mikazuki Munechika bisa mengetahui keberadaannya yang tak mengeluarkan suara sedikitpun.

 

“…Ya.” Ujar Honebami, sebelum menggelengkan kepala. “Terlalu baik.”

 

Mikazuki tertawa pelan. Tachi itu memberikan gestur agar sang wakizashi Awataguchi duduk disampingnya.

 

“Bukankah itu hal yang bagus?”

 

“Hanya….Sangat aneh.”

“Kenapa aneh?”

 

“Aku terbiasa dengan mimpi yang lebih kacau.” Ujar Honebami setelah terdiam lama, memikirkan cara menjawab. “Untuk yang lain aku tidak tahu, tapi aku tak ingin mereka mendapatkan sesuatu seperti itu….”

 

Mikazuki menggangguk. “Alangkah bagusnya jika bisa seperti itu.”

 

Mereka berdua tahu bukan itu kenyataannya.

 

“Ichi-nii baru datang ke tempat ini dan selalu terbangun tiap malam.” Mulai Honebami. “Juga selalu mengatakan tak ingin mengkhawatirkan aruji.”

 

 “Tak apa, hanya butuh waktu lama untuk terbiasa dengan kekhawatiran saniwa-san.” Sang tachi Sanjou Munechika menahan tawa. “Kurasa saniwa-san sudah mengetahui hal itu.”

 

“….Bagaimana?”

 

“Dia punya banyak cara.”

 

Mereka berdua tahu itu benar.

 

Suara-suara teredam dari ujung lain bangunan semakin lama menyurut. Tak ada yang benar-benar tertidur beberapa hari ini, kegiatan di tengah malam mereka maklumi.

 

Honebami memutuskan untuk bertanya. “Apa kau baru mendapat mimpi buruk juga?”

 

Mikazuki Munechika hanya menatapi langit. Saking lamanya pertanyaan yang ia lontarkan tak dijawab, Honebami hendak mengulangi sebelum mendengar tachi itu terkekeh.

 

“Aku?” Kata Mikazuki. “Seperti katamu tadi, aku mendapat yang cukup aneh juga.”

 

“Apa itu bagus atau tidak untukmu?”

 

“Hanya mimpi tentang hari-hari yang sudah lewat.”

 

Mikazuki sedetik terlambat menyadari ia baru saja menyentuh topik yang membuat mereka canggung di hari-hari awal kehidupan di citadel ini.

“Aku masih tidak mengingat apa-apa.” Kata Honebami, menoleh ke arah tachi itu. “Aku berharap ingatan itu kembali…Tapi jika tidak bisa kudapatkan lagi, juga tidak apa.”

 

“Begitukah…” Balas Mikazuki. “Kau juga bisa melihatnya sebagai awal yang baru untukmu.”

 

Honebami mengangguk.

 

(Tidak apa, tak perlu tergesa-gesa. Semua akan baik-baik saja. Namazuo tertawa. Ichi-nii tersenyum.)

 

Keduanya menikmati hening malam tanpa berbincang lebih lanjut, sama seperti dulu.

 

###

 

“Kau melihat hal ini sebagai petaka. Aku melihat ini sebagai kesempatan menaikkan tingkat kejutanku.”

 

Sang saniwa mengunci kencang leher Tsurumaru tanpa suara.

 

“Baca suasana! Baca suasana!” Desis sang saniwa sambil menyeret leher tachi itu ke dapur.

 

Adu-du-duh!” Balas Tsurumaru dengan desisan tak kalah berisiknya. “Awas, aku bawa gelas!”

 

Hal yang pertama kali dilakukan sang saniwa setelah mencapai dapur adalah menegak habis air setelah menyesali menggeret bangau hidup yang meronta-ronta.

 

“Aaah, aku masih tak terbiasa dengan benda aneh ini. Bagaimana caramu membawanya kesini?” Tsurumaru mengambil air dingin dari benda aneh bernama kulkas. “Eh, bukan berarti aku tidak suka. Banyak makanan bagus di dalamnya, benda ini bagus.”

 

“Tsurumaru-san, kau harus menahan diri, jangan setiap melihat orang sedang bicara serius kau langsung berteriak ‘WA!’ atau semacamnya.”

 

“Tadi tidak kok.”

 

“Ya itu karena aku berhasil menyeretmu.”

 

Tsurumaru menyeringai lebar, sebelum bertanya serius. “Kenapa kau belum tidur juga? Ishikirimaru dan Nikkari kan sedang patroli juga.”

 

Jari telunjuk sang saniwa dilambaikan dengan sangat cepat.

 

“Kubalikkan pertanyaan itu untukmu juga.”  Sang saniwa berdecak. “Lalu aku perlu mempertanyakan bagaimana kau tahu Ichigo-san dan Honebami sering bangun di tengah malam karena mimpi buruk.”

 

“Bagaimana ya… Bangau itu mahluk malam…”

 

“Dari perspektif klasifikasi aves sebelah mananya bangau itu—”

 

“Aku hanya kebetulan selalu melihat tiap malam.” Tsurumaru memotong. “Apa sih yang membuatmu resah?”

 

Sang saniwa menarik kursi dan menghempaskan diri diatasnya.

 

“Sebelum ini Ima-chan juga sering mimpi buruk,” Mulai perempuan itu,  “tak semua toudanshi mengalaminya setiap baru datang, lalu tiba-tiba ada kejadian masal seperti ini...”

 

 “Hmm…” Tsurumaru mengambil tempat di sisi lain meja. “ Ada yang sudah tahu penyebab kekacauan ini?”

 

“Belum ada yang tahu pasti, sudah kutanya.”

 

“Menurutmu sendiri?”

 

Sang saniwa terdiam, jari telunjuk kembali melambai. Tsurumaru masih harus membiasakan diri ketika sebuah hologram muncul di depan matanya, sebelum digeser sejajar dengan meja.

 

“Menurutku bukan karena cuaca gila ini. Beberapa citadel mengalami hal ini, tapi koordinat dan alur waktu mereka terlalu acak jadi tak ada pola yang harus diawasi.” Kata sang saniwa. “Tak ada yang bersangkutan dengan kejadian penting atau penempa pedang mana pun.”

 

“Wah, susah juga.” Tsurumaru mengusap dagu.

 

“Untuk jaga-jaga sih… Kuperiksa juga berbagai tanggal dan kejadian yang akan terjadi,” lanjut sang saniwa, “kalau ada pun masih lama, dan bukan di daerah kita.”

 

Hologram biru berisi tulisan digeser dengan sebuah peta.

 

“Yang kutemukan pasti adalah,” sang saniwa mengetuk daerah berdenyar lebih gelap dari warna biru lainnya, “data kekuatan spiritual yang mulai menguat disekitar daerah ini.”

 

“Hee, kekuatan spiritual ya. Lumayan jauh dari sini.” Tsurumaru mengernyit. “Kupikir kau tak akan memikirkan hal begituan.”

 

“Tsurumaru Kuninaga-san, kau pikir bagaimana caranya aku membangkitkan kalian semua?”

 

“Teknologi?”

 

“Teknologi dan test tingkat kekuatan spiritualku.” Gumam sang saniwa. “…yang sebenarnya nyaris tidak lulus.”

 

“Kau omong apa tadi?”

 

“Iish, lupakan.” Desis perempuan. “Balik tidur sana, jangan lama-lama disini.”

 

“Ya, ya~” Tsurumaru bangkit berdiri sambil membawa gelas yang sedari tadi ia bawa. “Aku ambil air untuk Mitsu-bou dulu.”

 

Sang saniwa terdiam.

 

“Kenapa tidak dari tadi kau bilang—Ah sudahlah.” Ujar sang saniwa. “Apa dia baik-baik saja?”

 

“Nyaris menendang Kara-bou tepat di wajah, tapi waktu kutinggal tadi sudah tenang.”

 

Sang tachi Kuninaga mengucapkan selamat malam dan hendak menggeser pintu, terhenti ketika mendengar pertanyaan sang saniwa yang berikutnya.

 

“Apa kau juga jadi sering bermimpi buruk?”

 

Tsurumaru mengulangi pertanyaan itu di dalam kepalanya sebelum melengos tanpa suara.

 

“Kau tahu, sebenarnya aku agak mual mendengar kata ‘mimpi buruk’.”

 

“Hah?” Alis sang saniwa naik satu.

 

“Intinya, tak perlu mengkhawatirkanku.” Tsurumaru nyengir lebar. “Mendingan urus kantung matamu itu, aruji.”

 

 Tsurumaru Kuninaga segera kabur sebelum sang saniwa bertindak lebih lanjut dan berjalan menyusuri lorong kembali ke kamarnya.

 

Dia bukanlah seorang pedang yang tak bisa membaca suasana, ia tahu ada batasan yang harus diperhatikan. Membangun suasana agar menjadi lebih ringan, itulah tujuan utamanya. Sama seperti sang saniwa, Tsurumaru ingin masalah ini cepat selesai.

 

Ia menggeser pintu dengan satu tangan, membiarkan cahaya dari luar menerangi Ookurikara yang duduk, memayungi Mitsutada yang tertidur dengan bayangannya.

 

"Bagaimana?"

 

"Sudah tidak panik lagi." Ujar Ookurikara.

 

Tsurumaru meletakkan gelas yang ia bawa di meja kecil ruangan itu.

 

“Wajahmu bagaimana?”

 

Pandangan Ookurikara berkata ia akan membuat Tsurumaru menjadi sate bangau.

 

“Tidur sana, aku akan berjaga sebentar, kalau-kalau dia bangun lagi.” Kata Tsurumaru.

 

Ookurikara hanya mendengus.

 

Dan kemudian yang tersisa adalah dengkur halus dari posisi Mitsutada, punggung Ookurikara, dan otak Tsurumaru yang dipenuhi dengan banyak hal.

 

"Ah, malam ini akan sangat panjang."

 


 

Pohon besar dengan tali-tali putih yorishiro. Hutan pegunungan dengan kuil familiar.

 

Dari segala tempat yang ada, kenapa harus disini?

 

“Kunihiro.”

 

Ia berbalik. Mata menatap refleksi dirinya yang menyapa dengan ramah.

 

Ah, bukan, senyuman ramah yang membuatnya mual itu bukan dirinya.

 

“....Chougi.”Desisnya dengan mulut terkatup rapat.  Menjauh, menjauh, menjauh, harus menjauh, pikirnya. Menjauh dari senyum sedih itu. Ia harus bangun. Segera. Angin bertiup kencang, daun-daun hijau berjatuhan, suara mengerikan keras.

 

‘Refleksi dirinya’ berpaling, menatap sejenak sumber suara itu, sebelum berbalik kembali ke arahnya. ‘Berapa kali lagi ini akan terulang’, adalah yang dikatakan raut wajah itu.

 

“Kunihiro, kau sadarkan ini bukan kenyataan?”

 

“Aku—“

 

Napasnya memburu.

 

Yamanbagiri Kunihiro tersentak duduk, memandangi kedua tangannya, menarik selimut hingga mengalungi leher.

 

Diliriknya Horikawa yang menggumamkan sesuatu dalam tidur, berusaha meraih sesuatu dengan tangannya. Sang uchigatana mengulurkan pergelangan tangan, membiarkan tangan Horikawa menggenggamnya. Pelan-pelan ia menurunkan tangan dan membenahi selimut saudaranya itu. Yamabushi yang bersuara kencang di siang hari ketika malam tidur dengan ketenangan luar biasa.

 

Entah bagaimana ia berhasil keluar menyeret selimut dari kamar tanpa membangunkan kedua saudaranya yang tertidur lelap.

 

Suara napasnya terdengar sangat keras dalam keheningan malam itu.

 

Suara ia menabrak seseorang saat menuju ke pekarangan dalam juga dapat terdengar sangat keras kalau saja yang ia tabrak tidak menahan berat tubuhnya dengan sigap.

 

“…manbagiri Kunihiro?”

 

Ia tertegun sesaat saat sang saniwa bertanya.

 

Tak mendapat jawaban, sang saniwa pun tahu apa yang terjadi. Perempuan menarik tangannya, menyuruh Yamanbagiri ikut duduk berhadapan di tepi kolam.

 

“Aku disini.” Tangan sang saniwa terhenti, ragu-ragu. Perlahan diturunkannya kain yang menyelimuti surai pirang itu. Tangan yang satu masih memegangi tangan Yamanbagiri, satu lagi menepuk-nepuk kepalanya.

 

“Tarik napas.”

 

Saking dekatnya wajah mereka, ia dapat merasakan deru napas bergetar dari sang uchigatana.

 

 Sang saniwa mengaitkan jemarinya pada Yamanbagiri Kunihiro, menggerakkannya seakan mengganti butir bayangan onenju dalam ritme teratur, seperti yang pernah diajarkan Yamabushi kepada mereka.

 

Tak ada yang berbicara.

 

Sang saniwa melepaskan kedua tangan ketika angka 100 sudah tercapai dalam hitungan. Perempuan itu menghela napas lega melihat keadaan uchigatana Kunihiro yang mulai tenang. Sebagai toudanshi yang paling pertama sampai di citadel ini, ia belum pernah melihatnya terguncang seperti itu.

 

 “…Apa yang kau lakukan disini?”

 

Dari pantulan bulan di atas air, sang saniwa menoleh kelewat cepat ketika akhirnya Yamanbagiri bersuara.

 

“Patroli.” Jawabnya singkat.

 

Uchigatana itu meliriknya.

 

 “Wajahmu pucat.” Gumamnya. “Sudah berapa hari kau tidak tidur.”

 

“Tidak sopan, aku tidur kok.”

 

“Ya, jam 3 pagi sampai 7 pagi,” Yamanbagiri mendengus, “tidur, tentu saja.”

 

“Iya, iya. Besok aku akan tidur cepat.” Sang saniwa meringis, meski sebetulnya ia lega karena toudanshi satu itu berbicara dengan normal lagi. Tapi tetap saja…

 

 “Apa yang kau lihat?” Tanya sang saniwa pelan. “Kalau tak mau menjawab, tak apa kok.”

 

Jawaban yang datang butuh beberapa waktu.

 

“… Yamanbagiri Nagayoshi.”

 

Kata-kata yang keluar dengan pelan, nyaris berbisik, membuat sang saniwa menahan napas. Sebuah jawaban yang ia duga akan datang.

 

“….Perlu kubangunkan lagi Mitsutada untuk mengusir dia dari mimpimu?”

 

Sang toudanshi yang menggunakan selimutnya sebagai tudung memukul pelan sang saniwa yang terkekeh pelan.

 

“….Kau tak perlu melakukan ini untukku.”

 

“Aku yang mau duduk-duduk disini bersamamu.” Balas sang saniwa cepat. “Kau juga, bersantailah, biar bisa tidur lagi.”

 

Yamanbagiri Kunihiro memejamkan mata.

 

“…Apa kau benar-benar tidak apa dengan Yamanbagiri Kunihiro ini?”

 

Sang uchigatana Kunihiro ditarik mendekat hingga bahu mereka bersentuhan, kepalanya masih ditepuk-tepuk hingga bersandar di bahu sang saniwa.

 

“Aku hanya butuh orang disampingku ini, Yamanbagiri Kunihiro yang kurang tidur ini.”

 

Sungguh, pedang itu ingin menyundul dagu perempuan itu dengan keras, namun ia merasa sangat lega ketika mendengar jawaban itu. Rasa kantuk mulai menyerang ketika ia memutuskan untuk tidak memikirkan lagi hal-hal lain yang memenuhi kepalanya.

 

Sang saniwa tersenyum. Ditunggunya sampai napas sang uchigatana kembali teratur, berusaha menghiraukan rasa geli di lehernya setiap bertemu hembusan hangat dari mulut pemuda yang perlahan tertidur kembali.

 

“Wangi.”

 

“Mm.”

 

Angin mulai bertiup kembali, memberi sedikit kesejukan dalam melawan udara panas. Suasana benar-benar sunyi, kecuali dengkur pelan Yamanbagiri Kunihiro yang tertidur.

 

 “…..Sekarang gimana caranya aku mengangkut anak ini ke dalam….”

 


 

Suasana malam ini sangat bagus.

 

Nikkari Aoe tersenyum kecut. Ia memainkan lentera yang ia bawa.

 

Mungkin hanya bagus untukmu, nonaku yang rupawan.

 

Mungkin, kata suara dalam kepalanya. Sinar bulan memantul dari jaring laba-laba, perangkap yang bagus.

 

Nonaku yang rupawan, mulai Nikkari lagi, aku bertanya-tanya kapan kau akan menghilang.

 

Aku tak mau pergi, suara dalam kepalanya berkata dengan manis seperti bibir yang menyeringai, selama masih tersisa tempat bagi setitik air mata ini.

 

“Hm,” gumam wakizashi itu, “kau juga mengatakan sesuatu seperti itu seabad yang lalu.”

 

“Nikkari-dono?”

 

 Nikkari Aoe memiringkan kepala dan tersenyum ke arah Ishikirimaru. Konnosuke yang diam di atas bahu oodachi itu ikut memperhatikannya.

 

 “Ya?”

 

“Kurasa kau harus istirahat.” Ishikirimaru berkata dengan tegas.

 

Nikkari terdiam sebelum menahan tawa.

 

“Fufu, tidak apa.” Kembali mereka berjalan menyusuri jalan setapak di kebun, ke arah sebuah pintu kayu, satu-satunya penghubung area luar citadel. “Hanya sesuatu di dalam kepalaku yang memberikan beberapa petuah.”

 

Ishikirimaru menghela napas. “Saya masih tak tahu mengapa rekanmu itu tak dapat ‘dibersihkan’.”

 

“Karena nama adalah sesuatu yang kuat,” Nikkari berkata sambil memeriksa kondisi tanaman penghasil makanan kesayangan saniwa mereka, “Membersihkan dia berarti menghapus namaku.”

 

“Maka saya pun tak bisa melihatnya ya.” Kata Ishikirimaru.

 

Mereka berdua telah mencapai pintu. Cahaya api untuk penerangan luar terlihat jauh.

 

“Nah,” Nikkari meraba bilah pedangnya, “Kau juga merasakannya kan? Apa perlu kita panggil saniwa kita?”

 

Ishikirimaru membuka pintu kayu itu.

 

“Tidak perlu, ia baru saja pergi tidur.” Lalu oodachi itu berbicara pada rubah di bahunya. “Konnosuke-dono, anda tak bisa melakukan sesuatu soal ini?”

 

Rubah itu menggelengkan kepala. “Ini…Diluar apa yang bisa saya lakukan.”

 

Kedua toudanshi itu pun mengangguk. Bilah wakizashi Nikkari Aoe berkilat di bawah sinar rembulan.

 

“Baiklah, mari kita bersihkan apa pun yang ada di luar sana.”

 


 

Berada di bawah permukaan air. Melayang dan bernapas dengan normal.

 

Suara dengung teredam, seperti mesin blender, seperti pengering rambut, seperti denting berat orgel, gema pusaran air besar yang melolong memenuhi telinga.

 

Ia tidak tenggelam. Ia membuka matanya perlahan.

 

Semuanya sangat nyaman dan normal. Tessen berada di tangannya sebelum terlepas dan ikut melayang dalam air bersamanya. Sangat damai. Dia bisa tidur terus dengan keadaan seperti ini.

 

Hanya kakinya yang tak kering.

 

Ia membuka mulut, buih-buih air bermunculan ketika ia ditarik ke bawah. Ia menoleh. Sebuah tangan menariknya. Tangan yang dingin. Air memasuki telinganya. Air memasuki paru-parunya. Meronta sekuat apa pun, ia tak bisa melawan tangan itu.

 

Ada tangan-tangan lain, menggapai punggungnya, mencengkeram lehernya, menutupi matanya dari cahaya di atas sana.

 

Sang saniwa membuka mulut dan kali ini mendapatkan oksigen, bukan air.

 

Ia terbangun dengan keringat membasahi baju dan rasa mual di kerongkongan. Meyakinkan diri bahwa ia bernapas. Masih bisa menghirup udara. Tidak bisa melihat. Tidak ada cahaya. Padahal matanya terbuka. Apa matanya tertutup? Terbuka? Matanya terbuka, tapi ia tak melihat apa-apa.

 

Ia meraba lehernya, merasakan kulit dan keringat.

 

Sang saniwa duduk di atas futon, menutupi wajah dengan tangan entah berapa lama.

 

Ia terjaga hingga hologram menunjukkan pukul 5 pagi.

 

 

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

 

Warning : Typo, OOC, OCs bertebaran, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.

 


 

 


 
—1 jam yang lalu—


 

 

Souza, Ookurikara, Honebami.

Sebuah kombinasi yang tak biasa, sedang beraktivitas di halaman depan citadel. Kegiatan yang menyatukan mereka kali ini adalah giliran tugas harian --dalam hal ini, mereka sedang membersihkan halaman depan citadel yang luasnya bukan main.

Srak srak srak, bunyi kaki dan sapu bertemu hamparan kerikil, satu-satunya sumber suara selain kicauan burung di siang hari.

Ketiganya melanjutkan tugas dalam diam tanpa mengangkat pembicaraan. Biasanya suara-suara para tantou Awataguchi mengisi suasana, tapi saat ini sebagian sedang bertugas di kebun.

Dikarenakan kata-kata sang saniwa tentang bagaimana ia ‘senang sekali dengan hasil panen mereka’ membuat mulut Sayo yang jarang tersenyum langsung melebar. Memang tantou itu yang paling tekun kalau urusan bercocok tanam dan paling sering mengawasi ladang. Akhirnya setelah itu para tantou memulai kursus ‘cara menanam bibit tanaman yang benar' dipandu oleh Sayo Samonji.

Ya, karena tak seperti RNG, hasil ladang dapat ditentukan oleh kerja keras. Hmph.

Omong-omong mengenai kejamnya sistem RNG, kali ini pun Honebami mengira sang saniwa dan unit utama mereka pergi karena mencari naginata yang tak kunjung datang.

Namun mengingat kejadian dua hari kemarin yang membuat kondisi semua penghuni honmaru mereka kacau, kali ini sang saniwa pergi untuk memeriksa suatu tempat yang diperkirakan dapat memberikan mereka jawaban.

“Ah,” tiba-tiba Souza Samonji berhenti menyapu dedaunan, membuat Honebami berhenti melamun. “Ookurikara, apa gerbang kayu di belakang sudah diganti?”

“…Sedang diperbaiki Ishikirimaru.”

Ditambah kejadian kemarin malam, dimana Nikkari Aoe dan Ishikirimaru merasakan aura misterius yang berkumpul tak terlalu jauh dari area belakang citadel mereka. Dengan bantuan Konnosuke mereka meneliti area tersebut, dan menemukan sebuah portal cahaya biru kecil.

Karena letaknya di luar area perlindungan Saniwa mereka, serta aura berbahaya yang diberikan, Nikkari dan Ishikirimaru segera saja berusaha menghilangkan benda itu.

Untungnya tak banyak yang terbangun ketika ternyata setelah dihancurkan, benda itu malah meledak dan menghempas keduanya ke arah tembok kayu tinggi pemisah bagian luar dengan kebun citadel.

Alhasil, sebelum sang saniwa berangkat pergi, perempuan itu menitip pesan agar siapa pun yang sedang senggang membantu Ishikirimaru untuk membenahi pagar tersebut.

(Nikkari Aoe sedang bertugas di kandang kuda, jadi Otegine dan Mutsu memutuskan untuk membantu membenahi pagar.)

Sungguh pagi hari yang diawali dengan kehebohan.

Honebami menguap.

Kurang tidur, sebagian besar penghuni citadel juga seperti itu. Apalagi saniwa mereka. Yamanbagiri Kunihiro sudah  menggelengkan kepala tak setuju ketika tuan mereka itu berangkat dengan unit satu mereka dengan kantung mata terlihat jelas.

Sesuatu bergerak di ujung mata Honebami. Arah pandang Ookurikara membuktikan kecurigaannya.

“Hup.”

Honebami mengangkat salah satu harimau Gokotai yang hendak memanjat pohon di dekatnya. Salah satu dari lima. Untuk sementara akan ditaruhnya harimau kecil itu di dekat teras depan.

Saat ia menoleh lagi, udara berdenyar dan sebuah portal terbuka di pintu gerbang.

“Mereka sudah kembali—“

Sama seperti Souza, Honebami menangkap sebuah pemandangan yang nyaris membuat jantung manusia-nya berhenti.

Beberapa kali, unit yang pergi tak selalu kembali dengan keadaan baik. Terkadang satu-dua toudanshi terluka dan sangat kelelahan.

Namun langka melihat Mikazuki Munechika membantu Hachisuka Koutetsu berdiri, keduanya babak belur. Begitu pula sang saniwa, dengan tangan kiri terluka, menurunkan Sayo dari gendongannya. Imanotsurugi berguling masuk dengan limbung, energinya tadi pagi hilang entah kemana.

Mata Honebami menangkap sosok dalam gendongan Jiroutachi, seragam Awataguchi penuh darah dan lengan terkulai itu…

Tampaknya Ookurikara juga melihat para pasukan yang memasuki portal gerbang kuil, karena detik berikutnya ia membunyikan lonceng utama.

Honebami tersentak ketika mendengar suara Yagen yang pertama kali muncul setelah bel dibunyikan.

“Honebami-nii--?”

Wakizashi bersurai putih itu berusaha berbicara dengan suara bergetar.

“Hirano terluka parah.”

Yagen terpaku menatap gerbang kuil, sebelum mengagguk cepat.

“Akan kusiapkan ruangan perbaikan.”

Souza sudah berlari ke arah Sayo, berlutut mensejajarkan diri dengan saudara satu penempanya itu. Honebami sendiri dengan cepat menghampiri Hirano.

“Apa yang terjadi?!”

Sang saniwa tak langsung menjawab, berbalik ke arah gerbang kuil dan mengeluarkan hologram dengan napas lega. Perempuan itu sibuk memeriksa barrier gerbang.

“Kami lengah. “ Jiroutachi yang menjawab pertanyaan dari Souza itu, sambil memeriksa perban darurat yang ia buat di perut Hirano. “Sudah kututup sebisa mungkin. Apa ruang perbaikan sudah siap?”

Kelompok kecil mereka bergerak cepat, Yagen yang dengan sigap sudah menyiapkan semua keperluan di ruang perbaikan memberi arahan dengan cepat.

“Maaf, ini salahku.”

Honebami tak melepaskan tangannya dari genggaman Hirano. Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari ucapan sang saniwa itu ditujukan pada dirinya dan Ichigo, yang baru datang bersama Horikawa.

“Jelas-jelas ini salahku karena lengah. Ichigo, aku minta maaf.” Jiroutachi menepuk-nepuk kepala sang saniwa, lalu menunduk ke arah tachi yang baru datang itu. Oodachi itu sendiri terluka ringan, memar menghiasi pipi dan tangannya.

Ichigo Hitofuri hendak mengatakan sesuatu, sebelum menggelengkan kepala dan berkata dengan lega. “Yang penting anda semua kembali dengan selamat.”

Suasana masih tegang, semua yang ada di dalam ruangan itu menginginkan penjelasan. Apa yang sebenarnya unit satu mereka temukan di luar sana?

Honebami baru menurunkan bahu ketika Yagen menghela napas lega.

“Tikamannya pasti meleset, tidak mengenai paru-paru.” Yagen menyeka kening Hirano. “Sudah kujahit. Biarkan dia istirahat sekarang.”

“Terima kasih, Yagen.” Kata sang saniwa, lalu menoleh ke arah lima toudanshi lainnya. “Yang lain juga. Tinggalkan pedang kalian disini.”

Di dalam ruang perbaikan yang luas itu, Yagen mulai memerikas lima toudanshi lain yang baru kembali. Honebami juga mulai membantu Mikazuki dan Hachisuka membebat luka-luka mereka.

“Terima kasih.” Ujar Mikazuki setelah Honebami selesai.

“Istirahatlah.” Honebami hendak berdiri, namun terdiam sejenak. “…Apa yang sebenarnya terjadi? Area yang kalian datangi harusnya tidak terlalu berbahaya.”

“Ah… Kami berpindah tempat di tengah jalan,” Mikazuki menatap murung ke arah sang saniwa, “Lalu ada musuh baru dan sedikit masalah, dan Saniwa-san tak bisa menggunakan portal-nya seperti biasa, harus memakai cara lain.”

Keduanya memandangi perempuan yang memunggungi mereka. Sang saniwa sibuk di ujung ruangan, di sebelahnya ada bilah-bilah besi berjejer rapi di atas rak khusus. Tangan kanan di pangkal pedang, tangan kiri dengan fukusa memegang bilah dingin besi. Dengan hati-hati sang saniwa memeriksa dan membersihkannya.

Sang saniwa baru bisa menghela napas lega setelah memastikan bilah pedang Hirano.

Mulutnya yang tersenyum berubah meringis.

Perempuan itu baru merasakan nyeri di lengannya ketika Horikawa Kunihiro menggulung lengan  kosode putih yang ia kenakan. Perban darurat yang dibuat tergesa segera dilepas. Kain basah yang dipakai menyeka lengannya juga mulai menyerap warna merah pekat dari garis miring di siku hingga pergelangan tangan.

“Sampai kapan mau dibiarkan begini,” Horikawa Kunihiro berkata, memakai nada yang biasa dia pakai untuk memisahkan Yamanbagiri dengan kain tudungnya saat hendak dicuci. “dibiarkan terus bisa infeksi, Aruji-san.”

“Tidak terlalu dalam kok—Aduh.” Gumam sang saniwa, mendesis ketika alkohol menyeka pelan lukanya.

Dalam hati, Horikawa menyetujui kekesalan saudaranya. Melihat raut wajah sayu saniwa mereka yang biasanya minta dijitak ini sekarang membuatnya sungguh khawatir. Ditambah kondisinya yang kurang tidur dan sekarang kembali dari garis depan dengan seluruh anggota unit terluka…

“Apa kalian melihat Konnosuke?” Tanya perempuan itu tiba-tiba.

? Tidak, dia selalu pergi kalau anda keluar kan?”

Sang saniwa hendak berbicara lagi ketika sebuah hologram merah berkedip di hadapannya.

“Ah, baru saja aku mau melapor” Sang saniwa bergumam sambil membaca apa yang tertera di hologram itu, semakin lama dengan kening semakin mengerut.

Horikawa baru mau membalut lengannya dengan perban gulung, ketika sang saniwa bangkit berdiri.

“Lenganmu--”

“Ah? Oh...” Perempuan itu kembali duduk, membiarkan Horikawa membebat lukanya sampai selesai, barulah ia berjalan keluar ruangan.

“Kalau ada apa-apa, aku di kamar. Tolong bilang ke yang lain, nanti sore kita rapat membahas misi hari ini. Terima kasih, Hori-chan!”

Sang saniwa segera berlalu.

Horikawa Kunihiro memandangi sosok itu menghilang sebelum menghela napas kesal.

 


 
—Kira-kira 5 jam yang lalu—

 


 

 

Oumi no Kuni --Provinsi Oumi, tempat shikken pertama, Hojo Tokimasa, menjadi daimyou bagi daerah ini. Naik ke ketinggian tertentu, dan mereka dapat mengagumi pemandangan Danau Biwa serta Kyoto.

Lebih tepatnya, mereka dapat melihat pemandangan itu jika menaiki Kastil Azuchi.

Sang saniwa memeriksa hologram, yang menampilkan data tentang Era Azuchi-Momoyama atau disebut juga  Era Shokuhou –dari 2 kanji pertama nama Oda dan Toyotomi. Sama seperti energi aneh yang sempat terdeteksi di halaman belakang tadi subuh,  ia memeriksa era ini, sesuai laporan yang ia dapat.

Mikazuki, Imanotsurugi, Hirano, Sayo, Jiroutachi, Hachisuka. Awalnya mereka berpencar, berdua-dua. Sang saniwa menetapkan berapa jarak dan area yang harus mereka periksa sebelum bertemu kembali di dekat kastil.

Bersama dengan Konnosuke, perempuan itu pergi memeriksa daerah dengan perkiraan tingkat bahaya paling rendah.

“Tak ada yang aneh disini.” Gumam sang saniwa.

Mereka dalam perjalanan kembali ke titik temu mereka. Berjalan di udara yang panas, berlindung hanya dengan berteduh di bawah pohon, membuat kepalanya semakin pening.

Ketika mereka sampai dipinggir hamparan air luas itu, ia harus menahan diri untuk tidak menceburkan seluruh tubuhnya di dalam danau. Sang saniwa hanya bisa berpuas diri dengan air segar mencuci wajahnya.

“…Apa akunya terlalu khawatir saja?”

“Mengenai laporan aura aneh itu?”

“Mm.”

Sambil berpikir, jemari sang saniwa sibuk menciprat Konnosuke dengan air.

“Lebih baik berhati-hati dahulu, tidak ada salahnya untuk memeriksa.” Jawab Konnosuke.

“Dan untung sejauh ini tidak ada apa-apa.” Sang saniwa mengangguk.

Konnosuke mengibaskan seluruh tubuhnya, bulu-bulunya mengembang. Kaki depannya mengais udara dan memperlihatkan beberapa hologram, dengan tampilan yang agak berbeda dari milik sang saniwa.

“Ada beberapa saniwa lain yang juga memeriksa lokasi-lokasi dengan laporan aura spiritual yang tak biasa.”

“Hm? Jadi bukan di daerah ini saja?”

Sang saniwa menatap hologram yang ditampilkan rubah itu, memandangi bentuk titik lingkaran yang menyebar di sekitar area berwarna gelap.

Musashi no Kuni ya…. Mulai banyak saniwa baru yang mengambil tempat disana, kan?”

Atau setidaknya itu yang dia dengar. Sang saniwa sendiri rajin membaca isi forum mereka, kadang-kadang saja mengetahui tentang kondisi terbaru dari tempat saniwa lain, selain yang ia kenal dekat.

“Anda benar. Lalu,  banyak yang kekuatan spiritual-nya tinggi mengambil tempat di Musashi no Kuni.” Konnosuke menggoyangkan ekornya dan menunjukkan sebuah diagram pada sang saniwa.

“Hmm…”

Tempatnya di Sagami sudah penuh, meski ia jarang bertemu dengan rekan-rekan lainnya, karena mereka jarang berada di alur waktu yang sama. Musashi ada di perbatasan atas Sagami. Mungkin saja di lain kesempatan ia bisa disuruh bekerja sama dengan beberapa saniwa lain disana—

Sang saniwa membuka hologramnya sendiri, menampilkan sebuah peta, membandingkannya dengan milik Konnosuke yang memiliki titik-titik biru berkedip.

Suruga, Izu, dan Kai masih belum dibuka. Hanya dua tempat ini saja yang sudah bisa diakses untuk dijadikan daerah tempat tinggal.

Titik temu di antara keduanya….

“Konnosuke, berapa jumlah saniwa di Sagami dan  Musashi sekarang?”

“Apa?” Kaki depan Konnosuke menyentuh moncongnya sendiri. Telinganya bergerak-gerak.

Kini keduanya membuka hologram yang sama.

“Ah, begitu ternyata!” Kata sang saniwa. “Karena kekuatan spiritual para saniwa yang berkumpul diperbatasan, kekuatan aneh itu juga merapat disana.”

“Lalu, aura spiritual aneh di tempat ini…?” Konnosuke kebingungan. “Kekuatan spiritual disini aslinya biasa saja. Lalu letak Oumi dan Sagami jauh!”

Sang saniwa menggeser hilang hologram sebelumnya, membuka layar lain yang menampilkan posisinya saat ini.

“….Menghilang? Tidak, berpindah tempat—Oh.”

Layar hologramnya menunjukkan sebuah titik yang tiba-tiba muncul, membuat warna di daerah perbatasan Sagami dan Musashi semakin gelap.

“Tidak bagus.”

“Apa yang akan anda lakukan, Saniwa-san?” Telinga Konnosuke naik, ekornya bergerak gelisah.

“Tolong hubungi pusat. Aku akan membuka portal.” Perempuan itu berdiri dan menggulung lengan baju. “Seharusnya yang lain akan sampai sebentar lagi. Kita akan pindah ke koordinat itu.”

“Baiklah!”

###

 

Mereka keluar di daerah suatu gunung. Tidak terlalu tinggi, namun mereka berdiri di area terbuka dan bisa melihat pepohonan di bawah mereka. Ada sebuah pemukiman di bawah sana.

“Ah, sebuah desa kecil.” Mikazuki berkomentar.

“….Terlalu sepi.” Sayo Samonji menyipitkan mata, curiga. “Atau mereka berpindah tempat karena gagal panen…” 

“Kita periksa dulu.” Sang saniwa mengambil tessen dari balik baju. “Apa desa ini punya nama, Konnosuke?”

 “Akan segera saya—“

Tampak rubah virtual itu mendadak terpatah di udara.

Sang saniwa tampak cemas.

“Konnosuke?”

Rubah itu tampak berusaha mengatakan sesuatu, namun suara-nya terputus-putus, lalu tubuhnya menghilang tiba-tiba di udara kosong.

“Uh.” Sang saniwa berusaha mengeluarkan hologram, tapi dari tangan yang mengibas udara itu tak muncul apa pun. “Sangat tidak bagus, apa yang terjadi di pusat sana…?”

“Apa kita terperangkap disini, Aruji?” Tanya Hirano, mengerutkan keningnya dengan khawatir.

“Ya, semoga tidak lama.” Perempuan itu menarik napas. “15 menit, kalau Konnosuke masih belum muncul, aku akan—“

Mereka semua menangkap sebuah suara gerungan keras dari arah desa itu.

“Apa kita harus memeriksanya, atau menunggu Konnosuke kembali?” Hachisuka Kotetsu bertanya pada sang saniwa.

Mereka tak perlu menunggu lama untuk mendapat jawaban.

“Prioritaskan tugas kita terlebih dahulu. Hal sekecil apa pun, seperti desa itu, bisa saja merubah alur sejarah.”

 

###

 

Dalam waktu 15 menit, Konnosuke belum juga muncul, dan mereka tiba di desa di bawah mereka itu.

“Hmm…? Tidak ada siapa-siapa?”

Jiroutachi, setengah mabuk namun masih tampak sadarkan diri, menatapi jalan lurus yang  diapit rumah-rumah. Semua barang rapi di tempat, tak ada tanda-tanda keributan.

“Eh? Tapi kita mendengar suara mereka tadi.” Imanotsurugi sudah melompat ke atas atap terdekat, melihat ke sekelilingnya.

 “Tidak ada musuh…” Hirano berlari menuju rumah teredekat. Pintu kayu dari gubuk kecil itu terbuka lebar. “Tidak ada orang di dalam sini.”

Saniwa mereka sendiri ikut memeriksa isi rumah lain. Sama kosongnya, tempat itu seperti desa mati.

Namun, dari kondisi rumah-rumah yang masih baik dan ladang mereka yang masih bagus, dibiarkan begitu saja…

Aruji-san.”

Panggilan dari Mikazuki membuat perempuan itu keluar dari rumah yang sedang ia periksa.

Mikazuki menunjuk ke arah sesuatu di akhir jalan, siluet satu tachi musuh, tampak membelakangi mereka dan berdiri di atas sisa-sisa kayu api unggun yang kering.

Sang saniwa dan Mikazuki berjalan mendekat dengan hati-hati. Anggota unit mereka yang lain menyadari apa yang mereka lihat dan ikut berjaga-jaga.

Belum sempat melihat ke arah kedua pendatang baru, tachi musuh itu sudah ambruk ditembus sesuatu yang jatuh dari langit.

Sang saniwa menahan napas.

Nagae Yari, sebuah senjata yang biasa digunakan pasukan ashigaru

Sang saniwa melompat mundur tepat waktu ketika petir biru sian mengalir dari tombak itu dan meledak.

 “Semuanya, hati-hati!”Teriak perempuan itu. Tangan otomatis menyapu udara, sebelum teringat hologramnya tak bisa muncul. Tak bisa memeriksa musuh apa yang keluar dengan cara tak biasa ini, sang saniwa menahan sumpah serapahnya.

Jelas enam sosok berikutnya yang tampak setelah ledakan mereda ini bukan musuh mereka yang seperti biasa.

Raut wajah sang saniwa seperti menelan cuka.

“…Kalian tak seharusnya ada disini.

Suara yang licin dan dingin seperti es, membuat bulu kuduk merinding, terdengar dari mahluk yang kini memegang nagae yari tersebut.

Imanotsurugi sudah melompat turun ke samping sang saniwa, terpaku kaget melihat para pendatang baru itu. Hirano berlari ke depan sang saniwa, memasang posisi bertahan dengan waspada.

“…Apa kalian melakukan sesuatu pada desa ini…?” Tanya sang saniwa.

Dibilang seperti jikansokougun biasa pun, ada yang berbeda dari pemegang nagae yari itu.

Bukan kami yang hendak mengacaukan desa ini,” lagi nagae yari itu berkata, “tapi kami berhasil menghentikan mereka sebelum hal itu terjadi.

Penggunaan ‘kami’ dan ‘mereka’ yang digunakan lawan bicaranya membuat sang saniwa semakin mengernyit.

“Jadi, siapakah kalian?”

Kami adalah Kebiishi.”

Mau tak mau, sang saniwa menyadari bagaimana Imanotsurugi tersentak ketika mendengar kata itu.  Perempuan itu pun juga mengenalinya. Sebuah nama familiar dari tulisan-tulisan sejarah zaman Heian.

Kebiishi? Kenapa bisa ada disini?” Mikazuki Munechika menyuarakan pertanyaan dalam kepala sang saniwa. “Apa mereka sekutu kita? Mereka juga melawan jikansokougun…”

Sang saniwa tak menjawab. Ia sendiri tak tahu.

“Tapi apa yang kalian lakukan terhadap penduduk desa ini?” Sang saniwa memutuskan untuk bertanya lagi. Masih menjaga jarak dengan para Kebiishi, dalam hati menghitung berapa waktu lagi yang diperlukan agar dari pusat sana memperbaiki masalahnya yang tanpa hologram dan portal.

Kami hanya memberi premonisi,” Nyala terang dari rongga bola mata kosong itu menatap sang saniwa, “belum waktunya bagi mereka. Yang akan mati tidak harus mati hari ini.

Mimpi-mimpi kemarin itu, sang saniwa kini mengetahui sumber masalah mereka.

Jemarinya mengetuk tessen dengan gelisah. Hampir 30 menit.

“Dengan kata lain…. Kalian juga berusaha menjaga alur sejarah dari jikansokougun.”

Jikansokougun…”

Keringat dingin mulai mengalir di tengkuknya ketika bilah pedang para Kebiishi dihunuskan ke arah mereka. Variasi nagae yari dan yari, ada dua tachi, oodachi serta naginata.

Jikansokougun, dan juga kelompok kalian, orang-orang dari masa depan.

Dengan secepat kilat, bilah nagae yari beradu dengan tantou Hirano. Toudanshi itu memekik kaget dan terdorong mundur, namun berhasil menahan serangan itu.

Kami sudah memberi peringatan juga kepada kalian,” masih dengan nada hampa tanpa emosi, nagae yari itu berbicara, ”datang ke tempat ini dalam jumlah banyak… Kami tidak dapat membiarkan kalian pergi.”

Konnosuke tak sempat memberikan jumlah angka saniwa padanya, namun teorinya tadi ternyata benar.

Yang tentunya membuat keadaan mereka sekarang sangat tidak bagus.

Sang saniwa berusaha lagi untuk mengeluarkan hologramnya. Kali ini berhasil, hanya saja layar itu terpatah-patah dan menampilkan permukaan kosong. Gangguan, tak ada informasi.

“Akan kugunakan kesempatan ini untuk mengingatkan, kalau ilmu berpedang-ku jauh dibawah kalian.” Kata sang saniwa, tessen besi sudah di tangan dan mundur ke barisan paling belakang. “Akan kucari cara lain untuk keluar dari sini.”

“Anda terlalu rendah diri.” Mikazuki tertawa.

“Hati-hati, mereka tampak sangat kuat.”

“Aku maju duluan ya~” Hal ini dikatakan Jiroutachi dengan nada riangnya, sebelum ekspresi dan gerak-gerik tubuhnya menjadi sangat serius. Mengingat yang berdiri menjadi perisai mereka adalah oodachi yang tangannya tak bergetar setelah meminum satu tong alkohol, seluruh pasukan mereka mempercayai tingkat kemampuan bertahan Jiroutachi.

Jiroutachi menggantikan Hirano, berusaha memukul mundur nagae yari itu.

….!!

Namun sudah jelas terlihat jauhnya tingkat kekuatan mereka. Meski jumlah mereka sama, pertarungan tampak sulit bagi para toudanshi. Mereka tetap menjaga formasi, tak menyebar karena terlalu berbahaya. Imanotsurugi, Sayo Samonji dan Jiroutachi yang lebih berpengalaman saja tampak kewalahan. Dari yang biasanya bisa satu-dua tebasan cepat, kini tak mungkin dilakukan.

Perlawanan kalian percuma.”

“Ukh!”

Jiroutachi berusaha menangkis nagae yari yang masih berusaha menusuknya, sekaligus yari Kebiishi yang memutuskan untuk membantu pemimpin mereka. Meski bilah pedangnya besar, Jiroutachi harus tetap menjaga jarak. Dilambaikan pedangnya untuk memperluas jarak mereka. Kembali sang nagae yari menangkis dan memutari bilah oodachi Jiroutachi hingga denting besi memekak telinga.

Praktikal. Mengincar ibu jari dan tangan agar tak dapat  berfungsi memakai pedang, Jiroutachi sudah menduganya.

Napas oodachi itu tercekat, ia terlambat menyadari hal lain.

Detik berikutnya, Hirano terangkat beberapa senti dari tanah, ujung yari menikam perutnya.

HIRANO!!

Dengan sisa tenaganya Hirano membebaskan diri, namun segera ambruk. Sang saniwa berlari dan menahan serangan yang datang berikutnya sebelum mengenai Hirano lagi.  Tessen besi segera menepis bilah yari menjauh.

Imanotsurugi yang baru saja berhasil mengalahkan salah satu tachi Kebiishi segera melompat tinggi, mendarat dengan momentum yang membuatnya mencabik punggung yari itu dari atas hingga bawah dalam satu garis lurus.

“Hirano, apa kau mendengarku? Hirano!”

Dengan segera dan setengah panik perempuan itu berusaha menghentikan pendarahan dan menutup luka itu. Hirano tidak meresponsnya, namun ia masih bernapas.

Perempuan itu melihat ke sekelilingnya. Mikazuki dan Hachisuka bertarung tak jauh dari mereka, tampak kewalahan. Sayo dengan gesit dan marah, menghindar dan menyerang oodachi Kebiishi.

“Kita mundur! Tidak perlu mengalahkan mereka!”

Nagae yari, pemimpin pasukan Kebiishi itu, tak semudah itu membiarkan mereka pergi. Jiroutachi masih menahannya sejauh mungkin, sampai tiba-tiba Kebiishi itu menarik mundur senjatanya dan menabrakkan tubuhnya ke wajah Jiroutachi hingga terhempas ke tanah.

Kemudian bilah nagae yari beradu besi tessen, namun karena perbedaan posisi, tessen-nya terlepas. Perempuan itu tanpa berpikir panjang menggunakan tangan kirinya untuk menahan bilah nagae yari yang datang.

Kau, pemimpin mereka, akan kami habisi terlebih dahulu.”

Sang saniwa meringis. Sambil memegang Hirano, perempuan itu berusaha menahan bilah tajam yang mulai mengiris lengannya.

Nagae yari itu berbalik tiba-tiba, menahan serangan Imanotsurugi dan Jiroutachi dari belakangnya. Menggunakan kesempatan itu, sang saniwa berhasil berlari menjauh sambil membopong Hirano.

Selain Imanotsurugi dan Jiroutachi yang berlari sambil menghalau musuh, yang lain berhasil menyusul sang saniwa. Hachisuka tampak kesulitan berlari, Mikazuki harus membantunya berdiri.

Sang saniwa berusaha mencari sesuatu.

Argh…! Kalau saja ada kuil atau sesuatu…!

Mereka mengitari rumah di ujung luar jalan.

“Saniwa,” Hachisuka memanggilnya dengan tergesa, “di sebelah sana!”

Ada sepasang garis merah, jauh di luar area pemukiman. Sebuah gerbang torii.

Sang saniwa segera menyuruh mereka semua bergerak kesana.

Tak ada banyak waktu. Energi mereka yang berkurang, jarak antara mereka dengan para Kebiishi yang mulai mengecil, napas Hirano yang semakin pelan…

Ketika mereka tinggal beberapa kaki dari gerbang torii itu, sang saniwa mulai merapalkan sesuatu.

“Kumohon bekerjalah, kumohon, kumohon, kumohon.”

Seseorang seperti dirinya butuh waktu lama untuk mengeluarkan kekuatan spiritual yang besar. Tapi sekarang tak ada cara lain.

Sayo Samonji harus berhenti sesaat untuk membantu Imanotsurugi dan Jiroutachi. Tachi Kebiishi terakhir berusaha melewati mereka, sebelum tantou Samonji itu menjegal kakinya.

 “Kalian semua, mundurlah!”

Sayo terkesiap mendengar itu. Mundur?

Tapi Jiroutachi yang melihat sesuatu bergerak disudut matanya segera mengerti.

“Kita harus menjauh dari mereka, ayo!”

Kabut tipis merambati kaki dan mulai menutupi pandangan mereka.

 “Oh, Aruji-san. Kabut ini hasil pekerjaan anda?”

Urgh.” Jawab sang saniwa dengan rona wajah memucat dan peluh membasahi sekujur tubuh.

Karena mereka berhasil menjaga jarak, sang saniwa berhasil mendapat waktu untuk menghalau pengelihatan para Kebiishi. Setelah Jiroutachi membantunya membawa Hirano, perempuan itu mulai merapalkan kata-kata lain dengan kedua telapak tangan menghadap ke arah gerbang torii.

Udara berdenyar di dalam gerbang itu, tampak sebuah distorsi seperti pusaran cahaya memenuhi bentuk persegi gerbang. Sebuah portal dari kekuatan spiritual sang saniwa, membuka jalan pulang kembali ke citadel mereka.

Akhirnya!

“Cepat!” Sang saniwa tak tahu berapa lama ia bisa bertahan membuat portal dengan kekuatan spiritual ini.

Membiarkan Jiroutachi dan Hirano masuk terlebih dahulu, disusul Mikazuki dan Hachisuka. Imanotsurugi dengan gesit melompat ke sisi lain posisi mereka, berusaha mengecoh para Kebiishi.

“Ima-chan!”

Imanotsurugi kembali dengan cepat, berkebalikan dengan Sayo yang tampak masih ingin menghabisi para Kebiishi di balik kabut.

Sang saniwa mengalungkan lengannya yang tak terluka dan mengangkat Sayo. Melemparkan diri dengan punggungnya terlebih dahulu ke dalam portal, perempuan itu melihat untuk terakhir kalinya kekacauan yang mereka buat setelah kabut mereda.

Para Kebiishi menggerung. Rongga-rongga mata kosong menatap tajam ke arahnya.

 


 
—Sekarang—


 

“—Sekian laporan saya.”

Di dalam ruangannya, sang saniwa berbicara kepada orang-orang dalam hologram. Sebuah rapat jarak jauh dengan para saniwa dari berbagai tempat. Wajah-wajah dibingkai kotak, beberapa ia kenali, sebagian besar tidak. Beberapa adalah mereka yang mendapat kejadian serupa dengannya.

Setelah dirinya ada dua orang saniwa lain yang menyampaikan kejadian yang mereka alami, juga bertemu dengan para Kebiishi ini.

Sang saniwa duduk bersila di atas zabuton, tangan yang terluka bertumpu di sandaran tangan. Tangan lain sesekali memijat kening. Mata masih terfokus pada sosok yang menjadi pemimpin rapat. Kolom di bawah layar menunjukkan ‘C-015’.

[“Sekali lagi, kami minta maaf atas masalah yang terjadi tadi, tim bagian pengawas masih berusaha menstabilkan mesin-mesin.”]  C-015 berbicara, wajah tampak letih meski penampilannya rapi. Yuzuha-san, ia sering memanggilnya begitu jika mereka bertemu, juga salah seorang yang cukup lama bekerja sebagai saniwa.

Sesudah itu diskusi mereka dimulai, namun ia tak sepenuhnya mendengarkan. Setelah duduk dengan tenang di kamarnya sendiri, barulah rasa lelah dan sakit menggantikan adrenalin yang sedari tadi membuatnya bergerak tanpa henti. Sang saniwa berusaha tak memejamkan mata namun kepalanya sudah berdengung.

[“--dan juga menganggap kita sebagai musuh.”]

[ “Jumlah kita menarik kedatangan mereka? Apa ada yang mengubah alur sejarah?”]

‘Kalau begitu apa guna-nya kekuatan penahan waktu dan teknologi barrier dari zaman kita.’ Pikir sang saniwa dalam hati, sudah bertopang dagu.

 [“L-001, bagaimana pendapat anda?”]

Ia bersyukur karena ini bukan rapat pertemuan dimana mereka semua ada di dalam satu ruangan. Sang saniwa berdoa dalam hati agar tak ada yang melihat kepalanya terkantuk-kantuk.

“Ah, Maaf?”

[“….Apa kau baik-baik saja?”]

“Ya,tentu saja, maaf. Kebiishi… ada dalam catatan sejarah” Sang saniwa memulai, “mungkin mereka berusaha tetap berkuasa, atau mungkin benar-benar ingin menjaga sejarah. Tapi mereka menganggap baik kita maupun para jikansokougun sama-sama menembus alur waktu, meski tujuan kita jelas berbeda.”

[“Mereka memang berkata tentang melindungi alur waktu dan sejarah...“] Yuzuha-san di seberang sana bergumam.

“Dari berbagai laporan dari tempat-tempat kita tadi, mungkin seperti Kebiishi dahulu,ada yang berpusat di ibu kota Heian-Kyo dan ada pula cabangnya di tiap provinsi.” Sambil berkata begitu, ia mengetikkan beberapa hal yang masih belum mereka ketahui. “Apakah mungkin mereka tersebar dan bergerak sendiri-sendiri karena insting, atau ada satu pemimpinnya…”

Seperti kita, manusia, para saniwa, batinnya.

“Meski begitu, kita harus tetap menjalankan pekerjaan kita.” Ia melanjutkan lagi, mengetahui perasaan mereka tentang keadaan ini. “Mereka mungkin menjaga alur waktu juga, tapi kita dari masa depan sudah tahu apa saja yang harus dilindungi agar alur waktu kita berasal tetap terjaga... Itu pendapat saya pribadi.”

Tak ada yang berbicara setelah ia selesai mengatakan itu, membuatnya merasa sedikit canggung.

[“Baiklah, terima kasih, L-001.”] Yuzuha-san menggangguk di dalam layar. [“D-085, adakah tambahan lain?”]

[“Selain yang kita bahas tadi, mengenai perbaikan mesin dan kekuatan spiritual di pusat.”]

Kali ini sebuah suara familiar lain terdengar, membuat sang saniwa mengalihkan perhatian ke sisi lain hologramnya. Di atas nama D-085 adalah salah satu temannya, Sumire-san. Masih seperti terakhir kali mereka bertemu, wajah berwibawa itu pun tampak tenang.

[“Ah, iya.”] Yuzuha-san tampak memeriksa sesuatu, sebuah hologram lain miliknya. [“Untuk seminggu ini kami sarankan agar tidak menjalankan misi dahulu. Nanti akan kami beri pemberitahuan lebih lanjut. Isi rapat kali ini akan saya ringkas dan sebarkan 2 jam lagi. Jika ada hal lain yang ingin disampaikan, hubungi saya atau D-085. Sekian.”]

Berpamitan dengan orang-orang di balik layar hologram, sang saniwa menggeser hologramnya dan mengganti dengan yang layar lain. Bahu turun dengan helaan napas panjang, apa yang ingin ia laporkan sudah sekalian ia ringkas tadi, jadi ia hanya perlu menyalinnya ke kertas.

Diliriknya rubah virtual yang tak bergeming di sampingnya. Setelah meyakinkan Konnosuke bahwa ia bisa bekerja setelah sistem dari pusat diperiksa dan diperbaiki sepenuhnya, sang saniwa membiarkannya tidur.

Sebuah hologram lingkaran jingga muncul dan berkedip. Tulisan ‘group call’ tertera besar. Sang saniwa mengenali tulisan ‘D-085’ dan segera menyentuh hologram itu. Dua layar kotak membesar, wajah Sumire terlihat lagi. Kotak yang lain hanya menampakkan gambar bunga dari lingkaran merah.

Tsukamoto Sumire segera bertanya.

[“Apa kau baik-baik saja?”]

Sang saniwa dengan nomor L-001 hanya mengangkat tangan kirinya yang diperban.

“Aku baik-baik saja, Sumire-san.”

[“….Coba katakan itu lagi di depan Azusa nanti.”]

“…..Sedikit sakit, tapi tidak apa-apa.”

Kali ini logo speaker muncul dari pengguna gambar bunga.

[“Uwah, kamu ini benar-benar orang yang ceroboh.”]

“Ha! Dari semua orang, tak kusangka akan dengar itu darimu, Hana-chan.” Sang saniwa melengos. Sosok yang tak pernah menampakkan wajahnya itu hanya balik tertawa.

[“Ya maaf deh. Tapi kau dan unitmu baik-baik saja kan?”]

“Kalau tak ada gerbang torii tadi, habislah kami.”

[“Kau sih, jarang pakai kekuatan spiritualmu.”]

“Yah mau bagaimana lagi, kekuatan spiritualku rendah jadi aku tidak terlalu bergantung pada hal itu— Ah, aku tidak bermaksud menyinggung, Sumire-san.”

[“Tidak apa-apa, aku mengerti maksudmu.”]  Sumire tersenyum. Sebagai salah satu orang yang memiliki energi spiritual yang tinggi karena garis keturunan keluarganya, perempuan itu memakai kekuatannya dengan efektifitas paling tinggi.

Kalau mereka tidak sering bertemu di acara-acara seminar, orang seperti dirinya mungkin tak akan bisa bergaul dengan seseorang berlatar belakang seperti Sumire, pikirnya.

“Dengan kekuatanmu, kalau ada kejadian seperti tadi pun—“ Barulah ia menyadari Sumire tidak membahas laporan dirinya sendiri di rapat tadi. “Apa di tempat Sumire-san juga…?”

[“Mm, sepertimu tadi, kemarin malam aku mendapat serangan kejutan. Tapi semua sudah diatasi, tenang saja.”]  Sumire berkata dengan lancar, lalu tampak memeriksa sesuatu di layar hologramnya sendiri. [“Hana-chan sendiri bagaimana?”]

[“Mmu? Aku sih… Hanya ada sedikit masalah di Ikedaya saja, tapi teratasi kok! Juga empat hari yang lalu!”]

Saniwa L-001 mengusap dagu. Tak terlalu lama sebelum kejadian hari ini, seperti yang ia alami.

[“Di tempat Hiyori-san juga ada sedikit masalah, kau sudah dengar?”] Tanya Sumire.

Kata-kata dari lawan bicaranya langsung membuatnya menoleh lagi ke arah kedua temannya di layar.

 “Hiyori-chan? Dia tidak ada mengontakku…” Ia mengernyit. “Apa dia baik-baik saja?”

[“Dia bilang ‘tidak apa-apa’. Aku belum bicara lagi dengannya setelah itu.”]

“Kapan?”

[“Dua-tiga hari yang lalu.”] Ucap Sumire.

[“Uwah, setelah aku ya.”] Komentar Hana-chan.

[“Akan kucoba telepon dia setelah ini.”]

“Baiklah, aku juga akan--” Sang saniwa mengernyit. “Ah, tunggu, orang itu belum mengontakku lagi, berarti dia belum tahu, dan Hiyori-chan belum bilang apa-apa padanya.”

[“Aah, kamu kenal dengan kakaknya ya, aku lupa.”]

“Ugh, lupakan. Orang itu sangat menyebalkan.” Sang saniwa mengusap wajahnya dengan frustasi.

[“Hmm…”] Kalau Hana-chan sudah masuk dalam mode berpikirnya, antara ia akan mengatakan sesuatu yang serius atau minta digeplak. [“Aku jadi kepikiran. Apa ada hubungannya dengan hal lain…?”]

“Tidak ada.”

Jawabannya yang datang terlalu cepat membuat kedua lawan bicaranya terdiam.

“…Lebih masuk akal begitu.”

Sumire berdeham.

 [“Para jikansokougun pun masih belum kita ketahui asal muasal mereka yang pasti…”]

[“Maksudnya?”] Suara dari hologram Hana-chan terdengar.

[“Sejak awal, ada yang mendukung teori bahwa musuh-musuh kita adalah para tsukumogami bilah tak bernama yang terlupakan, atau mereka yang dibuang ke laut setelah Perang Dunia II selesai,”] ujar Sumire lagi, [“bisa juga tak hanya mereka yang terlupakan.  Mereka yang semasa dipakai dan berjaya, namun tujuannya belum tercapai…. Hanya spekulasi.”]

“Spekulasi.” Sang saniwa mengangguk. “Tapi untuk kasus Kebiishi sekarang ini… Kita masih belum tahu.”

Hana-chan diseberang sana mengeluarkan suara ‘hmm’ sangat panjang lagi.

 [“Kalau memandang dari sisi itu berarti, para Kebiishi… Sama seperti kita jadinya kan?”]

“Iya kan? Ini benar-benar memusingkan.”

[“Seperti ingin mendapat juara kelas antara dua rival di kelas ya…”]

“Analogi yang sangat spesifik, Sumire-san.”

[“Omong-omong, kapan kau kembali? Akhir bulan ini aku ada rencana, mungkin kita bisa bertemu?”] Tanya Sumire.

“Akhir bulan ini, akhir bulan…” Kali ini hologram kalender ia buka, jemari menelusuri bagian kotak-kotak akhir, tak ada tulisan penanda hal penting. “Baiklah, aku akan kembali tanggal segitu juga.”

[“Hana-chan?”]

[“Ehhh, aku tinggal permanen di sini sekarang.”]

 “Sumpah, kapan-kapan aku akan datang menyeretmu keluar dari Hanamaru.”

[“Eh! Nggak mau!”]

[“Tapi dia benar, Hana-chan. Berjalan-jalan keluarlah sedikit.”]

[“Aaah, Sumire-san sendiri juga tidak pernah!”]

[“Bukan tidak pernah. Aku menunggu musim dingin saat para beruang akan hibernasi…”]

“Posisimu di tengah gunung sih. Ah, bagaimana perkembangan riset Higekiri dan Hizamaru anda?”

[“Lambat, tapi tak masalah. Untuk Hizamaru masih butuh beberapa sertifikat untuk menyatakan ini yang asli…]

 

###

 

Yamanbagiri Kunihiro mendapati dirinya berdiri di luar dan tak bergerak masuk.

Pembicaraan di dalam ruangan sang saniwa masih berlanjut, dari serius menjadi hal-hal kecil. Uchigatana itu menunggu hingga sang saniwa mengatakan sesuatu dan melambaikan tangan, sebelum menutup hologramnya.

Aruji.

Tak lama kemudian, pintu bergeser terbuka.

“Kunihiro? Ada apa?”

Yamanbagiri memandangi tangan kiri sang saniwa.

“Kau belum makan siang dan harusnya istirahat.”

Sang saniwa ikut melirik ke tangan kirinya dengan cepat, menggerakkan pergelangan tangannya untuk menunjukkan ia baik-baik saja.

“Aku tidak apa-apa kok.”

“Kau selalu berkata seperti itu.”

Bagaimana kata-kata itu keluar dengan sedikit lebih getir dan kesal, tak luput dari pendengarannya.

“Masa?”

“Ya.” Kata Yamanbagiri, segera menghalangi perempuan yang hendak berjalan melewatinya itu. “Kau belum lihat wajahmu sendiri.”

“Yamanbagiri Kunihiro…..” Sang saniwa berkata dengan gusar.

“Duplikat seperti aku pun tahu kau kelelahan dan banyak pikiran.”

Hhhhhh.

Sang saniwa menghela napas dengan suara keras. Akhirnya ia setengah berjinjit, menopangkan dagu di atas bahu Yamanbagiri. Uchigatana itu hanya berdecak kesal namun membiarkannya.

Perempuan itu memandangi langit.

“Aku masih punya banyak pekerjaan.” Gumamnya dengan lelah. “Aku belum memeriksa Hirano lagi, belum melihat pagar belakang…”

Giliran Yamanbagiri yang menghela napas.

“Kau lupa ada berapa orang tinggal disini? Bergantunglah sedikit pada kami.”

“Bukan seperti itu maksudku.”

“Aku tahu, tapi kadang kau lupa, dan selalu merasa harus melakukan semuanya sendirian.”

Sang saniwa mengeluarkan suara seperti tersedak dan sejenisnya, merasa tertohok, tapi tidak menyalahkan apa yang dikatakan uchigatana itu.

Tapi tetap saja

“…Aku harus buat jadwal…”

Ia berusaha bertumpu pada kakinya sendiri, namun matanya terasa berat. Bersandar pada Yamanbagiri terasa lebih menenangkan.

“Jadwal? Yang kemarin perlu dirubah?”

 “Gara-gara mengobrol tadi aku ingat-- Jadwal lain, bukan untuk disini, Manba….”

Yamanbagiri Kunihiro membeku di tempat.

Manb--?! Apa maksudmu?”

Bukannya membalas, sang saniwa menggumamkan sesuatu yang tak dapat ia dengar.

Aruji?

Barulah disadarinya, seluruh berat tubuh perempuan itu sudah bertumpu padanya, sampai Yamanbagiri harus menopangnya dengan kedua tangan. Dirabanya kening sang saniwa.

Yamanbagiri Kunihiro mengernyit.

“Sudah kuduga…”

 

 

 

 

Chapter Text

 

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.

 


 


 

Terkadang, Ichigo Hitofuri masih tak percaya bahwa wujudnya yang sekarang dapat merasakan angin di pagi buta menerpa kulit wajahnya, dapat menghirup bau embun dan rumput saat langit masih gelap, dapat mendengarkan suara teredam suasana pukul 4 pagi.

Apa pula yang sedang tachi Awataguchi itu lakukan sewaktu hari masih gelap, ia sendiri tak mengerti.

Ia menjadi seorang manusia yang terbiasa bangun pada jam itu. Ada suasana tertentu saat subuh yang membuatnya merasa damai, memberinya waktu untuk memikirkan berbagai hal dalam kesunyian.

Contoh kecil saja, ia memikirkan bagaimana daya tahan tubuh mereka para toudanshi terhadap penyakit juga dibuat lebih kebal dari manusia biasa. Hasil dari kekuatan spiritual dan juga teknologi yang membuat mereka seperti itu, menurut penjelasan sang saniwa.

(“Aku tak tahu coding apa yang mereka pakai. Dokumen rahasia negara dan perusahaan, tentu saja.” Sang saniwa membuat gerakan mencubit udara dan menariknya membuka ke arah berlawanan dengan kedua tangannya, membentuk hologram berbentuk oval penuh tulisan-tulisan alphabet yang terlalu kecil untuk ia lihat.

“Bukan bidangku, aku sendiri hanya tahu hal-hal dasarnya saja sudah cukup di pelatihan kami dulu.” Perempuan itu angkat bahu. “Yah, kecuali ada konspirasi atau kebocoran dalam perusahaan atau apalah, baru jadi masalah besar.”)

Pikirannya merambat ke hal lain; perbedaan kebersihan dan kesehatan dari masa tempat tuan mereka itu datang dan dari era di masa lalu. Perempuan itu rajin mengingatkan hal-hal yang tampak remeh untuk dilakukan. Dari ‘buang sampah pada tempatnya’ sampai ‘Ima-chan, hand sanitizer bukan minuman’ sudah akrab di telinga Ichigo.

Tentu saja, sang saniwa punya kebiasaan jelek untuk tidak mengikuti kata-katanya sendiri, terutama kisaran ‘jangan bekerja sampai terlalu lelah apalagi begadang’.

Mungkin Ichigo Hitofuri memikirkan hal itu karena ia akan melewati ruangan sang saniwa.

Setelah kemarin tumbang tiba-tiba dengan kantuk, kelelahan dan nyeri luka bertumpuk jadi satu, Yagen memberi ultimatum  agar siapa pun yang melihat sang saniwa keluar barang satu langkah saja dari ruangannya, punya wewenang untuk  menyeretnya kembali ke futon.

Duduk di tengah lorong tentu saja termasuk dalam hitungan, kan?

Aruji—“

Sang saniwa tersentak, baru menyadari ia tidak sendirian. Napasnya tak teratur, berbunyi keras seakan berusaha menghirup udara sebanyak mungkin. Gerakannya kaku dan tajam, seakan terlalu dikontrol; menepis tangan Ichigo dengan cepat, mengira sesuatu yang lain akan mencengkeramnya.

Ichigo-san…?”

“Ya, ini saya, Aruji.”

 Ichigo Hitofuri diam, menatap balik tatapan panik sang saniwa yang perlahan tergantikan mata sayu mengantuk.

“…Aku mau bilang ‘aku baik-baik saja’... Tapi kurasa aku akan ‘tidak baik-baik saja’ kalau mengatakan itu.”

“Benar,” Ichigo tertawa pelan, “Kalau anda bilang begitu, saya harus membangunkan Yagen atau Yamanbagiri-san.”

Sang saniwa menggelengkan kepala.

Ichigo ikut duduk di samping perempuan itu.

“Mimpi buruk?”

“Tidak, bukan.” Ujar sang saniwa dengan suara parau, tak menatap ke arah lawan bicara, hanya menatap kosong rerumputan berembun. “Bagaimana denganmu, Ichigo-san?”

“Kali ini saya baik-baik saja,” Karena pengaruh dari misi kemarin, kondisi honmaru mereka kembali normal, tapi Ichigo merasa ada hal lain yang menganggu sang saniwa. “Tapi, apa anda ingin membicarakannya?”

Sang saniwa menggelengkan kepala.

“Baiklah,” Balas Ichigo. “Kita bisa membahas hal lain?”

Perempuan itu mendengarkan Ichigo bercerita selama beberapa saat --berusaha fokus membayangkan bagaimana tadi Namazuo dan Honebami nyaris meledakkan kandang kuda (jangan dipertanyakan), atau bagaimana Atsu dan Midare membantu Sayo membuat makanan ringan di dapur.

Semakin lama ia hanya fokus pada ritme teratur napas tachi itu.

“…Nyaris saja.”

Ichigo berheti berbicara, menunggu.

“Kalau Ima-chan tak ada disana, nyaris saja.” Suara sang saniwa terdengar sangat pelan. “Saniwa ini tak bisa melakukan apa-apa.”

Ah, Ichigo langsung mengerti. Perempuan ini masih kepikiran hal yang terjadi kemarin.

“Saniwa ini juga yang memberikan kami kesempatan kedua.”

Ichigo balas tersenyum pada sang saniwa yang mengerjapkan mata.

“Anda tipe yang harus diingatkan kembali dengan kata-kata, Yamanbagiri-san pernah bilang begitu.”

“Apa lagi yang pernah dia katakan padamu?!”

 ###

“Ah, Yamanbagiri Kunihiro-san!”

Yang dipanggil namanya menoleh, mendapati Hirano menghampiri, diikuti Maeda di belakangnya.

“Hirano, Maeda. Ada apa?”

Meski sebenarnya Yamanbagiri sudah tahu kira-kira apa yang akan ditanyakan.

 “Apa Aruji-sama masih di ruangannya?”

“Seharusnya masih, dan sebaiknya begitu.” Gumam Yamanbagiri.

Ia berusaha berpikir positif kalau perempuan itu tidak bandel dan memaksa diri bekerja seminggu setelah ia ambruk.

Dengan tangan penuh membawa nampan berisi mangkok dan gelas air, Yamanbagiri berjalan bersama Hirano dan Maeda, membiarkan keduanya berjalan di depan dan membantunya menggeser pintu  ruangan  sang saniwa.

Shukun?”  Panggil Maeda.

Dengan posisi duduk di atas futon dan bersandar pada bantal empuk besar, perempuan itu membuka mata pelan-pelan. Ada sebuah hologram yang sedang ia buka di depan wajahnya. Akita dan Imanotsurugi menemaninya dengan berbagai gambar krayon dan cat air, duduk berhadap-hadapan di atas meja pendek yang biasanya dipakai sang saniwa bekerja.

Sang saniwa terbatuk kecil.

 “Ah, Maeda,” menyipitkan mata karena cahaya matahari, sang saniwa menyadari siapa saja yang baru memasuki ruangan, “Hirano… Sudah baikan?”

Kedua tantou Awataguchi yang baru masuk itu duduk berdampingan di samping sang saniwa.

“Saya sudah merasa lebih baik, maaf sudah merepotkan…” Ujar Hirano.

Hush, bicara apa kamu.” Sang saniwa memajukan posisi duduknya dan mengusap kepala Hirano dengan sayang. “Syukurlah kamu sudah sembuh.Tak usah ikut latihan malam, istirahatlah dulu, oke?”

Latihan malam sejak kejadian-kejadian kemarin memang ditiadakan. Namazuo dan Atsu baru saja mengkonfirmasi mereka akan memulainya lagi besok lusa. Dengan tujuan mempertajam indera mereka di malam hari, para tantou dan wakizashi biasanya melakukan latihan ini setiap dua hari sekali.

Yamanbagiri Kunihiro meletakkan nampan di sisi lain, membiarkan sang saniwa bercakap-cakap dengan Hirano dan Maeda selama beberapa saat, barulah uchigatana itu menyuruh para tantou di ruangan untuk keluar dan membiarkan sang saniwa beristirahat.

Setelah Akita menutup pintu, uchigatana itu segera menghela napas panjang dan menatap tajam perempuan itu.

“Berbaring dan tidur, bukan duduk dan bekerja.” Kata Yamanbagiri sambil duduk di samping perempuan itu, “Apa kau tak bisa melakukan hal sederhana seperti itu?”

Yamanbagiri sudah terbiasa melihat tuannya ini sehat, sampai kadang melupakan suatu kondisi seperti ‘sakit’ bisa dialami oleh perempuan itu.

Kondisi tubuh selalu bugar, sekalinya sakit langsung ambruk dan butuh istirahat sangat lama.

Perempuan itu menghela napas dan mengangkat kedua tangannya ke atas.

“Hanya mengontak beberapa kenalanku.” Sang saniwa menatap barang bawaan Yamanbagiri yang diletakkan disampingnya. “Hmm, aku tak janji bisa menghabiskan ini.”

Yamanbagiri mengernyit. Tiga hari kemarin sang saniwa hanya bisa makan bubur atau sup ramen, tak bisa makan yang berat-berat. Tapi kalau begini terus…

“Harus dihabiskan. Kalau perlu dicekoki, kata Yagen.”

(Lebih tepatnya; buat dia makan genmai itu sampai tak tersisa atau gunting-ku akan datang lebih cepat sebelum dia sempat kena beri-beri-- atau sesuatu seperti itu, tapi Yamanbagiri tak mengerti setengah dari apa yang diucapkan Yagen. Intinya, buat sang saniwa makan.)

“Memakai kekerasan?”

“Jika diperlukan.”

Oh astaga.”

“Atau aku bisa melakukan ini.”

Sang saniwa mengerjapkan mata, tak mengira akan ada tangan memegang sendok dijulurkan ke depan mulutnya.

Ooooh, beneran nih?”

Aku sendiri jadi malu! Makan saja!”

Sang saniwa akhirnya dapat menghabiskan makanan yang dibawakan mengingat ancaman yang datang dari Yagen dan Yamanbagiri yang cukup sabar menyuapinya.

Setelah selesai membereskan alat makan, Yamanbagiri tidak beranjak dari posisinya.

“Istirahat, pejamkan mata.” Gerutu uchigatana itu. “Setidaknya lakukan itu. Kadang kau harus ingat kau ini manusia…”

“Aku sedang mencoba.” Terkekeh pelan, perempuan itu membaringkan diri di atas futon.

Masih sempat orang ini tertawa santai begitu, batin Yamanbagiri dalam hati sambil memperhatikan pucatnya wajah sang saniwa.

Telapak tangannya masih lebih dingin dari kening perempuan itu.

“Yagen akan datang lagi nanti. Aku akan memimpin misi hari ini, paling lambat kembali nanti sore atau malam.”

“Mm, terima kasih.”

Yamanbagiri Kunihiro masih duduk di samping perempuan itu, tangannya tadi balik digenggam oleh sang saniwa.

Tak ada tanda-tanda akan dilepaskan.

 “…Kau ingin aku tetap di sini?”

“Hmm…?” Sang saniwa setengah bergumam, matanya tertutup. “Ah, maaf.”

Sebenarnya ia masih punya 3 jam sebelum berangkat.

Dalam keadaan tak dikejar waktu, Yamanbagiri Kunihiro memiliki waktu untuk meneliti wajah sang saniwa saat ini. Pucat dan kelelahan, ada sedikit kegelisahan tersirat dari kening yang tampak berkerut.

(Tak ada lagi seringaian mengejek atau wajah muram permanen, semua hilang tak berbekas dengan semakin ramainya tempat tinggal mereka sekarang ini, pikirnya)

“Kita semua memang butuh banyak waktu untuk berubah,” gumam uchigatana itu, “meski tampaknya aku butuh lebih banyak waktu.”

“…Hm? Kau bilang apa…?”

“Tidak,” balas uchigatana itu, “bukan apa-apa.”

Sang saniwa menggumamkan sesuatu yang tak bisa didengar oleh Yamanbagiri.

Yamanbagiri menghela napas, lalu melepaskan kain putih yang selalu menyelubungi dirinya dengan satu tangan.

Sang saniwa langsung membuka mata ketika menyadari ada lapisan selimut tambahan di tangannya.

“Manba?” Tangan perempuan itu menggenggam kain tersebut mendekat, lalu perempuan itu tersenyum. “Haha, pantas saja tak pernah kau lepas, lembut begini.”

Tidur.” Yamanbagiri berkata dengan campuran gemas dan kesal. “Aku titip itu.”

Saat ia keluar dari ruangan itu dan berpapasan dengan kedua saudaranya, Horikawa memberikannya sebuah jubah kain putih baru dan dengan gembira berkata ‘akhirnya yang itu bisa kucuci setelah ini.

 


  

“Honebami? Ada apa?”

Namazuo bertanya, merasa diam yang diberikan saudaranya itu terasa berbeda dari yang biasa.

“….Hanya merasa aneh, tak mendengar suara aruji.”

“Yaah, dia jarang sakit sih. Aku juga kadang lupa kekuatan fisik kita berbeda dengannya.” Namazuo tertawa, ia mengingat apa yang sempat dikatakan perempuan itu sebelum dipaksa untuk kembali istirahat.

“Senior-ku punya sedikit masalah di daerah Kyo. Aku membantunya untuk memeriksa daerah ini di alur waktu yang lain.”

Karena hal itulah Yamanbagiri Kunihiro memimpin misi mereka kali ini ke area Kyoto.

Mereka jarang keluar tanpa saniwa mereka dalam sebuah misi, tapi bukan berarti tidak pernah. Hanya terasa aneh saja, kali ini tak ada ocehan perempuan itu ketika mereka menyusuri tembok besar yang mengurung kumpulan bangunan di dalamnya.

Honebami dapat membayangkan perempuan itu akan mengoceh; bagaimana tempat ini nantinya akan menjadi Kastil Nijou, bagaimana tempat itu masih terawat baik di masa depan, bagaimana ia ingin mencoba melihat kondisi taman tersebut di zaman ini meski harus menyusup melewati penjagaan ketat.

Waktu yang berbeda, kondisi yang berbeda.

Honebami berusaha mengingatkan dirinya sendiri. Bangunan yang pernah ia tinggali dulu saja tak ada, sudah menjadi bangunan lain –ia bahkan tidak ingat.

Yang ia ingat, sang saniwa punya agenda tersembunyi, selain berniat membantu senior-nya itu.

Benar. Logika tuan mereka ; karena Iwatoshi tak bisa ditemukan di area yang dilaporkan, maka lebih baik mereka mencari di area dengan probabilitas menemukannya paling rendah. Kasen Kanesada dan Heshikiri Hasebe sudah angkat tangan saat mendengar alasan itu.

“Oh… Masih ada prajurit yang berpatroli.”

Ucapan Konnosuke membuat Yamanbagiri menghentikan langkah mereka semua sebelum berbelok mengitari sisi belakang tembok.

“Mereka akan mengganti giliran jaga di pintu masuk depan, kita akan masuk ke dalam saat itu.”

Tujuan utama misi kali ini adalah menghentikan apa pun yang hendak dilakukan musuh mereka di dalam kastil ini, wakizashi itu berusaha memfokuskan diri pada hal tersebut. Mereka berhasil masuk tanpa terlihat oleh siapa pun dari jaman itu.

Terlalu mudah.

“Berpencar?”

Namazuo membisikkan pertanyaan itu pada ketua pasukan mereka, menyadari sepi yang terasa sangat aneh dalam kastil di siang hari ini.

 “Timur dan Barat. Shishiou, Imanotsurugi, Namazuo ke Timur. Jika ada musuh, pancing mereka ke sini. Kalau tidak ada masalah, kita kembali ke tempat ini 30 menit lagi.”

Meninggalkan persembunyian di aula luas tertutup, kedua kelompok kecil mereka segera berpisah ke arah tujuan masing-masing. Yamanbagiri membiarkan Mikazuki dan Konnosuke memimpin jalan setelah memastikan ruangan mana saja yang akan mereka periksa.

Honebami Toushirou merasa seharusnya ia dapat membantu, namun tak muncul ingatan apa pun tentang lorong atau pun jalan menuju ruangan utama dalam kepalanya. Mungkin di masa lalu ia mengingat seluk beluk kastil karena ia harus lari, menghindar dan berusaha menghalangi agar api tak mencapai ruangan itu, karena di dalam sana ada teman-temannya yang lain, lalu ada dia dan orang itu

(Tidak apa, tak perlu tergesa-gesa. Semua akan baik-baik saja.)

Benar, ini adalah awal yang baru baginya, tak perlu memaksakan dirinya untuk mengingat.

Mungkin karena lokasi kastil ini dan suasana sepi setiap memeriksa isi ruangan yang membuat Honebami berpikir terlalu keras.

“Di mana orang-orang…?” Gumam Honebami.

Mikazuki menjawab dengan menghentikan langkahnya, menutupi jarak pandang sang wakizashi. Honebami dan Yamanbagiri mengintip dari balik tachi itu.

“Apa yang mereka rencanakan…”

Penampakan empat uchigatana musuh yang mondar-mandiri di depan sebuah ruangan dengan fusuma emas berlukis pinus hitam besar dengan burung elang terlihat sangat kontras.

“Hahaha, sebaiknya kita tidak bertarung di sini.” Ujar Mikazuki. “Kita lanjut ke rencanamu, Yamanbagiri Kunihiro?”

Uchigatana yang ditanya itu mengangguk. Batas waktu 30 menit sudah terlewati.

 “Aku bisa mendengar suara perempuan itu mengatakan sesuatu seperti ‘kalau bertarung di sini bisa-bisa fusuma berharga itu hancur’.”

“Benar juga.” Balas Honebami.

Wakizashi itu segera pergi menelusuri kembali arah mereka datang tadi, bergerak lebih dulu dari kedua rekannya yang sibuk memancing musuh untuk mengikuti mereka. Konnosuke juga berlari di depannya.

Dari ujung lain lorong, Shishiou melihatnya datang dan ikut mempercepat langkah kakinya. Namazuo dan Imanotsurugi mengikuti di belakangnya.

“Di sebelah sana nggak ada musuh dan orang-orang,” ujar Shishiou kebingungan.

Honebami mengangguk.

“Mikazuki dan Yamanbagiri sedang memancing musuh ke sini.”

“Kalau sepi begini sih, kita bertarung di luar saja, lebih luas!” Imanotsurugi masuk dan menyeberangi ruangan tempat mereka bersembunyi tadi, menggeser pintu sebelum meloncat keluar menuju tanah terbuka dalam kastil.

Ketika Honebami mulai berpikir bahwa semua akan selesai dengan lancar, tentu saja ada dua musuh melompat keluar dari atap tertinggi kastil, nyaris mendarat tepat di atas Imanotsurugi.

Aaaah, nyaris saja!” Imanotsurugi berteriak sambil  melompat tinggi, menjauhi naginata dan oodachi musuh tersebut. Pendaratannya dijaga oleh Honebami yang dengan gesit menghalau bilah naginata yang diayunkan pada mereka berdua.

Shishiou dan Namazuo segera sibuk menahan serangan bertubi-tubi dari oodachi musuh yang berusaha membantu rekannya.

“Oh? Rupanya dua lagi ada di tempat ini?”

Dua uchigatana musuh ambruk sebelum sempat menyerang Namazuo dari belakang. Yamanbagiri Kunihiro melesat untuk membantu Shishiou dengan Nue yang sudah menyelubungi oodachi musuh itu dengan awan hitam.

Kedatangan Mikazuki mengalihkan perhatian oodachi musuh yang sedang menghadapi Honebami dan Imanotsurugi.

“Kalian telat!” Protes Imanotsurugi dari atas pijakannya di bilah naginata musuh. Tantou itu melontarkan diri setinggi mungkin dan menghujamkan bilah kecilnya dari belakang musuh.

“Maaf, maaf.” Mikazuki Munechika kembali tertawa.

Konnosuke yang berlindung di balik pintu sejak pertarungan dimulai kini mendekat ke arah mereka, membuka sebuah hologram dengan cakarnya dan mengangguk-angguk.

“Sudah selesai! Tidak ada tanda-tanda jikansokougun lagi di dalam kastil ini.”

“Hmm, terasa lebih cepat dari biasanya ya?” Shishiou berkomentar.

“Mungkin ini sedang ‘hari baik’ jadi kita beruntung?” Balas Namazuou, “oh, hei, lihat!”

Semua toudanshi mengalihkan perhatian pada semburan mini kelopak bunga di depan Imanotsurugi.

Oh…” Bahkan Honebami pun melongo.

Raut wajah Yamanbagiri berubah-ubah sangat cepat dari terkejut, bingung, senang, dan murung.

“…Biasanya kalau terlalu lancar seperti ini, akan ada hal buruk yang datang.”

“Hahaha, jangan begitu. Seperti kata Namazuo, hari ini sedang ‘hari baik’

Shishiou berlutut dan mengambil bilah naginata yang baru muncul itu, Nue mulai mengendus udara tapi setelah itu terdiam dan mulai tidur. Imanotsurugi menganga lebar, mata tak pernah lepas dari bilah itu.

“Apa dia tidak mau datang karena ada aruji?” Celetuk Shishiou.

Yamanbagiri Kunihiro mendengus sangat keras.

Suara-suara mulai terdengar dari kejauhan, membuat Konnosuke menghimbau mereka untuk segera pergi keluar dari kastil. Kelompok itu pun segera pergi diiringi teriakan girang Imanotsurugi.

 


 

Hari ini pun, meski bola bercahaya di langit akan segera hilang, mereka akan menaklukan menara kayu berdaun ini! Selama ini setiap mereka sudah sampai di atas, selalu ada yang menarik mereka turun, padahal mereka ingin naik lebih jauh lagi—meski kalau sudah di atas cara untuk turun yang terbaik adalah terjun bebas dan sudah ada bantalan empuk yang menahan mereka di bawah. Salah satu dari mereka pernah mengusulkan untuk turun dengan cara jalan mundur, tapi mereka belum pernah mencoba cara itu! Terlalu menakutkan! Kepala mereka turun lebih dahulu saja sudah sangat menakutkan!

Benar juga, dimana bantal mereka? Akhir-akhir ini jarang terlihat, si pria naga dan anak-anak teman tuan mereka saja yang sekarang lebih sering mengambil mereka dari atas menara kayu berdaun ini. Di mana kiranya bantal mereka yang senang menggaruk dagu mereka?

Kalau mereka tidak salah ingat, ada di balik kayu dan kertas paling ujung kayu raksasa ini?

 “Hmrmh…HGGGHKKH?!

Sang saniwa terbangun dengan sebuah tumpukan bulu halus dan hangat menyekap wajahnya. Tangannya segera menyambar apa pun itu yang—

Perempuan itu mengerjapkan mata.

“Kamu… Chiro?” Diletakkannya kembali salah satu harimau Gokotai yang kini meraba-raba hidungnya. “Aku masih hidup, tenang saja.”

Harimau Gokotai yang ia panggil Chiro itu mendengkur kencang dan menggosokkan badannya di tangan sang saniwa.

“Awaa saja kalau manjat pohon lagi hari ini.” Perempuan itu mendengus sembari menyentil pelan hidung Chiro.

Chiro menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

Wajah sang saniwa yang sudah pucat semakin memucat.

Ooooh tidak,” gumam sang saniwa, “aku tahu wajah itu, apa kamu yang jadi pengalih perhatian kali ini? Dimana saudara-saudaramu yang lain? Firasatku buruk…”

Perempuan itu menyampirkan jubah kain yang diberikan Yamanbagiri, satu harimau kecil Gokotai di satu tangan dan membuka pintu ruangannya.

Satu langkah keluar dari ruangan.

Lima langkah keluar dari ruangan.

“Apa kalian berusaha memanjat pohon di dekat kolam lagi? Sudah berapa kali aku mengambil kalian dari atas sana masih belum kapok juga--”

Suara berdeham seseorang.

Sang saniwa nyaris menjatuhkan Chiro.

Yagen menyambutnya dengan senyuman kelewat ramah dan Ishikirimaru menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil.

Uuummmm.”

“Apa kubilang, hm?”

Mata hitam yang terhalang kilat kacamata milik Yagen menambah seram pose bersidekap tantou itu. Suara ‘hm’ berat yang ia keluarkan sengaja dikeraskan agar membuat sang saniwa merasa bersalah. Tantou itu menoleh ke arah Ishikirimaru.

“Lihat? Perempuan ini bisa minum setengah liter alkohol, tapi tidak bisa diam istirahat selama satu hari penuh.”

Yagen-sensei, saya bisa menjelaskan ini—“

Satu gerakan gestur jari telunjuk Yagen dan sang saniwa segera menutup mulutnya dan berputar kembali memasuki kamarnya.

“Besok lusa baru anda boleh bekerja lagi, aruji.” Kata Ishikirimaru, duduk di samping Yagen yang kini memeriksa suhu badan sang saniwa. “Tadi siang anda bisa menghabiskan makanan anda, untuk makan malam harusnya anda kuat makan udon.”

Udon? Kukira Mitsutada memasak karaage hari ini?”

“Kau sakit, mau tambah batuk?”

“Maafkan hamba ini, sensei.”

Kericuhan dari berdebumnya langkah kaki beberapa orang membuat ketiganya menoleh saat pintu kamar sang saniwa dibuka cepat.

Aruji!

“Tunggu, Shishiou. Besok pagi saja, aku rasa dia tidak akan kuat menerima ini.”

“Yamanbagiri, Shishiou, ada apa?” Tanya Yagen.

Badan Shishiou sudah setengah menjulur masuk, nyaris terjerembap. Yamanbagiri Kunihiro setengah tersembunyi di belakang Nue dan pintu.

“Yagen, apa menurutmu kesehatan mentalnya akan terjaga kalau kita memberitahu berita ini padanya?” Tanya Yamanbagiri.

“Kita membicarakan tentang seseorang yang punya impuls menantang RNG dan refleks melempar ofuda dengan presisi mematikan, kalau mentalnya sih tak masalah.”

Hei, sensei, itu barusan maksudnya apa ya.”

“Ada apa ini sebenarnya?” Ishikirimaru bertanya kepada kedua toudanshi yang baru datang itu.

Shishiou bergeser dan membiarkan Yamanbagiri masuk dan duduk di samping Ishikirimaru, memperlihatkan bilah naginata itu pada sang saniwa.

Chiro mengendus bilah itu dan mengeluarkan suara mengeong puas.

Yamanbagiri melirik sang saniwa.

Tangan sang saniwa mulai membuka hologram dan memindai bilah itu.

“Oh,” adalah kata pertama yang dikeluarkan mulut sang saniwa, menatap bilah naginata itu dengan bingung, diikuti dengan “hm.”

 “Selamat, kau sukses merusak sirkuit sel saraf aruji. Sungguh luar biasa.” Yagen mulai bertepuk tangan.

Katamu tadi tidak ada apa-apa!” protes Yamanbagiri.

Hmm, cara kerja tubuh manusia itu misterius.”

Yagen-kun…” Ishikirimaru tertawa gugup.

Senyum miring sang saniwa nyaris membuat Shishiou berjengit.

“Tak kusangka seperti ini rasanya sakratul maut yang asli. Aah, sepertinya aku sekarat, Yagen-sensei.”

Aruji, bertahanlah! Ini nyata!” Teriak Shishiou.

Yamanbagiri menghela napas keras dan meraih tangan sang saniwa, meletakkannya di atas besi berat itu.

“Kalau kau tak percaya ini nyata, coba panggil dia seperti yang biasa kau lakukan di ruang penempaan.”

 Hujan kelopak sakura memenuhi ruangan, cahaya terang benderang dari bilah itu berpendar selama beberapa detik sebelum mereda perlahan.

Ooh, aku tidak sadar kau ada disana karena kau terlalu kecil.”

Bayangan tinggi menjulang menyelimuti wajah sang saniwa yang masih menampilkan ekspresi ‘??????’ permanen.

“Aku Iwatooshi, naginata milik Musashibou Benkei! Gahahahaha!!

“Wah!” Seru Ishikirimaru dan Shishiou bersamaan.

“Hoo.” Yagen mengangguk-anggukkan kepala.

Detik itu juga sang saniwa ambruk dengan ekspresi ‘uwu’ sangat damai dan sekilas Yamanbagiri bisa melihat arwahnya pergi meninggalkan raga perempuan itu.

 

 


//Pop Heart Sutra playing at the distant//


 

 

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.



 

Tanah yang ia injak tak rata dan lunak, hasil dari hujan semalam yang baru berhenti dua jam yang lalu.

Bukan karena pertumpahan darah di medan perang, Iwatooshi mengingatkan dirinya sendiri.

Baru beberapa hari ia tinggal di honmaru ini dan ia belum terlalu mengingat letak semua lokasi penting, meski Imanotsurugi sudah mengajaknya berkeliling. Naginata itu akhirnya selalu bangun saat subuh dan mengelilingi tempat tinggal barunya itu saat para penghuninya belum memulai aktivitas, meski terkadang ia berpapasan dengan segelintir toudanshi lainnya seperti Ichigo Hitofuri.

Imanotsurugi juga membawanya ke jembatan merah kecil di tengah kolam, sebuah hiasan di tempat favorit sang tantou di area kebun karena mengingatkannya akan pertemuan mereka dulu.

Tapi ada satu tempat yang belum ia kunjungi.

Pagi itu Imanotsurugi mengajak Iwatooshi untuk menjejakkan kaki ke tempat tersebut. Tampaknya semua toudanshi yang baru sampai di honmaru itu setidaknya harus satu kali harus menjejakkan kaki di sana. Penjelasan yang datang dari Mutsunokami itu membuat Iwatoshi salah tanggap dan mengira tempat itu sebagai tempat ziarah wajib atau semacamnya.

Dari kejauhan, Iwatooshi dapat melihat garis cakrawala, langit bertemu dengan laut dengan titik kecil berkilau yang akan terbit beberapa saat lagi. Ada siluet seseorang berdiri, berdiri di tepi tebing dan membelakangi mereka.

Aruji-sama!” Teriak Imanotsurugi dengan girang.

Sang saniwa berbalik ke arah dua toudanshi itu. Iwatooshi baru melihat ada Konnosuke yang kini berdiri di bahu perempuan itu.

“Ooh, pagi, Aruji.” Iwatooshi mulai mengerti kenapa tempat ini wajib dikunjungi. “Gahaha, tampaknya anda sudah lebih sehat dari kemarin, pantas saja bangun sepagi ini!”

Perempuan itu hanya terkekeh. Tangannya sudah siap menerima Imanotsurugi yang meloncat ke arahnya. Keduanya terkikik geli selama beberapa saat sebelum sang saniwa meletakkan kembali tantou itu  di atas tanah.

Aruji-sama, kapan aku dan Iwatooshi bisa pergi bersama?” Tanya Imanotsurugi, bergelayut di lengan sang saniwa. Beberapa hari ini belum ada misi baru dan semua penghuni diberi waktu beristirahat selama 3 hari.

“Besok lusa. Sudah ada Iwatooshi sekarang, aku lebih percaya diri untuk misi yang lebih sulit sudah lebih tinggi sekarang, hahaha!” Lalu ia menambahkan, “Tentu saja setelah latihan spartan hingga level 99 naginata tercapai.”

Iwatooshi tertawa keras.

Naginata itu hendak menanyakan menu latihan mereka, namun ia menangkap perubahan ekspresi sang saniwa yang mendadak kaku.

Iwatooshi harus menutupi cahaya matahari terbit dengan tangan di atas matanya, barulah ia menyadari apa yang dilihat oleh sang saniwa di bawah tebing, tersembunyi di bagian ceruk pantai yang dipenuhi karang dan terbuai oleh ombak.

Tubuh manusia.

“…Kita turun ke sana?”

Pertanyaan Iwatooshi tak dijawab selama beberapa saat. Kedua toudanshi itu pun mengikuti ketika sang saniwa akhirnya menuruni bebatuan yang membentuk tangga alami. Perempuan itu turun tanpa tergesa-gesa. Imanotsurugi mengira mereka akan menolong orang yang terdampar itu, ia mulai resah dan berjalan sambil menarik lengan baju perempuan itu, hanya menjawab tatapan penuh tanya Iwatooshi dengan menggelengkan kepala.

“Konnosuke, tolong periksa data tanggal hari ini.” Dalam perjalanan turun mereka, sang saniwa mengatakan hal itu pada sang rubah yang langsung menyibukkan diri di atas bahu perempuan itu

Imanotsurugi hendak mendekati sosok manusia itu, tapi tangan sang saniwa bergerak cepat menghalanginya. Tantou itu menoleh dan melihat sang saniwa menggelengkan kepala.

Tubuh perempuan dihadapan mereka menelungkup, mata kosong mengawang. Kulitnya sudah membiru dengan warna merah gelap melekat di bagian pinggangnya.

“Dia memeluk sesuatu.” Iwatooshi mengarahkan perhatian mereka. Ada sedikit gerakan dibalik dekapan tangan kaku perempuan itu, sebelum sebuah suara tangisan lemah tanpa energi sampai di telinga mereka.

“…Bayi!” Gumam Imanotsurugi. “Aruji-sama, apa yang harus kita lakukan?”

Sang saniwa memutuskan untuk diam sebelum menjawab. Konnosuke sudah menggeser hologram berisi kejadian-kejadian kecil dalam sejarah yang terjadi di koordinat daerah ini. Tak ada catatan yang membahas mengenai perempuan ini. Titik indikator berwarna kuning yang berkedip penuh peringatan di bagian bawah kanan hologram, memiliki arti bahwa ‘tidak menganggu alur waktu, namun tetap harus diwaspadai’.

Konnosuke membuka hologram lain dan mengibaskan ekornya.

“Catatan sejarah yang ini membahas seorang daimyou yang sewaktu bayi ditemukan di area hutan, tak jauh dari area tebing pantai ini. Bayi ini punya posisi penting.”

“Gawat. Hutan?” Sang saniwa mulai panik. “Indikator masih berwarna kuning, apa karena lokasinya sekarang berubah?”

“Tidak, tunggu, ada detail kalau dia ditemukan saat bulan purnama. Itu masih dua minggu lagi.” Balas Konnosuke dengan cepat.

“Apa kita harus membantunya?” Imanotsurugi hendak mengambil bayi itu, menatap sang saniwa dengan resah.

“Maunya sih begitu…” Gumam perempuan itu. Tahu bahwa ia harus menolong namun untuk bertindak melakukan hal tersebut, lain lagi persoalannya.

Imanotsurugi sebenarnya mengerti keraguan sang saniwa karena tindakan mereka bisa mengubah alur waktu. Tapi indikator tadi berwarna kuning, seharusnya tidak apa-apa kan? Tantou itu mulai tak sabar.

“Ada yang datang.” Iwatooshi menyadari gerakan di kejauhan, tiga titik bergerak dari ujung karang di seberang sana.

Dari penampilan dan gerak-gerik mereka, ada yang tidak beres.

Sang saniwa akhirnya memutuskan untuk mengambil resiko.

Imanotsurugi segera mengambil bayi itu setelah sang saniwa memberikan gestur dengan tangannya.

“Kembalilah duluan.” Mereka mundur,sang saniwa menyuruh mereka pergi kembali ke dalam barrier pelindung honmaru, sebelum ia sendiri menyembunyikan diri di balik batu karang besar namun masih bisa mendengar suara dari tiga orang yang mendekati mayat perempuan tadi.

Sang saniwa menangkap beberapa kata umpatan. Berikutnya terdengar sesuatu yang berkisar pada ‘di mana bayinya’, ‘setidaknya dia mati’, ‘tugas kita belum selesai’.

Ia tak berdiam di sana lebih lama lagi, sudah menangkap beberapa kata kunci yang ia perlukan.

 


 

 

Hal pertama yang muncul di kepala Ishikirimaru adalah ‘dari mana dua orang ini menculik bayi’.

Tapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Imanotsurugi, gendong dia dengan lebih hati-hati. Lehernya belum kuat.”

“Oh!” Imanotsurugi sudah lama tidak berinteraksi dengan manusia dalam bentuk masih kecil. Setelah mendengar kata-kata Ishikirimaru, ia segera memperbaiki posisi kepala bayi itu agar bersandar di lengannya.

Yagen yang baru saja datang dan melihat pemandangan itu membenahi letak kacamatanya, hanya diam melihat Imanotsurugi dengan sosok bayi di kedua tangannya.

“Sepertinya saya salah masuk honmaru. Permisi.”

Sang saniwa tertawa, “Yagen Toushirou, kembali ke sini sekarang juga! Hei!

Setelah memeriksa bahwa bayi laki-laki itu sehat dan tidak terluka barulah mereka mengambil napas lega. Keempat toudanshi dan sang saniwa lalu duduk dalam diam di kebun belakang. Ishikirimaru memeriksa motif mon dari kain yang membungkus bayi itu.

“Bukan keluarga yang kecil, tapi tidak memegang tanah yang besar pula.” Ujar Ishikirimaru. “Sepertinya dari keluarga dengan nama Shikyo.”

“Hm? Jadi itu cara membaca nama mereka?” Sang saniwa membandingkan informasi tersebut dengan apa yang tertera di hologram. “Nama yang unik, pantas saja bisa ada di dalam data meski tak memiliki peran khusus dalam sejarah.”

“Jadi bagaimana selanjutnya?” Iwatooshi mengulurkan jarinya, menyeringai dan tertawa ketika bayi itu berusaha menggapainya. “Tunggu minggu depan?”

Sang saniwa memandangi bayi yang masih dibawa oleh Imanotsurugi. Sejak ia terkurung lama di dalam kamar dan beristirahat, jangka waktu seminggu terasa cukup lama dalam hitungannya. Selain menunggu dan mengurus bayi ini agar tetap sehat…

“Tak ada salahnya mencari informasi lebih di kota…”

Yagen tersenyum, “Kamu yang pergi ke kota?”

Melihat bagaimana sang saniwa segera menutup mulut dan tak menatap mata Yagen, membuat Ishikirimaru tertawa. Saniwa mereka memang baru sembuh dan sekarang sudah berniat beraktivitas dengan berjalan lama di tengah keramaian kota.

“Aku! Aku dan Iwatooshi bisa bertanya pada orang-orang di pasar.” Imanotsurugi sudah akan meloncat kalau tidak ingat sedang membawa bayi di tangannya.

 “Baiklah.” Sang saniwa mengangguk, lalu membeku. “Tunggu, berarti bayi ini—“

Bayi laki-laki itu sudah beralih dari jemari Iwatooshi dan menggenggam ujung baju sang saniwa sambil tertawa-tawa.

“Oh, tampaknya ia menyukai anda.” Ishikirimaru tertawa.

Sang saniwa tak tahu harus tertawa atau menangis.

“Ishi-san, pengalamanku mengurus balita itu nol besar…”

 

 

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.



 

Kerumunan orang berlalu-lalang, setiap orang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Hari itu kegiatan jual-beli di pasar berjalan seperti biasa. Dua orang, satu tinggi menjulang yang nyaris membuat sebagian besar orang menoleh ke arahnya, satu sosok lagi tampak seperti anak kecil yang berjalan riang memimpin jalan.

(“Bawa ini, lalu informasi yang harus kalian cari adalah—“)

Iwatooshi sudah mengulang kata-kata titipan sang saniwa pada setiap toko atau pedagang yang mereka datangi, sambil memperlihatkan motif pada kain yang digunakan membungkus bayi laki-laki yang mereka temukan.

“Permisi, apa anda mengenali motif pada kain ini?”

Akhirnya ia berhasil mendapat sebuah jawaban baru selain gelengan kepala atau lirikan mata tak peduli. Seorang ibu pedagang kain yang berkelana, berdecak kagum saat melihat kain di tangan Iwatooshi dengan komentar, “oh, hasil yang sangat indah”.

Iwatooshi tertawa, “saya kurang mengerti tentang hal seperti ini. Kenapa motif ini indah?”

“Bukan, bukan. Teknik menyulam yang dipakai sang penjahit, sangat teliti dan sabar. Selain simbol ini, lihat bagaimana perubahan warna hijau dan kuning menyatu karena menggunakan teknik benang panjang dan pendek. Apa anda mengenal penjahit ini?”

“Hoo, anda memang sangat ahli dalam bidang ini. Sayang sekali, saya juga sedang mencari siapa yang menyulam ini.”

Sang pedagang itu hanya bisa menggaruk kepala sebelum menepukkan kedua tangannya, “Aah… Oh! Sudah coba tanya pada toko seberang jembatan? Keluarganya sudah 5 generasi berjualan, mereka pasti lebih tahu. Saya sering bertransaksi dengan mereka, orang-orang jujur.”

Informasi yang mereka cari memang mereka dapat di tempat yang direkomendasikan sang pedagang tadi.

“Aah, ini! Iya, lambang daimyou Shikyo. Bahan kain kualitas tinggi pula… Saya juga tidak berani membelinya. Oh ,Tamura-san, kemarin ada juga yang ingin menjual kain seperti itu di tempatmu kan?”

Bah! Dari orang-orang kasar itu? Mau menjualnya dengan harga mahal, kusuruh mereka pergi ke tempat lain!”

“Apa tuan ini orang dari klan Shikyou? Saya baru tahu kain ini bisa dijual, atau…”

Si pemilik toko merendahkan suara untuk berbisik, “apa rumor soal perebutan harta warisan itu benar?”

Iwatooshi sungguh kagum dengan cara sebuah informasi dapat sampai di telinga hanya dengan mendengar beberapa dialog percakapan sepanjang hari itu.

Ia dan Imanotsurugi segera menyingkir dari keramaian kota, berjalan sambil menyaring informasi yang mereka dapatkan.

“Sejauh ini semua cocok dengan yang ada di data milik aruji dari masa depan. Nama sang daimyou, lambang ini juga.” Iwatooshi menimang kain yang sedang ia bawa. “Selanjutnya, kita tinggal mengikuti arah orang-orang yang kita lihat di pantai itu. Pemilik toko tadi bilang mereka memang pergi ke area menuju hutan.”

Sang naginata itu menyadari tantou di sebelahnya berhenti berjalan, ia ikut menghentikan langkah kakinya dan menunggu. Wajah Imanotsurugi tampak berpikir keras.

Imanotsurugi akhirnya menyuarakan pendapatnya, “kalau begitu, kita bisa mengantar bayi itu langsung ke rumahnya, Iwatooshi?”

“Kau tahu kita tidak bisa melakukan itu, Imanotsurugi.”

“Mm…. Iya, tapi… Aku kasihan padanya.”

“Kediaman daimyou itu sedang kacau saat ini, anak itu malah lebih aman bersama kita sekarang, tidakkah kau berpikir begitu?”

Iwatooshi tak tahu apa yang membuat Imanotsurugi sangat bersimpati pada bayi itu, tapi ia mengingat apa yang sudah ditekan oleh sang saniwa kepada mereka mengenai kejadian sensitif dengan perubahan alur waktu seperti ini.

Tangan besar itu mengacak rambut kawan kecilnya, sambil  tertawa Iwatooshi berjalan berdampingan dengan Imanotsurugi, menuju arah pulang mereka.


 

 “Aku ingin menjadi bayi lagi.”

Minggu kedua setelah bayi tersebut tinggal bersama mereka, sang saniwa mulai mengatakan hal seperti itu.

Sayo memiringkan kepala, menatap bingung perempuan yang sedang enak rebahan di atas lantai kayu koridor sehabis dibersihkan. Cahaya di sekeliling mereka bernuansa api lilin, membuatnya tak terlalu bisa membaca ekspresi perempuan itu.

“Kenapa begitu?”

“Semuanya diurusi, aku tidak perlu melakukan apa-apa.”

Perempuan itu juga tidak membahas bagaimana seisi honmaru menjadi lebih ribut lagi sejak beberapa toudanshi bergantian mengurus mahluk hidup tambahan tersebut. Menjaga pemimpin mereka untuk tetap sehat saja susah, sekarang dia ingin jadi bayi lagi?

Sayo merasa Kousetsu-niisan akan merapal beberapa bait sutra tambahan jika mendengar omongan sambil lalu saniwa mereka saat ini.

“Bukankah aruji juga seperti itu sekarang?”

“Hm?”

“Dimanja oleh Yamanbagiri Kunihiro-san.”

Sang saniwa menoleh ke arah Sayo.

“…Masa sih?”

“Kalau Sayo melihatnya seperti itu, tampaknya aku perlu lebih keras lagi padamu.”

Sang saniwa bangkit duduk secepat kilat.

Yamanbagiri Kunihiro ternyata mendatangi mereka, bayi di dalam satu tangan. Tangan lainnya selalu menghentikan usaha si bayi yang tampak menyukai tudung kainnya. Bayi itu baru ia turunkan ketika Sayo mengulurkan kedua tangannya, wajah penuh antisipasi tertahan.

“Ah, Sayo senang sekali dengan si kecil ini ya?”

“Kita harus membawanya kembali ke tempat aslinya, ingat.”

“Tentu saja, tentu saja.”

Beban di tangannya sudah hilang dan tak ada yang menarik tudungnnya lagi, membuat Yamanbagiri Kunihiro menghela napas lega.

“Aku masih heran kenapa kau mau membawanya pulang ke sini.”

“Karena menurut data harusnya ia hidup sampai umur 40 tahun nanti…Bisa saja ada garis keturunannya yang menghilang, lalu efek domino dan semacamnya berpengaruh di dunia masa depan kalau ia meninggal sekarang.”

“Hanya itu?”

“Mm? Iya.”

Sayo yang membiarkan jemarinya diemut oleh bayi itu juga mendengarkan percakapan tersebut, mengira jawaban sang saniwa akan berkisar seputar ‘karena anak ini manusia juga’ atau semacamnya, tapi sang saniwa tidak sampai emosional seperti itu dan bersikap profesional.

Sang saniwa menguap, menepuk-nepuk kayu di sebelahnya, menyuruh Yamanbagiri untuk duduk.

“Sesuai informasi yang sudah Iwatooshi dan Imanotsurugi dapatkan minggu lalu, semuanya cocok dengan apa yang ada di datamu...”

“Aku mendengar ada ‘tapi’ dalam kalimatmu.”

“….Tapi ada beberapa detail tambahan.”

“Apa saja?”

“Perempuan di pantai kemarin adalah ibu dari bayi ini.”

“Terkonfirmasi. Apa lagi?”

“Orang-orang yang ada di pantai kemarin adalah ajudan daimyou Shikyou yang menjabat saat ini.”

Wah.

Sayo mengeratkan pegangannya pada si bayi.

“Dia ingin… Membunuh istri dan anak-nya sendiri?”

Sang saniwa memperhatikan bayi kecil itu, menyeka air liur dari mulut yang tak berhenti bergerak itu dengan lengan bajunya.

“Hidupmu keras juga, nak. Siapa yang akan menjemputmu di hutan besok?”

Yamanbagiri sebagai sekretaris yang budiman masih belum selesai berbicara.

“Imanotsurugi dan Aizen memintai kediaman daimyou Shikyou dan melihat para pengawalnya menuju ke hutan. Menurut yang mereka dengar, dengan tujuan latihan.”

 Mereka tahu hal itu tidak benar. Terjadi perang antar saudara di kediaman tersebut, pasukan pengawal sang daimyou dikerahkan menuju hutan. Adik sang daimyou tak jelas letak persembunyiannya. Meski data sejarah mengatakan bayi yang akan menjadi daimyou Shikyou selanjutnya ini ditemukan di hutan, kalau bertemu dengan orang yang salah…

Sayo dan Yamanbagiri terlepas dari pemikiran mereka saat mendengar suara tepukan kencang dari kedua tangan tuan mereka.

“Yang seperti itu bisa kita improvisasi di tempat, kita lihat siapa orang yang peduli dan ingin membesarkan bayi ini”

“Memang benar… Tetap saja beresiko.”

“Mau bagaimana lagi, Manba. Ditinggal begitu saja di bawah pohon juga beresiko di makan binatang buas.” Ujar sang saniwa. “Tak apa, kita akan melindungi bayi ini.”

Sang bayi mengeluarkan suara setuju, membuka kedua tangannya dan membuat gerakan menendang dengan kakinya.

“Betul, itu dia semangatnya.” Sang saniwa mengagguk-anggukan kepala. “Sekarang aku butuh kau tetap bangun dan bermain agar besok kau tidur pulas saat kami mengantarmu ke hutan.”

Aruji-sama, itu tidak baik.”

Sang saniwa hanya tertawa sebelum kembali merebahkan diri. Matahari senja yang sudah terbenam, ditambah angin malam sepoi-sepoi membuatnya mengantuk.

“Hei, makan malam sudah mau selesai, kalau terus tidur-tiduran di sini kau bisa…”

Perempuan itu terus memejamkan mata, cengiran lebar di mulut karena sudah terlalu terbiasa diomeli Yamanbagiri seperti itu.

Tapi uchigatana itu tidak menyelesaikan kalimatnya. Tangannya mengguncang bahu perempuan itu untuk menarik perhatiannya.

“Hei. Bangun. Lihat ke langit.”

“Hm?”

“Kita harus berangkat sekarang.”

Menopang tubuh bagian atasnya dengan siku, sang saniwa menengadah, “kemarin kubilang kita berangkat besok agar sesuai dengan tanggal saat bulan purnama besok…”

Perempuan itu bertanya-tanya dalam hati, kenapa ia baru menyadari suasana terang di malam hari ini.

Bulat sempurna yang bercahaya di atas sana, ternyata sudah datang.

 

 

Chapter Text

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.

 



 

Malam itu, seluruh isi honmaru kembali sibuk beraktivitas.

Mereka yang awalnya sudah bersiap untuk istirahat, segera membantu para toudanshi yang seharusnya akan pergi besok pagi. Sang saniwa memindahkan jadwal mereka dan memberikan status darurat pada misi yang akan mereka lakukan saat itu juga.

Sang saniwa sendiri mengurung diri selama beberapa saat, Yamanbagiri Kunihiro tahu tuan mereka itu pasti mengontak orang pusat lewat hologram. Ia hendak memanggil perempuan itu keluar dari kamarnya setelah persiapan mereka selesai ketika pintu kamar tersebut sudah tergeser sendiri.

“Baiklah, ayo-- ada apa, Manba?”

Sesaat, ia tidak bisa menebak apa arti dari pandangan uchigatana itu. 

 “…Kau yakin sudah sehat?”

 “...Sudah dong, berkat jubah-mu yang wangi itu--”

Yamanbagiri Kunihiro segera menyela, “semua sudah siap di halaman depan. Bayi itu juga sudah tertidur.”

“Mm. Terima kasih.”

Mata perempuan itu melirik ke arah cahaya di atas langit sebelum bergegas menyusul sang uchigatana yang berjalan di depan.

 


 

Teori sementara sang saniwa adalah sebagai berikut; daimyou Shikyo percaya bahwa istrinya berselingkuh dengan adiknya, ia tidak mengakui bayi ini sebagai pewaris, juga menganggap bahwa saudaranya adalah ancaman, maka ia menyuruh bawahannya sendiri untuk menghabisi nyawa keduanya— kira-kira itulah penjelasan singkat dari sang saniwa pada tim mereka.

Yamanbagiri Kunihiro melanjutkan, “berdasarkan teori ini; daimyou itu mengirim pasukannya untuk menyerang saudaranya sendiri. Lalu jika benar saudaranya itu ada di dalam hutan dan merupakan ayah anak ini…”

Otegine mengambil kesimpulan, “jadi kita harus menghindar dari orang-orang daimyou itu dan menjaga sampai bayi ini diambil oleh orang yang akan membesarkannya?”

Harus mencari dan melindungi, sebelum menyerahkan bayi itu.

Iwatoshi dan Otegine akan mencari area terbuka bersama sang saniwa membawa bayi itu. Imanotsurugi, Yamanbagiri Kunihiro, Akita dan Atsushi akan berpencar, memutari para pasukan daimyou Shikyo, mengawasi jika mereka bergerak mendekat ke arah sang saniwa. Mereka akan menghindari sebisa mungkin bertemu dengan orang-orang sang daimyou.

Kedatangan para jikansokougun yang tak dapat ditebak juga harus mereka waspadai.

Sejak bayi itu berakhir di tepi pantai, alur sejarah sudah sedikit berbelok, suatu hal yang diinginkan para musuh mereka.

Bulan purnama penyebab kekacauan mereka sekarang bersinar terang di atas sana.

Hal yang mempersulit pergerakan mereka di tengah hutan ini adalah rapatnya pepohonan menghalangi cahaya rembulan itu. Minim ruang gerak dan cahaya, namun sang saniwa bersama Iwatoshi dan Otegine terus bergerak menuju area terbuka, tempat aman dari binatang buas yang bisa menjadi letak original bayi itu di hutan seperti sejarah aslinya.

“Tunggu.”

Kata-kata yang keluar dari mulut Iwatoshi membuat dua sosok lainnya berhenti, menunggu naginata itu melanjutkan perkataannya setelah menengadah pada udara kosong.

“Ada apa?” Tanya sang saniwa pada akhirnya.

“Bau ini, apa kalian menciumnya juga?”

Aroma yang ia tangkap sedari tadi hanya semerbak lemon batang hinoki yang tumbuh berbaris, namun karena Iwatoshi mengungkitnya, sang saniwa juga mulai mengendus udara.

“Otegine?”

“Yup, aku juga mencium bau seperti asap obor.”

Toudanshi dan indera kalian yang terlalu peka…” Gumam sang saniwa.

Si bayi mulai bergerak tak nyaman di tangannya, wajah berkerut sebelum mengeluarkan suara bersin kecil.

Otegine berinisiatif meneliti ke segala arah. “Dengan kecepatan angin ini, sumbernya masih jauh. Apa yang harus kita…?”

Kumpulan obor musuh yang datang atau tempat perkumpulan orang-orang yang mereka cari?

Jeda menggantung di udara, sang saniwa berpikir cepat.

“Yang lain akan memberi sinyal kalau pasukan daimyou itu mendekat,” dan belum ada sinyal satu pun dari para toudanshi yang berpencar, “yang jelas sumber api ini bukan mereka.”

Sang saniwa memberikan jarinya untuk mulut dan jari mungil si bayi saat mereka bergerak menuju sumber api itu. Satu hingga titik cahaya obor mulai terlihat, namun satu per satu menghilang. Meski cahaya bulan di atas sana cukup terang, melihat titik cahaya seperti itu memang cukup beresiko.

Untung saja keputusan mereka tepat.

Pantas saja kumpulan orang bersenjata ini tak dapat terlihat dari jauh, rupanya ada tanah menurun terjal tempat mereka bersembunyi. Kira-kira 30 atau 40 orang, terdiri dari beberapa prajurit dan perempuan yang tampaknya adalah pelayan. Di pinggir luar kumpulan orang itu, sekelompok kecil pria berpakaian lebih formal sedang mendiskusikan sesuatu.

Sang saniwa menghela napas lega. Sambil membenahi letak si bayi di tangannya, perempuan itu memberi gestur dengan kepala agar Iwatoshi dan Otegine untuk memperhatikan sekitar mereka, sebelum berjalan menuju pada siapa yang ia pikir adalah ‘paman’ dari bayi ini; pria yang memakai warna bangsawan, ikut berdiskusi dengan orang-orang yang berdiri cukup jauh dari yang lain.

Meski pembicaraan ketiga orang tersebut pelan, perbedaan suasana malam di kota modern dan tengah hutan sangat kontras, hingga telinga manusia biasa sang saniwa dapat menangkap sedikit percakapan mereka.

“… bisa sampai di sini kapan saja…”

“Tuan, apa yang akan kita lakukan?” pria yang berbicara itu tampak seperti kepala para prajurit, menoleh pada ‘paman’ si bayi, “jika anda ingin melanjutkan pencarian, saya akan membantu anda.”

Pria lainnya, tampak lebih tua dari semua orang di tempat itu, tiba-tiba berbicara.

“Tuanku, maafkan pertanyaan saya ini, jika nyawa bayi itu sangat penting, apa benar dia adalah darah daging anda?”

Keheningan total segera merambat, bahkan sang saniwa dan kedua toudanshi ikut menahan napas. Tampaknya pertanyaan itu menjadi sebuah hal yang tak pernah ditanyakan tepat di depan sumbernya.

‘Paman’ sang bayi akhirnya bersuara.

“Tanggung jawabku adalah menyadarkan kembali ani-ue atas segala keputusannya yang… kurang tepat,” suara mendalam itu tetap tenang, “semua rumor dan spekulasi yang ada, terserah pada anda sekalian ingin mempercayai hal tersebut atau tidak.”

“Tapi,”

Sebelum si kepala prajurit maupun si pria tua sempat memotong, mulut itu terbuka lagi.

“keponakan-ku merupakan pewaris sah klan Shikyou, fakta itu benar.”

Kepala prajurit menghela napas, “lalu kenapa anda tidak membantah rumor itu?”

Ani-ue akan menggunakan semua orang yang ia perlukan untuk menjatuhkanku, meski pun itu anaknya sendiri—“

Srak.

Para perempuan di kelompok kecil itu merapat, para prajurit mengangkat tombak mereka. Kepala prajurit segera berdiri di depan kedua orang itu dan menghunuskan pedangnya ke arah suara berasal.

Suara selanjutnya, terdengar sangat pelan, membuat semua orang yang sedang dalam pelarian itu menahan napas.

Tangisan bayi.

Ketika keadaan dianggap aman, ketiga orang tersebut akhirnya berjalan mendekat ke arah suara dan mendapati bayi yang mereka cari, tertidur hangat dan nyaman dalam balutan kain berlapis, menggapaikan jemari ke udara.

Sang saniwa tak heran saat kumpulan orang tersebut bergegas pergi dalam kegelapan malam dan tampak lebih waspada.

“Kau bisa turunkan aku sekarang, terima kasih, Iwatooshi.”

Pergi secepat kilat sejauh beberapa kaki dari lokasi bayi itu ia letakkan, tentu saja mustahil kalau bukan karena inisiatif Iwatooshi yang mengangkatnya dengan satu tangan dan segera bergabung dengan Otegine.

“Haha, sama-sama!”

Iwatooshi lalu memperhatikan kelebat orang-orang yang bergerak dalam persembunyian itu.

“Kita anggap aman kalau mereka sudah sampai di mana?”

Sang saniwa bersidekap sebentar, berpikir, sebelum berjalan di depan keduanya.

“Sekumpulan orang dalam jumlah tidak sedikit dan tidak ingin diketahui, pasti akan menghindari jalan yang dilewati banyak orang.”

“Pantai? Mereka mau menyeberang kemana?” Otegine mengernyit.

“Bukan menyeberang; menyusuri. Pergi beberapa kilo dari pantai untuk sampai di sisi lain pantai.” Koreksi sang saniwa. “Paman si bayi itu pasti mau memperkuatk kubunya dulu sebelum menyerang, setelah itu baru sesuai sejarah.”

Sang yari dan naginata saling berpandangan.

“Kita juga?”

Nggak lah, cukup mengantar mereka sampai di tepi pantai.” Sang saniwa tertawa. “Cuacanya bagus untuk melaut. Aku hanya takut gangguan jikansokougun.”

Maka ketiganya mengikuti pergerakan kelompok yang hendak kabur dari kejaran daimyou Shikyou. Otegine bersiul—di tengah hutan terdengar seperti suara kicauan burung, itu adalah sinyal memberitahu kelompok lain untuk bergabung dengan mereka dan berhenti mengawasi pergerakan pasukan sang daimyou dan jikansokougun dalam hutan.

Melewati jalan yang semakin menurun dan pepohonan yang semakin jarang, cahaya fajar dari horizon laut mulai terlihat jelas. Sisi pantai lain yang menjadi halaman belakang honmaru terlihat kosong seperti tanpa penghuni karena barrier pelindung. Ketiganya mengawasi dari tepi tebing. Kewaspadaan mereka semakin tinggi, namun tak ada serangan mendadak dari arah mana pun.

Ketika kaki orang terakhir menaiki perahu, barulah sang saniwa mendapati dirinya bisa bernapas lega.

“Selesai, begitu saja?” Iwatooshi mengernyit dan menggaruk kepala. “Ku kira misi akan lebih berat.”

“Untuk kategori misi pertama-mu, yang ini memang tergolong mudah.” Sang saniwa mengakui hal itu. “Padahal kupikir kau bisa berlatih menebas semua musuh, dan yang lolos bisa diatasi oleh Otegine.”

“Kau dan jalan pikiranmu…” Gumam sang yari, masih memperhatikan kapal itu sampai menghilang di sisi lain.

Perempuan itu membalikkan badan, lalu berhenti tiba-tiba dan berdesis saat bertatapan dengan dua mata hijau gelap yang sudah ada di belakangnya.

“…sudah seperti Tsurumaru-san saja!!”

Yamanbagiri Kunihiro tak menanggapi, sibuk menepuk jubahnya yang sudah berwarna tanah dan tergores kulit kayu. Para tantou yang pergi bersamanya tadi juga sudah berkumpul bersama mereka. Imanotsurugi sudah bergelayut dan berbincang dengan Iwatooshi sejak ia sampai.

Jikansokougun?

“Normal, 3 gelombang, masing-masing 4 anggota.”

“Lalu kenapa kau tampak seperti dikejar beruang liar begitu…”

Akita membantu untuk menjawab. “Para jikansokougun berusaha mengarahkan pasukan daimyou itu untuk menemukan bayi itu! Jadi kami melawan para jikansokougun dan membuat distraksi agar mereka mengikuti arah yang berlawan.”

Atsushi dengan pipi tergores, terkekeh mendengar itu.

“Kayaknya laporan yang harus dibuat akan banyak, taishou.

Sang saniwa memberikan tatapan ‘tolong jangan ingatkan aku’ pada tantou itu.

Melihat tak ada lagi yang perlu mereka lakukan, sang saniwa hendak membuka portal agar mereka bisa segera kembali beristirahat. Bulan di langit sana mulai menyatu dengan biru pudar, mereka sudah bergerak sepanjang malam hingga fajar. Ia sendiri tak masalah, namun pandangan menelisik dari Yamanbagiri Kunihiro sudah mengancam.

Otegine sudah menggiring Akita dan Atsushi untuk memasuki portal terlebih dahulu. Melihat kurang dua sosok lagi di depannya, yari itu berbalik dan setengah berteriak.

Heeei, kalian, ayo balik!”

Iwatooshi membiarkan Imanotsurugi memanjat dari lengan hingga duduk di bahunya. Satu tangan membawa tubuh naginata-nya, tangan lain menjaga agar sang tantou tidak jatuh meski ia tahu Imanotsurugi tak mungkin jatuh. Iwatooshi memberikan gestur agar Otegine pergi lebih dulu. Imanotsurugi masih tak bergeming, mata tak lepas dari titik kecil yang mulai menjauh ke arah kiri lautan.

“Kalau saja bayi itu dibesarkan di honmaru, apa kehidupannya bisa jadi lebih baik…?”

Iwatooshi hanya tersenyum mendengar itu.

“Saniwa bilang padaku bahwa misi kita adalah menjaga agar kejadian ini tetap tertulis seperti yang ada di sejarah; tidak jelas dan hanya garis besarnya saja.”

Imanotsurugi mengerjapkan mata, sebelum menunduk untuk berhadapan dengan cengiran sang naginata. Bibirnya sendiri mengerucut kesal.

“Aku kan hanya berandai-andai saja!”

 

 

Chapter Text

 

Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya.

 



 

 █████ setengah berharap tidak lulus untuk masuk proyek baru ini.

Bisa dikatakan ini merupakan proyek pertama yang benar-benar terpusat pada penggabungan spritualitas tradisional dan teknologi modern. 

Sudah berapa lama ia bersiap untuk proyek yang satu ini? 

█████ termasuk salah satu kandidat yang dulu berhasil lulus tes. Lulus dengan standar pas dari pemeriksaan aneh tentang ‘aura spiritual’ atau semacamnya. 

Masih memakai nomor registrasi awal untuk proyek sebelumnya, █████ masuk kedalam proyek baru ini dengan mengambil ulang test itu —kembali menunjukkan angka rata-rata yang dibutuhkan. Ditambah laporan tertulis resmi bahwa dirinya juga mengikuti proyek yang sebelumnya, semua proses terasa berjalan sangat lancar.

Sungguh, awalnya ia tak tertarik. Tapi jatah cuti yang ia ambil sudah terlalu lama, ia akan kembali ke proyek yang itu cepat atau lambat…

█████ butuh lebih banyak waktu untuk dapat kembali ke sana.

Maka █████ mengikuti proyek ini dan menjadi Saniwa.

Lebih baik mengulur waktu lebih lama lagi.

Suara-suara mesin dan komputer teredam ketika kaca tertutup sesudah ia memasuki tabung yang dibuat seperti lift transparan. Hal yang sama dilakukan oleh orang-orang di kiri dan kanannya. Orang-orang berpakaian jas labolatorium berkeliaran di luar tabung.

Orang-orang berpakaian tradisional bersiap di dalam tabung.

[“Saniwa L-001, Sagami no Kuni.”]

Suara jernih dibalik mikrofon terdengar.

Saniwa, bertanggung jawab untuk kembali ke masa lalu, menjaga masa lalu dari perubahan, memiliki kemampuan untuk membawa kehidupan ke benda mati, mengalahkan musuh.

Seseorang dari balik kaca memberikan isyarat tanda persiapan sudah selesai.

Ia mengeratkan pegangannya pada pangkal pedang yang tersampir di pinggangnya. Kemudian ia hanya mengingat cahaya terang sebelum memejamkan mata.

 


 

“Sudah berapa lama benda ini tidak diperiksa?”

“Kau mau hitung pakai tahunmu atau siklus musim tempat ini?”

Sang saniwa tampak memikirkan sugesti itu karena Yamanbagiri Kunihiro baru mendapatkan jawaban setelah beberapa menit. Ekspresi yang diberikan perempuan itu saat menatap lagi ke arah sang uchigatana nyaris membuatnya tertawa.

“Tunggu, aku tidak pernah mengganti siklus musim honmaru kita. Lupakan pertanyaanku tadi.”

Kemudian keduanya mengalihkan perhatian kembali kepada benda yang menjadi bahan diskusi mereka; kulkas dapur.

Dikarenakan penggunaan tidak berperikemanusiaan sepanjang musim panas, benda yang dibawa sang saniwa dari alur waktu asalnya itu kini mulai mencapai batas hidupnya.

“Baru 2 tahun lebih, masa sudah kaput begini? Teknologi modern macam apa ini...” 

Salah satu bagian dari mesin pendingin itu sudah sehitam arang, jadi positif tidak bisa diperbaiki dan ia harus membeli yang baru.

“Ini cara dunia mengatakan padamu agar kau memakai ruang pendingin yang kau bilang kuno itu. Mengawetkan makanan dengan garam juga sebuah opsi lain.”

Yamanbagiri Kunihiro ingat bahwa ada ruangan seperti itu di belakang dapur, meski ia sendiri jarang ke sana. Hanya para toudanshi yang sering memakai dapur dengan tujuan memasak yang tahu persis. Beberapa kali juga mereka yang pergi melakukan misi ke area bersalju diminta kembali dengan membawa balok es.

“Nah, itu dia masalahnya!” Desis sang saniwa. “Ruangan itu tak pernah kusentuh lagi sejak pertama sampai di sini…”

“Kau serius?”

“...Mitsutada pernah minta ijin untuk pakai, tapi aku sudah lupa…”

Keduanya kembali memandangi kulkas bernasib malang dihadapan mereka. Sang saniwa membuka sebuah hologram di udara dan membuka sebuah daftar penuh teks. Melihat deretan huruf itu, sang saniwa menyadari 2 tahun lebih sudah berlalu, juga banyaknya ruangan di tempat ini yang jarang ia sentuh. 

“Kita punya ruang tenun? Kenapa kita bisa punya—” Sang saniwa memijit kening dan mengeluarkan suara gusar. “Oke. Baiklah.” 

Perempuan itu akhirnya berkata, “Manba, setelah aku menelepon untuk beli yang baru, temani aku berkeliling honmaru hari ini. Sekalian patroli menyeluruh.” 

 


 

Ia membuka mata dan mendapati cahaya terang matahari, udara alam terbuka yang sejuk, dan pepohonan di sekelilingnya.

Teknologi super canggih telah berhasil mengirim keseluruhan wujud jiwa dan raga manusia ke masa lalu. Tentunya hanya beberapa manusia yang sudah ‘lulus kualifikasi’ yang dapat melakukan ini.

“.....” Earpiece di telinganya tak mengeluarkan suara atau pun instruksi. Belum ada perintah, menandakan ia bebas memulai kapan saja. Tangan kirinya menyapu udara, mengeluarkan sebuah monitor hologram yang langsung menjalankan protokol pemula. 

█████ mencoba berjalan beberapa langkah. Ada sedikit rasa nyeri— membuatnya semakin mengagumi teknologi yang berhasil membawa seluruh tubuh fisiknya ke alur waktu lain. Kondisinya yang baru sembuh beberapa bulan lalu mungkin membuat batas minimal kesehatan fisiknya lebih rendah dari saniwa lain. Tapi ia tetap dipilih. Jadi, lanjutkan saja.

Lalu sebuah suara muncul dari earpiece .

Seekor rubah kecil, corak merah unik di wajah dan mata bulat besar, meloncat keluar dari hologram. Kekuatan teknologi canggih membuat keberadaannya tampak nyata.

“Salam kenal, Saniwa █████, saya asisten anda dalam proyek ini. Nama saya adalah Konnosuke!” Suara rubah itu jernih dan ringan. “Selamat datang di server anda, Sagami no Kuni.”

Sang saniwa melirik ke arah penanda tahun hologram yang sekarang berubah.

“Di sini…?” Gumamnya. Tak ada bangunan gedung-gedung pencakar langit, tak ada monorel kereta yang membumbung tinggi, tak ada  orang-orang yang berjalan cepat dengan sibuk. Hanya pepohonan, dirinya, dan seekor rubah.

“Ah, sebenarnya, honmaru anda ada di ujung jalan ini.” Konnosuke sang rubah artifisial menjejakkan kakinya di tanah bertekstur halus yang berbeda dari rerumputan yang mengelilingi mereka. “Ayo, berbagai macam tugas Saniwa akan saya jelaskan di sana.”

Seorang perempuan dan seekor rubah, mengikuti sebuah peta hologram. 

Tempat tinggal barunya tak jauh lagi, menurut peta. Sagami no Kuni adalah nama lama provinsi ini, ia mengenalnya sebagai Yokohama. Tentu saja tak hanya dirinya yang akan tinggal di daerah yang luar biasa luas ini.

Mereka, para kandidat saniwa, sebenarnya tak perlu mengkhawatirkan tentang tempat tinggal di era ini. Tempat sudah disediakan, atau setidaknya begitulah penjelasan yang diberikan. Logikanya, posisi saniwa yang mirip dengan miko setidaknya tinggal di kuil.

“Kita hampir sampai, Saniwa █████.”

█████ baru menyadari penggunaan kaata ‘hampir’ karena ia mendapati diri memandangi tangga batu putih yang menjulang dihadapannya. Gerbang torii yang terlihat seperti titik merah kecil di atas sana adalah tujuan mereka. Benar-benar seperti tangga masuk menuju kuil raksasa.

“Yang benar saja…” Sang saniwa mengernyit dan menoleh ke arah si rubah.

“Tidak, tidak, anda bisa membuat portal di atas sana. Tangga ini hanya hiasan saja, semacam transisi teritori waktu asli tanah tempat ini dan teritori waktu honmaru anda.” Konnosuke mulai menjelaskan, ia tidak tahu kenapa nadanya terdengar riang. 

“Khusus sekali ini saja, nikmati saja pemandangannya selagi mendaki tangga.”

Nikmati pemandangan, katanya. Padahal di kiri dan kanan mereka hanya ada pepohonan.

█████ meringis, berdoa dalam hati agar punggung dan kakinya kuat melewati undakan tangga ini.

 


 

“Baiklah, jangan marah. Bisa aku jelaskan.”

“Nggak marah kok.” Sang saniwa menahan senyum geli, menaikkan sebelah alis pada Tsurumaru. “Cuma heran. Bukannya waktu itu ruangan ini sudah pernah kita bersihkan?”

Ruangan yang sudah pernah dibersihkan tersebut kini ada dihadapannya dengan kondisi penuh barang yang tak pernah ia ingat pernah miliki.

“Ohh, ya, itu yang akan kujelaskan. Jadi begini,” mulai Tsurumaru lagi, “biasanya kalau kita pergi misi dan kau menemukan benda menarik lain selain buku, kau akan simpan untuk jaga-jaga, kan?

Sang saniwa mengeluarkan suara konfirmasi. Rupanya ruangan ini sudah ditransformasi menjadi gudang pribadi pernak-pernik Tsurumaru, meski ada sesuatu yang tak tersampaikan dari nada menggantung itu. Sesuatu seperti ‘siapa tahu ada yang bisa kupakai sebagai kejutan’ atau semacam itu.

“Baiklah, tidak masalah.” Sang saniwa menghampiri kotak kayu seukuran kepala. “Tapi rapikanlah sedikit, berapa banyak benda yang ada di sini?”

Yamanbagiri Kunihiro mengernyit, menyambar kain tudungnya untuk menutupi hidung dan mulut dari debu saat sang saniwa dan Tsurumaru menyingkirkan beberapa peti kayu agar dapat berjalan menuju sisi lain ruangan yang dipenuhi benda..

“Benda dari bahan yang kau sebut ‘kardus’ itu,” tunjuk sang uchigatana pada tumpukan di paling belakang, “sudah ada sejak kau pertama kali datang.”

“Astaga,” gumam sang saniwa, “itu sudah lama sekali.”

Tsurumaru tampak tertarik dengan benda tersebut, tapi tidak berniat membuka. Benda yang datang dibawa sang saniwa sejak hari pertama ia datang terlalu pribadi. Rasa pensarannya ada pada hal lain.

“Tidak apa-apa dibiarkan di dalam sana selama 2 tahun? Tidak ada makanan kan di dalamnya?”

Sang saniwa terdiam sebentar mendengar pertanyaan itu. Lalu matanya melebar. Tsurumaru yang sebenarnya hanya bercanda ikut menganga.

“Hah? Beneran ada—” 

“Ada wine!!!!!”

Hari itu Yamanbagiri Kunihiro dan Tsurumaru Kuninaga mengetahui bahwa sang saniwa mengkategorikan alkohol sebagai makanan padat. Akhirnya ketiga orang tersebut mengatur ulang beberapa barang lain agar dapat menarik keluar beberapa kardus ukuran tanggung yang masih tersegel rapi dengan perekat biru.

Kok bisa, baru ingat sekarang? Ini barang-barang sebelum kau datang ke sini kan?”

Pertanyaan dari Tsurumaru itu tak dijawab. Sang saniwa hanya turun bertumpu satu kaki dan tertawa.

“Ya sudah, cepat dicari. Kita masih harus keliling ke area lain kan?” Yamanbagiri menghela napas sebelum ikut membantu membuka kardus-kardus tersebut.

 


 

Mereka membutuhkan 15 menit untuk sampai di atas, pemandangan pepohonan mulai terpotong dengan horizon laut, dan perlahan mulai terlihatlah sebuah tanah lapang luas, daerah masuk tempat tinggal barunya.

█████ harus ingat bernapas. Selain 800 anak tangga yang harus ia naiki, pikirannya mendadak kosong saat melihat betapa besarnya area ini.

Bangunan di hadapan mereka terlihat seperti kuil lengkap dengan lapisan kerikil-kerikilnya, tetapi lebih menyerupai kediaman tradisional Jepang yang sangat besar. Lebih spesifik lagi, model shinden-zukuri, tempat tinggal para aristokrat zaman Heian. Bukan berarti ia benar-benar menjadi orang kaya seperti zaman dahulu, hanya saja honmaru memang dibangun untuk menampung banyak orang. 

Gaya pembangunan seperti ini sudah jarang ia lihat di masa kelahirannya. Di masa depan, tempat seperti ini mulai jarang terlihat. Lebih mirip daerah konservasi dan peninggalan sejarah yang dilindungi karena hanya ada di beberapa daerah yang ditentukan pemerintah. Siapa pun yang merancang tempat tinggal ini, memiliki apresiasi estetika tradisional tingkat tinggi.

Kira-kira 3 hektar, gaya gerbangnya seperti masuk ke kuil, atau itulah yang tertulis di hologram.

Ia berbalik, memandangi kenampakan alam dari ketinggian ini selama sesaat. Disadarinya barrier khusus yang berpusat di torii yang baru saja ia lewati.

Ruang utama, kamarnya, taman di bagian dalam bangunan, tempat pembuatan pedang, tempat peralatan senjata. Saniwa █████ mengikuti dan mendengarkan pembicaraan satu arah Konnosuke. Dalam instruksi awal dari para atasan, setiap Saniwa mendapat arahan misi dari hologram dan para rubah virtual akan menjadi asisten mereka.

Sejauh ini ia paham dengan semua hal dasar untuk proyek ini.

 


 

Meski 2 tahun sudah berlalu, Yamanbagiri Kunihiro mulai mengetahui beberapa ada beberapa hal yang tak berubah. Posisinya sebagai toudanshi pertama honmaru ini membuatnya yang paling lama bersama sang saniwa. Ia tak bisa berkata bahwa ia tahu betul apa yang ada di dalam pikiran tuannya ini. Dia bukan pembaca pikiran.

Perlahan ia mengetahui berbagai hal sederhana. Kebiasaan-kebiasaan kecil sang saniwa, pola kehidupannya, bagaimana ia bereaksi pada suatu hal. Lama melihat menjadi biasa.

Ia menyadari bagaimana perempuan itu selalu terdiam sebentar jika sudah menyangkut pembicaraan ‘pekerjaannya sebelum menjadi Saniwa’. Berpikir sejenak untuk merangkai kata; berusaha jujur dan tidak mengatakan yang sebenarnya di saat yang bersamaan. 

“Kau tahu? Untuk seseorang yang selalu tahu apa saja tentang kita, hal yang sama tidak berlaku padanya.”

Yamanbagiri menoleh. Tsurumaru menggunakan suara yang tak terlalu keras, pembicaraan ini hanya untuk mereka berdua. Mereka sudah memeriksa beberapa ruangan dan juga area kebun tempat bercocok tanam. Kini tengah melewati kandang kuda, sang saniwa tengah bercakap-cakap dengan wakizashi Namazuo dan Honebami Toushirou yang sedang giliran tugas hari itu.

Tsurumaru tidak mengejar kenapa sang saniwa tak menjawabnya di ruangan tadi, ia hanya menyatakan pendapatnya pada Yamanbagiri saja.

“Tentu saja dia tahu beberapa hal tentang kita, dia punya data-data penting untuk itu dalam hologramnya.” Balas uchigatana itu, menjumput sedikit jerami yang terselip di kain jubahnya. “Dia juga yang selalu berinteraksi dengan kita setiap hari.” 

Sebuah ‘ah, benar juga’ digumamkan oleh Tsurumaru.

Jauh di depan mereka, sang saniwa tak memperhatikan percakapan mereka berdua. Perempuan itu sedang sibuk membuat gestur menolak sopan pada Namazuo yang memegang sesuatu di tangannya.

Tsurumaru berkata lagi, “apa kau tidak penasaran?”

“Tidak.”

“Oh? Kenapa?”

Apa yang ada dibalik senyuman dari uchigatana itu tak dapat dibaca oleh Tsurumaru.

“Aku tidak perlu tahu apa yang sudah kuketahui.”

 


 

"Ini adalah 5 uchigatana yang datanya berhasil didapatkan dengan izin lengkap. Nanti jika memakai bantuan pandai besi, bilahnya saja pun sudah cukup.” Konnosuke menjelaskan, berjalan dari ujung keujung deretan pedang itu. “Tapi khusus untuk yang pertama, sudah lengkap sampai kebentuk aslinya.”

Mereka sampai di bagian utama, salah satu tugas krusial sebagai seorang Saniwa.

Berderet di depannya, 5 buah pedang — uchigatana , masing-masing memiliki motif sarung pedang yang berbeda. Awalnya ia tak terlalu hapal dengan berbagai jenis pedang. Persiapan serta semua pelajaran yang diberikan sebelum proyek ini dimulai bagi para calon Saniwa membuat mereka semua hapal di luar kepala beberapa jenis senjata tajam tradisional Jepang yang paling umum.

█████   tak perlu lama berpikir. Kedua dari kanan. Tanpa sadar tangannya meraih ke arah pedang itu. Mungkin karena warna tsuka -- genggaman gendaitou yang tersampir di pinggangnya bersama sebuah kipas besi. Warna yang hampir sama dengan uchigatana itu. █████ meraih uchigatana tersebut, menimang pedang itu sebentar, lalu merapalkan sesuatu.

Bilah uchigatana itu bersinar ketika tangannya menggenggam pangkal bercorak hitam-putihnya, sebelum bentuk pedang berubah menjadi badai kelopak bunga. Ia bahkan tak mengalihkan pandangan ketika dari bilah uchigatana yang melebur itu mewujudlah seorang pemuda yang mengenakan kain putih sebagai jubah, menutupi setengah wajahnya yang menampakkan raut merengut.

Pemuda itu memperhatikan kedua tangannya dan kondisi tubuhnya, menatap kesekeliling ruangan, sebelum kembali menatap perempuan dan rubah aneh di ruangan itu. 

“Aku tidak terlalu mengerti dengan keadaan ini… Tapi kau adalah majikan baruku, ya…”

Sang saniwa merasa bahwa pemuda itu ingin menambahkan ‘ tsk ’ di akhir kalimatnya tadi. Ia sudah mulai berpengalaman dengan entitas manusia dari sebuah benda mati yang memiliki kepribadian sendiri.

█████ mengabaikan hal itu dan fokus pada perkenalan singkat dari Yamanbagiri Kunihiro.

Setelah itu Konnosuke memutuskan untuk melompat ke bahu █████ dan berbicara.

“Dan sekian, kira-kira begitulah tugas anda sebagai seorang Saniwa. Menurut data yang ada, anda sudah pernah mengikuti proyek yang sebelumnya, bukan? Sistem misi-nya juga mirip, jadi saya rasa tak perlu saya jelaskan panjang lebar.”

“Ya, terima kasih.” Ujar █████.

Rubah itu melanjutkan lagi. “Oh, dan jika anda ingin kembali ke tahun 2205, panggil saja saya.  Tapi saat ini karena sedang masa percobaan, hanya bisa sekali sebulan.”

█████ mengangguk tanda mengerti. Tak melupakan satu lagi individu yang ada di ruangan itu, █████ menoleh ke arah sang toudanshi. Hologram pertama yang ia gunakan di tempat itu telah terbuka di samping tangannya. Bukan hal berat, hanya misi pertama mereka.

“Mari kita lihat apakah tubuhmu dapat bergerak dengan baik.” █████ berkata pada uchigatana itu. “Mohon bantuannya, Yamanbagiri Kunihiro-san.”

 


 

Langit sudah berwarna jingga saat kegiatan mereka akan selesai.

Ketika hari itu berjalan dengan mulus, Yamanbagiri Kunihiro tidak merasakan kecurigaan apa pun, karena mereka hanya berkeliling memeriksa dan membenahi sedikit setiap ruangan dan bangunan yang ada di honmaru.

Yamanbagiri Kunihiro belajar untuk tidak mengambil kesimpulan terlalu cepat.

Mereka bertiga lanjut berjalan ke arah bangunan tempat latihan yang ternyata sedang dipakai. Anggota terbaru honmaru mereka, tachi Kogitsunemaru, tengah berlatih dengan Iwatooshi. Saat mereka bertiga datang dan memeriksa ruangan sebelah yang berisi dengan benda-benda untuk latihan, tampaknya kedua toudanshi tersebut hampir selesai dengan sesi latihan mereka.

“Saya belum pernah melihat Nushi-sama memakai pedang anda sendiri.” Suara Kogitsunemaru datang dari belakang mereka. “Kalau tidak keberatan, apa anda bersedia berlatih dengan saya?”

Yamanbagiri dan Tsurumaru saling lirik. Sebagai seorang manusia, saniwa mereka tergolong yang dapat bekerja sama dengan baik bersama para toudanshi . Tidak menghambat berjalannya misi mereka, mempunyai basis perlindungan diri yang lumayan pula. Saniwa mereka memang lebih sering memakai tessen sebagai perpanjangan tangan dan bertarung jarak dekat. Pemandangan di mana perempuan itu memegang sebuah katana sangat jarang, paling banyak adalah pedang kayu saat latihan.

“Oh, boleh.” Sang saniwa menjawab sambil terkekeh, bangkit berdiri dengan pedang kayu yang baru ia bersihkan. “Tapi kalau di sini aku jarang bawa-bawa pedangku sendiri, jadi pakai ini saja ya?” 

“...Aku tahu ini ruangan terakhir untuk diperiksa, tapi tolong jangan dirusak.”

“Hahaha, nggak segitunya juga, Manba.”.

Sang saniwa memeriksa lantai kayu dengan kakinya, membuat suara berdecit singkat sebelum tertawa. 

“Eh, jangan terlalu berharap, ya. Kemampuan bertarungku jauh di bawah kalian.”

Kogitsunemaru tersenyum, “anda menanggapi saya dengan serius saja, saya sudah sangat senang.” 

Iwatooshi yang sibuk menyeka keringat, kini ikut berdiri di pinggir ruangan bersama Yamanbagiri dan Tsurumaru. Dengan ekspresi yang terlihat lebih antusias daripada Kogitsunemaru sendiri, naginata itu memperhatikan dua sosok di tengah ruangan

“Menurutmu siapa yang akan menang?” Bisik Tsurumaru pada keduanya.

“Aah, entahlah.” Iwatooshi menjawab. “ Aruji dan Kogitsunemaru -dono punya tugas yang berbeda, aku belum pernah melihat dua orang seperti mereka berlatih bersama.”

Naginata itu melirik ke arah Yamanbagiri.

“Kurasa Yamanbagiri Kunihiro lebih berpengalaman untuk menjawab?”

“...Itu pertanyaan yang sangat sulit.”

“Hmm? Kenapa begitu?”

“Kalau kubilang ‘aku tahu siapa’ akan terkesan arogan, kalau kubilang ‘tidak tahu’ itu juga tidak benar.” 

“Wow, baiklah.” Tsurumaru terbahak.

Membiarkan kedua toudanshi lainnya mulai sibuk memberi komentar pada sesi latihan yang ada di hadapan mereka, Yamanbagiri Kunihiro mulai memikirkan kembali pertanyaan tadi.

Aruji kuat dengan caranya sendiri, pikirnya. Tapi kalau kondisinya seperti dulu saat pertama kali datang, dia akan kalah.

 


 

“Kau itu serius atau tidak?”

█████ dapat merasakan bagaimana ucapan pedas itu ditujukan kepadanya. Tentu saja, karena hanya ada mereka berdua di tanah terbuka itu. Alasan kenapa sang uchigatana berdesis seperti itu kepadanya, sebenarnya █████ tahu. Semua berjalan lancar, beberapa musuh yang muncul sudah mereka habisi. Mungkin uchigatana itu marah karena— bukan mungkin lagi, memang ia melakukannya dengan sadar. Tapi semua selesai tanpa masalah… kan?

“Aku hanya,” █████ hendak mengeluarkan suara deguk aneh dan mengatur napas, “ingin tahu sekuat apa mereka pada tingkat awal seperti ini.”

Yamanbagiri Kunihiro melengos keras. 

█████ merasa aneh karena dirinya sendiri tak berani memandang mata uchigatana itu. █████ mengalihkan pandangan pada lengan luarnya yang mulai membiru.

“Lalu kau memutuskan untuk berdiri pada arah tebasan pedang musuh? Apa gunanya benda melayang aneh milikmu itu?”

Ah, ya. Hologram. █████ bisa melihat perkiraan level musuh lewat benda itu.

Sebuah tangan mencengkeram dagunya dan memaksa iris hitam arang bertemu biru.

“Kau ingin mati di tempat ini?”

Yamanbagiri Kunihiro menunggu jawaban. Ketika tak ada juga suara dari tuannya itu, sang uchigatana semakin tak mengerti. 

“Apa kau ingin aku menebasmu? Saat ini juga, aku bisa melakukannya.”

“Tawaran yang sangat indah di telingaku,” s enyuman yang diberikan padanya sama sekali tidak bahagia— Yamanbagiri Kunihiro malah ingin menghapus wajah itu dari ingatannya. Bukan berarti ia sengaja melepaskan wajah perempuan itu dengan keras. Uchigatana itu semakin tidak mengerti apa yang ada di kepala █████.

“Aku tidak mengerti.” Yamanbagiri Kunihiro menyuarakan isi kepalanya. “Bukannya kau datang ke tempat seperti ini untuk menjaga masa lalu, agar jalan kehidupanmu tidak berubah?”

█████ tersentak, seakan saat itu ia melupakan sesuatu yang sangat penting.

Saking cepatnya perempuan itu menatapnya lagi, Yamanbagiri Kunihiro ikut tersentak kaget.

“Ahaha.”

“....?”

“Kau benar. Maafkan aku. Tidak akan terjadi lagi.” 

Bersama dengan kata-kata pelan yang keluar berikutnya, suasana tegang di antara mereka ikut luruh.

“Aku janji.”

 


 

Tachi tempaan Sanjou Munechika itu harusnya sudah bisa melihat tanda awal kecerobohannya. Lengah, karena tidak mengira pemilik lengan kurus itu dapat dengan cepat mengganti pedang kayu seberat 440 gram dari tangan kanan ke tangan kirinya.

Pedang kayu turun mengayun dari arah yang berbeda. 

Kogitsunemaru menggunakan bahunya untuk bertemu dengan lantai kayu. Namun, kaki sang saniwa tak kalah cepat untuk mencegahnya berguling.

Metal besi kipas terasa dingin di leher Kogitsunemaru. Ternyata tangan kanan sang saniwa segera mengambil senjata cadangan yang selalu ia bawa.

“Lalu setelah ini… Biasanya Manba yang membantuku menebas musuh.” Sang saniwa tersenyum. “Aku memang bisa bertarung— sekedar untuk bela diri saja. Karena itu aku perlu bantuan kalian semua.”

Kogitsunemaru mengerjapkan mata, sebelum tertawa pelan dan menerima uluran tangan sang saniwa.

Nushi-sama harusnya lebih sering menunjukkan ilmu berpedang anda.”

Sang saniwa terkekeh. “sudah terlalu banyak pedang disini, pakai kipas kan lebih keren.” 

Tsurumaru dan Iwatooshi sibuk bertepuk tangan dan menyuarakan ‘kalian keren!’. Hanya Yamanbagiri Kunihiro yang menyadari Maeda dan Hirano yang menyeberangi halaman menuju bangunan tempat latihan.

“Hei, makan malam sudah hampir siap.” Kata Yamanbagiri cukup keras agar di dengar empat orang lainnya. 

“Sudah jam segini?” Menyadari langit yang mulai gelap, sang saniwa mengerjapkan mata. “Untung sudah selesai kita periksa semua ruangan.”

“Hari ini, hari yang sangat panjang.” Ujar Tsurumaru, terlihat sangat ceria. Keramaian dari arah ruang makan di bangunan seberang, perlahan mulai terdengar saat mereka berjalan mendekat.

“Tentu saja, kita mengelilingi semua area ini dalam satu hari.” Meski terlihat sangat kepanasan, Yamanbagiri tampak tak akan melepaskan jubahnya. “...Setidaknya semua berada dalam kondisi bagus.”

“Hei, kapan benda pendingin ajaib itu bisa kupakai lagi?” Tanya Tsurumaru.

Sang saniwa terbatuk. “Secepatnya, secepatnya.” 

Perempuan itu menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangan terakhir pada bangunan tempat latihan. Mengira yang lain sudah berjalan jauh, sang saniwa hanya bisa tersenyum saat berbalik dan mendapati Yamanbagiri tak bergerak dari posisinya.

Sang saniwa tertawa.

“Apa?” Uchigatana itu menatapnya balik. 

“Setelah berkeliling hari ini, aku baru sadar banyak yang berubah.”

“Apa yang kau harapkan dari 2 tahun?” Yamanbagiri Kunihiro  menggelengkan kepala, menyunggingkan sebuah senyum kecil. ”Memangnya apa saja yang berubah?”

“Hmm, contohnya… Rasa sayangku padamu semakin besar.”

Sang saniwa terbahak keras, tak dapat melihat wajah Yamanbagiri Kunihiro karena sudah tertutup sepenuhnya oleh tudung kain.

 


 

Angin malam di tempat baru membuatnya memikirkan kembali semua kejadian hari itu.

“....Aruji.”

Hingga sebuah langkah kaki mendekat, mengingatkannya bahwa ia tak sendirian di tempat itu. Konnosuke pergi entah ke mana setelah izin untuk istirahat.

“Aku… mencoba membuat teh.”

Apa yang digumamkan oleh Yamanbagiri Kunihiro nyaris tak terdengar. 

█████ mengalihkan pandangan dari wajah toudanshi itu dan tersenyum.

“Terima kasih, Yamanbagiri Kunihiro-san.”

Mungkin hal yang tampak normal seperti kegiatan itu menjadi hal baru bagi mereka berdua. █████ baru pertama kali duduk santai tengah malam pada sebuah lingkungan dan alur waktu baru. Yamanbagiri Kunihiro ikut melakukannya dengan tubuh manusia yang baru ia dapatkan.

“Kapan kau akan memanggil yang lain?”

“Besok pagi. Aku akan membentuk satu kelompok dulu, besok lusa akan kucoba memanggil tachi atau yari agar komposisinya lebih seimbang.”

“Oh.”

Bingung harus berbicara apa lagi, keduanya terdiam. Sang uchigatana meneguk teh yang ia buat sendiri dengan cepat, semakin terdiam ketika merasakan minuman tersebut.

█████ berusaha menahan geli dari wajahnya agar tak terlihat.

“Gimana rasanya?”

“...Rasanya hangat.”

Sang saniwa mengangguk pada diri sendiri. Jemari tangan kanan yang mulai terasa dingin ikut meraih gelas teh.

“Itu perasaan yang bagus.”

█████ menggerakkan gelas keramik di tangannya dengan pelan, memutar cairan hijau bening di dalamnya beberapa saat.

“Maaf,” ucapnya pelan, “untuk yang tadi siang.”

“Aku juga minta maaf.” balas sang toudanshi dengan cepat. “Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat itu, tapi kurasa ada alasan kenapa kau sampai seperti itu.”

Dengan sekali teguk, █████ menghabiskan isi gelas. █████ memiringkan badan untuk mengambil teko dan mengisi ulang gelasnya, menatap kembali mata Yamanbagiri Kunihiro dengan sebuah senyum kecil.

“Ceritanya panjang.” Kata █████. “Kalau kau tak keberatan mendengar ocehanku.”

“Tak masalah.  Masih ada banyak teh.”

Keduanya tertawa lepas untuk pertama kalinya pada hari itu.