Actions

Work Header

#nulisrandom2015 #6juni

Work Text:

Ki Ha Myung—alias Choi Dal Po—tidak bisa menghentikan degupan jantungnya yang terasa akan meledakkan dada bidangnya itu. Demi Tuhan, hari ini adalah hari tergugupnya yang pernah ada. Berdiri di sini, sendiri, menunggu sang pujaan hati datang dan menemaninya di altar ini.

Pemuda itu mengatur napasnya dalam diam, memejamkan matanya sesekali. Tepat ketika pintu gereja itu terbuka, dia tak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak menoleh ke belakang.

Rona tipis menghiasi pipinya.

Dia bahkan sudah melihatnya saat fitting baju dua bulan yang lalu, tapi kenapa sekarang Choi In Ha bisa tampak begitu menawan sepuluh kali lipat?

“In Ha-ya ...,” gumamnya pelan sembari menggulung senyumnya. Senyumannya semakin lebar tatkala hyung-nya yang tidak lain adalah calon mertuanya itu menyerahkan putri semata wayangnya pada sang mempelai pria.

Sekali lagi dia melirik In Ha-nya. Gadis yang memancarkan rona kebahagiaan itu juga tersenyum sama lebarnya dengan dirinya.

“Ehem,” pastur di hadapan mereka berdua pun mulai membacakan janji suci yang akan mengikat kedua insan yang saling mencintai ini selama hampir satu menit.

Setelah satu paragraf penuh di luar kepala dibacakan oleh sang pastur, akhirnya mereka berdua pun sampai di pertanyaan inti.

“Ki Ha Myung, apakah kau bersedia menerima Choi In Ha sebagai istrimu dalam keadaan sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, dan akan hidup bahagia dengannya sampai maut memisahkan?”

Dan tentu saja, Ha Myung akan menjawab, “Ya, saya bersedia.”

Pastur itu kini menoleh pada gadis di hadapannya. Dia kembali membacakan kalimat yang diucapkannya pada Ha Myung namun dengan sedikit perubahan.

“Choi In Ha, apakah kau bersedia menerima Ki Ha Myung sebagai suamimu dalam keadaan sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, dan akan hidup bahagia dengannya sampai maut memisahkan?”

Gadis yang pipinya tak henti-hentinya merona itu pun tersenyum simpul. Lantas menjawab, “Ya, saya bersedia—“

 ... namun ....

“—hik!”

Suara cegukannya terdengar.

Sontak, seluruh orang di gereja tersebut—terlebih lagi Ki Ha Myung—menatap dirinya kaget tak percaya. Pemuda itu bahkan memegang kedua bahu Choi In Ha dan memutar tubuh calon istrinya itu—ya, memang masih calon.

“I-In Ha-ya ... wae ...?”

In Ha terlihat panik. Dia sibuk menggeleng keras. “A-ani. Itu ... aku juga tidak tahu. Bukannya aku tidak mau menikah denganmu, Ha Myung-ah—hik!”

“Aku—“

“Aku mau menjadi istrimu—hik. Tadi sebelum ini aku sempat makan—hik—sambil berbicara—hik. Jadi epiglotisku—hik,” kedua netra gadis itu pun berkaca-kaca, ini bukan seperti yang dipikirkannya, “Ha Myung-ah ....”

Kedua tangan Ha Myung yang awalnya mencengkeram bahu In Ha pun mulai turun. Dia tertunduk dalam. Ternyata, selama ini ... Choi In Ha ....

ANDWAEEE!!!”

...

...

...

Ya! Ha Myung-ah! Kau kenapa?”

Ki Ha Myung refleks membuka kedua matanya. Dia terduduk kaget sembari menatap ke samping kirinya. Di mana ada Choi In Ha yang tertidur di samping dengan bahu terbuka—oh, tunggu dulu.

Choi In Ha ... di sini?!

“Kau! Kenapa kau ada di sini?!”

Gadis itu memasang wajah datar. Dia mengerjapkan matanya sebelum akhirnya bangun dan meraih piyamanya lalu memakainya asal. Selesai mengancingkan piyama tidurnya, dia melirik pemuda itu dengan pandangan heran. “Biasanya, perempuan yang berteriak seperti itu. Ini malah laki-lakinya,” ucapnya aneh.

“Hah?” gumam Ha Myung spontan sembari menutup tubuhnya dengan selimut.

“Biasanya perempuan yang kena sindrom pernikahan—lupa kalau sudah punya suami keesokan harinya. Ini kenapa malah kau? Apa jangan-jangan wajahku jelek ya? Aish, tidak mungkin. Dari dulu aku selalu cantik. Anak paling cantik kesayangan ayah,”—ya iyalah. Orang ayahnya cuman punya satu anak, perempuan lagi.

Kedua mata milik Ha Myung pun mengerjap cepat.

Lho. Berarti ....

“In Ha-ya, kita sudah menikah?”

Choi In Ha menghela napas kesal. Dia berdiri, mengabaikan rasa sakit di antara kedua pahanya sebelum akhirnya meraih handuk putih yang tergantung di sana dan berjalan menuju pintu kamar.

“Belum. Kita menikah tahun depan.”

Pemuda itu memasang tampang bengong sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dan tersenyum bodoh.

Yang benar saja.

“Itu mimpi paling mengerikan yang pernah kualami. Dasar Pinokio,” gumamnya gemas pada pintu kamar yang telah In Ha tutup beberapa detik yang lalu.

Tamat

Gaun yang dipakai sama kayak yang di episode terakhir.