Actions

Work Header

congratulations, hanabi, here's your own childhood friends to lovers experience!

Work Text:

Hanabi mendatangi Hanzo, memutar kursi di hadapan laki-laki itu untuk menghadapnya, lalu menunduk membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang diletakkan di meja Hanzo. Gadis itu mulai menangis tersedu-sedu diselingi teriakan-teriakan kecil yang teredam suaranya. 

Awalnya Hanzo ingin mengacuhkannya tetapi ia keburu panik mendengar suara tangisan Hanabi walau terdengar agak dibuat-buat. Ia mengernyit ketika Hanabi berteriak kecil (lagi), disimpannya buku tulisnya di dalam laci, kemudian ia mengusap-usap kecil kepala Hanabi. “Kau kenapa lagi, hm?” 

Kini hanya terdengar isakan dari Hanabi. Tak berapa lama, gadis itu mendongak ke atas walau tak memperbaiki postur duduknya. Matanya agak memerah dan ada bekas air mata di pipinya yang sudah mengering. Selain itu, bagian bawah bibirnya juga sedikit memerah. Hanzo tebak Hanabi menggigiti bibirnya tadi. “Hanzooo~” 

Sial, Hanzo tahu ini bukan saat yang pantas tetapi Hanabi sungguh terlihat sangat manis ketika mengucapkan namanya dengan ekspresi seolah menahan tangis. Hanzo mengelus rambut Hanabi, menyelipkan helai-helai poni samping gadis itu ke belakang telinganya. Hanzo menghela napas, “Apa yang membuatmu seperti ini, Nona Scarlet?” 

Hanabi berdecak kesal mendengar panggilan itu, setelahnya Hanabi kembali membenamkan wajahnya. “... Gura.” 

Hanzo mengerjap, tak terlalu menangkap perkataan Hanabi. “Hm? Kagura?” 

“Aaaaahhh~! Aku sangat ingin mempunyai teman masa kecil seperti Hayabusa dan Kagura!!” Hanabi mengeluarkan suara ‘huhuhu’ lagi, kali ini lebih pelan dari sebelumnya. 

“Hanabi.” 

“Iya, aku sudah move on , kok! Serius!” Hanabi cepat-cepat mendongak, menemui tatapan Hanzo begitu Hanzo menegurnya singkat. “Tapi, ya, setelah dipikir-pikir kayaknya punya pacar teman masa kecil, tuh, so sweet bangettt, soalnya ‘kan perasaannya tulus gitu. Kita tau gimana sifatnya, baik dan buruknya, habits dia, tapi tetep ngerasa kalau he’s the one .” Hanabi duduk lebih tegak dengan tangannya menopang dagu, tatapannya mengarah ke luar jendela kelas—ke halaman sekolah yang menjadi tempat favorit banyak siswa karena keberadaan pohon sakura dan bunga-bunga lain yang ditanam di sana. Di halaman tersebut terlihat seorang gadis tengah tertawa manis, kedua tangannya bergerak ke atas memayungi sosok laki-laki di hadapannya ketika kelopak sakura mengumpul di atas kepala laki-laki tersebut. 

Hanabi bergumam, nampak tengah melamun memperhatikan pemandangan tersebut. “Kita ngerasa kalau kita kenal semua tentang orang itu, tapi saat udah jadian it often feels like a whole new experience . You discover a different part of him yang cuma buat kita seorang, at least that’s what I thought after reading lots of fanfictions and novels .” Hanabi menggerutu. “ Sure , pacaran tuh nggak selamanya indah and it probably will be better if you stay as friends , tapi aku pengen banget punya temen masa kecil!” 

“Hanabi.”

Hanabi mendengus dan menoleh menghadap Hanzo. Ekspresi laki-laki itu tak terbaca oleh Hanabi, ia hanya bisa menerka apa yang sedang dipikirkan Hanzo. Hanabi mengulum bibir. “Yah, mungkin saja aku hanya penasaran. Apa rasanya berpacaran dengan teman masa kecil sendiri? What makes you choose her over me and is it worth it ?” 

Sebegitu berharganya, kah, Kagura untukmu Hayabusa, sampai-sampai kau lebih memilihnya daripada aku?  

Tawa kecil terdengar. “ Maybe I still feel a bit attached, I don’t know anymore ,” bisik Hanabi pelan. 

Hanzo tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia ingin mengguncang-guncang Hanabi dan berkata padanya berkali-kali untuk move on dari Hayabusa dan lihatlah siapa yang selalu ada di sisimu, arghh! Tetapi Hanzo lebih condong ke keinginan untuk memeluk Hanabi dibanding mengguncangnya kuat-kuat sampai perasaannya terhadap Hayabusa enyah karena itu. 

Tetapi, kalau boleh jujur, Hanzo daritadi merasa gregetan! Emosinya campur aduk mendengarkan ucapan Hanabi. Hanzo sedikit bias, karena itu ia merasa sedikit marah pada Hayabusa. Lalu, sedih untuk gadis itu, dan frustasi terhadap mereka berdua. 

Sungguh, Hanzo benar-benar ingin membuat Hanabi melupakan Hayabusa dan menyadarkannya kalau ada laki-laki yang bisa memperlakukannya lebih baik dari sepupunya itu. 

Merasa seperti ini, kata-kata keluar dari mulut Hanzo tanpa ia sempat—ataupun berencana, menghentikannya. 

“Hatiku sakit, Hanabi. Kau tidak menganggapku?” 

Kedua bola mata Hanabi terbelalak. “Apa maksudmu?” 

Hanzo tersenyum kecut. Tangan kanannya bergerak meraih sisi wajah Hanabi, lalu ia mengelus pipi gadis itu sekejap. “Pertama kali kita bertemu, saat itu umurmu 9 tahun, sekarang tak lama lagi kau akan merayakan sweet seventeen. 8 tahun, bukankah itu waktu yang cukup lama untuk dapat membuat kita sepasang ‘teman masa kecil’?” 

Senyum kecil terukir di wajah Hanzo melihat Hanabi merona karena perkataan dan perlakuannya. Hanabi gelagapan menanggapi, “Kau berbeda! Uhh, bagaimana mengatakannya ya, tapi, ya, pokoknya kau ini beda kasus!” 

“Berbeda bagaimana?” Hanzo menarik dagu gadis itu agar kembali menatapnya ketika Hanabi mengalihkan pandangan karena salah tingkah. “Intinya, kita ini terhitung teman masa kecil, ‘kan. Lalu, kalau aku maunya kita tidak hanya sebatas teman masa kecil, bagaimana?”

Hanzo menarik napas. Setelah ini, mereka akan melewati batas pertemanan biasa. Apapun respon Hanabi nantinya, mereka sudah tidak akan bisa kembali menjadi teman. Di satu sisi Hanzo tidak ingin pertemanannya dengan Hanabi hancur karena perasaannya, di sisi lain, walaupun sempat terpikir Hanabi akan menjawab negatif, ia tetap memilih untuk mengambil resiko. 

Inilah saatnya, pikirnya. Jika Hanabi menolaknya, maka Hanzo akan mengejarnya entah berapa lama waktu yang dibutuhkan. Hanzo tidak akan melepaskan Hanabi begitu saja, Sang Iblis adalah orang yang serakah. Apapun yang diinginkannya, Hanzo pastikan akan terwujud. 

Hanabi menelan ludah menerima tatapan intens Hanzo. Hal itu membuat jantungnya jadi sedikit berdebar lebih cepat dari biasanya, tiba-tiba saja Hanabi merasa gugup walau di dalam hati, ia tahu jawabannya akan selalu menjadi ‘iya’ untuk laki-laki itu. 

 

“Hanabi, berpacaranlah denganku.” 

Hanabi tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tangannya bergerak cepat untuk meraih dasi seragam Hanzo dan menciumnya tepat di mulut.