Actions

Work Header

Perasaan baru

Work Text:

"Mika, kita pulang sekolah nanti shopping ya! Aku merasa kekurangan baju" Kata Arashi sambil menggenggam kedua tangan Mika.

"Ngaah~ bukannya kamu baru saja membeli baju baru 2 hari yang lalu? Aku ada janji sama oshi-san hari ini Naruu~" Mika membalas sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menghentakkan kakinya dengan pelan.

"Tapi aku mau shopping lagiii, kemarin rasanya belum puas! Ya Mika? Ayolaah kali ini saja!" Arashi memohon-mohon dengan mata yang berbinar membuat Mika mau tidak mau harus menerima permintaan sahabatnya yang satu ini.

"Hmm, baiklah tapi aku bilang ke oshi-san dulu ya Naruu" Mika pun meraih ponsel miliknya yang berada di kantong sebelah kiri celananya lalu jarinya mulai mengetik kalimat.

"Yaaaaaay!!!! Mika memanglah sahabatku yang terbaik! Terimakasiiih~" Arashi pun berterimakasih sembari memeluk Mika dengan erat.

Mereka pun berjalan berdampingan ke kelas mereka, sambil mengobrol menceritakan cerita masing masing, Mika bercerita dia diomeli oleh Shu karna salah menyebut Croissant menjadi kroisan, Arashi pun tertawa.

Saat hampir sampai ke kelas, tiba-tiba saja ada pengumuman bahwasanya seluruh murid disuruh untuk berkumpul di gedung olahraga.

"Ah, baru saja sampai.. Memangnya ada pengumuman apa sih? Sampai harus dikumpulkan segala! Kan capeee" Keluh sang perempuan berambut pirang itu sambil berkacak pinggang.

"Sudahlah Naru-chan, ayo pergi. 'Nggap saja olahraga ringan" Mika menepuk-nepuk kecil bahu Arashi lalu menarik pergelangan tangannya, mengajak pergi keluar dari kelas.

 

Suasana di gedung olahraga sangat berisik, mungkin karna banyak murid yang tidak tahu alasan kenapa mereka dikumpulkan sehingga saling bertanya-tanya satu dengan lainnya.

 

Mic berdenging dengan keras, banyak murid yang spontan menutup telinga, lalu terdengar suara seorang pria.

"Ya selamat siang semuanya, saya tau mungkin kalian bertanya-tanya kenapa kalian berkumpul di tempat ini sekarang, jadi sebelum mulai saya ingin kalian tertib terlebih dahulu" Ucap pria berjas putih tersebut sambil mengayun-ayunkan telapak tangannya atas bawah

Suara ribut tadi pun mereda, para murid mulai mendengarkan dengan tertib, lalu guru itu melanjutkan kalimatnya.

"Terimakasih telah mendengarkan saya, jadi pengumuman yang ingin saya sampaikan hari ini adalah sebuah kabar yang cukup menggembirakan dari salah satu guru di sekolah kita"

"Kabar menggembirakan apasih? Kenapa lama banget, ga bisa ya langsung ngomong gitu aja? " Keluh Arashi sambil mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangan kirinya, kepanasan. Mika yang berada di sebelahnya hanya bisa menghela napas pelan.

Tak lama seorang guru lainnya naik ke atas panggung, pria berkacamata itu mengambil mic yang telah diserahkan rekannya kepadanya.

"... Mmm Naru? B'kankah itu pak guru Kunugi? " Mika menyenggol bahu Arashi sambil menunjuk kearah panggung.

"Ara? Iya juga, apa yang akan diumumkan ya??" Balas Arashi sembari menatap lurus ke arah panggung, senang melihat sang idola.

"Terimakasih sudah ingin tertib, hari ini saya ingin bicara singkat saja, waktu saya mengajar di sekolah ini tidaklah lama, hanya sekitar satu atau dua bulan lagi. "

Hal ini lantas membuat semua siswa terheran-heran.
Kunugi lalu tertawa kecil lalu melanjutkan perkataannya

"Haha, saya sudah mengira kalau kalian akan bertanya-tanya, jadi alasan dari hal tersebut adalah dalam waktu kurang lebih 2 bulan lagi, saya memutuskan akan menikah"

Para murid yang mendengarnya pun mulai bertepuk tangan, ada juga yang memberikan selamat kepada sang guru.

Kecuali satu orang.

 

Timeskip

 

Bel sekolah berbunyi, waktunya untuk pulang. Mika pun berjalan menghampiri meja Arashi untuk mengajaknya pergi berbelanja sesuai dengan permintaan sahabatnya itu.

"Mmm.. Naru? Ini s'dah jam pulang, katamu kau ingin pergi membeli baju lagi? Ayo. " Mika mengulurkan tangannya lalu menarik tangan Arashi, namun tak ada respon

"Naru?? Ada apa?"

"Ah.. Mika, gimana kalau pergi shoppingnya kapan kapan aja, aku tiba tiba ga enak badan.."
Sedikit heran, namun Mika tidak bertanya lebih lanjut dan berkata ".. Ooh, 'ke kalau begitu, semoga kamu cepat baikan Naru, aku d'luan ya" Lalu pergi keluar kelas meninggalkan Arashi sendiri di kelas.

 

 

"... Hiks.. "

Isakan tersebut lama-kelamaan berubah menjadi tangisan akan kesedihan yang mendalam, yang awalnya tidak terlalu terdengar menjadi sangat jelas untuk didengar.
Kalimat apapun yang ia keluarkan pun bukan lagi terdengar seperti sebuah kalimat, hanya seperti sebuah rontaan.

Tak lama ia pun meninggalkan kelas untuk pulang, tanpa menyadari seseorang daritadi mendengarnya menangis tersedu-sedu.

 

 

Langit berwarna keabuan, disertai tetesan air dari langit yang semakin lama semakin deras itu tidak membuat perempuan itu berhenti berjalan, diusapnya kedua mata keunguan itu dengan kasar, hidungnya pun sudah memerah, tubuhnya basah kuyup dari ujung kepala sampai mata kaki.

 

Ia lalu berhenti sejenak, terlihat berpikir, lalu berbelok menuju sebuah taman di sekitarnya. Suasana taman itu sangatlah sepi dan sunyi, kemungkinan karna hujan yang tidak reda-reda sejak tadi, bahkan kendaraan saja tidak terlihat.

 

Melihat-lihat sekilas, Arashi kemudian pergi menuju sebuah gazebo yang terletak di tengah-tengah taman tersebut, kepalanya tertunduk, dia tau tidak seharusnya dia berada disini, seharusnya dia sudah berada di rumah sekarang, atau berteduh setelah shopping dengan Mika. Ah, dia lupa akan keberadaan sahabatnya itu, dia mulai merasa bersalah karna membuat Mika harus membatalkan janjinya dengan Shu. Dia merasa harus meminta maaf kepada Mika atas sifatnya yang kekanak-kanakan ini.

 

Tepat di depan matanya tiba-tiba saja terdapat sepasang sepatu.

 

Arashi yang kebingungan mulai mengangkat kepalanya lalu terkejut dengan apa yang dilihatnya.

 

Mika.

 

Mika berdiri tepat di hadapan Arashi sambil memegang payung dengan wajah yang cemas, belum sempat Arashi membuka suara, ia sudah dihantam pelukan erat dari Mika.

 

"...Mika..? " Tanya Arashi yang terkejut bukan main dengan kemunculan tiba-tiba sahabatnya itu. Tidak ada respon dari sang surai hitam kehijauan itu, hanya saja ia benar-benar mendekap Arashi lebih erat lagi yang membuat ia harus memaksa Mika untuk melepaskan pelukannya supaya ia tidak sesak nafas.

"Mi-ka! Kamu membuatku hampir mati di-si-ni! "

Suasana lalu berubah menjadi hening, kecanggungan mulai terasa sampai Mika akhirnya membuka suara.

"Maaf, aku khawatir sekali. Maaf juga sudah meluk gitu saja. Tapi seharusnya kamu cerita saja ke aku, Naru. "

Arashi terdiam, jika Mika sudah berbicara seperti ini artinya dia benar-benar serius.

".. Bagaimana kamu tau aku disini..? "

"Aku mengikutimu. "

".... Sejak kapan? "

"Dari kamu keluar kelas"

".... Berarti kamu dengar semuanya ya... "

 

"Haaaah.. Menyedihkan sekali ya, sudah seharusnya dari awal aku tidak memiliki perasaan ini...aku sudah memperkirakan hal seperti ini tapi dengan bodohnya aku tetap menyukainya. Apakah perasaanku akan pernah terbalas... Mika, kamu tau? Rasanya sakit sekali"

Air mata yang awalnya sudah mengering tiba-tiba terjun bebas dan Arashi kembali terisak, tangannya terangkat untuk menutupi kedua matanya.

 

Cup

 

Sebelum Arashi dapat bicara lebih lanjut sebuah kecupan mendarat tepat di bibir kemerahannya. Tidak terlalu lama, kedua netra miliknya hanya bisa terbelalak setelah Mika menarik mundur kembali tubuhnya.

 

"Mika-"

"Kalau rasanya sakit, kenapa tidak denganku saja? "

"A-Ah tidak, maksudku kenapa kamu t'tap menyukainya? "

Mika yang tiba-tiba gugup membuat Arashi mau tidak mau tertawa

"Hahahaha! Mika, berarti selama ini kamu-"

"Ya, aku menyukaimu, Naru. Sudah dari kelas 2 aku menyukaimu. Sungguh, aku benar-benar suka denganmu jadi-"

"T-Tunggu sebentar! Berikan aku waktu untuk berpikir! "

Balasnya sambil menangkup kedua pipi Mika dengan tangannya, wajahnya memerah dari pipi sampai ke telinga.

 

Mika hanya bisa diam, perasaannya diuji disini, kepalanya serasa ingin meledak dan jantungnya meleleh. Walaupun ekspresinya tidak berubah tapi sebenarnya ia panik bukan main.

 

"Kalau begitu cium aku lagi"

"Ngaah~ gamau aku malu~"

Mika menggeleng-geleng sambil menutup wajahnya, lalu Arashi berdiri di hadapannya.

"Kalau begitu aku pulang saja"

Cup

Kali ini di pipi sebelah kiri

"Lagi"

Pipi sebelah kanan

"Lagi"

Dahi

"Hmm la-"

Terakhir, kembali ke bibir

" 'pa itu cukup? "

"Hmm kalo aku bersama dengamu, apa aku tidak akan merasa sakit lagi? Ah, berarti kita berpacaran?"

"Aku 'kan menjamin supaya k'mu tidak 'kan pernah m'rasa sakit lagi"

Mika mengatakannya sambil tersenyum manis lalu mengulurkan tangan kanannya pada Arashi.

"Hmm~baiklah, kalau gitu, ayo kita pulang. Hujannya sudah berhenti daritadi"

"Ah- Naru kamu s'baiknya memakai seragamku, seragam kamu basah kuyup kan? Aku tidak mau k'mu demam"

"Ara~ terimakasih~"

Mereka pun pergi meninggalkan taman, sambil menggenggam tangan masing masing dan tertawa kecil.

 

Dan percuma saja, ujung-ujungnya Arashi demam tinggi yang membuatnya tidak masuk sekolah selama 4 hari.