Actions

Work Header

Gelap Jelita

Work Text:

Seorang pria dengan gelisah menatap layar laptopnya lantas menelan ludahnya kasar. Ia membuang nafas gusar, rahangnya mengeras.

“Kenapa? Kerjaan?” Tanya sang kekasih dengan suara lembutnya. Jemari mungil nan lentik itu menggapai surai sang pria yang menutupi dahi lalu menyelipkannya ke belakang telinga.

Merasa tak digubris, perempuan itu bersuara lagi, “Jo? You good?”

Yang dipanggil mengangguk pelan, namun matanya tak kuasa untuk menatap sang kekasih. Ponselnya kembali bergetar untuk yang kesekian kali. Ia melihatnya sekilas.

Haneul Flower Shop sent you a message.

Dasar lelaki penuh dusta. Tangannya meraih cangkir kopi hitam yang ada di depannya—menyesapnya pelan—lantas beranjak dari tempat duduknya. Ia mencium pipi sang kekasih singkat lalu meraih kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja.

“Alana, nanti aku kabarin kamu lagi. Ada urusan mendadak di kantor. See you.

Dengan entengnya kedua kaki jenjang itu melangkah keluar dari cafe, meninggalkan sang wanita dengan nafas tercekat dan rasa sesak di dada.

Karena tak sekali dua kali ia diperlakukan demikian.

***

Haneul Flower Shop. Sekilas tak ada yang terdengar aneh dari nama tersebut. Tetapi Johnny dengan segala akal bulusnya menggunakan nama itu untuk mengganti nama sang selingkuhan di kontaknya seakan-akan memang benar bahwa toko bunga mengirimkannya pesan.

Lee Taeyong, seorang lelaki berusia 17 tahun adalah sosok di balik nama samaran tersebut. Sudah setahun lamanya ia menjalin hubungan sang selebriti yang notabene adalah calon seniornya kelak. Kini dirinya merupakan seorang trainee yang akan diperkirakan debut pada akhir tahun ini.

Umur mereka yang terpaut 11 tahun jauhnya tak menjadi masalah. Keduanya mencintai satu sama lain. Mereka bahkan sering berhubungan badan. Kata om Johnny, badan Taeyong mulus, memeknya masih ketat dan legit kalau dientot, gak kayak pacarnya.

“Pepeknya udah becek?”

Taeyong mengangguk pelan. Kepalanya sudah terlanjur kopong, sulit untuk berpikir akibat sensasi nikmat yang sedari tadi menjalar di tubuhnya. Lelaki itu melebarkan kakinya.

“Tadi habis evaluasi bulanan,” ujarnya lantas menyandarkan punggungnya pada sofa.

Johnny menaikkan sebelah alisnya, “Oh? Terus? Diapain aja?”

“Dientot gantian sama mereka berlima, terus pada kobel memek aku. Abis itu aku disuruh telentang di lantai, mereka injekin itil pake sepatu.”

“Dipejuin juga?”

Lelaki yang lebih muda itu mengangguk, “Semuanya ngeluarin peju di dalem memek aku. Anget deh, enak. Oh iya terus tadi ada yang sekalian pipis juga sambil akunya dikontolin. Perut aku sampe kembung.”

Pria bertubuh tegap di hadapannya terkekeh. Badannya yang atletis nan kekar tersebut dibalut oleh kemeja berwarna hitam polos. Satu kancing di bagian atasnya sengaja dilepas. Ia melipat lengan kemejanya hingga ke siku lantas menghampiri lelaki muda itu.

“Udah lemes, dong, sekarang? Gak mau dientot sama om lagi biar sekalian memeknya bocor terus pingsan? Besok pagi om anterin balik ke dorm,” ujarnya sembari mengelus pipi lembut Taeyong. Terdapat raut wajah gusar yang menampilkan kekhawatiran. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa ragu.

“Nanti kalo aku—“

“—Dicariin sama manajer?”

Kepalanya mengangguk lemah.

“Dia udah aku kasih Rolex kemarin. Ga akan ngebeberin soal kita ke siapapun,” jawab Johnny lalu tersenyum simpul.

Kini badan atletisnya mengukung tubuh mungil sang lelaki yang lebih muda itu. Hembusan nafas hangat menyentuh permukaan kulit lembut Taeyong. Wangi parfum maskulin Johnny membuat dirinya mabuk kepayang. Ia menarik kerah kemeja sang pria lantas mendekatkan kedua bibir mereka.

Johnny dapat merasakan miliknya di bawah sana terasa semakin sesak. Namun ia tak ingin terburu-buru, “Kamu tuh… Masih kecil tapi binal banget sih, sayang? Kerjaannya bikin kontol aku ngaceng terus. Seneng, ya, ngelacur kayak gini?”

Taeyong tak menjawab pertanyaan tersebut. Bibirnya memagut sang lawan bicara lantas melumatnya. Jemari mungil itu menelusuri dada bidang sang pria, membuka kancingnya satu per satu.

“Ada yang suruh kamu buka baju aku?”

Matanya mengerjap cepat. Ia mengalihkan pandangannya, “A-Aku cuma pengen—“

“What a dirty little slut… Who told you to take control over me?” Balas Johnny dengan nada rendah. Tatapannya seolah-olah menelanjangi lelaki yang lebih muda tersebut.

Kedua kaki Taeyong dinaikkan ke atas bahu lebarnya. Ia meludahi lubang yang tengah berkedut tersebut lantas menamparnya kencang—membuat sang empu menjerit.

“Padahal tadi itilnya habis diinjek sama sepatu. Masih bisa kedutan begini?”

Taeyong hanya bisa memutar bola matanya ke belakang begitu pria tersebut mencolok kewanitaannya dengan dua jari.

Shit… Memek lonte kamu licin banget. Om kobokin sampe pipis aja, ya? ‘Kan tadi udah digilir sama lima orang. Masih ga puas juga?”

Lelaki bertubuh mungil itu menggeleng lemah. Sungguh, meskipun badannya terasa remuk usai evaluasi tadi, tapi ia masih ingin merasakan kejantanan pria tersebut di dalam liang senggamanya.

“M-Masih mau diperkosa sama om… Mau dimentokin kayak waktu itu. Aku udah latihan tiap hari colokin memek pake gagang sisir biar becek terus,” lenguhnya sembari memilin kedua putingnya yang menegang.

Tangannya itu ditepis dengan kasar oleh sang pria. Ia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Nafas Taeyong tercekat begitu melihat benda tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwa adrenalinnya terpacu. Lelaki muda itu menjerit begitu Johnny menjepit kedua putingnya dengan alat tersebut. Badannya gemetar, giginya gemeretak menahan diri agar tidak teriak.

“S-Sakit! Pentil Yongie sakit, om…

Pria itu tertawa remeh. Tangannya yang lebar dan berurat itu mencengkram kedua pipinya kasar, “Hm, sakit? Bukannya enak pentilnya dijepit? Atau mau itilnya aja yang dijepit, iya?”

Taeyong menggeleng-gelengkan kepalanya. Demi apapun ia suka diperlakukan demikian namun entah kenapa rasanya hari ini dirinya tak mampu. Jeritan tertahan pada lehernya sungguh membuatnya tersiksa.

“Pelan-pelan aja, sayang. Nanti juga enak pentilnya. ‘Kan kamu udah berkali-kali dilecehin sama om. Masa masih gak ngerti, sih, kalau om sukanya begini?”

Begitu manipulatif sehingga membuat lelaki muda tersebut mabuk kepayang. Pria tersebut tahu persis bagaimana cara meluluhkan hati seorang bocah naif.
Kedua pipinya memerah. Bulir-bulir keringat mulai turun di dahi—membasahi surai hitamnya.

“Y-Yongie ngerti… Yongie suka dilecehin sama om. Terserah om mau pake Yongie kayak gimana… O-Om suka memek sempit Yongie, ‘kan?”

Pria itu tersenyum miring lantas mengelus pipi kiri sang lelaki, “Anak pinter… Om paling suka memeknya perek tolol. Selalu becek, kalo dientot ketagihan,” ujarnya lalu menanggalkan celana dan melemparnya ke sembarang arah.

Kejantanannya yang besar dan berurat itu lalu secara perlahan dimasukkan ke dalam lubang sempit yang sedari tadi berkedut. Nafas pendek Taeyong menerpa kulit leher Johnny—membuat birahi pria tersebut memuncak.

“Rasain kontol om di dalem memek kamu, sayang. Sesek banget, ya? Padahal udah dikontolin berkali-kali tapi tetep aja ngejepit, a-ahhh…” Racaunya dengan mata terpejam. Kepalanya pusing menerima sensasi tersebut. Sudah lama ia tak merasakan nikmat yang seperti ini.

“Enakan pepek aku apa pacarnya om? A-Aku mau juga disayang-sayang sama om kayak dia… Om sayang sama aku, ‘kan?”

Mulut kecil yang begitu kotor. Memang sejak awal Johnny tak pernah membuat keputusan yang salah untuk menjadikan bocah ini sebagai selingkuhannya.

“Jorok banget ngomongnya, sayang. Iya, enakan pepek kamu dong. Udah sering dientot sama om tapi tetep aja sempit begini. Gak kayak Alana, udah longgar, susah banget kalo diajak ngewe. Dia orangnya gak sangean kayak kamu, sayang.”

Hati kecil Taeyong bersorak-sorai. Lelaki itu begitu membenci kekasih sang pria. Ia tak suka kalau Johnny memberikan perhatian lebih kepada Alana. Menurutnya apa hal di dalam dirinya yang kurang? Sudah jelas pria itu tadi berkata bahwa Alana tak bisa memuaskan nafsunya.

Tangan kanan Johnny menarik-narik jepitan pada puting Taeyong, membuat lelaki tersebut meringis. Dengan cepat ia cabut keduanya. Jeritan memenuhi ruang studio apartemen milik pria itu. Tak sampai situ saja, kini puting Taeyong yang masih merah dan sensitif itu dikulum oleh Johnny. Lidahnya dengan lihai menjilat dan bermain di sekitar areolanya.

Om… U-Udah… Yongie mau pipis! Geliii…”

“Ya udah pipis aja? Biasa juga om entot sampe pepeknya bocor, ‘kan?”

Wajah Taeyong mendadak panas mendengar kalimat tersebut. Pinggulnya bergetar hebat, ia melingkarkan kakinya pada pinggang sang pria. Paham bahwa lelaki itu akan mencapai puncaknya, Johnny semakin menindih tubuh Taeyong dan kini kemaluannya tertanam begitu dalam.

“Gimana? Udah mentok, belum? Paling suka kalau diginiin sama om, ya? A-Ah, fuck! Ketatin lagi pepeknya… Biar om sekalian pejuin di dalem yang banyak. Anjing, anjing, fuck, dasar lonte!”

Air liur menetes dari bibir Taeyong. Telinganya berdenging, kepalanya begitu pening. Ia bahkan tak dapat merasakan kakinya lagi usai pelepasannya. Namun pria yang lebih tua itu masih menggenjot kewanitaannya dan memaju-mundurkan pinggulnya layaknya ia adalah boneka tak bernyawa. Dirinya bahkan tak tahu kalau kini jiwanya hanya setengah raga, setengahnya lagi entah berada di mana.

Johnny tertawa remeh melihat pemandangan di depannya. Nafsu pria itu begitu kuat. Peluh mengalir di dada bidangnya. Hentakan terakhir membuat badannya gemetar. Ia dapat merasakan kejantanannya semakin dijepit oleh lubang sempit tersebut meskipun sang empu kini setengah tak sadar.

“Sayang… Lonte kecilnya om… Sekarang om pejuin yang banyak biar sekalian kembung. Om pengen banget hamilin kamu, cantik. Alana gak ada apa-apanya dibanding kamu.”

Sayup-sayup ucapan tersebut terdengar oleh Taeyong. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Hanya kecupan lembut nan hangat pada lehernya yang dapat ia rasakan sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.

***