Actions

Work Header

you're beautiful, and i want you to myself

Work Text:

Scaramouche ingin menyangkal kalau itu adalah kesalahannya. Awalnya dia hanya berniat mengganggu Mona seperti biasa dan, yah, jika gadis itu membutuhkan bantuan dengan projek klub literasinya mungkin saja Scaramouche akan bersedia memberi bantuan dengan enggan. Tidak, Scaramouche tidak sedang mencari-cari alasan untuk menghabiskan waktu lebih dengan Mona karena dia tidak suka padanya, Mona itu menyebalkan dan terobsesi dengan astrologi sementara ia tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Ia hanya membiarkan Mona berbicara mengenai astrologi kepadanya bukan karena dia menganggap Mona menggemaskan, sama sekali tidak. Dan Scaramouche tidak begadang sampai larut malam mencari tahu mengenai bintang dan sejenisnya supaya dapat berbincang soal hal tersebut dengan Mona.

Intinya Scaramouche sama sekali tidak menyukai Mona. Tetapi sekalipun tidak suka, Scaramouche tidak pernah berniat untuk menumpahkan jus ke set kartu tarot milik Mona. Jadi itu sama sekali bukan kesalahannya, dia harap Mona tidak salah paham dan membencinya karena dia tahu seberapa sukanya gadis itu terhadap kartu tarot miliknya.

Tetapi Scaramouche sama sekali tidak bisa menyangkal ketika Mona menamparnya, mengatainya lelaki brengsek, lalu pergi begitu saja dengan air mata tertahan. Bangsat, sial sekali dia hari ini. Scaramouche ingin tahu apakah ini karma karena telah memakan setengah porsi coklat untuk Zhongli dari Tartaglia pada hari Valentine, karena ia tidak tahu itu coklat untuk sepupunya. Dipikir-pikir banyak sekali hal bodoh yang dilakukan Scaramouche secara tidak sengaja membuatnya yakin bahwa Tuhan pasti membencinya.

Masalahnya adalah ia akan dibenci Mona juga jika tidak segera meminta maaf dan mengganti set kartu tarot milik gadis itu. Lalu masalahnya Mona sama sekali tidak menggubris permintaan maaf dan segala perkataan Scaramouche, ataupun melirik laki-laki itu sepintas.

Scaramouche menghela napas, menyisir rambutnya ke belakang dengan tidak sabar. “Kont—”

 

***

 

“Mampus! Tsundere banget sih, minta attention cewek kok ngegangguin? Lo kira lo ini bad boy di Wattpad?”

“Puas banget ya lo ngetawain gue, kayak lo nggak gangguin Zhongli aja tiap hari.”

Tartaglia memberikan jari tengahnya pada Scaramouche dan menyumpah lagi, “bacot. Nggak kayak lo, gue ini tau diri ya! Buktinya habis ditolak gue nggak lagi tuh ngedeketin dia.” Tartaglia tertawa mengejek. “Lupa, lo sih belom confess udah ditolak, ya?”

Scaramouche menendang betis Tartaglia dengan keras dan meninju lengannya sekuat tenaga. Sepertinya ke-brengsek-an memang mengalir dalam keluarga mereka, Signora dan Dottore menjadi bukti lainnya sehingga Scaramouche tidak bisa sepenuhnya disalahkan dalam hal ini. Ia hanya bisa berdoa ketiga adik Tartaglia tidak bertumbuh menjadi seperti kakaknya nanti karena sepuluh sepupu kurang ajar dengan mulut tidak terkontrol sudah cukup bagi Scaramouche.

“Nggak mungkin Kak Scara jadi bad boy di Wattpad, tingginya nggak cukup soalnya,” ujar Xingqiu tanpa mengalihkan pandangannya dari The Institute karya Stephen King, novel pilihannya dalam kegiatan reading marathon bersama Kokomi.

Scaramouche hanya bisa mengumpat dalam hati, tentu saja adik kelas dalam klub literasi yang sama dengan Tartaglia akan sama menyebalkannya seperti dia. Scaramouche mulai menyesali keputusannya mendatangi teman-teman satu klub Mona untuk meminta bantuan. Ia sudah sakit kepala memikirkan apa yang harus dilakukan untuk membuat Mona tidak sedih lagi dan tidak membencinya, suatu kesalahan besar datang ke klub literasi ini karena mereka sama sekali tidak membantu.

Kokomi mengangkat wajah. “Kenapa bingung? Tinggal minta maaf kok susah banget, bilang kalau kamu nggak bermaksud ke Mona terus gantiin kartu tarotnya. Apa kamu nggak ngerasa bersalah makanya nggak bisa minta maaf?”

Bangsat, tepat sasaran.

Scaramouche menghembuskan napas kasar, ekspresi Mona kembali terbayang dalam benaknya dan seketika ia ingin menghantamkan kepalanya kuat-kuat ke tembok. Bodoh sekali, Scaramouche mengutuk dirinya yang tidak bisa jujur dengan perasaannya sendiri. “Awalnya iya, tapi Mona nangis. Gue udah coba minta maaf ke dia tapi dia mengabaikan gue, gue nggak tau harus gimana lagi gue takut dia jadi benci sama gue,”

Tartaglia mengangkat alisnya, tidak menyangka Scaramouche akan mengatakan perasaannya di depan anggota klub lainnya yang bisa dibilang tidak terlalu akrab. Biasanya kalau bimbang ia pasti akan bicara dengan Tartaglia dan sepupunya yang lain, tetapi Scaramouche berkata jujur ke anggota klub literasi yang dekat dengan Mona, artinya ia benar-benar takut Mona akan membencinya.

Mengesampingkan sementara hubungannya dengan Zhongli yang tidak jelas, Tartaglia memberi tanggapan. “Kayaknya bakal susah, Shi. Setau gue set kartu tarot punya Mona itu hadiah dari gurunya, makanya walaupun kualitasnya jelek gitu dan nggak tahan air Mona tetep suka.”

Kunikuzushi sangat ingin membenturkan kepalanya kuat-kuat ke tembok. Sisi wajahnya yang ditampar Mona sebelumnya kembali terasa menyengat. Besok natal, lalu tidak lama lagi tahun baru, dan tentu saja Scaramouche harus mengacau pada saat ini.

“Besok natal,” ujar Kokomi seolah-olah hal itu tidak bisa lebih jelas lagi. “Minta maaf sama dia besok, yang tulus, dan gantiin kartu tarotnya. Bilang ke dia yang jelas kalau kamu ngerasa bersalah, kamu juga bisa confess biar Mona tau perasaan kamu yang sebenarnya ke dia.”

Xingqiu mengangguk. “Siapa tahu besok bisa jadi hari natal terbaik buat Mona. Jujur, tindakan Kak Scara selama ini ke Kak Mona bikin salah paham juga, gue kira Kak Scara beneran nggak suka Kak Mona.”

“Gue temenin,” tambah Tartaglia. “Gue juga harus nyari pembungkus kado yang bagus buat adek-adek gue.” Dan Zhongli, tidak dikatakan tetapi semua orang di ruangan itu seolah bisa mendengarnya.

Scaramouche tersenyum kecil, merasa lebih lega sekarang. Disaat seperti ini ia lega punya sepupu seperti Tartaglia, yang lain seperti Signora juga Pulcinella pasti tidak akan bisa membantu karena mereka sama buruknya mengenai perasaan. Di antara mereka bersebelas, bisa dibilang hanya Tartaglia yang masih memiliki hati—mungkin Scaramouche juga punya sekarang setelah mengenal Mona—sehingga tidak heran ia menjadi favorit di keluarga mereka, tentu saja Scaramouche tidak akan mengatakannya ke Tartaglia secara langsung.

Scaramouche mengulum bibirnya, tiba-tiba merasa malu. “Makasih,” gumamnya cukup keras supaya dapat didengar, kemudian ditendangnya Tartaglia secara paksa ke luar ruangan, tidak ingin menatap kedua orang tersisa di ruangan itu lebih lama dari seharusnya setelah saat-saat kerentanan miliknya tadi.

“Sama-sama.”

“Kamu butuh latihan lagi, besok nggak bisa nendang Childe terus pergi kalau ngerasa malu.”

Astaga, Kokomi, beri dia istirahat. Tartaglia terkikik kecil, menyetujui perkataan Kokomi. Tetapi untuk Scaramouche hal ini bisa dibilang sebuah perkembangan karena dapat mengutarakan perasaan sebenarnya di depan orang lain apalagi orang yang tidak terlalu akrab untuk meminta bantuan mereka, Tartaglia tahu betapa susahnya hal itu dilakukan untuk sepupu-sepupunya.

Scaramouche harus menahan diri untuk tidak membanting pintu klub literasi karena ia masih ingin hidup untuk menyatakan perasaannya kepada Mona. “Makasih!” Ia cepat-cepat keluar dan menutup pintu, tidak lagi deh dia datang ke ruangan itu kalau masih ada Kokomi di dalam.

 

***

 

Tartaglia mendelik kepada Scaramouche setelah melihat sepupunya meletakkan kartu tarot Hello Kitty ke dalam keranjang belanja. “Lo bener-bener ya, Mona marah sama lo lagi gue nggak mau bantu pokoknya.”

Scaramouche memutar matanya, tahu Tartaglia tidak benar-benar bermaksud ketika mengatakan itu. Tangannya meraih set kartu tarot klasik di dalam rak. “Yang Hello Kitty bukan buat hadiah natal Mona besok, Jak. Buat tahun baru itu, siapa tau Mona bosen sama desain yang klasik.”

“Udah gue bilang nama gue bukan Ajak, Ajax, pake X bukan K!” seru Tartaglia. “Tapi kenapa lo milih yang Hello Kitty sih, anjir? Dijotos Mona gue ketawain paling depan.”

“Apa bedanya sih anjir, mirip ini K sama X. Kayak siapa itu yang di Eternals, yang mati di awal cerita. Ini yang lucu cuma Hello Kitty Jak, warna pastel lucu gini nggak mungkin Mona nggak suka.”

“Mulut lo dijaga! Heran sih gue kalo Mona mau nerima lo besok.”

“Siapa sih yang nggak suka gue?”

“Gue, dan perlu gue ingatkan Mona juga lagi nggak suka sama lo sekarang.”

“Anjing lo.”

(“Beli?” tanya Scaramouche ketika mendapati Tartaglia terdiam menatap sepasang sumpit bercorak naga dan phoenix. Seingatnya Tartaglia sudah punya sumpit itu, diberikan padanya oleh Zhongli ketika acara pertunangan mereka dan sudah dikembalikan pula kepada Zhongli ketika pertunangan mereka berdua dibatalkan.

Tartaglia mendengus. “Ngapain beli itu coba.”

Di rak lain Tartaglia meraih sebuah syal musim dingin berwarna biru muda dan oranye di ujungnya. Tartaglia berharap laki-laki itu mengingatnya tiap saat beserta perbuatannya terhadap Tartaglia, harapan terakhirnya untuk laki-laki itu.)

 

***

 

Scaramouche bersyukur sekolah mereka mengadakan acara natal pada tanggal 25 Desember—untuk siswa yang tidak punya keluarga atau rumah untuk merayakannya, katanya—kalau tidak ia harus menunggu sampai masuk sekolah dan saat itu pasti sudah terlambat untuk meminta maaf. Tartaglia sudah kembali ke rumah mereka bersama Signora setelah memberi hadiah natal kepada Zhongli. Scaramouche tidak menyalahkannya ingin cepat-cepat pulang, ia masih ingin menonjok wajah laki-laki itu sampai sekarang.

Aula sekolah diisi penuh oleh murid serta beberapa teman atau keluarga dari luar yang memilih untuk merayakan natal di sekolah. Entah sejak kapan acara natal di sekolah dianggap murid-murid menjadi acara wajib, hanya beberapa dari mereka yang memutuskan untuk merayakan natal di luar dan biasanya karena ada urusan keluarga. Scaramouche biasanya merayakannya di rumah tetapi ia tidak masalah membuat pengecualian kali ini, ia juga sudah bicara dengan Tsaritsa.

Natalnya di tahun kedua SMA Teyvat akan dihabiskannya untuk menjadikan tahun ini natal yang terbaik bagi dia dan Mona, jika saja Scaramouche tahu di mana Mona berada sekarang. Demi Tuhan, dia sudah mengelilingi sekolah lebih dari tiga kali dan masih tidak menemukan keberadaan gadis itu. Kedua kaki (pendek)nya hampir menyerah.

Scaramouche berhenti sejenak untuk mengambil napas. Dilihatnya langit sudah semakin gelap, malam sudah semakin larut dan beberapa murid sudah berjalan keluar area sekolah. Sekali lagi Scaramouche menyumpah. Ia hampir memilih untuk menunggu di gerbang sekolah saja ketika ia teringat—langit, tentu saja Mona akan berada di tempat yang paling dekat dengan langit di mana ia bisa melihat bintang-bintang.

Scaramouche berlari ke tangga menuju rooftop sekolah mereka, dia ingat pernah beberapa kali ke tempat ini bersama Mona ketika ada acara sekolah sampai larut sebelumnya. Mona bercerita padanya soal fakta-fakta astrologi yang dia tahu serta kisah dibalik tiap rasi bintang sembari menunjuknya satu-persatu. Mona yang saat itu dengan antusias berbicara walaupun Scaramouche tidak merespon—walaupun ia tahu Scaramouche tidak percaya dengan hal-hal tersebut—tampak sangat cantik di mata Scaramouche. Saat itu adalah pertama kalinya Scaramouche menyadari perasaannya terhadap Mona dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Saat itu ia meraih rambut Mona yang sedang digerai. Gadis itu berhenti berbicara dan menatap Scaramouche setengah curiga dan setengah heran. “Ngapain lo?”

Scaramouche tidak langsung menjawab dan menatapnya dengan intens. Mona merasa aneh ditatap seperti itu oleh Scaramouche dan wajahnya memerah. “Apaan ih?!” Ia baru ingin melepaskan tangan laki-laki itu ketika Scaramouche menarik pelan surai ungunya. “Anjir—?!

“Jelek,” ujar Scaramouche membuat Mona memukul lengannya ingin mengamuk. “Yang tadi Sagitarius, kalau yang ini apaan?”

Seketika Mona tersenyum sumrigah, senang mengetahui daritadi Scaramouche menyimak perkataannya walau ia sendiri tidak tertarik dengan astrologi. Mona kembali menjelaskan dengan riang segala hal yang ia tahu mengenai rasi bintang yang ditunjuk Scaramouche.

Waktu itu Mona tidak sendirian, ia bersama Scaramouche, asik berceloteh soal rasi bintang. Scaramouche tidak tahu apa yang dilakukan Mona sekarang tanpa ada dirinya sebagai lawan bicara. Seingatnya Mona tidak terlalu akrab dengan banyak orang dan dalam pencarian Mona dia mendapati Kokomi dan Barbara di aula sekolah serta Albedo, Klee, dan Sucrose di lab kimia sementara Xingqiu merayakan natal bersama Chongyun dan teman-temannya di luar sekolah, begitu juga dengan Aether dan Lumine. Yang berarti Mona sendirian sedari tadi di atap sekolah.

Scaramouche merutuki dirinya sendiri kenapa tidak memikirkan atap sekolah lebih awal dan langkahnya terhenti di depan pintu atap sekolah. Ia menggenggam erat kotak hadiah berwarna ungu tua di tangannya lalu mendorong pintu.

Sesuai dugaannya, Mona berada di atap sekolah. Ia duduk di pinggir atap mengayun-ayunkan kakinya, rambut panjangnya digerai seperti sebelumnya. Mona memakai baju tebal khas musim dingin dengan syal berwarna merah menutupi lehernya, tampaknya hadiah natal dari salah satu temannya. Scaramouche tidak bisa melihat ekspresi gadis itu saat ini karena ia duduk membelakangi pintu rooftop tetapi tidak sulit untuk membayangkannya.

“Mona,” panggil Scaramouche. Ia berjalan mendekati Mona dan dengan tiap langkah ia merasa jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.

Mona menoleh, seketika Scaramouche lupa kata-kata yang telah dia latih sebelumnya. Mona memang sangat cantik, tidak sedikit orang yang ingin mendekatinya namun kebanyakan dari mereka menjauh ketika tahu kesukaannya dengan astrologi padahal menurut Scaramouche Mona itu paling cantik ketika sedang berbicara mengenai hal tersebut. Ekspresinya menampakkan seberapa sukanya ia terhadap astrologi, matanya bersinar seperti bintang dan terkadang kedua tangannya ikut bergerak mengungkapkan antusiasme miliknya.

Mona tampak kaget mendapati Scaramouche, lalu ia teringat akan perbuatannya kemarin dan Mona mengeraskan ekspresinya. “Apa?”

Scaramouche menggigit bibir. “Gue minta maaf, soal kartu tarot lo, gue sama sekali nggak sengaja numpahin jus kesitu. Gue denger dari Childe kalau itu hadiah dari guru lo, maaf udah ngerusak kartunya.” Scaramouche menyerahkan kotak kecil yang dibungkus kertas ungu tua kepada Mona. “Permintaan maaf gue, gue tau itu nggak seberapa dibanding sama yang dari guru lo tapi gue tetep harus ngegantiin kartu tarot lo yang udah gue rusak.”

Mona mengerjap, jelas tidak menyangka Scaramouche akan meminta maaf bahkan sampai mengganti set kartu tarot miliknya. Mona sendiri tahu kalau Scaramouche benar-benar tidak sengaja menumpahkan jus, terlihat jelas dari ekspresi di wajah laki-laki itu yang tampak panik, hanya saja ia tetap merasa kesal karena set kartu tersebut merupakan pemberian dari gurunya. Mona merasa agak bersalah telah menampar Scaramouche dan ingin meminta maaf tetapi ingat ia biasanya merayakan natal bersama Tartaglia serta sepupunya yang lain, maka Mona memutuskan untuk pergi ke atap lalu menunggu ketika mereka bertemu nanti untuk meminta maaf.

Dia tidak menyangka Scaramouche datang ke acara natal sekolah untuk meminta maaf kepadanya. Memang tidak sebanding dengan set kartu dari gurunya tetapi Mona sendiri berpikir untuk membeli yang baru karena sudah lama, lagipula Mona masih bisa menyelamatkan beberapa kartu dari dek tersebut.

Mona membuka mulut, ingin membalas tetapi dikejutkan oleh pengakuan Scaramouche. “Gue suka sama lo.”

“Gue nggak tau udah suka sama lo sejak kapan tapi gue baru sadar saat acara sekolah kemarin, saat kita berdua di rooftop ngomongin soal bintang-bintang lo itu. Gue nggak tau harus gimana soal perasaan gue. Lo cantik dan gue mau cantiknya lo pas ngomongin astrologi buat gue doang. Mona, mau nggak jadi pacar gue?”

Oke, Mona sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan pengakuan cinta dari Scaramouche. Ralat, ia tidak menyangka Scaramouche menyukai dirinya. Dengan betapa menyebalkannya dia, Mona kira Scaramouche hanya suka mengganggunya saja dan memang brengsek dari lahir, ternyata ia cuma tsundere.

“Lo ini,” Mona ketawa, “bener-bener nggak bisa nunjukkin perasaan lo, ya.” Mona semakin ngakak teringat perlakuan Scaramouche terhadapnya selama ini. “Lo kira lo bad boy Wattpad?! HAHAHAHA BAD BOY PENDEK!!”

“Anjing, diem lo nggak usah ikut-ikutan Childe.” Scaramouche menengok ke bawah memastikan tidak ada orang yang mendengar perkataan Mona. Wajahnya memanas dan merah, Scaramouche yakin. Ingin rasanya dia berlari menuruni tangga atau langsung loncat dari atap saking malunya tetapi ia ingat perkataan Kokomi dan memaksa seluruh tubuhnya untuk tidak balik badan. Scaramouche memalingkan kepalanya, enggan memperlihatkan ekspresinya saat ini kepada Mon

Lalu kedua tangan meraih wajahnya, memaksanya untuk mendongak. Mona tersenyum lebar, kedua pipinya juga memerah dari hawa dingin dan pengakuan Scaramouche. Gadis itu mendengus kecil melihat ekspresi calon pacarnya. “Gue maafin lo Shi, dan, iya, gue mau jadi pacar lo.” 

 

***

 

Mona terdiam memandang set kartu tarot Hello Kitty di tangannya dan Scaramouche sekali lagi ingin menghantam kepalanya dan loncat dari atap.

“Putus aja yuk, anjing?!”

“Enak aja!”

“Ribut sini, maksudnya apaan ngasih yang Hello Kitty?!”

“Gue salah ngebungkus, Mon. Gue kira ini yang set klasik!” Scaramouche bersusah payah menjelaskan dirinya supaya Mona tidak salah paham sembari menghindari pukulan demi pukulan Mona.

Tangan Mona berhenti di udara. Dirinya membayangkan Scaramouche yang membeli set kartu tarot Hello Kitty dan tatapan terkejut penjualnya. Mona sendiri tidak menyangka dan set kartu tarot di tangannya mungkin bukan satu-satunya benda bertema Hello Kitty yang dimiliki pacarnya. Scaramouche dan Hello Kitty? Lucu juga. “Jadi lo punya dua? Lo beli yang klasik buat gue terus lo punya yang Hello Kitty gitu?”

Scaramouche tersentak dan mengelak. “Bukan gitu anjing!”

“HAHAHAHA BAD BOY DEMEN HELLO KITTY!!”

“MONA ANJIR UDAH GUE BILANG BUKAN GITU!”