Actions

Work Header

Kunjungan aka CLBK?

Work Text:

Hari itu lumayan panas, matahari bersinar terik dengan terang seperti berada di dalam pemanggang. Kota juga sangat sibuk, kendaraan memenuhi jalan di kiri dan kanan pandangan, ya jelas, orang hari Senin. Dengan modal kipas yang didapat dari merchandise seminar yang ia hadiri bersama atasan beberapa hari lalu serta seplastik es teh yang digenggam di tangan kiri, rasanya duduk di halte bis sembari menunggu orang 'penting' yang disebutkan atasan akan datang kunjungan hari ini menemuinya lumayan adem. Ia seharusnya memilih hanya pakai kaus kutang dan celana pendek saja, tapi ia tidak mau disemprot karena berpakaian terlalu oblong untuk menjadi tour guide tamu penting.

"Harusnya hari ini gue mandiin motor. Sabar ya tong, besok pasti udah wangi dan kinclong."

Janji ia sebutkan pada foto motor bebeknya yang ditampilkan pada layar ponsel yang lapisan pelindungnya pecah - pecah. Es teh diseruput dengan nikmat, kaki dilepaskan dari sepatu dan duduk bersila seperti petapa di kursi besi halte bus yang lumayan membuat pantatnya pegal. Njir, tau gini tadi dia minta ketemu di cafe aja ya biar duduk enak sambil kena kipas angin.

"Kang mau beli aqua ga?" Seorang penjual asongan yang menyodorkan sebotol aqua mengagetkannya, hidungnya mengerut sedikit dan ia mengangguk. Gapapa dah, beli buat sekalian nanti pas jalan - jalan muter dia haus. Merogoh saku celana jeans yang lumayan rapat, di pinggulnya, pria yang menjadi representasi Indonesia itu membuka dompet lalu mengeluarkan satu lembar uang kertas dengan nominal sepuluh ribu.

"Nih kang, kembaliannya gausa." Menerima botol aqua, tangan kirinya mendorong lembaran kembalian yang disodorkan padanya dengan sopan.

"Hatur nuhun, kang! Betewe mau ketemu siapa, kang? Rapih bener."

Cengiran lebar terulas, sebuah rona tipis malu - malu menghiasi pipinya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Ah bisa aja, mau ketemu tamu itu dari luar negeri. Katanya kunjungan, tau nih belom dateng orangnya, nyasar kali ya."

Ngomong - ngomong ia baru sadar kalau dia cuman ngasih tau kalau tempat janjian mereka itu di halte. Tapi tanpa menyebutkan halte dengan spesifikasi tempat yang detail pada atasan, mengotak atik ponselnya, ia sedikit ketar ketir takut disemprot karena dengan cerobohnya lupa tentang hal ini.

'Udah tau orangnya. Tunggu aja.'

Begitu balasan dari atasan, lah darimana itu tamu tahu halte yang mana yang dimaksud kalau dia baru datang ke Indonesia hari ini? Sebelum ia sempat menekan tombol panggilan untuk menanyakan lebih detail ke atasan, sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Dari kaca yang gelap ia bisa melihat bagaimana seorang pria tengah berbincang dengan supir sebelum pintu penumpang dibuka.

Rambut pirang, cek. Tinggi badan yang mirip tiang jemur burung, cek. Kaos oblong berwarna hitam yang tampaknya lebih mahal dari kaos kawe Dior miliknya yang beli di pasar tanah abang, cek. Sebuah ransel yang lumayan ringan untuk kunjungan, cek.

Waduh, orang Eropa ya. Mengantongi ponselnya ke dalam saku jaket denim yang ia pakai. Iris emasnya menyipit dengan menyelidik, memperhatikan lamat - lamat bule yang tinggi amboy di hadapannya ini. Wajahnya belum terlihat karena bule itu sibuk berbincang dengan supir taxi dengan tubuh membungkuk dan kepala di dalam pintu yang terbuka. Rambut pirang yang sedikit teracak terbang oleh angin yang dibawa seorang Ibu - Ibu yang lewat super kencang dengan motor bebeknya melintas.

"Selamat datang di Indonesia, Mis-" Sambutannya terhenti di tengah ketika si bule menegakkan tubuhnya. Iris berwarna zamrud menabrak iris emas dan ia mundur beberapa langkah saking kagetnya. "L-l-l-LONDO?!"

Yang dipanggil Londo mengernyit samar sebelum mengangguk, menaikkan ransel yang tersampir di bahu kanannya. Ia mengangguk sebagai bentuk menyapa.

"Goedemorgen, Indie. Long time no see."

Londo atau Belanda atau yang bernama asli Abel menyapa dengan santai. Rambutnya yang biasanya jabrik badai turun dan menutupi kening serta sedikit matanya. Kalau orang lain mungkin akan mengira bule ini biasa saja seperti turis Eropa yang datang silih berganti. Tapi untuk Indonesia atau yang bernama Dirga, ia takkan melupakan wajah ganteng - maksudnya wajah ngeselin bule satu ini. Berbalik dengan nafas terengah, Dirga mengeluarkan ponselnya. Mengetik dengan kesetanan pada ruang percakapan dirinya dan atasan.

'Pak. Pak. Emergensi. Atensyen. Jadi yang mau saya ajak keliling itu Abel?'

Sekitar dua menit hingga tanda centang dua berwarna biru dan status atasannya online hingga Dirga mendapatkan balasan.

'Iya. Saya lupa ngasih tau, dah ajak jalan - jalan , kalau bisa traktir biar keliatan keren 👌'

Keren ndasmu! Ngapain dia traktir ini codet pelit yang kikir melintir! Yang ada harusnya dia keluar duit lah, biar tau rasanya dompet kering kemarau panjang butuh asupan instan. Menghela nafas panjang, Dirga mematikan ponselnya. Hemat batere gan, dia keasyikan main game tembak - tembakan ketika menunggu tadi hingga ponselnya hendak tewas karena kekurangan daya. Baiklah, untuk kali ini, dia akan menuruti perintah atasan meskipun mantan yang satu ini ia sangat tidak sreg alias gamau gasuka gelay!

"Oke, meneer." Berbalik, Dirga berkacak pinggang seolah ia paling besar. Lehernya lumayan linu karena harus mendongak terus jika berbicara dengan raksasa ini. "You ikut I, okay? Don't protest and atur - atur, understand?"

"Okay." Abel menjawab dengan patuh, ia sebenarnya kebingungan kenapa pria sawo matang di hadapannya ini tiba - tiba berlagak gagah begitu padahal tadi loyo dan mleyot saat melihatnya. Ya tapi gapapa deh, dia sih senang -senang aja karena akhirnya bisa mengobrol lagi dengan Dirga setelah di setiap pertemuan resmi si kancil ini selalu menghindarinya seolah dia ini kutu rambut. "But can i hold your hand?"

"Hah?" Dirga ingin sekali salto di tempat, ini kompeni satu ngapain minta gandengan tangan? Mereka kan bukan truk gandeng, lagipula Abel segede titan begini ga mungkin ilang. Pasti ini bule pelit mau modus. Dirga tahu akal bulus mantannya ini, keh dikira dia cowo gampangan hah! "Buat apaan? You mending gandengan sama tiang listrik noh. Gue bukan bebisiter!"

Abel bukannya merasa kesal karena ditolak, ia malah tersenyum. Galak memang, padahal dulu Dirga itu manis dan pemalu saat mereka pertama kali bertemu. Dia sudah tumbuh besar, dadanya pun besar ehem - ekspresi geram nan jijik yang menggemaskan di wajah Dirga ingin ia unyel - unyel tapi ia takut dikeroyok masa kalau - kalau Dirga dengan reflek teriak dan warga mengira dia menyerang pria itu. Beh, mau ditaruh mana muka ganteng dia ini.

"I don't mind, but you are so small. I am afraid that you will lose."

"Lu yang kegedean, bangke! Ini tuh standar tinggi orang Indonesia! Gue bogem nyaho lu!"

Dirga benar - benar terbakar api amarah bukan asmara, ini orang ngelunjak lama - lama. Baru juga lima belas menit bertemu dan Dirga harus melepaskan mentah - mentah sikap sopan santun ketika menerima tamu kunjungan karena meneer kikir ini. Hah, sabar men sabar. Orang sabar pantatnya lebar. Dia tidak boleh hilang kendali, kalau ada apa - apa dengan tamu mereka, ia yang kena semprot atasan. Duh, buat sehari doang ini lah!

"Ah udah lah. Kuy jalan."

Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket denim, Dirga antisipasi agar supaya Abel tidak curi - curi kesempatan pegang - pegang tangannya. Parfum mahal yang wanginya hingga sepuluh meter yang rela ia semprotkan ke seluruh badan dengan harapan tamu kunjungan secantik dan semanis noni Belgia pupus sudah. Yang datang malah tiang berjalan.

"Udah makan belom?"

Ini cuman basa basi aja, tandain ya, basa basi. Dirga sebenarnya malas sekali mengeluarkan satu persen energi untuk mengobrol dengan Abel. Tapi dia juga gamau kalau Abel jadi pingsan karena belum sarapan, dia gamau di cap sebagai tuan rumah yang tidak baik.

"Not yet." Abel melihat ke kanan dan ke kiri, sedikit takjub dengan kota yang sudah maju dan berkembang. Berbeda dengan dulu, menikmati bagaimana beberapa warga yang berjalan dengan mereka di trotoar memandanginya takjub. Dia tinggi sekali, sehingga menarik perhatian. "I just eat a slice of bread when dropping my luggage in my hotel room. How about you, Indie?"

"Inda indi." Gerutu Dirga melambaikan tangannya menyapa seorang kenalan yang lewat dengan motornya. "INDONESIA! Tapi panggil aja Dirga, kita ga lagi di pertemuan resmi kok."

"But you still call me with that nickname." Abel menatapnya dengan satu alis tebal terangkat, Dirga mengernyit. Duh, iya juga ya. "Call me Abel then."

"Bel. Abel." Dirga menyebut sembari mencoba di lidahnya, hidungnya mengerut karena merasa aneh. "Enakan meneer." Protesnya dengan mengangkat bahu. "Lagian lu ga protes kan?"

"No, but-"

"Yauda, Bang Ned begimana?"

Abel memandanginya intens seolah sedang berusaha menenggelamkan Dirga ke dalam manik zamrudnya. Sementara Dirga menyingkir sedikit menjauh, ia was - was, takut dipelet. Bisa aja kan tuh, ini bule satu bawa aji - aji. Kan dia gagal move on.

"Bagus." Abel akhirnya memutuskan aksi tatap - tatapan mereka dengan antusiasme terukir samar di wajahnya yang datar. Langkahnya sedikit ringan tapi dia tidak mau terlihat seperti bocah dengan melompat - lompat karena panggilan akrab Dirga.

"Hah?" Dirga sendiri kaget, padahal itu panggilan biasa saja dan sama saja dengan sebutan - sebutan yang ia tujukan pada Abel tapi si Holland terlihat senang. Gapapa dah, sekali - kali biar ga cemberutut tuh mukanya. "Bang Ned, mau makan buryam?"

"Buryam?"

"Iya, bubur ayam. Enak kok, gue bayarin deh tapi ntar lu yang bayar makan siang sama jajan setelahnya ya?"

Abel mengangguk saja, mengikuti langkah Dirga seperti anak ayam besar di belakangnya. Mereka melipir di pedagang kaki lima yang menjual bubur ayam tempat di pinggir jalan. Lengkap dengan tenda dan kursi plastik serta meja kayu yang diletakkan sebagai tempat pelanggan menikmati buryam di tempat. Lumayan ramai karena masih pagi, banyak pekerja yang mampir dulu untuk sarapan yang tertunda.

"Duduk sini." Dirga menepuk - nepuk kursi plastik kosong di sebelahnya, Abel dengan menurut duduk setelah meletakkan ranselnya di meja. Hiruk pikuk kendaraan yang melintas di jalanan tepat di hadapan mereka lalu pada dua orang pekerja kantor dengan lengan kemeja yang dilingkis berbincang tentang sesuatu sembari menikmati buryam mereka. "Sama minum ga?"

"Boleh." Abel mengangguk. Memperhatikan Dirga yang menyebutkan pesanan sembari berteriak. "Sama kayak kamu aja, Dirga."

Dipanggil dengan namanya, Dirga menoleh cepat. Ucapan sang abang penjual memantul dari telinganya, ia menatap Abel yang mengerjap padanya dengan wajah memerah dan salah tingkah. Buset kok dia deg - degan begini sih dipanggil dengan nama oleh bule ini?! Ga boleh, bro , ga boleh!

"Apaansi." Protesnya setengah hati kemudian duduk dengan masih memerah di kursinya kembali. "Ngomong - ngomong gimana kabar?"

"Baik." Abel memutuskan ia akan menggunakan bahasa Indonesia saja, toh dia mengerti dan bisa. "Setiap hari aku merawat kebun tulip, aku bawa serangkai buat kamu, tapi ketinggalan di hotel."

"Hm. Makasih ya." Dirga sebenarnya ga menyangka soal itu, tapi bentar! Kok ada rasa geli - geli senang di perutnya ya karena dibawakan tulip kesayangan si meneer ini. Apa cacing - cacing di perut dia saking lapernya pengen makan bunga?

"Ini buryamnya, bang. Buat Mister, gratis es tehnya." Abang penjual datang menyelamatkan dengan nampan berisi dus mangkok buryam dan dua gelas sedang es teh. Dirga menatapnya dengan sedikit memincing, anjir ga adil banget! Harusnya lu masang harga mahal sama si codet ini!

"Terimakasih." Abel tersenyum sedikit dan mengangguk menerima gelas es tehnya. Menyeringai kecil pada Dirga yang mencibir padanya sembari menyeruput es tehnya sendiri.

"Bang, punya gue gratis juga ga? Kan pengantar tamu."

"Ga lah." Si abang dengan ngeselinnya menggeleng, ia bahkan tak gentar dengan Dirga yang melotot. "Ntar kebiasaan." Lalu melenggang pergi dengan langkah yang aduhay ingin Dirga lempar botol sambal rasanya. Awas aja ni penjual bubur, dia borong besok kalau dapet thr dari atasan!

"Kamu kalau makan ini diaduk atau ga?"

Pertanyaan Abel yang menatap mangkok buryamnya dengan sendok siap di genggaman membuat Dirga membeku.

Hm, kalau ditanya begini dia bingung, bos. Karena pergeludan sekte diaduk dan tidak diaduk pasti gonjang ganjing!

"Diaduk." Jawabnya akhirnya karena dia lebih suka diaduk, Abel mengikuti Dirga yang mengaduk buryamnya dengan wajah lelah. Duh baru juga garis start dia sudah lunglai begini.

"Enak ya."

Dirga menoleh, melihat Abel mengunyah dengan khidmat. Setitik noda membingkai sudut bibirnya, dan Dirga gatal sekali ingin mengusapnya dengan jemari mesra - apaan itu pikiran barusan!

Menyabet tisu yang tergeletak di tengah meja, Dirga menyodorkannya pada Abel yang mengerjap.

"Tuh pake buat bersiin bibir lu, elah Bang makan yang bersih dong!"

Dia ngomel dengan ngegas karena itu kamuflase agar Abel tidak tahu dia sedang malu - malu. Sementara Abel yang mengerti mengambil tisu dari tangan Dirga dan dengan bodohnya mengelap bagian sudut bibir yang tidak ternoda. Dirga serasa tumbuh tanduk akibat gregetan. Dih Abel sengaja yak pengen diusapin ha!

"Sini dah!" Merebut tisu dari genggaman Abel, Dirga menangkup pipi pria tinggi itu dan memutar kepalanya agar menghadap padanya. Dengan alis bertautan dan wajah kesal ia membersihkan sudut bibir Abel dengan lembut. Abel sendiri terkejut, memandangi pria beriris keemasan itu dengan rona merah tipis menghiasi pipinya. Jantungnya berdegup karena 'Indie perhatian padanya'. Ihir serasa di dalam adegan sinetron ftv siang bolong dengan soundtrack cinta yang khas. Seorang mba - mba yang melintas menutup bibirnya dengan pandangan gemas pada kedua pria itu.

"Dah beres." Dirga menarik diri beserta tangannya, membuang tisu ke dalam tong sampah yang kebetulan dengan kursinya lalu lanjut makan. Mengabaikan tatapan memuja Abel yang masih tertuju padanya. "Makan kok kayak bocil. Malu lah diliat orang." Gerutuan Dirga yang sibuk mengunyah buryam tak dipedulikan Abel. Yang dilihat matanya adalah sosok Dirga yang bling - bling dengan hati yang bertebarang mengelilinginya beserta bunga - bunga bagaikan tokoh di shoujo manga.

Rencananya dia datang kemari memang untuk kunjungan, sekedar plesir sambil melihat - lihat perkembangan negara yang sudah semakin bersinar ini. Dia memang tak berencana bertemu Dirga, bisa saja dia diberikan orang lain sebagai pemandu wisata. Tapi Tuhan memberikannya hari yang indah dengan mempertemukannya dengan pria yang selalu ia simpan di dalam hatinya itu. Meskipun masa lalu mereka sungguh menyakitkan dan ia yakin Dirga bisa saja masih menyimpan dendam dan rasa benci di hatinya, ia tak menyerah. Permintaan maaf mungkin sudah terlambat toh Dirga terlihat biasa saja. Kalau dia kesal dan marah pasti saat melihat Abel diluar pekerjaan mereka dan pertemuan resmi dimana pria sawo matang itu bisa saja melemparkan bambu runcing padanya, Dirga tidak melakukannya. Ia malah terlihat menyambut Abel dengan baik meskipun dengan ogah - ogahan tapi dari sikap Dirga, Abel tahu dia masih peduli. Masa lalu disingkirkan dulu, ia ingin memikirkan hari ini. Tidak sia - sia ia membawa serangkaian bunga tulip yang ia petik dan susun sendiri secantik mungkin untuk Dirga, karena ia bisa memberikannya langsung nanti. Antisipasi ia akan dijotos atau dilempar dengan sandal.

Ya tapi rasa lama yang bersemi kembali tak dapat ia sangkal, gapapa sih kalau pun dia yang memang gagal move on. Lagipula Dirga memang semenggemaskan itu dari dulu sampai sekarang. Kalaupun ia dijadikan kerak telor nanti, ia tidak menyesalinya.

"Heh! Malah ngelamun! Habisin tuh buryamnya, kita mau jalan - jalan nih."

Sebuah tepukan kencang dan mantap di bahunya membuat Abel tersadar, ia bahkan tak tahu kapan ia tiba - tiba larut dalam lamunan. Menoleh ia mendapati Dirga memandanginya dengan wajah kesal yang menurutnya mirip kucing oren itu. Tangannya terangkat, Dirga yang melihatnya mengangkat kedua tangan. Mengeluarkan gerakan silat alih - alih si meneer ini akan menganiayanya tapi yang tak ia sangka Abel mengusak rambutnya gemas.

"Aku senang ketemu kamu hari ini. Ini adalah hari yang baik buatku, tidak akan terlupakan. Permata berhargaku."

Seketika waktu di sekeliling mereka berhenti, seolah dunia hanya diisi oleh mereka. Dirga menatap Abel dengan iris keemasannya melebar dan gemetar, tangan besar Abel di kepalanya terasa hangat dan itu berbahaya untuk kesehatan jantungnya yang berdegup selayaknya bedug masjid. Rasa menggelitik di perutnya semakin meraung padahal ia sudah menghabiskan semangkok buryam, ini cacing - cacing di perut rakus amat dah masa kurang? Rasa panas menjalari wajahnya tanpa diminta, dan rasanya kepalanya ingin meledak dengan pompa darah yang memenuhinya.

"BANGSAT! GAUSA SOK MESRA LO SAMA GUE!"

Kucing melompat dan kursi plastik berderit, Abel tertawa terbahak ketika Dirga melompat ke arahnya. Berusaha menjegalnya ke tanah dan mencekik lehernya. Para pengunjung yang melihat aksi kekerasan itu kebingungan karena bule yang sedang dianiaya bukannya kesakitan malah terlihat senang.

Dasar masokis.