Actions

Work Header

the lucky one

Work Text:

 


Aula besar ramai dengan kehidupan saat para siswa Hogwarts memenuhi meja-meja panjang yang dibagi sesuai dengan asrama masing-masing untuk mengisi perut di pagi hari. Beberapa siswa nampak merapalkan mantera-mantera untuk dipamerkan pada teman-teman mereka. Tak sedikit juga yang masih dalam keadaan setengah mengantuk dan tidak menginginkan apapun selain tertidur di kamar mereka. Dan Park Sunghoon adalah salah satunya. Kepalanya bertumpu di tangan, surai sekelam malamnya jatuh menutupi sebagian wajahnya dengan mata yang biasanya menyorot tajam kini masih betah terpejam. Jay bahkan mencibirnya ketika melihat kepala Sunghoon terantuk beberapa kali dan nampak mulai lepas dari tangannya, semakin dekat dengan mangkuk berisi sereal yang belum tersentuh.

"Hei, bangun, bodoh! Kepala lo sebentar lagi bakal berenang ke dalam sereal!” Suara Jay yang duduk didekatnya lantas membawa Sunghoon kembali terjaga, membuatnya menguap dan meregangkan otot tubuhnya. "Gue udah bangun." gumamnya kepada Jay yang telah menghentikannya dari mempermalukan diri sendiri di depan semua orang yang ada di aula. 

"Sunghoon, itu prefek Hufflepuff, kan? Dia pacar lo, kan? Dia lagi ngapain?" Seorang gadis yang duduk di sampingnya menghujani Sunghoon yang baru saja berhasil mengumpulkan nyawa dengan banyak pertanyaan seraya menyenggol lengan Sunghoon, menunjuk ke arah sekelompok siswa Hufflepuff yang duduk di meja mereka yang agak jauh dari meja Slytherin. Sunghoon mengikuti pandangannya dan secara otomatis bibirnya tertarik untuk mengulas senyuman saat obsidiannya bertemu dengan manik bening milik prefie kecil kesayangannya. Ia melambai kecil pada Jake sebelum menyadari bahwa Jake sedang melipat selembar perkamen.

"Honestly, no idea. Gue juga nggak tahu dia lagi ngapain." balas Sunghoon pada teman perempuan yang baru saja menanyainya. Ia kini terkekeh geli saat kembali melihat Jake yang masih sibuk dengan kegiatannya. Raut wajahnya yang tengah serius dengan bibir yang mengerucut jelas membuat Sunghoon gemas.

Menginjak tahun keenam di Hogwarts nyatanya bukanlah hal yang mudah, Park Sunghoon sedikit banyak merasa terbebani dengan semakin sulitnya tingkatan pelajaran di Hogwarts. Dirinya bukanlah yang terbaik di pelajaran Mantera (karena Jake yang paling menguasainya seangkatan) dan merasa bahwa dirinya menemukan bakatnya terletak pada pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam dan Ramuan. Oh, dan Sunghoon juga cukup tertarik dengan Pemeliharaan Satwa Gaib dan selalu bersemangat untuk mengikuti kelasnya. Apalagi setelah kejadian dimana dirinya mengajak Jake ke Hutan Terlarang untuk melihat bayi unicorn dan nampak sangat menyukainya, itu membuat Sunghoon sedikit banyak bangga dengan dirinya sendiri dan ingin semakin menunjukkan kemampuannya pada Prefek Hufflepuff yang berhasil mencuri hatinya itu.

Setelah kejadian itu, Sunghoon mengajak Jake untuk pergi kencan kedua. Memang bukanlah kencan yang istimewa karena mereka hanya berjalan berdampingan dengan kedua tangan saling bertautan di tepi Danau Hitam. Menghabiskan waktu dengan tertawa seperti orang gila dan saling berbagi cerita untuk mengenal satu sama lain lebih jauh. Sunghoon sangat bersyukur memiliki Jake sebagai pacarnya karena si Prefek Hufflepuff itu adalah satu-satunya orang yang membuat Sunghoon tetap waras saat ia disibukkan dengan segala kegiatan di Hogwarts yang tak jarang membuatnya kewalahan. 

Sunghoon tak melepaskan pandangannya dari Jake saat kekasihnya memegang sesuatu yang nampak seperti sebuah pesawat kecil yang ia buat dari kertas perkamen dan tongkat sihir. Ia melempar pesawat kertasnya ke arah Sunghoon dan menggunakan tongkat sihirnya agar membuat benda itu terbang lebih jauh di udara. Jake membuatnya melakukan beberapa gerakan manuver kecil yang lucu di atas kepala murid-murid Hogwarts yang sedang melangsungkan sarapan pagi sebelum mendarat tepat di depan Sunghoon. Si Prefek Hufflepuff tersenyum lebar dan mengedipkan matanya pada Sunghoon sebelum melanjutkan sarapannya seolah tidak terjadi apapun. Sunghoon mengambil pesawat kertas itu, membukanya secara perlahan hingga membuat Jay yang duduk di sebelahnya ikut mendekat karena penasaran. Aroma parfum Jake yang seperti cinnamon rolls, fresh flowers, bahkan morning breeze yang saling bercampur langsung menyapa penciumannya. Sunghoon ingat sekali dengan harumnya, harum yang sama seperti saat ia dan Jake satu kelompok dalam meramu Amortentia. Sunghoon tak dapat menahan senyumannya ketika membaca tulisan rapi Jake di atas perkamen yang agak kusut akibat lipatannya, di sana tertulis; "Selamat pagi, ular idiot. Rise and shine!!! Here's your daily reminder that I love you♡ Temui aku di menara burung hantu dalam 5 menit. Dari prefie kecil kesayanganmu, Jake."

Oke, kali ini Sunghoon benar-benar tidak dapat menahan senyumannya hingga Jay nampak bergidik di sampingnya melihat Sunghoon tersenyum-senyum sendiri layaknya orang idiot. Sunghoon kembali menilik ke meja Hufflepuff untuk menemukan Jake namun anak itu telah menghilang dari mejanya. Sunghoon tanpa banyak bicara segera bergegas untuk menyusul Jake dengan surat manisnya yang masih dalam genggamannya. Kaki jenjang Sunghoon membawanya melewati halaman kastil dan menyeberangi sebuah jembatan panjang tetapi ia tidak dapat menemukan Jake selama perjalanannya, yang tentu saja membuatnya merasa heran karena Jake pergi secepat itu. Saat Sunghoon menaiki tangga dan masuk ke menaranya, beberapa burung hantu menundukkan kepala dengan ramah untuk menyambutnya. Seruan-seruan burung hantu dan kepakan sayap mereka mengiringi langkah Sunghoon saat ia menghampiri Jake. 

"Hai, ular idiot." Jake menyapanya dengan senyum manis yang menjadi favorit Sunghoon, ia nampak terengah-engah namun tetap membuka lengannya untuk mengundang Sunghoon ke dalam pelukannya.

Park Sunghoon mana bisa menolak. Apalagi ini adalah pelukan dari prefie kecilnya.

"Kenapa kamu kayak kehabisan nafas begitu?" tanya Sunghoon saat ia melangkah untuk mendekap Jake dalam pelukannya. Menghalau angin dingin yang berembus melalui jendela-jendela menara yang tidak memiliki kaca. Menghirup aroma tubuh Jake yang selalu dapat menenangkannya dan menjadi candu untuknya. "Oh! Aku cuma ingin sampai di sini lebih dulu jadi aku lari... cepat!!!" Pengakuan Jake dengan nada suara bersemangat yang lucu lantas membuat Sunghoon tergelak mendapati pacarnya yang sangat menggemaskan.

"Prefie kecil, kenapa kamu lucu banget?" Sunghoon bergumam, ia semakin melesakkan kepalanya ke ceruk leher Jake dan sesekali mengecupinya hingga Jake merasa kegelian. Namun tak lama Sunghoon nampak menghembuskan napasnya berat, "Hari ini aku ada kelas Mantera di jam pertama. Dan ada sesuatu yang menggangguku. Kamu tahu sendiri kan kalo profesor Flitwick itu sangat baik, tapi aku merasa kalo dia mulai muak dengan betapa buruknya aku di pelajarannya." ujar Sunghoon tidak bersemangat. Jake sedikit menjauhkan tubuhnya dari Sunghoon, menangkup wajahnya agar pandangan mereka bertemu. Raut serius tercetak di wajahnya dan Sunghoon agaknya merasa jantungnya berdebar kencang sekali jika melihat Jake sudah mulai serius. Si prefek Hufflepuff masih terdiam dan mengamati wajahnya, sebelum akhirnya membuka bibirnya untuk bersuara, "Jangan meragukan diri kamu sendiri. Kamu itu penyihir yang luar biasa. Hanya karena kamu nggak menguasai salah satu pelajaran bukan berarti kamu nggak hebat." suara Jake mengalun lembut menembus pendengarannya, kehangatan dan perasaan tenang secara perlahan melingkupi Sunghoon setelah mendengar ucapan Jake. 

"Setiap orang punya kemampuan dan kelebihannya masing-masing. Dan kamu punya banyak hal yang bisa kamu banggakan." lanjutnya meyakinkan Sunghoon, "Itu membuatku sedih saat kamu sedih begini." Jake cemberut, senyumannya luntur dan manik kecokelatan jernihnya menyorot sendu. Tanpa perlu mengatakan apapun, Sunghoon segera mendekatkan wajahnya pada Jake dan menjatuhkan satu kecupan di bibirnya. "I love you, prefie kecil. Terima kasih sudah menenangkan aku. Aku beruntung sekali punya pacar seperti kamu." Sunghoon terkekeh, melukis senyuman hangat yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapapun kecuali Jake. 

"I love you too, ular idiot. Dan jangan khawatir! Aku ini hebat dalam hal menjadi pacar yang baik!" seru Jake dengan suara riangnya yang kini telah kembali, membuat beberapa burung hantu berterbangan karena terkejut dengan seruannya, "Dan aku pikir, akulah yang lebih beruntung karena—" kalimat Jake terputus tepat saat kata-kata itu keluar dari mulutnya karena sebuah kotoran burung hantu mendarat di bahunya dan berceceran di jubah Hufflepuff kebanggaannya. Jake tersentak kaget hingga ia ternganga lebar sampai-sampai Sunghoon mungkin bisa memasukkan sebuah kuali dari kelas Ramuan ke dalamnya. Sunghoon segera menjauh dan tertawa keras sekali seraya memegangi perutnya yang bergejolak karena ledakan tawanya yang menggema ke seluruh menara burung hantu. 

"Iya, kamu memang ‘beruntung’." Sunghoon berujar sembari mengusap matanya yang berair setelah ia berhasil menghentikan tawanya. Terkekeh menatap Jake yang masih membeku di tempatnya. Ia mundur selangkah dari Jake karena tidak tahu harus melakukan apa. "Kalau begitu sampai jumpa saat jam istirahat, prefie kecil!" Sunghoon langsung berlari meninggalkan Jake dan tertawa saat mendengar Jake memanggil-manggil namanya dengan si prefek Hufflepuff yang juga berusaha menyusulnya.

"Tunggu aku, ular idiot menyebalkan! Argh! Pokoknya kita jangan pernah lagi bertemu di menara burung hantu!"

 

—fin—