Actions

Work Header

Mimpi

Work Text:

Sudah ketiga kalinya Hwang Simok terbangun dari tidurnya. Ketiga kali pula dikarenakan mimpi buruk yang sama.

Mimpi itu begitu menyeramkan hingga membuatnya menyerah untuk tidur kembali dan memilih untuk tetap terjaga walaupun jarum pendek baru menunjukkan waktu tiga pagi. Simok memegang kepalanya yang masih terasa berat sambil menatap lingkungan di sekitarnya. Infus yang berada di tangan dan bau menyengat obat yang menyeruak menandakan bahwa ia masih di rumah sakit.

Hal terakhir yang ia ingat sebelum berada disini hanyalah lelaki itu sedang berada di Kantor Polisi Yongsan untuk melakukan penyelidikan dan telinganya berdengung tanpa henti. Setelah itu semua menjadi gelap, dan sehebat-hebatnya ingatan yang ia miliki, ia tetap tidak bisa mengingat apa yang terjadi.

Simok bangun besoknya, ketika cahaya matahari sudah tanpa malu-malu masuk lewat jendela kamar rumah sakit. Setelah tersadar sepenuhnya, ia lalu menyibak selimut, mengambil jaket di atas meja, dan segera berlari keluar kamar. Ia begitu terburu-buru untuk berlari, hanya untuk mendapatkan hasil kepalanya terasa berputar dan membuatnya kehilangan kesadaran kembali.

Akhirnya disinilah dia, masih di kamar yang sama, hanya bisa menatap keluar jendela tanpa bisa berbuat apa-apa. Simok tidak bisa menyusup lagi karena setelah mendengar kabar bahwa dia berlari keluar kamar dan tidak sadarkan diri, Kepala Jaksa Woncheol segera meminta rumah sakit milik temannya itu untuk menjaga lebih ketat pintu kamar Simok di ruang VVIP.

Ponsel yang ada di atas meja bergetar sebentar. Simok mengambilnya dan membaca ada pesan dari Janggeon. Pesan itu sederhana, hanya berisi sebuah permintaan agar Simok tidak khawatir dan fokus kepada pemulihan karena tim polisi sudah mulai memiliki titik terang dari keberadaan Yeojin. Simok segera membalasnya dengan mengucapkan terima kasih dan meminta tolong kepada Janggun untuk selalu memberi tahu akan perkembangan kasus.

Simok menutup room chat tersebut. Matanya terhenti pada room chat dengan nama Han Yeojin. Dia membukanya, walaupun sudah tau hanya akan mendapati semua pesannya belum dibaca oleh penerima sejak tiga hari lalu.

Kasus yang sedang ia dan Yeojin tangani memang bukan kasus biasa. Banyak pihak yang terkena imbas dari dibukanya kembali kasus ini. Dalam pihak kejaksaan, kepolisian, bahkan gedung putih. Sebuah kasus yang berbahaya dan penuh resiko, tapi Simok masih sangat ingat bagaimana Yeojin tidak menolaknya sama sekali ketika Simok memintanya untuk membantu.

Yeojin memang sebaik itu, dari dulu dan Simok percaya akan selamanya begitu.

Karena itu, ketika Yeojin dikabarkan hilang tepat setelah ia mengirim pesan kepada Simok bahwa ia merasa ada orang yang mengikutinya, lelaki itu langsung bergegas menuju kepolisian Yongsan untuk mencari bahan penyelidikan.

Simok bekerja tanpa henti. Waktu tidurnya menurun drastis, begitu pula waktu makannya. Baginya, itu semua tidak penting. Dia tau persis siapa lawannya, sehingga ia mengerti tidak ada waktu lagi.

Yeojin harus segera ditemukan, atau perempuan itu tidak akan bisa ditemukan sama sekali.

Saat itulah telinganya berdengung dengan sangat hebat dan membuatnya terbujur di rumah sakit tanpa bisa menyentuh penyelidikan lagi.

Kepala Simok menjadi berat kembali setelah memikirkan Yeojin. Ini salahnya, sepenuhnya.

Seharusnya ia lebih peka bahwa pesan yang dikirimkan Yeojin bukan pesan kekhawatiran biasa. Seharusnya dia lebih mengerti bahwa ada sesuatu yang terjadi kepadanya. Seharusnya ia tahu, bahwa Yeojin tidak baik-baik saja.

Lebih jauh dari hal itu, jika ia tidak mengajak Yeojin untuk membuka kasus kembali, tentu saja Yeojin akan bersamanya saat ini. Memakan ramen dan minum soju berdua, sambil membahas tentang bagaimana tidak adilnya dia dimutasi lagi.

Malam itu pukul 4 pagi, ponsel Simok berbunyi dengan nyaring. Sebuah panggilan masuk dari janggeon, membuatnya dengan cepat menekan tombol hijau. Ada suara tangis di seberang sana, dan orang-orang di belakangnya.

Simok mati-matian untuk tidak berspekulasi.

Dengan bergetar, polisi itu menjelaskan bahwa tubuh Yeojin sudah ditemukan. Sayangnya, di dasar sungai Han. Janggun berkali-kali meminta maaf sambil terus menangis namun tidak direspon sama sekali oleh sang jaksa.

Di sebrang telfon, Simok hanya diam saja.

Dia merutuki keadaan kenapa mimpi buruknya menjadi nyata. Ditemani dengan telinga yang kembali berdengung dan kepala yang kembali terasa seperti berputar.

Simok memang tidak menangis sama sekali, tapi semut di ujung meja kamarnya pun tau, bahwa tepat saat itu, Hwang Simok sedang hancur, sehancur-hancurnya manusia dapat merasa.

____
fin.