Actions

Work Header

Wonderwall

Work Text:

 


 

Incheon Pentaport Rock Festival 2021

 

Presents:

Blurry Pilots – Muze – AIR BOOST – Nations Nut

King’s New Armor – The Thrones – Dirty R!ch – Zummer – Hating Monday

North$ide – Comeback Home – Horse Head

And many more.

 

July 21-22, 2021

Tickets Available At www.pentaportrock.com

 


 

JEON Jeongguk, biseksual, dua puluh tiga tahun, mahasiswa tingkat dua jurusanTeknik Industri Universitas Nasional Seoul dan seorang bassist—vokalis dari band King’s New Armor, tengah berdiri mematut dirinya pada pantulan kaca kamar tidur. Wajahnya terlihat sama sekali tidak ramah, kedua alisnya bertaut kesal. Penampilannya terlihat baik-baik saja seperti biasa, rambutnya memang terlihat lebih panjang dari biasanya, namun tidak ada yang salah dari itu dia tetap terlihat tampan, sangat rupawan.

Band mates-nya memang terlalu berlebihan, meminta Jeongguk untuk memotong rambut panjangnya. Padahal, rambut gondrong bisa menjadi trademark untuknya. Menjadi sebuah branding yang dapat dijual.

Katakanlah, jika Jeongguk sudah mencoba untuk menyanggah teman-temannya. Ingatlah, bahwa seorang bajingan akan berteman dengan bajingan lainnya, begitu pun  dengan Jeongguk, sanggahan dan ucapannya hanya dianggap sebagai angin lalu. “No need trademark” katanya—karena setiap manusia diciptakan berbeda-beda. Limited Edition.

Bullshit!

Semua orang tahu, jika Jeongguk bukanlah seseorang yang percaya akan Tuhan. Mereka beralasan, jika peraturan untuk rock festival nanti meminta Jeongguk untuk terlihat sopan. Demi bokong V BTS yang bulat seperti buah persik segar! Promotor mana yang memiliki peraturan sekelas guru sekolah dasar dan meminta anggota band aliran rock tampil dengan rambut sopan?

Tidak ada! Sebuah omong kosong!

Sekalian saja peraturannya ditambah dengan kuku-kuku jari yang harus dipotong pendek rapi! Tak lupa rambut dengan potongan gaya mangkok yang akan membuat wajahnya semakin terlihat bulat seperti kelapa. Persetan!

Let’s say bahwa teman-temannya memang iri, karena Jeongguk is hella hot dengan rambut gondrong berantakan, with sleeved tattoos around his right arms. Berpakaian selayaknya eboyall black from head to toe. Seperti lirik lagu irresistible dari Fall Out Boy, “Terlihat seperti kota Seattle tapi terasa seperti L.A.” Sebuah penggambaran sempurna untuk seorang Jeon Jeongguk.

Mereka sepakat untuk melakukan voting. Hasilnya satu lawan tiga. Jeongguk harus berlapang dada untuk menuruti yang konon katanya 'keinginan' dari promotor.

Jeongguk hanya dapat menghembuskan asap rokoknya dengan kuat. Kesal dan pasrah. Dengan berat hati, dia memutuskan untuk pergi menuju barbershop esok hari bersama Yugyeom. Sahabatnya itu tahu barbershop terbaik di central, menurut informasi dari sahabatnya bahwa pemilik barbershop yang akan mereka datangi esok hari adalah salah satu temannya di universitas.

 


 

Musim panas tahun ini seharusnya menjadi musim favorit Jeongguk. Karena di musim panas dia tidak perlu bangun di pagi hari, pergi ke kampus dan duduk mendengarkan khotbah dari para dosennya yang berdiri di depan kelas. Seharusnya, rencana memiliki rambut gondrong saat libur kuliah tidak rusak hanya karena sebuah peraturan omong kosong.

Jeongguk benci. Benci sekali karena rencananya gagal. Dia harus mengucapkan selamat tinggal dan bersiap untuk menggelar pemakaman untuk rambutnya nanti dan dia juga harus bangun sebelum jam satu siang. Sungguh terlalu pagi, dia butuh tidur beberapa jam lagi, karena dia yakin sekali jika barbershop milik teman Yugyeom tidak akan tutup pada sore hari.

Tangannya meraih gawai di atas nakas, mencari dan meraba masih dengan kedua mata tertutup rapat. Nahas tangannya hampir menjatuhkan lampu di atas nakas—“Sial!” umpatnya, karena sekarang Jeongguk perlu membuka matanya untuk membenahi lampu yang hampir terjatuh. Setelah selesai dengan drama kecil di dalam kamar yang gelap gulita Jeongguk menyalakan telepon genggamnya, mencoba mengetikkan sebaris kalimat untuk Yugyeom.

“Kita ke barbershop sore saja. Aku masih sangat mengantuk.”

Singkat. Karena sungguh dia masih sangat mengantuk. Selama liburan musim panas, Jeongguk berubah menjadi makhluk nocturnal, alasan yang utama karena jam latihan King’s New Armor dimulai sore hari hingga dini hari. Terkadang Jeongguk dan band matesnya akan pergi ke sebuah pub setelah latihan band mereka selesai, bersenang-senang hingga pub tersebut tutup. Pulang pagi buta dan tertidur hingga siang bahkan nyaris petang menjadi sebuah rutinitas Jeongguk.

From: Yugi

“Baiklah aku akan ke tempatmu pukul 4 sore."

Jawaban Yugi datang dengan cepat, Jeongguk heran bagaimana Yugi yang terbiasa bangun di pagi hari? Padahal selama beberapa hari terakhir mereka menghabiskan waktu bersama hingga fajar menyingsing.

Baiklah Jeongguk masih memiliki beberapa jam sebelum Yugyeom datang ke rumahnya, dia bisa kembali tidur. Memasang pengingat pada gawainya dan kembali tertidur dengan posisi terlungkup tanpa atasan.

 


 

Jeongguk dan Yugyeom, langsung meluncur menuju barbershop menggunakan mobil Jeongguk. Mobil Mercedes Benz hitam mengkilat terawat, nampak seperti baru keluar dari salon mobil. Pemandangan dalam mobil sangat rapi. Aroma kopi dari parfum mobil menyeruak kedalam paru-paru, aromanya lebih menyegarkan dibanding dengan wewangin jeruk. Jeongguk duduk dikursi kemudi dan Yugyeom duduk dengan tenang disampingnya sedang mengotak-ngatik gawai ditangannya. Perjalanan menuju barbershop yang  tidak jauh dari kampus, hanya butuh 15 menit dengan menggunakan kendaraan.

Kim Yugyeom adalah teman baik Jeongguk. Jurusan Teknik Industri di Universitas Nasional Seoul. Seorang drummer dari King’s New Armor. Yugi adalah panggilan akrabnya, mereka berdua seperti partner in crime, kerap kali terlihat bersama di dalam maupun di luar kampus. Hingga berhembus kabar burung yang menyentuh kuping keduanya. Rumor murahan, katanya Jeongguk dan Yugyeom berkencan, yang tentu saja hanya dijawab dengan gelak tawa geli.

"Aku dan Jeongguk itu seperti sisi kutub magnet, S dan S tidak akan bisa saling tarik-menarik.” Sebagian ada yang paham, tidak sedikit pula yang hanya menganga seperti keledai dungu atas jawaban itu.

King’s New Armor terdiri dari empat anggota, didirikan pada tahun 2017 saat semua anggotanya masih duduk di bangku Sekolah Menegah Atas. Membentuk band aliran rock-pop rock ,sebagai pengalihan dari stress akibat terlalu sering menunduk bungkuk untuk belajar.

Pada suatu hari, keempat sekawan itu, terpikirkan sebuah ide gila saat makan siang, untuk membuat sebuah grup band. Sikap impulsive remaja bau kencur, tiba-tiba saja semuanya setuju. Alasan utamanya karena mereka pandai memainkan instrument musik dan memiliki visual sekelas idola. Sebuah modal yang cukup nekat untuk membentuk band. Meniti karir dari mengunggah cover di Youtube, tidak disangka video mereka sempat trending selama satu minggu penuh.

King’s New Armor menjadi salah satu angin segar bagi kaum muda-mudi di Korea, yang sudah bosan dengan musik dari grup idol. Meskipun tidak sebesar mereka yang dibesarkan oleh agensi, namun King’s New Armor dapat menunjukkan taringnya. Berpindah-pindah panggung setiap bulan untuk mengisi acara baik di café atau festival universitas yang ada di seluruh penjuru Korea. Akhirnya, mereka mendapatkan kontrak dengan label musik lokal, sebuah proses panjang, a lot of blood sweat and tears.

It’s all worth it. Hingga saat ini King’s New Armor terus memanjat tangga menuju puncak, banyak sekali tawaran untuk tampil baik di dalam kota maupun luar kota. Membuat dompet mereka menggendut seperti celengan babi milik Jeongguk saat di sekolah dasar.

Perbedaan yang begitu signifikan dibandingkan dengan saat mereka belum aktif menjadi anggota band karena dompet mereka saat ini berisi banyak lembaran ratusan ribu Won.

 


 

“Kita sampai.”

Disinilah mereka berdiri, di depan bangunan tingkat dua berdiri dipinggir jalan. Bangunan dengan gaya vintage minimalis. Desainnya sungguh mirip seperti kafe-kafe di Eropa.

Terdapat plang dengan warna dasar hitam bertulis:

1st floor: Sideburns, Open: 12.00 p.m – 10.00 p.m

2nd floor: Noir Café and Bar, Open: 12.00 p.m – 10.00 p.m.

Di bawahnya terdapat tulisan besar di atas lempeng besi tua hitam berkarat: “We’re open!”

“Masuklah ke dalam, aku akan menunggumu di kafe.” Yugyeom menunjuk ke atas, kemudian berjalan memanjat tangga besi, membiarkan Jeongguk masuk sendiri ke dalam barbershop.

Ingin sekali meminta Yugyeom menemaninya ke dalam, segera urungkan niat saat teringat Yugyeom yang belum memakan apapun sejak kemarin karena sibuk mengerjakan remedial Ergonomi dari dosen Kang.

Jeongguk masih betah berdiri di luar, sepasang matanya mengamati eksterior unik yang berbeda dengan gedung-gedung yang berjejer rapi disampingnya, Sideburns dan Noir Café memiliki kesan vintage. Warm tone mendominasi bagian luar dan bagian dalam. 

Gugup luar biasa. Terlalu lama berdiri kaku menatap bangunan di depannya, Jeongguk memutuskan untuk memasuki salon.  Hidung bangirnya langsung mencium bau amonia menusuk dari cat rambut, bau rambut terbakar karena pengering rambut, bau hairspray hingga bau shampoo. Pun telinganya sangat terganggu dengan suara pengering rambut yang berisik di depan meja rias. Bagian dalam salon terlihat cukup luas, berbanding terbalik dengan apa yang di benaknya satu menit lalu karena dari bagian luar salonnya nampak sempit.

Tiba-tiba syaraf-syaraf dalam otaknya memutar sebuah memori. Memori yang ingin ia kubur dalam-dalam. Membawa kejadian di masa lampau saat dirinya masih duduk dibangku sekolah dasar. Ayah Jeon, mengantar Jeongguk kecil pergi ke salon untuk potong rambut. Tuan Koo—si pemilik turun langsung melayaninya, menyuruhnya untuk duduk depan meja rias.

Jeongguk kecil duduk dengan tenang, tidak ada rasa curiga sama sekali, yakin akan kemampuan Tuan Koo. Namun nahas, hasil potongan rambutnya gagal. Mesin pencukurnya mati. Membikin sebagian rambutnya hilang. Pitak! Sejak saat itu Jeongguk kecil trauma dengan mesin pencukur rambut, Ia lebih suka rambut gondrong, tidak peduli dengan peraturan sekolah atau dimarahi oleh guru BK.

Saat menceritakan hal memalukan ini pada band mates-nya, mereka hanya tertawa hingga punggungnya bongkok.

Jangan harap kau dapat keringanan dari cerita karanganmu itu Jeongguk!” Mereka tertawa kembali, tangan menggebrak meja kantin fakultas hingga menarik perhatian banyak pasang mata yang sedang menikmati santap siang penuh damai.

Sudah dia duga teman-temannya tidak akan percaya. Kini dirinya pun sudah berdiri di pintu masuk salon, tidak ada waktu untuk kembali. Sudah terlanjur bertatap muka dengan satu pelayan wanita sebayanya yang tengah berdiri dibalik meja kasir—

“Halo, selamat datang di Sideburns. Ada yang dapat saya bantu?” Sapanya ramah.

Segera melangkah dengan cepat memasuki salon lebih dalam menuju meja tempat si pelayan wanita itu berdiri. “H-hai aku ingin memotong rambutku… err menjadi lebih rapi.” balasnya gugup.

“Tentu, silahkan anda duduk disana. Kami akan mencuci rambutmu terlebih dahulu.” Si pelayan menunjuk kursi di sudut ruangan.

Badan besarnya digiring menuju tempat cuci rambut. Kursi hitam empuk dengan sebuah bak kecil dibagian belakang. Jeongguk mencoba duduk, kepalanya bersandar pada kursi dengan santai. Si wanita penjaga kasir berjalan mendekat, dia bertugas untuk mencuci rambut Jeongguk dengan sampo. Rambut gondrong hitam legam mulai dibasahi, diberi sampo dan kepalanya dipijat perlahan. Jeongguk menjadi sedikit mengantuk, matanya merem melek menikmati. Setelah selesai, rambutnya ditutupi oleh handuk putih, kemudian Jeongguk digiring menuju meja rias.

“Mohon tunggu, penata rambutmu akan datang sebentar lagi.”

Jeongguk mengangguk. Berharap dia tidak akan menunggu lama, karena sungguh dia sangat gugup. Telapak tangannya basah dan dadanya bergemuruh tidak nyaman untuk berlama-lama di salon.

Tepat setelah si wanita pergi, Jeongguk melihat bayangan dirinya dari cermin besar di atas meja rias. Mengamati air mukanya yang sungguh tidak baik. Matanya tidak dapat fokus, bingung ingin melarikan diri sekalipun dengan handuk masih di atas kepala ia tidak peduli.

Sepasang matanya seketika menangkap seorang laki-laki yang keluar dari ruangan office yang terletak tepat di belakang kasir. Wajahnya sangat rupawan, seperti dipahat langsung oleh tangan dewa. Rambutnya sedikit panjang hitam bergelombang, kulit bersih serupa madu murni keemasan.

Jeongguk terus tatap dari pantulan cermin, matanya turun mengamati bagian belakang laki-laki itu hingga tulang ekor. Kurva bokong dengan nilai seni tinggi, bulat berisi. Terlihat jelas saat si laki-laki rupawan menghadap ke samping saat berbicara dengan wanita yang mencuci rambutnya tadi.

Lekukan tubuh yang sempurna, dia yakin jika laki-laki itu rutin pergi ke gym untuk mendapatkan tubuh ramping dengan bokong bulat penuh.

Menatap dari bayangan cermin hingga matanya juling. Berusaha agar tidak terlalu lama mengamati pipi bokong di bawah sana. Persetan dengan moral. Jeongguk terus mengamati karena sungguh Tuhan benci dengan orang yang mubazir! Pemandangan indah diciptakan untuk dilihat dan dipuji!

Sudah dikatakan bahwa Jeongguk bukanlah seseorang yang religius, namun kali ini dia menutup matanya sekejap untuk berdoa, berharap besar bahwa laki-laki dengan bokong indah itu adalah penata rambutnya, dengan suka rela dia akan meminta dicukur habis rambutnya demi sosok rupawan itu.

Tidak aku hanya bercanda. Aku tidak mau kehilangan rambutku.

Jeongguk dan mulut besarnya. Tentu saja.

“Taehyung ada klien untukmu di meja nomor 7.” ucap si wanita di meja kasir tadi.

Laki-laki yang bernama Taehyung langsung menoleh ke arahnya. Posisi Jeongguk membelakangi Taehyung. Mata kedua bertemu dari bayangan cermin. Taehyung langsung tersenyum kemudian mengedipkan sebelah matanya.

Ah.

Taehyung kembali menoleh pada Momo. “Baiklah, terimakasih Momo.” balasnya ceria. Taehyung mulai berjalan ke arah Jeongguk. Tatapan mata keduanya sama sekali tidak terlepas.

“Halo, kau ingin potong rambut tampan?” tanya Taehyung. Tangannya menyentuh bahu lebar milik Jeongguk dengan jari-jari lentik hasil perawatan di salon. Sedikit tersentak, rasanya seperti tersengat aliran listrik padahal telapak tangan Taehyung tidak bersentuhan langsung dengan kulitnya. Namun, sentuhan Taehyung dilengannya meninggalkan jejak panas.

Taehyung sangat wangi. Jeongguk mencium wangi parfum yang mengudara saat Taehyung berada dalam radarnya. Wanginya manis, menenangkan seperti lavender dan chamomile?

Dia berdeham pelan. “Ehem… aku ingin merapikan rambutku, cukup potong saja sedikit supaya tidak terlalu panjang.”

Taehyung mengangguk, mencoba melepas handuk dikepala Jeongguk. Menyisir rambut basah itu perlahan. Keduanya kembali bertatapan melalui cermin.

Hanya perasaannya atau laki-laki bernama Taehyung ini memang menggodanya? Gesture tubuhnya seperti mencoba menggoda dirinya, anehnya Jeongguk sama sekali tidak keberatan.

Apa karena aku tidak sudah lama tidak melakukan seks dan merasa frustasi secara seksual?

“Kau yakin ingin memotongnya? It looks so good on you! How about getting an undercut instead, hot stuff?” Taehyung kembali mengedipkan satu matanya.

See? He is such a flirt!

Diberkatilah laki-laki bernama Taehyung ini, seketika Jeongguk lupa dengan rasa gugupnya. Sekarang dia mulai merasa panas. Tidak pernah ada yang memujinya dengan rambut gondrong yang berantakan.

“Rambutmu seperti gimbap kau tahu?” Bahkan band mates nya terang-terangan tidak menyukai rambutnya.

“Kau yakin undercut akan bagus untukku?”

Taehyung mengangguk dengan semangat. “Yeah, kau selalu terlihat seksi saat di kampus kau tahu? Aku selalu ingin melihat dirimu dengan potongan undercut.”

Apa katanya? “Apa kita satu kampus?”

Taehyung tertawa, tawanya sangat renyah. Jeongguk jadi ingin membungkam mulut itu dengan mulutnya.

Wait what?

Duh… kita ada di fakultas dan jurusan yang sama, kau tahu? Namaku Kim Taehyung, by the way. Aku berada di kelas A, wajar bagimu tidak mengenali aku, kita berada di kelas yang berbeda dan kau sangat popular, selalu didekati banyak gadis cantik atau laki-laki tampan.” Taehyung memutar matanya sassy dan mengedikkan bahunya agar terlihat tidak peduli.

“Maafkan aku, aku tidak tahu.” balasnya pelan, sedikit merasa bersalah karena tidak mengenal temannya sendiri.

Taehyung mengibaskan tangannya tanda tidak mempermasalahkan hal itu. “Jadi kau ingin potong rambut dengan style seperti apa? Aku suka sekali dengan rambutmu ini, sayang sekali jika dipotong.” jemari Taehyung memainkan ujung rambutnya—“Aku suka pria dengan rambut gondrong.” tambahnya pelan tepat ditelinga Jeongguk.

Apakah Taehyung selalu bersikap seperti ini pada semua pelanggannya? Jeongguk tidak tahu.

Yang dia tahu, dia ingin sekali membawa tubuh itu duduk di atas kedua pahanya, melupakan trauma rambut pitak sesaat kemudian mencumbu liar bibir yang baru saja bersentuhan dengan telinganya. Melakukan seks di atas meja rias dengan wajah menghadap cermin. That’s freaking hot. Bagian pusat tubuhnya mulai berdenyut membayangkan hal-hal yang menyenangkan.

Kembali berdeham ringan, “Yeah like what you said, undercut is okay i guess. Seperti yang kau lihat, aku tidak tahu karena sejujurnya aku tidak ingin kehilangan rambutku.” Hari ini Jeongguk terlalu banyak berdeham. Gugup.

“Lalu kenapa?”

“Kau ini? Ini karena sebuah peraturan bodoh untuk acara festival musik. Promotor ingin aku tampil dengan rambut pendek rapi."

“Aneh sekali! Tapi jangan khawatir! Aku akan membuatmu terlihat jauh lebih seksi.” ucap Taehyung ceria.

Jeongguk hanya mengangguk. Berharap Taehyung memang memiliki skill yang mumpuni sebagai seorang stylist.

Leher Jeongguk mulai ditutupi dengan handuk kering untuk melindungi dari rambut yang berjatuhan. Bagian atas tubuhnya pun ditutupi dengan kain hitam, kemudian kain dijepit dibagian belakang supaya tidak jatuh. Taehyung kembali menyisir rambut Jeongguk, mulai dipisahkan bagian rambut kliennya dengan jepit.

Tangannya menggapai gunting, diarahkan ke bagian sisi kepala. Tiba-tiba Jeongguk merasakan mual, lambungnya seperti diguncang dari dalam. Matanya terpejam erat, menahan nafas, keringat dingin mengucur dari dahi, dia takut kejadian di masa lampau terulang kembali.

Taehyung melihat perubahan air muka clientnya dari pantulan kaca. “Kau oke? Ingin minum sesuatu Jeongguk?” tanyanya khawatir.

“Air… aku butuh air putih.”

Taehyung mengangguk mengerti. “Momo tolong ambilkan aku segelas air putih.” serunya lantang.

Momo langsung berlari mengambil air minum untuk Taehyung, Jeongguk menerima air dan diminumnya hingga habis. “Terimakasih uhm… Taehyung.”

No prob, Ggukie.” Taehyung kembali tersenyum, matanya menyipit lucu dan pipi bulatnya mengembang naik seperti adonan roti saat dipanggang.

Ggukie. He even gave me a  pet name and that’s so cute.

Taehyung mencoba menenangkannya dengan kata-kata lembut, mengusap kedua bahunya yang tegang secara perlahan. Bahkan dia tidak akan masalah jika Jeongguk tidak jadi potong rambut.

Perlahan bahu yang tadinya kaku menjadi sedikit turun, perutnya sudah tidak mual lagi, seluruh tubuhnya rileks berkat bantuan Taehyung.

Saat dirasa Jeongguk sudah tenang, Taehyung memastikan kesiapan Jeongguk, tidak mau jika clientnya kehilangan kesadaran saat sedang dilayani, kemudian dia mulai kembali bekerja. Tangannya masih memegang gunting rambut. “Apa kau baik? Kalau kau tidak jadi potong rambut pun tidak tidak apa-apa.”

No… it’s okay Taehyung.”

“Baiklah. Ingin aku memutar musik agar kau rileks, Ggukie?” tanya Taehyung.

Jeongguk menggeleng.

“Baiklah, usahakan meminimalisir gerakan ya, Ggukie. Kalau kau merasa tidak nyaman bilang padaku oke? Aku takut jika kau terlalu memaksakan diri dan kehilangan kesadaran.” ujar Taehyung sedikit bercanda, dia mencoba mencairkan suasana.

Taehyung menahan kepala Jeongguk untuk tetap tegak. Mulai bekerja memotong rambut. Tangannya bergerak dengan gesit, tahu jika Jeongguk sangat tidak nyaman saat rambutnya dipotong.

Menahan rasa ingin tahu yang begitu besar, sejujurnya Taehyung ingin sekali bertanya namun bukan hal baik untuk ditanyakan mengenai penyebab trauma seseorang.

“Ggukie kau baik?” Taehyung sesekali bertanya memastikan.

Dan Jeongguk akan menjawab, “Tidak terlalu baik, tapi kau bisa terus lanjut memotong rambutku.”

Tentunya, Taehyung tahu jika dia harus mempercepat proses memotong rambut.

Bentuk potongan rambut undercut mulai terlihat, Taehyung benar dia terlihat bagus dengan potongan rambut seperti ini.

Sangat tersentuh oleh cara Taehyung menenangkan dirinya ketika seluruh tubuhnya bergetar kaku mengingat trauma masa lalu.

He saved me.

Jeongguk selalu suka dengan seseorang yang efektif dan efisien, tidak banyak membuang waktu, dan Taehyung masuk ke dalam kategori itu. Dia begitu efisien, tangannya gesit, tidak perlu waktu lama dalam memotong rambut, begitu pun dengan hasil potongan yang rapi cocok dengan wajah clientnya. Jargon Industrial Engineering benar-benar meresap ke seluruh syaraf-syaraf di tubuhnya. Kinerjanya yang optimal adalah sebuah bukti nyata.

“Selesai! Kau suka dengan potongan rambut barumu?” dia bertanya sedikit gugup takut jika Jeongguk tidak menyukai hasil kerjanya.

Jeongguk mengamati penampilannya dengan gaya rambut baru, tersenyum puas melihat pantulan dirinya di cermin.

“Aku suka sekali, Taehyung, terimakasih.”

Clientnya beranjak dari kursi dengan perlahan bersiap membayar setelah Taehyung membersihkan sisa-sisa rambut yang ada di leher maupun baju Jeongguk. “Terimakasih Taehyung, aku suka sekali dengan potongan rambut ini.”

Taehyung tersenyum bangga, “Kau sudah mengatakannya dua kali Jeongguk, tapi terimakasih kembali. Aku senang jika kau menyukaiku—maksudku potongan rambut yang aku buat… yeah.” tertawa canggung. “Kau akan langsung pulang?” tanyanya secepat kilat mengganti topik obrolan.

Ugh dia tidak memanggilku ‘Ggukie’ lagi.

Jeongguk beranjak dari kursi, mencoba mengembalikan fokus pada Taehyung. “Aku akan pergi ke kafe yang berada di lantai 2 untuk menjemput Yugyeom, kau mau ikut Taehyung?” tawarnya ramah.

Mereka berjalan menuju kasir, Taehyung mengikutinya dari belakang. Tangan Jeongguk menggapai dompet di saku belakang, menarik uang dari sana, lalu menyerahkan beberapa lembar Won pada si pelayan wanita bernama Momo.

“Aku kenal Yugyeom! Dia temanku saat SMA, bolehkah aku ikut bersamamu ke kafe? Kebetulan sekali aku belum makan siang.”

Momo mengambil uang dari tangan Jeongguk. Mengutak-atik mesin kasir dan menyerahkan uang kembalian dan struk pada Jeongguk.

“Tentu, kami akan senang kau bergabung bersama kami dan sebaiknya kau segera memesan makanan, jangan sampai perutmu sakit karena tidak diisi.”

Taehyung mengangguk setuju, badannya bergerak ke arah Momo. “Momo aku akan pergi ke Noir. Tolong jaga salon ya.” Momo mengangguk, tersenyum penuh arti menggoda Taehyung yang sedang kasmaran dengan salah satu pelanggannya.

Taehyung yang digoda hanya menggeleng, menahan senyum dengan sekuat tenaga.

 


 

Mereka berjalan beriringan menuju kafe di lantai dua, punggung tangan yang sesekali bersentuhan hingga membuat getar keseluruh tubuh. Jeongguk dan Taehyung tersenyum malu. Mereka berjalan lambat agar dapat berduaan lebih lama sebelum bertemu Yugyeom di dalam kafe.

Bel berdenting di atas pintu saat keduanya memasuki kafe. Noir Café and Bar memiliki gaya kontemporer, banyak lampu dipasang menyesuaikan fungsi antara kafe di siang hari dan bar di malam hari. Dibagian kanan terdapat meja bar yang panjang dekat dengan sebuah panggung.

Yugyeom duduk di meja dekat dengan meja bar, sedang menyantap burger keju berukuran kolosal. Dia melambaikan tangan pada Jeongguk dan Taehyung saat melihat kedua temannya berdiri tegap di bibir pintu kafe.

Mereka berdua berjalan mendekat, kemudian mengambil tempat duduk bersama Yugyeom. “Dia Taehyung, stylist di salon yang ada di ba—.”

Yugyeom langsung menyambar. “Aku tahu, Taehyung dan aku berteman saat SMA dan saat ini kita ada di jurusan yang sama. Hai Taehyung ingin memesan sesuatu?”

“Hai Yugyeom, melihatmu makan burger keju aku jadi ingin memesannya satu. Jeongguk kau ingin pesan apa?”

“Oh aku ingin melihat menu dulu.” Jeongguk melambaikan tangan kepada pelayanan yang berjalan dekat meja mereka untuk meminta menu.  “Kalian satu SMA? Aku bahkan baru tahu jika Taehyung satu jurusan denganku tadi.” Tangannya menerima menu dari pelayan, mengucapkan terimakasih secara lirih.

“Kau memang tidak pernah peduli dengan sekitar kau tahu? Jika kau perhatikan Taehyung cukup popular di fakultas.”

“Kau berlebihan Yugyeom, aku tidak seperti kalian yang anggota band rock. Aku dengar dari Jeongguk kalian akan diundang di acara festival musik rock.”

“Yeah acaranya 10 hari lagi kau ing—.”

“Kau ingin ikut Taehyung?” potong Jeongguk.

Yugyeom mengernyit heran, mengapa Jeongguk senang sekali memotong ucapannya saat ini?

“Ah aku?” Taehyung menunjuk diri sendiri. Jeongguk dan Yugyeom mengangguk. “Aku tidak tahu, aku tidak pernah menonton festival musik rock, takut terinjak.” Taehyung tertawa garing.

Jeongguk dan Yugyeom tertawa, mafhun akan ketakutan Taehyung karena memang benar adanya jika konser music rock selalu ricuh.

“Jika kau ingin ikut, aku akan memberikanmu backstage access, kau bisa menonton di pinggir atau belakang panggung bersama manajer kami.”

Taehyung menyentuh dagunya, gesture berpikir.

Dia imut sekali. Jeongguk tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Taehyung, semakin terkesima dengan laki-laki cantik yang duduk dihadapannya. Sedikit menyesal kenapa baru bertemu saat ini dengannya padahal mereka berdua berada di jurusan yang sama.

Dan Yugyeom menyadari itu, dia sangat menyadari band matenya ini tertarik dengan Taehyung. Tatapan Jeongguk yang tidak pernah lepas dari teman SMA nya. Yugyeom juga tahu selama ini Jeongguk tidak pernah mengajak siapa pun untuk menonton konser King’s New Armor secara langsung.

Sungguh tidak disangka Jeongguk memberikan akses belakang panggung pada Taehyung.

“Akan aku pikirkan terlebih dahulu.”

Mengangguk mafhum. Jeongguk berharap sedikit banyak agar Taehyung mau datang untuk menonton dirinya—maksudnya menonton penampilan King New’s Armor.

Jeongguk memutuskan memesan menu yang pertama kali dia lihat. “Aku ingin pesan ayam pedas dan sekaleng bir.” tersadar jika terlalu lama memilih menu, membolak-balikkan benda itu hingga hafal dengan isinya.

Taehyung mengangguk, mengangkat tangan memanggil pelayan.

Seorang pelayan laki-laki berperawan tinggi besar menghampiri meja mereka, matanya sipit, pipi tembam dan gigi kelinci yang menyembul saat dia tersenyum. Entah mengapa Jeongguk perlu sedikit waspada dengan laki-laki ini. “Hai Taehyung, ingin pesan sesuatu? Seokjin ada di dalam ruangannya omong-omong.”

Siapa Seokjin? Dan kenapa mereka kenal satu sama lain? Tunggu, apa urusannya jika Taehyung mengenal pelayanan kafe yang sangat tampan?

“Halo Daniel, aku kira dia belum sampai, sebaiknya aku menemui kakakku setelah ini.” Taehyung membuka buku menu. “Aku ingin pesan burger keju kolosal, ayam pedas, satu bir kalengan, dan jus strawberry.” ucapnya sembari menutup menu. “Kau ingin tambah sesuatu Yugyeom?”

Yang ditanya hanya menggeleng ringan. “Tidak terimakasih, aku sudah cukup kenyang.”

“Baiklah hanya itu saja Daniel, terimakasih.” Taehyung memberikan buku menu, yang langsung diterima degan senang hati oleh laki-laki itu.

Daniel memeriksa kembali dengan menyebutkan menu yang dipesan oleh Taehyung dan Jeongguk, kemudian beranjak dari sana untuk membuatkan pesanan dari adik bosnya.

Menunggu makanan tiba mereka berbincang seru mengenai banyak hal terutama kuliah, tugas yang menumpuk dan asisten laboratorium yang begitu menyebalkan. Jeongguk kini tahu bahwa Taehyung adalah pemilik sideburns yang ada di lantai bawah, sedangkan lantai 2, kafe Noir adalah milik kakaknya. Kim Seokjin.

Kim siblings memang sudah dididik untuk melakukan bisnis sejak dini, di beri modal berupa bangunan dua lantai dan sejumlah uang yang cukup untuk membuka bisnis oleh kedua orang tua mereka. Seokjin memutuskan untuk membuka kafe dan bar di lantai dua, sedangkan Taehyung membuka salon di lantai bawah. Department yang Taehyung pilih saat kuliah memang tidak terlalu banyak membahas mengenai bisnis, membuka salon pun hanya sebagai hobi pada awalnya karena Taehyung kerap mengganti model rambut.

Tidak banyak yang dia lakukan dalam memasarkan Sideburns dan Noir, Taehyung hanya mengajak teman-teman di universitas untuk memotong rambut di salon miliknya dan makan di kafe Seokjin. Namun tidak disangka dalam waktu singkat salonnya menjadi ramai. Teman-temannya selalu datang mengunjungi Sideburns dan Noir, mereka mengatakan jika pelayanan yang diberikan oleh Kim bersaudara sangat baik dan tentu makanan Noir yang begitu nikmat hingga membikin mereka semua menjadi pelanggan tetap.

Saat ini Taehyung mendominasi percakapan diantara mereka, bercerita mengenai makanan favoritnya di Noir, bahkan dia menunjukkan foto anjing yang dia adopsi sejak tiga tahun lalu. Kim Yeontan namanya, anjing jantan jenis pomerian dengan warna bulu dominasi hitam dan coklat muda. Kedua alis Yeontan berkerut nampak marah, Jeongguk gemas dibuatnya. Hingga Taehyung menawari Jeongguk untuk bertemu dengan Yeontan yang langsung disetujui oleh dirinya. Ajakan kencan secara implisit.

Melihat kedua temannya yang saling tertarik satu sama lain membikin Yugyeom bersusah payah menyembunyikan senyuman geli. Mereka cocok satu sama lain. Dirinya yakin tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk berkencan secara official, lihatlah bagaimana Taehyung dan Jeongguk yang tidak dapat berhenti saling menyentuh lengan masing-masing. Flirty couple.

Dia tidak pernah lihat sisi seorang Jeongguk yang begitu flirty pada siapapun. Jeongguk memang ramah pada teman dan penggemarnya. Namun saat bersama Taehyung, Jeongguk tidak berhenti tersenyum, menyentuh dan tertawa. Gigi kelincinya kerap kali menyembul lucu tanda bahwa dia benar-benar senang dan Yugyeom bahagia jika kedua temannya bahagia.

Musim panas di awal bulan Juli terasa begitu panas hingga meresap ke dalam pori-pori hingga tulang, membikin seluruh tubuh lembab karena keringat karena hawa panas yang terasa bagai percikan api neraka, namun Yugyeom bisa merasakan angin segar musim semi berhembus ringan ke dalam kafe Noir.

Percakapan mereka terhenti saat Daniel datang membawa nampan berisi pesanan Jeongguk dan Taehyung. Meletakkan makanan dan minuman di atas meja bundar secara perlahan, kemudian Daniel menyebutkan kembali apa yang mereka pesan untuk menghindari kesalahan. “Selamat menikmati.” Ucap Daniel ramah. Laki-laki itu langsung berlalu dari sana berjalan kembali menuju belakang kasir.

 


 

“Ayamnya enak sekali.” puji Jeongguk yang tidak dapat berhenti mengunyah makanannya. Kulit ayamnya krispi dan dibalur dengan bumbu merah yang pedas. Sepertinya dia akan pesan lagi.

“Percayalah Ggukie, semua menu yang ada disini tidak ada yang tidak enak. Kau harus mencoba semua menunya.”

Jeongguk mengangguk, berjanji bahwa dia akan datang lebih sering ke Noir kafe. Taehyung mengangguk senang, jika Jeongguk menjadi pelanggan tetap di kafe kakaknya maka Taehyung akan lebih sering bertemu dengannya.

Tepat pukul sembilan malam suasana kafe semakin ramai, meja dan kursi penuh ditempati oleh para pengunjung dan pelayan sibuk berjalan kemari membawa makanan di atas nampan. Taehyung, Jeongguk dan Yugyeom sudah selesai menyantap makanan mereka, perut begah terlalu banyak makan. Semua makanan yang mereka pesan sudah dibayar oleh Jeongguk. Taehyung merasa tidak enak awalnya sedangkan Yugyeom tidak keberatan sama sekali. Jeongguk dengan cepat mengeluarkan dompet dan membayar makanan mereka bertiga.

“Sebaiknya aku dan Jeongguk pulang, kita berdua harus latihan untuk mempersiapkan konser nanti.” Yugyeom mulai berdiri dari kursi, merapikan pakaiannya yang kusut karena terlalu lama duduk.

“Tentu, semangat untuk kalian semua.” Taehyung ikut berdiri dari duduknya.

“Uhm … bolehkah aku meminta nomor ponselmu Taehyung? Supaya aku dapat memastikan mengenai akses belakang panggung di acara festival nanti.” Jeongguk bertanya ragu, mengelus belakang lehernya canggung.

Yugyeom terbahak. Jeongguk sungguh kaku, namun usahanya meminta nomor Taehyung tidaklah buruk.

“Maafkan aku, sebaiknya aku menunggu di  luar saja.” mencoba menahan tawa Yugyeom langsung berjalan cepat ke luar kafe, tidak mau menyaksikan acara PDKT ala anak SMP lebih lama lagi.

Taehyung kaget dan tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, dengan senang hati dia memberikan nomor ponsel pada Jeongguk. “Jangan lupa hubungi aku ya Ggukie.” katanya setelah mendiktekan sebaris nomor miliknya.

“Trims Taehyung aku akan segera menghubungimu.” Taehyung mengangguk, pipinya memerah malu dan dia menyelipkan rambutnya dibelakang telinga.

Keduanya berdiri canggung, ingin bersama lebih lama namun Taehyung harus segera menemui kakaknya di dalam dan Jeongguk harus segera pergi untuk latihan bersama anggota bandnya.

“Taetae!” seorang laki-laki lebih tua dari mereka berdua berjalan mendekat. “Aku sudah menunggumu dari tadi tahu.”

“Maafkan aku, aku sedang berbincang dengan teman-temanku tadi.”  Taehyung menyadari tatapan Seokjin jatuh pada Jeongguk yang berdiri disampingnya. “Kak kenalkan dia temanku, Jeongguk.” dengan cepat Taehyung mengenalkan teman (calon kekasih) pada kakak kandungnya.

“Hai Jeongguk aku Seokjin, kakaknya Taehyung.” Seokjin membawa tangannya untuk berjabat tangan dengan Jeongguk yang langsung disambut baik olehnya.

“Halo aku Jeon Jeongguk.”

“Kak bisakah kau menungguku di dalam? Aku janji tidak akan lama.”

“Tentu aku tidak mau melihat kalian berciuman, sebaiknya jika ingin melakukan itu kau bisa membawa Jeongguk ke dalam kantormu Taehyung.” Seokjin memutar badan melambaikan tangannya kepada sang adik dengan Jeongguk, berjalan menjauhi mereka berdua dengan tawa keras yang menyebalkan.

Shit!

Ingin sekali Taehyung menarik rambut kakaknya. Seokjin sangat menyebalkan, dia selalu menggoda Taehyung, membuatnya malu di depan orang yang dia sukai.

“Err… sebaiknya aku segera pergi.” Kata Jeongguk sembari tersenyum canggung.

“T-tunggu Ggukie.” cegah Taehyung menahan tangannya erat. “Kau melupakan sesuatu.”

Sudahkan Jeongguk mengatakan jika Taehyung itu ada seseorang yang gesit. Dengan secepat kilat Taehyung langsung mencium pipinya. Tidak sampai lima detik, Taehyung berhenti kemudian berlari dengan sekuat tenaga menuju kantor Seokjin.

 


 

Jeongguk berjalan sempoyongan, terlalu kenyang dan dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Taehyung.

“Kau okay buddy, terjadi sesuatu yang menyenangkan di dalam sana?”

“Dia mengecup pipiku.” Jeongguk memegangi pipinya, bertekad tidak ingin mencuci muka selama satu tahun kedepan.

“Taehyung benar-benar memiliki efek yang besar bagimu, hanya kecupan di pipi dan kau sudah teler seperti zombie.”

Yugyeom memegangi sahabatnya, khawatir akan jatuh ke bawah saat melewati tangga besi yang sempit. “Ya aku adalah zombie yang sedang jatuh cinta.”

“Kau sangat menjijikan, kau tahu?”

Jeongguk tersenyum, “Tidak apa-apa demi Taehyung aku rela menjadi pria bucin yang menjijikan.”

Dan Yugyeom dengan sekuat tenaga menahan hasrat untuk melempar Jeongguk dari lantai dua kafe Noir.

 


 

Setelah Jeongguk meminta nomor ponsel Taehyung malam itu, dia langsung mendapatkan pesan dari Jeongguk. Keduanya saling mengeruk informasi. Jeongguk mengetahui jika Taehyung sedang melanjang begitu pun sebaliknya, Taehyung pun tahu jika Jeongguk tidak memiliki kekasih. Semakin instens berkirim pesan, menyemangati satu sama lain, hingga menceritakan banyak hal. Random talk.

Merasa tidak cukup hanya dengan berkirim pesan dengan seseorang yang disukai karena begitu merindu, maka Taehyung dan Jeongguk sepakat untuk saling bertemu di Noir sebelum Jeongguk pergi latihan dengan bandnya.

Selama beberapa hari terakhir Taehyung menjadi sering tersenyum, matanya selalu sibuk melirik notif di ponselnya, menanti pesan seseorang di seberang sana. Bahkan dia memasang nada khusus untuk Jeongguk.

Jimin menyadari itu semua.

You are so whipped.” Satu kalimat dari Jimin yang langsung membuat alis Taehyung mengernyit bingung.

Park Jimin. Taehyung memanggilnya Jim, Jimin, Jimmy atau Jimbo  adalah sahabat Taehyung sejak mereka masih di sekolah dasar. Mereka pergi ke sekolah yang sama sejak sekolah dasar hingga universitas. Keduanya bagai kembar siam tidak mau berpisah dari satu sama lain. Kemana pun Taehyung pergi hampir selalu ada Jimin di sampingnya, begitu pula dengan Jimin. Jika Jimin tidak sibuk dengan kekasihnya maka dia akan sibuk menempeli Taehyung seperti saat ini. Semenjak  Jimin selalu mengunjungi Taehyung di salon, kerap membikin kegaduhan dengan memaksa Taehyung untuk menemaninya ke Noir. Lapar katanya tidak menyantap apapun  sejak kemarin sore. Alhasil Taehyung memarahinya habis-habisan mengatakan bahwa makan adalah kebutuhan dasar manusia.

“Pergilah ke Noir sendiri, aku sedang sibuk.”

“Sibuk apanya? Aku lihat dari tadi kau hanya memperhatikan ponsel ditanganmu.”

“Dia sibuk menunggu kabar dari Jeongguk.” jawab Momo yang langsung mendapat delikan dari Taehyung.

“Tunggu saja pacarmu itu di Noir, toh dia pasti akan ke sana juga untuk makan siang.”

“Dia bukan pacarku… belum.” balasnya pelan.

“Sebentar lagi juga kalian akan pacaran, ayolah kau hanya perlu terpeleset untuk sampai ke Noir.” rengek Jimin, tangan mungilnya menarik-narik tangan Taehyung dengan sedikit brutal.

Sepertinya Jimin memang fans dari anti gravitasi, katakan padanya bagaimana dia bisa sampai Noir dengan cara terpeleset ke lantai dua?

 


 

Jimin mengamati Taehyung selama seminggu ini. Sahabatnya lebih ceria dari biasanya, matanya semakin berkilau terutama ketika Jeongguk membalas pesannya atau datang mengunjungi Taehyung di sideburns atau Noir.

Dan Jeongguk tidak pernah absen untuk makan siang di Noir, mengajak Taehyung untuk makan berdua hingga semua karyawan di sideburns dan Noir tahu jika bos mereka sedang dalam masa PDKT dengan seorang anggota band rock.

—yang mereka tidak tahu saat Sideburns sudah sepi dari pengunjung dan semua pegawai telah pulang, Jeongguk dan Taehyung akan berada di sudut ruangan sharing kiss. Pengering rambut dan seluruh benda mati di dalam salon jadi saksi bisu kedua insan yang sedang dimabuk cinta.

Namun saat digoda karena sering terlihat bersama seperti bayi kembar siam Taehyung hanya mengedikkan bahu acuh— “Chill guys me and Ggukie are just friends.” katanya.

Taehyung benar! Demi pakaian dalam berenda milik Adriana Lima yang begitu cantik, memang belum ada “tiga kata sakral” diantara Taehyung dan Jeongguk, “Kami tidak tidak ingin terburu-buru.” katanya, karena cinta tidak seperti ajang F1.

Ha! bahkan untuk mempersiapkan balapan F1 pun perlu persiapan matang.

Sama seperti Jeongguk yang perlu mempersiapkan untuk menyatakan cinta pada peri cantik tukang cukur rambut dengan bokong bulat penuh.

Ingin sekali Taehyung bercerita pada Jimin mengenai kegundahan hatinya, namun tidak perlu menyewa jasa professional untuk meramal masa depan, sudah pasti Jimin akan memukulnya tepat di bokong. Kanan dan kiri. Karena Jimin cinta keadilan.

Hal itu sama sekali tidak boleh terjadi, hanya Ggukienya yang dapat menampar bokong bulat miliknya—

Dan Taehyung sangat tidak sabar menunggu hari itu tiba.

Sungguh Taehyung sama sekali tidak masalah menjadi masokis ketika seseorang yang sangat keren dan panas seperti Jeon Jeongguk ingin menampar bokongnya. Dia akan menyerahkan dirinya secara sukarela, bila perlu Taehyung akan membuat big banner dengan tulisan “tampar bokong aku dong Ggukie.” ditambah dengan emoji puppy eyes yang lucu.

Ia yakin sekali jika Jeongguk tidak akan sanggup menolak. Hehe.

 


 

Lonceng diatas pintu berbunyi, Jeongguk tiba di Noir dengan pakaian serba hitam.

Taehyung jadi berpikir apakah seluruh isi lemari Jeongguk juga hitam? Bahkan termasuk underwear? Jika iya maka dia akan membelikan satu lusin underwear pink dengan motif cooky si kelinci nakal dari BT21.

Sebelumnya Jeongguk sempat mencari Taehyung di sideburns dengan segera Momo langsung menginformasikan jika Taehyung sedang di kafe saat mereka berdua bersitatap. Meluncur seperti private jet, melangkahi tiga anak tangga secara langsung agar dapat bertemu sang pujaan hati lebih cepat.

Memasuki Noir dan melihat sang pujaan hati sedang mengunyah kentang goreng dengan langkah sebesar batu karang dia berjalan mendekat kemudian mengambil tempat duduk di samping Taehyung dan tak lupa mencuri kecupan di pipi.

Selain Taehyung sangat gesit dan efisien dia juga memiliki refleks yang baik, tangannya langsung memukul lengan Jeongguk cukup keras karena terkejut akan kehadiran Jeongguk yang secara tiba-tiba.

—Jeongguk mengelus bahu yang tadi dipukul sembari meringis pilu. “Maafkan aku sudah membuatmu terkejut.” Taehyung langsung mengelus lengan Jeongguk yang tadi ia pukul, meminta maaf secara lirih.

Jeongguk mengucir rambutnya dan itu bukanlah pertanda yang baik bagi Taehyung. Laki-laki di depannya terlihat sangat panas, mencoba sekuat tenaga untuk tidak bercumbu di ruang publik.

Dan Jimin memutar matanya malas melihat opera sabun di hadapannya.

“Bisakah kalian tidak bermesraan di hadapanku?!”

“Jimin kenapa?” tanya Jeongguk heran, menyomot kentang goreng dari piring Taehyung dengan tangannya yang dihadiahi tamparan kecil dari Taehyung karena dia belum mencuci tangannya.

“Dia sedang PMS.” jawab Taehyung enteng.

“Hey!”

Taehyung dan Jeongguk hanya tertawa, senang menggoda Jimin yang kerap kali ditinggal kekasihnya yang sangat sibuk.

Namjoon kekasih Jimin sudah lulus setahun lalu dan memanglah sangat sibuk. Sekarang bekerja di salah satu industri otomotif sebagai Production Planning and Inventory Control (PPIC). Sedang ada masalah pengadaan bahan baku yang membuat jalur produksi menjadi terhambat di kantornya. Hal ini yang membuat kepala Namjoon seperti dihantam palu besar.

Sebagai kekasih yang baik, Jimin ingin membantu Namjoon. Namun mahasiswa tingkat dua yang minim pengalaman seperti dirinya sanggup melakukan apa?

Memang dasarnya Jimin dan Taehyung itu satu frekuensi. Sebuah saran diberikan oleh Taehyung, yang katanya akan mujarab melebihi apapun. Jimin sebagai sahabat yang baik mendengarkan dengan seksama.

" Beri dia blowjob atau handjob. Menurut penelitian blowjob akan mengurangi kadar stress seseorang.

Diberkatilah Kim Taehyung karena atas sarannya yang begitu menakjubkan Namjoon menjadi sedikit lebih rileks.

 


 

Percakapan didominasi oleh Jeongguk dan Taehyung, tidak apa-apa Jimin senang jika Taehyung senang.

Jeongguk bercerita bahwa dosen Kwon meminta adanya jadwal remedial untuk mahasiswa yang mendapat nilai buruk pada mata kuliah Kalkulus Peubah Banyak. Sekitar 85% semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah itu perlu melakukan remedial. Perlu dipertanyakan siapa yang salah apakah dosen yang tidak mampu mengajar atau mahasiswa yang terlalu bodoh?

Taehyung hanya tertawa menanggapi, tingkah dosen Kwon kadang memang diluar nalar, dosennya itu jarang hadir memberikan perkuliahan pun tidak ada tugas semacamnya. Lepas tangan. Anak-anak lain selalu menyebutnya perawan tua menyebalkan. Beranggapan bahwa dosen Kwon perlu melakukan seks bersama rekan dosen atau siapapun di akhir pekan agar tidak perlu mengeluarkan cakar tajamnya setiap saat.

“Aku benci jadi nyamuk.” gerutu Jimin yang duduk di seberangnya.

Taehyung menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti.

Jimin menghela nafas. “Aku cemburu pada Jeongguk, dia merebutmu dariku. Bahkan kalian melupakan eksistensiku disini dan berbincang berdua tanpa aku.”

Taehyung memutar matanya malas, sahabatnya ini sungguh sangat drama. “Kau seharusnya mendaftar jadi mahasiswa teater Jimin, kau dan drama murahanmu itu selalu membuatku ingin memukul bokongmu.”

Kinky.” Jimin tersenyum konyol. “Tapi tidak terimakasih Taehyung, aku lebih suka jika lengan Namjoon yang besar dan berurat memukul bokongku dan memberikan sedikit atau banyak remasan disana. Aku tidak akan menolak sama sekali jika perlu aku akan menyodorkan bokongku ke wajahnya.”

Ingin sekali Taehyung menyumpal mulut Jimin dengan sepatunya. Demi Tuhan dia sedang makan dan Jimin dengan mulut menyebalkan berbicara tentang bokong yang ingin diberi service oleh pacarnya.

Ugh kau membuatku kehilangan nafsu makan.” Jimin terbahak puas tidak peduli dengan nasib temannya yang kehilangan nafsu makan.

Siang itu dihabiskan mereka bertiga dengan bersenda gurau hingga tiba saatnya Jeongguk untuk pergi untuk latihan bersama anggota bandnya.

“Aku akan menelponmu nanti.” Ucap Jeongguk.

Taehyung mengangguk setuju. “Baiklah aku akan menunggu.”

 


 

Incheon Pentaport Park berlokasi di bagian Selatan Kota Metropolitan Incheon. Dua kilometer dari garis pantai Yeonsu-Gu, tempat diselenggarakannya Incheon Pentaport Rock Festival (festival rock) tahunan di Korea Selatan. Festival musik yang didominasi oleh music rock dan musik electronic.

King’s New Armor is a lucky dog. Park Jihyo—sang manajer memberitahukan bahwa King’s New Armor mendapat tawaran manggung di acara festival pentaport. Mereka akan tampil sebagai pembuka headliner pada hari pertama festival diselenggarakan.

Selama dua bulan semua anggota berlatih dengan giat, mencuri waktu ditengah padatnya kesibukan sebagai mahasiswa, terutama saat mereka menghadapi ujian semester di Bulan Juni. Beruntung karena libur musim panas telah tiba sehingga bulan Juli hingga Agustus mereka tidak perlu repot begadang dan bangun pagi untuk kuliah.

Acara festival dimulai pukul enam sore, namun pentaport park sudah dipadati penonton sejak tiga jam yang lalu. Taehyung mengiyakan ajakan menonton festival di hari ketiga mereka bertemu di Noir.

Jimin mengatakan bahwa jika dia menolak ajakan Jengguk maka akan rugi besar. Dia akan kehilangan kesempatan melihat penampilan Jeongguk dengan man bun ditambah dengan potongan undercut.

Kau yakin tidak ingin melihat Jeongguk tampil di acara festival nanti? Kau akan rugi besar karena tidak akan melihat Jeongguk yang bercucuran keringan dengan rambut undercut dan baju basah yang akan memperlihatkan absnya? Dan jangan lupakan kalau dia punya tato diseluruh lengan kanannya!

Tanpa pikir panjang Taehyung langsung setuju, percaya akan mulut manis Park Jimin mengenai penampilan Jeongguk nanti di atas panggung—

Jeongguk menjemputnya pukul satu siang, terlalu awal memang namun dia dan anggota bandnya akan melakukan soundcheck dan Jeongguk ingin sekali Taehyung—sang pujaan hati datang untuk menonton dan menyemangatinya dari belakang panggung.

Ingatkan Jeongguk untuk meminta kecupan penyemangat sebelum naik ke panggung.

Sebenarnya Taehyung tidak terlalu mengerti mengenai festival music rock karena dia penyuka musik classic, jazz, you name it. Namun melihat Jeongguk begitu bahagia saat menceritakan tentang King’s New Armor with his clear doe eyes and bright smile

Taehyung jadi ingin melihat penampilannya.

 


 

Kini Taehyung mematut penampilannya di cermin, masih ada waktu 30 menit sebelum Jeongguk menjemputnya untuk pergi ke festival.

Sungguh ragu dengan outfit yang akan ia kenakan nanti—

Kau tidak percaya padaku Taehyungie?” Tanya Jimin gemas.

Mereka sedang melakukan panggilan video karena Taehyung meminta bantuannya untuk memilih pakaian.

Dengan senang hati Jimin membantu.

Mempunyai sebuah misi penting seperti para Avengers di Amerika, pun Jimin mengemban tugas yang luar biasa penting—

—yaitu menjadikan Taehyung dan Jeongguk sepasang kekasih setelah acara festival selesai.

Merekomendasi satu outfit yang pernah ia lihat di lemari Taehyung saat dirinya datang berkunjung.

“Aku takut Jimin, maksudku… aku akan pergi ke festival music rock dan pakaian seperti ini seperti tidak cocok.”

Dan menurutmu pakaian seperti apa yang cocok?”

“Entahlah mungkin cukup dengan mengenakan celana jeans dan kaos oblong.”

“Aku tidak setuju, kau akan pergi dengan calon kekasihmu. Pakai pakaian terbaik yang kau punya dan jangan lupa bersolek, aku yakin Jeongguk akan menyukainya.”

“Percayalah padaku Taehyungie.”

—dan Taehyung mencoba percaya sahabatnya.

 


 

Atau tidak.

Ini sungguh seperti mimpi buruk. Tidak seharusnya Taehyung mendengar Jimin, ingin mundur namun sudah kepalang basah.

Jeongguk ada di sana, bersandar di mobil Mercedes Benz hitamnya. Terlihat sangat panas seperti biasa—

Dan dia sudah terlanjut melihat Taehyung. Tatapan Jeongguk seperti menelanjangi dirinya. Membuat tengkuknya panas dan perutnya seperti diserang oleh kupu-kupu imajiner.

Demi Tuhan sungguh Taehyung tidak tahu apakah Jeongguk menyukai penampilannya saat ini atau tidak. Dia ingin lari berbalik menuju rumahnya, mengunci pintu dan tidak mau bertemu siapapun.

Persetan dengan festival, dia takut. Sangat takut.

Sial sekali! Taehyung melihat Jeongguk berjalan mendekat. Langkah tegas bak model runway papan atas. Seharusnya dia segera pergi dari sana, namun kedua kakinya seperti dipaku, tidak dapat bergerak.

Jika kedua kakinya tidak bisa diajak kerjasama dan jika ada yang di kepalanya saat ini dengan Jeongguk mengucapkan hal yang tidak mau ia dengar, maka dia akan memukul Jeongguk dengan segenap tenaga yang dimiliki. Dia masih memiliki sepasang tangan meskipun keduanya tremor hebat.

Setidaknya memberikan satu pukulan pada rahang tegas Jeongguk akan membuatnya puas.

“Taehyung.” gumam Jeongguk lirih.

Oh tidak.

“Kau baik-baik saja? Lihat aku Taehyung.” Taehyung hanya mampu menunduk. Mengamati sepasang sepatu boot hitam bersool tebal yang menutupi pinggiran jeans ketat milik Jeongguk. Enggan bertemu mata dengan sang lawan bicara.

Jeongguk membawa dagu sedikit mendongak, bertemu tatap. Drowning in his eyes.

Saat melihat Taehyung keluar dari pintu rumahnya, ingin ia berlari membawa tubuh itu kedalam pelukan hangat.

Taehyung dengan kemeja satin merah yang dimasukkan kedalam rok hitam yang panjang tidak sampai satu jengkal. Berat hatinya mengetahui bahwa dia akan membawa Taehyung yang begitu mempesona, bertemu dengan teman-temannya atau bertemu banyak orang di festival.

You are so beautiful Taehyungie.” ucapnya lirih menatap kedua mata Taehyung.

“Kau tidak jijik?”

“Apa maksudmu?” tanya Jeongguk tidak mengerti.

“…rok.” gumamnya.

“Sayang tidak! Kau selalu mempesona baik dengan rok atau tidak. Kau takut aku tidak menyukaimu yang menggunakan rok hmm?”

Taehyung mengangguk. “Aku takut kau jijik padaku, seorang laki-laki memakai rok. Aku takut kau malu. Tidak seharusnya aku mendengarkan Jimin.”

“Tidak sayang. Taehyungie dengarkan aku, kau adalah yang terbaik yang telah diciptakan oleh semesta. Bahkan kata-kata indah pun tidak mampu mendeskripsikan bagaimana memukaunya penampilanmu saat ini—

Sungguh kalau bisa aku tidak akan membawamu ke pentaport. Ingin sekali membawamu ke rumahku, memelukmu di atas ranjangku dan bermalas-malasan sepanjang hari.”

Diberkatilah Jeongguk dan mulutnya yang manis, lelaki di hadapannya ini memang berbahaya.

Akhirnya Taehyung sedikit tersenyum, merasa tenang akan kata-kata Jeongguk yang sungguh terdengar sangat gombal.

“Terimakasih.” gumamnya lirih nyaris tidak terdengar.

“Hmm?”

“Kau dan mulut manismu yang ajaibnya membikin aku jadi sedikit percaya diri. Kau yakin tidak malu pergi dengan seorang laki-laki yang menggunakan rok?”

“Yakin sekali! Sebenarnya aku tidak setuju karena akan banyak orang yang manatapmu.”

“Dan mengapa begitu?” Taehyung bertanya keheranan.

“Haruskah aku jelaskan?”

Yeah tentu.”

“Aku cemburu. Aku tahu kita belum berkencan secara resmi tapi untuk menyatakan cinta di depan rumahmu sungguh tidak romantis.”

“Disini pun aku tidak masalah.” Taehyung mengangkat bahunya.

Nope, you deserve the world. I’ll take you to a beautiful place.” balasnya seraya mengecup kedua pergelangan tangan Taehyung—

Jeongguk melirik arloji di tangannya. “Sebaiknya kita pergi sekarang, aku tidak mau Yugyeom menendang bokongku karena datang terlambat.”

Taehyung kembali tertawa, berjalan di sisi calon kekasihnya menuju Mercedes Benz yang terparkir apik depan gerbang.

Dengan sigap Jeongguk membuka pintu penumpang untuk Taehyung, totally act like a gentleman dan Taehyung sangat tersentuh. Menunggu sang pujaan hati menyelipkan tubuhnya ke dalam mobil kemudian Jeongguk menutup pintu secara perlahan.

Mobil Jeongguk sangat rapi, wewangian dengan aroma kopi mengingatkan Taehyung dengan kafe milik Seokjin di pagi hari. Menghirup napasnya dalam-dalam menyimpannya kedalam memori.

Jeongguk berlari ke bagian depan mobil dan membuka pintu pengemudi, menyelipkan tubuhnya di balik setir. Keduanya memasang sabuk pengaman dan Jeongguk memeriksa kaca spion, menyalakan mesin mobil yang berderum pelan.

Mobil Jeongguk mulai berjalan menjauhi rumah Taehyung menuju taman pentaport.

 


 

Sebelum soundcheck, Taehyung digiring menuju ruangan artist. Setiap musisi yang akan tampil di festival pentaport, mendapatkan satu ruangan. Cukup untuk menyimpan barang dan tempat istirahat artist beserta crew.

Sejujurnya Taehyung gugup bertemu dengan teman-teman Jeongguk yang lain bahkan hari ini semua crew King’s New Armor akan mengetahui siapa dirinya.

Tanpa sadar kedua telapak tangannya berkeringat.

Jeongguk tahu jika Taehyung merasa gugup, dia mencoba menenangkannya, menggenggam tangannya yang basah karena keringat, “Don’t worry, you are so lovely Taehyung. Mereka semua akan menyukaimu, don’t worry baby I’m here.” bisiknya lirih kemudian mengecup pelipis Taehyung dengan singkat.

Taehyung mengangguk perlahan, mencoba tenang.

Mereka berjalan memasuki ruang artist, ruangannya cukup besar dapat menampung sebanyak 20 orang.

Semua anggota band King’s New Armor ada disana, termasuk Yugyeom yang sedang sibuk dengan ponselnya.

“Aku belum mengenalkanmu pada Mingyu dan Eunwoo ya?”

Menggeleng pelan Taehyung menjawab, “Belum.”

“Kemari aku akan mengenalkanmu pada mereka.” Jeongguk menarik tangan Taehyung, mereka menyebrangi ruangan penuh manusia.

Cha Eunwoo ada di sana, duduk dengan tenang di meja rias. Dia adalah seorang lead vocalist-guitarist, seorang mahasiswa Material Science and Engineering di Universitas Nasional Seoul, tingkat dua. Dia sungguh rupawan, visualnya seperti seorang idol.

Melihat Jeongguk dan Taehyung berjalan kearahnya, Eunwoo bangkit dari duduknya kemudian mendekat. Membawa tangannya untuk berjabat tangan dengan Taehyung dan memperkenalkan dirinya dengan sopan.

“Akhirnya kita bertemu, aku Eunwoo. Senang melihatmu Taehyung.”

“Senang bertemu denganmu juga Eunwoo.”

Kim Mingyu seorang lead guitarist-vokalis dari King’s New Armor melangkah mendekat. Sebelumnya Mingyu memang sudah mengatakan pada Jeongguk untuk membawa Taehyung ke festival karena dia yang sangat penasaran dengan Taehyung.

Sebenarnya semua member dan crew sangat penasaran dengan sosok Taehyung yang mampu membuat Jeongguk selalu tersenyum tiap kali membuka ponsel. Taehyung yang rupanya seorang owner salon dan memberikan potongan rambut undercut yang keren untuk Jeongguk membuat teman-temannya iri.

Satu informasi yang Taehyung kantongi, ternyata Mingyu dan Eunwoo berada di jurusan dan di kelas yang sama. Sama seperti Jeongguk dan Yugyeom.

Pun akhirnya mereka berdua mengaku jika selalu memaksa Jeongguk untuk membawa Taehyung ke studio—

Yang dimana hanya dibalas dengan dengusan kasar oleh Jeongguk.

Soundcheck tidak berlangsung lama.

Segera setelah selesai mereka semua langsung kembali ke ruangan.

Crew telah menyiapkan makan siang untuk mereka termasuk Taehyung, meskipun bukan bagian dari King’s New Armor namun dia tetap dapat bagian.

Merasa ragu pada awalnya karena dia merasa membuat repot crew yang ada disana. Namun Jeongguk mengatakan bahwa dia yang meminta pada crew untuk membelikan Taehyung makan siang dan beberapa snacks.

Taehyung menemani Jeongguk yang sedang dirias, rambut dikuncir menampilkan dahi lebar bebas dari jerawat dan Taehyung dibuat lemas dengan penampilan Jeongguk saat ini.

Potongan undercut saja mampu membuat badan Taehyung gatal ingin menyentuh rambut itu, menyisir dan menggaruk seperti kucing binal di musim kawin.

Jeongguk memanglah sangat tampan, kedua mata besar berkilau nan tajam, sepasang alis tebal yang rapi, hidung bangir, bibir tipis yang selalu ingin ia kecup, pipi bakpau karena sang pemilik gemar sekali makan dan juga rahang yang tegas setajam batu karang.

Jeongguk adalah definisi dari keindahan, Tuhan pasti menciptakan Jeon Jeongguk saat ia sedang tersenyum.

Penampilan keseharian Jeongguk dan di atas panggung tidak jauh berbeda, hanya saja dia menjadi lebih terbuka. Mengenakan sleevless hitam, ripped jeans abu yang penuh sobekan di sana sini dan sepatu boots hitam setinggi betis bawahnya—

Pun tato di lengan kanannya terekspos jelas and those stupid veins!

Dengan susah payah Taehyung meneguk ludahnya.

Menyebut nama Tuhan berkali-kali di dalam hati padahal Taehyung bukan orang yang religious, hanya Jeongguk yang dapat membuatnya seperti ini.

Apa Jeongguk benar-benar tidak sadar bagaimana penampilannya saat ini?

Benci mengetahui fakta bahwa nanti akan banyak pasang mata yang melihat penampilan Jeongguk di atas panggung.

Matanya terus mengamati lengan kokoh—turun ke pergelangan tangan hingga ke jari-jari panjang—

Otaknya melakukan simulasi bagaimana jemari itu memetik senar-senar bass gitar.

Too bad Taehyung jadi penasaran bagaimana sensasi jari-jari Jeongguk ketika ada di dalam tubuhnya.

Bagian pusat dirinya mulai berkedut, dadanya berdetak kuat, wajahnya merona malu. Taehyung meminta ijin pada Jeongguk untuk ke toilet. Jeongguk dengan sigap menawarkan diri untuk mengantar Taehyung—

“Tidak apa-apa aku bisa sendiri.” Taehyung menggeleng, tentu saja tidak mau diantar oleh Jeongguk, alasan besar yang menjadi dirinya yang hampir muncrat.

Jeongguk hanya mengangguk menyarankan Taehyung membawa ponsel ke toilet karena takut sesuatu yang tidak dikehendaki terjadi.

Sudur matanya mengawasi Taehyung yang berjalan keluar, mengutuk keras rok hitam pendek meskipun Taehyung menggunakan stocking tetapi benda itu tidak terlalu berperan penting dalam menutupi kulit bagian bawah tubuh Taehyung.

Mencoba berpikir apakah keputusannya mengajak Taehyung datang ke festival adalah benar? Laki-laki itu sangat memukau, all eyes on him. Jeongguk tidak suka. 

Ia menghela napas berat, ingin segera mengakhiri kegiatan hari ini agar dia dapat memukul bokong Taehyung yang nakal.

 


 

Jeongguk memang melarangnya berdiri dikerumunan penonton.

"Aku tidak mau kamu terinjak, sebaiknya kamu menonton dari belakang panggung saja." Teringat saat Jeongguk mengatakan hal itu dengan tangan saling menggenggam erat.

Taehyung mafhum, lagipula apa yang Jeongguk katakan ada benarnya juga. Menonton festival musik aliran rock dan bergabung dengan riuh penonton tidak akan menjamin dia dapat pulang dalam keadaan utuh.

Dan Jihyo si manajer King’s New Armor dengan senang hati menemaninya berdiri di belakang panggung untuk menonton penampilan Jeongguk—maksudnya King’s New Armor.

Sebagai pembuka headliner, King’s New Armor akan tampil pukul sepuluh malam. Diberi waktu tiga puluh menit untuk menampilkan lagu-lagu hits dan teranyar dari King’s New Armor.

Seharusnya Taehyung merasa bosan menunggu dari siang hanya untuk melihat penampilan Jeongguk dan teman-temannya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bagaimana sibuk dan berisiknya belakang panggung.

Terlalu banyak teriakan, orang-orang berjalan kesana kemari hingga membikin lorong ruangan artis sesak, pengap oleh bau keringat yang bercampur dengan bau lembab ruangan.

Jihyo meminta Taehyung untuk tetap di ruangan King’s New Armor, toh semua kebutuhan sudah disediakan oleh panitia.

Senang karena semua member dan crew King’s New Armor baik padanya. Rasa cemas diawal sebelum bertemu mereka hilang tanpa bekas, merasa bersyukur karena ia dan Jeongguk dikelilingi oleh orang-orang yang baik.

 


 

Lampu sorot baru menyala saat semua anggota King’s New Armor berada di atas panggung. Ada lebih dari seribu entitas berteriak berteriak memanggil nama setiap anggota, mengangkat banner dengan tulisan penyemangat hingga ajakan seks secara eksplisit. Mereka semua berdesakan. Menari saling membenturkan badan satu sama lain hingga terjungkal. Taehyung dibuat meringis.

Seribu entitas yang ada disana histeris melihat sang idola. Menyanyikan lirik yang sama dengan penuh penghayatan. Ada yang menangis berderai air mata seperti air terjun dan ada yang tersenyum lebar. Tiak menyangkan karena hanya berjarak beberapa kaki dengan idolnya. Mereka menikmati waktu bersama dengan sang idola yang berdiri di atas singgasana.

Terlintas dalam benaknya ingin mencicipi berdiri diantara ribuan entitas itu untuk merasakan euphoria sesungguhnya menonton konser. Bukan dari belakang panggung. Urung saat kedua matanya melihat bagaimana tubuh-tubuh yang lebih kecil tersenggol, menjadi lemah kekurangan oksigen. Dengan sigap security mengangkat mereka. Memisahkan dari kerumunan.

Matanya kini beralih, menyaksikan bagaimana urat-urat punggung tangan Eunwoo saat menyambar mik, Mingyu dan Jeongguk mengayunkan strap yang melilit di tubuh mereka. Bagaimana jemari kokoh itu memetik senar. Dia juga melihat stik drum milik Yugyeom yang melayang-layang di bawah lampu sorot.

Mingyu dan Jeongguk yang paling aktif, mereka seperti diberi obat untuk dopping stamina. Berlari dari hulu ke hilir, memutari panggung. Mengajak penonton bernyanyi, berteriak hingga paru-paru mengkerut dan melompat hingga kepala membentur langit-langit jika bisa.

Dia tidak tahu sudah berapa lagu yang dinyanyikan, dia sangat menikmati menonton penampilan King’s New Armor.

Setiap selesai membawa tiga atau empat lagu mereka mengambil jeda, menyapa penonton. Eunwoo berkata dia sedang dalam mood yang baik, bersyukur karena bandnya dapat tampil di festival pentaport dan bertemu dengan penggemar dan musisi rock favoritnya.

Taehyung mafhum mengapa King’s New Armor terkenal, mereka tidak hanya menjual visual tapi juga menjual talenta.

King’s New Armor tidak hanya membawakan lagu yang mereka ciptakan sendiri. Mengkover lagu milik Teenage Dream milik Katy Perry, I Miss You dari Blink 182 dan Young Blood dari 5SOS—

There’s one more cover song after this break.” ucap Eunwoo memberikan spoiler.

Not gonna tell you guys.” balas Eunwoo sembari tertawa saat mendengar pertanyaan penonton.

Semua member sibuk mengambil nafas, menyeka keringat dengan handuk. Diantara keempatnya bergantian menyapa penggemar.

Saat dirasa sudah siap, mereka kembali ke posisi semula kemudian mengambil instrument masing-masing.

Mingyu mulai memetik gitarnya, tangannya begitu terampil. Yugyeom di belakang mulai memukul cymbal. Lalu Jeongguk bernyanyi—

Today is gonna be the day

That they’re gonna throw it back to you

 

By now you should’ve somehow

Realized what you gotta do

I don’t believe that any body

Feels the way I do about you know

 

Bukan Eunwoo.

Eunwoo mulai mengiringi suara gitar Mingyu dan berbalik badan ke arah Taehyung. Dia berkata dari matanya bahwa ini adalah surprise untuk Taehyung.

Mingyu juga melakukan hal yang sama, mulutnya bergerak mengatakan bahwa lagu ini persembahan untuk Taehyung dari Jeongguk.

‘Ini untukmu’ ucapnya tanpa suara.

Isi kepalanya tiba-tiba terasa kosong. Namun dadanya bergemuruh. Gemuruh yang menyenangkan. Rasanya seperti ingin meledak seperti petasan di malam tahun baru.

Dia tahu lagu ini. Ayah Taehyung sering mendengarkannya di radio ketika sedang menyetir saat mengantarkan Taehyung pergi ke sekolah. Terlalu sering mendengar, Taehyung jadi hafal dengan liriknya—

Wonderwall dari Oasis. Ayah Kim berkata bahwa lagu wonderwall memiliki chords yang mudah, cocok untuk pemula. Taehyung muda hanya mengangguk, acuh.

Petikan gitar milik Mingyu terus mengalun merdu, seharusnya Eunwoo bersiap untuk bernyanyi tetapi pria itu abai. Apa bukan Eunwoo yang bernyanyi? Lantas siapa? Apakah Mingyu?

Kemudian dia bernyanyi. Jeongguk bernyanyi. Secara nyata. Suara alto yang bulat yang membikin seluruh tubuh Taehyung merinding. Bulu kuduknya meremang karena suara merdu pujaan hati.

Seluruh penonton bernyanyi bersama Jeongguk.

 

And all the roads we have to walk are winding

And all the lights that lead us there are blinding

There are many things that I

Would like to say to you but I don’t know how

 

Apa Jeongguk ingin mengatakan sesuatu pada dirinya?

Kedua matanya tidak berkedip sedikit pun, terus memandangi Jeongguk yang bernyanyi dengan mata terpejam. Menghayati setiap bait dalam lagu, menyerapnya ke dalam pori-pori hingga ke relung hati terdalam.

Tanpa sadar Taehyung ikut bernyanyi, Jihyo disampingnya melemparkan senyum lebar.

 

Because maybe, you’re gonna be the one that saves me

And after all, you are my wonderwall

I said maybe, you’re gonna be the one that saves me

And after all, you are my wonderwall

 

Wonderwall. Jeongguk selalu memikirkannya. Sama seperti dirinya.

“Seperti aku.” bisiknya pada diri sendiri.

Apa Jeongguk merasakan hal yang sama dengannya? Dengan seluruh ciuman yang mereka bagi selama seminggu terakhir? Taehyung berharap jika Jeongguk benar-benar merasakan hal yang sama dengan dirinya.

Bukan karena hormon penasaran seorang laki-laki muda.

 

I said maybe, you’re gonna be the one that saves me

You’re gonna be the one that saves me

You’re gonna be the one that saves me

 

Mulutnya sedikit menganga, kedua tangannya saling berkait di depan dada.

Tersentuh dengan kejutan yang Jeongguk berikan. Di hadapan seluruh penggemarnya Jeongguk menyanyikan lagu Oasis untuk Taehyung seorang.

Setelah ini dia harus menebalkan kulit wajahnya dari godaan teman-teman Jeongguk. Lihat saja Mingyu dengan wajah jahilnya yang menatap Taehyung, sangat menyebalkan.

Hingga penampilan Kinag’s New Armor selesai, Taehyung tidak dapat berhenti tersenyum.

Dia mundur kebelakang memberikan akses pada teman-teman untuk pergi ke ruang artis. Ia ingin menunggu Jeongguk.

Dalam otaknya sudah memikirkan hadiah yang akan ia beri untuk Jeongguk. Sebuah kecupan pengganti ucapan terimakasih dan mungkin seks kilat di belakang panggung. Di tempat tersembunyi. Jauh dari keramaian.

 


 

“Apakah aku bisa menggunakan ruangan yang di samping?” tanya Jeongguk pada salah satu crew di belakang panggung.

“Tentu, ruangannya sudah kosong.”

“Tidak apa-apa, terimakasih.” balas Jeongguk kemudian dia membungkuk sopan.

Ditariknya Taehyung menuju ruang kosong. Crew tadi memang benar ruangan yang tadinya dipakai sebagai ruangan rias artis sudah dibersihkan berubah menjadi ruangan kosong, kini hanya ada sofa hitam dan meja rias.

Sebelumnya mereka sudah berciuman panjang begitu Jeongguk turun dari panggung, mengatakan selamat karena konsernya sukses dengan bibir basah yang memerah karena kuluman. Terlalu banyak yang melihat, Jeongguk langsung menarknya mencari ruangan kosong.

Disinilah mereka berada. Sepertinya ruangan ini disiapkan untuk artis, namun tidak jadi terpakai. Jeongguk mencari saklar di dinding.

Begitu lampunya menyala, Taehyung langsung menaruh tasnya di sofa kemudian berjalan menuju meja rias. Duduk di sana seperti tanpa beban, jarinya bergerak mengundang Jeongguk untuk mendekat. Jeongguk yang mengerti langsung mengunci pintu dari dalam, membalikkan badan kemudian berjalan tergesa untuk berdiri dihadapan Taehyung. 

Jeongguk menelan ludah kasar, dilihatnya Taehyung tanpa berkedip. Dia benar-benar terlihat mempesona mengenakan rok hitam pendek, sepasang kaki jenjangnya tertutupi stocking.

You did good Ggukie.” pujinya tulus, Taehyung tersenyum begitu cantik ada rona merah di pipinya. Ingin sekali Jeongguk mengecup pipi bulat itu. Taehyung mencoba duduk di atas meja rias.

Thanks, pretty. You also look really amazing with skirt.” Jeongguk balas memuji dengan tangan yang bertengger apik di atas paha Taehyung yang tidak tertutupi kain.

Am i only look amazing because of the skirt?” Taehyung bertanya menggoda.

Jeongguk langsung menggeleng. “Nope, sweetheart. You always look amazing with or without skirt.”

Thank you, I want to look pretty for you Ggukie.” ucap Taehyung malu-malu. Tangannya bermain dengan rambut gondrong Jeongguk yang basah karena keringat. Taehyung benar-benar mempunyai soft spot untuk rambut gondrong Jeongguk. Beruntung sang pemilik mau menerima saran darinya untuk tidak memotong rambut panjang indah itu.

You always look pretty.” ucapnya cepat. “Dammit, can i kiss you?”

Taehyung menggeleng, “I want to show you something.”

Taehyung mengambil sebungkus rokok di saku belakang celana Jeongguk. Dia tahu Jeongguk adalah perokok aktif. Setiap mereka bertemu Taehyung selalu mencium bau rokok yang bercampur dengan parfum maskulin milik Jeongguk.

Mengabaikan tatapan Jeongguk yang kebingungan, disobeknya segel dengan gigi depan. Taehyung mengambil sebatang rokok, diapitnya diantara telunjuk dan jari tengah. Perlahan namun pasti tangan itu bergerak, mengusap leher jenjangnya turun hingga ke tulang selangka. Jeongguk memperhatikan bagaimana batang rokok menggesek kulit ranum Taehyung.

Tangannya bergerak turun ke dada, ujung rokok dibawa menyapa tonjolan kecil yang tertutupi kemeja satin merah yang seksi. Bersikap adil pada keduanya, rokok berpindah dari timur ke barat. Adam’s apple milik Jeongguk bergerak naik turun, matanya menggelap dan lidahnya mendorong pipi dari dalam mulut.

Terus mengusap pelan dada, kembali lagi naik ke leher jenjang mirip angsa, Ketika mencapai bibir bawah, Taehyung membuka mulut, menjilati kertas rokok dengan pandangan lurus tanpa melepaskan mata Jeongguk.

Jeongguk terdiam kaku, matanya melebar.

Taehyung terus menjilati rokok sampai basah, tidak sadar liur menetes membasahi dagu. Jeongguk langsung mendekat, menjilat penuh nafsu. Kini giliran Taehyung yang terbelalak.

Taehyung menjilat sekali lagi, kemudian rokok diserahkan pada Jeongguk, dikulumnya bagian rokok yang sudah dijilati.

Berniat mencari pemantik api di saku celana, namun Taehyung lebih gesit. Api keluar dari pemantik membakar ujung rokok Jeongguk.

Rokok tersulut seperti nafsunya saat ini. Sepasang matanya makin menggelap seperti malam. Taehyung benar-benar mengeluarkan sisi liarnya dihadapan Jeongguk. Taehyung membiarkan Jeongguk menghabiskan rokoknya. Jeongguk terlihat sangat panas malam ini, rambut gondrongnya masih basah karena keringat selepas perform. Tato dilengan yang terlihat jelas karena Jeongguk hanya menggunakan t-shirt abu-abu tanpa lengan, pipi Taehyung merah.

Taehyung merasa antusias, dadanya berdebar kencang seperti akan meledak, dia benar-benar menginginkan Jeongguk untuk dirinya malam ini. Menyampingkan kata-kata Jimin mengenai aturan bahwa sex dapat dilakukan setelah berkencan sebanyak lima kali. Taehyung adalah manusia yang tidak sabaran, dia tidak mau menunggu selama itu. Saat mata keduanya kembali beradu, jari Jeongguk bergerak mengusap leher Taehyung. Matanya otomatis terpejam, otaknya mencoba merekam rasa nikmat sentuhan jari Jeongguk.

Jeongguk menghisap rokok itu, menghembuskan asapnya ke samping. Membuang rokok it uke lantai, diinjak agar mati. Bergerak semakin mendekat lalu menyerang leher Taehyung dengan mulutnya. Tangannya bergerilya, menjelajah bagian atas hingga punggung Taehyung melengkung.

Membawa kedua tangannya melingkari leher Jeongguk, kaki rampingnya dia geser semakin melebar memberikan space untuk Jeongguk agar merapatkan tubuh keduanya. Tangan Taehyung mengusap undercut Jeongguk, menggaruk halus seperti kucing binal ingin kawin. Jeongguk menggeram dan Taehyung tersenyum menggoda.  

Ggukie, kiss me please.”

Jeongguk langsung menyambar bibir ranum Taehyung. Kali ini Jeongguk memciumnya di bibir dengan lembut. Menghayati. Bunyi kecupan mengisi seluruh isi ruangan. Gesekan kasar terjadi karena bibir Jeongguk yang kering.

Dua belah daging bergerak lamban menekan bibir Taehyung. Merasakan seluruh tekstur masing-masing. Menyecap perlahan layaknya wine mahal. 

Ciuman yang lembut kemudian menjadi liar, kedua lidah saling bergesekan. Mendorong masuk, berpagut dan melenguh ringan. Taehyung merintih saat Jeongguk menggigit bibir bawahnya erotis. Jeongguk merengkuh Taehyung semakin rapat dan kuat, mendorong hingga punggung membentur cermin di meja rias. Kedua tangan merangkul leher Jeongguk, mencari penopang, tangannya refleks menggaruk rambut undercut Jeongguk. Tangan kokoh mengusap pinggul hingga turun ke bawah menuju pusat tubuh Taehyung yang tertutupi rok.

Taehyung mendesah disela ciuman. Hanya berciuman dengan Jeongguk dan dia sudah merasa sangat basah. Refleks, pinggulnya mulai bergerak menggeliat maju-mundur dengan menggoda.

Jemari Jeongguk bergerilya mencari sesuatu di balik roknya. Taehyung mengerti, segera melepaskan pagutan keduanya. Menyingkap rok ke atas, mengangkat bokongnya dengan kedua tangan yang menumpu seluruh bobot tubuhnya. Jeongguk membantu melepas lace underwear hitam. Ditaruhnya underwear tipis di atas meja rias.

Ditatapnya selangkangan Taehyung lama, seperti mengamati hasil karya dari pelukis terkenal di Museum Louvre. Memperhatikan setiap tekstur dan warna yang tersaji. Taehyung merasa semakin panas.

Sepasang mata berkilat tajam, jemari tangan Jeongguk menyentuh kulit yang panas membara. Bergetar, Taehyung ingin menjerit keras ketika Jeonguk mulai mengocok.

Bibir Jeongguk yang hangat dan basah kembali menyusuri leher jenjang milik Taehyung.

Taehyung mendengar bunyi basah di bawah sana, teredam oleh telapak tangan Jeongguk yang dingin karena keringat.

Jeongguk menambah tempo. Nafas Taehyung mulai tersenggal lemah. Ia hampir sampai hingga—

—tiba-tiba tangan Jeongguk berhenti. Taehyung mengumpat.

Laki-laki panas yang brengsek di hadapannya hanya tertawa. Jeongguk mengangkat tubuhnya, kedua tangan menyangga bokong Taehyung, kemudian sedikit memberikan remasan di sana.

Taehyung loves it so much.

Bibir saling berpagut kembali. Berpindah tempat tanpa melepaskan ciuman. Jeongguk duduk di atas sofa, dipangkunya Taehyung di atas paha yang sekal.

Bokong Taehyung langsung bersentuhan dengan paha Jeongguk karena pria itu menggunakan jeans dengan sobekan besar di paha.

Jeongguk melepaskan pagutan, ditatapnya dalam mata Taehyung. “Taehyung baby, I-I want you. Can i?”

Taehyung hanya mengangguk.

Pangku-pangkuan atau cuddling di atas sofa empuk, Jeongguk memangku Taehyung, tangannya meraba dan meremas bokong Taehyung gemas, pancingan karena ingin mendengar Taehyung merintih dan meliuk.  Bibirnya menyapu seluruh wajah Taehyung, turun ke leher. Menjilati dan mengisap mencoba membuat tanda disana. Tangannya membuka kancing kemeja Taehyung hingga terlihat dada dengan puting yang mengeras. Bibir pria itu berpindah ke dada, mengisap dan menggigit. Meminta Taehyung untuk memegangi kemejanya sendiri agar tangannya dapat bergerak ke arah belakang untuk menangkup bokong besar. Taehyung menggeliat, refleks kakinya semakin melebar mengangkangi Jeongguk.

Jari Jeongguk tiba-tiba masuk ke dalam mulutnya. Mengulum ketiga jari besar itu tanpa melepaskan pandangan keduanya.

Dirasa cukup basah, jari-jari itu dibawa ke bagian belakang. Mengusap kerutan di balik celana dalam. Taehyung hanya sanggup menutup mulut. Bergetar dari ujung jari kaki menjalar hingga ke kepala. Taehyung merasakan pusat dirinya penuh.

Perlahan Jeongguk menambah jari, mengapai titik ternikmat. Taehyung berteriak, mendesah keras, dadanya membusung ke arah wajah Jeongguk yang disambut dengan suka cita oleh pria itu. Jeongguk mengeluarkan jarinya, memasukkannya kembali hingga membuat Taehyung semakin bergetar.

Tiga jari dan Tahyung merasa sudah penuh. Jeongguk tidak mau terburu-buru karena takut Taehyung merasakan kesakitan. Memutuskan untuk melakukan foreplay lebih lama, agar tubuh Taehyung menjadi lebih rileks dan terbuka untuknya.

“Taehyung.” Jeongguk berbisik panas di telinganya. Ia tidak dapat berkonsentrasi, nafasnya memburu. Taehyung tersenggal kuat, lagi-lagi ia hampir mencapai batas. Kembali mengecupi seluruh wajah Taehyung, turun ke leher. Bermaksud memberi tanda disana. Satu, dua, tiga tanda sudah dibubuhkan. Mulutnya mulai turun kembali menyapa tonjolan mungil di dada.

Taehyung menggigit bibirnya keras, tidak peduli jika bibirnya berdarah. Ingin berteriak sekencang mungkin. Dibawah sana jemari Jeongguk tidak berhenti bergerak, menekan titik prostatnya, terkadang melenceng agar Taehyung protes padanya.

Seluruh syaraf tubuhnya merasa tegang, pusat kelaki-lakiannya ingin muncrat melepaskan beban.

“G-ggkuie.” Ucapnya dengan nafas tersenggal seperti tersedak.

It’s okay, you can cum now baby.”

Seperti sebuah mantra, Taehyung langsung melakukan pelepasan. Mengotori perut dan kaus Jeongguk.

Nafasnya terengah. Mengais oksigen dengan brutal.

You are so pretty baby. Taehyungie is so pretty. Taehyungie doing a good job.” puji Jeongguk mengusap rambutnya sayang.

Dibuat lemas karena Jeongguk tidak pernah berhenti memujinya. Taehyung sungguh merasa cantik. Ia mengecup Jeongguk sebagai ucapan terimakasih.

Kedua lengan yang mendekap Jeongguk erat perlahan mengendur, menaikkan kaus Jeongguk hingga ia melihat putingnya. Ia melakukan hal yang sama. Tidak mau kalah. Mengecupi leher putih Jeongguk yang penuh keringat, tidak ada rasa jijik sedikitpun.

Mengecup, menjilat dan menggigit leher Jeongguk. Dia memberi tanda kepemilikan disana. Kulit putih yang kontras. Sangat cantik. Jeongguk seperti kanvas putih yang diberi cat merah keunguan.

Ciumannya turun kebawah, menuju rahang tegas dan leher yang seksi, terus turun ke dada yang terbentuk hasil gym bertahun-tahun. Ciuman terus turun hingga sampai ke perut. Jeongguk menahan nafas. Taehyung menjilat rambut halus di bawah pusarnya.

Bertumpu dengan kedua lututnya di atas lantai. Membuka kaki Jeongguk lebar kemudian menyisipkan badan rampingnya di antara kaki Jeongguk. Tangannya dengan sigap membuka sabuk hitam Jeongguk, melepas kancing celana dengan tangan sedikit gemetar.

Membantu Taehyung dengan membuka zipper celananya. Membukanya hingga mata kaki.

Taehyung berulang kali menelan ludah, wajahnya menghadap selangkangan Jeongguk. Jantungnya menggebu ribut. Tangannya memegang ereksi Jeongguk, merasa takut dengan ukuran Jeongguk yang lebih besar darinya.

Dengan tangannya yang berkeringat, Taehyung mencoba mengusap perlahan. Dadanya masih bergemuruh, dia mencoba memberi kecupan-kecupan ringan di bagian ujung.

Perlahan mencoba membuka mulutnya lebar-lebar, memasukan ereksi Jeongguk ke dalam mulutnya.

Fokus melakukan oral, matanya sesekali menatap ekspresi wajah Jeongguk. Ingin tahu apakah laki-lakinya merasa nikmat diberi service oleh mulutnya?

Jeongguk mendesah lemah, merasakan nikmat dari ujung kepala hingga ujung jemari kakinya karena mulut Taehyung yang sedang membungkus ereksinya. Kepalanya bersandar pada sofa, menengadah dengan kedua mata terpejam.

Tangannya memegang kepala Taehyung, membantunya bergerak naik turun. Mulutnya dibuka semakin lebar, berhasil menelan hingga separuh ereksi milik Jeongguk. Terasa penuh dan sesak. Kepalanya naik turun semakin lama semakin cepat.

Mulutnya mulai pegal, namun Taehyung tetap bertahap.

Nafas Jeongguk mulai tersenggal. Taehyung sudah merasa siap. Mulutnya berenti memberikan blowjob. Jeongguk mengangguk mengerti. Taehyung mencoba berdiri. Tangan kanan mencoba menggapai tas hitam berniat untuk mengambil kondom dan cairan lubrikan di dalam sana.

Taehyung membuka kemasan kondom dengan gigi kemudian dipasangnya kondom itu di pusat tubuh Jeongguk. Taehyung membantu menuangkan lubrikan sedikit banyak. Kakinya melebar mengangkangi tubuh Jeongguk. Mencoba memposisikan Jeongguk, Taehyung menaikkan roknya hingga bagian bawah tubuhnya terlihat jelas, memberi akses Jeongguk agar dapat masuk ke dalam dirinya. Mengumpulkan nyali, Taehyung akhirnya menurunkan tubuhnya perlahan-lahan.

Meringis perih. Jeongguk memintanya bernafas dengan tenang, rileks. Mengecupi seluruh wajah Taehyung bermaksud mengurangi rasa sakit. Sebenarnya tidak bereda jauh dengan Taehyung, Jeongguk memejamkan mata, mengernyit, merasakan sakit. Alisnya saling bertaut. Kedua tangan Jeongguk bertengger di pinggul Taehyung kemudian diremasnya pelan. Saat Taehyung sudah mulai tenang, dia mulai menggerakkan tubuhnya naik-turun. Menggenjot, lama kelamaan temponya semakin cepat.

Mereka berdua melakukan seks tanpa melepas pakaian sehelai pun. Hanya underwear Taehyung saja yang sudah terlepas. Urgent. Biarlah yang terpenting kegiatan seks setelah ini tidak perlu menahan diri.

Taehyung ingin bertanya, apakah dirinya dapat membuat Jeongguk merasa nikmat atau malah merasa sakit terjepit diantara otot-otot bagian bawahnya? Urung bertanya Taehyung mendapatkan jawaban saat Jeongguk ikut mendesah bersamanya.

Pipi bokong Taehyung kembali diremas, dan dibuka lebar. Taehyung semakin bersemangat, menambah tempo gerakan. Sofa empuk digenjot naik turun. Berdecit. Taehyung menjerit tertahan saat Jeongguk membantunya menggenjot dari bawah. Kedua organ saling bertubrukan keras. Taehyung menjerit.

Jeongguk terus menghujamkan miliknya sambil terus meremas bokong Taehyung, sesekali ditampar bokong padat itu cukup keras. Meninggalkan jejak kemerahan. Bukannya merasa sakit, Taehyung malah mendesah nikmat meminta lebih.

Jeongguk menggeram rendah dan memasukkan miliknya semakin dalam.

Taehyung yang sudah mulai lemas mulai melingkarkan kakinya dipinggul Jeongguk. Memberi kuasa penuh pada Jeongguk bergerak menghujam dirinya sampai titik yang terdalam. Tangannya memeluk Jeongguk erat, mencakar punggung Jeongguk yang tertutupi kain. Sesekali bibirnya mencium bibir atau leher Jeongguk dengan rakus.

Saat Taehyung akan menjerit keras karena Jeongguk menumbuk kelenjar nikmatnya dari dalam. Dengan sigap Jeongguk menutup membungkam mulut Taehyung dengan cumbuan. Mereka tidak boleh terlalu berisik.

Mereka harus berhenti, waktu sudah berjalan cukup lama. Tidak mau menimbulkan kecurigaan pada crew atau band matesnya yang lain. Jeongguk meminta Taehyung untuk menjeput klimaks bersama, menghitung sampai tiga hingga mereka melihat putih. They both catching breath.

“Taehyungie sangat hebat, kau cantik sayang. Sungguh cantik.”

Taehyung mengecupi seluruh wajah Jeongguk, memujinya seperti yang Jeongguk lakukan padanya. Berterimakasih atas seks yang begitu menakjubkan. Keduanya saling melempar senyum.

Taehyung menyandarkan tubuhnya pada Jeongguk. Being super clingy. Jeongguk memeluk Taehyung, mendekapnya erat.

“Sorry, harusnya seks pertama kita dilakukan di tempat yang lebih romantis.”

That’s okay, kita bisa melakukan ronde kedua di rumahku atau hotel.” balas Taehyung ringan, dia kembali mengecup bibir Jeongguk yang membengkak merah. Bibir Jeongguk yang tipis menjadi candu untuknya.

—sepertinya berciuman dengan Jeongguk akan menjadi hobi terbarunya. Ditambah dengan seks penuh gairah. Jemari lentik milik Taehyung membuat pola acak di atas dadanya. Jeongguk menagkap jemari itu dan dikecupnya penuh sayang.

Taehyung terkekeh.

“Jika seks nanti bisa menjadikan aku kekasihmu maka aku setuju.”

Taehyung tertawa. “Tidak jadi menyatakan cinta di tempat yang bagus?” tanyanya masih teringat dengan perkataan Jeongguk di depan rumahnya.

“Aku yakin kamarmu lebih baik daripada halaman rumah.” Jawab Jeongguk asal.

Keduanya tertawa terbahak karena jawaban Jeongguk.

“Let’s go home then.”