Actions

Work Header

soft chili?

Work Text:

Tak bisa dipungkiri, Zhongli benar-benar terkejut ketika Childe memutuskan untuk menetap di Liyue lebih lama dari yang seharusnya. Setelah semua yang terjadi ia kira Childe akan pulang ke Snezhnaya tanpa bilang-bilang tetapi perkiraannya terbukti salah.

Zhongli tak menduga namun tak juga kecewa ketika hubungan mereka kembali seperti biasa setelah perbincangan serius di antara keduanya. Satu-satunya yang berubah ialah kini mereka memiliki pertarungan mingguan—seperti yang Childe ajukan ketika mereka pertama kali berbicara setelah Zhongli kehilangan gnosisnya. Permintaan Childe itu, yang mengejutkannya, langsung diterima oleh Zhongli. Meskipun heran tetapi Childe tak bertanya lebih lanjut dan melanjutkan makan malam mereka.

Walau Childe bertanya sekalipun Zhongli kemungkinan akan mengelak dan mengganti topik. Ia tak mau mengakui kalau dirinya suka melihat binar senang di mata laki-laki itu ketika menemui lawan yang sebanding. Zhongli suka raut muka Childe ketika ia bertarung, bagaimana dirinya tersenyum lebar, bagaimana terkadang ia mengeluarkan tawa kecil (yang selalu bisa membuat lengah Zhongli), dan bagaimana Childe tanpa sadar menggigit bibir bawahnya ketika lawannya tak kunjung tumbang. Menurut Zhongli yang terakhir itulah yang paling mengganggu fokus.

Sebagai seorang mantan Dewa Perang, Childe sangat menarik perhatiannya. Kesukaannya terhadap perkelahian membuat Zhongli mau tak mau teringat akan dirinya dahulu. Terlepas dari hal itu sebenarnya Childe bisa dikategorikan sebagai seseorang yang riang. Ia mudah tersenyum (walaupun terkadang matanya tidak melakukan hal yang sama) dan banyak bicara. Childe bisa mengendalikan alur sebuah percakapan dengan mudahnya dan bisa juga mengakhirinya dengan sama mudahnya.

Mau tak mau Zhongli menyadari kalau ketika berduaan dengannya, Childe membiarkannya yang mengendalikan percakapan. Mendengarkannya berceloteh soal tradisi-tradisi Liyue yang sebenarnya sudah dilupakan dan hal lain yang bersangkutan dengan Liyue.

Karena dualitasnya itulah Zhongli menganggap Childe menarik, tak seperti yang lain. Walau begitu Zhongli juga beranggapan kalau terkadang Childe terlalu keras kepala dan menyebalkan—bersikeras untuk tetap ingin bertarung walau kondisi tidak memungkinkan.

Xiansheng.” Lagi, panggilan Childe diabaikan Zhongli. Ia terus saja berjalan dengan mengabaikan tatapan orang-orang juga rengekan Childe. “Zhongli xiansheng, turunkan aku.”

“Tidak.” Jawaban Zhongli tetap sama semenjak beberapa saat yang lalu. Ia menyesuaikan ulang posisi Childe di genggamannya yang lantas membuat Childe menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan. Jika saja Childe tidak dipenuhi luka dan darah, orang-orang pasti mengira mereka baru saja melakukan hal yang lain karena baju keduanya yang berantakan.

Zhongli mempercepat langkahnya ketika Childe melihatnya dengan wajah memerah dan kedua mata yang sedikit berair lalu berujar, “Zhongli xiansheng, kumohon.”

Diam-diam Zhongli mengutuk dalam hati. Sengaja pasti.

 

 

Childe terkekeh ketika Zhongli mendudukkannya di sofa dan dengan cepat membuka bajunya yang hampir tak berbentuk begitu sampai di Wangsheng Funeral Parlour. “Tak sabaran sekali,” ucapnya dengan nada menggoda sambil memain-mainkan dasi kekasihnya yang sudah agak longgar.

Zhongli menghela napas. “Childe, jangan sekarang. Kau penuh luka.” Sang mantan Geo Archon beranjak ke suatu ruangan setelah mengobati luka-luka di tubuh kekasihnya. Mungkin sekali-kali Zhongli harus menolak ajakan Childe untuk bertarung, ia tak tega dan terkadang merasa bersalah ketika melihat laki-laki berambut ginger itu penuh luka karena dirinya. Di sisi lain Zhongli tak ingin menahan diri ketika bertarung karena ia tahu Childe akan merasa tersinggung.

“Minggu depan sebaiknya kita tidak bertarung dahulu, sebaiknya kita tunggu saja sampai luka-lukamu sembuh,” katanya ketika kembali berhadapan dengan Childe sambil membawa satu set pakaian, wadah berisi air, handuk, dan kotak P3K. “Lagipula baju-bajumu hampir semuanya rusak karena ini. Akan sangat disayangkan jika satu pakaianmu rusak tiap seminggu.”

Childe mengangkat lengan kanannya membiarkan Zhongli menempelkan handuk basah ke luka-lukanya. Selain keluarganya, Zhongli mungkin satu-satunya orang yang pernah merawatnya sampai seperti ini. Di Fatui biasanya Childe akan mendatangi dokter yang bertugas di sana dan perawatannya sama sekali tidak lembut, sama sekali tidak penuh perhatian, sangat berbeda dengan sentuhan Zhongli.

Childe mengangkat bahu seolah-olah itu bukan masalah. “Bukan masalah, aku punya banyak Mora.” Ah, benar juga.

Zhongli mengernyitkan dahi tak setuju. “Jangan menghabiskan uangmu hanya untuk itu.”

“Memangnya xiansheng berhak berbicara begitu?” tawa Childe.

“Kalau begitu kenapa kau tidak membeli pakaian baru?”

“Bukannya xiansheng tahu? Aku lebih suka pakaian xiansheng.”

Tiap pakaian Childe rusak entah karena bertarung atau hal lain, Zhongli akan memberikan Childe pakaiannya sebagai ganti. Lalu ia akan membelikan Zhongli set pakaian yang baru dan membayar juga pakaian yang Zhongli pilihkan untuknya, begitu seterusnya.

Tetapi mungkin Zhongli akan berhenti memilihkan pakaian Childe. Ia juga lebih suka ketika kekasihnya itu mengenakan pakaian miliknya yang agak kebesaran walau postur tubuh mereka berdua mirip.

Childe terlihat lebih … menggemaskan ketika memakai pakaiannya. Pernah ia mengutarakan hal itu pada kekasihnya dan disambut dengan kernyitan di dahi, pertanda bahwa Childe tidak begitu senang disebut menggemaskan.

 

 

Zhongli menyentuhkan kapas yang beralkohol ke luka Childe dengan perlahan sembari sesekali melirik wajah Childe khawatir. Senyuman Childe tak kunjung luntur, dia sudah terbiasa dengan rasa sakit dan Zhongli seharusnya sudah tahu akan hal itu. Ia mungkin hanya akan mengernyit ketika sebotol alkohol dituangkan ke luka-lukanya, Childe sudah pernah merasakan sakit yang lebih parah dari itu.

Zhongli mulai membalutkan perban ke bagian yang terluka sementara Childe berceloteh soal keluarganya di Snezhnaya. Suara Childe sangat menenangkan tetapi perhatian Zhongli teralihkan ke tubuh kekasihnya yang penuh akan bekas luka dan dada bidang Childe. Seperti yang diharapkan dari seorang Harbringer Fatui termuda.

Tanpa sadar Zhongli jadi meraba perut Childe yang berbentuk, tak menyadari seringaian lebar yang diukir kekasihnya. “Like what you see?”

Sang mantan Geo Archon tersentak seolah baru menyadari perbuatannya, tetapi ia tak kunjung menarik tangan dari sana dan mengangguk menjawab Childe. “Tapi kau memiliki banyak sekali bekas luka, aku tidak menyukai itu.”

“Aku menyukainya,” ujar Childe yang kini jadi memperhatikan tubuhnya sendiri. “Kuanggap ini semua sebagai kebanggaan tersendiri.”

Zhongli menghela napas. “Ini terlalu banyak Childe.”

“Tak apa, ah.” Kedua tangan Childe bergerak menangkup wajah Zhongli. Iris sewarna biru laut beradu tatap dengan iris amber. “Kan ada xiansheng yang akan selalu merawatku.”

Zhongli meletakkan tangannya di atas tangan Childe dan mengusapnya pelan. “Usahakan jangan sering-sering terluka, kau membuatku khawatir.”

“Iya, iya~”

 

 

Childe mengganti pakaiannya tanpa beranjak sedikit pun sementara Zhongli meletakkan kembali handuk dan kotak P3K ke tempat sebelumnya. Ketika Zhongli kembali, ia tak bisa menahan senyuman yang terbit di wajahnya.

Childe benar-benar terlihat menggemaskan mengenakan pakaiannya. Cocok sekali dengannya walau Zhongli yakin pakaian apapun akan terlihat pas ketika dikenakan sang kekasih. Lengan baju Zhongli sedikit lebih panjang sehingga hanya jari-jari Childe yang terlihat. Bagian bawah Childe tak nampak meskipun ia hanya mengenakan baju atasan tanpa bawahan.

Laki-laki berambut ginger itu menoleh pada kekasihnya di sisi lain ruangan dan mengernyit mendapati wajah memerah Zhongli. “Xiansheng,” panggilnya. “Jangan katakan.”

Sayang Zhongli sepertinya tak mendengar peringatannya. “Childe, kau …”

“Tidak, xiansheng. Jangan katakan itu.”

“Childe kau sangat menggemaskan.”

Tatapan tajam dilayangkan pada Zhongli tetapi ia tampak tak sadar dan berjalan mendekat memeluk Childe. “Aku suka Childe yang seperti ini.”

Childe hanya bisa menghela napas dan balik memeluk. “Xiansheng mungkin orang pertama yang bilang begitu padaku. Orang-orang selalu bilang aku ini menyeramkan.”

Childe menyeramkan? Mereka belum pernah melihat Morax dahulu ketika melangkah ke medan perang. Sang Dewa Perang yang juga disebut-sebut sebagai Dewa Kematian.

Zhongli lantas mengusap rambut Childe, menampakkan dahi berbalut perbannya dan memberi kecupan singkat di sana. “Jangan pernah berlaku menggemaskan kepada orang lain selain aku. Biarkan saja mereka bilang begitu, setidaknya keluargamu dan aku tidak berpikiran seperti itu.”

Xiansheng, sudah kubilang aku tidak menggemaskan!”

“Kau sangat menggemaskan sekarang.”

Xiansheng!”