Actions

Work Header

KATAME [ONE EYE]

Chapter Text

 

Napasnya memburu. Area wajah terutama kepala sebelah kiri terasa terlalu sejuk. Dingin. Mata bagian kirinya mati total, tanpa pandangan apapun. Hanya mata sebelah kanannya yang menghasilkan proyeksi sebuah gambar dari akhir hidupnya.

Tousan...Kaasan...Jigoro-sensei...gomenne.

Kana, tadaima.

Dan semuanya menghitam.

 

 

 

 

.

 

.

 

.

 

KATAME [One Eye]

 

by Riryzha

 

Karakter utama : Kazuka Mizushima (original character)

 

Kana (original character)

 

Karakter lainnya milik Gotoge Koyoharu

 

Fandom Kimetsu no Yaiba

 

.

 

.

 

.

 

 


Ia berdiri di atas sebuah pijakan tanpa bentuk yang pasti bagaikan sebuah ilusi yang dibuat oleh otaknya. Kedua matanya bergerak meliar. Mencoba mencari sebuah titik terang akan tempat yang menaunginya sekarang.

Apa ini yang dinamakan Yomi ni kuni?

Mengapa gelap sekali?

Di tengah kegelapan tak berujung itu ia mendengar suara gesekan, lengkingan tanpa arti yang pasti.

Kaasan, tousan...mengapa akhirku begini?

Mati di tangan salah satu iblis terkuat dengan tidak indah. Kepala hancur sisa setengah. Menjijikkan.

Siapa namanya? Ah, Akaza?

Apa ini akhirku? Mati menjadi santapan iblis sehingga aku datang di tanah tanpa dasar dan dunia tanpa cahaya?

Jigoro-sensei, maaf aku mengecewakanmu.

Perjuanganmu mendidikku selama 2 tahun sia-sia. Dan aku berakhir menjadi seonggok darah bagi para iblis. Menyedihkan.

Kau mau memaafkanku, bukan? Mungkin saja dengan maaf darimu aku bisa benar-benar bertemu Kana di tanah kematian.

Kana...kana...kana...

Maafkan neesan. Neesanmu ini menyedihkan. Belum mampu membalaskan dendam pada seluruh iblis di muka bumi demi dirimu.

Kau mau kan, memelukku kala kita bertemu nanti?

Sampai saatnya tiba, tolong...peluk aku erat...karena aku...amat sangat menyesal.

Chapter Text

Udara di sekitarnya memekat dan seluruh syaraf seolah tergilitik dari semua sisi. Suasana yang mencekam menjadi pertanda akhir kehidupan berada di ujung pedang nichirin nya yang berwarna abu-abu pekat. Ia, perempuan berparas standar dengan nama keluarga Mizushima, harus terpisah dari kedua hashira yang menjadi ketua dari tim penyerangan malam ini. Napas beradu dengan kabut yang menyelimuti hutan di pegunungan tak bernama. Sial! Paru-parunya tak lagi kuat memasok udara keseluruh pembuluh darah.

Teknik demi teknik pedang yang dipadukan dengan laju pernapasan yang sesuai takaran telah ia keluarkan semua. Tak bersisa untuknya bisa yakin kabur dari iblis dengan tanda mata yang mengerikan. Second uppermoon. Akankah ia mati diisi dengan umur belum menginjak dua puluh tahun?

Udara semakin dingin, dan keberadaan sang iblis kuat masih terasa dekat. Dekat dan semakin dekat.

CRASSH!

"Uhuk!" Perempuan bermarga Mizushima memuntahkan darahnya. Mata tak lagi awas karena kepala sebelah kirinya kini hanya berbentuk gumpalan darah dan daging.

"Kazuka! Ohok!" Pekik seseorang.

"Kanae! C-cepat...pergi...Ohok!" Kazuka dan Kanae berusaha lari dari hutan. Langkah tak lagi terdengar mengikuti, tapi keduanya tak mau mengambil risiko. Akhirnya dengan napas keduanya disertai degup kehidupan yang melemah, mereka berpisah di persimpangan jalan dengan meregang nyawa.

"Aah, aku belum selesai bermain denganmu...."bisikan penghakiman itu terdengar lirih di telinga.

Perempuan bernama Kazuka menebas asal kearah belakangnya.

"Khu...aku suka semangatmu. Maukah kau menjadi iblis?"

"Sialan kau! D-datang menyeran-ugh-di detik napas terakhirku..ohok!"

"Bagaimana kalau begini. Kuberikan darahku, dan kutinggalkan kau sampai terbakar matahari terbit beberapa jam lagi."

Kazuka tak lagi menjawab. Darah sudah menggenangi tubuhnya yang tumbang di tanah.

"Ah, sayang sekali. Namun karena aku sedang ingin bermain, mari kita hidupkan kau lalu matikan kembali dengan bantuan matahari. Oh ya, salam kenal. Namaku Akaza." Sang iblis tertawa puas sembari menyayat kulit tangannya dengan kuku-kuku panjangnya. Kemudian dengan gerakan dramatis, tetes darah yang tercipta dari luka di tangan Akaza menyatu dengan otak sebelah kiri yang hampir koyak milik Kazuka.

"Selamat menikmati proses kematian sekali lagi."

Setelahnya, Akaza menghilang.

 

 

....

 

 

 

 


Tamayo berkeringat dingin ketika sensorik iblisnya mendapati adanya iblis third uppermoon  berada tak jauh dari pemukiman tempatnya dan Yushiro bersembunyi dari Kibutsuji Muzan dan iblis-iblisnya. Namun penampakan sang iblis kuat itu hanya bertahan kurang lebih tiga menit dan seketika, Tamayo kembali bernapas lega. Yushiro di sebelahnya menatap sebentar dan mengarahkannya keluar persembunyian. Tepat ketika mereka keluar, pemandangan yang tersaji ialah perempuan yang tengah memekik kesakitan dengan kepala kiri yang berantakan dan genangan darah di bawahnya.

"Tamayo-san, bagaimana ini?" Tanya Yushiro bimbang.

"Kalau perkiraanku benar, Akaza sengaja menjadikannya iblis." Ujar Tamayo sembari menyaksikan perempuan dengan rambut cokelat cerah sepunggung dan penuh dengan darah di hadapannya menjerit sembari memegangi kepala.

"Haruskah kita tinggalkan dia?" Tanya Yushiro.

"Kita bawa dan tolong dia. Mungkin kita bisa mengambil contoh darah darinya. Kau lihat, dia salah seorang pemburu iblis. Kemungkinan dia hidup dua puluh lima persen." Ujar Tamayo menjelaskan.

Dengan berat hati, Yushiro mengangkat tubuh perempuan itu setelah Tamayo lebih dulu menyumpal mulutnya dengan kain. Dan ketiga sosok itu menghilang di balik tembok kayu yang tinggi.

 

 

....




Kazuka berdiri di sisi jurang yang membentang luas. Di salah satu sisi jurang terdapat juntaian tali yang tersambung entah kemana ujungnya. Kabut, kabut, dan penuh kegelapan. Kazuka tak dapat melihat pemandangan di seberang. Ketika fokusnya masih tertuju pada gumpalan kabut, tiba-tiba saja tangannya merasakan sebuah kehangatan.

"Kazuka?"

"Kanae?"

Namanya Kanae Kochou. Salah seorang pilar dan teman seperjuangannya dari pasukan pemburu iblis. Umur mereka sama, mengikuti ujian akhir di waktu yang bersamaan, dan berjuang bersama-sama hingga titik darah penghabisan. Meski begitu, Kazuka akui karir Kanae jauh lebih melejit dibandingkan dirinya. Kanae sudah lebih dulu menjadi pilar, sementara dirinya harus membunuh beberapa iblis lagi untuk bisa menyusulnya.

"Ayo, ikut aku kesana." Ujar Kanae lembut.

"Aku tidak yakin di seberang sana aman, Kanae. Sebaiknya kita kembali." Tolak Kazuka halus.

"Ah, sayang sekali. Kau yakin tidak ingin ikut, Kazuka?" Tanya Kanae memastikan.

"Tidak bisa. Aku harus kembali."

"Kembali? Kemana? Kita sudah tak bisa kembali, Kazuka." Raut wajah Kanae menyendu. Kazuka tahu, ia pasti akan merindukan orang-orang yang ada di kediaman kupu-kupu.

"Tapi ada yang menahanku, Kanae." Air muka Kazuka berubah keruh.

"Siapa? Siapa yang menahanmu?" Tanya Kanae sedih.

"Aku tidak tahu. Suaranya berbeda dengan iblis yang menyerang pasukan kita. Rasanya sakit, sakit sekali di bagian kepala." Ujar Kazuka sembari meremas rambut cokelatnya yang kembali utuh.

Tiba-tiba saja Kanae memandanginya intens.

"Kenapa, Kanae?"

"Rambutmu....warnanya berubah. Kau benar-benar tidak bisa ikut denganku rupanya." Kanae tersenyum sedih. Kemudian ia melepaskan genggaman tangannya dan mulai menyeberangi jembatan tali.

"Kanae!" Pekik Kazuka.

"Selamat tinggal, Kazuka! Tetaplah menjunjung tinggi sisi manusiamu!" Sahut Kanae yang kemudian hilang ditelan kabut.

Sedetik kemudian, sisi jurang tempat Kazuka berpijak berubah menjadi sebuah dataran rendah di mana warga bermukim. Kazuka berdiri mematung, menyaksikan dataran tersebut merupakan tempat tinggalnya bersama keluarga kecilnya yang terdiri dari ayah, ibu, Kazuka dan adik angkatnya, Kana. Mereka berempat hidup dalam kecukupan dan wilayah yang aman di kaki gunung Natagumo.

Namun yang menjadi pemandangan Kazuka saat ini adalah malam di mana mimpi buruk semua penduduk dimulai. Satu persatu rumah warga dipenuhi oleh jeritan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi, hanya saja semua anak kecil tiba-tiba saja ditelan oleh lubang kecil yang muncul dan hilang begitu saja. Kazuka yang memang mudah sekali terjaga dari tidur pun segera bangun begitu tetangga depan rumahnya berteriak histeris.

Kazuka di masa depan menyaksikan bagaimana dirinya dulu malah pergi meninggalkan sang adik untuk memeriksa keadaan sekitar rumah.

"Bodoh! Bawa adikmu!" Pekik Kazuka sembari mendekati Kana yang masih terlelap.

Kazuka berusaha membangunkan sang adik, namun tangannya malah menembus tubuh Kana.

"Sial! Aku benar-benar tak bisa mengubah apapun." Maki Kazuka sembari menangis. Menyaksikan Kazuka di masa lampau berusaha menarik tangan sang adik yang tenggelam pada kubangan hitam tak berdasar dan ketika lubang itu tertutup, tangan kecil milik Lian terputus hingga darahnya muncrat ke wajah Kazuka yang menjerit ketakutan.

"KANA!"

 

 

....


 


"Tamayo-san, perempuan ini kembali menggeliat kesakitan." Ujar Yushiro yang tengah membasuh wajah perempuan yang mereka temukan lima bulan yang lalu.

Sebulan penuh perempuan di hadapannya tak berhenti menggeliat dan menggeram tertahan. Air mata berubah jadi darah, urat-urat mengetat sempurna di tiap sudut tubuhnya. Bulan kedua, urat-urat di tubuh mulai mengendur namun tangisnya masih menggenang. Bulan ketiga, air mata mereda, hanya desisan kesakitan dan gerakan tak nyaman akibat sakit yang mendera. Bulan keempat, seolah keajaiban akhirnya datang, perempuan itu tidur dengan damai. Namun begitu masuk bulan kelima, gerakan gusar dan kerutan di wajah yang menunjukkan rasa sakit kembali hadir.

"Tenang saja, Yushiro. Sebulan lagi, ia akan membuka mata." Ujar Tamayo yang tengah meracik obat.

Selama lima bulan melakukan eksperimen kepada tubuh perempuan tersebut, Tamayo mendapat banyak kemajuan akan informasi terkait racikan obat untuk menidurkan sel darah iblis pada tubuh manusia. Tidak banyak memang. Tapi setidaknya Tamayo selangkah lebih maju dari usahanya hampir seratus tahun lamanya.

Dan benar saja, bulan keenam, perempuan itu bangun dengan pandangan kosong.

 

 

....

 

 


"Namamu siapa?" Tanya Tamayo pada perempuan itu.

"Hmkhnm."

"Sepertinya banyak otot tubuhnya yang mati rasa akibat koma." Komentar Tamayo sembari meneliti bagian tubuh perempuan di hadapannya dan sesekali menekan beberapa syaraf kejutnya.

"Syarafnya mati. Tubuhnya sudah jadi iblis." Ujar Tamayo dengan wajah sendu.

"Yoshiro, bersiaplah. Tugas kita masih panjang untuk menyadarkannya."