Actions

Work Header

Kimetsu no Yaiba October Prompt Challenge

Chapter Text

Drabble Ink(?)tober day 01 - Ring
Notes: fic Resurrected AU
---

"... Sanemi, boleh aku tanya sesuatu?" Sanemi menoleh ke arah rekan se-tempat tinggalnya itu.

"Tanya saja," jawabnya simpel. Paling Yuichiro mau tanya soal misi atau semacamnya, kan-

"Kenapa di laci kamarmu ada cincin dalam kotak?"

Teh yang diteguk Sanemi tersembur kembali keluar, untung saja hanya membasahi bagian depan bajunya. Ia menatap Yuichiro dengan mata luar biasa lebar -- jadi menyeramkan, menurut Muichiro -- sambil mengelap dagunya secara refleks.

"Kau- kau ngapain bongkar-bongkar kamarku, brengsek?!" Teriaknya sambil menghantamkan cangkir teh ke atas meja.

"Hee ... aku cuma iseng sih, aku pikir di dalamnya akan ada foto Muichiro atau buku diary berisi curhatanmu tentangnya. Tapi yang kutemukan justru cincin," sahut Yuichiro kalem, meskipun seringainya sama sekali tidak sesuai dengan nada bicaranya.

"BUKAN URUSANMU, SIALAN!"

"Ingat lho, sebelum melakukan hal-entah-apa yang ingin kau lakukan, minta restu dulu padaku. Sebagai calon kakak iparmu, aku berhak menolak ... meskipun kalau kau memohon, mungkin bisa aku pertimbangkan, sih...."

"Eh? Ada apa ini kok pada membicarakan kakak ipar?" Tanya Genya yang mendadak muncul.

"Tidak, tidak~ aku menemukan cincin di laci Sanemi dan aku pikir ... lho, Genya-kun? Kenapa?" Tanya Yuichiro ketika melihat wajah Genya yang mendadak pias.

"KALAU ANIKI KAWIN NANTI AKU TINGGAL SAMA SIAPA?!" teriaknya panik.

"Oy, oy, tidak sekarang- maksudku, aku tidak akan kawin dengan siapa-siapa, bodoh! Tenanglah!"

"... Sanemi, tadi kau bilang tidak sekarang?" Tanya Yuichiro.

"TIDAK! SIAPA YANG BILANG BEGITU?!" Bantah Sanemi.

"Ada apa ini ribut-ribut?" Mendadak senyap. Semuanya menoleh ke arah Muichiro yang berdiri di ambang pintu sambil memeluk sebuah buku. Dengan segera, ia sendiri melupakan pertanyaannya dan langsung menuju ke arah Sanemi. "Bacakan ini," pintanya sambil mengulurkan buku di dekapannya.

"Hari ini tidak usah-"

"Tentu saja malam ini Sanemi sedang bagus kan, mood-nya? Ayo bacakan Muichiro, kasihan lho," potong Yuichiro. Selain Sanemi, tidak ada yang menyadari kilauan licik di matanya. Sanemi memberinya pandangan tajam, namun diabaikan.

Ia menghela napas dan menerima buku itu. "Ya, sudah, sini."

.
.
.

"Ooh, jadi memberikan cincin itu tanda rasa sayang pada seseorang? Kak Sanemi, aku juga mau!"

"Eh-"

"Sanemi punya satu kok, buatmu, Muichiro. Ada di kamarnya~"

Hanya satu kata yang sempat terbentuk di benak Sanemi begitu ditatap dengan mata berkilau Muichiro -- sial.

Chapter Text

Drabble Inktober day 02 - Clock and Mindless
Notes: Alternate Universe - Modern Setting/University
---

Giyuu merasa bahwa konsep waktu itu kejam, terutama dengan keadaannya sekarang. Matanya memandang ke arah jam dinding di depan ruang tunggu dan dalam hati menghitung setiap detaknya.

Satu, dua, tiga, empat-

Ia mencoba menyibukkan dirinya dengan ponselnya, namun baterai yang habis tentunya tidak efisien kalau-kalau ia perlu menghubungi seseorang. Ia melirik ke lorong menuju UGD dengan cemas, bibirnya terkatup rapat dan kaki kanannya diketukkan secara berirama ke lantai berubin putih tanpa ia sadari.

-lima, enam, tujuh, delapan-

Meskipun ia mencoba mengalihkan perhatiannya dari apa yang mungkin sedang terjadi di dalam sana, yang terpikir dilakukannya hanyalah menghitung detik jam yang menurutnya berjalan terlalu lama. Ingin rasanya Giyuu membongkar jam sialan itu dan mempercepat jalannya -- meskipun ia tahu itu takkan ada gunanya.

-sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas-

Tubuh Giyuu berjengit kaget ketika mendadak ponselnya berdering kencang, menggema di ruang tunggu yang hampir kosong itu. Tidak ada yang memperhatikannya ketika ia buru-buru mengeluarkan ponsel dari sakunya dan hampir menjatuhkannya ke lantai karena tangannya yang basah kena keringat.

Ia setengah berharap bahwa itu adalah telepon dari teman sekampusnya, atau Urokodaki-san, atau bahkan hanya telepon iklan, apa saja yang bisa mengalihkan perhatiannya dari lorong suram rumah sakit itu. Nyatanya, setengah detik setelah ia berharap, ia segera teringat bahwa dering yang berbunyi barusan hanyalah dering yang dipasangnya untuk alarm.

Sambil menghela napas, ia mematikannya. Tanpa melihat catatan singkat yang dilampirkannya pun ia sudah tahu isinya adalah pengingat kencannya dengan Sabito. Yah, sebenarnya sih, yang ia tulis adalah 'ke kota dengan Sabito', tapi kekasihnya itu berhasil merebut ponselnya dan dengan jahil merubahnya menjadi 'kencan dengan lelaki rupawan'.

Yah, Giyuu tidak merepotkan diri mengubahnya sih. Ia sudah terbiasa dengan kejahilan Sabito, dan meskipun kadang kesal ketika ia menjadi korban, semuanya terasa pantas untuk melihat tawa pemuda berambut peach itu.

... Tunggu, sampai ke hitungan berapa ia tadi?

Giyuu memandang jam dan melihat bahwa jarum panjang sudah melewati angka sepuluh. Dalam hati, ia mengulang hitungannya sesuai dengan gerakan jarum detik di balik kaca itu.

Satu, dua, tiga, empat-

Ini akan jadi malam yang panjang.

***

Pintu kamar rawat Sabito bergeser, menampakkan wajah Giyuu di baliknya. Sabito, dengan kepala yang masih diperban, setengah hendak tertawa setengah hendak mengomeli pacarnya ketika melihat wajahnya yang kusut dan berkantung mata. Sudah berapa lama Giyuu tidak tidur?

"... Sabito, bagaimana keadaanmu?" Tanya Giyuu sambil mengambil tempat di kursi keras di samping ranjang Sabito.

"Ehh, seperti baru saja jadi korban tabrakan," sahut Sabito ringan, mencoba mencerahkan suasana di ruangan itu.

"Tidak jauh meleset, meskipun tidak 'baru saja'," gumam Giyuu.

Sabito tertawa kecil, cukup untuk menghangatkan hati Giyuu. "Maaf ya, waktu kita kencan aku malah ketabrak."

"Kau tahu, aku mulai mempertanyakan prioritasmu. Kepalamu baik-baik saja?"

''Aku punya pertanyaan yang lebih penting. Aku tahu aku sudah dirawat seminggu di sini. Berapa lama dari satu minggu itu kau mendapat waktu tidur?" Selidik Sabito.

"Uh-"

"Jangan coba berbohong, kau tahu aku bisa langsung tahu."

"... sekitar dua belas jam?"

Sabito menutup matanya dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan, berhati-hati agar tidak mengacau lilitan perbannya. "Kenapa dari nadamu aku justru tambah yakin kalau kau hanya asal sebut angka?" Tanyanya pada dirinya sendiri. Kemudian, ia menoleh dan menatap tajam pada Giyuu.

"Giyuu, sini," perintahnya sambil menarik tubuh Giyuu ke dekapannya. Pemuda berambut gelap itu kaget, tapi menurut dan menggeser kursinya agar lebih dekat dengan ranjang Sabito. Dengan perlahan, ia menyandarkan kepalanya ke dada kekasihnya dan mendengarkan detak jantungnya yang stabil. Ia teringat pada waktu-waktu ia termenung menunggui detik jam, mencemaskan Sabito yang sedang dirawat.

Kali ini berbeda. Bunyi detik jam itu entah kenapa selalu membuatnya merasa tak nyaman, seakan sedang menunggu sesuatu yang tak kunjung terjadi. Tapi di sini, dengan kepala tersandar ke dada Sabito, detak jantung yang ia dengar justru membuatnya merasa tenang. Seakan selama ia berada di sisi Sabito, takkan ada yang bisa membuatnya resah.

Mata Giyuu terasa berat, dan sebelum ia benar-benar tertidur, ia sempat merasakan sebuah kecupan singkat di puncak kepalanya.

"Tidurlah, Giyuu. Aku sudah tidur cukup lama, sekarang giliranmu beristirahat." Dan dengan suara lembut Sabito, ia larut ke alam mimpi, di mana detik jam manapun tidak bisa mengganggu ketenangannya.

Chapter Text

Drabble Inktober day 03 - Bait
---

Genya jadi bingung. Ia jarang bertemu dengan yang namanya Hashibira Inosuke selain di dalam kelas atau saat ke lapangan olahraga, namun anak setengah berandal setengah polos itu entah kenapa akhir-akhir ini mengekorinya terus, dari mengikutinya ke suatu tempat sampai mengikuti segala hal yang ia lakukan.

Genya pergi ke kantin? Inosuke ada di belakangnya.
Genya mengantarkan buku ke kantor guru? Ada Inosuke mengintilinya.
Genya menyelesaikan ulangan bahasa dalam waktu sepuluh menit? Inosuke mengumpulkan sedetik setelahnya.

Saat itu pula Genya membatin dalam hati, ada yang aneh. Ia sebenarnya tidak ingin memedulikan 'tambahan ekor' berwujud anak laki-laki asal hutan di belakangnya, namun masalahnya, lama kelamaan ia jenuh juga.

"Gentaro! Ayo berkelahi denganku!" Ah, itu juga. Tantangan berkelahi rutin setiap hari seakan Inosuke tak bosan tertolak melulu.

"Tidak. Aku harus pergi ke tempat aniki, dan namaku bukan Gentaro!"

"Genji?"

"Genya, demi anak Oyakata-sama!" Genya menutup kedua matanya dan mencoba sabar sebelum berbalik dan meninggalkan Inosuke di belakangnya. Belum sempat tiga langkah, Inosuke meneriakinya.

"Ge-nyaan! Huahahaha!"

"Kau ngajak berantem beneran, ya?!"

Akhirnya mereka benar-benar berkelahi di lorong, berakhir dengan dihukum membersihkan gudang olahraga.

***

"Cih," desis Genya sambil menekan lebam di pipi kanannya, tepat di atas bekas lukanya. Di situ adalah salah satu dari banyak tempat yang terkena tendangan tinggi Inosuke dan Genya yakin warnanya sudah jadi ungu sekarang. "Gara-gara kau aku jadi tidak bisa pulang bareng aniki," gerutunya, sembari melempar sebuah bola basket secara asal. Inosuke menangkapnya dari sisi lain ruangan.

"Bukannya ini salahmu?" Tanyanya sambil menelengkan kepala, kemudian memantulkan bola itu ke dinding yang lalu jatuh ke dalam keranjang sampah. "YES!"

"... Dari sisi mananya ini salahku?!" Seru Genya kesal, melemparkan satu lagi bola -- kali ini bola voli -- ke arah Inosuke, yang sekali lagi berhasil menangkapnya. Tapi alih-alih melemparnya, ia justru mengamati bola itu sebelum mendongak dan kembali menatap temannya.

"Kau terlalu kuat buat ukuranku," dengusnya, antara ikhlas dan tidak, "Jadi aku ingin memancingmu supaya mau tanding kekuatan denganku. Tahunya malah kena tangkap," ia mengakhiri dengan gerutuan.

"Alasanmu bodoh," respon Genya dengan suara melemah. Ia tidak tahu lagi mau berkomentar apa. Sepolos-polosnya Inosuke, cara pikir anak itu terlalu sederhana sampai-sampai justru terasa terlalu rumit.

"Semua orang bilang begitu," balas Inosuke tak acuh. Huh.

"Tapi kau tidak lemah," sambung Genya, mengejutkan pemuda berambut sebahu itu.

"Huh?"

"Kau kan yang membela Agatsuma dari para pengganggunya? Kau juga kan, yang membantu mengeluarkan adik kelas dari bawah papan tanda yang roboh dulu? Kau juga kan yang kerjaannya setiap hari menurunkan kucing Tamayo-san dari atas pohon? Orang lemah tidak akan mencemaskan kekuatannya sendiri sepertimu," jelas Genya panjang lebar, namun kemudian berhenti. "... Apa yang barusan cukup ringan untuk kapasitas otakmu?"

"Sebenarnya tidak, tapi entah kenapa aku senang."

"Aku jadi heran bagaimana caranya kau bisa lulus SMP," desah Genya lelah, "Sudahlah, mendingan kau membantuku membersihkan tempat ini, aku mau pulang."

"Ogah."

"... Katamu tadi mau bersaing denganku," pancing Genya. Mendengarnya, semangat Inosuke kembali menyala.

"Oke! Siapa takut?"

Akhirnya, Genya dengan senang hati menyerahkan sebagian besar pekerjaan yang harus mereka lakukan kepada Inosuke, yang dengan polosnya menganggap kalau ia memenangkan pertandingan yang tidak pernah ada itu.

***

Sanemi ber-huh setelah Genya selesai menceritakan soal Inosuke. Melihat respon minim kakaknya, Genya mengangkat bahu dan kembali menghadap ke arah buku tugasnya, hendak melanjutkan pekerjaan rumahnya yang sempat terlantar.

"Jadi," Sanemi memulai, "Karena kau selalu gugup di dekat anak perempuan, sekarang lau justru mengincar laki-laki?"

"BUKAN BEGITU, ANIKI!"

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 03 - Bait
Notes: HighschoolAU
---

"Sebenarnya kita ngapain sih, ke sini malam-malam?" Tanya Genya sambil menyorotkan senternya dengan malas. Tanjiro di sebelahnya justru dengan tenang menyesap termos berisi susu hangat yang dibawanya.

"Oh, Zenitsu ngajak kita uji nyali buat konten UTube-nya," jawabnya, mengingat kata-kata Zenitsu siang tadi di kelas.

"Halah, nanti palingan dia yang ngacir sendiri," dengus Genya. Mendengar suara langkah kaki, keduanya menoleh dan mendapati Zenitsu yang sedang menyeberang jalan dengan cepat. Panjang umur, baru aja digosipin.

"Wah, kalian beneran datang! Inosuke enggak bisa sih, katanya, ada urusan," sapa Zenitsu, dengan kamera rekaman di tangannya. Genya memutar matanya.

"Kalau kau punya ponsel, kenapa merekamnya harus pakai kamera, bolot?" Tanyanya pedas. Zenitsu meringis dan mundur selangkah menjauhi sang Shinazugawa bungsu.

"Itu namanya aestetik, tahu," gumamnya, kemudian menyambung dengan lebih bersemangat, "Ayo, kita panjat pagarnya! Pasti ini akan jadi pengalaman yang seru!"

***

Nyatanya, meskipun lumayan seru, semuanya terlihat menyeramkan. Bayangan mereka di dinding terlihat menyeramkan, suara sepoi angin terdengar menyeramkan, bahkan samar-samar tercium bau ubi bakar -- siapa yang membakar ubi di sekolah malam-malam begini?

Zenitsu mendengar satu lagi burung hantu bersuara, kali ini seakan berada tepat di belakangnya dan mengayunkan tangannya dengan cepat, yang justru mengenai wajah Genya yang berteriak marah, hanya untuk didiamkan oleh Tanjiro yang cemas akan ada orang terganggu dengan ribut-ribut itu -- masalahnya, siapa?

Mereka bertiga berjalan beriringan menyusuri lorong tingkat dua gedung SMA dengan Tanjiro memimpin dan Genya paling belakang. Mereka membuka kelas-kelas yang tidak dikunci dan berdiri di sana selama semenit sebelum melanjutkan langkah. Semua kelas itu kosong dan gelap sejauh ini, dan karena itulah mereka bingung ketika melihat sebuah kelas di kejauhan yang lampunya menyala. Saling pandang, mereka memutuskan untuk menghampirinya meskipun Zenitsu harus mengeratkan genggamannya pada baju Tanjiro.

Pintu kelas itu setengah tertutup, dan dari baliknya terdengar jelas ada orang yang sedang mengobrak-abrik sesuatu. Maling, kah? Tanjiro memasang kuda-kuda siaga dan menghitung sampai tiga.

Satu

Dua

Tiga-

BRUAK!

"AAHH!" Sebuah teriakan terdengar dari dalam, diikuti serangkaian sumpah serapah warna-warni yang langsung menusuk pendengaran Zenitsu.

"Lho, aniki?! Ngapain di sini?!" Seru Genya, merangsek melewati dua orang di depannya. Benar saja, berdiri di belakang sebuah meja dengan posisi siap-siap menyerang, adalah Shinazugawa Sanemi beserta seluruh kehebatannya.

"Harusnya aku yang tanya begitu padamu!" Balas Sanemi sambil melomoat turun dari kursi, sebuah buku berada dalam genggamannya.

"Uh, itu buku siapa?" Tanya Genya, ketika ia mendekat dan melihat bahwa itu adalah buku cerita dari perpustakaan -- untuk apa Sanemi meminjam buku cerita anak-anak?
Pemuda berambut putih itu menyelipkan buku itu ke dalam jaketnya.

"Bukan urusanmu," geramnya. Tanjiro, Zenitsu, dan Genya saling pandang, dan akhirnya mengangkat bahu.

***

Tuk!

"Eh?" Ketiganya menunduk ke bawah, tempat sebuah kerikil berwarna putih tergeletak dan tertendang oleh Tanjiro. Sanemi yang berjalan paling belakang ikut berhenti dan memiringakn badan agar bisa melihat apa yang jadi masalah. Tanjiro membungkuk dan memungut kerikil itu.

"Ini bukannya kerikil dari apotik hidup?" Tanyanya, mengangkat batu itu agar yang lain bisa melihat. Benar, itu adalah kerikil yang hanya digunakan di pinggir jalan setapak di apotik hidup milik anak jurusan IPA yang letaknya paling jauh dari gedung SMA. Kok bisa batu itu nyasar ke situ?

Genya menyorotkan senter melalui Tanjiro dan menarik napas tajam begitu melihat deretan batu yang sama membentuk sebuah garis yang berbelok menuju tangga ketiga yang terkenal angker.

Klotak!

Mereka berempat menoleh ke belakang dan refleks melompat menjauhi sebuah topeng rubah hasil tugas seni anak kelas satu. Topeng itu tersenyum seram dengan hiasan bunga biru di sisinya.

"U-uwah, Ta-tanjiro, kok topeng itu bisa ada di situ?! Tadi enggak ada kan? KAN?!" Rengek Zenitsu.

"Berisik! Cuma topeng begini dipermasalahkan!" Seru Sanemi sambil menendang topeng itu jauh-jauh.

BREENGG!

Keempatnya berjengit ketika suara simbal jatuh terdengar dari ruang musik yang terkunci. Zenitsu yang panik berteriak dan menarik Tanjiro, tepat ke arah tangga angker itu. Genya dan Sanemi diam-diam pergi dari gedung itu, tidak ingin terlibat masalah lebih jauh jika ditangkap di sekolah malam-malam.

"Zenitsu! Jangan main tarik begitu dong! Bahaya!" Omel Tanjiro sambil memutar badan dan menghadap ke arah Zenitsu yang membelakangi tangga.

Mendadak, Zenitsu melihat ke langit-langit di belakang Tanjiro dan berubah pias.

"Zenitsu?"

Sepasang mata yang mengarah ke arah berkebalikan dengan pasangannya menatapnya tanpa cahaya kehidupan, dengan wajah dikelilingi bulu lebat. Sepasang taring mencuat dari mulutnya, dan menjadi semakin seram ketika kepala itu terangkat dan sebuah seringai muncul dari balik bulunya.

"AAAHHHHHH!!!"

"Zenitsu?!"

***

Sementara itu, Genya dan Sanemi melewati sebuah lubang ventilasi di langit-langit dan mengeluarkan dua suara tawa yang khas.

Tawa Sabito dan Yuichiro. Dan dari suara tawa menggelegar dari kejauhan, tampaknya Inosuke juga berada di sana, melengkapi anggota Trio Berandal mereka.

"... Lupakan sajalah," desah Genya.

"Oy, Sanemi, bukunya sudah kau ambil? Muichiro tidak mau tidur kalau tidak dibacakan!" Teriak Muichiro dari balik ventilasi.

"BERISIK!" Balas Sanemi dengan volume sama, telinganya memerah.

***

Esok paginya, sebuah video di UTube tersebar di sekolah. Genya membuka link yang dikirimkan Sabito di grup kelas dan menghela napas panjang ketika melihat judulnya.

MIDNIGHT AT KIMETSU HIGHSCHOOL!!! ADA MAKHLUK GAIB MUNCUL?! ((BUKAN CLICKBAIT))
🏫SabitoYuInosuke

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 04 - Cold
Notes: another timeline AU
---

Sabito mengibaskan salju yang memberati kepalanya dan dengan keras hati melanjutkan langkah kakinya yang sebenarnya sudah mulai mati rasa, begitu juga dengan lengannya. Giyuu yang berada dalam gendongannya tidak bergerak sama sekali, hanya sesekali terdengar sesekali bunyi tarikan napas tajam.

Sabito menyesal meninggalkan Giyuu sendirian di dalam rumah kosong itu. Ia tahu Giyuu kuat, tapi iblis yang menyerbu tampaknya tahu siapa targetnya. Dalam hati, Sabito merutuki dirinya, iblis itu, serta bahkan anggota Pemburu Iblis lainnya -- yang sama sekali tidak merespons permintaan tolong yang dikirimkannya menggunakan gagak.

Mereka berdua baru beberapa minggu menjadi pemburu iblis dan berhasil naik ke rank kedelapan dalam waktu singkat. Naif sekali, bati Sabito ironis, mengira bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja.

Salju menghujani mereka tanpa ampun, menyulitkan Sabito untuk berjalan dan melihat, berkali-kali tersandung gumpalan salju ataupun terpaksa beralih jalan karena terhalang. Meskipun penglihatan Sabito sangat tajam, tapi sesuati seperti ini....

"Hei! Kau yang di sana!" Uwah, Sabito hampir saja menjatuhkan Giyuu saking kagetnya. Ia memutar kepalanya kesana-kemari mencari asal suara, namun gagal. Ia hendak menganggapnya sebagai halusinasi, namun bunyi langkah bergemerisik di salju membuatnya siaga. Suara itu cukup keras, mengalahkan bunyi hujan salju itu sendiri, seakan orang itu tidak ingin menakutinya.

Meskipun begitu, Sabito tetap menurunkan Giyuu dengan perlahan dan menggenggam gagang katananya, sedikit sulit karena jari-jarinya sudah membeku. Ia menyipitkan mata dan bisa melihat sebuah sosok dengan haori berkibar dengan anting-anting hanafuda bergemeretak setiap kali ia melangkah. Ketika sosok itu semakin dekat, surai merah yang disisir ke belakang dan mata merah besar balas menatap Sabito -- yang terpaksa mendongak karena, demi Tuhan pria itu tinggi sekali.

"Ahh, ternyata memang ada orang! Aku pikir hidungku yang bermasalah tadi!" Sapanya ceria, membuat Sabito bingung setengah mati. Apa yang menyenangkan dari terjebak sendirian di dalam badai salju di gunung?

"Kau siapa?" Tanyanya, tangan masih diletakkan di pegangan katana, bersiap menariknya keluar kalau diperlukan. Tapi sosok itu hanya tersenyum hangat.

"Kau anggota Pemburu Iblis, kan? Namaku Kamado Tanjiro! Dan- oh," yang namanya Tanjiro itu kemudian menoleh ke arah Giyuu seakan baru menyadari dia ada di sana. Sebuah suara geraman menarik perhatian Sabito dan ia ikut menoleh.

Giyuu ada di sana, berjongkok di tumpukan salju, dengan kedua mata terbuka lebar. Anehnya, mata itu masih biru, tapi pupilnya sangat sempit, seperti seekor kucing. Giyuu tampaknya tidak memperhatikan mereka dan malah asyik mengamati gumpalan salju yang jatuh ke tangannya yang ia rentangkan. Dengan ngeri, Sabito melihat kuku Giyuu sudah berubah menjadi lima pasang cakat pendek. Tunggu- jangan bilang-

"Ano, apa kau tahu kalau dia sudah berubah?" Tanya Tanjiro, kembali memandang Sabito. Pemuda berambut peach itu kembali menatapnya dan mengernyit, mengabaikan pertanyaannya. Pemburu Iblis ini ... aneh, kenapa ia tidak langsung membunuh Giyuu begitu melihat tanda-tandanya? Bukan artinya Sabito akan membiarkannya.

"Umm ... sekarang bersalju, seharusnya tidak masalah. Tapi kau harus melindunginya dari cahaya matahari- itu takkan berakhir baik-"

"Kenapa kau membiarkannya?" Potong Sabito. Tanjiro ber-eh kaget, seakan harusnya hal itu sudah jelas.

"Dia tidak menyerangku ataupun menyerangmu, itu artinya dia iblis kedua yang tidak memakan manusia!"

"... Kedua?"

"Yah, adikku Nezuko yang pertama, tapi dia tidak selamat setelah kami mencoba menyerang Muzan," sebuah senyum sedih menggantikan senyuman hangatnya tadi. Sabito tahu soal kerusuhan itu, ketika para Pemburu Iblis rank atas -- para pilar -- berhasil memojokkan Kibutsuji Muzan, namun gagal dan iblis itu kabur tepat sebelum matahari terbit. Dengan korban yang terlalu banyak, mereka tidak melakukan pengejaran dan menunggu Muzan membuat gerakan pertama.

"Jadi, aku bisa membiarkannya tetap hidup?" Tanya Sabito. Tanjiro hanya mengangkat alis. Sementara itu, Giyuu sudah puas mengamati salju dan bangkit berdiri untuk mendekati Sabito. Begitu Sabito sudah cukup dekat menurutnya, Iblis Giyuu melingkarkan kedua lengannya di pinggang Sabito dan menempelkan pipi mereka, tanpa sengaja menekan pipi Sabito sedikit terlalu kuat. Diam-diam, Tanjiro mengucapkan 'aww' tanpa suara. Ia merogoh haorinya dan mengeluarkan sebuah potongan bambu dengan pita merah dari sana.

"Ini, kau boleh pasang ini di mulutnya supaya taringnya tidak terlihat oleh orang lain. Kalau kau berselisih jalan dengan pilar-pilar lain, jangan khawatir, mereka semua sudah tahu soal keberadaan iblis-iblis seperti ini."

Saat itu, semua rasa dingin di tubuh Sabito menghilang, digantikan rasa hangat yang disalurkan tubuh Giyuu padanya, dan juga dari kebaikan hati Tanjiro yang seakan tak terbatas.

***

"Giyuu! Kan sudah kubilang jangan memakan es batu begitu saja!" Seru Sabito, berusaha mengejar Giyuu yang berubah menjadi lebih kecil sambil terus mengunyah es, menyakiti telinga Sabito.

Tiba-tiba Giyuu berhenti sambil berjongkok dan memegang kepalanya sambil merengek pelan. Sabito terhenti mendengarnya. Ia tidak pernah suka suara rengekan bayi, tapi suara Giyuu lebih seperti seekor anak kucing dan- sial, Sabito tidak bisa marah dengannya terlalu lama.

Sambil menghela napas, ia berjongkok di samping Giyuu dan memeluknya dari samping sambil mengusap kepalanya. "Tuh, kan, jadi sakit kepala. Makanya kalau aku bicara, turuti saja!" Ia mengomeli setengah hati. Giyuu mendongak dan menatapnya dengan sepasang mata biru berair mata dan mengangguk, meskipun Sabito tak bisa melihatnya karena ia terpaksa melihat ke arah lain -- dengan penglihatannya, mata Giyuu jadi jauh lebih menggoda dari sebenarnya dan- AAH! TIDAK USAH DIPIKIRKAN, SABITO! Teriaknya pada diri sendiri.

"Oh! Sabito! Lama tidak ketemu, ya!" Sapa seseorang dari belakangnya, dan Sabito menyengir ketika menoleh dan mendapati Tanjiro melambai ke arahnya.

Dan seperti biasa, rasa dingin dari musim salju di sekitarnya lenyap begitu saja dari tubuhnya ketika kebaikan mentornya serta keberadaan Giyuu di sisinya berhasil memberikan kehangatan mereka padanya.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 05 - Build
---

"Aku jadi pengen bangun rumah, deh," celetuk Sabito. Giyuu yang duduk di sebelahnya sambil meneguk sebotol air mineral menoleh. Mereka sedang duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon, memakan bekal masing-masing sambil mengamati murid-murid lain lalu-lalang.

"... Buat apa? Kan kita udah punya kamar masing-masing. Kalau bosan di asrama juga tinggal ke tempat Urokodaki-san," balas Giyuu.

Sabito mengangkat sebelah alis dan menyeringai, membuat wajah serigala, seperti yang dinamai seenaknya oleh Yuichiro. "Bukan begitu maksudku! Aku pengen bangun rumah tangga denganmu~"

Tidak perlu disebut pun kita semua sudah tahu kalau wajah Giyuu mendadak jadi merah dan tentunya kita semua tahu kenapa, meskipun pemuda berambut kelam itu berdalih soal hari yang panas dan memukul Sabito sebagai bentuk protes.

Tanpa mereka ketahui, ada sesosok kecil mungil duduk di belakang pohon, mendengarkan setiap pembicaraan mereka. Ia tidak mengerti kenapa Sabito ingin membangun rumah dengan Giyuu, tapi reaksi anak bermata biru itu menarik.

Dalam hati, sosok itu mengingatkan dirinya agar tidak lupa untuk mencobakan taktik yang sama pada seseorang.

.
.
.

"Bocah," sapa Sanemi begitu menemukan Muichiro duduk di tanah, dengan beberapa lembar kertas di pangkuannya, bekalnya terlupakan di samping sebuah kotak pensil.
Muichiro mendongak.

"Kak Sanemi," balasnya singkat sebelum mengambil kotak pensilnya dan mengeluarkan sebatang pensil warna.

Sanemi memandang ke balik pohon dan mendecak pelan ketika melihat pasangan Sabito dan Giyuu duduk berdampingan di sebuah bangku panjang, asyik dengan obrolan mereka sendiri tanpa sadar ada yang mengamati. Sanemi kembali berjongkok di depan Muichiro.

"Sebaiknya kita temui Yuichiro saja, ya? Di sini ada banyak serangga pengganggu," gumamnya sambil mengambili barang-barang Muichiro kecuali lembaran kertas dalam pelukan bocah itu, yang setuju-setuju saja mengikuti langkah Sanemi.

Kemudian, ia teringat mengenai sesuatu yang sempat terlupakan dan hanya kembali ia ingat gara-gara melihat wajah Sanemi. Muichiro mempercepat langkah-langkahnya yang kecil sampai ia kurang lebih menyejajari Sanemi dan mendongak.

"Kak Sanemi," panggilnya. Sanemi menunduk, suatu kesalahan karena ia langsung bertatapan dengan sepasang mata paling besar yang pernah dilihatnya seumur hidupnya -- dan mata itu cerah dan berkilau, demi Tuhan. Kenapa yang di atas sana harus selalu menyiksanya dengan cara kejam seperti ini? Dengan awkward, Sanemi kembali mengangkat wajahnya dan memandang ke depan.

"Apa?" Tanyanya. Muichiro ber-uhmm cukup lama dengan telunjuk di dagu, mengingat kembali apa yang ingin dikatakannya. Sanemi membiarkan, ia sudah biasa menghadapi amnesia ringan dadakan yang sering dialami Muichiro. Paling nanti juga ingat.

"Oh, iya, aku jadi ingin membangun rumah," cetus Muichiro, berhasil membuat Sanemi memberhentikan langkah. Dari sekian banyak hal yang ia perkirakan -- bahkan juga pertanyaan tak senonoh yang hanya bisa di-trigger oleh sepasang lover kurang ajar -- ini bukanlah salah satunya.

"Membangun rumah? Untuk apa? Kau tinggal bersama Yuichiro," balasnya sambil mengambil napas perlahan.

"Aku ingin membangun rumah bertangga dengan Kak Sanemi!"

Kali ini Sanemi benar-benar membeku, antara bingung, marah, dan geli. Akhirnya, emosi yang terakhir muncul lebih dulu, membuatnya tanpa sadar tersenyum miring. Rumah bertangga? Sebodoh apapun Sanemi, ia tahu itu bukanlah kata yang dimaksud Muichiro. Rumah tangga terdengar lebih masuk akal- dan di situlah rasa bingung mengambil alih.

Rumah tangga? Muichiro cilik ini ingin membangun rumah tangga dengannya? Senyum miring Sanemi berubah jadi ringisan. Dan kemudian-

"Oho? Apa ini? Muichiro melamarmu, Sanemi?" Sebuah suara familier membuyarkan pikirannya. Yuichiro berdiri di depan mereka dengan kedua tangan di saku celana dan seringai di wajah. Meskipun nadanya terdengar ringan, terlihat dari matanya yang menyala bahwa ia secara tidak langsung mengancam Sanemi 'awas saja kalau kau macam-macam dengan Muichiro esok kau sudah bakal kukubur'.

"Melamar? Apa itu?" Tanya Muichiro sambil menatap keduanya bergantian, tidak menyadari kalau aura di antara kedua remaja yang lebih tua itu jadi jauh lebih kelam. "Yang tadi aku dengar dari Sabito dan Giyuu ... harusnya waktu Kak Sanemi dengar tadi dia kaget seperti Giyuu," tambahnya.

Sanemi dan Yuichiro saling pandang, kali ini keduanya memasang wajah dengan aura membunuh. Kakak kembar Muichiro menarik napas panjang sebelum menoleh ke arah adiknya.

"Kalimat itu hanya diucapkan oleh sepasang kekasih, Mui, kau belum boleh mengatakannya. Kalaupun kau sudah legal untuk ... membangun rumah, aku harap bukan kau yang harus mengucapkan kalimat itu," jelasnya sebisa mungkin dan- ouch, sebuah pisau menghujam harga diri Sanemi.

"Begitu, ya? Kalau begitu takkan kukatakan lagi, toh Kak Sanemi juga tidak kaget...."

'Siapa bilang, aku nyaris kena serangan jantung,' batin Sanemi, diiringi cekikikan Yuichiro yang paham dengan apa yang ia pikirkan.

"Nah, bagaimana kalau kau sekarang cari Genya dulu dan main dengannya sebentar sebelum bel masuk? Aku dan Sanemi ada urusan penting."

"Oh, oke."

"Jangan nyasar kayak kemarin," tambah Sanemi.

"Iya."

Setelah Muichiro menghilang ke arah gedung sekolah, kedua remaja yang tersisa saling bertatapan.

"Jadi, siap untuk berburu rubah, Shinazugawa?" Tanya Yuichiro, nadanya penuh racun.

"Oh, tentu saja, Tokito. Kau tidak tahu ini sudah keberapa kalinya anak itu menanyakan pertanyaan tak senonoh gara-gara mereka," balas Sanemi sambil mengeretakkan tinjunya.

"... Apa yang paling parah sejauh ini?"

Sanemi menatap Yuichiro, mempertimbangkan jawabannya. "D*ldo," sahutnya ringan, dan makian Yuichiro bisa terdengar jelas sampai ke kelas.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 06 - Rainy Day
---

Sanemi berlari menerobos hujan menuju ke gedung asrama SMA dengan berpayungkan hanya jaket olahraganya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Sanemi berharap kegiatan pramuka ditiadakan kalau langit sudah terlihat tak bersahabat. Pasalnya tidak hanya dia yang harus menerobos keroyokan hujan, begitu juga dengan junior-junior pramukanya.

Sanemi menghembuskan napas dingin ketika tubuhnya berhasil sampai ke teras asrama. Sebelum menaiki tangga, ia menggulung jaketnya yang basah dan mengibaskan rambutnya, mencipratkan air kemana-mana. Seandainya ia adalah Rengoku-sensei ataupun Yakara-sensei, pasti anak perempuan yang lewat akan langsung pingsan mimisan melihat baju kaos putih dalamannya yang transparan kena air hujan (seragam pramukanya ia masukkan ke dalam tas, ia tidak mau mengambil resiko).

Ia menaiki tangga sambil menggerutu, sesekali terpeleset karena sepatunya yang licin kena tanah basah.

Ketika sampai di depan pintu kamarnya, Sanemi membuka kuncinya dengan setengah berharap bahwa yang sedang ada di dalam hanyalah Genya, atau lebih baik lagi, tidak ada siapa-siapa. Ia sedang ingin sendirian-

"Wih, pembina kita sudah pulang!" Tentu saja harapannya tidak terkabul. Sanemi merengut lelah pada Yuichiro yang dengan seenaknya berbaring di tempat tidurnya dengan ponsel tergeletak di atas perut. Genya sedang duduk membelakangi pintu, sibuk mengerjakan pekerjaan rumahnya yang menumpuk.

"Kamar kalian kan ada, kenapa harus ngumpul di sini tiap hari?" Omel Sanemi sambil melemparkan tasnya ke gantungan di belakang pintu, kemudian baru sadar kalau pintu kamar mandi yang biasanya ia biarkan terbuka sekarang tertutup. Ia juga baru sadar kalau satu bocah berambut dwiwarna kembaran Yuichiro juga tidak hadir.

"Mana si bocah?"

Yuichiro mendongak dari ponselnya yang mengeluarkan suara musik pembuka game. "Hm? Oh, dia tadi juga sempat kehujanan, jadi dia ganti baju. Omong-omong, kapan sih kau akhirnya mau memanggilnya Mui? Atau Muichiro? Namanya kan bukan bocah."

Sanemi memutar matanya. "Entah. Di mataku dia tetap bocah."

"Uh-huh. Bagaimana menurutmu, Genya-kun?"

"Kalau Kak Yuichiro bisa bantu aku mengerjakan ini, mungkin aku bisa jawab."

"Wah maaf, tapi fisika bukan forte-ku."

Sanemi mengabaikan keduanya dan pergi ke dapur mini yang disediakan di seluruh kamar asrama. Di dapur itu hanya ada wastafel, kompor gas, meja dapur dengan laci, dan alat-alat masak dasar. Itu cukup sih, toh Sanemi dan Genya bukan anak yang suka pilih-pilih makanan, jadi mereka biasanya hanya masak makanan sederhana seperti telur.

"Sanemi! Kalau mau minum, di samping ceret ada cokelat!" Teriak Yuichiro dari kamar tidur. Dan benar saja, sebuaah cangkir berisi cokelat panas ada di sana. Sanemi antara bersyukur dan tidak senang. Itu artinya Yuichiro sudah tahu dimana ia menyembunyikan stok makanannya dan takkan ragu membongkarnya kalau perlu.

"Aku sempat heran kenapa kau punya cokelat panas kesukaan Muichiro dalam lemari," komentar Yuichiro ketika Sanemi kembali dengan cangkir di tangan dan handuk di bahu.

"Dia kalau ke sini selalu merengek minta cokelat, tapi aku cuma punya kopi dan soda," kilah Sanemi. Yuichiro mengangkat sebelah alisnya.

"Dan kau membeli khusus untuknya alih-alih memintaku memberikannya padamu, pintar sekali modusmu, ya?"

"Bacot."

"Oh, Kak Sanemi udah pulang?" Yuichiro dan Sanemi menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka, dari mana Muichiro keluar dengan membawa tumpukan baju basah di tangan kanannya. Sanemi menyipitkan matanya melihat pakaian ganti Muichiro.

Sehelai sweater tebal berwarna hijau yang kebesaran buat Muichiro, bagian bawahnya memcapai lutut anak itu, hanya menunjukkan ujung celana pendek yang dipakainya. Sebuah bordiran berbentuk tengkorak terjahit di bagian dada kanannya dan lengan sweater itu menggantung jauh melewati panjang tangan Muichiro.

"... Itu bukannya sweater lamaku? Ada tengkoraknya...," komentar Sanemi ragu-ragu sementara Yuichiro dengan cepat berhasil mengambil banyak gambar adiknya.

Muichiro yang salah mengartikan keheranan Sanemi dengan rasa kesal segera menggenggam lengan sweater itu dengan defensif. "Kau takkan mendapatkannya kembali," ucapnya, berusaha bersikap mengancam (Yuichiro melihatnya bagai melihat anak kucing yang mengajak seekor anjing besar untuk bertarung).

Sanemi menggelengkan kepala. Sepertinya hujan membuat kepalanya dingin dan mengubah sikapnya menjadi jauh lebih kalem. Atau mungkin itu hanyalah visual Muichiro yang memakai baju kebesaran dan membuatnya seperti tidak sedang mengenakan celana. "Tidak, ambil saja kalau kau mau, toh itu sudah kekecilan buatku," ucapnya, mengabaikan teriakan tak bersuara 'MODUS!' dari Yuichiro.

Tanpa menoleh, Genya menegur kakaknya yang masih meneteskan air ke lantai, "Aniki mending ganti baju dulu deh, nanti demam aku yang susah."

"Jadi maksudmu aku susah diurus?!"

"Kan enggak salah!"

"Tch."

***

Hari-hari berikutnya, murid-murid diperbolehkan mengenakan jaket atau sweater di kelas karena hujan yang turun setiap hari.

Dan setiap hari pula Muichiro mengenakan sweater kebesaran itu, meskipun akhirnya, setelah dipaksa Sanemi, ia menurut ketika lengan bajunya itu digulung sampai ke siku.

Dan tidak ada yang tidak tahu itu awalnya milik siapa, terutama setelah Tanjiro berkomentar bahwa bau sweater itu sama seperti bau Sanemi-senpai dan dibalas Muichiro kalau itulah alasan kenapa ia mengambilnya. Satu lagi bukti (atau bahan blackmail, dalam pikiran Yuichiro dan Sabito) bahwa Sanemi punya hati yang lembut.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 07 - Enchanted
---

Sabito menyukai pekerjaannya sebagai malaikat penjaga, meskipun, tidak seperti stereotype yang dipercaya manusia, malaikat penjaga tidak menjaga manusia. Alih-alih, mereka menjaga-

"Anu, namamu Sabito?"

-iblis. Dan yang satu ini, adalah iblis termanis yang pernah Sabito jaga. Huh, entah kenapa ia berpikir begitu. Apa ia kena jampi-jampi? Nah, not a chance.

"Yup, itu aku. Dan kau?"

"Um, Giyuu," balas iblis berambut hitam itu pelan-pelan, seakan menilik reaksi Sabito.

"Woah, cocok! Nama yang manis buat iblis imut sepertimu!" Wajah Giyuu memerah. Ia tak menyangka akan direspon dengan itu. Bahkan di kalangan iblis, ia sering dijauhi karena pendiam dan canggung, apalagi di daerah malaikat! Tapi, malaikat di depannya ini, dengan surainya yang panjang tak beraturan, sepasang mata kelabu yang memandanginya dari atas ke bawah, ditambah seringaiannya, jauh lebih iblis daripada iblis itu sendiri. Itu ... aneh.

"Oke! Kayaknya kita sudah sama-sama tahu peraturannya, kan? Kalau begitu, salam kenal dan mohon bantuannya!" Seru Sabito, menghapus seluruh ekspresi setannya dan menjabat tangan Giyuu dengan penuh semangat, mengejutkan iblis itu.

"Uah- eh- ya, um, salam kenal juga." Senyum Sabito melebar.

Serius, kenapa roh semanis ini bisa jadi iblis?

***

Giyuu sama sekali tidak tahu peraturan apa yang disinggung oleh Sabito barusan, jadi ia hanya mengekori malaikat berambut peach itu berkeliling dan mendengarkan omongannya.

"Oh ya! Yang di sana itu Kyoujuro dan Genya, dua-duanya iblis dan sama-sama mau dijaga oleh Tanjiro. Malaikat cilik yang malang."

"Woy, Yuichiro! Itu kenapa malah Inosukenya yang mengacau?! Bukannya kau iblisnya?!"

"Sanemi! Dilarang menggombali malaikat, sialan!"

"Um, apa yang harus kulakukan?" Tanya Giyuu ketika melihat Sabito hanya terus berjalan lurus tanpa berkata apa-apa lagi. Malaikat berambut peach itu menoleh dan menatapnya dengan pandangan yang sama bingungnya.

"... Kau bebas melakukan apa saja kok. Asal jangan mengacau aku akan bisa terus memantaumu. Oh ya, omong-omong kau iblis dari dosa apa?"

"Cowardice," sahut Giyuu lirih.

Sabito terdiam. Ia tidak pernah dapat iblis cowardice sebelumnya, tapi ia tahu kalau iblis jenis itu tidak bisa dibiarkan sendiri. Mereka bisa panik dan ketakutan. Meskipun Giyuu tampaknya hanya penyendiri, bukaannya pengecut.

"I see ... kalau begitu kau boleh terus ikuti aku, kok!" Yap, Sabito benar-benar fallen hard untuk Giyuu. Ia biasanya tidak ambil pusing dengan apa yang dilakukan oleh iblisnya.

"Ehh."

"Sudah, ayo! Kukenalkan kau sama Tanjiro, sekalian membebaskan anak itu dari para iblis!"

***

"Aku heran kenapa kau tidak berubah jadi malaikat juga. Ini sudah setengah tahun. Kau tidak pernah membuat masalah kan?" Tanya Sabito, berjalan bersisian dengan Giyuu. Ya, setengah tahun telah berlalu dan Sabito takjub dengan rekor barunya. Dulu, ia hanya bertahan paling lama sebulan menjaga iblis. Yah, dengan Giyuu sudah pasti beda cerita, sih.

"Bukankah syarat untuk jadi malaikat itu harus memiliki sifat dari salah satu kebajikan?" Balas Giyuu. Sejauh ini, akhirnya ia bisa dengan nyaman berbicara, meskipun hanya pada Sabito.

"Aku sangka kau punya hope?"

"Sikap cowardice-ku masih lebih kuat...."

"Sudah kubilang berapa kali, kau ini bukan pengecut!"

"... Aku juga punya envy padamu, ingat?"

"Itu bodoh!" Sabito menyilangkan kedua lengannya di depan dada. "Kau tidak seharusnya mengiri padaku!" Kemudian ia menghela napas. "Giyuu, aku sudah sering mengatakan ini padamu tapi akan kukatakan sekali lagi; aku sayang padamu. Tapi kalau kita masih beda wujud seperti ini, yang ada kita malah membuat masalah."

"Mau bagaimana lagi, aturannya kan setiap iblis atau malaikat tidak boleh menunjukkan sisi dosa/kebajikan mereka selain pada diri sendiri, sedangkan semua orang tahu kalau aku cowardice dan envy," gumam Giyuu.

Sabito berhenti melangkah, memaksa Giyuu untuk ikut berhenti di sampingnya. Malaikat itu memandang cinta pertamanya dengan mata penuh kasih sayang, membuat napas Giyuu terhenti tiba-tiba.

"Memang tidak ada pilihan lain, ya. Sebenarnya aku ingin kita berdua jadi malaikat, supaya aku bisa melihat Giyuu versi cerah. Karena tidak bisa, maka aku harus menunjukkan sisi dosaku," tuturnya dengan mata masih melakukan kontak dengan mata biru Giyuu.

"Giyuu." Panggilan namanya dengan suara yang begitu ... hangat. Begitu sempurna. Begitu ... Sabito, berhasil menyadarkan Giyuu dari keterkejutannya. "Coba tebak dosaku."

Giyuu menelan ludah, rasanya ia sudah tenggelam di mata Sabito. "Pride?"

Sabito tertawa. "Arogan bangsat itu cuma punya Uzui. Bukan Pride," ucapnya, dengan nada rendah, membuat Giyuu merinding.

"Apa?" Bisiknya.

Seringai di wajah Sabito melebar dan ia mendekatkan wajahnya pada Giyuu, dengan pupil mata yang sudah menyempit layaknya iblis.

"Lust."

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 08 - Frail
---

Tangga ke gudang bawah tanah sekolah itu sudah terlalu rapuh, bahkan murid seringan Muichiro saja mungkin akan bisa membuat tangga tua itu runtuh. Tangga itu masih terbuat dari kayu dan tampaknya sudah ada di sana semenjak sekolah pertama kali dibuka. Tapi pihak sekolah tidak pernah mengusulkan untuk memperbaikinya, alasan paling besar adalah karena di gudang itu juga sudah tidak ada apa-apa lagi selain beberapa barang bekas yang terlupakan oleh seluruh murid.

Atau lebih tepatnya, sebagian besar murid. Yuichiro, sesuai dengan gelarnya 'Rampok Pengembara', ia kenal baik dengan seisi sekolah, bahkan sampai ke sudut-sudut gelap serta lorong kecil yang tercipta karena renovasi sekolah.

Dan kesalahan terbesar Yuichiro, adalah turun ke ruangan itu.

***

Sebenarnya ia sedang iseng saja menuruninya. Sabito sedang pergi dengan Giyuu entah kemana dan entah ingin berbuat apa (Yuichiro tidak punya keinginan untuk tahu) dan Inosuke yang biasanya mengintili Yuichiro juga sedang tidak ada, entah sedang merayau ke atap rumah mana lagi.
Ia ingin mengajak Muichiro, tapi ia juga tidak ingin adiknya itu menghirup terlalu banyak debu aneh-aneh yang memenuhi ruangan gelap itu. Untuk sementara, ia tidak perlu mencemaskan Sanemi kalau pembina pramuka itu tiba-tiba menodai Muichiro ketika ia pergi. Pemuda berambut putih itu sedang sibuk mencari Genya, yang Yuichiro tahu sedang sibuk men-stalk Tanjiro tanpa menyadari ada seorang guru yang juga melakukan hal yang sama pada incarannya.

Hmm, daftar yang panjang. Intinya, kali ini Yuichiro harus berpetualang sendirian.

Pintu ruang bawah tanah itu tidak terkunci, tapi tertutup oleh boks-boks berisi buku paket sisa yang belum dibawa ke perpustakaan sekolah. Dengan sedikit bersusah-payah, Yuichiro berhasil menurunkan tumpukan boks itu dan menggesernya ke samping. Latihan aikido yang sejauh ini hanya dijalaninya untuk berkelahi melawan Sanemi ternyata berguna untuk hal lain juga.

Pintunya sama seperti pintu pada kelas-kelas di atas -- besi putih dengan jendela persegi kecil di bagian atas, meskipun sekarang jendela itu sama sekali tak berguna karena lampu di dalam sudah lama putus.

Yuichiro membuka pintunya dan melangkahi tangga dengan hati-hati, berjengit sedikit ketika pegangan tangga yang digenggamnya berkeriut berbahaya dn memutuskan untuk melepaskannya -- kesalahan fatal. Begitu ia sampai ke anak tangga di tengah, seluruh susunan kayu itu berkeretak mengerikan dan sebelum Yuichiro sempat bertindak, pijakannya hilang disertai suara hantaman keras.

"GUH-?!"

Ia sempat merasakan kepulan debu memasuki paru-parunya dan membuatnya sesak napas sebelum ia benar-benar jatuh ke lantai semen. Refleks, tubuhnya dilingkarkan ke dalam seperti kaki seribu agar tidak ada kayu-kayu menjatuhi perut atau dadanya, meskipun dengan begitu, ia harus mengorbankan lengan, kaki, serta pinggangnya.

Setelah semua keributan itu selesai, Yuichiro akhirnya mulai sadar dengan apa yang terjadi. Tubuhnya terjebak di bawah tumpukan kayu yang entah bagaimana bisa saling tersangkut, dan ia bisa merasakan sesuatu mengalir dari betisnya -- kemungkinan besar, darah.

Napasnya putus-putus, dan yang pertama kali dikatakannya setelah ia bisa berbicara adalah-

"Sial."

***

Muichiro mendongak dari bangau kertas setengah jadi yang ada di tangannya dan menatap ke- yah, sebenarnya, ia tidak menatap kemana-mana. Hanya, menatap saja. Ia meletakkan bangau bersayap satu itu di tanah dan berpacu melintasi lapangan tempatnya duduk di bawah pohon.

Ia membelok ke dalam lorong gedung SMA dan melewati Uzui-sensei yang sedang asyik sendiri setengah-menyeret Zenitsu ke arah kantin, meskipun murid pirang itu protes berkali-kali. Beberapa murid SMA yang ditabraknya meneriakinya dan menatapnya dengan pandangan aneh, namun ia tak bisa lebih tidak peduli lagi.

Sepucuk surai putih familier masuk dalam penglihatannya. "Kak Sanemi!" Kepala berambut putih itu menoleh begitu tiba-tiba dan membuat Muichiro yang terlambat mengerem menabrak perutnya.

"Ouch- Mui?! Ngapain kau di sini?!" Tanya Sanemi, keningnya berkerut. Ia tak pernah melihat Muichiro lari sepanik itu (tidak panik, hanya terburu-buru). Kemudian matanya berkedut sedikit ketika sedikit bagian dari dirinya yang tidak cemas sadar bahwa ia tidak memanggil Muichiro 'bocah' seperti biasanya. Untung Yuichiro tidak ada di sana, ia bisa-bisa dihujat habis-habisan.

"Aku dapat- aku dapat firasat," engah Muichiro, napasnya masih belum stabil karena ia berlari tanpa persiapan. "Yui-nii, ada yang salah dengannya. Tapi aku tidak tahu apa."

Yang pertama kali terlintas di benak Sanemi adalah, 'F*ck, did i jinx it?' Meskipun ia dan Yuichiro lebih sering bertengkar dengan satu sama lain, tanpa sadar ia sudah memasukkan bocah iti dalam daftar orang-orang terdekat dengannya setelah Genya dan Muichiro.

Tapi ia berusaha menenangkan pikirannya dan menoleh kembali ke arah Sabito, yang mana ia ajak berbicara sebelum Muichiro menabraknya. "Apa kau ada melihat Yuichiro seharian ini?"

Sabito menggelengkan kepala. "Tidak. Aku hari ini dengan Giyuu terus. Tapi aku ingat dia bilang dia ingin menjelajahi celah sekolah yang belum ia masuki."

"Kemungkinannya kemana itu?" Desak Sanemi.

"Ngh, aku tidak tahu. Tidak tunggu- ia sering sekali merengek pada kami supaya kami menjelajahi gudang bawah tanah tua itu dengannya. Rencananya hari ini, tapi jadwal kami pada kacau balau semua,'' dengan itu, mata Sabito melebar, "Jangan bilang ia pergi sendiri ke sana." Tapi Sanemi sudah lebih dulu berlari, turun ke lapangan dan melintasinya agar bisa potong kompas, meninggalkan Muichiro dengan Sabito.

***

Sanemi tidak pernah menganggap Yuichiro lebih dari calon kakak ipar yang super menyebalkan. Selalu mengganggunya, dan overprotektif pada adiknya (meskipun Sanemi bisa versimpati untuk yang satu itu).

Tapi ketika melihat sosok Yuichiro tergeletak dengan tubuh terjepit batang-batang kayu tua di ruang bawah tanah, Sanemi teringat ketika Yuichiro akan membantunya mencari Genya atau Muichiro. Juga ketika Sanemi mendapatkan anxiety attack, Yuichiro-lah yang membantunya. Dan juga ketika bocah itu bertindak seakan ia benci sekali dengan sikap Sanemi yang mendekati adiknya, namun juga melakukan segala hal sebagai dukungan.

Yuichiro bukan hanya keluarga kekasih (atau calon kekasih, terserah) yang hanya Sanemi senangi karena ia punya hubungan darah dengan Muichiro.
Yuichiro itu sahabatnya, yang sejauh ini belum pernah menghakimi penampilan dan sikapnya (kecuali beberapa sarkasme di sana-sini, namun Yuichiro tak pernah benar-benar memaksudkannya).

***

Sanemi merangkul Muichiro lebih erat. Mereka menunggu di ruang tunggu rumah sakit, beberapa jam setelah Yuichiro dinyatakan stabil. Rengoku-sensei dan Himejima-sensei menerima panggilan dari Sabito dan segera bergerak membantu Sanemi.

Ketika mereka diperbolehkan menjenguk sebentar, Yuichiro mengangkat kepalanya yang terbaring di bantal dan menyeringai ke arah keduanya.

"Tenang saja, aku tidak akan meninggalkan kalian semudah itu."

"Jangan sampai," komentar Sanemi singkat.

Setelahnya, Muichiro bicara selama beberapa saat pada kakaknya, sebelum ia menerima pesan dari Genya yang mengajaknya makan malam di tempat makan dekat rumah sakit, dan menunggu izin dari Yuichiro dan Sanemi. Keduanya memperbolehkan, meskipun Yuichiro memprotes bahwa izin dari Sanemi itu tidak valid.

Ketika Muichiro sudah keluar dari kamar rawat Yuichiro, ia mendongak menatap Sanemi yang memandanginya sambil berdiri. "Aku tahu kau pasti cari-cari kesempatan untuk menyentuh Mui sementara aku dirawat di sini."

"Dia yang mau," balas Sanemi sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. Yuichiro menyipitkan matanya.

"Kau tahu kalau aku akan memburumu dari kubur kalau perlu, kan? Juga, aku bisa kok menendang pantatmu meskipun sedang terluka seperti ini."

"I don't expect something less, anyway," balas Sanemi, "Bocah itu takkan semanja itu kalau kau tidak kuat melindunginya."

"Dia tidak manja!"

"Uh-huh, terserah. Omong-omong, karena kamar asrama kalian bakal kosong, berarti bocah itu boleh tidur di kamarku dan Genya, kan?"

"JANGAN HARAP, DASAR MODUS!"

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 09 - Swing
---

Douma kecil duduk tanpa suara di atas ayunan tua itu. Mata multiwarnanya menatap bulan yang mulai naik di langit malam. Sesekali kakinya mendorong tanah, membuat ayunan itu mengayun pelan sebelum berhenti.

Sudah enam jam sejak ia kabur meninggalkan rumahnya. Kalian heran, kenapa anak seumurnya bisa sudah muak dengan rumah? Tentu saja jawabannya tak lain tak bukan adalah gara-gara kedua orangtuanya. Setiap hari, ada saja suara piring pecah. Setiap hari, bukan sapaan selamat pagi yang ia dengar, melainkan suara teriakan-teriakan penuh makian yang seharusnya tak boleh ia dengar.

Dia kabur pun belum tentu mereka sadar. Buktinya sudah selama ini, belum ada yang datang mencarinya. Orang-orang yang lewat pun hanya melihat bingung sebelum melanjutkan langkah. Ia tahu ia anak yang aneh, dengan rambut pirang panjang dan mata yang berubah warna setiap kali ia bergerak. Telinganya sudah buntu dengan sebutan anak haram. Malah ia sekarang berharap seandainya hal itu benar.

Karena jika begitu, paling tidak ia tidak berbagi hubungan darah dengan orangtuanya.

"Hei! Apa yang kau lakukan malam-malam begini?!" sapa seseorang dari belakangnya. Douma menoleh, membiarkan sesosok anak lelaki berambut merah dan bermata biru memasuki pandangannya.

"Kakimu luka juga ... kenapa tidak pulang?" tanya anak lelaki itu, meletakkan bolanya di tanah sebelum berjongkok di depan Douma dan memperhatikan lukanya.

"Aku tidak punya rumah," jawab Douma, sedikit bingung dengan perlakuan anak di depannya itu.

Anak itu mendongak, tapi tatapannya tidak kaget atau menghakimi, hanya bersimpati. "Baru saja?" tanyanya, kemudian mengangguk ketika melihat Douma mengangguk.

"Kalau begitu, menginap saja di rumahku!" seru anak berambut merah itu sambil menendang bolanya agar tersembunyi di dalam semak-semak.

"Eh?" Douma tidak yakin harus membalas dengan apa. Tapi anak itu menerima kebingungannya sebagai persetujuan dan berjongkok membelakangi Douma. Tangannya memberi isyarat 'ayo naik!'

"Ah, aku bisa jalan sendiri, tidak apa-apa."

"... Kau pikir Ayahku takkan marah melihatku membawa anak yang kakinya luka dan membiarkannya berjalan?"

Sekali lagi, Douma kehilangan kata-kata. Namun akhirnya ia mengalah dan naik perlahan ke punggung anak itu.

Ketika ia berdiri, ia tampaknya baru teringat akan sesuatu. "Ah, ya, namaku Hakuji Akaza. Panggil saja Akaza. Namamu?"

"Douma."

"Oke."

Perjalanan menuju rumah Akaza lumayan panjang. Douma, yang tidak tidur semenjak hari sebelumnya, mulai mengantuk ketika merasakan ayunan stabil dari setiap langkah Akaza. Perlahan, kepalanya jatuh dengan pipi di rambut merah Akaza, menjadikannya bantal, sebelum lelap tertidur. Tidur pertamanya selama seminggu itu yang tidak diantar oleh teriakan kedua orangtuanya.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 10 - Pattern
Notes: Soulmate AU di mana sebelum kalian ketemu sm kalian, kalian udah tau corak baju apa yang bakal dia pake ketika kalian ketemu.
---

Tomioka Giyuu sebenarnya tidak peduli-peduli amat dengan soulmate. Ia terbiasa hidup sendiri, terutama setelah kakaknya meninggal dua tahun yang lalu. Menurutnya, ada soulmate ataupun tidak, tidak akan mempengaruhi hidupnya. Lagipula ia bukan orang yang suka bersosialisasi dan orang juga tidak suka bersosialisasi dengannya.

Ia teringat dengan kata-kata kakaknya ketika ia masih hidup bahwa soulmate adalah orang yang melengkapi kekurangan diri sendiri. Karenanya Giyuu yakin bahwa soulmate-nya, siapapun itu, pasti orang yang ceria dan hangat. Rasa-rasanya, ia justru tidak akan tahan dikelilingi orang seperti itu setiap waktu. Rengoku saja sudah cukup.

Lalu kelihatannya orang itu juga punya fashion sense yang luar biasa buruk, kalau motif kotak-kotak hijau kuning itu bisa menjadi patokan. Yah, Giyuu kenal beberapa orang yang sengaja mengenakan baju aneh-aneh untuk mempermudah mencari soulmate mereka. Tapi ... memangnya soulmate-nya ini seputus-asa itukah menjalani kejombloannya? Ah, menyebalkan.

***

Giyuu mengambil alih komputer dari tangan Rengoku dan mulai mengotak-atik internetnya. Ia, Rengoku, dan Sanemi sedang ngumpul bareng di kost-kostan Rengoku, bergantian mencoba membobol wi-fi tetangga yang jaringannya jauh lebih lancar daripada wi-fi kost.

"Jadi, Sanemi, sudah tahu baju apa yang bakal dipakai soulmate-mu?" tanya Rengoku ceria sembari membiarkan Giyuu berusaha membobol password wi-fi itu.

Sanemi mengangkat bahu, "Aku enggak begitu peduli, sih. Tapi aku lihat dia pakai sweater biru gambar kincir angin."

"... Anak-anak?" tanya Rengoku lagi.

"Tahu, dah. Oi, Tomioka, sudah belum?!"

"Tunggu," balas Giyuu, "Sedikit lagi. Ah! Nah, sudah."

"Wah, cepat!" puji Rengoku. "Siapa nih, yang mau mencari duluan?" Ya, mereka datang untuk belajar bareng bukan karena mereka satu jurusan di kampus. Cuma ya, biasalah, mahasiswa. Memanfaatkan segala sumber yang ada, kan?

"Tomioka dulu, aku ditelpon Genya. Bentar," ujar Sanemi sambil lalu dan berdiri meninggalkan mereka sambil mengeluarkan ponsel dari saku. Padahal, ia yang paling menuntut biar Giyuu cepat sedikit, tapi akhirnya malah dia paling akhir.

***

"Jan ken pon!" Sanemi dan Giyuu meluncurkan simbol masing-masing. Setelah empat jam mencari bahan penelitian dan juga diskusi, mereka semua kelaparan dan memutuskan untuk melakukan undian. Tentu saja yang kalah yang harus pergi keluar di cuaca dingin itu.

Sanemi mengeluarkan batu, dan Giyuu mengeluarkan gunting. Ah.

"Giyuu, ini uangnya. Tadi pesanan kami masih ingat, kan?" tanya Rengoku. Giyuu menerima uang yang diberikan dan mengangguk sambil memasang jaketnya sebelum membuka pintu dan keluar.

Giyuu memasukkan kedua tangannya dalam saku jaketnya sambil mengamankan uang yang diberikan Rengoku dan membelok memasuki konbini pertama yang ia temui. Ia dan orang di seberang pintu kaca itu mendorong bersamaan dan mendongak bersamaan pula untuk meminta maaf, namun keduanya terdiam.

Mata biru Giyuu melebar ketika melihat orang di dalam mengenakan jaket dengan motif yang luar biaa familier -- kotak-kotak hijau kuning.

"Eh." Keduanya berkata bersamaan, kemudian hendak membuka mulut bersamaan pula. Ah, canggung. Akhirnya, Giyuu melepaskan pegangannya pada pintu kaca itu dan membiarkan orang di dalam keluar duluan.

"Aku enggak nyangka lho, bakal ketemu denganmu dalam keadaan seperti tadi," pemuda berbekas luka itu tersenyum. Mata kelabunya menatap langsung pada mata biru Giyuu, seakan menghipnotisnya.

Perkiraan Tomioka Giyuu selama ini salah besar. Ia selalu mengira bahwa ia akan bertemu soulmate-nya dan langsung berpisah karena ia bukanlah pasangan yang diinginkan orang-orang.

Nyatanya? Ia terpaku di sana, mengagumi semua hal tentang pemuda di hadapannya.

"Aku ingin sih, mengajakmu ke suatu tempat dimana kita bisa ngobrol berdua. Tapi adik dan Ayahku menungguku di rumah. Jadi ... untuk sementara, kita pakai ini dulu. Siapa namamu?" Tany si rambut peach sambil mencatat nomor teleponnya dan menuliskan nama Sabito di atas kertasnya.

"Eh, um, Tomioka Giyuu."

"Oke! Nanti malam hubungi, ya! Terserah kalau mau telepon atau kirim pesan. Aku tidak sabar menunggu kencan pertama kita!" kata Sabito sambil menyerahkan kertas nomor teleponnya pada Giyuu sebelum melambai dan pergi.

Giyuu termenung dengan kertas di tangan seperti orang bodoh sampai akhirnya sebuah pesan kesal dari Sanemi berhasil membuatnya ingat tujuan asalnya ke konbini.

Itu tadi ... mungkin pertemuan paling antiklimaks yang pernah terjadi. Tapi mau bagaimana pun juga, yang terpenting adalah kesan pertama. Dan kesan pertama Giyuu adalah.

'Ah ... sial, sepertinya aku langsung suka padanya.' Setidaknya kau tidak denial, Giyuu.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 11 - Snow
---

Yuichiro bingung. Muichiro sedang terbaring sakit di kamar asrama setelah berjalan melewati lapangan saat sedang turun salju, berakhir dengan tubuh panas dan meracau. Masalahnya sekarang Yuichiro perlu membeli obat tambahan karena stok lama mereka sudah kadaluarsa dan itu berarti ia harus meninggalkan Muichiro dengan orang lain.

Lebih sialnya lagi, baik Sanemi ataupun Genya tidak menjawab panggilan telponnya. Sabito sedang sibuk-sibuknya rapat OSIS bersama Giyuu -- ah ya, Sanemi juga anggota OSIS, dan Inosuke ... tunggu, kenapa Inosuke bahkan masuk dalam daftar itu?

"Haah ... bagaimana, ya-"

BRAK.

"Jadi, Yuichiro, kenapa ada dua belas misscall dan sepuluh pesan darimu yang hanya berisi 'Sanemi, darurat, Sanemi lagi, dan datang ke kamar'?" gerutu orang yang membanting pintu, dan Yuichiro sama sekali belum pernah selega itu melihat Sanemi di depan pintunya. "Kau tahu kan, aku lagi ada kegiatan bareng si pasangan sial itu?"

Tapi Yuichiro sudah tidak mendengar lagi omelan Sanemi dan sedang memasang mantelnya. "Aku mau keluar sebentar. Jaga Mui," perintahnya singkat sebelum mendorong Sanemi agar menyingkir dari ambang pintu dan membantingnya menutup, mengunci Sanemi di dalam kamarnya.

"Apa maksudmu jaga si bocah?! Hei!" teriak Sanemi sambil menggedor pintu.

"Hngg...." Tumpukan selimut di kasur di belakangnya bergerak sedikit, jelas terganggu oleh siara gaduh yang dihasilkan Sanemi. Anak kelas tiga SMA itu mengantongi ponselnya dalam saku celana dan berjalan mendekati Muichiro -- ia yakin itu Muichiro -- dan mengerutkan kening ketika visual wajah Muichiro yang merah dan berkeringat menyapa pandangannya.

"Demam...?" Oh, benar. Muichiro alergi dingin, ya, batin Sanemi. Ia mengangkat bahu, lalu menunduk untuk membetulkan letak selimut Muichiro. Ia duduk di sisi tempat tidur dan memandangi wajah tidur Muichiro. Tidak terlihat setenang biasanya -- jangan tanya Sanemi kenapa ia bisa tahu perbedaannya -- tapi ... entahlah. Wajah Sanemi juga agak memerah ketika melihat ekspresi Muichiro.

"Hng...." Sekarang, seluruh wajah Sanemi memerah sampai ke telinga dan ia membenamkannya dalam kedua tangannya. Ia anak laki-laki SMA, demi Tuhan. Ia tidak pernah berkilah kalau ia adalah anak baik yang tidak pernah nonton porno -- meskipun bukan insiatifnya sendiri, salahkan Douma untuk itu -- tapi ia tak pernah merasa sekotor ini sebelumnya.

Padahal Muichiro tidak melakukan apa-apa, astaga.

Sanemi bangkit berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

'Bocah itu hanya bocah, Sanemi. Memang sudah kodratnya untuk jadi imut-' Sanemi hampir membenturkan kepalanya ke wastafel. Itu pertama kalinya ia menggunakan kata itu untuk mendeskripsikan seseorang.

Astaga, apa yang sudah dilakukan Muichiro padanya?

***

Yuichiro pulang hanya untuk menemukan Sanemi berbaring di samping Muichiro, memeluk kepala anak kelas satu itu ke dadanya, keduanya tertidur lelap. Melihat wajah damai adiknya, Yuichiro batal menendang Sanemi dari tempat tidur.

Tidak ada yang tahu bagaimana Sanemi bisa berubah dari malu kuadrat ke se-bold itu.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 12 - Dragon
---

"Mui, kakak hari ini pulangnya agak telat ... enggak, enggak ada masalah sama guru, cuma dipaksa buat masuk klub drama dadakan," ucap Yuichiro ke ponselnya sambil memutar matanya mengingat bagaimana salah satu anggota klub drama -- Makomo? -- berhasil menyeret dirinya, Sabito, dan Inosuke untuk menggantikan beberapa pemain yang tidak masuk.

Yuichiro mendengarkan apa yang dikatakan oleh adiknya dari seberang sambungan dan sudah hendak menjawab ketika sudut matanya melihat beberapa anggota klub drama perempuan berusaha melerai Sabito dan Inosuke yang kelihatannya ingin berkelahi.

"Ah, Mui, ditutup dulu ya, Sabito sama si Babi bikin masalah. Iya, jangan nyalakan kompor kalau sendirian di kamar. Dah," katanya sebelum memutuskan telepon dan menyelipkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu mendekati kerusuhan kecil yang terjadi. Makomo tidak ada dimana-mana. Mungkin itu alasan kedua sahabatnya bisa membuat rusuh begitu. Sabito takkan berani merusuh klub adiknya. Mereka tampaknya sedang berebut ... peran?

"Aku mau jadi naga!"

"Haah?! Mimpi! Kau enggak cocok jadi naga!"

"Tapi aku Raja Gunung, kan?! Semua peran binatang cocok buatku!"

"Enggak ada hubungannya! Sama sekali enggak ada hubungannya!"

"Numpang lewat," desisnya ke arah murid-murid yang menghalangi jalannya dan berjalan mendekati keduanya. "Kalian meributkan apa, sih? Kalau ada properti rusak tetap kita yang kena salahkan."

Sabito dan Inosuke menoleh ke arahnya bersamaan dengan wajah masih kesal bercampur kaget, jadi seperti dua anak kecil yang ketahuan mencuri kue. Tapi mereka tampaknya tidak mendengarkan kata-kata Yuichiro sebelumnya, karena mereka justru lanjut berdebat.

"Kalau aku enggak boleh jadi naga, kau juga enggak boleh dong!" teriak Inosuke.

"Deal!" balas Sabito, sama ngegasnya. Keduanya kembali menoleh ke arah Yuichiro dan menyodorkan sebuah kostum berwarna cokelat ke arahnya.

"Yuichiro! Kau yang jadi naga!"

"Heh?"

***

Yuichiro menghela napas. "Kok aku mau-mau saja menurut ke kalian?" keluhnya dari balik kostum naga yang sudah ia pakai. Kostumnya sih tidak jelek-jelek amat, bagus malah. Hanya saja cara pemakaiannya yang membuatnya jadi seperti maskot anak-anak, dengan wajah pemakai di mulut si naga.

"Karena aku dan Inosuke berhasil membujuk Makomo buat merekam semuanya, dan rekamannya bakal kau berikan ke Muichiro. Iya, kan?" tanya Sabito, yang berakhir dapat peran pangeran -- meskipun ia sempat merajuk karena tak dapat naga -- serius, ada apa sih dengan naga ini?

Inosuke mengangguk dari sisi ruangan, berjalan dengan canggung dalam gaun yang dipakaikan padanya. Ya, dia dapat peran jadi putri. Setengah alasannya adalah karena ia tak boleh berperan pakai topeng dan peran lain tidak cocok dengan visual wajahnya, sementara setengah sisanya, Makomo hanya ingin menghukum kakaknya dan Inosuke karena telah membuat keributan.

Teks naskahnya sendiri jadi diubah gara-gara Inosuke jadi perempuan, karena meskipun wajahnya sangat feminim, suaranya berbalik seratus delapan puluh derajat, membuatnya harus membisu selama latihan atau pementasan. Untungnya sejak awal, peran putri memang dialognya sedikit, jadi tidak masalah.

Dan naskah dramanya juga bukan mengenai putri yang diculik naga. Melainkan tentang pangeran yang ditugaskan untuk membunuh naga itu dan malah melindungi keberadaannya, tanpa tahu kalau naga itu sebenarnya adalah putri yang dikutuk.

***

Sanemi memperhatikan foto anak berkostum naga yang dikirim Sabito ke grup kelas. Yang bisa dilihat Sanemi hanyalah mata si pemakai kostum.

'Itu Yuichiro atau si bocah? Lucu amat pakai kostum begituan.'

Tapi kemudian Sanemi bisa melihat hawa membunuh terpancar dari sepasang mata toska itu dan mengangkat alis. Itu Yuichiro.

'Kau ngapain sih meninggalkan si bocah buat ngedrama jadi naga?'

Ya, Sanemi, namanya juga salah pilih teman.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 13 - Ash
---

"Kak Sanemi, kremasi itu apa?" tanya Muichiro, duduk bersila di tempat tidur Sanemi dengan sebuah buku pelajaran di pangkuannya. Sanemi yang sedang mengirimkan pesan pada Genya menoleh ke arah adik kelas slash calon pacar slash hampir jadi pacarnya itu.

"Kremasi ... memangnya kenapa?" tanyanya. Tumben Muichiro menanyakan soal pelajaran, batinnya.

"Waktu pelajaran sejarah tadi, kelasku disuruh mendiskusikan orang-orang terkenal yang dikremasi ... nah, kremasi itu apa?"

Sanemi mengerutkan kening. "Masak tidak dijelaskan sama gurunya?"

"Oh, bukan. Akunya yang ketiduran." Ah, kenapa Sanemi perlu bertanya?

"Kremasi itu artinya kalau ada orang yang mati, tubuh mereka dibakar sampai jadi abu dan kemudian diberikan pada keluarga mereka, entah mau disimpan atau disebar ke laut," jawab Sanemi, berusaha memberi penjelasan sederhana.

Kepala Muichiro terteleng ke kanan. "Oh, seperti pembakaran penyihir di abad pertengahan?"

"Kenapa yang begituan bisa kau ingat? Tapi tidak, dua-duanya beda jauh."

Kepala Muichiro berbalik meneleng ke kiri, "Kenapa orang matinya mesti dibakar?"

Sejak kapan aku jadi guru sejarahmu? batin Sanemi. Tidak. Bukan hanya guru sejarah, tapi juga guru IPA, bahasa, IPS, dan yang paling sering, guru bimbingan konseling untuk edukasi seks -- tunggu, ada-ada saja.

"Mana kutahu. Ada yang bilang supaya jiwanya tenang atau entah apa. Tapi kalau menurutku sih, itu gunanya buat menghemat tanah kuburan, meskipun malah jadi mencemari laut," jawabnya sambil lalu.

"Aku tidak mengerti tapi ya, sudah. Aku ngantuk."

"Tidur sana. Yui jemputnya masih lama." Begitulah, Sanemi akhirnya sampai terbiasa dengan Muichiro yang tertidur di tempat tidurnya, malah terkadang berdua dengan dirinya sendiri. Meskipun resikonya bakal ditinju Yuichiro karena 'menodai Mui', tapi Sanemi memang bukan tipe orang yang mudah kapok.

Namun kali itu, Muichiro bukannya berbaring di tempat tidur Sanemi begitu saja, melainkan turun dan berdiri di samping Sanemi yang bersila di lantai, membuat mantan ketua preman itu harus mendongak untuk menatap mata mengantuk Muichiro.

"Awas." Oh? Tumben. Tapi Sanemi penasaran apa yang diinginkan Muichiro, jadi ia meletakkan ponselnya di lantai disusul kedua tangannya, mengubah posisinya jadi bertumpu pada kedua lengannya.

Muichiro langsung merendahkan posisinya dan duduk berselonjor di pangkuan Sanemi. "Tempat tidur Kak Sanemi dingin, aku tidurnya di sini saja."

Sanemi menghela napas, namun membiarkan Muichiro menyamankan dirinya, bersandar ke dada Sanemi.

"Aku akhir-akhir ini sering dapat mimpi aneh. Ada Kak Sanemi dan Genya di dalam sana, tapi Yui-nii tidak ada. Kita bertiga memakai pedang dan melawan monster bermata enam...." Muichiro berhenti dan membalikkan wajahnya agar terbenam ke dada Sanemi, seakan berlindung dari sesuatu.

"Hmm ... lalu?" tanya Sanemi. Ia sudah biasa dijadikan tempat curhat mimpi oleh Genya, jadi ini bukan sesuatu yang asing untuknya.

"Aku dan Genya, badan kami terbelah jadi dua. Kak Sanemi ngamuk, lalu dengan bantuan satu orang lagi, berhasil membunuh monster itu. Aku dan Genya mati, kayaknya, dan monster itu berubah jadi abu. Apa itu juga kremasi?" tanya Muichiro.

"... Tidak." Sanemi merasa aneh dengan mimpi Muichiro. Apa yang ditonton anak itu sampai dapat mimpi seburuk itu?

"Kak Sanemi, itu cuma mimpi, kan? Kenapa tidak ada Yui-nii menjagaku?" suara Muichiro sekarang hanya berupa gumaman, namun masih terdengar jelas untuk Sanemi. Ia merasa sedikit tertohok, kenapa Sanemi di mimpi Muichiro bisa gagal melindunginya?

"Entahlah," jawab Sanemi, "Tapi itu cuma mimpi."

"Kak Sanemi akan selalu menjagaku, kan? Yui-nii juga?"

"Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri kalau aku tidak bisa. Tapi selama aku masih bernapas, aku akan terus menjagamu." Sanemi mencium pucuk kepala Muichiro dan meletakkan pipinya di sana.

"Dari mimpi buruk juga?" tanya Muichiro, namun suaranya hanya berupa bisikan lelah.

"Dari kiamat, kalau perlu."

***

Yuichiro yang sedari tadi mengupingi keduanya terdiam di tempatnya berdiri, sadar bahwa rasa sayang di antara keduanya sudah amat kuat.

Sebuah senyum terpatri di wajahnya, "Tinggal menunggu beberapa tahun sampai dia berani melamar, ya...."

"Waktu rasanya berlalu cepat sekali." Seperti proses kremasi. Iya, kan, Yuichiro?

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 14 - Overgrown
Notes: College/University!AU
---

Sabito membuka ikatan rambut kekasihnya dan tertawa ketika helaian rambut kelam itu terurai sampai ke punggung Giyuu. "Kapan terakhir kali kau potong rambut, sih?" tanyanya ceria, mulai memisahkan helai-helai hitam itu dengan jari-jarinya, meluruskan helaian yang sedikit kusut karena terikat terlalu lama.

"... Entah, aku juga sudah lupa," jawab Giyuu sambil menundukkan kepalanya sedikit, memudahkan Sabito untuk meraih rambutnya yang jatuh ke bawah bahunya. Posisinya duduk dengan kedua lutut ditarik ke dada dan punggung bersandar ke kaki Sabito yang duduk di atas sofa.

"Apa tidak panas, sampai sepanjang ini? Eh, tapi aku jadi ingat waktu kita masih SD dan SMP, Giyuu harus potong rambut biar boleh masuk sekolah. Tapi karena rambut Giyuu liar sekli kalau dipotong, malah dikira anak berandal." Sabito tertawa kecil mengingat hari-hari dimana Giyuu dijauhi bukan karena sifatnya yang pendiam, melainkan karena penampilannya yang mirip preman. Malah, yang paling Sabito ingat adalah ketika Shinazugawa Sanemi, ketua preman sekolah, sempat naksir pada Giyuu, namun segera mundur teratur ketika tahu kalau Giyuu sudah ada yang menjaga.

"Tolong jangan ditertawakan," pinta Giyuu lirih. Sabito tersenyum hangat, meskipun Giyuu tidak bisa melihatnya. Terkadang mengingat bahwa Giyuu masih punya sedikit sisa inferiority conplex yang didapatnya sejak SMP membuatnya sedih. Namun, melihat betapa bagusnya perkembangan Giyuu sekarang, Sabito tidak bisa menahan tawanya. Namun kali ini tawnya tidak terdengar seperti menertawakan sesuatu yang menyenangkan, melainkan menertawakan betapa cepatnya semua waktu mereka berlalu.

"Iya iya, maaf," ucapnya sambil menunduk, mencium kepala Giyuu, "Tapi aku serius, meskipun terbiasa, kalau tidak nyaman sebaiknya dipotong saja."

"Aku tidak bilang kalau aku tidak nyaman dengan rambut panjang."

"Ya, siapa tahu, kan? Giyuu kebiasaan memendam masalahnya sendiri, sih. Aku jadi cemas terus kan," komentar Sabito dengan nada pura-pura sedih, namun efeknya jadi tidak berguna ketika ia mengakhiri aktingnya dengan menertawai dirinya sendiri. Kemudian, ia melanjutkan kesibukannya mengacak-acak rambut Giyuu layaknya sedang mengacak bulu seekor kucing. "Ih, meskipun aku sudah sering melihat Giyuu dengan rambut terurai begini, rasanya selalu seperti pertama kali lihat."

Giyuu tidak tahu apa yang harus ia katakan ketika mendengar itu, jadi dia hanya semakin menunduk, menggerutu pelan dan mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah dari pandangan Sabito. Ia masih belum terlalu terbiasa dengan kebiasaan Sabito yang selalu memuji dan menyayanginya tanpa memiliki kemauan tersembunyi dari balik semua sikapnya. Yah, meskipun Sabito posesifnya minta ampun, sih, sampai-sampai gelar Raja PDA yang dulu disematkan pada Uzui, sekarang malah diberikan pada Sabito. Luar biasa, memang.

"... Kalau Giyuu jadi cantik begini, nanti banyak yang naksir, lho. Masa aku harus menjagamu 24/7?" Memang hanya Sabito, mahasiswa yang menyebut dua puluh empat jam per hari dengan dua puluh empat per tujuh.

"Mmm ... sejauh ini yang sempat naksir denganku cuma Sanemi, kok. Itupun tidak sampai sebulan."

"Mereka tidak berani soalnya ada aku, bukan karena Giyuunya yang jelek -- huh, rasanya aneh menyatukan namamu dengan kata jelek dalam satu kalimat."

Giyuu tidak menjawab. Dengan rasa tangan Sabito yang masih mengacak-acak sekaligus merapikan rambutnya -- entah bagaimana bisa -- dan keadaan sekitar mereka yang sunyi, pemuda bermata biru itu jadi bernostalgia, teringat ketika ia masih di taman kanak-kanak, ada seorang murid nakal yang menarik rambutnya yang saat itu sudah sepanjang bahu dan mengejeknya perempuan. Urokodaki Sabito, yang saat itu belum dikenalnya, tiba-tiba datang dan menjauhkan anak nakal itu dari Giyuu. Sabito yang saat itu masih berambut pendek, terlihat amat keren dalam pandangan Giyuu. Nyatanya, sekarang, ia justru jatuh cinta pada Sabito yang berambut panjang -- bukan artinya ia hanya menilai Sabito dari fisik, tapi siapa sih yang bisa tahan melihat Sabito tersenyum dan tidak menganggapnya ganteng? Ah, ya, Sanemi.

Kemudian, Sabito kecil membawanya ke sebuah pohon besar di halaman belakang taman kanak-kanak itu dan mengepang rambutnya sambil terus mengatakan bahwa rambut Giyuu itu cantik -- entah Sabito memang dilahirkan jadi lelaki yang suka PDA sejak awal atau sempat salah menganggap Giyuu anak perempuan saat itu, tidak ada yang tahu.

Giyuu tersadar dari lamunannya ketika rambutnya diputar ke atas oleh Sabito, kemudian diikat kembali menggunakan ikat rambutnya. Tanpa melihat pun Giyuu tahu Sabito sedang mencobakan twisted bun ke rambutnya, entah kenapa. Giyuu masih belum mengerti kenapa Sabito senang sekali kalau diperbolehkan menata rambutnya sesuka hati. Sabito pernah menjawab pertanyaan itu, tapi 'Karena Giyuu mirip kucing, kalau aku dapat kepercayaanmu, rasanya bahagia sekali!' bukanlah jawaban yang bisa Giyuu mengerti.

Yah, bukan berarti ia tidak suka rambutnya dimainkan oleh Sabito.

"... Giyuu...." suara Sabito yang melemah membuat Giyuu kaget. Kenapa Sabito kesannya jadi sedih sekali?

"Um, Sabito?"

"Aku ... jadi jatuh cinta sekali lagi ke Giyuu...."

Ah- "Heh?"

Giyuu tak sempat memberi respon lebih selain itu sebelum Sabito melompat dari sofa dan menindihnya di lantai.

"Sayang sih, kalau rambutnya jadi kacau sekarang...," bisik Sabito dengan suara rendah, "Tapi lebih sayang lagi kalau tidak dimanfaatkan. Iya, kan, Giyuu?"

... Ah.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 15 - Legend
---

Cinta sejati itu bukanlah sejati untuk beberapa orang. Sanemi, misalnya. Selama berabad-abad, cinta yang ia temui (dan jalani) adalah cinta semu. Begitu orang yang dicintainya meninggal, cintanya ikut mati bersama mereka.

Ia bukanlah seorang manusia abadi yang berjalan-jalan hanya untuk mencari cinta atau orang yang mau mengurusnya. Sejauh ini, kegiatannya hanyalah mengamati manusia-manusia nornal lainnya dan menertawakan hal-hal yang mereka lakukan yang ia anggap bodoh.

Menurut Shinazugawa Sanemi, cinta sejati itu tidak ada di dunia keparat ini. Ataupun jika ada, bukan untuknya. Tidak pernah untuknya.

***

Sanemi bukanlah seorang shapeshifter. Karenanya ia sudah cukup terkenal sebagai manusia yang punya kemampuan aneh, terutama di sekitar tempat tinggalnya. Mau bagaimana lagi, bukan salahnya jika ia sedikit delirium setelah ditabrak mobil bangsat itu dan segera kabur dari tempat kejadian alih-alih membiarkan dirinya dibawa ke rumah sakit.

Karenanya ia hanya membuka-buka koleksi buku-buku tua miliknya. Meskipun tampilan luarmya tidak meyakinkan, tapi kehidupan keras yang tak berakhir membuat Sanemi memutuskan untuk sesekali kabur dari kehidupan nyata ke kehidupan khayal di dalam lembaran buku.

Beruntung sekali, moodnya yang sudah jelek dari pagi jadi semakin parah ketika ia tanpa sengaja justru membuka buku tentang red string of faith -- benang merah takdir -- yang sangat melegenda di Jepang. Banyak orang menganggap legenda itu romantis, tapi Sanemi justru ingin sekali memotong benang merah milik semua orang, andaikan legenda itu memang benar.

Bukan, ia bukan jenis orang yang berprinsip 'Kalau aku tidak diperbolehkan mencintai, maka seluruh umat manusia juga tidak boleh!', melainkan ia hanya kesal. Semudah itu orang-orang menyerahkan takdir percintaan mereka pada sebuah benang imajiner, dipasangkan pada orang asing yang tak pernah mereka temui -- dan berdasarkan beberapa kisah, bahkan meskipun mereka adalah soulmate, ada yang hubungannya tetap berakhir buruk.

Lalu, apa gunanya?

Sanemi tertawa histeris dan melemparkan buku di tangannya hingga membentur dinding. Suaranya bergema selama beberapa saat di kamarnya yang kosong. Kosong dan tertutup.

Orang bilang bahwa kamar seseorang adalah cerminan hati mereka. Dan lihatlah kamar Sanemi, maka kalian akan langsung mengerti.

***

Malamnya, Sanemi keluar dari rumahnya dan melenggang melewati rumah-rumah tetangganya. Ia terbiasa melakukan kegiatan di luar rumah pada malam hari agar tidak perlu disambut oleh pandangan-pandangan aneh mereka.

Padahal sejujurnya ... kegiatannya di luar rumah pun tidak sebegitu pentingnya. Ia bukannya harus membeli makanan atau kebutuhan sehari-hari, juga. Ia hanya akan berjalan kesana-kemari tanpa tujuan dan mengamati kebodohan orang-orang di sekitarnya. Tidak, dia takkan menginterupsi jalan hidup seseorang, hanya mentertawakan pilihan-pilihan mereka.

Manusia-manusia bodoh.

Bruk.

Seseorang berperawakan kecil ramping menabrak tubuh Sanemi. Ia tidak begitu memerdulikan, sih. Mungkin dirinya yang dulu akan menarik kerah orang yang menabraknya itu dan membentaknya, menyuruhnya minta maaf. Tapi sekarang? Jika diibaratkan hidup Sanemi itu sebagai sungai yang tak henti-henti mengalir, maka ditabrak oleh seseorang sekecil itu bahkan tidak akan membuat riak di permukaannya.

"Ah. Maaf, aku melamun lagi," ucap orang itu. Sanemi menoleh, hendak mengibaskan tangan dan kembali menjalani hidupnya sendiri, namun terdiam melihat sosok itu.

Ia langsung tahu kalau orang itu adalah lelaki. Yah, bukan lelaki juga. Anak laki-laki lebih cocok untuk mendeskripsikannya. Tapi itu adalah anak terunik yang pernah Sanemi lihat. Perawakannya yang kecil namun lumayan tegas, matanya yang besar dan hijau, serta rambut panjangnya. Sanemi mengedipkan mata.

"... Bukan masalah buatku, bocah. Sudah sana, pulang." Sungguh, itu adalah kalimat terpanjang yang Sanemi tujukan sepenuhnya pada satu orang semenjak entah berapa bulan yang lalu.

Anak itu mengangguk dan sebelum melangkah, sempat mengulurkan sebuah kantung kertas kecil pada Sanemi, lalu ia berbalik, pergi. Tanpa tahu kenapa, Sanemi masih terdiam di sana dengan kantung kertas di tangan, memandangi punggung kecil itu menjauh, menghilang di antara kerumunan.

Sanemi mengenali bau ohagi di manapun dan kapanpun ia berada.

***

Sanemi dan Yuichiro berdiri di pinggir sebuah tebing, menatap bersama-sama ke samudra di hadapan mereka. Birunya tak tepisahkan dengan biru langit, jauh berkebalikan dengan kehidupan yang mereka kenal, selalu dirundung badai salju dan hujan.

"Kau tahu, aku tidak menyangka kakak iparku sendiri juga makhluk aneh sepertiku," komentar Sanemi tanpa subyek jelas, dengan ohagi di tangan, belum termakan sama sekali.

"Kau bodoh sih. Aku langsung tahu begitu melihatmu. Bayangkan, kekasih Mui adalah seorang immortal. Pasti sakit sekali, ya?" balas Yuichiro dari samping Sanemi.

"Jangan bilang begitu, kita berdua sama-sama sakit. Memang begitu kan? The flaw of God always take the flaw of His world. Selalu kita yang kena sial."

"Mm-hmm."

Mereka sama-sama terdiam selama beberapa saat, merasa nyaman dengan keberadaan sahabat masing-masing.

"Kau tahu, jika immortal bisa bunuh diri, sudah lama akan kulakukan," celetuk Sanemi, akhirnya mengambil satu gigitan dari ohagi di tangannya.

"Kau ... benar-benar mencintainya, ya?" Itu bukan pertanyaan, baik Yuichiro maupun Sanemi tahu. Tapi yang ditanya tetap mengangguk.

"Ini pertama kalinya aku merasakan cinta seperti itu. Meskipun tubuhnya tidak lagi bersamaku...." Sanemi terdiam lagi, begitu juga Yuichiro. Pemuda berambut panjang itu meletakkan tangannya di lengan Sanemi dan tersenyum lemah.

"... Tapi untuk pertama kalinya dari seluruh orang yang pernah kucintai, kebaikannya tetap terasa jelas dalam jiwaku."

Ya, Tokito Muichiro mereka kuburkan bersama di tebing itu. Tempat mereka berpijak sekarang, adalah tempat yang sama pula dengan lokasi dimana Sanemi mencium Muichiro pertama kali, menyatakan perasaannya.

Itu sudah berabad-abad yang lalu, namun kenangannya masih tetap jelas dalam memori Sanemi. Bagaimana tidak? Ia akhirnya menemukan cinta sejatinya, sebuah legenda yang ia sangka takkan pernah ia temukan.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 16 - Wild
---

Hashibira Inosuke adalah anak yang liar, seisi sekolah sudah tahu itu. Pada masa-masa dirinya baru masuk sekolah, ia sering didekati banyak murid dari yang gendernya jelas sampai yang Inosuke ogah mencari tahu jenis kelaminnya (baca: Douma).

Tapi semua perhatian itu perlahan-lahan lenyap, para murid itu mundur begitu melihat sikap Inosuke yang menurut mereka terlalu liar. Terlalu kasar. Tak terkontrol, seperti binatang liar yang mengurusnya dulu. Bahkan, jumlah yang membencinya justru semakin bertambah.

Bukan artinya dia peduli dengan bisikan-bisikan penuh dengki yang dilontarkan tanpa tahu ia bisa mendengarnya dengan jelas -- hey, tidak perlu telinga setajam si Monitsu itu kalau orang yang menggosipkannya hanya berjarak dua bangku darinya. Apa sih, mereka itu? Orang bodoh?

Ah, ya ... Monitsu, Gonpachiro, dan Gentaro. Mereka adalah orang-orang yang masih mau menghabiskan waktu dengannya tanpa paksaan berlebih ataupun penolakan halus. Dan Inosuke suka itu. Ia suka dengan kejujuran mereka dengannya. Kalau mereka ingin ikut dengannya, mereka akan ikut. Kalau sedang ogah, mereka langsung menolak, tidak pakai kata-kata sok menyesal 'maaf tapi Ibuku sakit' dan semacamnya.

Sebenarnya, kalaupun alasannya jujur, Inosuke tidak keberatan membatalkan agendanya atau mengajak orang lain. Masalahnya, seliar apapun Inosuke, jiwanya masih sangat kekanakan dan sangat mudah terluka, terutama karena ia bisa dengan mudah membedakan mana yang merupakan kebohongan.

Ah, dia jadi teringat dengan pengalamannya pertama kali bertemu dengan teman-temannya, mengejutkan mereka dengan melompat dari lantai dua.

***

Inosuke tidak mengerti kenapa ia berbaring di lantai yang berdebu dan dingin alih-alih di bangkunya di kelas. Seingatnya, ia tertidur saat jam pelajaran matematika. Oh, apakah sensei galak itu membawanya ke sini? Mungkin saja, ia kelihatannya kuat. Inosuke mau menantangnya berkelahi sekali-sekali.

Anak itu berdiri dan menelengkan kepala dengan heran begitu menyadari bahwa ia berada di dalam gudang peralatan olahraga. Itu aneh. Ia jarang sekali pergi ke tempat ini, jadi kemungkinannya kecil kalau ingatannya salah dan ia justru tertidur di sini. Tapi yah, peduli amat. Yang Inosuke inginkan sekarang hanyalah pulang ke rumah dan makan tempura kesukaannya.

Tapi pintu itu tidak mau membuka. Bahkan ketika Inosuke mencoba mendobraknya, pintu itu tetap bergeming, hanya membuat bahunya nyeri. Kok begitu? Apa pintunya terkunci dari luar? Siapa yang mengunci? Guru, atau...?

Sekilas, Inosuke teringat dengan percakapan beberapa murid sekelasnya ketika waktu istirahat yang tanpa sengaja ia curi dengar.

"... Kuncinya kau ambil dari mana?...."

"... Panggil si N dari kelas sebelah...."

"... Tubuhnya berat, bagaimana...."

Dan sekarang, ketika Inosuke terdiam di sana, memegangi bahunya sambil menatap pintu di hadapannya dengan bingung -- kenapa mereka membenciku? Kenapa tidak bilang langsung padaku? Inosuke-sama tidak jahat! -- ia sadar bahwa kebencian murid-murid lainnya padanya ternyata jauh lebih menyeramkan dari yang ia duga.

Inosuke menghembuskan napas pendek dan merasakan cahaya matahari dari punggungnya yang masih dilapis seragam. Sekarang, bagaimana ia bisa keluar? Pintu ini lebih kuat dari dirinya dan ia tentu tidak bisa membuka penutup ventilasi udara tanpa peralatan bantuan. Ini menyebalkan, ia benci berpikir....

... Tunggu, punggungnya terkena cahaya matahari?

Inosuke menoleh ke belakang dan segera menghampir jendela kecil yang terletak di atas rak berisi raket itu, sebuah seringai melintas di wajahnya ketika ia melihat matahari terbenam dari balik jendela -- ia masih bisa pulang! Nenek tua itu tak perlu cemas! Inosuke-sama akan tetap bisa menghabiskan masakannya malam ini!

Untungnya jendela itu tidak pernah dikunci dan tidak pernah bisa dikunci, jadi satu tarikan bertenaga dari Inosuke cukup untuk membukanya. Remaja bermata hijau itu mendorong dirinya naik ke atas rak dan mengaitkan kakinya melewati jendela, perlahan menyisipkan tubuhnya melewati celah sempit itu.

Ha! Inosuke-sama memang tak terhentikan! Lihat aku!

Inosuke melentingkan tubuhnya dan mendarat di atas atap lorong tingkat satu. Sambil menjaga keseimbangan, ia mengintip ke pinggirnya, membidik ke arah semak-semak atau sesuatu yang bisa dijadikan tempat pendaratan. Hmm ... tampaknya sudut sana bisa ia gunakan.

Inosuke melangkah di atas genteng dengan keluwesan yang sama seakan ia hanya sedang berjalan di jalan beton mulus, mengabaikan telapak kakinya yang sedikit berdarah karena tertusuk pecahan kaca yang entah kenapa ada di situ.

Begitu sampai di atas spot yang ditandainya tadi, ia mengerutkan kening, fokus, dan mengambil ancang-ancang.

Yang tidak ia perkirakan adalah seorang murid melewati bagian itu tepat ketika ia melompat. Mata mereka sempat bertemu sepersekian detik sebelum-

-BRUAK!

"Ap-?!"

"Genya?!"

Inosuke meludahkan daun yang masuk ke mulutnya dan dengan kelenturan tubuhnya, berdiri tegak di depan para penontonnya yang masih kaget. Ada dua orang anak kembar di sana, satu anak laki-laki berambut merah gelap, satu lagi berambut pirang, seorang anak perempuan berambut hitam panjang, dan yang ia jadikan tempat pendaratan -- woaahh, kelihatannya anak itu kuat! Ugh, tapi matahari sudah terbenam, Nenek pasti sudah menunggunya. Yah, mau bagaimana lagi.

"Kau ini siapa, sih?! Main terjun-terjun saja dari atas!" Bentak anak yang dijatuhinya sambil berdiri dan membersihkan seragamnya yang kotor kena tanah dan daun.

Inosuke menyeringai. Sejak dulu, ia suka sekali bagian perkenalan diri. "Namaku Hashibira Inosuke! Jangan sampai lupa!"

"Huh...?! Aku bahkan tidak mengenalmu!"

Tapi Inosuke sudah kehabisan waktu. Ia segera berlari, namun tak lupa melambaikan tangan ke arah gerombolan itu sambil menyeringai. "Kita bertarungnya nanti saja ya! Aku harus pulang sekarang!" teriaknya sebelum melesat keluar gerbang.

Genya menggeretakkan rahangnya kesal. "Freak," gerutunya pada akhirnya.

"Tapi dia kelihatannya anak yang baik, lho! Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya lagi!" sela Tanjiro ketika kelompok itu kembali berjalan bersisian, hendak pulang bersama-sama.

"... Tanjiro."

"Ya, Zenitsu?"

Zenutsu merendahkan suaranya sanpai hanya bisikan. "Kau bahkan menganggap Shinazugawa-senpai baik. Aku tidak mau mempercayai pendapatmu soal si Inosuke tadi."

"Ehh...."

Yah, Monitsu, mau bagaimanapun juga, tidak ada satupun dari kalian yang bisa menangkal Inosuke-sama! Inosuke-sama akan menemukan jalan untuk menantang kalian adu kekuatan, satu lawan satu! Tunggu saja!

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 17 - Ornament
---

"Kenapa di kamar Kak Sanemi ada banyak kupu-kupu dalam bingkai?" tanya Muichiro sambil mendudukkan diri di samping Sanemi.

"Kenapa kau main nyelonong masuk ke kamarku?" balas Sanemi meskipun tidak marah. Sekarang sih, sudah tidak ada gunanya Muichiro diingatkan.

Ya, liburan semester kali ini, Sanemi dan Genya memutuskan pulang dari asrama kampus kembali ke rumah mereka yang dihuni adik-adik dan ibu mereka untuk membantu-bantu pekrjaan rumah, daripada menganggur di asrama. Dulu, awalnya Sanemi antara mau dan tidak pindah ke asrama, namun setelah tujuh kali tugasnya selalu berhasil dirusak atau tanpa sengaja dihapus adiknya yang masih kecil, Nyonya Shinazugawa menyemangainya sambil tertawa, mengingatkan Sanemi kalau dulu mereka berenam pun masih bisa ia urus sendiri. Oke, kenapa Sanemi jadi bernostalgia sendiri?

Yang lebih aneh lagi, Muichiro entah kenapa disambut oleh keluarganya dengan hawa yang jauh lebih hangat dan ramah daripada dugaan Sanemi. Bukannya ia mengharapkan tatapan benci atau semacamnya, tapi seluruh anggota keluarganya memang agak berjaga-jaga di sekitar orang baru karena luka trauma yang diberikan ayah mereka dulu. Sanemi curiga Genya sudah membocorkan soal perasaannya ke Muichiro, ia berjanji akan menjitak adiknya yang satu itu nanti.

"Aku menyimpan tubuh kupu-kupu yang sudah diawetkan untuk tugas pengamatan semester lalu. Karena bagus, aku malas membuangnya," jawabnya pada akhirnya sambil mengedikkan bahu tak acuh. Padahal sebenarnya niat awalnya menyimpan bingkai itu adalah untuk menyulut emosi Shinobu dengan menunjukkan kupu-kupu mati itu padanya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, resikonya tidak sebanding.

"Kalau gitu, origamiku juga bisa aku pasang di dinding pakai bingkai?" tanya Muichiro, dan meskipun itu sudah yang kesekian kalinya, Sanemi hanya bisa menggelengkan kepalanya geli mendengar Muichiro terdengar seperti saat dia masih SMP dulu.

"Ya bisa, kalau mau. Kenapa? Mau aku bantu?"

"Mau! Kak Sanemi bisa melipat origami, kan?"

"Bisa," jawab Sanemi pendek sambil berdiri. "Ayo, bikin sekarang saja, adikku punya stok origami enggak kepakai."

"Yaay!"

Entah kenapa, Sanemi merasa statusnya sebagai calon pacar Muichiro berubah jadi calon ayah bocah itu. Aah ... ternyata memang ya, setiap pasangan di Kimetsu Academy tidak ada yang normal.

***

"Aniki?" Sanemi mendongak dari kincir angin yang sedang ia kerjakan, menatap ke arah Genya yang sedang mengasuh dua adik laki-lakinya. "Tumben main origami."

Sanemi menunjuk Muichiro dengan bahunya, "Dia minta bantu," jawabnya singkat. Genya hanya ber-oh dan hendak mengajak adik-adiknya pergi, namun kedua anak kecil itu berkeinginan lain dan segera duduk berlutut di kiri-kanan Sanemi, memperhatikan kakak mereka dengan lihai melipat bilah kincir terakhir dan menyerahkannya pada mereka.

"Kak," panggil Muichiro. Sanemi menoleh sambil mengambil selembar origami lagi, dan menyengir melihat wajah merajuk Muichiro. Memang dasar anak-anak, padahal kuliah sudah semester enam. Pasti dia merajuk gara-gara origami kincir pertama tadi malah Sanemi berikan ke kedua adiknya, yang sekarang sedang merengek pada Genya untuk memasangkan pegangan kayunya biar bisa ditiup.

"Hm?" Gumam Sanemi sambil mulai melipat origami lagi, namun kali ini berbentuk kucing. Entah Muichiro mau atau tidak diberi origami kucing, lihat saja nanti. Namun sebelum kepala Kucing itu sempat selesai, pemuda bersurai putih itu mengernyitkan kening ketika merasakan tatapan Muichiro yang seakan terpusat ke arahnya. Ia mendongak. "Apa?"

Tangan Muichiro terulur, menyambar kepala kucing setengah jadi itu dan tangan Sanemi dan menggantinya dengan selembat origami baru.

"Buatkan kincir angin seperti tadi." Entah hanya perasaan Sanemi, tapi apakah suara Muichiro barusan terdengar marah?

"... Oke," putusnya akhirnya, dan mulai melipat. Ketika ia tenggelam dalam keasyikannya melipat origami, Muichiro diam-diam merobek kepala kucing itu dan melemparkannya ke dalam tumpukan origami-origami yang gagal.

Genya yang duduk di depan rumah sambil memperhatikan adik-adiknya bermain dengan kincir angin, diam-diam tersenyum bingung melihat kelakuan dua sejoli di dalam. Hanya perasaannya, kah, atau memang sisi posesif Muichiro tiba-tiba muncul? Tapi bukankah mereka berdua hanya sedang melipat kertas?

***

Yuichiro pulang dari tempat kerja magangnya dan menelengkan kepala ketika menemukan Muichiro terbaring di sofa ruang depan dengan tubuh berselimut dua lapis. Di atas meja kopi, sebuah bingkai diletakkan. Yuichiro meletakkan tasnya di lantai dan melirik adiknya sekilas sebelum meraih bingkai itu dan mengamatinya.

Sebuah origami kincir angin beraa di tengah-tengah, dikelilingi oleh origami-origami lainnya; kupu-kupu, capung, bangau, kelinci, dan banyak lagi. Dari yang seukuran telapak tangan sampai ke seukuran jari jempol, entah bagaimana proses melipatnya.

Begitu Yuichiro membalik bingkai itu, sebuah post-it tertempel ke bagian belakangnya. Tertulis di sana, 'Sori main nyelonong masuk. Aku juga ambil kunci cadanganmu satu - S. S.'

Dengan alis berkedut, Yuichiro meremas kertas kecil itu dan melemparkannya ke tempat sampah. Kadang-kadang calon menantu-iparnya itu modusnya suka ekstrim.
Tapi tidak bisa disangkal, hadiah kali ini ... benar-benar manis namun tetap ber-aura Sanemi pada saat yang bersamaan.

Dan di dalam hati, Yuichiro membuat catatan mental untuk mengurangi beberapa pertanyaan yang disiapkannya jika Sanemi melamar kelak.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 18 - Laugh
---

Muichiro bingung. Akhir-akhir ini, sensei kesayangannya terlihat selalu dalam mood yang buruk. Dia selalu membentak murid-murid lain dan menghindari Muichiro, entah kenapa. Dan kalau Muichiro pergi ke kantornya sendiri, maka ia hanya akan disambut oleh pintu yang terkunci serta kaca yang tertutup tirai. Dari dalam, terdengar orang menghela napas berkali-kali, seakan sedang ada masalah.

"Jadi apa yang bisa kulakukan, Tanjiro?" tanya Muichiro sambil memakan es pemberian Tanjiro. Keduanya duduk di emperan sekolah. Tanjiro sedang menunggu Rengoku-sensei dan Nezuko, sementara Muichiro masih menunggu kakaknya yang ada kelas tambahan.

Tanjiro menghabiskan esnya yang sisa sedikit sebelum membuang stiknya. "Hmm ... bagaimana, ya. Aku tidak terlalu dekat sih, sama Shinazugawa-sensei, jadi aku tidak tahu dia sukanya apa. Tapi Mui, biasanya apa yang kamu lakukan kalau sedang dengannya?"

"Bikin origami, bercerita, terus tanya-tanya," jawab Muichiro, melemparkan stik esnya ke tempat sampah.

"Hee ... cerita tentang apa?"

"Apa saja yang mau aku ceritakan."

Tanjiro memangku kepalanya dengan kepalan tangan yang ditumpukannya ke lutut. "Bagaimana, ya ... katanya sih, Shinazugawa-sensei ada anggota keluarganya yang kecelakaan, jadi mood-nya naik turun. Oh! Aku tahu!" seru Tanjiro tiba-tiba sambil spontan menggoncang bahu Muichiro.

"Apa? Dan berhentilah menggoncangku, nanti aku jatuh," komentarnya datar. Tanjiro tetawa malu dan menarik tangannya.

"Maaf, aku kelewat bersemangat. Jadi, kenapa kau tidak menuliskan hal yang mau kau ceritakan di sebuah buku kosong, lalu menyerahkannya ke Shinazugawa-sensei? Kalau mau, origamimu juga bisa diselipkan di sana! Mintalah biar sensei membalasnya, bagaimana?" celoteh Tanjiro. Ia tidak begitu suka dengan Shinazugawa-sensei yang menurutnya kasar, tapi Genya dan Muichiro jelas-jelas suka dengan guru yang satu itu, jadi tentu saja Tanjiro takkan ragu membantu.

"Oh ... ya, kayaknya begitu bisa!" balas Muichiro dengan mata berbinar-binar. "Makasih, Tanjiro! Esok akan kuberikan yang pertama!"

"Umu! Semangat, Mui!"

"Eh?" Muichiro memandang bingung pada Tanjiro yang tiba-tiba menutup mulut dengan wajah merah. "Tadi kau bicaranya kok seperti Rengoku-"

"Ahh! Itu Nezuko! Aku pulang duluan, Mui! Jangan pulang sendiri, ya! Daah-!" seru Tanjiro cepat-cepat sambil berlari melintasi lapangan menuju Nezuko yang baru keluar kelas. Di belakangnya, Yuichiro berjalan bersisian dengan Inosuke, berdebat tentang sesuatu.

"Yo, Mui, ayo pulang!" panggil kakaknya. Muichiro mencangklong ranselnya dan berlari ke samping Yuichiro.

"Kau kelihatannya senang, ada apa?" tanya kakaknya.

"Tanjiro tadi menghiburku!"

"Hee...." Menghibur tentang apa, Yuichiro memutuskan untuk tidak berkomentar. Keduanya bergandengan tangan dan pulang sambil terus bercerita tentang hari masing-masing.

***

Sanemi diam-diam menghela napas lega ketika bel istirahat berbunyi. Ia membereskan buku-bukunya dan membubarkan kelas, tidak menunggu mereka keluar sebelum melangkah menuju kantornya. Namun, suara langkah kaki kecil yang terdengar terburu-buru menghampirinya, dan ia menoleh, menatap langsung ke arah Muichiro yang berlari ke arahnya dengan sebuah buku catatan dalam pegangannya.

Ah, Sanemi tahu akan sulit membebaskan diri dari kunjungan-kunjungan tamu kecilnya, bahkan kemarin-kemarin saja ia heran kenapa Muichiro belum mencoba mendobrak pintu kantornya. "Ya, Muichiro?"

"Sensei, ambil ini! Nanti tolong dijawab ya, terus balikin ke aku!" seru Muichiro, mendorong buku catatan itu ke tumpukan buku di tangan kanan Sanemi. Setelah yakin Sanemi takkan membuang buku itu, Muichiro melambai dan berlari ke arah kantin tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Sanemi menatap punggung kecil itu dengan bingung. Memang apa isi buku itu?

***

'Jadi hari ini, aku melihat Sabito dan Tomioka-sensei lagi di halaman belakang, duduk samping-sampingan. Sabito kayaknya ngasih bekal ke Tomioka-sensei? Terus dia mencium Tomioka-sensei! Apa mereka berdua sudah menikah? Bagaimana sih, caranya menikah?
Oh, lalu, kemarin sore, Tanjiro berbicara 'umu' seperti Rengoku-sensei, tapi aku tidak sempat tanya kenapa, sih.
Terus, tadi di kelas sensei aku belajar melipat origami baru, bentuk anjing. Terus kata Inosuke, anjingnya mirip sensei, padahal aku pakai origami warna biru, mana mungkin mirip sama sensei, kan?
Aku mau tanya juga, kenapa Genya sama Rengoku-sensei kayaknya selalu berebut mau makan dengan Tanjiro? Kayaknya mereka berdua akhir-akhir ini sudah seperti mau berkelahi saja. Tanjiro sampai heran sendiri. Adiknya juga ikutan marah. Heran deh.
Nah, Sanemi-sensei balas ya. Terserah mau balas pakai cerita atau apa, pokoknya balas.
Origaminya boleh buat sensei, lagian itu juga baru percobaan pertama.
- Mui.'

Sanemi tersenyum sendiri membaca tulisan muridnya itu yang sebenarnya tidak sampai setengah halaman. Meskipun pendek, cerita tentang keseharian muridnya itu benar-benar bisa membuat moodnya sedikit membaik -- terutama melihat Muichiro kelihatannya punya hari yang menyenangkan.

Sebuah origami berbentuk kepala anjing diselipkan di halaman kedua, dan Sanemi menyimpannya dalam kotak pensilnya supaya tidak kusut. Kemudian, ia baru melihat sebuah catatan pendek yang tadi tertutup origami itu.

'Balas, sensei bego. Jangan sampai Mui sedih gara-gara kau tidak membalas. Dan jangan jelaskan apa-apa soal pernikahan, soalnya kau pasti mau modus melamarnya - Yui.'

Hah.

Sanemi membaca catatan itu berulang kali, kemudian meletakkan bukunya di atas meja. Untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, ia tertawa lepas, menikmati dadanya yang ringan untuk sementara. Entah kenapa, catatan dari si kembar itu, berhasil membuat perasaan senang yang melegakan menyebar ke seluruh tubuhnya.

Setelah tawanya berkurang, ia meraih ponselnya dan menelepon ibunya, hendak menanyakan keadaan adiknya yang masih dirawat di rumah sakit.

"Sanemi? Sudah selesai mengajar?"

"Sudah, sudah," jawab Sanemi sambil menghembuskan napas panjang.

"Kau kedengaran lebih baik dari kemarin, apa ada hal baik yang terjadi?" tanya ibunya dari seberang sana. Sanemi tersenyum tipis.

"Ada beberapa murid menarik yang membuatku geli," akunya.

***

Muichiro menerima kembali bukunya dari Sanemi saat pulang sekolah. Ketika ia berpapasan dengan guru itu, Sanemi langsung menyerahkan buku itu tanpa berkata apa-apa dan berlalu.

Tidak sabar menunggu sampai kembali ke rumah, Muichiro membuka buku itu. Sebuah origami berbentuk burung jatuh dari halaman pertama, dan ia memungutnya. Kata pertama yang ia lihat di bawah catatannya adalah 'Muichiro, terima kasih', dan ia tersenyum senang.

Bahkan meskipun ia hanya membaca tulisan gurunya, meskipun ia tidak melihat tawa Sanemi, Muichiro tahu kalau hari itu, ia cukup berhasil menyenangkan hati Sanemi.

Dan ia senang.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 19 - Sling
---

Sanemi menghela napas panjang. Mahasiswa jurusan MIPA itu sedang mencoba menelepon Giyuu berkali-kali dengan niat hendak meminjam laptopnya. Laptop Sanemi sendiri sedang diservis sedangkan deadline tugasnya sudah tersisa tiga hari lagi. Tapi karena Giyuu sama sekali tidak membalas, akhirnya Sanemi terpaksa berjalan dari gedung MIPA ke asrama kampus. Andai Rengoku atau Iguro tidak sedang absen, dia pasti lebih memilih meminjam laptop dari mereka, tapi ya sudahlah.

Sesampainya di depan pintu kamar Giyuu, ia mengetuk -- tidak, menggedor -- pintu putih itu, yang anehnya langsung membuka terkena kekuatannya. Aneh, biasanya Giyuu selalu mengunci pintunya, ditambah dengan selot. Apa dia sakit? Pingsan di kamar mandi? Atau lagi di kamar Sabito?

Tapi ruang depan kamar itu kosong, hanya ada tas laptop milik Giyuu dan milik Sabito disandarkan ke dinding. Huh.

"Tomio-" panggilan Sanemi terputus oleh suara Giyuu yang tedengar dari dalam kamar mandi.

"Ahh, Sabito- hati-hati-"

"Ya diam dulu, jangan banyak gerak- Giyuu!"

"Sakit- jangan diikat di situ-"

Nope. Sanemi tidak mau jadi saksi aksi dua sejoli itu. Mahasiswa MIPA itu menyambar tas laptop Giyuu dan, tidak peduli jika ia mengganggu suatu momen, berteriak ke arah pintu kamar mandi.

"Tomioka! Aku pinjam laptop, besok kubalikin!" dan menghambur keluar begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi sambil membanting pintu.

Kepala Sabito -- yang jelas-jelas masih berpakaian lengkap -- menyembul dari balik pintu kamar mandi, menyadari tas laptop Giyuu yang lenyap. "... Tadi itu Sanemi? Kok cepat sekali sih, perginya?"

"Terserah dia saja. Sabito, ini perbannya masih belum erat ikatannya," keluh Giyuu dari lantai kamar mandi yang kering, mencoba mengikat ujung perbannya sendiri, namun gagal. Sabito kembali ke posisinya di samping Giyuu dan membetulkan ikatannya.

"Tadi yang protes tidak mau diikat kuat-kuat siapa?" goda Sabito.

"Ya jangan longgar juga."

Ya, lengan kiri Giyuu terkilir karena jatuh dari tangga sepulang kampus dan, menurut Dokter Tamayo, harus menggunakan gendongan lengan selama paling tidak satu minggu. Selama beberapa jam terakhir, Sabito terus menerus memaksanya untuk mengganti perban sesuai jadwal. Padahal, menurut Giyuu, perbannya sama sekali belum kotor.

Tapi Sabito mana bisa didebat kalau kemauannya sudah bulat.

***

"Giyuu, mulutmu dibuka dong, kalau mau makan."

"Sabito, yang terkilir itu tangan kiriku, aku masih bisa makan sendiri. Tolong berhenti, ini agak memalukan."

Keesokan siangnya, mereka berdua duduk di bawah pohon beringin tempat mereka selalu nge-tem dan menemukan masalah baru dengan cedera lengan Giyuu -- ia tidak bisa makan dengan mudah jika tangan kirinya yang masih mengenakan gendongan terus menghalangi gerakannya. Hasilnya? Sabito segera menawarkan kesediaannya untuk menyuapi Giyuu, membuat pacarnya itu malah tambah canggung.

"Ehh," gumam Sabito sambil menyingkirkan sumpitnya dari depan wajah Giyuu, kemudian menunduk memandang kotak bekal Giyui dengan wajah disedih-sedihkan. "Giyuu ... ternyata masih malu ya, denganku. Padahal kan, aku tadi senang bisa menolong Giyuu...."

Sabito tahu guilt trip itu adalah cara yang licik, terutama bila ia menggunakannya pada Giyuu, tapi mau bagaimana lagi, ia agak kesal dengan kekasihnya ini yang selalu keras kepala melakukan semuanya sendiri, seakan ia yakin takkan ada yang mau membantunya. Seperti biasa, cara ini selalu berhasil.

Mata biru Giyuu melebar dan ia menarik tangan Sabito dengan lengannya yang tidak terkilir, membuka mulut dan menyuap sendiri makanan yang masih ada di sumpit itu, menelannya dengan wajah memerah.

"Sudah, kan?" tanyanya pelan, kemudian menoleh ke arah lain. Di sampingnya, tawa riang Sabito terdengar seperti suara lonceng, membuatnya merasa hangat.

"Eh, belum dong Giyuu~ bekalmu masih banyak ini, ayo lagi~"

"Sabito, nanti kamu sendiri tidak makan," balas Giyuu, namun kali ini menurut ketika Sabito menyuapinya lagi.

"Tidak masalah, kita bisa bagi dua bekalnya. Setelah aku menyuapi Giyuu, giliran aku yang makan!" seperti hendak membuktikan perkataannya, Sabito mengambil potongan telur dari kotak bekal Giyuu dan memakannya sendiri.

Tidak ada satu pun dari mereka yang sadar bahwa Sanemi sedang mengawasi mereka. Awalnya, ia hendak mengembalikan laptop Giyuu begitu melihat anak itu keluar dari kelasnya, namun tak lama setelah ia mengikuti Giyuu,Sabito datang dan memonopoli pemuda berambut hitam itu seenak jidat.

Ya sudah, batin Sanemi sambil membalikkan badannya dan melangkah menjauh, akan kukembalikan kalau si bangsat itu ingat saja.

***

Dan baik Giyuu maupun Sabito sama sekali tidak ingat bahwa Sanemu mendobrak kamar Giyuu sebelumnya adalah untuk mengambil laptop, jadi keduanya kalang kabut sendiri ketika sadar laptop Giyuu sudah tidak ada lagi, sampai akhirnya Sabito menanyai Genya dan berakhir bertengkar dengan Sanemi, sementara Giyuu sibuk mengecek isi laptopnya.

Memang, ya ... cinta itu memang bikin bodoh. Sabito dan Giyuu, adalah bukti nyatanya

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 20 - Tread
---

Muichiro mengangkat sehelai daun berwarna kuning dari tanah. Musim gugur, daun berwarna seperti itu tidak jarang terlihat, tapi bagi Muichiro, hanya ada beberapa yang cantik. Ia memutarnya di depan mata hijaunya, menciptakan pantulan yang indah pada netranya. Muichiro mengantongi daun itu ketika mendengar suara langkah kaki mendekat.

Sanemi menepuk kepala Muichiro. "Susah ya, dapat izin dari kakakmu?" ia bertanya, namun tampaknya lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada ke Muichiro. Keduanya melangkah bersisian dengan lengan Sanemi melingkari bahunya.

"Yui-nii memang agak susah, apalagi kalau aku jalan berdua dengan orang lain selain dia."

"Maksudku, izin untukku. Rasanya berkali-kali aku minta, dia terus-terusan menolak. Rasanya sudah seperti melamar kerja -- ditolak terus sampai cv-nya benar," dengus Sanemi. Muichiro mendongak sedikit untuk memandangnya.

"Cv?" tanyanya, satu tangan masuk ke dalam saku jaket untuk memainkan daun yang barusan di antara jari-jarinya.

"Bukan apa-apa, lupakan saja."

Semakin jauh mereka berjalan, semakin lebat pulan pohon dengan daun-daun menguning mengatapi kepala mereka berdua, menghujani mereka dengan daun kering. Sanemi menggerutu sambil menyingkirkan beberapa dari rambutnya, sementara Muichiro justru menadahkan tangannya, menumpuk daun-daun itu dalam kedua telapaknya yang kecil.

"Kau tahu ... aku masih tidak mengerti kenapa kau mengajakku kencan ke sini, bocah. Tempat ini isinya hanya pohon dan daun kering -- di mana menariknya?" tanya Sanemi, mengamati wajah Muichiro yang cerah ketika melihat daun-daun berguguran lebih banyak. Sebuah senyum dilemparkan padanya, dan selama sedetik, Sanemi tidak menyesal menyetujui ajakan Muichiro -- meskipun toh ia memang takkan menyesali pilihan anak itu.

"Kan Kak Sanemi sendiri yang bilang, warna kuning seperti ini," Muichiro mengangkat sehelai daun ke samping wajahnya, tepat di sebelah matanya, "Bisa membuat warna mata dan rambutku jadi lebih cantik."

Ah, ya, Sanemi ingat. Itu, kalau tidak salah, adalah saat masa-masa Muichiro masih kelas tiga SMA, sementara Sanemi sudah kuliah. Meskipun terpisah, keduanya sering bertemu di salah satu tempat dan mengobrolkan hal apa saja yang terpikir, bahlan hal-hal yang hanya akan dilupakan keesokan harinya -- mereka hanya ingin mendengar suara masing-masing. Kalau dipikir lagi, secara teknis, ini bukanlah kencan pertama mereka. Sanemi tertawa kecil.

"Memang. Tapi maksudku, ke mana tujuan kita? Apa taman ini ada akhirnya?" tanyanya.

"Ada kok. Di depan sana nanti, ada kolam terbuka. Di situ titik tengahnya, terus sedikit lagi kita bisa keluar ... boleh aku beli es?"

"Kenapa tidak?" balas Sanemi. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kencan kali ini sama sekali tak ada tujuannya, hanya berjalan dan mengobrol. Aneh. Kencan-kencan tidak resmi mereka yang dulu semuanya punya tujuan lebih jelas daripada sekarang. Yah, bukannya Sanemi akan protes.

Lamunan Shinazugawa sulung itu buyar ketika segenggam penuh daun kering dilemparkan ke wajahnya, mendarat di atas kepala serta di bahunya. Ia mengedipkan kedua matanya dengan kaget sebelum berhenti berjalan dan menunduk sedikit memandang ke arah Muichiro yang satu tangannya masih terangkat, sedangkan tangannya yang satu lagi memegang ponsel.

"... No offense, tapi kau ngapain, sih?" tanya Sanemi, mengibaskan daun-daun di kepalanya dengan sebuah gelengan. Muichiro, yang memunggunginya, menoleh sedikit dan tersenyum hangat.

"Mencari wallpaper baru," balasnya ringan, dan bahkan senyum Rengoku saja tidak secerah senyum Muichiro saat itu. Hanya pendapat pribadi Sanemi sih, peduli setan kalau sedikit bias -- dia sudah lama jatuh cinta ke Muichiro, kenapa ia tak bisa sedikit pilih kasih?

***

Permukaan kolam yang dimaksud Muichiro sudah tertutup oleh lapisan daun kering, menciptakan pemandangan surreal, seperti sebuah karpet kuning yang beriak. Keduanya berjongkok di tepi kolam, dengan Muichiro condong ke arah air dan Sanemi yang dengan waswas meletakkan tangannya di pinggang Muichiro, siaga menangkapnya kalau pemuda itu terpeleset.

Muichiro menyingkirkan beberapa daun dari permukaan air dengan tangannya, dan ber-oh senang ketika terlihat pantulan biru langit di air itu. Sanemi mengamati perubahan ekspresi kekasihnya itu dan tersenyum tipis, mengeluarkan ponselnya sendiri dari saku celana dan berhasil mengabadikan setengah wajah Muichiro yang berekspresi takjub serta setengah langit biru, dikelilingi dedaunan berwarma kuning -- bukan hanya Muichiro saja yang akan dapat wallpaper baru.

Keduanya kemudian beranjak dari kolam dan terus berjalan, sempat berselisih dengan pasangan lain -- Tanjiro dan Rengoku, yang menyapa mereka. Tanjiro dan Muichiro mengobrol sebentar, sementara Sanemi dan Rengoku asyik sendiri mengamati keduanya.
Kemudian, Rengoku seperti teringat sesuatu.

"Sanemi! Tahun baru nanti, kamu ikut ke pesta kembang api bersama Muichiro-kun? Aku akan datang dengan Tanjiro dan Nezuko, jadi mungkin kita bisa bertemu!"

"Haa?" Sanemi tidak pernah bisa melihat inti dari pesta kembang api, atau festival semacamnya. Kemudian, ia kembali mengalihkan pandangan ke arah Muichiro, yang tertawa mendengar sesuatu yang dikatakan Tanjiro. Tapi yah, kalau dengan begitu ia bisa melihat Muichiro tertawa lebih banyak lagi, kenapa tidak?

Ia kembali menoleh ke arah Rengoku, yang menunggu responnya dengan maklum.

"Lihat nanti. Kalau bocah itu mau, mungkin kita bisa ketemuan."

"Umu! Aku tunggu nanti, ya! Tanjiro, mau lanjut jalan lagi?"

Tanpa memerhatikan salam yang diberikan bocah Kamado itu padanya, Sanemi kembali berjalan dengan Muichiro di sampingnya. Kali ini, ia meraih tangan kecil itu dan menggenggamnya, membuat Muichiro mendongak dengan satu alis naik, bertanya dalam diam.

"Hei, tahun baru nanti ... apa kau mau ikut ke festival kembang api denganku?"

"Mau!" respon cepat yang bersemangat itu membuat sebuah senyum kembali muncul di wajah Sanemi tanpa sadar -- memang hanya Muichiro yang bisa membuatnya out of character begini.

Tapi, ada satu masalah lagi. Bagaimana caranya ia meminta izin dari Yuichiro nanti?

Ya, sudahlah. Itu masalah nanti. Yang penting sekarang, ia harus bisa membuat Muichiro tersenyum lebih banyak lagi.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 21 - Treasure
---

Harta paling berharga untuk Sanemi, adalah Genya, Oyakata-sama, serta Muichiro. Hanya tiga. Hanya tiga orang itu yang bisa membuka hati Sanemi, mendorongnya untuk terus bertahan hidup, layaknya predator -- terus maju sampai kau tak bisa melangkah lagi.

Menurut orang-orang di sekitarnya, harta paling berharga adalah keluarga dan kenangan baik. Keluarga Sanemi, sudah disebutkan. Bagaimana dengan kenangan? Lebih lagi, kenangan baik. Sulit menganggap pria berdarah panas seperti Sanemi memiliki kenangan baik, tapi sebenarnya, ia punya. Ohagi ibunya, hari ketika ia, adik-adiknya, serta ibu mereka duduk bersama, memainkan origami berbentuk kincir angin yang ia buat. Kemudian, kenangan lainnya, ketika Muichiro bermain-main dengannya, membuatnya bisa merasakan cinta, perasaan yang sempat dianggapnya tak bisa ia dapatkan.

Tapi, kenangan baik itu hanyalah potongan-potongan kecil yang lambat laun akan terlupakan, baik sang pemilik bersedia atau tidak.

Sanemi, dengan segala kekeraskepalaannya, menolak untuk lupa, menolak untuk membiarkan waktu menghapus kenangan itu.

Harta berharga Sanemi yang pertama, adalah Genya. Adik kandungnya, satu-satunya adiknya yang tersisa. Sepanjang hidupnya, tujuan hidup Sanemi hanyalah untuk mendapatkan permaafan adiknya. Ia tak bisa melindungi keluarganya, secara tidak langsung membunuh seluruh adik-adiknya yang lain.

Tapi kemudian, kesalahpahaman itu terjadi. Sanemi yakin bahwa Genya tak mau memaafkannya, begitu juga sebaliknya. Rasa berduka itu berubah jadi rasa marah, membuatnya menghindari Genya pada setiap kesempatan, bahkan berusaha menyakitinya. Meskipun begitu, dalam hati Sanemi tahu, bahwa meskipun Genya tak memaafkannya, adiknya itu adalah anak yang baik. Karenanya, ketika ia menunduk, meraung di atas seragam pemburu iblis yang kosong itu, hatinya tidak hanya bersedih karena kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa, melainkan juga karena ia menyesali kematian satu orang baik. Orang yang jauh lebih baik dari dirinya dan lebih pantas mendapatkan air mata yang mengalir sekarang.

***

Harta Sanemi yang kedua, Ubuyashiki Kagaya-sama atau biasa digelari Oyakata-sama. Tidak seberharga Genya, namun Oyakata-sama-lah yang memberinya kesempatan ketika dirinya hanya bisa membunuh iblis dalam kamuflase.

Pada awalnya Sanemi murka, melihat bahwa pemimpin pemburu iblis, adalah lelaki ringkih yang tak bisa bertarung. Awalnya, ia menganggap Ubuyashiki Kagaya adalah orang yang sama persis dengan Muzan -- hanya memanfaatkan kekuatan anak buahnya untuk melindungi diri sendiri.

Namun kemudian, Sanemi tercenung ketika mendengar bahwa Ubuyashiki Kagaya mengingat dan berduka untuk setiap anggota yang pulang hanya tinggal nama dan mengunjungi kuburan mereka untuk berdoa.

'Tidak semua orang lemah itu manipulatif. Tidak semua orang lemah itu jahat,' begitu pikirnya saat malam hari, duduk di teras tempat tinggalnya, memandang kolam ikan yang memantulkan cahaya bulan.

Sejak esok paginya, Sanemi tanpa keraguan, memanggil Ubuyashiki Kagaya dengan panggilan Oyakata-sama, sebagai tanda hormatnya pada tetua itu. Sosok ayah yang tak pernah ia rasakan ketika masih kecil, seorang sosok yang selalu, selalu bisa memberi kesempatan kedua.

... Kecuali pada dirinya sendiri.

Begitu rumah itu meledak di depan matanya, selama sedetik Sanemi membeku, tak percaya bahwa figur pemimpin yang amat ia hormati, sudah gugur, lenyap begitu saja dalam ledakan. Tapi hatinya tak sempat bersedih, tak sempat berduka cita.

Ia, bersama pilar-pilar lainnya, sama-sama menetapkan dalam hati, mereka akan membalaskan sosok itu, sosok yang selalu tersenyum ketika melihat 'anak-anaknya' mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki takdir mereka.

***

Tokito Muichiro.

Saat pertama kali bertemu dengannya, Sanemi merasakan campuran berbagai perasaan -- kesal, sedikit takjub, dan tidak peduli. Anak itu baru dua bulan memegang katana, dan sudah berhasil naik ke pangkat pilar. Matanya yang kosong seakan menandakan bahwa ia hanyalah boneka pembunuh yang terus mengikuti tugasnya, apapun itu. Meskipun begitu, Oyakata-sama menyayangi dengan perhatian yang sama.

Awalnya, Sanemi tidak begitu memedulikan bocah itu, yang hanya berkeliling mengikuti capung atau melipat origami jika sedang tidak pergi misi. Namun perlahan-lahan, kepribadian serta sikap bocah itu mulai melekat di hatinya dan tak mau lenyap lagi.

Sanemi baru menyadari apa sebenarnya perasaan itu ketika Tokito Muichiro kembali dari Desa Penempa Katana dengan senyum hangat terpatri di wajah, kedua matanya bersinar-sinar penuh kehidupan.

Cinta. Sanemi jatuh cinta pada seorang bocah yang awalnya hanyalah orang asing dalam hidupnya. Saking ironisnya, Sanemi tertawa di situ juga, membingungkan pilar lain dengan sikapnya yang mendadak berubah dalam sedetik.

Namun bahkan harta yang ini pun, tidak bisa ia jaga sampai maut menjemput. Yang ada, maut justru mengambil nyawa Muichiro lebih dulu. Menyedihkan, melihat tubuh pemuda sekecil itu terbelah dua, dengan mata penuh keteguhan yang tidak lagi hidup.

Api di dalam dada Sanemi -- semangat hidupnya -- berkelip padam. Yang tersisa hanyalah cahaya merah berisi kemurkaan yang merayap ke seluruh tubuhnya. Hanya itu yang bisa ia rasakan, setelah menangis memeluk baju adiknya. Hanya itu saja -- kemurkaan.

Ia bahkan tidak menyadari mata kosongnya yang menatap ke kejauhan, untuk sementara mengabaikan kata-kata Himejima. Tangisnya sudah berhenti. Matanya memang sejak awal tidak memiliki cahaya kehidupan, tapi paling tidak dulunya mereka hidup.

Kemudian, dengan fokus yang baru kembali, kalimat yang dikatakan Himejima berhasil mendistraksinya.

'Pertarungan belum selesai sampai Muzan dikalahkan.'

Muzan. Kibutsuji Muzan. Sesuatu dalam dada Sanemi menyala ketika mendengar nama itu -- sesuatu yang lebih mengerikan daripada amarah. Dendam.

Dan sembari berdiri, Sanemi meletakkan baju adiknya di tanah, beralih meraih pedangnya.

Ia akan memenggal kepala Kibutsuji Muzan dengan tangannya sendiri, dengan jurusnya sendiri. Seseorang yang merebut seluruh hartanya yang berharga -- harta yang memberinya alasan untuk hidup -- harus kehilangan nyawanya di tangan Sanemi.

Shinazugawa Sanemi tahu kalau dirinya egois, tapi entah kenapa, dendam yang dirasakannya -- duka yang dirasakannya -- membuatnya melupakan hal lain.

Hal lain kecuali senyum ketiga orang yang disayanginya.

***

Sanemi sedang duduk di teras tempat tinggalnya, bernostalgia melihat pantulan bulan di dalam kolam itu. Ia terdiam, mengingat seminggu pertama setelah Muzan berhasil dibunuh. Selama seminggu itu, ia berada dalam masa catatonic, sama sekali tidak ingin membuka mata dan tidak peduli dengan hal lain.

Namun, setiap kali, aroma makanan selalu berhasil membuatnya buyar dan ketika ia menghampiri meja makan, selalu ada sarapan di sana.

Dengan lokasi baju Genya -- yang ia bawa dari tempat pertarungan -- yang selalu berpindah tempat, ia tahu siapa melakukannya, meskipun ia tak mengerti apa yang terjadi.

Meskipun begitu, hal-hal kecil itu berhasil membuatnya tersenyum untuk pertama kalinya. Berhasil membuatnya merasa hidup.

Ia tidak tahu apakah ia bahkan bisa bertemu dengan orang yang mengurusnya itu, namun ia akan tetap menunggu.

Sampai malam itu, ketika bahkan suara jangkrik sudah tak terdengar di antara sepoi angin, sebuah suara familier memanggilnya, membuat sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Nii-chan...?"

BERSAMBUNG

Chapter Text

"Nii-chan...?" 

Sanemi menghela napas dan bersandar ke belakang dengan kedua tangannya, memandang langsung ke arah bulan alih-alih hanya melihat pantulannya. 

"Apakah semua arwah punya tubuh padat atau itu hanya kau?" Sanemi tidak tahu kenapa itu adalah pertanyaan pertama yang terlontar dari mulutnya. Tapi mungkin, ia hanya ingin mengobrol dengan Genya, mendengarnya tertawa. Toh Sanemi sudah terlalu banyak menangis. 

Dari sudut matanya, ia melihat Genya duduk di sampingnya, pandangan ke arah hutan. "Ini hanya tubuh pinjaman. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dalam bentuk arwah."

"... Sampai kapan kau akan berada di sini?" Sanemi mengharapkan jawaban klise seperti 'besok' atau semacamnya, namun Genya mengejutkannya, seperti biasa.

"Tidak ada batas waktu. Pokoknya aku hanya harus menyelesaikan urusanku di sini," balas Genya sambil terus menghindari tatapan kakaknya. 

"Urusan apa?"

Arwah pemuda itu menghela napas dan mencoba membalas tatapan mata Sanemi, meskipun dengan segera harus menyerah. "Itu masalahnya. Aku tidak tahu dan tidak diberi tahu ... padahal, aku sudah minta maaf-"

Brak.

Genya berjengit -- kalau arwah bisa berjengit -- ketika kepalan tinju Sanemi melakukan kontak dengan lantai kayu, membuatnua berdarah terkena serpihan-serpihannya. 

"-Nii-chan?" tanyanya hati-hati.

"Mungkin karena kau justru sebenarnya bukanlah yang harus minta maaf, bodoh," geram Sanemi, kepalannya ia eratkan sampai gemetaran di atara lubang di lantai. "Apa kau tahu, seperti apa aku saat kau lenyap sebelum aku sempat meminta maaf dengan benar? Kau bahkan tidak memberiku kesempatan dan malah mengoceh sendiri tentang hal-hal tidak benar di sana."

Genya mengedipkan kedua matanya dan mengerutkan kening, menunggu lanjutan kata-kata kakaknya. 

"Apa kau tahu, betapa aku menyesal datang terlambat? Kau sudah terluka parah, dan aku baru datang. Pilar Angin, hah. Sekarang, justru aku yang menjadi pilar terburuk, bahkan di antara Tomioka sialan itu.

Dan sekarang, ketika kau datang kembali, aku tidak bisa berharap kalau kau akan tetap tinggal- aku tidak bisa seegois itu setelah semua yang kulakukan-"

"Memangnya apa yang kau lakukan?" Potong Genya, kerutan di dahinya semakin dalam. Sanemi bukanlah orang yang mudah mengeluarkan isi hatinya segamblang itu -- bukti bahwa ia melakukannya sekarang membuat Genya cemas.

"... Pergilah, Genya."

"Tidak. Nii-chan, apa maksudmu? Apa yang--"

"Pergi!"

"Tidak!"

Keduanya terdiam setelah sama-sama berteriak dengan kepala Sanemi tertunduk sembari bernapas berat. 

"Kau masih belum mengerti juga? Shuya, Hiroshi, Koto, Teiko, Sumi, Masachika, Oyakata-sama, Kochou ... Muichiro, kau. Kalian semua harusnya masih di sini. Kau harusnya masih berlatih dengan Himejima. Tentunya aku tidak bisa jadi lebih buruk lagi, bukan?" jelasnya, suaranya dingin, namun lirih. Seakan segala keletihan yang selama ini ditahannya, semuanya membuatnya tidak bisa lebih tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakannya. 

Genya terdiam. "Nii-chan ... selama ini kau pikir, semua itu terjadi gara-gara dirimu?" 

"Siapa lagi, Genya? Kalau kau punya jawaban yang lebih baik, berikan seka-" 

"Muzan." Nama itu membuat Sanemi berjengit, kepalan tangannya semakin erat, membuatnya berdarah karena kukunya. 

"Nii-chan, meskipun kau saat itu datang terlambat, kau tetap datang. Kau masih berusaha menyelamatkanku dan Teiko, meskipun iblis itu tentunya jauh lebih cepat darimu. Yang lainnya juga, mereka pergi bukan karena salahmu," lanjut Genya, beringsut mendekati tubuh Sanemi yang semakin menunduk. 

"Kau pikir semua itu bisa membuatku merasa lebih baik?" tanya Sanemi, namun kali ini perlawanannya lemah. Ia lelah berdebat, dan ia lelah memikul semua beban mental di bahunya. 

"Mungkin tidak, tapi aku sudah mengatakannya."

"Pergilah, Genya. Aku tidak ingin kau terjebak bersamaku bahkan setelah kau bebas."

"Kalau aku tidak mau pergi, bagaimana?"

Keduanya kembali terdiam dalam pikiran masing-masing setelahnya, membiarkan pembicaraan mereka terhenti dan menunggunya mulai lagi dengan sendirinya. 

Akhirnya, Sanemi yang pertama memecahkan keheningan, "Bagaimana dengan si bocah? Apa kau melihatnya?"

Genya melirik kakaknya dan tersenyum. "Mm," angguknya, "Ia bertemu lagi dengan saudara kembarnya."

"... Oh."

"Nii-chan, boleh aku mendekat sedikit?" Genya berharap Sanemi mengerti maksudnya, dan harapannya terkabul. Meskipun dengan kerutan kesal di dahi, Sanemi memiringkan tubuhnya ke arah Genya, yang mendekat dan memeluknya, menghembuskan napas lega ketika wajahnya bertemu dengan bahu kakaknya. 

"Bocah," gerutu Sanemi, namun dari suaranya yang sedikit serak menandakan betapa emosionalnya dirinya. 

"Aku rasa, aku tidak punya waktu sebanyak barusan. Semua pembicaraan ini mungkin adalah urusan yang belum selesai," gumam Genya. 

"Genya...."

"Ya, Nii-chan?"

"... Tidak, bukan apa-apa." 'Aku senang kau di sini' adalah kalimat yang tak terucap, namun Genya mengerti. Ia mendengus dan memeluk Sanemi lebih erat. 

'Terima kasih' juga tak terucap, namun keduanya memutuskan untuk tidak memecahkan kesunyian yang satu ini.

Karena kesunyian yang kali ini, tidak berisi kesedihan dan kehilangan -- di mana sebuah reuni terjadi di kegelapan malam.

Chapter Text

Drabble Inktober day 23 - Ancient
---

"Tapi kenapa ke museum, Rengoku-sensei? Bukannya sensei sendiri guru sejarah?" tanya Tanjiro. Dirinya dan Rengoku, guru sejarah Kimetsu Academy, berdiri di depan museum kota yang sedang membuka pameran mengenai pasangan-pasangan historikal sepanjang sejarah. Bukannya Tanjiro tidak senang bisa melancong bersama guru favoritnya, terutama karena jadwalnya memang sedang lowong, tapi harus ia akui, museum bukanlah tempat pertama yang mampir di pikirannya.

"Justru karena aku guru sejarah, aku tertarik dengan acara-acara seperti ini! Tidak pernah terlambat untuk belajar hal baru, bukan?" balas Rengoku dengan ceria. "Dan lagi, kita sedang di luar sekolah, Tanjiro-kun, jangan repot-repot memanggilku sensei!"

"Ah! Baik, sen- Rengoku-san!" Tanjiro tidak mengerti kenapa, tapi wajah Rengoku tampaknya menjadi semakin cerah ketika Tanjiro berhenti menyebutnya sensei. Itu aneh, tapi Tanjiro jelas takkan mempermasalahkan.

"Tanjiro-kun? Ayo!" pikiran Tanjiro buyar mendengar panggilan itu dan ia segera berlari menyusul Rengoku yang sudah masuk lebih dulu.

***

"Julius Caesar dan Cleopatra...?" Tanjiro membaca nama pertama yang dipamerkan dengan nada bertanya. Ia tahu Caesar dan Cleopatra berasal dari Mesir Kuno, namun hanya sebatas itu saja.

"Umu! Sudah kuduga mereka akan muncul di sini! Julius Caesar dan Cleopatra adalah pasangan paling historikal, bahkan di antara pasangan lain di sini, terutama dengan adanya sejarah berdarah pembunuhan ayah dan suami Cleopatra oleh Julius sendiri, agar kekasihnya itu bisa mengambil alih tahta kerajaan!" jelas Rengoku berapi-api, bahkan sampai sempat menarik perhatian beberapa pemgunjung lainnya.

Tanjiro ber-oh kagum ketika melihat bahwa kuliah sejarah singkat yang diberikan Rengoku padanya semuanya benar. Tapi, fokusnya teralih ketika ia melihat ekspresi gurunya itu saat membaca penjelasan lebih detail yang terpasang di dinding. Rengoku tampak tenggelam dalam bacaannya, dengan telunjuk di dagu dan sesekali, sebuah gumaman kecil meluncur dari mulutnya.

"Rengoku-san hebat sekali, ya! Bisa mengingat setepat itu, padahal belum membaca sejarahnya!" puji Tanjiro.

Rengoku menoleh, matanya melebar mendengar ucapan Tanjiro sebelum senyumnya melebar, membuat Tanjiro hampir silau dengan cahayanya.

"Terima kasih, Tanjiro-kun! Meskipun begitu, dibilang belum juga tidak bisa, aku sudah membaca sedikit biografi tentang mereka berdua di internet!" komentarnya jujur.

"Tapi tetap hebat!" protes Tanjiro, tapi kemudian menggaruk tengkuknya dengan canggung ketika sadar bahwa ia barusan berdebat soal pujian dengan gurunya sendiri, namun tampaknya Rengoku tak menyadarinya.

"Mereka adalah pasangan yang kuat, kalau tidak sedikit brutal. Pasangan lama yang satu ini ... benar-benar tipe pemimpin, terutama dalam kekuasaan. Cleopatra sendiri termasuk salah satu wanita pertama yang mendapatkan gelar pemimpin pada zaman itu," kata Rengoku pada dirinya sendiri, dan Tanjiro sejenak melupakan rasa malunya untuk mengagumi betapa Rengoku benar-benar berada di habitatnya sekarang.

"Nah, Tanjiro-kun, ayo kita lanjut!"

"Um- Iya, Rengoku-san!"

***

Keduanya keluar dari museum dengan sedikit kelelahan namun senang. Rengoku senang bisa melihat seisi museum setelah melihat-lihat pameran, sementara Tanjiro senang bisa menghabiskan waktu nyaris seharian bersama guru kesukaannya itu, meskipun pelajaran sejarah tambahan yang ia dapat tak sepenuhnya bisa ia ingat. Namun, begitu sampai di luar dan berhadapan dengan hujan yang cukup deras, Tanjiro teringat dengan sesuatu.

"Rengoku-san," panggilnya pada pria di sampingnya, yang sedang membuka ponsel untuk memesan kendaraan pulang.

"Ya, Tanjiro-kun?"

"Anu- soal uang tiketnya, kapan aku harus membayarnya?"

"Eh?" Rengoku menoleh begitu cepat sampai-sampai Tanjiro meringis ketika mendengar suara lehernya berkeretak pelan. "Apa maksudmu?"

"Ah, ya soal tiketnya, kan tadi Rengoku-san yang membayar karena aku tidak bawa uang...," ulang Tanjiro, sedikit cemas, kenapa gurunya itu justru terlihat kaget mendengar perkataannya? Itu adalah hal yang wajar, kan, untuk mengganti uang seseorang?

"Tidak perlu kau kembalikan, Tanjiro-kun! Lagipula, kan aku yang mengajakmu ke sini!" balas Rengoku.

"Tidak bisa gitu, dong!" protes Tanjiro. "Uang Rengoku-san harus tetap aku ganti-!"

Rengoku mengerutkan keningnya sedikit. Ia sadar bahwa bersebat soal hal seperti itu dengan Tanjiro, hanya akan sama seperti berdebat dengan tembok semen -- takkan bergeming -- jadi akhirnya ia memutar otak.

"Begini saja, Tanjiro-kun tidak usah membayar pakai uang. Sebagai gantinya, minggu depan Tanjiro-kun juga harus menemaniku lagi, ya. Dan juga, kau harus belajar lebih giat di mata pelajaran sejarah, apalagi Tanjiro-kun sudah melihat pameran tadi, kan?" tawarnya.

Hanya perlu beberapa detik bagi Tanjiro untuk setuju. "Baiklah, Rengoku-san! Terima kasih untuk hari ini!" katanya, sambil bersiap hendak pergi, meskipun hujan masih mengguyur. Rengoku segera menahan tangannya.

"Tunggu! Mau ke mana? Ini masih hujan! Kita tunggu taksi saja di sini dan pulang bersama-sama, oke?" larangnya, dengan tangan masih menggenggam tangan Tanjiro, meskipun tampaknya ia tidak begitu sadar dengan perbuatannya.

"Eh-" Wajah Tanjiro sedikit memerah saat menyadari bahwa tangan Rengoku bersentuhan dengan lengannya. "Apa tidak apa-apa, Rengoku-san? Aku sudah cukup merepotkan."

"Tentu saja bukan masalah! Ini kan hanya perjalanan pulang, lagipula alu lebih lega kalau kau pulang dengan selamat sampai rumah di depan mataku sendiri!" Balas Rengoku sambil melepaskan pegangannya, membuat Tanjiro sedikit kecewa.

Keduanya berdiri bersisian menatap jalanan yang diguyur hujan, sesekali mengobrolkan sesuatu.

Dan tanpa mereka sadari, ketika taksi mereka sudah datang, kedua tangan mereka sudah bertautan, saling menghangatkan satu sama lain.

Ah, Tanjiro dan Rengoku tidak sabar menunggu minggu depan.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 24 - Gift
---

"Giyuu, seandainya kalau kau ulang tahun, besok, hadiah apa yang kau inginkan?" tanya Sabito mendadak, memotong pembicaraan mereka sebelumnya mengenai junior-junior mereka di kampus.

"Umm?" Giyuu mengangkat kepalanya dari bekalnya dan menelan makanannya sebelum menjawab, "Ada apa memangnya tiba-tiba, Sabito?"

"Mm-mm, bukan apa-apa, sih. Aku cuma penasaran saja," kilah Sabito, menumpukan pipi kirinya dengan tangan kiri agar wajahnya miring menghadap Giyuu.

Giyuu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke makanan di hadapannya. "... Apa, ya...?"

Sabito tertawa kecil melihat keseriusan kekasihnya dan melambaikan tangannya untuk menarik perhatian Giyuu. "Tidak perlu dipikir terlalu keras, Giyuu. Sebut saja. Atau kalau kau sedang tidak ada hal yang diingini, mungkin benda yang dulu tidak bisa kau dapatkan? Benda masa kecil?"

Netra biru Giyuu menyempit karena ia mengerutkan dahinya samar, berpikir-pikir mengingat benda apa yang pernah ia ingini. Semua alat-alat untuk kegiatan kampus sudah ada, baju? Giyuu bukan orang yang tertarik dengan hal fashion. Sesuatu ... sesuatu...? Apa?

"Coba kau ingat-ingat, Giyuu, waktu kau masih di taman kanak-kanak, apa yang paling kau inginkan?" tanya Sabito, tetap memasang senyum, geli melihat tingkah Giyuu yang memikirkan hal kecil itu kelewat serius.

Giyuu ber-hmm sebelum menjawab, "Saat itu, aku ingin punya teman." Jawaban yang cukup mudah, pikirnya. Ia ingat benar ketika ia hanya duduk di teras bangunan taman sambil memperhatikan anak-anak lain bermain.

"Hee ... kalau itu sih, kan sudah ada aku, lalu Sanemi, Tanjiro-kun, dan yang lainnya juga," komentar Sabito sambil lalu, ganti bertumpu pada tangan kiri. Giyuu hanya mengangkat bahu.

"Bagaimana waktu sekolah dasar? Apa yang kau inginkan? Waktu itu, kita berdua sudah berteman, ya," tanya Sabito sekaligus bernostalgia.

"Waktu sekolah dasar...? Umm ... aku waktu itu mau rambut panjangku kembali," jawab Giyuu, kali ini dengan rona merah samar di wajahnya, agak malu mengingat betapa kekanak-kanakannya keinginannya saat itu, meskipun dia memang masih anak-anak sih....

Sabito merengut main-main, kemudian meraihkan tangannya untuk memainkan helaian rambut samping Giyuu yang tidak terikat. "Tapi kan sekarang rambut Giyuu sudah panjang, masa mau dipanjangkan lagi?"

"Kau tidak setuju?"

"Aku sih, suka-suka saja. Tapi kalau rambut kan, Giyuu harus menunggunya panjang sendiri ... tidak ada gunanya dong, aku bertanya," protes Sabito masih dengan wajah merajuk. "Tapi, lanjut deh! Kita lewatkan soal SMP, bagaimana saat SMA? Apa yang paling Giyuu inginkan? Ayolah, berikan aku jawaban yang bagus kali ini!"

"Ehh...." Giyuu mengingat-ngingat masa SMA-nya yang belum terlalu lama lewat. Dia ingat ... melihat Rengoku mendekati Tanjiro, dan Uzui mendekati Zenitsu ... serta Douma yang berusaha menarik perhatian Shinobu (yang justru berakhir dengan hubungan Douma dengan Akaza. Bagaimana bisa melencengnya sejauh itu, tidak ada yang mengerti) dan teringat sebuah perasaan ingin yang muncul dalam hatinya saat itu.

"Waktu itu ... waktu itu, aku ingin bisa merasakan cinta dan dicintai seseorang selain Tsutako-nee," ujarnya, sebelum menyadari sepenuhnya apa yang ia katakan. Gerakan tangan Sabito di rambutnya mendadak berhenti, dan Giyuu menoleh mendapati wajah kekasihnya yang terlihat kaget.

"Ehh...."

Kemudian, sebelum Sabito sempat mengembalikan ketenangannya, Giyuu tersenyum -- tersenyum -- di bawah naungan pohon yang mereka sandari. Sabito kehilangan kata-kata seketika.

"Sabito...," kata Giyuu lirih, sebelum mendekat dan meletakkan kepalanya di bahu pacarnya, "Hadiah yang kuinginkan dari dulu itu ... Sabito. Dan kau tidak perlu memberikanku hadiah lain lagi. Aku ... aku tidak menginginkan hal lain selain Sabito."

"Ah...," balas Sabito sama lirihnya, tangannya naik untuk mengelus puncak kepala Giyuu. "Begitu, kah? Kalau begitu, aku akan terus jadi hadiah untuk Giyuu sampai Giyuu bosan dengan hadiahku!"

"Janji?"

"Heeh ... kayak aku pernah bohong saja~"

Dan keduanya tertawa, merasa nyaman dengan kehadiran dan kehangatan masing-masing.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 25 - Tasty
---

"Kenapa kalian semua seenaknya ngumpul di kamarku?!"

Rengoku, Uzui, Giyuu, Sabito, Shinobu, kembar Tokito, Iguro, Mitsuri, dan Genya semua menatapnya dengan penyesalan palsu -- kecuali Genya, yang tampaknya benar-benar menyesal -- dari tempat mereka duduk melingkar di lantai.

"Sori karena masuk enggak bilang-bilang, tapi kamarku sama Giyuu bocor, kamar Uzui pemanasnya rusak, kamar Shinobu dipakai Kanao sama Trio Kamaboko buat kerja kelompok, dan Rengoku sama si kembar cuma ngikut aja, sih," jelas Sabito, tanpa memindahkan tangannya dari melingkari pinggang Giyuu.

"Tapi- Kenapa harus ke kamarku?! Genya dan bocah-bocah itu sudah cukup menggangguku, ditambah lagi kalian!" protes Sanemi, mengundang tawa dari Uzui.

"Ya mau bagaimana lagi, orang flamboyan seperti aku enggak bisa tinggal di kamar tanpa pemanas, dong~" Uzui beralasan, hanya untuk dilempar bantal oleh Sanemi.

"Kenapa kau enggak ganggu bocah-bocah yang lain?! Bukannya si kuning kesayanganmu ada di situ?!" gerutu Sanemi sambil melangkah menuju dapur tanpa sibuk-sibuk menghindari kaki-kaki temannya di lantai.

"Dia nge-chat, katanya enggak mau diganggu ... yaudah, karena aku Dewa Flamboyan yang baik, sekali-sekali aku turutin permintaannya- Aduh! Kakiku kenapa diinjak?!" Uzui segera menarik kakinya yang jadi korban pelampiasan emosi Sanemi.

"Kan sudah kubilang kalian mengganggu, lagipula ini kamarku, mau kakimu aku injak juga terserahku, kan?" balas Sanemi, menyeringai pada Uzui.

"Eh, kami mengganggu Kak Sanemi...?" Sanemi menoleh ke asal suara, memandang Muichiro yang kelihatan bingung dengan dahi sedikit berkerut dan kedua tangan melingkari lutut. Yuichiro di sebelahnya, menatap Sanemi sambil mengangkat alis, dengan kaki seenaknya terjulur menghalangi jalan Sanemi.

Mahasiswa MIPA itu menghela napas dan melangkahi kaki Yuichiro dan Genya. "Kau sih enggak, sudah biasa juga. Tapi yang lain," Sanemi menoleh dan menatap tajam ke arah teman-teman seangkatannya, "Sekali saja kalian seenaknya di kamarku, jangan harap kalian bisa keluar tanpa luka-luka."

"Whoa, santai," sahut Sabito, mengangkat sebelah tangannya yang tidak memegang Giyuu dan membuka telapak tangannya tanda menyerah.

"Ya, sudah, kalau gitu kita semua gencatan senjata. Kochou, jangan bikin keributan selama aku di dapur. Genya, awasi yang lain, Aku tahu kau bisa menang melawan Kyoujuro kalau berkelahi," perintah Sanemi sebelum benar-benar menghilang ke balik pintu dapur.

"Ehh- Aniki?!" Genya awalnya hendak mengikuti langkah kakaknya, namun membatalkan niatnya ketika teringat betapa kacaunya teman-teman Sanemi di depannya ini. Akhirnya ia menghembuskan napas panjang dan kembali duduk di tempatnya di samping Muichiro.

"Aku harap enggak ada kejadian apa-apa...."

("Aku heran kenapa Shinazugawa-san menganggapku pembuat onar...."

"Kochou, ingat soal ruang kimia yang hampir meledak minggu kemarin?"

"Ingat, soalnya itu campuran kimiaku yang salah racik."

"Nah.")

Ya, semoga tak terjadi apa-apa, Genya. Kasihan kamu.

***

Sanemi berdecih sembari menunggu air di atas kompor mendidih. Awalnya, ia menduga kalau ia akan pulang dan hanya harus memasak untuk tiga-empat orang seperti biasa, tapi sekarang dia jadi pusing. Ia tidak punya bahan makanan untuk delapan orang, belum termasuk dirinya sendiri.

Apa tidak usah dibuatkan makanan saja? Ah, tapi, tanggung. Memang sudah waktu makan siang, masa mereka diusir?

"Hhh ... kenapa datangnya harus sekarang, sih?" keluhnya pelan, beranjak untuk mematikan api ketika ceret di atasnya berbunyi dan menyiapkan teh untuk teman seangkatannya, susu vanila untuk Yuichiro, cokelat panas untuk Muichiro, dan kopi untuknya serta Genya.

"Yui, sini sebentar!" teriaknya ke arah kamarnya, dari mana Yuichiro datang dengan tangan di saku celana dan wajah malas.

"Apa?" tanyanya, kemudian wajahnya berubah cerah ketika melihat sebuah gelas berisi susu vanila. "Itu buatku?"

"Bisa bawakan ke depan? Yang cokelat buat bocah, yang kopi dua buatku sama Genya, sisanya kasih asal juga enggak masalah."

"Aww ... Sanemi-senpai peduli juga ya, sama teman-teman dan kouhainya~" goda Yuichiro, namun ia tetap mengangkat nampan berisi gelas-gelas itu dan membawanya kembali ke kamar.

"Bacot."

Sanemi menunggu Yuichiro menghilang sebelum mulai membuka kabinet-kabinet berisi stok makanannya. Makanan ringan di laci kiri sudah terkuras banyak, namun itu bukan masalah besar. Paling yang makan Uzui, Rengoku, dan Yuichiro, ia bisa menagihnya kapan-kapan.

Tapi ia terdiam ketika mengecek kulkas dan menemukan banyak telur di sana, yang ia yakin bukan dirinya yang membeli. Ketika ia memutar karton telur itu, dia menemukan sebuah catatan dari Giyuu, 'Maaf cemilannya mereka ambil. Ini dari Sabito dan aku buat mengganti makananmu yang habis - Giyuu.'

Pemuda berambut putih itu terdiam cukup lama dengan posisi menunduk di depan kulkas, sampai seseorang menyentuh belakang pahanya dan ia melompat, bersiap meninju wajah Uzui sampai lebam kalau perlu. Namun yang berdiri di sana bukan Uzui, melainkan Muichiro.

"Bocah, kau ngagetin saja ... mau apa?" tanya Sanemi dengan tangan di dada, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang -- karena kaget, dan juga karena kenyataan bahwa barusan Muichiro menyentuh pahanya.

"Kak Sanemi, lapar...." Muichiro menelengkan kepala dengan wajah datar, kerutan di dahinya sudah lama hilang.

"... Oh, ya. Oke, tamagoyaki mau?" tanya Sanemi, melirik kembali telur pemberian Sabito dan Giyuu di kulkas.

"Um, mau!" wajah Muichiro jadi cerah. "Aku temani, ya!"

"... Boleh, jangan dekat-dekat api."

***

"Aku enggak tau lho masakanmu seenak ini, Sanemi!" seru Uzui setelah mencicip makanan buatan Sanemi yang masih panas, baru saja selesai dimasak.

"Aku juga enggak tahu Sanemi bahkan bisa memasak!" balas Rengoku, membuat Sanemi sedikit kesal meskipun ia tahu teman dekatnya itu tidak bermaksud buruk.

"Kalian pikir yang selama ini membuat bekal Genya siapa? Anak ini cuma bisa masak ohagi sama air, sisanya? Jangan harap bisa dimakan, ya kan, Genya?" goda Sanemi sambil menyengir ke arah adiknya, yang merona malu dan memukul kakaknya main-main sebagai bentuk protes.

"Kak Sanemi juga sering membuatkanku bekal, enak semua lagi!" celetuk Muichiro dari balik mulutnya yang penuh. Semuanya terdiam, kemudian perlahan melirik ke arah Sanemi, menduga bahwa sang tuan rumah akan meledak marah atau berteriak berkilah seperti biasanya, tapi yang terjadi malah-

"Jangan ngomong dulu, mulutmu penuh," tegur Sanemi, mengabaikan pernyataan yang sebelumnya dikatakan Muichiro, sementara Yuichiro asyik tertawa sendiri di balik gelas susunya.

"Tapi, Giyuu juga kurang bisa masak, makanya biasanya bekalnya aku yang bikin!" sela Sabito bangga, mencoba mencairkan suasana yang sempat canggung.

"Bagus dong! Kalian berdua memang calon pasangan yang baik!" respon Rengoku sambil mendinginkan tamagoyaki-nya. Sabito tertawa sendiri sementara Sanemi mendengus, mengambil tempat duduk di antara Muichiro dan Genya.

"Bukannya bocah Kamado itu juga bisa memasak, Kyoujuro?" tanya Sanemi, mengingat hubungan antara Rengoku dan Tanjiro yang mulai dekat.

"Umu! Justru karena itu aku bisa mengatakan hal barusan!"

"Bagaimana dengan dirimu sendiri, Rengoku-san?" tanya Shinobu dari sisi lain Sabito, terjepit dengan tubuh mungilnya di antara si ahli kendo dan Uzui.

"Aku bisa memasak, Kochou! Hanya saja, skill-ku biasa-biasa sajam tidak seperti Sabito atau Sanemi!"

Menghela napas mendengar keributan teman-temannya, Sanemi mengabaikan semuanya dan beralih memperhatikan makanannya serta wajah Muichiro yang sedang makan di sampingnya.

"Tsk, kau kalau makan berantakan sekali, bocah," gerutunya melihat sisa makanan di pipi Muichiro, yang menoleh ke arahnya dengan mata lebar, seakan tidak mengerti di mana kelirunya ia.

"Di sini?" tanyanya, menyapu pipinya dengan tangan dan hanya meleset sedikit. Sanemi mendengus tertawa dan mengulurkan tangannya, membersihkan pipi Muichiro.

"Ini," ucapnya, kembali menyengir sambil menusuk-nusuk pipi Muichiro.

"Kak Sanemiii...," keluh anak IT itu, mendorong tangan Sanemi menjauh dari pipinya dan lanjut makan, kali ini dengan menggembungkan pipi tanda merajuk.

Sanemi hampir tertawa, kalau saja Sabito tidak menginterupsi. "Hoo? Apa ini, Sanemi? Akhirnya bisa menemukan seseorang?"

Wajah senang Sanemi lenyap, tergantikan ekspresi marah. "Haah?! Apa maksudmu?!"

"Kau enggak sadar? Tadi kau tertawa lho, waktu bermesraan dengan Muichiro. Shinazugawa Sanemi, tertawa di depan umum? Yang bisa membuatmu begitu sejauh ini cuma Genya, lho~"

Kesalahan besar untuk Sanemi, melakukan PDA di depan Shinobu dan Sabito, personifikasi sempurna sebagai iblis cupid yang kerjanya memantengi urusan percintaan orang.

"Aku enggak nyangka lho, kalau ternyata kau itu tipe yang suka PDA," lanjut Sabito, kali ini dengan semua perhatian orang yang hadir terarah pada perkataannya dan wajah Sanemi.

Tiba-tiba, ekspresi Sanemi berubah jadi panik bercampur marah, namun sebelum ia sempat meneriaki Sabito, Muichiro sudah lebih dulu mendongak.

"Apa itu PDA?"

Semuanya menoleh ke arah Muichiro, kemudian kembali lagi ke arah Sanemi yang menatap mereka dan menggeram.

"KELUAR KALIAN SEMUA, KELUAAAR!"

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 26 - Dark
Notes: Post-fic Shinazugawa Genya is Missing
---

Muichiro membalikkan badannya di atas futon, mengarahkan tubuhnya ke sisi lain dinding, namun kembali merasa tidak nyaman ketika melihat celah-celah di antara papan kayu itu.

Ketika membalikkan badan sekali lagi, ia berhadapan dengan wajah Genya. Matanya tertutup, tapi bekas basah di pipinya bukannya tidak terlihat meskipun gelap.

Muichiro menghembuskan napas panjang. Ia sudah menduga ini takkan bisa bekerja. Beberapa minggu setelah kejadian di Desa Y, akhirnya mereka justru pergi ke sumber air panas bersama-sama untuk menenangkan diri sekaligus mencoba menimpa kenangan buruk di desa terkutuk itu dengan pengalaman menyenangkan di onsen itu.

Yah, dari siang sampai sorenya sih, cukup menyenangkan. Seperti layaknya orang biasa, mereka makan bersama, bermain, dan berendam. Tapi, ketika malam, anak-anak kelas satu (dan Muichiro) harus tidur lebih dulu dibandingkan anak-anak kelas tiga yang masih ribut di ruang depan. Masalahnya, aturan di onsen itu adalah tidak boleh ada lampu kamar yang menyala setelah lewat jam sembilan malam.

Muichiro bertumpu pada kedua sikunya dan mengangkat tubuhnya ke posisi duduk, memperhatikan anak-anak lain setelah kedua matanya sudah terbiasa dengan kegelapan. Tanjiro dan Inosuke tampaknya baik-baik saja, keduanya tidur dengan nyenyak. Zenitsu ... entah kenapa, ia tidak berada di tempat tidurnya, tapi Muichiro tidak mengkhawatirkannya.

"Genya, bangun," ujarnya sambil menyikut hidung Genya, membuat si pemilik mengerang dan membuka matanya. Begitu ia melihat langit-langit yang gelap, pupilnya membesar dan ia mengeluarkan suara seperti tercekik. Muichiro dengan cepat melambaikan tangannya di depan wajah Genya dan menunduk, agar mata hitam itu bertemu dengan netra hijaunya.

"Jangan panik di sini. Aku mau mengajakmu keluar, kali ada Kak Sanemi masih bangun? Ikut?" tanyanya. Genya mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengangguk, berusaha agar tidak perlu fokus ke hal lain selain tubuh teman-temannya.

***

"Eh? Aku dapat huruf A? Tidak flamboyan banget, sih! Tidak ada susah-susahnya!" seru Uzui sambil menuding Rengoku, rekan kerjanya. Zenitsu yang tidur dengan kepala di pangkuannya menggerutu sedikit dalam tidurnya gara-gara terganggu suara ribut itu.

"Nama hewan, ya ... kalau begitu, hewan yang flamboyan: ajax!" sambung Uzui setelah rasa kesalnya berkurang. Giliran selanjutnya, Sanemi, langsung mengamuk mendengar jawabannya.

"Haah?! Dari semua hewan yang huruf awalnya A, kenapa sensei harus pilih ajax?! Sensei pikir ada hewan yang huruf awalnya X?! Ini permainan yang bodoh! Aku berhenti!" teriaknya sambil menyilangkan lengannya di depan dada.

"Oh! Kalau begitu, ganti giliranku! Hewan dengan huruf X, xenarthra! Balik lagi ke A!" potong Sabito bersemangat.

"Ayam," balas Giyuu singkat dari samping Sabito, wajah datarnya terlihat sama sekali tidak ingin ikut bermain permainan anak-anak itu, tapi mau bagaimana lagi, yang lainnya memaksa.

Sanemi hanya mendengus sebal melihat teman-teman serta gurunya meneruskan permainan itu dan melewati gilirannya. Bukannya dia akan protes, sejak awal ia sudah tidak setuju untuk memainkannya.

Tiba-tiba saja, pintu geser dari kamar anak-anak kelas satu terbuka, dan sebuah bayangan menubruk Sanemi yang masih bersila di lantai, memeluk tubuhnya seerat mungkin, mengejutkan semua yang hadir.

"Kak Sanemi ... gelap...," gumam Muichiro, sosok yang barusan menabrak Sanemi. Di belakangnya, Genya berdiri dengan canggung, bingung harus berbuat atau mengatakan apa.

"Ah, ya, harusnya kita tidak meninggalkan mereka dengan kamar gelap. Aku tidak menyangka yang lain juga bakal ada yang keluar selain Agatsuma-kun!" komentar Rengoku dari sebelah Uzui. "Kenapa tidak kita bangunkan saja yang lain dan berkumpul bersama?"

"Bukannya ini sudah lewat waktu tidur mereka, Kyoujuro-san?" tanya Kanroji dari samping Iguro yang sedang sibuk mengurusi sesuatu di ponselnya.

"Aku pikir sih, tidak masalah. Lagipula, kalau lagi libur begini, tidak apa-apa kan sekali-kali begadang, Mitsuri?" balas mahasiswa kedokteran hewan itu sambil mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja.

"Aww ... berarti aku dan Giyuu tidak bisa berciuman di sini dong? Tentunya tidak baik kalau junior-junior itu melihatnya-"

"YA KALAU BEGITU JANGAN DILAKUKAN, BEGO!"

***

Jadi, malam itu, semuanya meninggalkan kamar mereka yang gelap dan ... entah kenapa, malah membuat seluruh kejadian itu seperti kencan buta, dengan Tanjiro tidur bersandar ke bahu Rengoku, Zenitsu yang tidur dengan paha Uzui yang dijadikan bantal, Sabito dan Giyuu yang menyandarkan kepala mereka bersama padahal keduanya sama sekali tidak tidur, serta Kanroji dan Iguro yang agak aneh, karena Iguro-lah yang bersandar ke bahu Kanroji. Yang lain sudah pada maklum -- namanya juga faktor pertumbuhan badan. Kanao, Kanae, dan Shinobu tidur bertiga dengan Kanae di tengah sebagai tempat bersandar kedua adiknya. Sementara itu, Douma, yang sebelumnya hendak mencoba mendekati mereka, terpaksa menjadi tempat bersandar untuk Inosuke.

"Hei, kalau dipikir, Tokito dan Genya justru terlihat seperti dengan ayah mereka, ya," komentar Uzui, memperhatikan Sanemi, Genya, dan Tokito yang juga sudah tertidur. Sanemi bersandar di dinding, dengan Muichiro menempel padanya seperti koala dan Genya di sampingnya, dengan kepala sedikit merosot ke dada kakaknya. Kedua tangan Sanemi melingkari kedua anak yang lebih muda itu, seperti sedang membentengi mereka.

"Ssh, Yakara-sensei, mereka jangan diganggu," potong Shinobu, yang terbangun mendengar suara Uzui, "Besok kan masih ada. Lagipula, melihat sensei dan Agatsuma-kun dengan posisi begitu juga sama saja."

Rengoku mengerutkan kening, tangannya sambil lalu memainkan surai kemerahan Tanjiro, yang menggumam dalam tidurnya sebagai respon. "Mereka sudah melalui terlalu banyak hal, tidak heran mereka semua merasa paranoid dalam gelap."

"Tapi dengan kejadian itu, perasaanku saja atau kita semua mendadak jadi tambah dekat?" tanya Sabito, yang terbangun mendengar percakapan yang baru dimulai itu -- dia memang bukan orang yang mudah tertidur lelap.

"Understatement of the year," balas Uzui, kakinya ia geser agar Zenitsu tidak berbaring di atas tulang lututnya, "Lihat saja Shinazugawa bros ditambah Tokito-kun."

"Aww, hahaha, sensei benar," sahut Sabito sambil tertawa. Ia kemudian menegakkan tubuh agar kepala Giyuu jatuh ke bahunya dan melingkarkan lengannya ke sekeliling pinggang Giyuu.

"Aku ... juga senang. Sekarang perasaanku sudah tersampaikan...."

Semua orang yang masih bangun tersenyum mendengar perkataan pelan sang juara kendo sekaligus bendahara OSIS itu. Jujur, mereka semua sudah tahu dinamik Sabito dan Giyuu bukan hanya sekedar teman sejak keduanya naik ke kelas dua. Dan sekarang semuanya ikut lega mereka berdua bisa menjadi lebih dekat lagi.

"Sekarang, aku bisa PDA ke Giyuu sesering mungkin!"

"BISA TIDAK SIH JANGAN CUMA MEMIKIRKAN PDA-NYA SAJA?!" Ah, Uzui mendadak sirik.

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 27 - Moon
Note: Post-fic Shinazugawa Genya is Missing
---

"... Kau yakin? Aku sendirian juga tidak masalah," tanya Giyuu ragu-ragu ketika melihat Sabito beranjak dan memakai jaket kotak-kotaknya.

"Tidak masalah, kok! Punggungku sudah sembuh, lagipula sudah lama kita tidak jalan-jalan malam berdua!" balas Sabito riang. Selama tiga hari terakhir, ia menginap berturut-turut di apartemen Giyuu. Ia tidak ingin Giyuu tinggal sendirian di apartemen itu ketika beberapa hari yang lalu mereka baru saja dinyatakan mengidap trauma gara-gara kejadian di desa.

"Kau yakin? Punggungmu kadang masih berdarah-"

"Mm! Sudah kubilang tidak apa-apa! Aku akan berusaha biar jangan terlalu liar bergerak -- kita kan cuma jalan!"

Giyuu menghela napas. Kalau Sabito sudah keras kepala, bahkan Sanemi pun ogah mendebatnya. Maka, menekan rasa cemas terhadap sahabatnya, Giyuu mengangguk dan membuka kunci pintu apartemennya.

***

Sudah merupakan sebuah kebiasaan -- muscle memory, istilahnya -- bagi Sabito dan Giyuu untuk berkeliling jauh setelah menyelesaikan urusan mereka di tempat ramai. Setelah melewati jalanan kota yang terang dan sibuk, malam itu mereka memilih melewati taman kota yang jarang didatangi orang.

"Nee, Giyuu, lihat ke atas," celetuk Sabito tiba-tiba, pandangannya mengarah ke langit, entah bagaimana berhasil menghindari tiang listrik dan tempat sampah.

Giyuu berhenti berjalan dan melihat ke atas, pantulan bulan purnama tampak indah di permukaan matanya. "Ah, bulan purnama? Aku bahkan tidak sadar ini sudah tengah bulan."

Sabito tertawa kecil. "Sebentar lagi ujian, lho. Sudah siap?"

"... Harusnya aku yang tanya itu ke Sabito."

"Ehh...."

Keduanya kembali berjalan dalam kesunyian yang nyaman di antara mereka. Kemudian, Sabito kembali memecah keheningan.

"Nee, Giyuu, bagaimana perasaanmu waktu Tokito-kun palsu menyerangmu waktu itu?" tanyanya, dahinya mengernyit kecil. Ia tidak suka mengungkit pengalaman mereka di desa, tapi rasa penasarannya mengalahkan keengganannya.

Giyuu mengerjapkan mata dan melirik ke arah remaja berambut peach itu. "Kecewa...?" jawabnya ragu-ragu. Kalau dipikir lagi, dia bingung saat itu sedang merasakan apa. Biasanya, emosi Giyuu selalu jelas dan to the point -- senang ya senang, marah ya marah, soal ekspresi itu hanya masalah wajah -- tapi, baru kali itu dia merasakan perasaan campur aduk. Marah (melihat Sabito terluka), takut (kehilangan sahabatnya yang paling berharga), merasa bersalah (ia begitu lemah sampai-sampai tidak bisa menghindar), dan kecewa (mengingat ia tak bisa melindungi Sabito).

Jelas kecewa bukanlah jawaban yang Sabito duga. Ia menoleh kaget ke arah pemuda bersurai gelap di sebelahnya. "Kecewa? Kecewa kenapa?"

Giyuu mengangkat bahunya, berusaha terlihat tenang, "Maksudku, saking lemahnya, aku tidak bisa melindungi diriku sendiri dan malah membuat Sabito terluka. Aku ... jadi ikut merasa sakit, saat itu, tapi kalau begitu aku malah jadi egois -- yang terluka siapa, yang sakit siapa."

"Tapi bukannya setelahnya, Giyuu menjagaku ketika aku tidak bisa menjagamu?"

"Itu tidak sama."

Keduanya kembali terdiam, namun kali ini, kesunyian itu lebih canggung.

"... Kalau aku sih, takut. Takut kalau kau sampai terluka ... aku tidak setenang Giyuu kalau menghadapi masalah orang lain, jadi aku pikir, lebih baik kalau aku saja yang luka," tutur Sabito. Tangannya yang tadi dimasukkan ke dalam saku ia keluarkan, kemudian mendekati tangan Giyuu seakan hendak menggenggamnya, namun berhenti.

"Tidak ada pilihan yang 'lebih baik' kalau kau terluka, Sabito. Aku tidak mau lagi melihat dirimu berdarah seperti itu," balas Giyuu, nadanya sedikit naik.

Sabito menghembuskan napas panjang sambil mengeluarkan tawa pendek. "Ternyata di antara kita berdua, tidak ada yang mau melihat yang satu lagi terluka, ya." Itu bukan pertanyaan, keduanya tahu.

"Giyuu," kata Sabito, berhenti berjalan dan mengambil tempat di hadapan Giyuu. "Bagaimana kalau kita sama-sama berjanji? Aku akan terus melindung Giyuu selama aku bisa, dan Giyuu akan melindungiku juga -- back to back."

"Bahkan tanpa berjanji pun aku akan terus melindungi Sabito," cetus Giyuu. Sabito tersenyum hangat.

"Deal, kalau begitu?"

"Mm."

Mendengar jawaban Giyuu, Sabito melangkah maju dan memegang bahu kanan Giyuu dengan tangan kirinya, dan menciumnya di bibir. Ciuman itu singkat saja, tapi berhasil membuat Giyuu membeku di tempat.

"Anggap saja itu tadi segel perjanjiannya, oke? Aah, sudah lama aku mau melakukan itu," ujar Sabito, seakan-akan yang terjadi barusan hanyalah hal yang biasa terjadi.

Giyuu mengerjapkan kedua matanya dengan linglung dan menatap Sabito. "Uh ... yang tadi itu...."

Melihat respon Giyuu, tiba-tiba Sabito merasa kalau dirinya terlalu cepat mengambil aksi. Tapi yang terjadi sudah terjadi. "Umm," balasnya, bingung ingin menawarkan kata-kata apa pada Giyuu. "Err ... maaf tidak meminta izin dulu?" tawarnya.

Mendengarnya, Giyuu justru merengut dan menarik kerah baju Sabito untuk menciumnya lagi. Lagi-lagi, ciuman yang singkat, tapi cukup untuk menjelaskan semuanya bagi kedua remaja itu, dan Sabito tersenyum lebar.

"Wah, ketua OSIS kita berani juga ternyata," ucapnya, diam-diam mengagumi sosok Giyuu yang terlihat surreal di bawah sinar bulan yang samar, memantul di helaian rambut hitamnya dan juga di matanya.

Giyuu menghela napas, "Lain kali, jangan tiba-tiba begitu, aku kaget. Dan kau sadar tidak sih kalau kau melakukannya di depan umum?"

"Itu tantangan?" balas Sabito, antara menggoda dan riang.

"Tolong jangan."

"Eh...."

Keduanya kembali melangkah, sibuk dengan pikiran masing-masing, namun kali ini, dengan tangan mereka bertautan. Tanda hubungan mereka yang sudah menjadi semakin dekat.

"Sabito ... bulannya indah, ya?" gumam Giyuu, hampir tak terdengar di antara hembusan angin sepoi yang lewat.

Sabito menoleh, terkejut sesaat sebelum sebuah senyum lembut merekah di wajahnya.

"... Ya."

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 28 - Ride
Notes: Hogwarts!AU, tapi nama gurunya masih nama guru di canon HarPot (cameo doang). Perubahan paling signifikan: Oyakata-sama (kepsek) dan Himejima (DADA teacher)
---

"Haah...," Sanemi menghembuskan napas kesal untuk kesekian kalinya, butterbeer yang diberikan Iguro padanya terletak di atas meja, belum tersentuh sama sekali.

Iguro, yang sedang sibuk mengerjakan tugas esai transfigurasinya di meja di samping Sanemi memutar kedua bola mata heterokromnya dengan jengah.

"Dengar, aku tahu kau badmood gara-gara kau harus menggantikan Madam Hooch mengajari anak-anak kelas satu naik sapu -- anak Gryffindor lagi -- dan kau salah satu teman terbaikku di asrama pengap ini, tapi sekali lagi aku dengar kau mengeluh, botol butterbeer ini bakal kulempar," omel sang pecinta ular, tangannya meraih botol butterbeer kosong miliknya yang tergeletak di depan perkamennya yang baru setengah penuh.

"Tch, ya sudahlah, aku ke lapangan saja sekalian -- kali-kali ada sesuatu yang bisa dilampiasi," putus Sanemi sambil bangkit dari tempat duduknya dan beranjak keluar ruang berkumpul. Sebelum ia benar-benar keluar, Iguro memanggilnya lagi.

"PR-mu sudah selesai semua?"

"... Sudah. Kalau mau salin, ada di bawah bantal di ranjangku."

"Oke," balas Iguro, berdiri dan siap mencari barang berharga yang ia cari. Kemudian, sebagai tambahan, ia berseru, "Penyihir mana yang menyembunyikan PR di bawah bantal, oi?!" namun Sanemi sudah tak mendengar.

***

Sanemi berdiri dengan berkacak pinggang di depan dua barisan anak kelas satu yang akan diajarnya -- Slytherin dan Gryffindor -- sambil sibuk memikirkan cara agar murid dari kedua rumah tidak saling menyerang selagi terbang.

"Haah, merepotkan. Namaku Shinazugawa Sanemi, tingkat enam Slytherin, dan juga kapten Qudditch. Hari ini, Madam Hooch tidak bisa mengajar dan aku menggantikannya -- ada keluhan?" tanyanya dengan nada tidak sabaran. Semua murid menggeleng.

"Baik. Ikuti instruksiku. Angkat tangan kalian di atas sapu terbang di samping kalian dan katakan 'naik'. Oy! Yang di sana jangan loyo!" perintahnya, menunjuk seorang Slytherin yang tampak mengantuk.

"Anu, Aniki, dia memang selalu begitu," sela Genya dari sebelah anak yang Sanemi tunjuk.

Shinazugawa sulung itu mendengus. "Yah, kalau dia jatuh, bukan urusanku."

Setelah masalah kecil itu terlupakan, murid-murid itu mulai mencoba sapu mereka. Ada beberapa yang sempat mendapat lirikan Sanemi ketika mereka berhasil menangkap sapu dalam sekali percobaan dan berhasil menyeimbangkan diri dalam waktu singkat -- yang paling menarik matanya adalah seorang anak laki-laki berhawa sinis yang kelihatannya kembar dengan anak berwajah mengantuk yang tadi ia tegur. Huh. Mungkin Sanemi akan merekrutnya menjadi seeker atau chaser Slytherin kalau anak itu sudah naik ke kelas dua atau tiga.

Selain yang cepat belajar, mata Sanemi meneliti anak-anak yang lambat atau terlalu takut, dalam hati mencatat penampilan mereka serta dari rumah mana mereka berasal, ia tidak mau repot-repot menghapalkan nama adik kelas yang esok hanya akan ia lupakan. Yang masuk dalam daftar hitam Sanemi terutama adalah anak Gryffindor berambut gradasi hitam-biru yang terbang terlalu liar -- "BERHENTI! ITU SAPU, BUKAN HIPPOGRIFF, DEMI OYAKATA-SAMA-" -- dan kerjanya adalah menabraki murid-murid lainnya di udara.
Genya dan bocah Kamado sulung itu berusaha mengejarnya dan memberhentikan anak itu secara paksa, namun anak liar itu keburu membelok tajam dan berhasil menabrak salah satu dari si kembar -- Sanemi tak tahu yang mana -- yang terpeleset dari sapunya dan jatuh.

Beberapa anak menjerit melihat anak berambut panjang itu jatuh dari ketinggian sepuluh meter, sementara sapu yang kehilangan penunggangnya itu tampak panik.

Sanemi terkejut, tentu, tapi ia dipilih menjadi kapten Quidditch terbaik Slytherin bukan karena omong kosong. Rasa kagetnya dikalahkan refleks dan ia melompat sendiri ke salah satu sapu tak terpakai, melesat melewati adiknya yang masih berusaha mengekang sang anak liar yang meronta dalam pegangannya.

Semua kehebohan itu selesai sama cepatnya dengan saat terjadi. Sanemi bergerak lebih cepat daripada anak yang jatuh itu dan menangkapnya tepat waktu -- tanpa sadar, insting kakak tertuanya mengambil alih dan ketika ia mendarat di tanah berumput, ia baru sadar betapa ambigunya posisi mereka -- dengan Sanemi yang menahan tubuh anak itu dengan cara memeluknya, satu tangan Sanemi di punggung, sementara yang sebelah lagi menahan belakang kepala bersurai kelam anak itu.

Segera, kembarannya melompat turun dari sapunya dari ketinggian tiga meter dari tanah dan berlari menghampiri saudaranya yang sudah didudukkan Sanemi si tanah. "Kau tidak apa-apa? Ada luka?"

Oh. Rupanya yang jatuh adalah kembaran yang selalu terlihat mengantuk. Sanemi mengernyitkan kening selama beberapa saat, merasakan betapa ironisnya kejadian barusan jika dibandingkan dengan ancamannya pada anak itu.

Yah ... terserah. Bukan urusannya, selama anak itu tidak luka.

"Aniki," panggil Genya dari sampingnya. Sanemi menoleh dan menaikkan sebelah alis melihat wajah dan tangan adiknya penuh luka gores. "Aku izin ke rumah sakit sekolah. Hashibira membuatku menabrak pohon pinus," sambung Genya menggerutu.

"Mau kutemani? Sekalian biar ada alasan bolos dari pelajaran setan ini," tawar Sanemi. Genya tampak kaget, kemudian wajahnya berubah jadi bingung.

"Soal itu ... eh, sudah ada yang akan menemaniku. Jadi kalau aniki tidak keberatan ... err," ucapnya tergagap. Sanemi ber-ah paham dan mengibaskan tangannya.

"Ya, ya, aku paham. Sudah sana," usirnya, tapi nadanya tidak marah. Genya menyengir minta maaf dan berlari pergi ke arah sayap rumah sakit. Setengah jalan menuju ke sana, bocah Kamado itu datang dari arah hutan dengan membawa dua sapu dan menyapa Genya dengan riang. Seingat Sanemi, bocah itu sudah diincar Kyoujuro. Ah, peduli amat.

Tanda pergantian jam belajar dibunyikan. Sanemi membalikkan badan tanpa melirik ulang pada adik-adik kelasnya. "Potong sepuluh angka dari Gryffindor karena membahayakan murid lain, terbang ugal-ugalan. Pelajaran dibubarkan -- pergi kalian semua."

***

"Kau ... Kak Sanemi, kan?" tanya salah satu dari si kembar tingkat satu itu ketika Sanemi hampir bertabrakan dengannya di tangga asrama.

"Hah? Oh- kau. Kau kembar yang mana? Yang jatuh atau yang satu lagi?" balas Sanemi tajam, tidak ingin terlalu banyak membuang waktu berdiri di tangga itu.

"Yang jatuh," jawab anak itu, "Namaku Tokito Muichiro, dan aku mau belajar terbang pakai sapu dari Kak Sanemi. Boleh?"

"Ah- tunggu, apa? Aku ini anak kelas enam, bukannya guru terbang. Sana minta pelajaran tambahan dati Madam Hooch," gertak Sanemi sambil berjalan melewati Muichiro dan hendak menuju pintu keluar ruang berkumpul ketika ujung jubah quidditch-nya ditarik.

"Tapi aku lebih suka diajari Kak Sanemi, enak," tutur Muichiro polos. Sanemi mengernyit dan terdiam. Dari waktu tiga tahun ia menjadi kapten quidditch Slytherin dan juga tangan kanan Madam Hooch, baru sekali ini ia mendapat kalimat begitu. Semua orang jelas mengagumi skill-nya, tapi mereka selalu mencela sikapnya. Tapi anak ini ... kenapa? Sanemi tidak pernah menganggap dirinya bodoh, tapi ia benar-benar heran dengan sikap Muichiro -- apa yang enak dari diajari kakak kelas yang kasar, terutama setelah ada kejadian jatuh dari sapu begitu?

Sanemi menarik napas. "Dengar, bocah, aku tidak mengerti kenapa aku harus mau meluangkan waktu kosongku yang cuma sedikit hanya untuk mengajarimu terbang. Dan aku takkan bohong, skill-mu tidak sehebat kembaranmu, aku akan lebih tertarik jika ia yang ingin aku mengajarinya."

Wajah Muichiro, entah kenapa, berubah cerah. "Oh, oke! Esok aku temui lagi ya!" katanya, sebelum pergi, rambut panjangnya melambung mengikuti gerakannya, mengabaikan tatapan aneh Sanemi.

"Apa maksudnya...?"

***

Keesokan harinya, Muichiro datang ke depan tempat tidur Sanemi -- yang mana pemiliknya sebelumnya asyik terlelap sebelum dibangunkan dengan kejam -- dengan membawa kakak kembarnya, Yuichiro, dengannya.

Pikiran Sanemi yang masih dihalangi kantuk, hanya bisa memproses setengah omelan Yuichiro yang memarahinya karena memperlakukan adiknya dengan kasar. Sekali lagi, Sanemi sedikit dikejutkan oleh sepasang kembar siam itu. Baru kali ini orang lain yang bukan teman dekatnya berani mengkritiknya tepat di hadapannya sendiri.

Sanemi, dengan setengah mengantuk, mengiyakan segala yang dikatakan Yuichiro sebelum kembali menutup wajahnya dengan bantal dan tertidur.

Ia mendaftar ke sekolah sihir itu bukan untuk drama kehidupan anak sekolah, demi Tuhan.

Dan bukan pula untuk sepasang kembar yang berakhir mengintilinya kesana kemari (dan berhasil mencuri hatinya).

'Tapi,' pikir Sanemi yang sekarang sudah berumur 21 tahun dan mengajar sebagai guru di sekolahnya dulu, dengan kepala Muichiro yang tertidur tersandar di bahunya, 'Kalau bukan gara-gara itu, mungkin aku dan bocah ini tidak bisa sedekat ini.'

Kemudian, disinari cahaya matahari terbenam, Sanemi menyengir sendiri sambil mengusak rambut Muichiro di sampingnya.

'Apa bocah yang sulung juga perlu aku incar, ya?'

TAMAT

Chapter Text

Drabble Inktober day 29 - Injured
Notes: Hogwarts!AU
---

Sebuah bunyi 'poof!' terdengar dari dalam kantor Tsugikuni Michikatsu. Ia mendongak, menatap Douma, manusia serigala yang sebelumnya tidak ada di situ, kemudian mengabaikannya, membiarkan Kaigaku yang duduk di seberang mejanya tetap terpana melihat kemunculan pemuda berambut tak beraturan itu.

"Aku tidak tahu manusia serigala bisa melakukan apparate," komentar Michikatsu sambil mengecek lembaran perkamen di atas mejanya. Douma tertawa ringan.

"Aku merasa tersanjung, Kakushibo-dono memujiku sejauh itu," balasnya sambil menyeringai tipis. Michikatsu mendongak tak senang.

"Jangan memanggilku dengan nama itu di sini," gertaknya. Douma mengangkat alis dan mulutnya membentuk 'oh' tanpa suara, kemudian tercekikik sambil melambaikan tangannya ke arah Kaigaku.

"Bukankah bocah ini juga akan bergabung, Kakushibo-dono? Ah- maaf, maksudku Michikatsu-dono. Bukankah tidak masalah menyebutmu itu di depannya?"

"Bagaimana dengan tugasmu?" sela Michikatsu mengabaikan pertanyaan Douma. Manusia serigala itu menggumam perlahan dan mengusap darah dari sudut mulutnya. "Bagaimana, yah...?"

***

Genya tersedak, bahkan udara yang ia hirup terasa menyakiti dadanya. Darah masih mengalir deras dari luka di dada kanannya. Tak ada suara yang bisa ia keluarkan selain bunyi serak seperti hewan yang tercekik.

Matanya tidak fokus, tapi ia masih bisa melihat sosok kabur berambut putih menghampirinya, meneriakkan sesuatu yang tak bisa ia tangkap pada sosok lain.

***

"... Berhasil, sih. Cuma ya, yang kena bukan yang sulung. Aku ingin mengejarnya, tapi rupanya ia datang ke hutan dengan teman-temannya, aku tidak mau mengambil resiko ditangkap begitu," kata Douma, mengamati noda darah di ujung jarinya dan menjilatnya.

Michikatsu mendongak mendengar laporan Douma dengan kernyitan dalam di wajahnya. "Apa- jadi siapa yang kau gigit?"

Douma menelengkan kepalanya sambil menutup mata, seakan memori itu sudah lama ia lupakan.

Ia menjentikkan jari dan tersenyum. "Adiknya."

***

"Sanemi! Sanemi- jauh-jauh, Sanemi! Kyoujuro, panggil Tamayo-san! Sanemi! Berhenti!" Sabito berusaha menjauhkan Sanemi yang kalap dari tubuh Genya yang ditahan oleh Giyuu. Sabito mengerti cukup banyak tentang manusia serigala, dan ia sama sekali tak ingin ada di antara mereka yang menyentuh genangan darah Genya sekarang. "Kyoujuro! Cepat!" teriaknya, mengiringi langkah kaki Rengoku yang semakin menjauh.

"Lepaskan! Lepaskan, Gryffindor brengsek! Genya-!" Sabito menggeram tanpa membalas protes Sanemi dan berakhir harus memitingnya ke tanah.

"Tenang dulu, Sanemi! Kyoujuro sedang memanggil Tamayo-sa- Aduh!"

"Aku tidak peduli! Lepaskan!"

Giyuu memandangi kedua remaja itu dengan cemas, namun tak ingin menginterupsi tanpa melepaskan Genya. Anak itu sempat memberontak ketika lengannya ditahan Giyuu, tapi akhirnya melemahkan diri dan hanya berbaring di sana sembari mengerang pelan menahan sakit.

Giyuu tidak bisa membantu lebih lagi daripada itu. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan saat itu hanyalah menunggu Rengoku kembali dengan bantuan.

***

"Kenapa tidak kau bunuh saja anak itu? Kecerobohanmu bisa membuat kita semua ketahuan," tanya Michikatsu, tapi nadanya tak terdengar sepanik kata-katanya.

"Kan sudah kubilaaang, kakaknya langsung menyerbuku begitu aku menggigit adiknya ... dan dua anak Gryffindor itu laju sekali larinya -- aku tidak mau tertangkap," balas Douma acuh tak acuh.

Michikatsu menghela napas panjang. "Ya sudah, pergilah. Kalau anak yang kau gigit dibawa ke bangsal rumah sakit, aku dan Ubuyashiki akan dipanggil ke sana dan kau tidak boleh terlihat di dalam kantorku," perintahnya.

"Aye aye, ketua," balas Douma dengan menirukan gerakan hormat sebelum membuka jendela, melompat, dan menghilang di tengah dinginnya malam. Dengan satu lambaian tangannya, Michikatsu menutup jendela itu, membuat kantor kembali sunyi dengan tiadanya suara tiupan angin malam.

Ia berbalik dan menatap anak Slytherin di depannya dengan mata tak berekspresi, seakan kejadian beberapa menit yang lalu tak pernah terjadi. "Jadi, Kaigaku, aku ingin tahu alasanmu bergabung kemari. Dan jujur saja, aku tak pernah punya minat terhadapmu, jadi pastikan alasanmu memuaskan."

***

Begitu Genya menghilang, dibawa oleh Yushiro dan Tamayo ke bangsal rumah sakit meninggalkan yang lainnya masih di hutan, Sabito akhirnya melepaskan kekangannya pada leher Sanemi, setengah menduga anak Slytherin itu akan melompat dan menghajarnya. Tapi Sanemi hanya terduduk di sana, matanya nenatap nanar ke tempat di mana Genya barusan terbaring.

"Sabito...? Apa dia kita bawa pulang ke sekolah?" tanya Giyuu, perlahan mendekati pacarnya dan menggenggam tangan murid Gryffindor itu. Sabito terdiam, menatap Sanemi, yang tampaknya tidak sadar bahwa air matanya sudah mengalir membasahi wajahnya.

Sabito merapatkan bibir dan memberi isyarat pada Giyuu untuk menunggu sebelum berjongkok di hadapan Sanemi dan perlahan meletakkan tangannya di atas lutut remaja itu. "Sanemi? Dengar aku, Genya akan baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja, ditangani Yushiro dan Tamayo-san."

"Kalian akan baik-baik saja, kalian berdua," tambah Giyuu pelan, dan itulah yang berhasil membuat Sanemi sadar akan sekelilingnya dan tanpa peduli bahwa teman-temannya ada di sana melihatnya, ia menangis sejadi-jadinya.

Meskipun ia menangis, meskipun ia sekali lagi gagal menjadi kakak yang benar, meskipun ia yakin ia sedang terlihat lemah di depan temannya, Sanemi memohon sejadi-jadinya pada entah siapapun yang akan mendengar: Selamatkan Genya, dan berilah ia kesempatan satu kali lagi.

Chapter Text

Drabble Inktober day 31 - Festivities

Notes: Hogwarts!AU ---

Tanggal tiga puluh satu Oktober terkenal baik di dunia muggle ataupun dunia penyihir sebagai malam Halloween, namun bagi murid-murid Hogwarts, tanggal tiga puluh sayu Oktober artinya adalah kunjungan Hogsmeade terakhir sebelum pelepasan murid-murid tingkat tujuh.

Karenanya, pada kunjungan itu, hampir seisi sekolah pergi bersama teman, kakak kelas, serta pacar mereka yang akan lulus lebih dulu atau, lebih menyenangkannya, lulus bersama-sama. Uzui Tengen sebenarnya hendak menarik lengan Zenitsu, adik kelas favoritnya setelah Tanjiro, tapi anak itu keburu ditarik oleh teman-teman serumahnya.

Jadi, sejauh ini, Uzui hanya berjalan-jalan tanpa arah. Sanemi dan Rengoku yang awalnya berada dekat dengannya, sekarang justru pergi entah kemana.

Aah ... kalau begini, bagusnya ia berkeliaran kemana?

 

The Three Broomstick - Hogsmeade's Street  {16.30}

"Giyuu, apa kau pernah berpikir kenapa Hufflepuff lambangnya musang? Atau itu bajing?" tanya Sabito sambil lalu untuk membuka pembicaraan. Ia dan Giyuu sudah tinggal cukup lama di dalam bar itu, namun sampai butterbeer keduanya tersisa setengah, keduanya hanya mengobrol singkat sesekali. 

"... Aku tidak yakin? Sabito, kau yakin kau tidak mabuk?" 

"Mabuk karena butterbeer? Yang benar saja," balas Sabito sambil tertawa. Kemudian ia menyandarkan dirinya ke punggung kursinya, mengamati dekorasi Halloween yang menggantung di sana-sini. "Tidak kerasa, ya. Sebentar lagi sudah pelepasan ... Giyuu mau jadi guru, kan?" 

"Mm, meskipun kalau murid-muridnya sejenis dengan angkatan Tanjiro, mungkin lebih baik aku langsung resign saja," balas Giyuu dengan serius, namun Sabito tetap tertawa kecil, mengingat-ingat segala kekacauan yang terjadi selama beberapa semester terakhir. 

"Aah ... aku jadi pengen permen. Giyuu, mau ke Honeydukes? Aku traktir?" tawarnya pada pacarnya, meskipun pada tingkat ini, ia seharusnya tak perlu bertanya. Giyuu akan mengikutinya kemana saja meskipun Sabito pergi ke galaksi sebelah. Melihat Giyuu mengangguk, Sabito segera menghabiskan minumannya dan membayar. 

Di depan pintu keluar, Sabito meraih tangan Giyuu yang tidak memakai sarung tangan dan merematnya pelan, membagi kehangatan tangannya ke tangan Giyuu. "Kau ini," ia menggerutu, "Sudah berapa kali aku bilang, kalau ke sini jangan lupa bawa sarung tangan."

"... Kalau aku bilang aku sengaja, bagaimana?" tanya Giyuu ketika keduanya menyusuri jalan yang senantiasa bersalju itu. Sabito menoleh ke arah senior Hufflepuff itu dan ternganga sedikit. Terakhir kali Giyuu mengatakan hal se-smooth itu, kalau Sabito tidak salah ingat, adalah waktu mereka tingkat lima. 

"Ooh," ujar pemuda berambut peach itu dengan nada menggoda, "Kalau kau sebegitu inginnya bergandengan denganku, kenapa tidak bilang saja?" 

Giyuu nerengut sedikit, "Karena aku tahu Sabito bakal menertawakanku dulu sebelum melakukannya," ujarnya pelan. 

Sabito terdiam sejenak. "Kau tahu, kan, aku tidak menertawakanmu? Maksudku ya, tapi juga ... aku tertawa karena kau manis sekali, bukan karena permintaanmu konyol," balasnya, ikut memelankan suara. Tidak mendapat respon apa-apa dari Giyuu, Sabito tersenyum dan menghentikan langkahnya, membuat Giyuu yang bergandeng dengannya ikut berhenti. 

Mengabaikan semua orang di sekitarnya, seperti biasa, Sabito menarik wajah Giyuu agar tidak menunduk dan mencium bibirnya dengan lembut. 

"Sabito-"

"Lihat, kan, aku saja tidak pakai meminta."

"Sabito-"

"Jadi kalau kau sedang ingin bergandeng atau apa, langsung saja, jangan-"

"Sabito!" 

"Apa?!"

"Tolong berhenti dulu ngomongnya. Kita di tengah jalan, dan aku yakin ada lebih dari dua guru yang melihat ciuman tadi."

Sabito mendengus, cengirannya melebar. "Giyuu, sejak kapan sih, aku peduli?" tanyanya, kemudian, tidak menunggu jawaban dari Giyuu, ia kembali mencium kekasihnya itu dengan lebih ganas.

"Hahaha! Sabito bersemangat seperti biasa, ya!" keduanya diinterupsi oleh pasangan lain yang muncul dari belakang mereka. Keduanya menoleh, dan berhadapan langsung dengan Rengoku dan Tanjiro, yang juga berjalan sambil bergandengan tangan. 

"Apa tidak apa-apa PDA di depan orang ramai begitu?" tanya Tanjiro. 

Sabito mengibaskan tangannya yang tidak menggandeng Giyuu dan kembali berjalan menuju Honeydukes. "Tanjiro-kun, kalau tidak depan orang ramai, buat apa susah-susah PDA? Kan itu poinnya, untuk memperlihatkan pada orang lain agar tidak ada yang coba-coba mendekati Giyuu."

"Hee...."

"Omong-omong, kalian berdua mau kemana?" potong Rengoku lantang. 

"Honeydukes, kalian sendiri?" balas Sabito. 

"Sebenarnya belum ada tujuan sih, jadi kami ikut kalian saja!" 

Sabito mengangkat bahu dan mengangguk. Selama mereka tidak mengganggunya dan Giyuu, seharusnya tidak bakal jadi masalah.

 

Honeydukes  {17. 00}

"Aku masih tidak mengerti kenapa kau suka sekali makan permen rasa darah," senior Slytherin itu berkomentar. 

"Aku juga masih tidak mengerti kenapa aniki selalu mengatakan itu seakan aniki sendiri tidak selalu beli tengkorak itu kalau pergi ke sini," balas Genya, "Lagipula ini bukannya terbuat dari darah asli."

"Kau pikir aku akan membiarkanmu makan itu kalau aku pikir itu darah asli? Dan lagi, bukannya itu untuk vampir, bukan manusia serigala?"

"Rasanya unik."

"Understatement of the year, Genya," dengus Sanemi, kemudian memandang berkeliling, mencoba menemukan dua kepala kembar dari balik lautan anak-anak lainnya. Ia melihat Yuichiro sedang asyik mencoba meyakinkan Zenitsu untuk memakan acid pop ("Ini bukan yang ekstrim itu kok, ini yang rasa kelapa."  "Bukannya permen kelapa warnanya merah muda?"), sementara Muichiro sedang kesusahan berusaha mengambil permen salju dari salah satu rak tertinggi. 

Sanemi menoleh ke arah Genya. "Hei, keberatan menunggu dulu sebelum bayar?" tanyanya. 

Genya mendongak dari tumpukan permen, kemudian menyengir, "Tidak, tidak masalah. Urusi saja pacar aniki- aduh! Jangan main pukul! Apa, sih?!"

Sembari menembus kerumunan, Sanemi dengan cepat menambahkan, "Tidak salah, tapi nadamu menyebalkan." Kemudian, ia lenyap dengan cepat di antara jubah-jubah Hogwarts lainnya, meninggalkan Genya yang merengut di sana. 

"Oh! Genya!" dengan refleks manusia serigala, Genya menoleh ke arah asal suara, mood-nya naik bahkan hanya dengan mendengar sapaan itu saja -- dan mood-nya turun lagi begitu melihat Tanjiro masuk ke toko permen itu dengan pacarnya

Ya, setelah dua tahun Genya dan Rengoku berseteru (secara adil) memperebutkan Tanjiro, pada pertengahan tahun keenam Rengoku keduanya menyadari bahwa murid Slytherin itu tidak mendapat kesempatan jika lawannya adalah Rengoku Kyoujuro, dan Genya mundur segera setelah tanpa sengaja menjadi saksi ciuman pertama mereka. 

"Tanjiro," balasnya menyapa dengan hati-hati. Meskipun Rengoku selalu ceria dan ramah pada semua murid, setelah selama itu bersaing dengannya, Genya tahu Rengoku bisa berubah menjadi amat posesif.

"Yo, Genya," sapa Sabito yang masuk bersama dengan Giyuu setelah mendorong pasangan Tanjiro-Kyoujuro yang menghalangi pintu masuk. Genya melambai, namun ia menghembuskan napas begitu keempatnya segera sibuk menyusuri segala pilihan permen di dalam toko -- apa hari ini semua orang akan menggaraminya dengan membawa pacar mereka?

Ia sedang memilah manisan sayap kupu-kupu yang akan diberikannya pada adik-adiknya di rumah sambil berusaha menyembunyikannya dari Kanao yang mendadak lewat di belakangnya ketika sebuah tepukan di punggung membuatnya hampir meloncat kaget. Ia menoleh, dan ber-ah pelan melihat mata kuning-oranye-merah Rengoku menatapnya. 

"Rengoku-san?" tanyanya hati-hati. 

"Genya-kun, kenapa kau kelihatannya sangat menjauhi Taniiro akhir-akhir ini?" Rengoku balas bertanya. 

Huh? Bukan pertanyaan yang diduga Genya. "... Dia kan sudah jadi pacarnya Rengoku-san, kenapa-?"

"Bukan berarti aku boleh memonopolinya sendirian, Genya-kun. Tanjiro juga punya banyak teman seumurannya yang selalu diajaknya mengobrol atau semacamnya, dan dia bilang dia agak sedih karena kau mulai menjauh. Dipikirnya, kau menjauh karena kau masih bermasalah dengan," Rengoku memberi gerakan tangan di samping telinganya yang mengisyaratkan manusia serigala, "Dengan kondisimu. Aku sadar kalian berdua cukup dekat sebagai teman sebelum semua kekacauan persaingan ini dimulai."

"Eh-" Genya menelengkan kepala, berusaha mencerna cepat apa yang dikatakan Rengoku. "Maksudnya- aku masih boleh...?" 

"Umu! Tentu saja! Kau kan sahabat baiknya, jangan sampai persahabatannya putus hanya gara-gara hal seperti ini!" 

Genya mengulurkan tangannya ragu-ragu ke arah Rengoku, "Kalau begitu ... damai?"

Rengoku menyambutnya dengan bersemangat, "Damai, tentu saja!"

***

"Oi, bocah," Sanemi menyela usaha sia-sia Muichiro yang hendak meraih permen di rak tinggi itu dengan berjinjit. 

"Kak Sanemi, ambilkan yang itu tiga bungkus," pinta Muichiro tanpa menoleh. Sambil menghela napas, Sanemi menjentik kening Muichiro, membuat yang lebih kecil itu mengaduh.

"Minta tolong itu yang sopan, bocah," tegurnya, namun ia tetap meraihkan tangannya ke arah permen yang diingini Muichiro dan memberikannya pada anak itu. "Lain kali kalau minta jangan seenaknya."

"Habis ini, Kak Sanemi mau kemana?" tanya Tokito bungsu itu sambil mengamati permennya, mengabaikan omelan sang Shinazugawa sulung.

"Entah, ke Tomes and Scrolls, kalau ada waktu," jawab Sanemi singkat. Keduanya berusaha kembali ke tempat Genya di dekat konter pembayaran, namun beberapa anak Slytherin tingkat enam tukang bully berhasil membuat Muichiro terdorong ke belakang, sehingga akhirnya setelah meneriaki anak-anak itu, Sanemi memutuskan untuk mengganggam pergelangan tangan juniornya dan membantunya menyelip melewati kerumunan siswa. 

"Aku tidak tahu kau suka membaca," komentar sebuah suara yang menyusul dari belakang Muichiro. Yuichiro, dengan seringainya serta telinga yang masih mengeluarkan sedikit asap. 

"Aku lebih rajin darimu, nilaiku lebih tinggi darimu, dan ya, aku suka membaca. Kau makan merica setan lagi?" balas Sanemi datar, seakan pembicaraan ini sudah sering terulang di antara dirinya dan Tokito tertua itu. 

"Nilaiku lebih tinggi darimu di pelajaran terbang," balas Yuichiro, memutuskan untuk mengacuhkan pertanyaan terakhir calon adik ipar-menantunya itu. 

"Cuma di situ, dan itu alasanku merekrutmu jadi seeker, kan?"

"Mm-hmm ... dan nanti aku yang akan menggantikanmu jadi kapten, kan?"

"Terserah. Oi, Genya, kau sudah bayar belum?!" teriak Sanemi dari jauh ke arah adiknya yang tampak sedang membicarakan sesuatu dengan Rengoku, sebelum pemuda berambut terang itu meninggalkan adiknya sendirian di sana.

"Belum. Kan tadi aniki menyuruhku tunggu dulu," balas Genya. Sanemi mengangguk dan dengan cepat mengeluarkan uang untuk membayar permen yang dibeli Genya dan dirinya, membalas protes Genya dengan lambaian tangan, sementara Yuichiro juga membayar untuk adik kembarnya. Keempatnya keluar dari toko dan Sanemi lega ketika akhirnya ia bisa kembali bernapas dengan bebas ("Drama queen," celetuk Yuichiro, yang lalu pergi bersama Inosuke).

Genya, yang berjalan di belakang kakaknya serta Muichiro, tersenyum diam-diam ketika melihat tangan Sanemi berkali-kali bergerak mendekati tangan Muichiro, namun kemudian membatalkannya. "Nee, aniki, aku mau balik lagi, ada yang perlu kuomongkan dengan Tanjiro. Aku tinggal, ya!" serunya sembari berlari kembali ke arah mereka datang. Ia tidak masalah jika harus mengganggu orang lain pacaran jika itu berarti kisah asmara kakaknya bisa lancar. 

Tapi kali ini, bukan Sanemi yang membuat gerakan pertama. 

"Kak Sanemi," panggil Muichiro, "Coba lihat ini." Ia mengisyaratkan sesuatu di tangannya, dan Sanemi menurut, berhenti berjalan dan menunduk untuk melihat apa yang ingin ditunjukkan Muichiro. Tapi bukannya melihat sesuatu yang aneh, Sanemi justru kaget ketika anak yang lebih kecil itu memeluknya erat-erat. 

"Oi, bocah, kau kenapa?" tanyanya sedikit cemas. Ia berlutut di atas jalanan bersalju agar Muichiro lebih mudah memeluknya. 

"Kak Sanemi sebentar lagi tidak ada di sekolah lagi, aku tidak mau itu," gumam Tokito bungsu itu lirih. 

Mata Sanemi melebar mendengarnya. Selama tujuh tahun ia bersekolah di Hogwarts, tak pernah terpikir olehnya akan ada orang yang tak ingin ia pergi. Ia tak pernah punya teman dekat kecuali Iguro atau Rengoku, dan mereka bertiga akan lulus bersama-sama. Entah kenapa ... mendengar nada sedih Muichiro, Sanemi jadi tidak ingin pergi. 

Namun ia menghela napas dan meletakkan tangannya di punggung Muichiro sebelum berkata, "Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini supaya bisa jadi kejutan -- tapi setelah satu tahun, aku akan bekerja di sekolah sebagai guru. Jadi aku takkan pergi selama itu, oke?" 

"Satu tahun itu berapa lama?" 

Sanemi menjentik kening Muichiro. "Sekarang kau hanya sengaja membuatku kesal. Ayo jalan, aku perlu masuk ke tempat yang sepi setelah semua keramaian tadi."

"Sabito sama Giyuu juga sering mencari tempat sepi, kira-kira buat apa, ya?"

"Entah," jawab Sanemi pendek dan keduanya berjalan menyusuri jalanan bersalju Hogsmeade, melupakan diskusi pendek tentang pasangan yang selalu 'berbuat' itu.

 

Dervish and Banges  {17.32}

"Iguro-san mencari apa sih, di sini?" tanya Mitsuri di dalam toko mekanisme sihir yang gelap dan pengap itu. Setelah mengunjungi Shrieking Shack dan menonton Yuichiro dan Inosuke berusaha membobol pondok itu, Iguro mengajak Mitsuri untuk pergi ke Dervish and Banges dengan alasan mencari sesuatu yang spesifik. 

"Sebentar- aku ingat pernah melihatnya di sini...," balas Iguro sambil meneliti satu demi satu rak pajang yang ada, berusaha menemukan entah apa. 

"Iguro-san setelah lulus tetap ingin jadi magizoologist, kan?" tanya Mitsuri sambil lalu, ikut mengamati beberapa benda aneh yang menarik perhatiannya. Meskipun mereka telah menjalin hubungan semenjak tahun kelima mereka, Mitsuri masih terbiasa memanggil kekasihnya dengan honorifik -san, meskipun telah berkali-kali dilarang oleh Iguro.

"Ah, ya ... aku ingin meneliti lebih banyak spesies naga, terutama yang sudah hampir punah -- sayang aku tidak pernah berhadapan dengan Basilisk," balas Iguro. Mitsuri tertawa kecil mendengar nada pacarnya yang biasanya penuh sarkasme menjadi serius dan senang jika membicarakan ketertarikannya pada hewan dan makhluk sihir. 

"Lebih baik jangan, kecuali Iguro-san bisa mendekatinya dari arah belakang," celetuk Mitsuri, dibalas dengan dengusan tawa pendek dari Iguro. 

"Oh-? Ini dia, Mitsuri, ketemu. Aku tahu takkan ada yang menaruh minat pada benda ini kecuali aku," kata Iguro tiba-tiba, mengeluarkan sepasang cermin seukuran telapak tangan dengan bingkai perak dari sebuah rak pajang dan menyerahkan satu kepada Mitsuri. 

"Cermin dua arah. Kalau kau memandang ini dan menyebut namaku, maka cerminnya akan langsung terhubung dengan cerminku," jelas Iguro sambil mencontohkan dan menyebut nama Mitsuri di depan cermin itu. 

"Ooh! Seperti semacam video call?" tanya Mitsuri bersemangat, namun hanya dibalas dengan wajah heran Iguro.

"Apa?"

"Ahh, tidak tidak, lupakan saja. Hanya sebuah cara berkomunikasi yang dipakai muggle," sambung Mitsuri cepat-cepat. Dengan orangtua yang sama-sama tidak memiliki kekuatan sihir, Mitsuri masih sering terbalik ataupun kacau dengan sejarah dan cara kerja benda-benda di dunia sihir. Itulah kenapa Iguro lega dialah yang menjadi kekasih Mitsuri. Dengan begitu, ia bisa mengajari senior Hufflepuff itu banyak hal. 

"Yah, pokoknya dengan begini, kita bisa terus terhubung sejauh apapun lokasi kita," kata Iguro. Mitsuri tersenyum hangat melihat betapa Iguro sampai memikirkan cara agar mereka masih bisa berkomunikasi setelah lulus nanti. 

"Terima kasih, ya, Iguro-san. Bukan hanya untuk cermin ini, tapi juga untuk sebelum-sebelumnya," ucapnya tiba-tiba. 

Mendengarnya, Iguro segera memalingkan wajah agar rona merah di mukanya tidak terlihat oleh Mitsuri. "Harusnya aku yang berterima kasih," gumamnya cepat, namun Mitsuri tetap mendengarnya dan tersenyum semakin hangat.

"Sudahlah, kemarikan cermin itu, biar aku bayar."

 

Dominic Maestro's Music Shop  {18.00}

"Ah," Uzui berkomentar pendek ketika ia bertabrakan dengan seseorang di balik sebuah lemari berisi banyak seruling, "Sori, tadi aku tidak lihat ja- Agatsuma?!" 

Agatsuma Zenitsu, memandangnya kesal dari tempatnya terduduk di lantai. "Yang benar saja, Uzui-senpai. Di toko begini kok jalan sambil melamun?" sindirnya sambil bangkit berdiri dan memunguti kertas-kertas musiknya yang jatuh tersebar di lantai. Uzui tercenung sejenak sebelum berjongkok dan ikut memunguti kertas-kertas itu. Ia membaca judul di bagian atas kertas dengan menelengkan kepala. 

"'Hymn to Creation'? Aku tidak tahu kau tertarik dengan musik kuno, Agatsuma," komentarnya sebelum kertas itu disambar dari tangannya. 

"Aku ingin mempelajari lagu ini agar aku bisa semakin mengerti sejarahnya," hela napas Zenitsu bisa terdengar menggema ke seluruh toko. 

"Apa harus memakai lagu kuno Bangsa Sumeria untuk mengerti sejarah lagu?" tanya Uzui, bena-benar penasaran kali ini. 

Zenitsu mengangkat bahu. "Ini lagu tertua yang pernah tercatat dalam sejarah -- aku penasaran."

Uzui menatap wajah anak itu lekat-lekat sebelum berbalik dan beranjak menuju ke bagian depan toko. "Kalau begitu aku keluar dulu. Aku tunggu di luar ya!" serunya, sebelum ditegur oleh Dominic, pemilik toko itu sendiri dan meninggalkan Zenitsu sendirian di lorong toko itu. 

"Hhh ... aku jadi tidak ingin keluar...," keluh Zenitsu pada dirinya sendiri. Tapi berdiam di toko itu juga bukan pilihan yang menyenangkan, karena dekorasi Halloweennya benar-benar totalitas, berhasil mengejutkan Zenitsu beberapa kali dengan laba-laba raksasa yang dipasang di belokan lorong.

"Ya, sudahlah. Lihat saja apa maunya."

Betapa herannya Zenitsu ketika ia ke depan untuk membayar barang-barang yang dibelinya, Dominic berkata bahwa seseorang telah membayarkannya untuknya. Meskipun Zenitsu punya kecurigaan siapa yang melakukannya, ia tetap bingung. 

***

"Kenapa kau membayar belanjaanku, Uzui-senpai?" tanya Zenitsu begitu melihat Uzui berdiri menatap keramaian orang di pinggiran jalan. 

"Salahkah kalau aku ingin berbuat baik di hari ulang tahunku yang flamboyan?" tanya Uzui sambil beranjak berjalan. Zenitsu segera berlari kecil menyusulnya.

"Hari ini ulang tahunmu?! Kenapa malah kau yang memberiku sesuatu?! Kenapa tidak bilang?!" tanya Zenitsu beruntun dengan kernyitan di keningnya.

"Whoa whoa, tenang dulu. Anggap saja itu hadiah perpisahan. Aku tahu kita berdua sering bertengkar dan semacamnya, tapi tak bisa kupungkiri kalau aku senang bisa mengenalmu," jawab Uzui, "Dan aku tadinya tidak ingin bilang karena kupikir reaksimu bakal sangat tidak flamboyan, dan ternyata benar."

Zenitsu merengut dan menggembungkan pipinya. "Tapi kalau ini ulang tahunmu, harusnya kau yang minta sesuatu padaku!" 

"Boleh?" 

"Ya boleh!" 

"Apa saja, nih? Serius?" tanya Uzui memastikan. Zenitsu mengangguk. Keduanya sampai di bawah lampu jalan yang baru saja menyala dengan sendirinya, tepat di bagian jalan yang sepi. 

"Kalau begitu ... ini saja, ya." Uzui menundukkan badan dan mencium bibir Zenitsu, memancing suara terkejut dari anak berambut pirang itu. Uzui kembali menegakkan tubuhnya dan menyengir ke arah Zenitsu. 

"Agak telat untuk mengatakan ini sekarang, tapi apa kau mau jadi pacarku yang keempat?" candanya, berusaha mencairkan suasana, sementara Zenitsu masih terdiam di sana. "Astaga, apa aku membuat anak ini syok?" tanya Uzui pada dirinya sendiri.

"Bego," lirih Zenitsu, membuat Uzui kaget. "Bego! Kenapa baru sekarang bergeraknya?! Kenapa pas kau mau pergi baru mau nembak?! Gila ya?! Bego banget! Bego! Harusnya kau bilang begitu paling tidak setengah tahun yang lalu!" Anak itu mendongak, menunjukkan matanya yang sedikit berair. Uzui terdiam, mengerjap-ngerjapkan matanya memandang murid Hufflepuff tingkat tiga itu, kemudian tertawa lepas, membuat giliran Zenitsu yang terkejut. 

"Astaga ...  aku memang bego," ujarnya di sela tawanya. 

"Baru sadar?!" 

Uzui menarik napas untuk menghentikan tawanya dan kembali merendahkan posisi tubuhnya agar sejajar dengan Zenitsu untuk menghapus air matanya. "Gini, deh. Nanti setelah lulus, aku kerja di Hogwarts, gimana?"

"Kok tanya aku?"

"Bilang dulu, iya atau tidak?" 

"... Iya," jawab Zenitsu, masih agak denial.

Uzui mencium Zenitsu sekali lagi. "Kalau begitu, sip. Toh aku memang belum ada rencana buat kerja di bidang lain, juga."

"Aku heran kok bisa aku sukanya sama orang bego kayak kau."

"Sama, aku juga heran bisa suka dengan anak cengeng."

"Aku tidak cengeng!"

"Tapi tadi nangis."

"Siapa yang tidak nangis ditembak baru pas orang yang nembak sudah mau lulus?!" balas Zenitsu. Kemudian ia menghembuskan napas dan memeluk barang-barang yang ia beli erat-erat. "Tapi, ya, makasih buat yang tadi."

Uzui menyengir jahil. "Yang tadi yang mana? Waktu aku menciummu atau-"

"Waktu yang di toko musik, bego!" potong Zenitsu dengan wajah memerah. Uzui kembali tertawa, namun kali ini lebih terkontrol.

Keduanya berjalan dan menaiki kereta yang sama kembali menuju sekolah. 

Uzui mengusak rambut Zenitsu ketika kastil sudah berada di depan mata. "Nanti jangan kelewat rindu sama aku. Kalau aku jadi guru, aku harus flamboyan, tidak bisa pilih kasih."

"Siapa juga yang bakal rindu?!" protes Zenitsu.

"Kau, kan?" skak mat. 

"Tch."

Keduanya kembali diam, mendengarkan bunyi tapak kaki Thestral yang tidak bisa mereka lihat. 

"Uzui," panggil Zenitsu, tidak menggunakan honorifik. Uzui menoleh. 

"Hmm?"

"Selamat ulang tahun."

Seumur-umur, baru sekali itu senyum Uzui tidak lebar dan percaya diri, melainkan hangat dan penuh rasa terima kasih. 

Dan Zenitsu menolak menceritakan pada Tanjiro kenapa bau tubuhnya bercampur dengan bau Uzui, juga pertanyaan lantang Inosuke yang berteriak kenapa bibir Zenitsu merah ("Kau kebanyakan makan permen, ya?!"). 

Sumpah, meskipun sayang, Zenitsu berjanji akan melemparkan buku sejarah sihir ke kepala Uzui pada hari pelepasan. 

TAMAT