Actions

Work Header

Fuck off, Plato!

Chapter Text

Book Cover

"Nak, kamu kapan pulang ke kostan?"

"Eh? Kayaknya lusa, mah. Ditya masih pengen di rumah. Lagian kalo udah mulai kuliah mana bisa leyeh-leyeh kaya gini lagi." Jawabnya sambil berlatih chords lagu dengan gitarnya.

"Emangnya ga ada yang harus kamu siapin? Tinggal 3 hari lagi loh." Mamah masih berada di pintu ternyata.

"Engga, mah. Minggu pertama cuma kan perkenalan aja. Paling nanti hari Minggu ada kumpul open recruitment UKM Band sama Saka, semester ini lumayan banyak yang daftar."

"Oh, hari ini ga akan kemana-mana? Mau dirumah aja?" Pertanyaan itu hanya dibalas dengan nada mmm.. oleh Ditya. "Hih nih anak, yaudah yeh mamah mau ke kantor dulu, nanti siang ada bibi yang beresin rumah sama masak, baju kotor kamu pindahin dulu ke keranjang ya! Kamu tuh cari pacar dong biar ada kegiatan! Udah bujang masih aja jomblo."

Duh si Emak mulai bawel.

Saat ini dunia telah memasuki awal tahun. Ya, bulan Januari yang sangat melelahkan. Dimana Jakarta masih berada di musim panas yang sangat terik dengan curah hujan minim hingga menyengat ubun-ubun. Hal ini adalah alasan utama bagi seorang pemuda yang akrab dipanggil Ditya untuk untuk tidak keluar rumah. Bahkan dari luar jendela kamarnya ia dapat melihat hamparan rumput yang kering dan cacing tanah yang menggeliat kesakitan akibat sengatan matahari. Sama sekali tidak memberikan motivasi untuk menjalani hari. Kalaupun iya, mungkin hanya dapat membuatnya beranjak dari kasur.

Musim hujannya udahan yah? Kayaknya Tuhan senang kalo warga Jakarta tetap berwatak panas.

Sesekali ia melihat postingan teman-temannya di media sosial, hampir semuanya berisikan tentang keluhan, entah itu mabuk darat di perjalanan, kemacetan sepanjang 5 kilometer, atau muak akan kehidupan anak kuliah yang jahanam. Perkuliahan semester 6 memang akan dimulai 3 hari lagi, saat ini para mahasiswa rantau yang pulang ke kampung halaman pasti sedang berbondong-bondong untuk kembali ke dunia realita. Tidak terasa pikirnya, setahun lagi Ditya akan menyandang gelar dan almamater sebagai lulusan dari salah satu universitas paling bergengsi di seluruh Indonesia.

*PING! PING!

Suara notifikasi ponselnya berbunyi. Ia menoleh pada layarnya dan melihat nama yang muncul, 'Saka'.

Saka : [Dit, lu dimana??}

Saka : [Udah balik kostan belom!??]

Kenapa nih orang..

Ditya : [Masih dirumah gua]

Ditya : [Lusa baru ke Depok]

Ditya : [Nape lu?]

Saka : [Charger laptop gue ketinggalan di rumah. Ini gue lagi di kereta]

Saka : [Gue mau input data anak-anak yang ikut oprec sama bikin pemberitahuan kegiatan acara. Pas gue ngambil laptop di tas gue lupa chargernya masih nyolok di kamar.. Laptop gue udah lowbat dit, lo bisa bantuin gue nginput sama bikin rincian rundown nya? Ntar gue kasih oleh2 khas Jogja deh!]

Hhh... si kampret

Ditya : [yauda]

Ditya : [apa oleh2 nya?]

Saka : [ada lahh pokoknya]

Saka : [THANK YOU SO MUCH BRO!!!]

Saka pun mengirim daftar nama mahasiswa yang akan bergabung dengan UKM Band.

Andri Wibisono, Gilang Permana, Muhammad Ramdhan, Brian Hermanto, Ramzy... Cowok semua ya. Cuma Cinta member ceweknya.


Malam harinya Mamah pulang lebih cepat dari biasanya. Tepat pada jam makan malam.

"Papahmu tadi telepon Mamah."

Mendengar panggilan itu hati Ditya terasa seperti ditarik ke dasar perutnya.

"...Ada urusan apa Papah telepon Mamah?"

"Dia nyariin kamu, nanya kenapa kamu susah dihubungi. Selama liburan ini kamu baru ketemu dia sekali, kan?" Jelas Mamah sembari mengambil lauk di meja makan.

"..."

"Mamah tau dia orangnya keras dan kadang omongannya suka bikin sakit hati, tapi Mamah yakin maksudnya itu baik dan untuk kebaikan kamu juga. Dia sayang sama kamu."

"Papah minta Ditya ngambil S2 diluar negri dan balik buat nerusin perusahaannya Papah." Obrolan itupun menjadi sunyi.

Sebenarnya Mamah sudah tahu, mantan suaminya sudah mengatakan itu bekali-kali dengan jelas. Bukannya tidak setuju tapi wanita ini takut dirinya akan merasa semakin kesepian untuk melepas putra satu-satunya keluar sana, saat ini saja putranya kembali berkuliah di kota sebelah dan hanya kembali pulang setiap beberapa pekan. Terlebih lagi jika Ditya meneruskan perusahaan itu, ia akan semakin jarang bertemu.

"Ntah kenapa kalo soal Papah... Semua hal jadi kerasa salah. Kemarin dia kritik IPK Ditya, bilang 3.65 bukan hasil yang patut dibanggakan, dia juga nyuruh Ditya buat berhenti dari UKM Band. Dan yang paling bikin gak terima, dia ngelarang Ditya main sama Brian."

"...gitu ya" Mendengar penjelasan tersebut, batin Mamah pun terasa berat. "Kalo Mamah sih... Mamah ga minta apa-apa dari kamu, nak. Asal kamu hidup bahagia dan bisa berpenghasilan sendiri itu udah sangat cukup. Mau IPK kamu berapa kek, mau kamu ikut kegiatan apa kek, main sama siapa kek, Mamah tetep bangga sama kamu."

Detik itu juga beban di pundak Ditya terasa lebih ringan. Jauh lebih ringan. Ucapan Mamah mampu membuat ujung bibirnya melengkung. Setelah itu topik pembicaraan berganti pada keseharian Mamah di kantor dan teman-teman Ditya.

"Oh by the way, apa kabar Brian? Udah lama Mamah gak ketemu."

Brian. Sudah beberapa hari juga sih gak denger kabar darinya.

"Brian pulang ke Adelaide sama keluarganya. Kakeknya masuk rumah sakit, jadi dia sekalian ngerayain natal dan tahun baru disana."

"Oh I'm so sorry for him! Hope his grandpa is doing well again. He's such a good kid though. Mamah masih inget banget kalian mandi di bathtub dan kalian iseng masukin deterjen ke air sampe pada keras rambutnya gak bisa disisir, heheh. Dia punya pacar?"

"Gak punya tuh."


23.49

Brian.

Ditya sudah berbaring di tempat tidur, memegang ponselnya, membuka chatroom. Suhu dingin dari AC bertiup kearahnya. Pikirannya berkecamuk. Tertulis di pojok atas, nama yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Brian. Ditya membaca lagi pesan terakhir, 3 hari yang lalu.

Brian : [Brb uncle John is calling me for dinner]

Sebenarnya Ditya masih menunggu Brian untuk menghubunginya kembali, namun ia tahu kondisi keluarga Brian disana sedang berkabung. Setelah bermenit-menit berdiam dan menghela napas yang sangat panjang. Akhirnya Ditya memberanikan diri untuk mengetikan kata demi kata di chatroom itu.

Ditya : [Bri, kapan lu pulang?]

Ditya merasa konyol hanya bisa mengetikan kalimat pertanyaan itu. Sebenarnya dia juga khawatir, Ditya pernah bertemu dengan Kakek Brian saat mereka SD, ia pria yang ramah dan senang dipanggil Pops. Beberapa kali bocah-bocah nakal itu bermain bersama Pops saat beliau berkunjung ke Indonesia.

Dia mematikan ponselnya, meletakannya di meja, dan mendorongnya menjauh. Ditya tidak mengharapkan balasan yang cepat dari lawan bicaranya, toh perbedaan waktu di Adelaide 90 menit lebih awal, pasti disana sudah sekitar jam 2 malam. Maka ia tersentak ketika ponselnya bergetar. Sebuah panggilan video. Terheran tapi diterimanya juga telpon itu.

"Hei, Dit..." Sapa Brian.

 

Chapter Text

Belasan tahun lalu.

Brian Joseph Anderson dan Aditya Sukmana adalah teman masa kecil. Keluarga Brian adalah imigran dari Australia. Ayah Brian, Marcus, adalah seorang ekspatriat yang bekerja sebagai pemimpin bagian keuangan di perusahaan pelabuhan Jakarta. Sedangkan Ibunya, Lisa, adalah seorang aktivis pendidikan dan juga mengajar sebagai guru bahasa inggris di salah satu sekolah dasar di kota Jakarta. Karena itu, Brian yang baru berumur 6 tahun harus ikut dengan kedua orang tuanya untuk tinggal di Indonesia.

Cerita awal pertemuan mereka sebenarnya bukan kisah yang istimewa. Brian saat itu memasuki hari pertamanya di sekolah dasar dengan perasaan seorang bocah umur 6 tahun yang sangat gelisah. Tentu saja, tempat ini sangat asing baginya. Ia sadar bahwa fisiknya berbeda dengan anak-anak lain, ia tidak didampingi oleh orang tuanya, tidak ada sepatah katapun dari orang-orang sekitar yang ia pahami, ia tidak mengerti makna kata 'bule' yang orang ucapkan padanya. Orang-orang kerap memperhatikannya, tanpa ingin melihat tatapan itu, Brian hanya bisa tertunduk tanpa tahu harus berbuat apa.

"Hi." Saat itulah dia menoleh ke arah suara yang menyapanya. Seorang anak laki-laki seusianya melangkah menghampirinya.

"Are you lost? Can you speak Bahasa? I can do English my Mum teached me." Tanya anak itu dengan ramah. "Taught, Ditya." Ibunya membenarkan Bahasa Inggrisnya.

"Uhh..." Brian tidak tahu harus merespon apa atas pertanyaan dadakan itu.

Anak laki-laki itu pun segera mengulurkan tangannya dan mengajak berkenalan. "My name is Ditya. Want to be friends?"

Memperhatikan gestur dari anak tersebut, itulah pertama kalinya Brian menemukan perasaan yang disebut dengan 'kepercayaan'.

"I'm Brian" Jawabnya dengan senyuman.

Sejak saat itulah keduanya mulai berteman. Bahkan di sekolah, Ditya selalu dipasangkan oleh guru mereka dengan Brian dengan tujuan membantunya menyesuaikan diri dan mengikuti pelajaran. Orang tua mereka pun sesekali bertemu saat menjemput anak-anaknya pulang sekolah. Karena kedua orang tua Ditya bekerja hingga sore hari, saat dirumah yang menjaga Ditya adalah asisten rumah tangga. Oleh sebab itu Ibunya sering menitipkan Ditya bersama keluarga Brian di rumah mereka, ternyata tempat tinggal mereka tidak jauh dan masih satu kawasan. Dan tidak jarang Brian juga mampir ke rumah Ditya naik sepeda untuk bermain. Hubungan kedua anak itu pun berkembang menjadi persahabatan, bahkan lebih, seperti keluarga.

"Dityaaaa... Dityaaaaaaa..." Sahut Brian sambil mengetuk pintu rumah temannya.

"What is it, Bri?" Ditya membuka pintu dan merespon orang yang memanggilnya.

"Today is your 10th birthday isn't it?" Tanya Brian dengan girang.

"Uh huh" Angguk Ditya. Brian pun tersenyum lebar.

"Come ride your bike with me, I have something special for you!" Brian menarik tangan Ditya.

"E-eh! Where are we going?? Don't we have homework to do?" Sanggah Ditya. "Just come ooon, pleaseeee..." Pinta Brian yang masih memegang tangannya.

Ditya menatapnya beberapa detik sebelum menyetujui ajakannya, "Okay".

Mereka berdua mengendarai sepeda masing-masing menyusuri jalanan perumahan dan berhenti pada sebuah supermarket di seberang taman komplek. Brian lalu masuk duluan ke dalam sebelum menyuruh Ditya untuk mengikutinya. Ditya hanya penasaran apa yang kira-kira akan dilakukan Brian.

What is he up to?

"Bri, you want to buy something?" Tanya Ditya.

Brian menoleh kearahnya dan berkata "Actually... I want you to buy something". Ditya bingung dengan maksudnya. "I've been saving money for your present, but then I wonder, what could possibly be the perfect gift for you. I thought about presenting you an expensive flute, ya' know... since you're into music and stuff. But I'm not sure you can even play it, HAHAHA!". Ditya masih terus memperhatikannya.

"So..." Lanjutnya sambil melebarkan lengannya, seolah-olah menunjukan seisi toko, "A brilliant idea then crossed my mind, I'll just let you choose for yourself instead! Go pick everything you want! It's my treat! " Sahut Brian.

"Really?" Ditya mengedipkan matanya beberapa kali, senyuman manis terukir di bibirnya. "Yeah of course!" Jawab Brian sambil membawakan troli belanja.

Sebenarnya ini adalah kejutan yang membuatnya sangat bahagia, ia sampai kebingungan mau beli apa saja. Jajanan? Alat tulis? Kaos kaki? Berbagai macam benda dimasukan ke dalam troli yang didorong oleh Brian. Ditya terlihat senang, hal tersebut otomatis membuat Brian ikut merasakan senang. Mereka pun tiba di kasir untuk bayar, barang belanjaan dihitung satu-persatu. Ditya sempat menoleh ke arah Brian, namun sahabatnya tersebut hanya memegang dompetnya sambil melihat angka yang terus bertambah di mesin kasir dengan ekspresi khawatir, namun ia tidak berkata apa-apa.

Setelah itu mereka pergi menyebrang ke taman komplek. Taman di komplek tersebut merupakan area umum yang luas, rindang dan dikelola dengan baik. Terdapat danau buatan yang cukup besar di tengah taman dan dihiasi dengan jembatan yang sering disebut masyarakat lokal sebagai 'Jembatan Cinta', alasannya adalah banyak pasangan yang mengunci gembok dengan inisial cinta mereka di pagar jembatan dan membuang kuncinya ke danau. Seraya dikira hal yang romantis, kedua sahabat konyol itu malah beranggapan bahwa itu adalah hal yang menjijikan dan termasuk tindakan pencemaran lingkungan. Mereka duduk di bangku taman sambil menikmati jajanan yang baru dibeli dan memandangi orang lain dengan berbagai kesibukan mereka.

"Hey," Ditya merangkul pundak Brian sambil menggigit sebuah donat madu, Brian menoleh ke arahnya, "Makasih banyak ya, Bri." Ujar Ditya menatapnya dengan senyum, lengkap dengan gula-gula donat yang menempel di ujung bibirnya.

"Anytime, mate." Jawab Brian yang juga menjulurkan tangannya untuk merangkul balik. Kini ia sudah dapat memahami percakapan standar Bahasa Indonesia, walaupun cara bicaranya masih kaku dan belum lancar, semuanya berkat Ditya.

"...You look worried back there. It's because I bought lots of stuff isn't it? You're afraid you don't have enough money to pay..."

"Wha- No! Of course I brought enough money, silly." Tangkas Brian.

"Then how come I didn't see you bought anything for yourself?"

"Well... Yeah, fine, I was worried if my money wasn't enough we'll have to put some things back and ruin your day." Jelasnya, "But hey, it's all good right? Don't fret about it! Just enjoy your present".

"Hahaha... This is way better than your expensive flute" Ditya tertawa, perasaannya sungguh berbunga-bunga, seakan ada yang menggelitiknya dari dalam. "Hahah, Hey don't laugh at it! I truly thought it was a great idea!" Sentaknya sambil menendang kaki Ditya dengan ringan.

"Mau coba?" Ditya mengarahkan donat madu yang tinggal setengah kearah mulut Brian. Ia pun menggigitnya.

"Mm enak!" sahutnya.

Sore itu mereka bercanda di taman tersebut sambil menghabiskan jajanan yang mereka beli, hingga matahari mulai turun dan langit menjadi berwarna keemasan.


"Hei, Dit..." Sapa Brian.

Saat panggilan itu terhubung Ditya dapat bertemu dengan sahabatnya lagi. Pencahayaan di sisi Brian memang remang-remang, namun Ditya melihat kontur wajahnya dengan jelas.

"Hai, Bri... Gimana kabar Pops?"

"Udah baikan dia. Kata dokter serangan jantungnya kambuh tapi ringan dan gak fatal, jadi resep obatnya gak banyak. Untung waktu kejadian ada Uncle John dan langsung dibawa ke UGD dan cepet ditangani."

"Syukur deh kalo gaada masalah... Kapan lo balik kesini?" Tanya Ditya yang matanya sudah mulai berat.

"Pagi ini jam 7.45" Jawab Brian santai.

"Dan lu masih belom tidur?"

"...Gak bisa tidur gue, Dit. Masih kepikiran sesuatu."

"Oh yaudah gue tidur duluan, night." Ditya mengarahkan jarinya ke layar ponsel.

"Eh, eh tunggu nyet! Kirain lo chat kangen sampe nyariin gue. Ada yang mau gue ceritain nih."

"Kagak anjir, lo mau cerita apaan?" Jawab Ditya ketus.

"Jadi waktu sebelom taun baru, gue travelling ke Sydney zoo. bla... bla... bla... Gue liat anak kangguru dalem kantong emaknya bla... bla... bla... Foto-foto buat upload ke Instagram bla... bla... bla..." Ocehan lawan bicaranya sudah tidak bisa dicerna lagi karena Ditya sudah terlalu ngantuk. Respon yang dia sampaikan hanyalah gumaman yaa.. uh, uh.. wow...

"Oh iya, Dit. Ada sesuatu... Agak berat sebenernya buat gue sampein sama lo... Waktu dinner kemarin, Daddy sempet runding buat..." sebelum melanjutkan niatnya untuk bercerita, Brian sadar bahwa perlahan mata Ditya semakin terlelap dan napasnya panjang, videonya pun semakin miring.

Yah... Nih anak udah teler

"Hnn? Kenapa, Bri?" Gumamnya.

"Gakpapa, Dit. Tidur gih... Gue juga udah ngantuk." Brian menimpali.

"Okay then, good night, Bri... Safe flight tomorrow."

"Nite Ditya, call you later"

Chapter Text

7.15 am, waktu Australia Selatan.

"Passengers for Flight GA00X to Denpasar and Jakarta please proceed immediately to gate G28".

Brian mendorong troli yang bertumpukan travel bag. Pesawat mereka sudah menunggu. Hari ini ia tidak dalam mood yang baik, walaupun ia baru saja berlibur ke kampung halaman. Perjalanan dari Adelaide menuju Jakarta akan memakan waktu hampir 12 jam, itu juga karena mereka harus transit di Bali.

Di dalam pesawat, keluarga Brian duduk di baris yang sama.

"Son, I hope you will think about it. Your grandfather's heart is already old and weak. We've considered to stay together with him at Adelaide." Ujar Ayah Brian kepada putranya yang duduk memandang jendela.

"Of course, we'll let you finish your degree, it's only a year to go. After that you could take a masters degree, teach Bahasa at Australian school or become a journalist, the opportunity is wide open there. As for myself and your mother, we'll retire from our job by the end of the year. We'll take care of Pops together... " Pria itu lalu menepuk pundak putranya.

"... Yeah, Dad." Jawab Brian yang masih menatap keluar.

Thanks, Son... "

Bukannya ia tidak mau pulang ke Australia. Bukan juga karena ia tega tidak bersama kakeknya sendiri yang sudah sakit-sakitan. Namun ia merasa bahwa rumahnya adalah Indonesia, tanah air tempatnya tumbuh besar. Justru pikiran aneh, ide untuk tinggal lagi di kampung halaman malah terasa asing baginya.

I'm 21 years old already, it should be legal for me to live my own way, right? I can make my own choices for myself.

Brian ingin tinggal tinggal di Indonesia. Bersama teman-temannya. Bersama sahabatnya. Bersama Ditya. Entah kenapa ia tidak pernah membayangkan untuk hidup berpisah dari Ditya. Mau sengaja berpisah pun ujung-ujungnya pasti balik lagi.

Setelah duduk sekian jam akhirnya mereka tiba untuk transit di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Segera Brian pun mengaktifkan kembali nomor Indonesianya.

Brian : [Dit, gue lagi transit di bali. Lu mau dibawain apa ga?]

Ditya : [Apa yah... Gausah deh Bri]

Ia pun hanya jalan-jalan di sekitar bandara karena waktu transitnya tidak lama. Banyak toko yang menjual pernak-pernik, jajanan ringan, dan oleh-oleh kekinian khas Bali. Tatapannya lalu tertuju pada sebuah spot foto dengan figur barong yang besar dan latar bertuliskan 'I Love Bali', tentu saja ia tertarik untuk mengambil selfie.

Brian : [Sent a photo to Ditya]

Brian : [I LOVE BALIII!!!]

Beberapa menit kemudian, pesan itu pun dibalas oleh orang yang bersangkutan.

Ditya : [Norak lo]

Brian : [Biarin lah terserah gua :P]

Brian : [Gua gamau pulang. Gamau kuliah. Mau tinggal disini aja.]

Muncul senyum kecil saat ia mengatakan pesan itu. Dilihat layar ponselnya orang yang sedang chat dengannya sedang mengetik.

Ditya : [Go ahead]

Ditya : [With your ways of spending money, i doubt you can even live your ass for a month]

Ditya : [Then you'll end up sleeping on a fucking road and get a full time job as a professional hobo]

Melihat perkataan sahabatnya itu ia terkekeh. Sejak kapan Ditya jadi sarkas pikirnya.

Brian : [Wow. I'm hurt. I'm very much hurt. Can't believe my own bro says something harsh like that from his mouth]

Ditya : [Lol, Yaelah bro sensian amat]

Brian hanya membalas dengan emotikon marah walaupun sedang cengar-cengir sendiri.


Dengan perjalanan selama itu badan pasti terasa remuk. Setelah sampai rumahnya di Jakarta pukul 9 malam, pemuda bule itu langsung membongkar koper yang isinya cucian dan oleh-oleh. Salahkan perilakunya yang pemalas, selama 3 jam ia hanya terkapar di kasur dengan souvenir berserakan di lantai dan sisi tempat tidurnya. Boro-boro mandi, ia bahkan belum melepas kaos kakinya yang sudah dipakai seharian.

Ibu jarinya mengusap layar ponsel. Sudah berjam-jam ia menatap jejaring sosial, foto yang dikirim pada Ditya sudah ia unggah di Instagram.

*PING

Muncul notifikasi disudut atas layar, [Dityaskm liked your photo]

Heheh dia masih bangun ternyata...

Segera ia membuka kontaknya dan menekan tombol video call. Tidak memakan waktu lama untuk sosok wajah pemuda lain berambut hitam yang sudah sangat ia hapal untuk muncul pada layar ponselnya.

"Hei" Sapa Brian

"Oi, kenapa Bri?"

"Uhh gue kayanya gaakan masuk kelas hari pertama. Capek banget asli. Besok gue mau beresin rumah dulu."

"Ok. Emang hari Senin lo ada berapa kelas?" Tanya Ditya.

"Ada 2 kelas pagi sampe siang, kritik sastra sama psikologi persepsi. Lo kapan ke kostan, Dit?" Baliknya bertanya.

"Gue naik shuttle besok pagi, mau ngurusin meet up oprec UKM Band sama Saka sama Cinta"

"Ah iya ya" Brian baru ingat kalau dia juga ikut mempublikasikan pengumuman open recruitment itu di grup angkatannya, bahkan berkat dia, ada teman fakultasnya yang ikutan mendaftar. "Kenapa ga bawa mobil aja?"

"Ga, lagian kan cuma bola-balik kostan kampus doang, Bri"

"Lo gausah ke Depok besok plisss... Bolos aja sampe Senin" Pinta Brian sambil memasang ekspresi memohon dengan tangannya.

"Lah, kenapa? Gue kan wakil ketua UKM, ya kali gue ga dateng... Lagian semua data rundown ada di gue" Protes Ditya.

"Gue pengen balik ke kostan naik mobil bareng lo" Jawab Brian sambil tersenyum menggoda.

Ditya terdiam selama beberapa detik dengan mulut yang sedikit terbuka. Dia langsung merubah ekspresinya.

"Ah elah lo mah mau nebeng gratisan doang" Sembur Ditya.

"Why you gotta be so mean... I even bought many things for you from the land of koala" Canda Brian yang menirukan nada bicara bocah.

"No, Bri."

"Yeeshh, fine. I'll see you on Monday, then?"

"Iya" Jawab Ditya singkat, lalu ia menambahkan "Senin malem jam 7 kita mau live perform di cafe margonda."

"Oke nanti gue pasti dateng. Udah gue beresin kamar kost ya?" ujarnya

"Iye gue tau lo pasti dateng"

Mereka terus berbincang selama beberapa menit kedepan sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat. Brian yang selama di perjalanan moodnya mendung, beranggapan bahwa perasaannya menjadi lebih baik. Ia pun dapat tertidur dengan sangat pulas.

Chapter Text

"Wah mas Ditya udah balik toh. Ndak bareng sama mas Brian?"

"Enggak Bu, hehe... Brian baru dateng besok."

"Oh gituu... Duh Ibu lupa ngasih tau ke kalian kalo kemarin itu RW kita kebagian jadwal fogging demam berdarah. Tiap kamar udah disemprot sih tapi kalian harus ganti sprei yah pasti kena zat kimia semua."

"Oh, iya Bu, nanti saya cuci di tempat laundry. Tapi saya boleh minjem sprei kostan ga, Bu? Saya ga punya cadangan soalnya hehe... Kalo Ibu ngabarin sih pasti saya bawa dari rumah."

Duh kampret banget si Ibu maen semprot kamar orang kagak ngasih tau dulu. Mau tidur pake apa gue nanti. Umpat Ditya dalam benaknya.

"Aduduhhh maaf mas, punya kost udah dipake semua. Kemarin juga yang di lantai 1 pada minta pinjem." si Ibu kost tidak menggubris permintaannya. "Mas Dit, sewa bulan ini belum bayar ya?" 

"... Ah iya Bu, nanti saya minta Mamah transfer..."

Cih, bagian nagih duit aja gercep. Ini masih tengah bulan anjir. Ditya kembali menggerutu dalam batinnya sambil memaksakan tawa kecil yang sengaja terdengar dibuat-buat.

Hehehe mampus lu, kalo elu rajin bayar udah pasti gue perlakuin bak juragan! Batin si Ibu kost ternyata tidak kalah mengerikan.

Ditya lalu masuk ke kamar kostnya yang tidak ditinggali selama lebih dari 3 minggu. Benar saja kata si Ibu, bau asap foggingnya masih tercium. Ia lalu menarik sprei, selimut, dan sarung bantalnya dan dimasukan kedalam kantung plastik. Lalu dengan perasaan terpaksa, ia menyapu dan mengepel lantai yang berdebu.

Siang itu Ditya pergi keluar naik sepeda untuk mengantarkan cuciannya dan mencari makan di warkop.

"Mau pesen ape bos?" Sahut abang warkop.

Ditya merasakan lidahnya ingin makan sesuatu yang gurih, "Nasi goreng kornet satu, bang, makan disini."

"Siap, ditunggu ya bos!"

Saat ia sedang menuju tempat duduk, ia sadar bahwa ada sosok gadis berambut hitam panjang yang familiar sedang melahap mie tek-tek.

"Lho, ada Anggi." Sapa Ditya yang bergerak duduk disampingnya.

Gadis itu pun melirik ke arah suara yang memanggilnya, "Mff... Hai Ditya! Kapan baliknya?"

"Baru tadi siang."

"Oalah, sendirian aja? Haha. Brian baru balik besok, kan?" Tanya Anggi.

"Iya, dia ngabarin lo?"

"Mhm... Ini lagi chat gue, doi ngajakin nonton lu besok di cafe margonda." Jawabnya ditengah-tengah mengunyah. "Tumben lo perform diluar, biasanya sekitaran kampus doang."

"Ada anggota baru namanya Gilang, dia temennya Cinta anak Psikologi, mulai sekarang dia bantuin Cinta jadi bagian humasnya UKM Band, punya banyak kenalan owner-owner cafe." jelasnya.

"Bagus lah." Puji Anggi dengan singkat. Ditya hanya mengangguk.

"Lo masih sekelas sama Brian?" tanya Ditya.

"Iya kita ngambil semua matkul tetap di kelas yang sama. Tapi semester ini gue ga ngambil matkul tambahan sih, kalo si Brian kan ngambil Psikologi Persepsi di hari Senin. Gue males anjir Senin pagi udah kelas, mau nonton drakor aja, hahah." Basa-basinya sambil bercanda sedikit.

"Lah? Hahaha...." Ditya meresponnya dengan tertawa kecil.

Mereka tidak banyak mengobrol lagi setelah itu karena Anggi harus pergi ke tempat lain.


Anggi Maulida adalah anak jurusan Sastra Indonesia yang seangkatan dengan Brian. Keduanya bisa dibilang teman dekat, selalu mengambil kelas mata kuliah yang sama. Mereka pertama kali bertemu saat dipilih dalam grup yang sama saat ospek fakultas. Awalnya saat itu Anggi merasa gugup ketika harus memulai pembicaraan dengan Brian yang jelas-jelas bule, karena jujur saja, kemampuan bahasa inggrisnya masih kurang lancar. Namun ternyata Brian mengejutkannya dengan bahasa indonesia yang fasih.

Hampir 3 tahun lamanya ia menghabiskan waktu dengan Brian, mengerjakan tugas bersama, saling menitip absen, meminta asistensi dosen, nongkrong, jadi teman debat, saling mencurahkan isi hati, dan hal wajar lainnya yang mereka lakukan bersama. Yup, mereka hanya sebatas teman, atau setidaknya Anggi beranggapan demikian. Dan yang Anggi ketahui, dari semua obrolan dengan Brian, topik yang paling sering muncul dari pemuda bule itu adalah Ditya.

*PING!!!

Brian : [Nggi, ketemuan disana aja ya?]

Buset buru-buru amat nih si abang. Kalo gue harus jujur, sebenernya gue mager banget, Bri.

Anggi : [Buru2 amat? Baru juga jam setengah 7 lho]

Anggi : [Lo duluan aja, Bri. Gue masih mau nyatok]

Brian : [Oke]

Brian : [Gue takut gak kebagian kursi, Nggi, gue pengen nonton Ditya paling depan]

Entah sudah berapa juta kali ia mendengar celetukan nama Ditya dari bibir Brian.

"Ditya ini lah, Ditya itu lah, Ditya kemarin begini lah, Ditya doyan ini lah, Ditya alergi udang lah, Ditya gak suka makanan pedes lah". Lebih detail lagi, Anggi bahkan tahu merk shampo apa yang dipakai Ditya. Mungkin Anggi lebih tahu tentang Ditya daripada tahu tentang Brian. Dan dia hampir yakin Brian juga mungkin lebih tahu tentang Ditya daripada tentang dirinya sendiri.

Tidak heran, banyak gosip beredar di kampus mereka bahwa Brian dan Ditya adalah homo. Bahkan pada suatu saat, sempat membuat Anggi sendiri curiga pada hubungan keduanya. Setelah melakukan pengamatan dan analisis pribadi pada kedua pemuda tersebut, Anggi berasumsi keduanya memang hanya teman.

Ya, teman. Dan mungkin sedikit lebih itu.

*PING!!!

Brian : [Sent a photo to Anggi]

Brian : [Gue udah di dalem ya, Nggi]

Anggi : [Oke, gue lagi pesen ojol sekarang] Pernyataan tersebut tidak lebih dari dusta, kenyataannya ia masih asyik menonton video klipnya Taeyang.

Akhirnya Anggi tiba di tempat janjian pada pukul 20.05, sudah melebihi waktu yang dijanjikan. Suara merdu akustik terdengar sampai luar, ia pun berjalan mengikuti arah sumbernya. Dan dilihatnya sekelompok orang sedang tampil diatas panggung beberapa diantaranya adalah orang yang ia kenal, termasuk Ditya.

"Anggi! Sebelah sini! " Seorang pemuda tampan berambut cokelat melambaikan tangannya dari kejauhan.

Benar juga pikir Anggi, Brian duduk di meja yang dekat panggung. Anggi pun menghampirinya.

"Bri! Waaaaah how are you!?" Anggi melebarkan tangannya untuk memeluk Brian.

"Anjir, gila lu, Nggi. Janjian jam 7 dateng jam 8... Gue kangen tau!" Brian berdiri dan memeluknya.

Hanya beberapa minggu mereka tidak bertemu, namun Brian terlihat sedikit berbeda, ia memakai jaket kulit berwarna gelap, kaos polos yang dimasukan kedalam celana, dan sepatu boots. Penampilannya itu, ditambah gaya rambut yang sedikit acak-acakan memberikan kesan vintage yang dewasa.

"Ih serius! Gue tadi di cancel 2 kali sama abang ojolnya!" Alasannya.

"Gak percaya guee, palingan lo telat nonton drakor."

"... Jangan salahin gue lah, salahin Taeyang!" Anggi tidak bisa mengelak lagi. "Lo nonton dari tadi?"

"Iya, tadi mereka bawain lagu-lagu Pop Rock-Ballad, kaya Guns n' Roses, Kings of Leon, OneRepublic, The Goo Goo Dolls..." Jelas Brian sambil menunjuk ke arah para mahasiswa yang sedang tampil. "Bukan genre lagu yang suka lo dengerin sih."

"Ah elah, lo juga dengerin Raisa mulu kaya abg galau, btw gue suka 5sos yah." Anggi pun memperhatikan para musisi sedang bersiap membawakan lagu selanjutnya.

Di atas panggung, vokalis imut berambut ombre mulai berbicara.

"Selamat malam semua, kami ngucapin makasih banyak banget buat semuanya yang udah mau ditemenin sama kita UKM Band yang belum ada namanya sih hehe, karena ini malam pertama kita perform bareng anggota-anggota baru... Kita bahagia banget bisa nyambut keluarga baru UKM Band yang kedepannya pasti bakal tampil bareng di acara yang lebih keren lagi!" Seru Cinta.

"Ini lagu terakhir dari kita, judulnya 'Battle Symphony' by Linkin Park. We dedicate this performance for the one and only, Chester Bennington. Rest in peace, Chester. We will always love you." Ujar seorang vokalis pria. Anggi menyadari bahwa pria tersebut adalah salah satu anggota baru dari fakultasnya.

Beberapa penonton merespon dengan tepuk tangan meriah, dan diiringi oleh siulan penonton yang hadir di tempat tersebut.

Ditya mulai memetik bass dengan jemarinya, lalu musisi lainnya mulai memainkan instrumen hingga semua menyatu menghasilkan sebuah aransemen yang menarik.

I got a long way to go

And a long memory

I've been searching for an answer

Always just out of reach

Vokalis pria itu memiliki suara yang unik, bisa dibilang serak-serak basah, seperti penyanyi Rock. Harus Anggi akui, ia sangat suka dengan suara yang terkesan macho. Ia melihat pemuda bule di sampingnya mengeluarkan ponselnya dan mulai membuka aplikasi kamera.

When they turn down the lights

I hear my battle symphony

All the world in front of me

If my armor breaks

I'll fuse it back together

Battle symphony

Please just don't give up on me

And my eyes are wide awake

For my battle symphony

Sesekali Anggi melirik Brian yang kembali mengambil foto, dan dia sadar akan sesuatu. Walaupun secara keseluruhan foto dan video yang diambil menampilkan seluruh anggota band, ada satu objek yang menjadi fokus utama, Ditya. Ya, sahabatnya Brian yang sedang memainkan bass. Anggi pun menatap Ditya. Pemuda itu terlihat tampan, karismanya di atas panggung terlihat seperti badboy yang ada di acara sinetron. Jika bukan karena anak jurusan teknik industri itu 'milik' Brian, mungkin Anggi juga akan terpesona pikirnya.

"Bri, lo mau post penampilan bandnya apa Dityanya, sih?" Celetuk Anggi.

"Hah, ya semuanya lah, kan ada si Saka sama Cinta juga." Protesnya.

Para musisi tersebut pun telah selesai membawakan lagu terakhirnya.

"Terima kasih banyak temen-temen semua, semoga kita kembali bertemu di lain kesempatan. Selamat malam dan selamat nongki-nongki cantik!" Cinta menyampaikan ucapan penutup. Anak-anak band pun membereskan propertinya dan berkumpul di meja panjang untuk briefing

Ditya berjalan menghampiri meja Anggi dan Brian untuk menyapa. "Hai, Bri, Nggi."

Spontan Brian lalu berdiri dan memeluk Ditya dengan erat, "Long time no see, Brother! Lo tuh emang keren, Dit!" Ditya juga balik memeluknya. Pelukan kedua pemuda rupawan dengan tinggi sekitaran 180cm itu berlangsung sedikit lebih lama dari sewajarnya, sampai orang-orang sekitar mulai berbisik.

"Ehmm..." Anggi berpura-pura menekan tenggorokannya. Dan kedua orang itu melepaskan pelukan.

"Wahaha... Thanks ya, Nggi, udah dateng!" Ditya mengajaknya tos.

"Iya, dong! Lagian si Brian tuh yang ngebet pengen ketemu lo!" Sindir Anggi bercanda.

"Anak-anak lagi pada kumpul, tuh, kalian gabung aja." ajak Ditya.

"E-eh, tunggu! Gue bawa oleh-oleh nih buat lo berdua. Gue malu kalo ketemu yang lain tapi ga ngasih." Ujar Brian sambil merogoh ranselnya. "Nih, buat lo, Nggi." Brian menyerahkan toples plastik besar berwarna hijau.

"Sabun Lush - Mask of Magmaminty!?? Aaahhhh Bri! Thank you so much! Kemarin gue liat di Jakarta yang varian ini belom ada." Anggi menyenderkan kepalanya ke lengan Brian, sambil terus membaca kegunaan produk itu, 'Deep Cleansing Minty Scrub'. Brian pun tertawa melihat temannya kegirangan.

"Nah, yang ini buat elo, Dit. Sengaja gue pilihin yang paling bagus buat soulmate gue tercinta." Brian memberikan sebuah gumpalan kain abu-abu yang tidak dilipat rapi. Curiga, Ditya pun melebarkannya untuk melihat benda apa itu. Dugaannya benar, itu adalah kaos butut murahan yang bertuliskan 'I LOVE SYDNEY" yang biasa dijual di pasar oleh-oleh. Kekecewaan atas iming-iming 'dipilih yang paling bagus' merasuki dirinya.

"Ini yang lo bilang 'oleh-oleh paling bagus buat soulmate'? Yang paling murah sih iya!" Ditya melemparkannya kembali pada Brian. "Buat Anggi aja lo beliin yang mahal." kembalinya menggerutu.

"Sorry ya, Dit. Gue gak mau tukeran." Canda Anggi yang terbahak-bahak.

"Eh! Jangan gitu, gue liat itu langsung inget, lo kan belom pernah ke Aussie. Gue juga beliin gantungan kunci nih." Brian menimpali dengan menggantungkan benda kecil berbentuk boneka kangguru tersebut diatas kepalanya.

"The fuck is that thing?" Ujar Ditya.

Kemudian Brian merangkul pundak Ditya dengan satu tangan dan mendorong oleh-oleh tersebut ke dadanya, memaksa untuk mengambilnya. "You're so heartless, man! just say thanks will ya?"

"Tau ah! Bodo amat." Ditya masih menggerutu.

"Idih, sejak kapan lo jadi acuh sama gue?" Kini Brian pura-pura memasang ekspresi sedih.

Kemudian kedua pemuda itu pun duduk dan lanjut saling bercanda berduaan selama beberapa menit, seolah Anggi tidak ada disana. Pertemuan tersebut membuat Brian dan Ditya menjadi perhatian orang-orang di meja sekitar. Anggi sempat melihat beberapa dari orang-orang itu yang melirik-lirik dan berbisik. Yah, Anggi sudah biasa sih.

Aku sudah kebal, mas. Rapopo.

Chapter Text

Ditya berbalik untuk berjalan ke meja dimana anak-anak band berkumpul. "Gue mau kumpul dulu, gabung aja lah ayo."

"Ayo aja sih, gue juga belom say hi sama Saka, oh iya sama Cinta juga. Lo mau gabung, Nggi? Kalo ngga juga gak apa-apa, gue kesana bentar terus balik lagi." Ujar Brian.

"Yaa boleh lah." Anggi sebenarnya tidak masalah berkumpul dengan sekelompok anak laki-laki, bahkan dia lebih memilih untuk hangout bersama teman cowok dibanding cewek. Alasannya? Sederhana. Cowok itu blak-blakan, sementara cewek banyak nyinyirnya.

"Kak Anggi, Kak Brian, Halo!" Sapa Cinta dengan riang gembira. Cewek indie itu rupanya sudah tidak berambut ungu, melainkan menjadi ombre pirang kusam.

"Halo, Cinta. Halo juga semua, gue Brian, temennya Ditya." Sapa Brian memperkenalkan dirinya. Anggota baru dari UKM Band pun bergantian berjabat tangan dan berkenalan dengannya dengan ramah. Ternyata salah satu dari mereka juga namanya Brian, alias Brian Hermanto.

"Hai, Cinta... Rambut lo jadi bule sekarang?" Canda Anggi sambil cipika-cipiki.

"Ih, ini tuh udah luntur tau! Sebel banget anjir gue warnanya jadi alay gini, terus gue panjangin aja biar jadi ombre, hahaha!"

Brian pun meminjam 2 kursi untuk dirinya dan Anggi.

"Angel! Kamu makin cantik aja sih!" Ungkap Saka yang kegenitan menggodanya.

"Anggi, Mas." Gadis itu membenarkan nama panggilannya. "Mas Saka, tuh, makin gondrong aja. Udah mirip Master Limbad." Anggi berusaha menolak godaan Saka.

"Cie, gue cowok misterius dong?" Usaha pemuda gondrong rupanya tidak terpatahkan.

Iywhhh... yang ada kelakuan lu bikin gue pengen boker.

"Idih, najis, Mas." Jawab anggi sambil memaksakan senyum, agar rasa sebalnya tidak terlihat.

"Bercanda ih... Anggi mah suka gitu, hahahah!" Tawa Saka.

"Lo jadi gabung ya, Ndri?" Brian memulai percakapan.

"Iya, Bri, thanks ya! Eh, lo kelas kritik sastra sama Pak Toto juga?" Tanya Andri. Dia juga anak jurusan Sastra Indonesia yang seangkatan dengan Brian dan Anggi, hanya saja selalu beda kelas, sehingga mereka tidak sering bertemu.

"Wah, gak tau tuh. Hari ini gue gak kuliah soalnya. Kenapa emang?" Tanya Brian penasaran.

"Galak abis, men. Lo harus aktif nanya, kalo nggak bakal balik di tanya sama dia. Terus tiap pertemuan ada quiz tertulis yang harus langsung di kumpulin." Jelasnya dengan nada kesal.

"Eh iya, kita kita juga diajar sama Pak Toto, lho." Anggi menimbrung.

"Seriusan?" Brian menengok ke arah Anggi. Perempuan itu pun mengangguk.

"Anjing tuh, rese banget orangnya, gue juga tadi kena semprot. Pinter-pinter cari muka aja deh kalo sama dia, haha." Saran Andri.

Baru hari pertama mereka kuliah di semester 6, hal yang dilakukan adalah mengeluh soal dosen yang darah tinggi, dan jadwal kelas yang bentrok. Tidak lama kemudian, Saka, Cinta, dan yang lainnya mulai berbincang santai mengenai misi UKM mereka kedepannya.

"Elo pada setuju semua yah, kumpul wajib tiap malem Rabu dan Sabtu buat latihan. Yang pegang kunci ruang sekre itu gue sama Ditya, kita tiap hari kesana, sih, sampe sore doang. Cinta juga suka dateng hampir tiap hari." Jelas Saka.

"Oh, satu lagi!" Cinta menyela, "Setor uang kas tiap minggu Rp25.000 ke Ramzy yah! Zy, elo jadi bendahara sekarang!"

"Lah, kenapa gak lo aja? Kan biasanya cewek jago nyimpen duit?" Protes Ramzy.

"Kan gue sama si Gilang udah jadi humas, beb. Lagian tampang lo yang paling preman disini." Jawab Cinta sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Hahahahaha anjing lo dikatain preman! Pamer tattoo segala sih soksoan!" Sontak Gilang.

"Eeh, elo beneran jurusan sastra jepang, zy? Ada matkul ninjutsu gak? Hahahaha!" Ledek Ramdhan.

Sosok ramzy yang tinggi besar menunjuk tattoo naga bonar di lengannya "Goblok lu pada, ini hena, 3 minggu hilang. Gue iseng doang coba beginian waktu kemaren ke Anyer." Kesal Ramzy mengacungkan jari tengahnya. "Gue ketendang dari teknik sipil. Sebenernya sastra jepang tuh pilihan ke-2, gue asal pilih doang. Ekspektasi gue pertama kali masuk kuliah kirain dosennya kaya Miyabi semua, ternyata wibu. Kecewa berat gue." tuturnya.

"Lah, elo mikir ape anjing? Hahahaha! Kalo isinya macem Miyabi semua gue juga gak bakalan pilih psikologi" Kekeh Gilang menimpali sambil menghirup rokok elektriknya. Semua yang hadir di meja itu pun ikut tertawa.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 23.38, jalanan Depok pada tengah malam memang masih cukup ramai. Anggi sudah pulang duluan lebih dari satu jam yang lalu, mau nonton drakor lagi katanya. Cafe Margonda juga hampir memasuki jam tutup toko.

"Guys, gue cabut duluan yah! Kita kumpul lagi lusa, oke?" Cinta berdiri dari kursinya.

"Lu sendirian, Cin? Kenapa ga bareng si Gilang aja?" Tanya Saka.

"Kagak searah sama gue. Lagian gue balik ke kontrakan cewek gue." Bantah Gilang.

"Lo semua emang cowok betina, kagak jantan! Udah deh gue mau pesen ojol dulu yeh, dadaah!" Cinta berjalan keluar.

Brian berbisik ke telinga Ditya "Dit, balik yok."

"Ya, gue mau ke toilet dulu bentar."

Akhirnya setelah larut malam usai penampilan dan briefing perdana, semuanya memutuskan untuk pulang ke tempat masing-masing. 

"Ditya, Brian, Gue balik ya!" Sahut Saka sembari menyalakan motor bebeknya. "Bri! Jangan lupa jagain si Ditya! Masih perjaka tuh anak, HAHAHA!"

"Goblok! Anjing lu emang." Cetus Ditya yang tersinggung menendang knalpot Saka. Brian hanya terkekeh.

"Lo kesini naik apa?"

"Bareng Saka pake motor... Kita mau pesen taksi aja?"

"Jalan kaki aja gimana? Gak jauh, kan?" Saran Brian.

Ditya mempertimbangkan opsi itu, yah saldo GoPaynya juga sudah habis pikirnya, "... Yaudah deh"


"Ditya, lo masih laper gak? Makan dulu yok." Ajak Brian

"Gue gak laper sih, emang lo tadi di cafe gak beli makanan?"

"Kagak kenyang lah, lagian terakhir gue makan 5 jam yang lalu."

"Ayo aja kalo mau ditemenin." Ditya setuju.

Mereka berjalan beriringan menyusuri jalan Margonda Raya, masih banyak penjual makanan gerobak yang buka hingga lewat tengah malam. Selintas hidung Brian mencium aroma bakaran yang menggiurkan. Ia menoleh dan melihat sebuah gerobak bertuliskan 'Sate Padang Goyang Lidah' dengan tumpukan daging sapi berwarna kemerahan sedang dipanggang dan sepanci besar bumbu. Pemandangan tersebut membuatnya sangat tergoda.

"Mau, Bri?" Pergok Ditya yang melihat Brian sedang menelan ludah.

"Iya, udah lama gue ga nyoba sate padang." Brian menghampiri bapak penjualnya, "Pak, pesen sate 20, makan disini ya."

"Siap mas, pake lontong ndak?" jawab penjual sate itu dengan aksen yang kental.

"Oh iya, lontong 2 ya pak." Brian melihat kearah Ditya yang sedang duduk memainkan ponselnya. "Dit, Lo beneran ga mau?"

Ditya berpikir sejenak, lalu ujung bibirnya terangkat, "Kalo dibayarin gue mau." ceplosnya sambil tersenyum.

Sahabat bulenya ingin protes namun dirinya juga tidak bisa menang untuk melawan senyuman Ditya "Yeh, si monyet laper juga kan... Pak satenya jadi 40 tusuk, lontongnya jadi 4 ya." Tutur Brian, lalu kedua pemuda itu duduk saling berhadapan.

"Banyak duit nih?" Tanya Ditya merasa puas.

"Yoi, dikasih sama Pops. Balik dari kampung langsung tajir." Ucap Brian.

"Ck kampret lo" Sepet Ditya.

Makanan yang mereka pesan pun diantarkan ke meja.

"Wow, so good, man! Gue kangen makanan kampus, sumpah." Brian mengambil 1 tusuk.

"Mending lo gausah masuk kuliah aja, Bri, biar ngulang terus, jadi makin lama di kampus." Respon Ditya dengan sarkas.

"Ya gak gitu juga, nyet!" Brian memukul pelan bahu Ditya, namun pemuda berambut hitam itu berhasil menghindar dan tertawa. "Hahahaha!"

"Dit" Panggilnya.

Ditya menaikan alisnya, memberikan isyarat tanya.

Brian membuka mulutnya dan secara cepat menggoyangkan lidahnya. "Lidah gue goyang nih gara-gara makan sate si Bapak, hahaha!".

Alih-alih ingin tertawa, Ditya malah tersedak "Hngg! Uhuk-uhuk!"

"Waduh! Minum dulu... Minum dulu..." Merasa bersalah, Brian mengambilkan segelas teh hangat dan sedikit mengusap punggung temannya.

"Ahh... Sialan lo... Orang lagi makan malah diajak ketawa" Keluh orang yang menderita.

Brian hanya tertawa kecil, itu juga sebenarnya menertawakan Ditya.

"... Heh... Heheh... Dasar Bego..." Orang yang tadinya jengkel pun ikut tertawa.

Keduanya saling mengoceh di pojokan warung sate padang tersebut, sebelum akhirnya mereka kenyang dan melanjutkan perjalanan pulang.

"Ada bumbu sate nempel tuh." Kata Brian menunjuk wajah Ditya. Kebingungan, Ditya menggunakan lidahnya untuk menjilat sekeliling bibirnya. "Masih ada tuh, deket pipi."

Gara-gara tadi keselek apa ya?

Petunjuk dari Brian memang ambigu, Ditya mengusap pipinya dan tidak merasakan apa pun "Lo bohongan yah?" ia kembali berjalan.

"Stop dulu" tekan Brian. Mendengar titah terebut, Ditya menghentikan langkahnya. Ia pun menoleh dan seketika sebuah tangan besar menyentuh wajahnya. Jari-jari itu mengusap pipinya hingga ke arah dagu dan mengenai ujung bibirnya dengan lembut. "Sebelah sini maksud gue."

Deg...

Detik itu jantung Ditya terasa seperti berhenti berdetak. Seketika wajahnya yang putih memerah seperti tomat. Tatapannya terpaku melihat kedua mata biru yang balik memandangnya diterangi lampu jalanan. Segera ia memalingkan wajahnya dan menjawab "Y-ya elo nunjuknya ga jelas."

... Shit.


Setelah sekitar 15 menit berjalan kaki, sampai juga akhirnya mereka di depan bangunan Kost Putra Ibu Lulu. Keduanya saling mengucapkan selamat malam dan masuk ke kamar masing-masing. Ditya dengan cepat mengganti pakaiannya dan berbaring di tempat tidur. Ia terdiam memandang langit-langit kamarnya kosong. Kejadian barusan masih terulang di pikirannya.

Kalian ingin tahu? Seorang Aditya Sukmana juga punya rahasia.

Rahasia yang sudah ia simpan bertahun-tahun lamanya... Ia sedang jatuh cinta pada seseorang.

Rasa cinta bertepuk sebelah tangan yang meledak-ledak, namun tidak bisa diungkapkan. Sejak awal dia sudah tahu bahwa perasaanya tidak akan pernah terbalaskan. Mengapa? Karena Ditya jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sahabat yang telah menemani seumur hidupnya. Sahabat yang selalu ada saat hidupnya sedang kusut. Sahabat yang selalu memberikan kejutan di hari ulang tahunnya. Sahabat yang dapat membuat perasaanya terbang ke langit ke tujuh.

Sahabat manis yang membuatnya jatuh hati.

Jika memikirkan itu, hatinya menjadi sangat pilu. Itu karena... Sahabatnya juga seorang pria.

Brian...

Ditya bukan tipe orang yang mengejar kehidupan asmara. Namun selalu ia memohon pada Tuhan dengan sepenuh hati untuk dapat menggenggam jemarinya. Mengelus rambutnya. Mengecup bibirnya. Memiliki hatinya. Walaupun sepertinya itu mustahil.

Karena baginya, Brian membuatnya merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ditya takut, kalau Brian sampai tahu mungkin dia tidak akan lagi berbicara padanya. Namun, kepada siapa ia bisa cerita? Tanpa orang-orang menganggapnya aneh dan hina? Ditya tak seberuntung itu. Perasaannya hanya bisa dilebur sendiri.

Menyedihkan ya? Dari sekian banyak orang yang bisa dipilih untuk dicintai, Ia memilih seseorang yang tidak bisa membalas perasaan itu.

"Bri..." ucapnya sambil memaksakan matanya untuk terlelap.

Chapter Text

Selama awal semester genap tahun ke-3, seluruh mahasiswa di semua fakultas wajib mempelajari ilmu dasar kerja praktek demi mempersiapkan diri untuk mata kuliah wajib pada semester yang akan datang. Maka dari itu, kegiatan diskusi dan sharing pengalaman dengan dosen ataupun mahasiswa senior mengenai kerja praktek, tipe perusahaan, lokasi, deskripsi pekerjaan, maupun tips & trik melamar menjadi karyawan magang menjadi topik sehari-hari pada saat perkuliahan.

UI Engineering Career & Internship Fair 2018.

Pameran lowongan kerja tersebut adalah salah satu ajang bertemunya mahasiswa jurusan teknik sebagai calon karyawan magang dan pihak HRD perusahaan. Berbagai macam perusahaan, mulai dari manufaktur, startup, stasiun televisi, perbankan dan lembaga lainnya ikut serta dalam acara tersebut. Pameran ini adalah salah satu metode bagi Ditya untuk memilih perusahaan untuk kerja prakteknya. Tentu saja dirinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

"Sak, lo udah kepikiran mau magang dimana?" Colek Ditya pada bahu teman sekelasnya.

"Hah?" Saka terbangun dari tidurnya, telinganya tersumpal headset sehingga ia tidak mendengarkan pertanyaan tersebut.

"Dih, budeg lo. Gue bilang elo udah kepikiran belom mau magang dimana?"

"Hoaam... Anjing, gue ngantuk parah..." Saka menguap sambil meregangkan pundaknya.

"Bisa ye elo tidur terang-terangan waktu dosen lagi ngajar? Salut gue."

"Hahah, gue mah jago kalo soal itu." Mahasiswa berambut gondrong itu merasa sindiran yang dilontarkan untuknya adalah pujian, "Belom kepikiran sih gue mau magang dimana buat KP, pengennya sih masih daerah Depok ato Jaksel aja biar gue gak usah cari kostan lagi. Kalo lo, Dit?"

"...Gue juga belom tau sih. Cita-cita gue kepingin magang di Unilever sebenernya."

"Kenapa ga di perusahaan bokap lo aja? Kan gampang lo tinggal bilang doang, kagak usah ngurusin tetek-bengek interview, lamaran kerja, dan apalah itu... Mungkin posisi magang lo juga langsung jadi asisten direktur." Dari semua teman yang pernah satu kelas dengan Ditya, hanya Saka seorang yang mengetahui fakta bahwa Ditya adalah anak tunggal dari keluarga mapan yang ayahnya adalah seorang pemilik perusahaan.

"Buset, gampang banget lo ngomong. Ya enggak gitu juga lah. Gue tetep jadi karyawan magang biasa." Desis Ditya. Dalam benaknya, ia juga sempat mempertimbangkan kemungkinan untuk bekerja dengan ayahnya, walaupun ia tidak menyukai ide tersebut. Karena selama beberapa tahun ke belakang hubungan antara ayah dan anak ini tidak dalam kondisi yang baik. Selama satu tahun, mungkin jumlah pertemuan keduanya bisa dihitung dengan jari di kedua tangan. Setiap kali mereka bertemu pun selalu ada pembahasan yang menimbulkan cekcok. Karena itu, Ditya hanya akan mengambil opsi itu sebagai pilihan terakhir.

Namun, jauh, jauh didalam hati kecilnya, terdapat sepercik niat untuk memperbaiki hubungan dengan ayahnya. Mereka tidak akan selamanya saling bertolak belakang, kan?

"Sak, ayo temenin gue ke job fair. Pamerannya cuma hari ini sama besok. Kali aja ada perusahaan nyangkut buat ntar." Ajak Ditya sambil mengemasi barang-barangnya.

"Sekarang banget, nih? Gue mau main PUBG dulu satu game! Lo gabung jadi team gue buruan, gue invite nih." Jawab Saka yang memainkan ponselnya.

"Yeh, lo mah bakalan nyusahin doang, paling pertama mati. Ujung-ujungnya gue juga yang Chicken Dinner." Timpalnya.

"Jangan banyak ngemeng ente. Gini-gini gue udah level 10 dalam jangka waktu sehari!" Pamer Saka.

Akhirnya Ditya juga merasa tertantang untuk ikutan bermain dengan janji Saka yang hanya untuk 1 game. Avatarnya tampil gagah dengan mengenakan sepatu militer, celana camo, atasan musim dingin, serta lengkap dengan topeng hockey dan senjata sniper. Tampilannya itu jelas menang kontras dengan avatar milik Saka yang botak dan hanya berbalut sempak putih. Levelnya pun jauh lebih tinggi yaitu 48.

"Sorry ya kalo rada kaku. Gue udah jarang main sih." Ucapnya datar.

Anjing! Ini si Ditya merendah untuk meroket opo gimane!? Kayaknya gue salah ngajak dia join. Batin Saka berteriak.

Hitungan mundur permainan pun dimulai dan satu-persatu dari pemain lain terjun meninggalkan pesawat. "Mau turun dimana?" Tanya Ditya.

"Pochinki!" Jawab Saka dengan lantang.

"Eh, lo kagak mau loot dulu di tempat lain?" Ditya mulai bingung dengan metode permainan temannya.

"Looting cuma buat yang cemen!" Sahutnya dengan arogan.

"...Oke." Ditya mengalah. Toh tujuannya join game dengan Saka adalah untuk saling menjaga satu sama lain. Iya kan?

Setelah mereka mendarat di sebuah bangunan mirip toko, Saka dengan serakah langsung merampas semua item yang tersedia. Meski begitu, ia tetap menyisakan sebuah pistol 9mm dan item kualitas rendah untuk Ditya karena Saka adalah orang yang 'bijaksana'.

"Kampret lo, gue cuma di sisain ini doang!" Protes Ditya yang tidak kebagian backpack dan armor.

"Lo harusnya bersyukur, Dit. Gue orangnya maha pemurah." Sewot si gondrong yang berlagak paling jago.

"Depan ada musuh, Sak!" Dengarnya suara langkah dari balik bangunan.

"Mana!? Sini gue bunuh!" Avatar Saka memegang senapan mesin SCAR-L melompat dari lantai 2 dan mendarat di jalan raya. Tentu saja itu dirinya menjadi sasaran empuk pemain lain karena tempatnya sekarang sangat terbuka.

BAKK! BUGG! Hanya dalam hitungan detik, seorang musuh menghabisi dirinya dari belakang dengan wajan penggorengan.

Tidak sampai 10 menit dari saat mereka berdua mendarat, teman gondrong di sebelahnya tiba-tiba berteriak, "AH GOBLOK!!!" Ditya terbahak-bahak melihat menyaksikan kejadian tersebut dari tempat persembunyiannya.

Melihat kesempatan itu, Ditya 'si penghianat' berhasil menembaki musuh yang membunuh Saka dengan memanfaatkan pistol 9mm seadanya. Yang lebih parah lagi, ia ikut mengambil semua item milik Saka. "Thanks ya bro~" Ejeknya sambil melanjutkan permainan.

"Cih, sialan lo." Gumam Saka yang terus memantau gerak-gerik partnernya yang masih hidup aman sentosa.

Selama lebih dari 20 menit Saka menyaksikan Ditya yang masih terus bermain. Sudah 16 dari 98 musuh yang ia bunuh dan armor yang dipakainya pun sudah level 3. Semakin lama angka pemain semakin berkurang, hanya tersisa 1 pemain lagi dan Ditya akan menang. Zona main semakin menyempit. Ditya secara lihai bersembunyi diantara semak-semak.

Tap... tap... tap... Suara langkah kaki musuh mendekat.

Duaaarr!!! Duaaarr!!! Duaaarr!!! Ditya mengeluarkan 3 tembakan dengan senapan Shotgun sampai musuhnya lumpuh. Tulisan berkilau 'Winner Winner Chicken Dinner!' muncul menghiasi layar ponsel. Dan ia pun dinyatakan sebagai pemenang game ini.

"Whew!" Ditya menghela panjang nafasnya sebelum dia menengok ke arah Saka, yang balik menatapnya dengan ekspresi nanar. "Woi, nape lo? Dari tadi ngeliatin gue main? Hehehe." Tanya Ditya sambil tersenyum puas.

"Udah puas lo? Buruan cabut kalo masih mau gue temenin." Sahut Saka ketus sambil beranjak dari kursinya.

"Heheh iye, siap komandan..." Canda Ditya yang berjalan mengikuti Saka.


Pameran tersebut berada di Lobby Fakultas Teknik. Ini adalah pertama kalinya Ditya mengunjungi Engineering Career Fair meskipun acara ini cukup sering diadakan. Tanpa ia duga, ruangan sempit ini terasa membludak dengan banyaknya manusia yang berlalu-lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak teknik seangkatannya. Setelah melewati lautan manusia tersebut, dirinya memutuskan untuk duduk bersama Saka dan teman-teman sekelasnya, memperhatikan seminar gratis dan presentasi bergantian antar pihak perusahaan.

*PING!!! PING!!! Sejumlah pesan masuk ke ponsel Ditya.

Mamah : [Nak, kamu kapan pulang ke rumah?]

Mamah : [Sepupumu, Laras, kan nikah minggu ini]

Mamah : [Besok Tante Tita ngadain prosesi siraman, biasa lah biar pernikahannya awet katanya]

Mamah : [Keluarga kita dateng semua loh]

Mamah : [Kalo kamu besok enggak sibuk, temenin mamah kesana ya]

Mamah : [Disana juga banyak makanan. Mamah tau kamu di kostan makannya enggak bener]

Membaca pesan tersebut, Ditya mengernyitkan alisnya, Mamah memang suka berlebihan. Tak ada secuil pun niatan untuk datang ke acara yang membosankan itu dan menghabiskan waktunya yang berharga bersama sekumpulan ibu-ibu. Walaupun demi sepupunya sendiri. Ya, hubungannya dengan Laras cukup dekat, karena umur mereka hanya beda 4 tahun.

Belum sempat pemuda itu membalas pesan dari mamanya, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Kali ini ada panggilan masuk.

Papah is calling.

Nama yang muncul di layar ponselnya membuat matanya melebar. Rasa ketidaknyamanan merayap di sekujur tubuhnya. Ia berusaha mengacuhkan panggilan itu sampai berhenti sendiri. Tanpa diterima pun, Ditya sudah tahu maksud dan tujuan Ayahnya menelpon.

Perusahaannya juga ikut serta dalam pameran ini.

"Siape tuh?" Tanya Saka.

"Bukan siapa-siapa." Gumam Ditya yang mengusap layar ponselnya, menolak panggilan telepon tersebut.

Semakin lama semakin banyak orang yang datang, hawa udara di dalam lobi fakultas teknik terasa semakin panas dan pengap. Saka yang tidak tahan dengan kondisi itu merasa perutnya bergejolak.

Prett... Suara itu keluar dengan pelan, namun efek yang ditimbulkannya sangat dahsyat.

"Ehmm... Bau!" Seseorang yang duduk di belakangnya mengomel.

"Ih gila tengik banget!" Orang lain mulai terpancing.

Merasa tak enak, Saka berbisik pada orang yang duduk di sampingnya. "Dit, gue ke toilet bentar yah... perut gue melilit nih, gak kuat... Jagain tempat gue jangan sampe diisi orang."

Ditya yang penasaran dengan gemuruh orang-orang dibelakangnya, akhirnya mencium sesuatu yang janggal. "Bangsat! Lo kentut!?"

Jancookk ! Aku ora bakal beli ayam geprek level 10 lagi!! I'm so sorry everybody!!!!

Entah si gondrong itu salah makan atau bakteri di ususnya lebih ganas dari yang lain. Yang pasti baunya sangat busuk, mirip tikus mati. Tanpa mengatakan apapun lagi, Saka langsung berjalan keluar melalui sela-sela kursi. Orang-orang disekitarnya mengeluarkan sahutan hina padanya. Ia lalu lari terbirit-birit, melewati orang-orang dengan gesit seperti pemain football yang menghidari serangan lawannya. Betapa sialnya dia ketika akhirnya sampai di toilet pria dan mendapati beberapa biliknya sedang dalam perbaikan dan sisanya sedang digunakan.

Jancokk !! Napa penuh iki, anjingg!

Perutnya sudah tidak tahan lagi, ampasnya sudah diujung tanduk. Tangannya hanya bisa mengepal sambil menarik-narik ujung bajunya, giginya menggertak dan keringat mulai membasahi punggungnya. Kondisinya sekarang antara hidup dan mati.

Tanpa berpikir jernih, ia mengetuk salah satu bilik tersebut. "Halo!? Permisi, Bro, boleh agak cepetan gak? Gue udah ga kuaaat!" Saka merintih.

"Sebentar." Jawaban tersebut datang dari suara bapak-bapak. Terdengar suara siraman air dari dalam, tanda penggunanya sudah selesai. Batin Saka memuji Tuhan.

Klak!

Pintu bilik pun terbuka. Seorang Bapak-bapak dengan perawakan tinggi mengenakan blazer kuning berjalan keluar.

"Makasih banyak, Pak!" Sahut Saka yang bergegas masuk. Bapak itu tidak meresponnya.

Tidak sadar akan keadaan, pemuda gondrong itu melakukan apa yang menjadi urgensinya. Buang hajat.

AOOOW!!

Teriak batin Saka saat isi perutnya meledak keluar. Jika digambarkan, situasi ini mirip seperti ibu-ibu bersalin. Ledakan dahsyat itu pun sirna. Tatapannya beralih pada langit-langit kamar mandi yang kosong. Jiwanya perlahan naik melewati ubun-ubunnya.

Tok! Tok! Tok!

Seseorang mengetuk pintu biliknya. "Permisi, Dek. Jam tangan milik saya tertinggal di dalam. Mohon percepat buang airnya, karena keperluan saya buru-buru." Suara itu terdengar familiar.

Anjing, goblok ini Bapake!

Saka melihat di belakangnya tergeletak sebuah arloji berwarna emas dan antarmuka hijau tua yang sangat berkilau. Dilihat lebih dekat lagi, terdapat emblem mahkota 5 jari dan logo kapital bertuliskan "ROLEX" yang terukir sangat indah.

Kagetnya bukan kepalang, baru pertama kali ia melihat langsung arloji mewah yang biasa dipakai oleh selebriti macam Raffi Ahmad dan Atta Halilintar. Yang membuatnya heran, benda tersebut adalah milih bapak-bapak yang ikut buang air di toilet umum kampus. Itu artinya Bapak tersebut adalah orang dari kasta brahmana. Tangannya bergetar, ia tidak berani memegang benda itu sembarangan.

Anjingg, iki luwih mahal timbang ginjalku! Jiwa miskinnya bergejolak.

Setelah ia selesai, arloji itu pun diserahkan kepada pemiliknya. "Jam tangannya bagus, Pak, hehe." Saka hanya tertawa gugup saat menatap Bapak tersebut. Wajahnya mengingatkan ia pada seseorang. Namun pujian tersebut hanya dibalas dengan tatapan datar.

"Harganya gak seberapa. Istri saya yang hadiahkan ini jauh-jauh dari Paris. Menurut saya itu lebih berharga." Jelasnya.

"Masa sih, pak, 'gak seberapa'? Pasti mahal dong." Kini saka mulai bertingkah menyebalkan.

Bapak itu tidak menggubrisnya, ia hanya mencuci tangannya di wastafel. "Kamu jurusan apa?" Tanyanya sambil menatap Saka dari cermin.

"Eh? Teknik Industri, Pak."

"Angkatan?"

"2015."

Pembicaraan itu pun menjadi hening untuk sesaat. "Putra saya juga kuliah di jurusan yang sama dengan kamu. Sepertinya kalian juga seangkatan."

"Oh iya? Siapa namanya pak? Barangkali saya kenal." Tanya Saka.

"Kalau kamu ikut seminar perusahaan saya setelah ini, kamu akan tahu." Pria itu menunjukan senyuman yang angkuh sebelum akhirnya ia meninggalkan toilet.

Saka kembali ke tempat duduknya, kursinya masih dijaga oleh Ditya.

"Jangan deket-deket gue." Desis Ditya.

"Gue cebok bersih anjirr! Eh, gue mau cerita, nih. Tadi di toilet gue ketemu bapak-bapak edan!"

"...Edan gimana? Siapa sih?"

"Nah, itu tuh, yang naik ke panggung, yang pake blazer kuning." Tunjuk Saka.

Di atas panggung, Seorang pria tua di awal usia 60 tahun dengan perawakan tinggi yang masih tegap dan gagah berjalan bersama pegawainya. Kulitnya memang mulai ditumbuhi kerutan tapi struktur wajahnya masih kuat, bagian sisi kepalanya pun sudah diselimuti rambut putih. Ekspresi Ditya berubah gelap ketika melihatnya, raut wajahnya seperti orang yang sedang konstipasi. Orang itu adalah ayahnya.

"Oi, Vira. Lo tau ga sekarang yang presentasi dari perusahaan apa?" Tanya saka pada teman kelasnya yang lain.

"PT Sukmana Perkasa, kalo gak salah."

Nama itu terdengar tidak asing. Saka mulai berpikir keras. Mengapa nama dan wajahnya terlihat tidak asing. Betul-betul mirip dengan seseorang yang Saka kenal. Mirip sekali dengan... Ditya?

Saka menoleh ke arah pemuda disebelahnya. "Dit? itu bokap lo?"

Ditya terdiam beberapa detik sebelum menjawab, "Iya."

Benar juga, paras Ditya merupakan cerminan dari ayahnya di masa muda. Namun dirinya sangat tidak suka ketika dibilang mirip dengan pria itu, karena kepribadian mereka sangat bertolak belakang.

Beberapa menit dan seminar terbuka pun dimulai, sang moderator membuka acara sebelum pihak perusahaan menjelaskan secara detil profil perusahaan mereka. PT Sukmana Perkasa, perusahaan kontraktor dan manufaktur baja. Sebuah merek dagang yang terpatri dari nama pemiliknya, seorang pria yang kuat nan angkuh.

Bapak Sukmana Perkasa, Ayah dari Aditya Sukmana adalah seorang direktur dari perusahaan ini. Orang yang memiliki kedudukan tertinggi. Dirinya hadir disini untuk memberikan paparan motivasi kepada muda-mudi Universitas Indonesia. Karena kampus ini juga merupakan almamaternya.

Tak peduli jika teman-temannya melihat ayahnya sebagai sosok penuh karisma dan bijaksana seperti Mario Teguh. Ditya memandang ayahnya sebagai orang yang egois.

"Senang sekali saya bisa kembali lagi di almamater saya tercinta. Anak sulung saya yang amat saya banggakan juga sedang menempuh pendidikan di universitas ini. Mungkin adek-adek semua ada yang kenal, bahagia sekali saya bisa melihat dia hari ini."

Tatapan ayah dan anak bertemu.

Jangan. Jangan papah sebut nama Ditya.

"Yah, dia jarang pulang karena proyek dan tugas kuliah, tahu sendiri, kan, deritanya anak teknik, hahaha. Namanya Aditya Sukmana, jurusan teknik industri 2015." Sahutnya sambil menatap tajam kearah putranya.

Semua mata tertuju pada Ditya. Bisikan-bisikan iri orang sekitarnya pun mulai tercipta dan lambat laun memenuhi ruangan.

"Ditya, elo tajir mampus dong?"

"Dit, Dit, nanti gue KP di perusahaan lo plisss!"

"Gak nyangka gue, elo ternyata anak sultan."

"Kok elo ga pernah bilang-bilang sih?"

"Nanti kerja praktek, gue bisa minta tolong lo aja ya?"

"Licik lo, kerja praktek udah punya perusahaan duluan"

"Langsung dapet A deh, nilai KP lo."

Bahkan Saka, teman dekatnya itu juga ikut komentar, walaupun hanya candaan tapi tetap saja menjengkelkan, "Gampang lah, tinggal minta nilai sama bokap."

Hati Ditya seperti terbakar oleh api. Satu hal yang paling ia benci dalam hidup adalah statusnya sebagai ahli waris perusahaan ayahnya. Karena jika orang lain sampai tahu, mereka akan memperlakukannya dengan berbeda. Akan ada orang-orang bermuka dua. Akan selalu ada yang memanfaatkan dirinya. Ditya jauh lebih memilih untuk hidup sederhana.

Papah sialan.

Hanya beberapa minggu lalu ayahnya mengkritik dirinya habis-habisan. Bahkan sampai menekannya untuk berhenti dari hal yang disukainya. Lantas mengapa bajingan itu kini dengan penuh ekspresi bangga mengumumkan identitas Ditya sebagai anaknya. Itu hanya untuk jaga image saja.

Saat itu juga, Ditya pergi meninggalkan seminar di tengah kumpulan orang yang sedang membicarakan dirinya.


19.25

Hujan gerimis kecil turun, Brian datang berkunjung ke kamar Ditya. Dia baru saja memesan makan malam lewat ojek online dan ingin berbagi bersama sahabatnya.

"Dityaaa... Dityaaa..." Brian mengetuk pintu kamarnya. Ia dapat mendengar volume musik yang cukup keras dari dalam. Tak lama pintunya dibuka. Brian dapat mencium bau rokok yang berhembus dari dalam.

Kenapa dia ngerokok tapi pintu kamarnya ditutup?

"Kenapa, Bri?" Tanya pemilik kamar yang sedikit sinis.

"Gue beli soto betawi, nih" Brian mengangkat kantong plastik yang dibawanya, ekspresinya sumringah. "Kita makan, yok!"

"Thanks, Bri. Tapi itu semua buat lo aja." Ditya menolaknya dengan halus.

"Lah, kenapa? Lo ga suka soto betawi?" Brian menaikan alisnya.

"Bukan, gue lagi ga selera makan aja." Sejak siang tadi selera makannya memang sudah hilang.

"Oh, yaah, gue belinya kebanyakan nih... Gue kasih kamar sebelah aja apa ya?" Sebenarnya Brian hanya berusaha memancing Ditya untuk makan bersamanya, soto betawi itu benar-benar tidak akan diberikan pada siapapun. Sepanjang hidupnya, Brian tahu Ditya tidak akan pernah menolak makanan. Jika hal itu sampai terjadi, pasti disebabkan oleh sesuatu.

"Iya" Jawabnya singkat. Hati Brian seperti jatuh ke lantai.

The hell is wrong with him?

"Gue mau nugas lagi."

"Ah, oke, gue gaakan ganggu..." Kecewa, Brian meninggalkannya, padahal dia ingin mengajaknya tanding PUBG.

Ditya terbaring di tempat tidurnya, bibirnya menahan sebatang rokok yang baru dinyalakan. Tarikan asap panjang ia hembuskan ke arah lampu yang menggantung di langit-langit. Tangannya menggenggam selembar kertas loose leaf yang penuh coretan. Ia sedang mengumpulkan alasan dan menunggu waktu yang tepat untuk menelpon ayahnya.

22.00

Panggilan tersambung.

"Halo."

"Pah."

"Kenapa? Kamu mau minta maaf sama Papah karena gak angkat telepon?" Suara Papah tersungut.

"Anak Papah sendiri pergi saat orang tuanya lagi jadi sorotan teman-teman sebaya kamu. Bahkan gak meluangkan waktu untuk bertemu? Sopan sekali yah." Sindiran Papah terdengar menusuk telinga.

"Maksud Papah apa ngasih tahu hal itu di depan umum, depan temen-temen Ditya?"

"Tentang kamu anak dari Sukmana Perkasa? Memangnya kenapa? Kamu memang anak sulung Papah, kan?"

"Sejak kapan Ditya bener-bener jadi 'anak' Papah? Sejak kapan Papah berani bilang 'bangga' sama Ditya? Sejak Papah ninggalin Mamah? Ato sejak Papah punya keluarga baru?" Ditya memberanikan diri untuk mengaitkan topik sensitif itu.

Naik pitam, Papah membentaknya, "Jaga mulut kamu, Ditya! Saya itu yang membiayai semua pendidikan kamu!"

Orang tua Ditya bercerai pada saat ia masih sekolah dasar. Mamah mendapat hak asuhnya, walaupun saat usia remaja Ditya harus memilih untuk tinggal bersama siapa. Pada akhirnya ia tetap memilih Mamah, alasannya sederhana karena Mamah sendirian sedangkan Papah sudah menikah lagi dan memiliki anak tiri. Sejak saat itulah Ditya mulai menganggap ayahnya orang yang egois.

"Lah, bukan berarti Papah bisa seenaknya! Sebelumnya Papah juga gak pernah ada di hidup Ditya. Kenapa sekarang tiba-tiba nyariin terus!?" Emosinya semakin tinggi.

"Cukup! Papah gak punya waktu buat denger ocehan kamu." Papah menutup panggilannya.

Cih!

Ditya melempar ponselnya ke kasur, sebelum ia sendiri membantingkan tubuhnya kesana. Ia menggigit bibir bawahnya dan menjambak rambutnya sendiri. Belum semua emosinya terluapkan. Rasa kesalnya masih ada. Berulang kali ia menarik napas panjang guna meredakan jiwanya.

Di sisi lain. Di samping kamarnya. Brian dapat mendengar deru pertikaian itu, walaupun tidak jelas memang. Firasatnya mengkhawatirkan Ditya.

Chapter Text

05.30

Alarm ponsel Brian berdering kencang. Sang pemiliknya sontak terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Sambil meraba-raba ia pun mematikan alarm itu. Jangan salah sangka, begini-begini Brian itu rajin olahraga. Setidaknya 4 kali dalam seminggu ia pasti menyempatkan dirinya untuk bangun pagi dan lari jogging sebelum kuliah.

'Don't skip another leg day.' Motto itu terpampang jelas di balik case ponselnya sebagai pengingat.

Ia segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, dan tanpa ribet mengenakan sepatu runningnya. Diluar langit masih terlihat gelap, pikirnya mungkin hantu saja masih gentayangan. Sendirian ia berlari santai mengitari jalanan sekitar pemukiman warga yang sedikit basah akibat hujan semalam.

Kok sendirian? Ditya tidak ikut? Heh, Tidak usah ditanya. Orang yang ia sebut sebagai sohibnya itu sama sekali tidak punya bakat di bidang olahraga. Diajak jogging pun paling cuma tahan 15 menit, itu juga lebih banyak jalan kakinya dibanding larinya. Dasar si lemah tak berdaya.

Setelah sekitar 1 jam berolahraga, Brian menyempatkan diri untuk mampir ke tempat sarapan langganannya, lontong sayur khas Bandung. Penjual makanan ini bernama Mang Yayan, sebenarnya beliau adalah orang asli Purwakarta, dia hanya iseng saja memberikan embel-embel 'Khas Bandung' agar lebih hits katanya.

"Halo Mister Brian, selamat pagi! Abis lari nih? Meuni rajin yah, kalo anak saya mah jam segini belom bangun." Sapa Mang Yayan di tengah sibuknya melayani pembeli.

"Biasa lah Mang Yan, biar sehat hehe."

"Makan disini?"

"Iya Mang, Satu yang biasa, pake telor terus sayurnya banyakin. Satu lagi dibungkus, jangan pake pedes." Brian teringat Ditya yang belum makan apa-apa sejak kemarin malam.

"Siapp Mister Brian!" Panggilan itu terdengar akrab di telinganya.

Tahukah kalian bahwa Brian sangatlah populer di warung lontong sayurnya Mang Yayan? Yup, semua pembelinya pasti tahu. Mang Yayan memasang spanduk di depan gerobaknya dengan foto dirinya yang sedang berpose maknyus ala-ala Pak Bondan Winarno bersama Brian, lengkap dengan tulisan 'Bule Ganteng Makan Disini!". Mang Yayan berpendapat bahwa usahanya jadi ramai pengunjung wanita karena spanduk itu. Brian tentu saja awalnya merasa sangat malu karena wajahnya terpampang besar menjadi bintang iklan. Namun ia mendapat kompensasi dari sang penjual berupa tambahan telur dan sayur gratis setiap pembelian seporsi lontongnya.

Brian bersiul sembari membawa pulang bungkusan plastik di tangan kanannya. Berharap Ditya mau makan sarapan. Sesampainya di kostan, ia kembali mengetuk pintu kamar Ditya.

"Dit... Dityaaa..." Namun tidak ada jawaban. Matanya melirik sekeliling, sepatu Ditya masih ada. Mungkin orangnya masih tidur. Brian lalu mengikat kantong plastik itu di gagang pintunya dan menulis pesan di secarik kertas.

Setelah itu ia bergegas mandi dan berangkat ke kampus.


Ditya terbangun oleh suara ketukan di pintu kamarnya, namun kedua matanya terasa sangat berat sampai ia tidak mempedulikannya. Pikirnya paling tadi cuma Brian. Semalam ia baru tidur selama 4 jam karena ada tugas yang harus diselesaikan. Untungnya kelas hari ini diadakan siang hari. Ia pun menarik selimut dan kembali ke alam mimpinya.

Pemuda itu terbangun untuk kedua kalinya. Suasana hatinya masih agak kacau. Yah, jauh lebih baik dibanding semalam, sih. Ia berjalan membuka pintu untuk menyambut sinar matahari masuk. Terlihat ada sesuatu yang aneh saat pintunya terbuka, sebuah bungkusan kantong plastik hitam diikat di gagangnya. Ditya mengambil bungkusan itu yang ternyata diikat dengan kuat agar tidak terjatuh.

Apaan nih, kuah-kuah kenyal?

Pandangannya lalu terfokus pada secarik kertas yang menempel. Dibacanya pesan yang tertulis di kertas tersebut yang hanya terdiri dari 2 kata,

[Sarapan -Brian] 

Sebuah senyuman kecil terbentuk di bibirnya.

Tau aja gue laper...


*PING!

Sebuah e-mail masuk ke ponsel Brian.

[PROMO SPESIAL KHUSUS HARI INI!! NONTON PERDANA BLACK PANTHER BUY 1 GET 1! Syarat dan ketentuan berlaku : Khusus pengguna kartu debit berlogo Visa.]

"Nggi! Ayo kita nonton Black Panther!" Ujar Brian dengan penuh semangat. Anggi yang duduk di sebelahnya jelas kaget.

"Sshhhh...!" Seorang petugas perpustakaan tiba-tiba memberikan isyarat untuk mereka agar tidak berisik.

"Nggi, ayo kita nonton Black Panther... Ada promo beli 1 gratis 1, loh. Cuma hari ini doang." Kali ini ia berbisik.

"...Serius lo?" Anggi heran, ia lalu melirik laptopnya untuk melihat tanggal hari ini, 14 Februari.

Ini kan hari... Ah, jangan-jangan, itu promo couple!

"Gue gak bisa, Bri, kalo hari ini. Ada acara sama temen-temen SMA. Lagian gue juga enggak ngikutin Marvel, sih." Anggi beralibi. Ia tidak mau terjebak di tengah gerombolan anak Depok yang lagi mesra-mesranya pacaran. Kalau sampai ada orang yang dikenal melihat dirinya dan Brian pakai promo couple pasti jadi bahan ledekan.

"Yah, sayang nih. Gue nonton sama siapa dong?" Brian menatap ponselnya dengan cemberut.

"Kenapa gak sama Ditya aja?"

"Doi kumpul UKM hari ini."

"Oalah"

"Gue coba tanya dulu deh." Ia lalu membuka aplikasi Line.

Brian : [BLACK PANTHER UDAH RILIS NIHHH!! GUE DAPET PROMO BUY 1 GET 1!!]

Brian : [Let's go have a movie night!]

Brian : [This'll be the answer after Civil War!]

Brian : [Gue booking tiket ya?]

Setengah jam kemudian pesannya baru dibalas.

Ditya : [Gue latihan band sampe jam 9, Bri.]

Ditya : [Nonton yang midnight aja?]

Brian : [Ada jam 22.35, mau?]

Ditya : [Boleh]

Brian : [Ok, gue booking.]

Brian : [See u there?]

Ditya : [Okay]

Malam harinya Brian sudah tiba duluan di Margo City. Sambil menunggu, ia menyalakan sebatang rokok dan memandangi langit yang kembali turun hujan sekilas. Ponselnya lalu bergetar, orang yang ditunggu juga sudah sampai.

"Oi" Sapa pemuda berambut hitam dari belakang. Hoodie abu-abunya terlihat basah oleh percikan hujan.

"Buset, lo keujanan?" Tanya Brian.

"Iya, udah deket padahal, eh malah ujan." Jelas Ditya sambil menepuk-nepuk jaket yang dipakainya. "Jam berapa sekarang?"

"21.30" Jawab Brian, sambil mematikan rokoknya yang sudah terbakar sampai puntung. "Mau langsung ke XXI?"

"Makan dulu lah, laper gue." Ditya berjalan masuk ke mall.

"Elo traktir gue yah? Kan gue udah bayarin lu nonton." Cengir Brian mengedipkan sebelah matanya. Ditya cepat-cepat memalingkan wajah.

"Iye bacot."

Perasaan Brian seperti sedang ulang tahun. Banyak restoran yang menawarkan promo khusus hari ini. Mereka berdua akhirnya memilih tempat makan dengan diskon yang paling besar, Marugame Udon. Saat memesan makanan, pelayan restorannya menawarkan promo spesial hemat berdua. Tanpa mendengar lebih teliti Brian meng-iya kan saja.

"Ahahahahahaha!" Brian tertawa sendiri saat membaca sebuah artikel di ponselnya.

"..." Ditya yang sedang menyeruput udon-nya melihat dengan tatapan aneh.

"Wahahaha!" Ia kembali terbahak.

Kagak waras nih anak...

"Dit! Dit! Gue punya tebak-tebakan!" Brian menyenggol lengan Ditya.

"... Apa?"

"Lele apa yang ada di pinggir jalan??"

"Uh, pecel lele?" Ia menjawab dengan logis.

"Salah!"

"Lele... Apa yah? Lele goreng?" Ditya terlalu berpikir secara logika

"Salah lagi! Kagak kreatif lo, ah! Jawabannya... Lelepon umum."

... The fuck?

"Ada lagi, ada lagi! Umm... Kota apa yang paling romantis?"

Pasti jawabannya nyeleneh. Harus lebih kreatif mikirnya...

Otak jeniusnya memutar-mutar kata, "Ci-Cilacap!"

"Cilacap? Heheh, kenapa Cilacap?"

"Cinta lama yang tak pernah terucap. EAAA!!" Sebenarnya itu murni isi hatinya.

"HAHAAHAHA! Astagaa, nyet, lo curhat? Itu mah galau kagak ada romantis-romantisnye."

"Bener, kan? Gue gak kalah dari anak sastra."

"Gokil sih, hahah. Tapi salah!"

"Lah, terus apa yang bener??"

"Cikarang."

"Cikarang?"

"Cikarang atau lima puluh tahun tahun lagi, ku masih akan tetap mencintaimu ~"

Yep, this is Brian and his dry sense of humor.

"Pfft, receh anjir..."

Perbincangan garing kedua pemuda itu menarik perhatian pengunjung yang lain, yang terus menerus melirik ke arah mereka.

"Beb, liatin deh. Itu cowok berdua deket-deket banget."

"Parah sih"

"Haha, sayang yah padahal ganteng-ganteng, eh, malah hombreng."

"Emang banyak yang kayak gitu sekarang. Terang-terangan. Hih, geli gue."

"Haha, najis."

Ditya yang menguping bisikan-bisikan tersebut mulai melihat situasi. Dari tadi memang terasa ada yang aneh dengan atmosfernya. Ia amati lagi dengan lebih teliti, ternyata benar saja, semua pengunjungnya adalah pasangan yang sedang pacaran. Apa ini juga ada hubungannya dengan playlist lagu romantis yang dari tadi diputar?

"Bri, tiket nonton yang lo beli emangnya pake promo apaan?"

"Hm? Promo kartu Visa, kok?"

"Khusus hari ini doang?"

"Iya, nih lo baca aja sendiri." Brian menyodorkan ponselnya.

Ditya curiga kalau sahabatnya itu melewatkan sesuatu. Karena di e-mail tersebut terdapat tulisan penutup 'Bring Your Valentine's Date on Feb 14th!'.

Are you fucking kidding me? ...Lupa gue hari ini tanggal 14. Hari valentine. Jadi yang kita makan ini pake diskon couple?? Jerit batinnya

"Dit, Dit." Panggil pemuda bule yang tiba-tiba merangkul pundaknya. "Gue ada tebakan lagi! Makanan apa yang paling enak di warteg?"

"Makanan yang dibayarin, basi ah..." Jawab Ditya seraya mulai muak dengan lelucon itu.


Seusai nonton, mereka berdua pulang naik taksi online. Brian bersenandung dalam hatinya, bahagia karena ia dapat melihat ekspresi wajah Ditya yang lebih berseri-seri daripada sebelumnya. Orang yang duduk di sebelahnya pun berpikiran sama, ia selalu nyaman ketika bersama Brian, beban pikiran yang mengganggunya seperti lenyap terbawa angin.

"Ditya" Panggil Brian dengan pelan, "Kemarin lo bete kenapa?"

Ditya berdecih dalam benaknya, ia memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Brian.

"Biasa." Jawab orang yang ditanya dengan datar.

"Papah?" Tebak Brian. Ditya mengangguk.

"Dia bilang apa lagi?"

"Dia dateng ke kampus kemaren. Perusahaannya ada di acara job fair fakultas teknik. Dia pernah bilang sih ke gue mau ikut serta, tapi gue gak nyangka dia sendiri bakal dateng."

"Terus?"

"Iya, terus, waktu seminar dia nyebut-nyebut nama gue. Dia bilang bangga segala sama gue. Cih! Gue tau itu akal-akalan pencitraan dia doang. Orang lain mana tau dia di belakang piciknya kayak gimana."

Brian terdiam mendengar cerita sahabatnya, ia tahu betul Ditya dan ayahnya memiliki hubungan yang pasif-agresif. Disini bukan tempatnya untuk ikut campur, Ia hanya berusaha menengahi perasaan Ditya. Ingin orang yang penting di hidupnya senang lagi.

Brian ingin Ditya tahu, bahwa ia akan selalu ada disampingnya untuk diandalkan. Itu gunanya sahabat sejati, kan?

"Don't give a shit about it, mate..." Diluar kendali, tangannya memegang dan mengusap pelan lutut sohibnya.

Ditya refleks sedikit terkejut dengan gestur yang diberikan Brian. Namun ia tidak melakukan apa-apa, justru ia berusaha menikmatinya.

Seandainya Brian tahu, Ditya ingin sekali melewati garis batas persahabatan itu.

"Yeah, let's forget it." Matanya berkedip menatap lurus ke arah kaca mobil yang sedang melaju. Ia lalu teringat sesuatu.

"Bri."

"Hm?"

"Lo inget Laras sepupu gue, kan?"

Brian mengingat sejenak "Oh, iya inget."

"Sabtu ini dia nikah."

"Uh huh?"

"Lo temenin gue ke undangannya, yah. Males kalo gue sendirian sama Mamah pasti ngumpulnya sama emak-emak."

"Heleh, elo nyari pelarian apa nyari pendamping? Yaa boleh aja sih..." Brian Terkekeh.

"Kagak, bego." Gerutu Ditya.

Chapter Text

Resepsi pernikahan Laras diadakan pada hari Sabtu sore di Ballroom Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta pusat. Tante Tita dengan heboh sudah menyewa beberapa kamar untuk sanak saudara yang datang dari jauh. Mamah dan Ditya juga diminta datang lebih awal. Niatnya agar ibu-ibu bisa makeup bareng, karena grup penata riasnya sudah dibayar mahal.

Mobil Ford Fiesta milik Ditya bergerak mengambil rute memutar arah, dirinya harus menjemput pendampingnya dulu, ehm, sohib maksudnya. Brian. Entah atas dasar apa pemuda berambut coklat itu sangat antusias menghadiri acara tersebut.

Saat Brian memasuki mobilnya, ia sudah berpakaian rapi dan wangi. Ditya mengira kalau Brian akan mengenakan sesuatu yang lebih elegan, seperti jas atau apalah. Namun tidak, penampilannya simpel, ia hanya mengenakan kemeja batik motif Solo berlengan panjang, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel. Ditya lupa kalau si bule Aussie itu lebih nasionalis daripada dirinya sendiri.

Kayak pak lurah.

Ini juga pertama kalinya Mamah bertemu lagi dengan Brian setelah sekian lama. Saat berjumpa, keduanya saling menyambut dengan riang gembira, berlagak seperti kawan lama yang baru bertemu, mengabaikan Ditya yang memegang kemudi layaknya supir pribadi mereka.

Sesampainya di Hotel, mereka langsung disambut oleh kakaknya Mamah, Tante Tita.

"Aduduuuuh, Dityaa, ponakanku yang sudah bujaang!" Sahut Tante Tita, wanita gempal yang menggabruk dan menyerangnya dengan ciuman lengket di pipi kanan-kirinya.

Ugh...

"Hehe... Iya tante..." Ia memaksakan tawa.

"Iya nih, mbak. Si Ditya itu gak punya pacar. Kalo dirumah kerjaannya diem aja terus di kamar. Kurang apa coba anakku ini? Masa sih gak ada cewek yang suka?" Sahut Mamah menepuk-nepuk bahu putranya.

"Apaan sih, mah." Timpal Ditya yang agak risih, melepaskan tangan Mamah dari bahunya.

"Ini... Ini Brian?" Tanya Tante menoleh ke arah bule tersebut.

"Halo Tante... Saya ikut nemenin Ditya, hehe. " Brian mencium tangan wanita itu dengan sopan. 

"Ya ampunnn... Udah dewasa sekali ya hahaha. Terakhir liat kayaknya kamu sama Ditya masih SMP, deh. Awet banget kalian temenannya. " Lalu perhatian Tante Tita terfokus kembali pada keponakannya.

"Kamu ganti baju gih, sekarang. Tante udah siapin baju seragam buat kamu." Tante Tita menunjuk pada sebuah pakaian adat berwarna kecoklatan yang terlihat longgar, "Pagar bagus semuanya pake setelan itu."

"..."

"Uhh Tante... Ditya udah bawa jas sama kemeja sendiri kok, hehe. Sayang kalo nggak dipake, iya kan, Mah?" Ditya melotot dan berkedip ke arah Mamah, memberi israyat meminta pertolongan.

Entah Mamah tidak mengerti atau apa, yang pasti responnya sangat tidak membantu, "Pake yang ini aja. Bagus tuh, ada blangkonnya lagi."

"Iya kan, mbak? Cepetan dicobain dulu!" Tante gempal itu bergegas menarik baju tersebut dari rak.

"...!!" Ditya dapat mendengar suara Brian yang menahan tawa.

"Anu, kalo saya aja yang pake boleh gak, Tan?" Cletuk Brian dengan mata berbinar penuh energi.

"Boleh dong!"

Dengan senang hati Brian langsung membawanya ke ruang ganti pria bersama Ditya, yang juga sekalian siap-siap. Mereka berdua masuk ke bilik ganti yang bersebelahan. Ditya hanya membawa setelan blazer dan celana hitam, kemeja putih polos, serta sepatu formal. Ketika ia sedang di tengah proses mengganti celana, tirai biliknya ditarik paksa oleh seseorang.

"Ditya!"

"WOI!!" Orang yang kaget tersebut berusaha menutupi bagian bawah tubuhnya yang hanya terbungkus celana dalam.

"Ini cara ngiket kain batiknya gimana?" Tanya sang pelaku dengan polos.

"Anjir, Bri, lo gak bikin gue jantungan bisa nggak!?" Korban buru-buru menaikan celananya.

"Sensi amat, sih. Segitu gue pernah liat juga."

Akhirnya pemuda itu berhasil memakainya sendiri dengan menonton video tutorial Youtube. Dirinya merasa sangat puas dan dengan bangga memamerkan posturnya yang gagah pada tamu undangan yang lain.

Brian, bule yang 100% cinta Indonesia.

Ditya menggeplakan tangan di wajahnya sendiri.


"SAAHHH!!" Sorak gembira seluruh hadirin pernikahan setelah wali dan calon mempelai pria membacakan kontrak pernikahan. Baru pertama kali Brian menyaksikan langsung hal semacam ini, karena itu ia amat bersemangat.

Selanjutnya adalah acara pesta perjamuan dan first dance. Saat-saat yang paling ditunggu oleh semua tamu undangan. Sang MC menampilkan film pendek cerita cinta mereka, yang berawal saat menjadi teman kuliah.

Seluruh lampu sorot berkelap-kelip ke arah kedua pengantin baru, yang saling mendekap dan berdansa seirama dengan diiringi lagu 'A Thousand Years'-nya Christina Perri. Laras menari perlahan dengan gaun kebaya indah yang dikenakannya, hiasan kepalanya menjuntai hingga kebawah. Anak gadis yang kini telah dewasa itu memancarkan aura yang sangat cantik. Disampingnya, Mas Bayu tersenyum bangga, dirinya dapat menggandeng wanita yang tercintanya. Kedua pasangan terlihat sangat serasi.

Dengan arahan MC, mereka berdua lalu mengutarakan janji suci.

"Saya, Bayu Putratama." Ia terhenti oleh air matanya yang membendung.

"Berjanji akan mengasihi engkau sebagai istriku seumur hidupku. Seperti aku mengasihi diriku sendiri. Seperti Tuhan mengasihi hambanya. Sampai maut memisahkan kita."

"Saya berjanji. Saya akan selalu menerima Larasati Kirana sebagai istriku dalam segala hal. Dalam keadaan suka maupun duka. Dalam kelimpahan maupun kekurangan. Dalam keadaan sehat ataupun sakit."

"Dan saya juga berjanji. Untuk memelihara dan bertanggung jawab atas anak-anak yang dilahirkan oleh Larasati Kirana."

Kali ini giliran Laras.

"Bayu."

"Dulu ada saatnya aku hampir menyerah soal cinta. Sampai pada suatu titik, aku memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada Tuhan. Aku percaya, Tuhan pasti mendengar semua doaku. Dan Tuhan tahu semua yang Aku inginkan dan butuhkan. Karena itulah, Tuhan memberiku kamu."

"Dan hari ini, Aku ingin berjanji. Aku akan selalu mengingat. Bahwa engkau lah jawaban dari semua doaku. Hadiah terbaik Dari Tuhan akan selalu aku kasihi."

"Aku cinta kamu."


Sebuah malam yang indah, ruangan itu dipenuhi dengan perasaan suka cita dan kasih sayang. Suatu momen ketika sepasang kekasih yang sedang cinta-cintanya, mengikat janji suci hubungan mereka dengan pernikahan. Berjanji akan hidup beriringan sepanjang masa. Brian hanya dapat terpesona sambil berfantasi tentang pernikahannya sendiri nanti.

"Hey." Colek Brian. "Wanna go somewhere less crowded?"

"Yeah." Ditya menuntunnya keluar, menuju area taman dan kolam renang.

Waktu sudah menunjukan jam 7 malam. Kedua sahabat karib berjalan santai mengitari kolam renang yang biru. Membicarakan hal yang tidak penting di bawah langit Ibu Kota yang bersih tak berawan.

"Gak kerasa yah, Dit. Laras udah nikah lagi aja." Brian melepas alas kaki, iseng membasahi jari-jari kakinya dengan air kolam.

"Iya, padahal dulu dia sering main sama kita." Ditya mengingat masa kecil mereka.

"Hehe, dulu dia tomboy, kan?"

"Iya ya? Ketemu Mas Bayu langsung jadi cewek girly dia."

"Kalo gue nikah nanti, konsepnya harus heboh pokoknya. Gaya modern ala Vegas boleh juga. Ato kayak film Twilight di alam terbuka." Cerocos Brian.

"Gue belom mikir kesitu... Kayaknya yang biasa aja, eksklusif pinggir pantai. Gak perlu ngundang orang banyak. Biar kateringnya hemat." Tanggap Ditya.

"Kaya Raffi & Gigi?"

"Alay bet, tontonan lo begituan."

"Daripada elo kagak pernah merhatiin sepak terjang dunia persilatan tanah air."

"Wew. Berat yah, bahasanya anak sastra."

"Yoi."

Ditya merogoh saku blazernya, mengeluarkan benda elektronik berbentuk persegi panjang.

"Sejak kapan lo vaping?"

"Si Gilang punya vape store, gue ditawarin paket murah udah termasuk liquidnya." Ditya menghirup dan menghembuskan kembali asap tebal yang berbau manis seperti permen karet.

"Bisa bikin trik nggak lo?" Brian menantangnya.

Ditya menghirup kembali dan mencoba membuat asapnya membentuk cincin, namun hasilnya tidak bagus.

"Susah, bro."

"Sini gue coba." Brian merampas rokok elektrik milik sohibnya. Sensasinya berbeda dengan rokok biasa. Ia punya ide menarik, ia akan mengeluarkan asapnya dari hidung. Namun usaha pemuda itu gagal, dan ia jadi batuk-batuk merasakan asap yang perih.

"Hahahahahah. Soksoan sih, si bego."

"Ketawa aja lo, monyet!" Brian meraih kerah kemeja Ditya dan memasukan tangannya kedalam untuk menggelitik orang yang menertawakannya.

Ditya yang tertawa geli mencoba berontak, namun tenaga Brian terlalu kuat sehingga ia tak bisa lepas.

"WAHAHAHA!! Ampun! Ampun, Bri!" Mohon Ditya yang kegelian hingga wajahnya memerah.

Brian yang menyeringai lalu melepaskan tawanannya. Keduanya terengah-engah, Ditya menjaga jarak diantara mereka. Takut Brian akan jahil lagi.

Kedua pasang mata saling menatap, selama beberapa detik, sebelum akhirnya mereka tertawa lepas.

Dalam momen kehangatan tersebut, pemuda bule itu mencuri pandang ke arah orang yang sedang bersamanya.

Ditya sedang tersenyum memandang langit malam bertabur sedikit bintang. Gemerlap cahaya dari gedung pencakar langit di pusat Jalan Sudirman bersinar di wajahnya, menerangi parasnya yang menawan. Dia tampak benar-benar ceria. Brian hanya bisa menatapnya dengan kekaguman. Dalam sekejap, jantungnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan, melewatkan denyutnya.

Ada satu jenis perasaan yang aneh, yang secara misterius mengalir keluar dari lubuk hatinya, sedikit rasa gugup yang bergetar, gatal dan menggelitik. Tetapi juga terasa sangat nyaman, seperti melunakan tulang, Begitu nyamannya sehingga ia lupa bahwa waktu masih mengalir.

...What is this feeling?

Mereka berdua saling melempar candaan untuk waktu yang lama. Hanya Brian dan sahabat sejati disisinya. Lengannya bersandar merangkul Ditya. Musik orkestra yang terdengar merdu dari Ballroom. Pesona arsitektur Da Vinci Tower yang indah. Apa lagi yang kurang? Andai momen seperti ini bisa berlangsung seterusnya.

Namun hatinya tiba-tiba kalut. Brian teringat oleh keputusan keluarganya untuk kembali ke Australia.

Angan-angan yang ia harapkan itu nihil.

Cepat atau lambat Brian harus memberi tahu Ditya yang sebenarnya.

"Ditya..."

"Hm?"

"...Gue gak akan tinggal lebih lama lagi disini."

Ditya mengernyitkan alisnya, tidak paham maksud Brian, "...Hah? Gimana maksudnya?"

"Gue gak bakal lama lagi tinggal di Indo, Dit. Keluarga gue udah mutusin buat pulang secara permanen ke Adelaide tahun depan."

Mendengar kabar tersebut, tubuh Ditya menjadi tegang, seakan aura dingin merayap ke tulang punggungnya. "Lo bercanda, Bri?"

Tidak, Brian menatap lurus ke matanya.

"...Gue serius."

Hatinya seperti dicakar dan meninggalkan luka yang dalam. Bagaimana tidak?

Walaupun perasaannya sakit, dia tidak sepenuhnya kaget. Ditya sadar ketika semakin dewasa, mereka tetap harus memilih jalan hidup masing-masing. Hanya saja, dengan perasaan yang dimilikinya, ia tidak ingin melepaskan Brian.

"Apa karena Daddy pensiun?" Ditya menebak.

"Iyaaa ada faktor itu juga, sih... Alasan sebenernya, karena Pops yang minta. Dia udah tua, udah sering sakit." Brian menggigit bibir bawahnya, "Dia nitip pesen kalo suatu hari dia meninggal, dia mau semua keluarganya kumpul."

"...Oh."

Suasana menjadi hening. Sampai Brian yang mulai angkat bicara.

"I'm sorry..."

"For what?"

"For having to leave you soon..."

"..." Jantungnya berdegup kencang.

"You're my best friend, Ditya..." Brian menyembunyikan wajahnya di leher Ditya.

Pemuda berambut hitam itu berusaha mencairkan suasana, "Kenapa lo ngomong kaya salam pamitan gitu, sih? Kita masih bakal tetep sahabatan, lah, santuy."

Namun sahabat bulenya malah mengeluarkan suara isakan. Ia meraih tangan Ditya dan menggengamnya.

"Jangan cengeng, ah! Malu-maluin lo." Meski berkata demikian, dia sendiri berusaha menahan pilunya dalam hati. Ditya mengacak-acak rambut Brian yang masih bersandar.

"Janji?"

"Iye. Janji."

"Waktu gue cuma sampe wisuda."

"Masih lamaa, elah."

"Let's make the most of our time then?"

"Hm? aren't we doing it now?"

Chapter Text

Brian buru-buru mencucup secangkir espresso mix yang baru saja ia seduh di pagi buta. Seakan dengan dorongan kafein tersebut, ia mampu berkonsentrasi lebih untuk menyelesaikan tugas matkul Korespondensi Bahasa Indonesia yang menumpuk akibat kecanduan main PUBG.

Juuust one more paragraph...

Sambil ditemani speaker yang me-repeat lagu Raisa yang berjudul 'Teka Teki', jari-jemarinya dengan lihai mengetik kata demi kata yang akan ia susun menjadi sebuah karya tulis.

Dirimu buatku selalu penasaran

Terkadang menjauh, terkadang buatku tersipu

Malu manisnya ucapanmu

Membuatku tak menentu

Ku tak tahu harus bagaimana

Suara merdu penyanyi cantik Raisa Andriana ternodai oleh nyanyiannya sendiri yang rada fals. Kekaguman Brian padanya mulai berakar sejak saat musisi wanita itu tampil menjadi guest star di pensi SMAnya. Bahkan sampai saat ini, Ia rela pergi keluar kota hanya demi menonton setiap penampilan idolanya secara langsung. Menurutnya Raisa itu Miss Perfect, pribumi cantik, ramah, suaranya bagus dan jago main musik. Hal itu pula yang menjadikan Raisa sebagai acuan untuk tipe cewek idamannya.

Sungguh kau buatku bertanya-tanya

Dengan teka-teki teka-tekimu

Mungkinkah ku temukan jawaban

"Teka-teki, teka-tekimu!" Sifat autisnya otomatis muncul ketika ikut menyanyikan reff. Kepalanya ikut bergoyang. Ia hilang ke dalam dunia fantasi.

Dugg!

Tangannya yang bergerak kesana-kemari tidak sengaja menyenggol cangkir kopi disamping macbooknya. Menumpahkan cairan coklat ke seluruh bagian keyboard dan meja.

"Bloody hell!!" Brian mengumpat dan langsung berdiri dari tempat duduknya. Tidak pikir panjang, dengan sigap ia melepas kaos tipis yang dipakainya untuk mengelap, dan segera menyingkirkan benda-benda elektronik dari area yang basah. Namun nasibnya saat itu sungguh sial. Macbooknya yang basah tiba-tiba mengeluarkan suara setruman hingga mendadak mati.

"No. No. NOOOOOO!" Brian mengeluarkan teriakan dramatis putus asa sambil berusaha mengotak-atik laptopnya. Rasa sedih bercampur panik yang bukan main saat seorang mahasiswa sedang dikejar deadline tugas namun laptopnya tiba-tiba rusak. Belum lagi tugasnya harus dicetak dan dikumpulkan siang ini. Untungnya datanya sudah disimpan secara otomatis di iCloud sehingga setidaknya ia bisa bernapas lega karena tidak perlu memulai lagi dari awal.

Sekarang yang ia perlu lakukan adalah meminjam laptop untuk merampungkan keperluan kuliahnya sebentar sambil meminta bantuan dari seseorang yang mengerti elektronik. Orang nomor satu yang paling bisa diandalkan tentang masalah ini adalah anak kamar sebelah, Ditya.

Lantas bergegaslah ia keluar kamar untuk menemui orang yang memenuhi otaknya saat ini. Pintu kamar Ditya yang tidak tertutup rapat membuat Brian seenaknya masuk, namun orang yang dicari tidak muncul dalam pandangannya.

"Dityaa..." Panggil Brian pada temannya, tidak ada yang menyahut. Tapi tunggu, Ia mendengar suara pancuran air yang berasal dari dalam kamar mandi.

Si monyet lagi boker kali ya?

"Dit?" Ia mengetuk pelan pintunya.

"Siapa!?" Sahut orang di dalam dengan nada tinggi. Sepertinya ia waswas jika ada orang jahat yang tiba-tiba masuk.

"Ini gue Brian! Gue pinjem laptop lo bentar!" Balasnya yang juga ikut menaikan nada.

"Hah? Apaan, Bri!? Ntar dulu dah, gue baru mau mandi!" Ucapan Brian tidak terdengar jelas karena terganggu oleh bisingnya gemericik air.

Sebodo lah, gue pake aja laptopnya.

Laptop Ditya dibiarkan terbuka diatas meja belajarnya. Brian mengambil benda pipih itu dan dengan santai merebahkan tubuhnya di kasur sang pemilik kamar, ia tekan tombol on. Dan...

Oh blimey!

Hal pertama yang langsung muncul saat laptop Ditya dinyalakan sangatlah tidak terduga. Itu adalah video seks full screen dengan kualitas HD dari situs bokep Pornhub, lengkap dengan dialog desahan wanita yang cukup nyaring.

"Mmmhh~ Mwahh your dick is so big..."

"...Yeah?"

"Mhmm~ God I love it!"

"Hey, open your mouth."

"Yeahh... Ahh that's it... Suck it good."

Matanya melebar, sedikit tercengang. Ia membaca judul video tersebut yang bertuliskan 'Wet deep blowjob with a hot blondie. Cumshot in mouth!'. Bukan hanya itu, terdapat beberapa judul sejenis yang terbuka bersamaan di tab lain.

[Amateur Homemade Big Tits.]

[College Students Sex Tape.]

[My best friend sucked my dick.]

Lupa dengan tujuannya kemari, si bule malah lanjut streaming video porno itu satu-persatu. Memanfaatkan kesempatan bahwa temanya masih di kamar mandi.

"Man yo ass is smokin' sexy!"

"Ahh! AAAHH! Mmmhh~ Give it to me, Daddy!"

Tidak bisa dipungkiri, Brian merasa terangsang, atau bahasa gaulnya sange. Pria itu mengusap pelan Brian Jr. diantara kedua pahanya yang masih terbungkus celana boxer. Perlahan mulai ereksi hingga ukuran maksimal, 19 cm. Terberkatilah genetik kaukasianya!

KREK!

Suara pintu kamar mandi terbuka. Brian terperanjat, segera memperbaiki posisi duduknya dan membisukan volume laptop Ditya. Sosok pemuda sebayanya berjalan keluar dengan sehelai handuk membungkus bagian bawahnya. Tangannya menyeka rambut hitamnya yang basah, masih meneteskan air di kulitnya yang mulus. Seketika semerbak harum sabun menghiasi ruangan.

Pemuda itu tertegun saat melihat Brian, sontak ia melontarkan pertanyaan "Lo mau ngapain, Bri?"

Mustahil baginya untuk tidak mengeluarkan pertanyaan itu, pasalnya sosok pemuda bule yang diam-diam ia taksir sedang tampil hampir telanjang di atas tempat tidurnya. Wajahnya yang masih lembap tersipu memerah.

"Eh? Uhh... Laptop gue rusak, Dit. Pinjem punya lo dulu bentar ya, kelarin tugas doang ko dikit lagi." Jawab Brian dengan canggung. Mata birunyanya sesekali berpindah antara Ditya dan layar laptop, adegan ranjang film bokep yang lagi panas-panasnya masih diputar meski dalam mode bisu.

"Rusak?" Tanya Ditya sembari memakai deodoran. Brian mengangguk.

Pemuda itu mengambil pakaian dari lemari dan melemparkannya ke kasur. Ia bersiap untuk melepaskan kain handuk pendek yang membungkus area privatnya. Namun ia merasa sedikit risih karena dikamarnya ada orang lain.

"Minggir, gue mau ganti baju." Titahnya sambil menengok ke arah Brian.

"Just do it. I don't mind." Brian tampak serius menatap layar elektronik dipangkuannya.

Well, I DO mind, dumbass...

Ya sudah lah, pikirnya hanya Brian ini, lagipula orangnya juga sedang asyik sendiri. Dengan cuek Ditya membelakangi Brian, mencopot handuknya dan memakai kancut.

Glek... Brian menelan ludah.

Adegan video mesum terus berlanjut, kedua pemeran berganti ke posisi gaya anjing. Sang aktor dewasa melakukan aksi 'maju-mundur-getar-goyang' dengan batang jantanannya sambil meremas-remas pantat mulus pasangan wanitanya yang menggeram keenakan.

Damn... Her ass is a winner.

Diam-diam bola matanya berputar diluar kendali melirik sahabatnya sendiri sedang memakai kancut segitiga, ia mendapati pemandangan tubuh yang segar. Jika dilihat dari ujung rambut sampai ujung kaki, sahabat masa kecilnya memiliki hasil pubertas yang menakjubkan. Tubuhnya sehat, walaupun lekukan dan ototnya tidak seaduhai Brian. Dengan dada bidang dan perut yang datar, ia cukup berisi, tidak kurus maupun gemuk, tulangnya pun padat. Belum lagi ia dianugerahi wajah yang tampan, kulit yang bersih dan... Wow... Pantatnya bulat dan kencang.

Saat ini otaknya tengah dikepung oleh  akal kotor. Warna kulit wajah Brian berubah merah padam. Fantasinya jadi bercampur aduk. Telapak tangannya gatal ingin meremas sesuatu. Sekilas pikirannya menghasratkan untuk mencaplok bantalan empuk sohibnya yang terpajang gamblang didepan mata. Situasi erotis ini membuat Brian Jr. ingin meluap. Namun akal sehatnya yang tersisa segera mengambil alih.

What the hell am I thinking!?

Ditya merasa ada aura yang mengganggu kenyamanannya, Ia menengok ke belakang dan mendapati sosok Brian yang memperhatikannya dengan ekspresi yang aneh.

"Why are you looking at me like that?" Rasa curiganya semakin muncul.

"N-Nah I just think that your room is pretty clean." Jawaban bodoh macam apa itu. Brian berpura-pura mengetik, kepalanya melihat sekeliling. Kini tangannya kembali membuat kesalahan bodoh, ia tidak sengaja menonaktifkan mode bisu. Seketika suara rintihan panas terdengar jelas.

"Ahh! OHH!"

"Right there! Fuck me right there!"

Pemilik laptop kaget bukan kepalang. ingatannya tidak sadar untuk menutup browsernya sejak semalam. Spontan ia melangkah cepat dan menyergap benda elektronik miliknya.

"Hey, hey, calm down! I still need it!" Brian mencengkram laptop itu kuat.

"Then close the fucking browser!" Gerutu Ditya yang merasa sangat malu. Ia terpaksa harus naik ke kasur karena Brian terus menghindar. Kedua pemuda berperang memperebutkan laptop itu tanpa menyadari bahwa keduanya hanya mengenakan boxer dan celana dalam.

KREK!

Tiada angin, tiada hujan, seseorang tak diundang menerobos masuk.

"Dityaaa... Mau pinjem obeng dong." Suara cempreng itu datang dari salah satu teman kostnya yang tidak tahu malu membuka pintu kamar orang.

"...Eh?" Anak lelaki polos itu tidak menyangka akan melihat dua laki-laki 'bugil' sedang bergulat di tempat tidur, ditambah bunyi desahan dari speaker menimbulkan paham yang makin melenceng.

Semua orang saling menatap canggung. Wajah penerobos itu dipenuhi ekspresi syok. Perlahan ia bergerak mundur dan menutup pintu.

"Oh shit..." Ucap Ditya dan Brian bersamaan.

Anak yang malang, sepertinya kejadian itu akan memberinya trauma yang berkepanjangan.

Chapter Text

Brian menceritakan semua kronologi kejadian apesnya. Sekarang keduanya sudah berpakaian lebih tertutup, agar tidak ada kesalahpahaman yang menyedihkan lagi di antara penghuni kostan Ibu Lulu. Ia meminjam kaosnya Ditya. 

“Kampret anjir, lagi dikejar deadline laptop gue pake ada acara ngadat lagi…” Keluh Brian sambil memperhatikan Ditya dari belakang yang sedang berusaha melepas rangka Macbooknya untuk dikeringkan.

“Tolol bet. Makanya lo kalo bego jangan kebangetan. Lagian ngapain pake joget segala ?

“Yeh elo ngeledek mulu, namanya juga gak sengaja, nyet.” Brian menoyor kepala Ditya ke samping.

Tersungut oleh aksi temannya yang tidak tahu terimakasih, Ditya menjambak rambut Brian. 

“Oww!! OOWW!!! Sakit!”

“Geblek, mau gue lempar nih laptop? Hah! ?

“Iyeee ampun, Dit, ampunnn… Jangan dilempar dong nanti tambah rusak.“ Baru setelah Brian bilang begitu Ditya melepaskannya. Pertemanan mereka kadang memang penuh kekerasan.

”Jangan galak-galak dong, sayang...” Ujar pemuda bule itu memijat-mijat pundak dan leher temannya yang tegang dari belakang. Si bodoh itu berniat mencari muka.

”Cih, gausah pegang-pegang.” Ditya mendorongnya menjauh, tetapi semakin dilarang tingkahnya si Bule makin disengaja. Brian membungkukkan tubuhnya, dagunya bersarang diatas kepala Ditya. Ia mencium semeliwir wangi rambutnya yang segar. Padahal mereka berdua menggunakan merk shampo yang sama, tapi entahlah kenapa saat dipakai Ditya aromanya seperti lebih harum. Pemuda itu lalu memejamkan matanya, terlarut dalam rasa nyaman. 

Orang yang ditindih tidak memberikan tanda perlawanan. Jantungnya berdebar kencang saat merasakan dada bidang pujaan hatinya melekat erat pada punggungnya. Alasan ia tidak menggubris Brian adalah karena takut pemuda bule itu mengintip wajahnya yang memerah.

Heheh he’s not trying to get me off... it feels kinda comfy tho... Snuggling close to him… He looked so serious down there, I wonder how he would react if I kiss his forehead... Wait, what?

Brian menyadari sesuatu yang salah dengan isi kepalanya. Sontak ia berdiri tegak dan melangkah mundur. Pigmen kulitnya berubah pucat pasi. Bulir keringat dingin mulai membasahi tepi pelipisnya. Aliran darahnya bergerak abnormal.

...Why do I feel like this? 

Ditya masih fokus memeriksa macbook bobrok Brian. Sudah berkali-kali dicoba namun layarnya tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan , padahal indikator listriknya masih menunjukan ada daya terhubung . Pasti ada kerusakan pada bagian internal pikirnya.

”Bri, coba lo bawa ke tempat servis. Dugaan gue ini logicboard nya yang kena, soalnya layarnya gak mau nyala tapi listrik masih nyambung.” 

”Kalo gue bawa ke iBox apa bisa claim garansi?” Brian menggaruk-garuk kepalanya.

“Biasanya sih enggak, kalo masalah kesiram kan salah elo bukan salah pihak penjual. Kalo sampe logicboard nya yang rusak bisa kena 2 jutaan tuh.” Sialnya Brian benar-benar melupakan hal itu. Persetan, saat akhir bulan begini ia harus merogoh kocek sebesar itu.

 “Lo dulu beli macbook dimana?“

“Di iBox Gancy.“

“Yaudah bawa kesana aja balik lo ngampus.“

“Temenin.“

“Gue latihan band, Bri. Besok manggung di Kemang.“

“Manggung lagi?”

“Iya.”

“Plis, temenin gue bentar aja, Dit. Udah lama juga, kan, kita gak nongkrong bareng? Sekalian gue minjem laptop lo buat kelarin tugas.”

“Gak bisa, Bri. Gue udah pegang janji sama anak-anak malem ini latihan. Ajak Anggi aja ato siapa kek ke Gancy.”

“Bolos lah sekali ini aja.”

“Enggak, Bri. Band kita lagi pada  sibuk.”

Sigh… This bullcrap again.

Ditya akhir-akhir ini memang banyak beraktivitas dengan UKMnya. Band mereka kini tampil dengan nama ‘ Yellow Jackets ’, kalau dipikir-pikir representatif juga sih namanya, wong isinya mahasiswa UI semua. Sebenarnya untuk ukuran grup band seumur jagung seperti YJ, perkembangan mereka bisa dibilang cukup pesat. Mereka sudah cukup dikenal khususnya daerah Jakarta, Bahkan YJ sempat mendapat tawaran untuk mengisi acara pensi-pensi sekolah. Semuanya berkat tim humas mereka si duo anak jurusan Psikologi, Cinta  & Gilang. 

Oleh sebab itulah ketika selesai kelas Ditya pasti langsung cabut ke ruang sekre bersama anak band yang lain untuk latihan, dan baliknya pun tidak tentu, bisa sekitar waktu tengah malam atau subuh, bahkan pernah sampai tidak pulang sama sekali. Karena itulah kadang-kadang Brian suka merasa sedikit dikacangin .

Brian berdiri membisu di dekat pojokan pintu, dengan tangan menyilang dan alis mengernyit seperti pria tua. Matanya berputar menjauhi sosok sahabatnya. “Nape sih, semenjak punya banyak temen baru, lo jadi sibuk mulu ama mereka?”

Ditanya begitu, Ditya tentu kebingungan. Apa yang mungkin dimaksudkan Brian? 

“Emang lo gak cape apa latihan mulu, Dit? Ga ada waktu apa buat rehat bentar bareng gue?” Sumbu pendek otaknya mulai terbakar.

“Ya Tuhan, Bri. Gue harus latihaaan. Bukannya gak mau nemenin elo.” Ia memang mulai sibuk. Tapi ia merasa biasa saja pada Brian. Apa iya Brian merasa bahwa dirinya dicuekin ?, “Brian-” 

“Ngerti kok kalo lo sekarang lebih mentingin band. Mungkin gue cuma bakal ganggu jadwal sibuk lo doang.” Belum selesai Ditya mengucapkan kalimatnya, Brian yang mendadak emosian segera memotongnya tanpa jeda. 

Wow, tunggu dulu. Mengapa Ditya merasa dirinya disalahkan disini. Posisinya kini di tengah-tengan antara bingung dan kesal. Pagar yang membendung kesabarannya mulai terkikis. Kali ini Brian sangat kekanak-kanakan, ‘Yaudah. Oke. Gue anter. Balik ngampus gue tungguin lo depan kelas.”

“Gak usah. Gue bisa sendiri.” Brian segera menyambar laptopnya namun tangannya langsung dihadang oleh Ditya.

“Bri, mikir apa sih lo sebenernya? Kenapa tiba-tiba ngomong kaya gitu? Jangan kaya bocah SMP lah gak ditemenin doang langsung bete.” Brian menepis genggaman itu dan berjalan keluar kamar Ditya, menutup pintunya dengan agak keras.

“...Lah?”

Si bego kepancing sinetron apaan dah?

Chapter Text

“Selamat datang di Indomaret, selamat belanja!” Sapa mbak penjaga toko dari balik konter.

Suhu udara Jabodetabek saat itu sedang meroket ekstrim. Bahkan AC Indomaret saja hampir tidak mempan untuk menangkalnya. Seorang pria muda dengan hoodie abunya melangkah menyusuri rak minuman dingin. Ia lalu berdiri mematung di depan pintu cooler yang terbuka lebar untuk dapat merasakan sensasi hawa sejuk yang sebenarnya tidak terlalu signifikan. Untungnya pengunjung toko kala itu sedang sepi sehingga ia bisa dengan leluasa ngadem disana.

*PING!!!

Ponsel dalam saku celananya bergetar. Dikira penting, ternyata notifikasi tersebut hanyalah pesan spam yang menawarkan pinjaman online. Jarinya lalu iseng membuka instagram, ada beberapa follower baru yang mengikutinya di akun media sosial tersebut. Mayoritas dari mereka adalah penggemarnya YJ. 

Merasa karya band mereka di apresiasi masyarakat, dirinya turut merasa bahagia. Ia lalu membuat pengumuman dengan instastory yang bertajuk, 

[Yellow Jackets will perform tomorrow @dialogue_arts at 7 PM!

Tak lama setelah ia membuat instastory tersebut, ada akun lain yang membuat updatean muncul paling depan di homepage nya. Akun itu tidak lain adalah orang yang tadi pagi adu omel dengannya. Siapa lagi kalau bukan idiot Brian. 

Sahabat bulenya itu merepost sebuah pesan galau yang dikutip dari lirik lagu Kunto Aji yang berjudul 'Terlalu Lama Sendiri'. Apa lagi coba maksudnya jika bukan menyindir, iya kan? 

Duh bocah… Bocah… Badan aja gede. 

Omong-omong soal badan, rekaman pikirannya berputar, mengulang adegan saat ia dan Brian bergulat memperebutkan laptop, saat Brian memijat-mijat lehernya, saat Brian mengerahkan berat tubuhnya dalam gestur yang intim, saat ia dapat merasakan hangatnya tubuh Brian yang mendekapnya.

… Dia beneran manggil gue 'sayang'? 

Ditya menghela nafas. Salah apa dia sama Brian? Entah kenapa, Brian jadi super manja dan suka meributkan hal yang tidak penting, seperti pagi tadi contohnya. Apa mungkin Ditya kurang memberinya perhatian? Yah, mau bagaimana lagi, dirinya juga banyak keperluan. Lagipula kalaupun Ditya ada waktu senggang, malah giliran Brian yang sering dikejar tugas sehingga tidak bisa ikut nongkrong bareng seperti biasanya. 

Kalau dipikir-pikir, ia jadi merasa bersalah juga. Ia tidak ingin meninggalkan Brian.

Ia lalu hendak pergi meninggalkan mini market tersebut dengan membeli sebotol minuman soda. 

"Mau sekalian isi pulsanya, kak?" Ujar mbak penjaga kasir yang berusaha terlihat seramah mungkin meski makeupnya agak luntur akibat keringat gerah yang menyiksanya. 

Someone please give this person a medal!

"Gak usah." 

"Isi token listriknya barangkali?" 

"Nggak, mbak. Ini aja." 

"Ada tambahan lainnya, kak? Kebetulan kita lagi promo Pocky beli 1 gratis 1, all variant."

Ditya berpikir dua kali mendengar tawaran itu. Brian suka jajanan begituan. Ia berinisiatif untuk menghubunginya duluan nanti dan menghadiahkan Pocky itu sebagai tanda permintaan maaf. 

"Boleh deh, mbak." 

Ruang sekre yang kosong memang tidak seramai kostan. Ditya membaringkan tubuhnya diatas sofa panjang yang warnanya dekil. Ia orang pertama yang tiba disana. Pemuda itu menatap ruangan persegi hampa yang saat ini hanya dihuni dirinya sendiri. Ditya lalu membuka ponselnya dan mengetikkan pesan di chatroom Brian. 

Ditya : [Bri] 

Ditya : [Lo dimana?] 

Ditya : [Sini ke ruang sekre, gue gak ada temen] 


"Apa kata abangnya tadi, Bri?" Tanya Anggi, gadis yang sedang menyeruput boba milk tea. 

"Beneran logicboardnya yang kena. Abangnya bilang sparepartnya gak ready jadi harus indent, mungkin perbaikan bisa sampe 2 ato 3 hari." Jawab Brian yang duduk berhadapan dengannya. Ia berhasil membujuk Anggi untuk menemaninya ke Gandaria City. 

"Nah terus lo mau nugas gimana? Besok kita harus asistensi terakhir, lho." 

"Minjem komputer nyokap mungkin. Tapi masa gue harus balik, sih? Jauh bet males. Gue ngerjain di kostan lo aja boleh, Nggi?" 

"Kerjaan gue aja masih numpuk, Bri. Entahlah kayaknya gue bakalan begadang malem ini." Anggi lalu berselancar di media sosialnya. "Eh iya, YJ besok manggung di Dia.Lo.Gue Kemang ya?" 

"Kok elo tau?" 

"Dari IG Storynya si Ditya." 

Mendengar nama itu muka Brian tiba-tiba berubah masam. 

"Elo mau nonton mereka, Bri?" 

Brian geleng-geleng kepala, "... Nggak."

Anggi menaikan sebelah alisnya, ia melihat ada yang berbeda dari suasana hati temannya itu. 

"Lah, tumben… Biasanya paling nomor satu lo kalo nonton doi tampil." Pancing Anggi. 

"..." Pemuda itu diam sejenak, seperti melamun.

"Bri? You okay?"

Pertanyaan itu melepas Brian dari pikirannya. 

"Ah, bukan apa-apa. Cuma lagi sedikit clash aja."

"Oalah, lagi marahan…" Kalau Anggi mengatakannya dengan demikian, jelas kalimatnya jadi terkesan aneh. 

"I just don't get it. Why is he being selfish?

"Setdah… Nape lo berdua?" 

Brian menarik nafas lelah, "Tau dah, semenjak dia sibuk ama band nya, gue jadi suka ngerasa kalo dia jarang ada buat gue. Awalnya kita jadi jarang nongkrong doang, tapi lama-lama di kostan pun jadi jarang ketemu. Pernah malah gue tunggin sampe baliknya subuh." 

"Ngapain juga lo nungguin dia ampe subuh?" 

"Ya gue khawatir lah, kalo dia kenapa-napa. Kalo sampe di begal gimana?" Anggi hanya mengangguk, meskipun ia sendiri masih belum paham dengan niatnya Brian melakukan itu. 

Sebagai teman yang baik, Anggi mendengarkan dengan seksama, Brian pun melanjutkan curhatannya, "Kaya tadi pagi tuh, gue minta temenin doang, eh kagak mau. Ada latihan lah, besok manggung lah, banyak alesannya."

"Jadi intinya?" Tanya Anggi. 

"Dia egois. Keasyikan sama temen-temen barunya. Sampe lupa siapa yang selama ini ada buat dia." Cerocosnya tajam. 

"Ishh elo tuh ya. Lo berdua bukan bocah lagi, Bri. Sahabatan gak harus ada selalu setiap saat. Lagian ngapain juga lo harus ngurusin pertemanan orang? Terserah dia lah. Kalo emang lo segitu kesepiannya gak ada dia, kenapa lo gak ikut hang out sama mereka aja? Kan pada kenal juga. Emang Ditya gak pernah ngajak lo?" 

"Ngajak sih, tapi kan kita hectic persiapan UTS, Nggi. Mana ada waktu buat nongkrong."

"LAH BERARTI MASALAHNYA SAMA AJA ANJIR! Duh elo tuh kenapa ya, gue suka gemes deh ama isi otak lo." Anggi tertawa sendiri sambil menggebrak meja.

"Tapi itu kemarin - kemarin, Nggi. Sekarang dia agak cuek. Emang udah beda." Bantah Brian. 

"Lo jangan langsung ambil kesimpulan gitu juga. Tau sendiri kan dia banyak kegiatan? Kali aja dia emang gak ada niatan buat ngacangin lo. Tapi emang lo sendiri juga yang susah diajak nongkrong makanya dia gak ganggu. Kalo lo cuma pengen Ditya ada buat hiburan lo sendiri, bukannya malah elo yang egois?" Tutur gadis itu pelan. Ia berusaha menampar kesadaran dalam diri temannya. 

"..." Brian diam tertunduk. Yang dikatakan Anggi ada benarnya juga. Ia terlalu cepat bertindak sembrono. 

"Coba tahan emosi lo. Lo ngalah dulu, ngobrol sama dia baik-baik, minta maaf kalo bisa, tunjukin kalo elo ngerasa bersalah. Gue gak tau lo ngomongnya harus kaya gimana, toh elo kan yang paling ngerti dia bukan gue."

"... Iya juga." 

"Janji sama gue lo bakal minta maaf. Kasian tuh anak gak salah apa-apa." 

"Fine…

*PING!!! 

Tak lama setelah Anggi memberi petuahnya, ponsel Brian berdering. Pemuda itu tertegun saat membaca sederet pesan yang bermunculan dari orang yang menjadi topik hangat obrolan mereka. 

"Nggi, si monyet baru chat gue." 

"Hm? Ditya? Wew panjang umur tuh orang… Apa katanya?" 

"Minta ditemenin di ruang sekre, katanya dia sendirian." 

"Terus? Mau lo samperin?" 

Mereka berdua saling menatap. Bedanya tatapan Brian penuh dengan keraguan. Dalam hatinya, rasa sayang pada sahabatnya terlalu besar untuk melawan gengsi yang hanya secuil nasi. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi dan Anggi pun tersenyum. 

Dasar, ceritanya lagi berantem, di chat sekali doang langsung luluh… Yang model begini bisa gak sih disebut bucin? 

Ditengah perjalanan, Brian dan Anggi menyempatkan diri untuk singgah di mini market dekat kampus mereka. Anggi ingin menyimpan stok cemilan untuk bahan bakar bergadangnya nanti. 

"Silahkan kak, pocky nya lagi promo beli 1 gratis 1, all variant loh kak."

Brian yang tadinya ingin segera pergi dari tempat itu jadi termakan rayuan promosi mbak-mbak kasir. 

Gue kasih buat Ditya deh… 


Tok! Tok! Tok! 

"Misii… Ditya?" Kepala Brian mengintip dari balik pintu. 

"Oi, Bri… Sini masuk." Sahut Ditya yang telah menunggu lama, sambil menggandeng gitar akustik kesayangannya. 

Brian berjalan menghampiri panggilan sobatnya, "Lo sendiri?" 

"Uh huh." 

"Kemana yang lain?" 

"Belom pada dateng." 

"Oh…" Tiba-tiba suasana menjadi canggung. Ingin memulai pembicaraan, Brian mengeluarkan sebuah pertanyaan, namun tanpa disengaja nadanya terdengar ketus, "Ada apa lo minta gue kesini?" 

Detik berlalu, pertanyaan Brian terdengar sedikit mengintimidasi. Tidak ingin menambah cekcok, Ditya berusaha untuk bicara sehalus mungkin dengan mengutarakan sedikit isi hatinya. 

"Gak ada, gue lagi pengen berdua sama lo aja." Butuh nyali besar bagi Ditya untuk mengatakan itu. 

Tidak ada secercah pun kebohongan dari pernyataan tersebut. Sungguh tulus hingga memicu jantung Brian berdegup kencang, melelehkan sisa es diantara mereka. 

"Lo abis dari mana?" Tanya Ditya sambil berpindah duduk di atas kotak sound system hitam. Ia memasang kabel aux yang menghubungkan gitarnya dengan pengeras suara. 

"Dari iBox Gancy sama Anggi. Macbook gue di servis 2 hari. Gue gak bisa apa-apa sekarang." 

*PING!!! 

Anggi : [Bri, gue baru inget bagian lo yang prinsip proposal penawaran ada yang gak sesuai data di rinciannya]

Anggi : [Sent a photo to Brian

Anggi : [Nih coba lo cek lagi ya, kalo udah kelar kirim langsung ke gue] 

Anggi : [Tq] 

Damnit, Jesus. How am I supposed to-

"Kalo mau nugas pake laptop gue aja dulu, mumpung nganggur tuh." Usul tersebut datang seperti wahyu dewa penolong. Pemuda lain di ruangan itu mendobrak jalan berpikirnya yang sempat buntu. Seolah ia dapat menebak isi kepalanya dengan persis. 

Brian tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang rapat, "Lo emang paling ngerti gue."

Selama 30 menit akustikan tidak jelas, Ditya menarik lembaran kertas yang berisikan tap guitar sebuah lagu yang sudah 2 bulan ia latih. Lagu itu berjudul 'November' karya dari gitaris terkenal asal Jepang, Masaaki Kishibe. 

1...

2…

3… 

*Jreng…

Nada dari bait pertama petikan gitar itu mencuri perhatian Brian. Melodi tersebut sangat indah didengar, menimbulkan citra hangat namun terkesan agak sedih, seperti manisnya cinta yang tidak bisa dimiliki. Ditya memainkan lagu itu dengan sangat pandai. 

Brian yang duduk selonjoran di lantai dengan laptop di pangkuannya, hanya bisa terpesona menatapnya. Perasaannya kini sungguh berbeda, ini bukan sekadar kekaguman pada teman sendiri, sedikit lebih dari itu. Ia benar-benar terpikat sosoknya, seolah ia ingin memilikinya sendiri, mendekap tubuhnya, dan merasakan bibirnya yang lembut. 

Pikirannya sangat berkecamuk. Perasaan ini sungguh keliru. Hal ini sangat diluar kodrat. Memiliki hasrat pada sahabat sendiri yang juga seorang laki-laki. 

"Bri." Panggil pemuda berambut hitam itu. Tangannya menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna hijau, cemilan Pocky rasa matcha, "For you.

Brian terlihat terkejut melihat benda itu. Lalu ia menambahkan, "Sorri gue jarang ada buat lo selama akhir-akhir ini. Gue sama sekali gak ada maksud cuek sama lo, Bri." 

Si bule di hadapannya masih menatap sambil sedikit menganga. Pasalnya, bukannya ia terkejut oleh Ditya yang tiba-tiba minta maaf dengan memberikan Pocky, tapi dirinya sendiri baru akan melakukan hal yang sama.

What a sweet coincidence! 

Sontak ia terkekeh dan Ditya melihatnya heran. 

Ia lalu merogoh ranselnya, menyerahkan produk yang sama, hanya saja rasanya yang beda, yaitu cookies and cream. 

"Lah?" 

"Hehe, gue baru mau bilang hal yang sama." 

"...?" 

"Sorri gue udah ngambek gak jelas tadi, tanpa ngertiin situasi lo, Dit." 

"Nah, bro. It's fine." Ditya memberikan senyuman manis, sembari menjulurkan tangan menerima hadiah pemberian sohibnya, "Hehehe, kita sepemikiran nih beli Pocky?" 

"HAHAHAHA! Kita cuma tukeran rasa doang ternyata!"

"Ahahaha, hadeeh kocak." 

Nafasnya tersekat, saat Ditya dekat dengannya. Matanya ikut berbinar setiap kali Brian mendengar tawanya, melihat senyumnya.

It feels so right. But it's very wrong at the same time. I'm not supposed to think of him like that. 

Chapter Text

18:45

Basement 2… Basement 1… Lower Ground…  

Brian melanturkan gumaman tak bermakna saat menaiki lift. Seperti orang ling-lung dengan tatapan nihil. 

*TING-TONG!!! 

Ground Floor… 

Serentak ia keluar dari lift tersebut, berdesakan dengan pengunjung mall lainnya, dan bergegas menyusuri pusat perbelanjaan tersebut menuju toko iBox. Sesegera mungkin ia harus menyelesaikan keperluannya. 

" Ngghhh! Bloody hell… " Umpatnya dengan pelan saat duduk di kursi kayu kedai kopi Starbucks. Ia menyalakan macbooknya yang sudah berfungsi seperti sedia kala. Namun setelah itu, tidak ada lagi yang ia lakukan.

Tak ada. 

Hanya menatap layar Macbooknya yang meminta kata sandi. Hanya ada satu pertanyaan yang terlintas di pikirannya. 

Kenapa?  

Kenapa dia bisa memiliki rasa ketertarikan seksual tersebut pada sahabat masa kecilnya? Pada sesama pria!? Brian berani bersumpah pada apapun bahwa dirinya masih lelaki normal. 

Apa karena mereka berdua terlalu sering dikatain homoan, sehingga mungkin ucapan itu jadi kenyataan? Atau karena bereka berdua sama-sama lama menjomblo jadinya muncul perasaan yang keluar jalur? 

I'm not a homo! Fuck, it's disgusting! 

Lord, I think I'm lost in this mess. 

Kepalanya terasa berat saat bersandar di bangku itu, sambil menilik orang lain berlalu-lalang ditengah keramaian Gandaria City. Sudah lebih dari dua hari ia mendapati gangguan istirahat akibat beban pikiran ini yang kerap menghantuinya. Aroma biji kopi giling di kedai tersebut merupakan salah satu cara untuk membantunya kembali rileks. 

Karena itu pula otaknya dapat memproses masalahnya dari akar dengan perlahan. Sejak kapan dirinya dan Ditya di cap sebagai pasangan homo? Saat SMP? SMA? Entahlah, tetapi… Ada satu peristiwa yang paling melekat di memorinya. 

Brian teringat kenangan 4 tahun silam. Saat ia dan Ditya masih remaja. Saat masih bersekolah di SMA 70 Jakarta lebih tepatnya. Dimana rumor antara anak sekolahan menyebar cepat layaknya kebakaran hutan. Desas-desus yang mau tidak mau kerap terdengar di gendang telinga.


"Bel, anak kelas lo yang namanya Ditya punya pacar gak sih?" 

"Hmm setau gue sih enggak. Kenapa nih? Jangan bilang lo naksir? Hehe." 

"Ganteng anjir… Cool banget, mana pinter lagi." 

"Udah 2 tahun sekelas, gak pernah tau kalo dia pacaran. Gosipnya sih tuh anak kagak demen cewek."

"Hah? Lo ciyus, Bel?" 

"Ciyus elaah, kudet amat, sih. Lo pasti tau Brian anak kelas Bahasa, kan?" 

"Bule yang sekilas mirip Harry Styles? Anjir, sumpah itu kecengan gue waktu kelas 10."

"Banyak yang bilang mereka berdua homoan."

"Bukannya Brian pacaran sama Maya kelas IPA 9?" 

"Mantan. Baru putus." 

"Wah, iya?" 

"Iyaa, katanya mereka putus karena Brian lebih milih Ditya."

"Masa terang-terangan begitu?" 

"Dan lo harus tau, Vi. Waktu kelas olahraga minggu kemarin, kita semua di tes lari marathon 10 keliling. Dan si Ditya tumbang, dong, di lap ke-9. Nah, sama anak-anak cowok langsung dibopong lah, ke UKS. Terus entah dari mana, Brian dateng dengan keadaan panik dan khawatir gitu, lho. Langsung ngelus-ngelus kepalanya si Ditya. Anak-anak kelas cuma ngeliatin doang, udah kagak heran juga sih kita."

"Bohongan lo?" 

"Ciyuss Vivi... Dan anehnya lagi, nih. Si Brian stay terus di UKS nemenin Ditya sampe jam istirahat kedua. Bikinin teh manis, beliin makan siang dari kantin. So sweet banget gak tuh?" 

"Rada creepy sih kalo gitu... Iya juga ya, Bel? Kalo gue intipin di kantin, itu anak sering berduaan mulu." 

"Buset, kalo ketahuan guru gimana tuh?" 

Cibiran dua anak cewek itu pun tak sengaja mendarat di daun telinga Brian, yang saat itu sedang lewat di kantin untuk jajan jus. Ia pun langsung melotot ke arah duo biang gosip itu, berniat untuk membantah informasi tersebut. Tapi sudahlah, ia tidak ingin buang-buang energi untuk melawan dua anak perempuan yang menyebalkan. Bisa jadi nanti malah dapat masalah baru. 

Emang apa salahnya perhatian ke sahabat sendiri?  

Malam pun berlalu. Sang rembulan terbit sepertiga purnama. Brian berkunjung menemani Ditya yang sedang terbaring di kasur, penuh memar di paha dan betisnya  akibat kecelakaan berkendara. Mereka masih asyik ngobrol dan bercanda. Saat seperti ini, untuk sementara Brian dapat sedikit melupakan perasaan galau tentang Maya. 

"Emang salah, ya, Dit? Kita bareng terus?" 

"Kita kan cuma sahabatan, Bri."

"Itu juga yang gue bilang ke Maya sebelom kita putus. Dia kagak mau ngerti kalo lo juga penting buat gue. Masa iya gue enggak nolongin lo yang kecelakaan cuma buat nemenin dia jalan." 

"Lo juga lebay amat, dah. Padahal gue cuma jatoh dari motor doang. Pergi ke klinik sendirian juga bisa."

"Kok lo malah ngatain gue, sih? Udah naluri alami gue buat milih lo duluan." 

"Tapi kan… Gara-gara gue lo jadi putus."

"Dit… Cewek tuh gampang nyarinya. Tapi kalo sahabat sejati cuma ada sekali seumur hidup. Lagian siapa coba yang bisa nolak muka ganteng kaya gue? Hahaha wajar juga kalo gue deket sama lo malah disebut homo." 

Emosi tak nyaman, segera menusuk hati Ditya setelah Brian mengucapkan kalimat terakhir itu. 

"Brian, kalo emang lo risih dikatain homoan sama gue, ya-" Cetus Ditya dengan sedikit emosi. 

Brian segera memotong perkataannya cepat, "Mereka cuma bisa sirik doang, Dit. Gak punya temen deket macem lo sama gue."

"..." 

"Persetan mereka mau bilang apa soal kita. We're buddies for life! Aren't we, brother? " Brian mengulurkan kepalan tangannya, mengajak Ditya untuk brofist

" Hehe, yeah, we are… Buddies." Jawab Ditya, membalas ajakan tos Brian. Sahabatnya langsung senyum sumringah dan bersandar amat sangat dekat dengannya. 

" How's your leg though?

" Still hurts a little bit. Don't lay your head on them ."

" Can I lay down on your stomach then? "

" Just lay on a pillow! Jeez…

" Nah. Your baby fat is better ."


Brian membuka kedua matanya. Kesadarannya kembali ke masa kini. Ia masih berada di kedai kopi Starbucks, ditengah-tengah kumpulan furniture yang didominasi oleh warna coklat. 

Ditya… 

Dulu gue bilang kita cuman sahabat. Kenapa sekarang perasaan gue malah beda sama elo?

Ditya… 

Apa cuma gue doang yang punya rasa begini? Lo gak ada perasaan begitu, kan, sama gue? Coba seandainya hati gue bisa kembali 'normal'. 

Lamunannya tiba-tiba dipecahkan oleh tepukan ringan pada bahunya. Pemuda itu melirik, dan mendapatai sosok gadis imut berambut ombre pirang, tertawa kecil sembari berdiri disampingnya. 

"Kak Brian!"

"Lho, Cinta?" 

"Lagi nugas sendirian aja, nih? Hehe."

"Ah, enggak, hehehe. Gue abis ngambil laptop baru di servis. Lo juga sendirian aja nih malem-malem? Bukannya hari ini jadwal kumpul YJ?" Tanya Brian heran. 

"Hmm? Gue ada keperluan dulu kesini jadi gak ikut kumpul. Oh iya, gue boleh numpang duduk bareng? Meja lain penuh soalnya…" Ujar Cinta. 

"Oh silahkan." Tutur Brian. 

"Sorry banget nih, malah jadi ganggu." Gadis itu beranjak duduk bersebrangan dengannya. 

"Yaelah, sans aja kali, Cin. Hahaha."

Cinta mengibaskan rambutnya, memperlihatkan paras wajahnya yang putih bersih dengan pulasan makeup ala artis Kpop. Damn! Gadis itu terlihat imut sekali. Wajar jika dulu Brian pernah menggebetnya saat pertama bertemu. 

"Kenapa, Kak Bri? Ngeliatin gitu banget, hehe." 

"Eh, panggil aja 'Brian'." 

Gue harus dapetin cewek! 

Chapter Text

Malaikat Cupid senang sekali mempermainkan perasaannya hari ini. Dari galau sempoyongan memikirkan hal tidak jelas. Kini hatinya dibuat dag dig dug ditemani cewek cakep yang tiba-tiba nimbrung. Kini cewek itu sedang nikmat menyeruput Java Chips Frappe yang baru saja selesai di press .

Selama satu jam kurang lebih keduanya mengobrol tidak jelas tentang kehidupan mereka. Umumnya, Brian akan menceritakan sejarah keluarganya yang berasal dari Adelaide dan Cinta banyak cerita tentang bagaimana ia menekuni hobinya bermusik dan kejadian-kejadian lucu selama ia bergabung di UKM band UI. 

"Si Ramzy tuh ya, badannya doang gede hatinya beri-beri, anjiirrr… Pernah suatu hari dia jalan ke mall Ambassador sama kakak ceweknya, terus ada mbak-mbak SPG manggil dia 'Om' sambil nawarin alat pijet rematik. Ternyata doi dikira gadun bawa anak dong, hahaha!" 

"Hahahahah! Terus respon dia gimana?" 

"Ama dia dicuekin, terus udahnya dia nangis dan ditenangin sama kakaknya." 

" AHAHAHAHA! What the fuuuuck ." Brian tertawa sampai terpingkal-pingkal.

"Hahahah, serius anjirr! You know laah mukanya dia kan boros banget which is kaya babeh-babeh." Cinta kembali menambahkan. 

Saat mereka berdua tertawa bersama, Brian menyadari sesuatu. Cinta itu orangnya asyik, ia benar-benar seru diajak cerita, dan senyuman kecil yang ia pancarkan sempat membuat hati Brian cenat-cenut. Ia jadi teringat oleh mantan-mantannya terdahulu.

Rasa penasaran mulai menghujani nuraninya. Ia ingin mengenal Cinta lebih jauh. Untuk itu, Brian sudah menyiapkan pertanyaan pamungkas untuk menerawang apabila cewek ini 'siap dipinang' atau tidak. 

"Mana cowok lo, Cin?" 

"Cowok?" Tanya Cinta sebelum ia terkekeh, "Gw single kak, hehe… Eh sorry, Brian maksudnya." 

"Lah, putus?" Tegas Brian, Cinta hanya mengangguk. 

"Udah lama banget kaleee, LDR-an 2 tahun tuh susah ternyata kalo gak jaga komitmen." Ujarnya datar. 

"Bentar, emang cowok lo anak mana, Cin? Gue lupa." Potong Brian menimpali. 

"Anak kedokteran UNBRAW, di Malang."

"Lo mutusin dia?" 

"Iya laahh, njir. Dia selingkuh sama temen kampusnya." 

"Gimana tuh ceritanya kalo gue boleh tau?" 

"Jadi waktu itu gue tau dari temen gue anak kedokteran juga yang lagi koas bareng dia. Awalnya gue curiga doang, kok Instastory dia kagak pernah keliatan di akun gue. Gue tanya dong, terus dia cuma bilang lagi sibuk banget sampe gak pernah update."

"Nah besoknya temen gue nge-DM. Katanya udah 2 minggu instastory mantan gue isinya berduaan sama cewek lain terus. Sumpah, awalnya gue gak percaya, secara di timeline gue kagak ada, sampe akhirnya temen gue kasih screenshot. Akun gue di hide ternyata. Gue samperin tuh ke Malang diem-diem. Gue labrak ke kostannya. Dan parahnya, gue nemu bajingan itu lagi ciuman, sama cewek yang di instastory. Gak tanggung-tanggung langsung gue gaplok tuh benalu."

"You're joking, right? He- he really did that!?

"I'm serious, Bri. Itu si brengsek malah balik nyalahin gue, bilang gue cewek nakal lah, apa lah. Yaudah gue putusin aja."

"... What a fucktard. If I were you I'll crack the shits out of his face! You clearly deserved better than a dickhead, Cinta."

"Whoa chill out, superman. It was all in the past now, I've moved on. He's dead to me anyway. You know I'm a strong girl, right!?

"Well, yeah I can see that... But still, that must be hurtful for you." Brian geleng-geleng kepala, "What about now, Cin? Lo belom pacaran lagi?"

"Hmph… I don't know, belom deket lagi sama orang lain. Gue masih agak trauma sama cowok brengsek… Tapi kalo ada orang lain yang baik, gue mau coba membuka diri lagi." Ujar Cinta sambil senyum malu-malu kucing. 

Aha! Green light, baby! 

Eitsss tunggu! Tunggu dulu. Brian tidak boleh gegabah. Baru saja hitungan jam sosok Cinta muncul dalam kehadirannya, khayalannya sudah sliweran kemana-mana. Memang jiwa jomblonya se-mengenaskan itu ya? Ah sudahlah, hal seperti ini harus dibawa santai. 

"Cinta, malem ini lo gabut gak?" 

"Lumayan gabut, nih. Tapi gue udah tanggung bolos kumpul YJ, sayang bet kalo langsung balik." 

"Cari makan yok, gue mulai laper." 

"Yuk! Mau cari makan diluar?" Cetus cewek itu penuh semangat. 

"Bebas, lo ada ide enaknya makan dimana." 

"Hmm gimana kalo kita cobain gultik Blok M?" 

"Oh yang gerobak panggul pinggir jalan itu?" 

"Iyaa ada jongko favorit gue disana namanya gultik Pak Agus Budi. Lo harus coba pokoknya! Dia jual sate telor juga, enak lah." 

"Hehehe, kuy lah." Brian terkekeh. 

Mereka berdua pun keluar meninggalkan tempat itu menuju lantai basement, dimana Brian memarkirkan sepeda motor Kawasaki W250 miliknya. Tentu saja tujuan awal Brian mengajak Cinta untuk boncengan naik motor dengannya adalah untuk modus dan pamer. Iya lah, siapa juga yang berani menolak kegantengannya saat naik motor bergaya klasik ini? Bahkan teman dekatnya, Anggi, juga mengakui hal itu. 

Namun sayang, pemuda bule bodoh itu sangat lupa kalau ia hanya membawa 1 helm, sehingga di perjalanan mereka harus menyusuri jalan tikus agar tidak terciduk melanggar aturan lalu lintas. 

"Brian, di perempatan Jl. Barito ada polisi!" Teriak Cinta saat melihat seorang aparat kepolisian yang mengenakan rompi hijau. 

" Oh bloody hell! " Brian yang terkaget oleh peringatan Cinta segera refleks menarik rem dadakan. 

"Gue turun dulu deh, ntar lo tunggu gue di sebrang perempatan. Biar kita aman okay!" 

"Gak perlu lah, cin, kita muter aja lagi." 

"Udeeh sans ae, daripada lo ditilang. Lagian kalo muter jauh." 

Maunya dilarang tapi si Cinta keburu ngacir menyeberangi zebra cross . Setelah melanjutkan motor-motoran, akhirnya mereka tiba juga di jongko gulai kaki lima Pak Agus Budi, yang katanya Cinta recommended banget. Keduanya memesan masing-masing satu porsi sebagai pembukaan. 

" Whoa, it's good! Better than the one I usually eat with Ditya. " Cetus Brian setelah mencicipi sesuap gulai panas. Tidak sadar bahwa nama itu baru saja keluar dari mulutnya. 

" I told you, right? This one is really good! Cobain juga sate usus sama telor puyuhnya. Pak Agus sendiri yang masak jadi rasa satenya khas." Sahut Cinta diantara kunyahan. Ada sebutir nasi yang muncrat keluar disaat ia bicara. Brian tertawa dalam hati melihat hal tersebut, lalu ia mencoba suruhan temannya.

"Hmm mantap . Kok elo bisa sih nemu tempat makan enak gini? Padahal tempatnya agak gak keliatan dari jalan raya." 

"Hunting laaah~ Dari jaman SMP gue suka nyari makan bareng temen-temen. Dari Pasar Senen, Glodok, sampe ke Rawamangun udah gue jajah." Pamer Cinta dengan bangga, "Btw, emangnya lo sama Ditya suka makan gultik yang sebelah mana?" 

"Di pojokan sana, yang seberang Hanamasa." Tunjuk Brian ke arah jalan yang ramai.

"Iiihhh yang disitu mah biasa aja kalee~" 

Sejenak mereka melahap suapan demi suapan. Brian yang ketagihan sampai menambah 3 porsi lagi, sementara Cinta yang baru memakan satu setengah porsi sudah mengeluh kekenyangan. 

"Briii~ gue gak sanggup…" 

"Abisin dong… Sayang nanti nasinya nangis." 

"Aaaahh kenyaaaang…"

"Yehh ayo dong kalo diabisin nanti gue yang bayarin semua." 

" Hmm deal?

" Hahahah, of course, deal!

Baru saja gadis itu akan melanjutkan suapannya, ada sepasang kucing liar yang ribut sedang adu cakar dan melompat tepat ke atas paha Cinta. 

"AAAAHHH!!!" Jeritnya ketakutan. 

"MEOONGGG!!!" Si kucing tak tahu diri malah tambah menggeram. 

Kucing kampung sialan itu refleks membuatnya kaget setengah mati, sampai-sampai menumpahkan sisa kuah pekat berbau amis ke seluruh kaosnya. 

"Hus! Hus!" Pak Agus yang ikut kesal langsung mengusir  dua kucing itu dengan sapu lidi. 

" Cinta you okay!? Damn those stupid cats!

"Baju gue kotor, Bri…" Lirihnya

" Hold on… " Brian segera melepas jaketnya, dan segera membungkus tubuh mungil Cinta dengan benda itu. " Here, wear this ." 

"Th- Thanks, Bri…" Jawab Cinta, sedikit terbata-bata dan salah tingkah. Pipinya memancarkan rona warna pink. " I really… Really hate cats.

Tak lama kemudian mereka pun memutuskan untuk pulang ke Depok. Setelah tragedi kuah tumpah di jongko gultik Blok M barusan, Cinta tidak banyak bicara dan Brian bersikeras untuk mengantarnya ke kostan agar aman. 

"Brian…" 

"Ya?" 

"Lo gak kedinginan?" 

" It's okay , Cin. Santai, gue gak bakalan kena angin duduk ko." Candanya sambil terus mengemudi di jalan yang padat merayap. Karena jaketnya dipinjamkan pada cewek di belakang, kini ia hanya mengenakan kaos tipis, meskipun diterpa angin malam.

"Idih… Sok kuat lo." Ledek Cinta dengan tawa kecil. 

Pemuda bule itu berhasil mengantarkan teman wanitanya selamat sampai tujuan, tanpa cegatan polantas, dan tanpa drama tambahan. Cinta juga berjanji akan mengembalikan jaket Brian kalau sudah dicuci sebagai tanda terima kasih. Akhirnya Brian pulang ke kostannya sendiri dengan hati berbunga-bunga.

------------------------------

Sesampainya di kamar, Brian mulai mengumpulkan berbagai informasi tentang Cinta di medos . Mulai dari tanggal lahir, zodiak, warna favorit, hewan favorit, sampai sinetron favorit. Belakangan ia baru tahu kalau Cinta sedang intens mengikuti serial Netflix 'Stranger Things'. 

Akhirnya pemuda itu pun tahu banyak tentang Cinta. Mulai hobinya memakai apapun yang identik dengan warna ungu. Ia yang merupakan fans berat Payung Teduh. Sampai yang lebih ekstrim lagi kalau ia memiliki kebiasaan muncrat saat makan. Tapi entah kenapa semua itu membuat Brian makin penasaran dengan Cinta. 

*PING!!!  

Cinta : [ Thanks for tonight, kakak brian :p] 

Brian terkekeh sendiri saat membaca pesan yang baru masuk ke ponselnya. Cinta iseng sekali sengaja memanggilnya 'kakak'. 

Brian : [ You're welcome Cintaaa

Cinta : [Makasih udah nemenin gue cerita, nanti kita hang out lagi ya kapan2]

Brian : [Yoii sama2] 

Brian : [Gue seneng kok dengerin lo cerita, jangan bosen2 ya ;))]

Ah, sepertinya ia akan mimpi indah malam ini, kawan! Ia mematikan ponselnya dan meletakannya dibawah bantal. 

*PING!!!

Sontak ia terkejut ketika ponselnya kembali bergetar. Kali ini orang yang menghubunginya adalah Lisa, mamanya sendiri. Ia pun mengangkat panggilan itu tanpa ragu-ragu. 

" Hey Mom, what's up?

" Hey honey, how are you doing? We missed you . Are you coming home tomorrow?

" Yeah I guess so, you guys have something in mind?

" Great then we can have a celebration dinner together!

" Huh? Celebration dinner? What are we celebrating exactly?

" Honey, how could you forget? Tomorrow is our wedding anniversary.

" Oh God Jesus! Sorry, sorry… It kinda slipped my mind ." 

" Hhh this kid… Just come home before evening. Your dad could use some help with cooking. Oh also, please invite Ditya to join us.

" Ditya? I'm not sure he'll go though, he's been pretty busy lately.

" Just ask him first, Brian. Tell him we insist.

" Heheh. Mom, why are you so excited about him?

" Didn't you say that you wanna spend more time with him the other day? You know that we'll have to move back to Aussie next year." 

" ... Ah, yeah you're right.

" Okay, so… Don't be late tomorrow and make sure to invite him over, you hear?

" Alright bye, Mom. Thanks for calling.

" Bye sweetheart, good night ." 

Panggilan itu pun terputus. Brian tidak perlu mencari kontak dengan nama Ditya di aplikasi perpesanannya. Nama itu sudah terpasang paling atas diantara jajaran chat yang lain. Tepat diatas nama Anggi dan grup belajar kelompok. Ada hal kecil yang ia temui saat malihat chatroom sahabatnya, ternyata ia baru mengganti foto profil, menggambarkan dirinya sedang candid bermain gitar dengan syahdu. 

…He's handsome. 

Cepat-cepat ia buang pikiran busuk itu jauh-jauh. Ia hanya mau menelepon si monyet , bukan malah memandangi foto profilnya. Ya Tuhan, mau telepon saja ribet sekali.

*Tuuut... Tuuut... 

"Bri?" 

"Hei, Dit…" 

Chapter Text

Pukul 2 siang mereka bersiap untuk berangkat. Ditya memaksa Brian untuk melipir dulu ke pusat perbelanjaan terdekat untuk membeli hadiah untuk orang tua Brian serta kemeja baru untuk dirinya sendiri, sebab ia pikir kurang sopan jika menghadiri undangan makan malam keluarga sahabatnya mengenakan kaos oblong. Ia sampai mendapat protes dari sahabat bulenya itu yang tidak mau berlama-lama. Tapi anehnya, saat Ditya selesai membeli pakaian, malah Brian yang jadi ikut-ikutan ingin belanja, dan membuang waktu makin molor. Lalu kedua sahabat itu pun kembali melanjutkan perjalanan. 

Motor Kawasaki melesat dengan kecepatan rata-rata 60 Km/jam dalam menempuh jarak dari Depok ke Kelapa Gading. Barulah sekitar pukul 5 sore mereka tiba di gerbang kediaman rumah keluarga Anderson. 

" Mom, Dad, I'm home~ " Panggil Brian lantang dari pintu utama. 

" Hi honey, welcome home~ " Sosok Lisa, Ibunda Brian yang berambut pirang, berlari kecil dan langsung memeluk putranya. 

" Hey, I brought Ditya with me, like you asked ." 

" Good evening, Mrs. Anderson ." Sapa Ditya penuh tata krama. 

" Oh my goodness, Ditya! How have you been? " Lisa mendekapnya dalam pelukan erat. 

" Ah, I've been doing quite well. Thanks for inviting me here today ." Balas Ditya agak tertawa canggung. 

" Aww dear, it's our pleasure. Come in, come in! " Lisa memegang lengan Ditya dan menuntunnya masuk. 

" Brian sweetie, go help your dad with those steak will you? He might keep grilling them 'till it's burnt, and I don't wanna have dinner with just salad. " Sahut Lisa dengan volume nyaring. 

" Yeah, on a sec! " Brian menyahutnya balik. Ia pun sigap menghampiri ayahnya yang berada di halaman belakang, sedang sibuk menimang-nimang suhu alat panggangan. 

" Ditya, could you help me prepare the dishes? I could use some extra hands ." 

" Sure, what can I do?

" Bring all the plates in the top cabinet and put them on the dining table, please ." 

Ditya mengambil bangku kecil sebagai pijakan karena rak kabinetnya lebih tinggi dari jangkauannya, " Whoa, that's a lot of plates. You sure you want to use them all?

" Yeah? We're going to have a feast! " Lisa tertawa sumringah.

Terdengar derap langkah kaki dari belakang, " Darling, did you see my lighter? " Suara berat seorang pria bertanya. 

" it's next to the fridge ." pertanyaan tersebut dijawab oleh Lisa.

Suara langkah tersebut terdengar semakin dekat, nyaris tepat di belakangnya, Ditya menengok. 

" I thought this year Brian will bring a girl home, hahah!

Celetuk humoris Marcus yang memasuki pintu kaca menuju ruang makan, pria yang tingginya setara dengan Brian itu masih mengenakan celemek dan sarung tangan oven. Segera saat melihat Ditya, ia langsung mengulurkan tangan untuk berjabat. 

" How are you, son? "

" I'm great, Sir.

Terdengar suara sesuatu yang lembek dibakar diatas bara api. Setelah itu Ditya melongok ke halaman belakang, tempat Brian memanggang daging-daging segar itu sambil memainkan ponsel. Di sisi kanannya, Marcus memotong beberapa macam sayuran warna-warni yang juga ikut dimasukan ke dalam panggangan. 

Wangi masakan mereka menyelimuti seisi rumah, membuat udara begitu sedap untuk dihirup. Selera makannya jadi meningkat drastis. Sambil menunggu hidangannya siap, Ditya dan Lisa menyiapkan peralatan dan minuman di meja makan. 

" Dinner is ready! " Seru Brian membawa dua nampan besar penuh hidangan mewah. 

" Ribeye steak served with grilled pepper and cauliflower, beer batter fish…" Sebutnya satu persatu sembari meletakannya di meja.  

"And non-pork meat pies in honour of our guest. Australian specialty ." Brian mengedipkan sebelah matanya pada Ditya saat ia mengucapkan hal itu. Sialan, si bodoh itu sok berlaga menjadi tuan rumah yang baik. 

Meja makan mereka tidak begitu besar, mungkin muat sampai 6 orang. Orang tua Brian duduk saling berdampingan. Sementara putranya duduk disebelah tamu kehormatan, Ditya. 

Pemuda yang memakai kemeja baru itu membiarkan aroma lezat mengepung hidungnya sebelum akhirnya ia mengiris daging panggang tersebut menjadi potongan kecil dan mencicipinya dengan perlahan. 

Wow…  

" Did you really make this steak? " Rasanya luar biasa enak! Ia sampai menatap tak percaya daging yang ditusuknya. 

" Why? You literally saw me cooking them with Dad. Taste good isn't it?

" As much as it's hard to believe. It's really good!

" Damn, mate. Don't you believe your own buddy can cook? " Brian menoyor kepala sohibnya jahil, dan Ditya menginjak jempol kaki Brian sebagai serangan balasan. 

" Lads, stop roughhousing each other ." 

" Ditya dear, you drink wine?

" Umm… I'll have a glass, but not too much, please."

" He never had any liquor in front of his mom ." Ejek Brian, Ditya mendorong bahunya. 

" Oh hush, just take it easy dear. You're 21 right? You're supposed to try things out! Especially while you're still in college ." Bantah Lisa yang berbalas tatap dengan Brian, ia menuangkan minuman fermentasi anggur merah kedalam gelas cocktail. 

" This one is 'Syrah', my favourite. The berry that's used as it's ingredients grows in our homeland ." 

Hah? Apa dia bilang? See-ryah ? Bodo amat dengan namanya yang susah diucap. Ditya belum pernah mencoba minuman fancy begini, paling yang pernah ia cicipi hanya anggur merah pasaran merek Orang Tua yang dijual di toko jamu. Setahunya hanya Papah yang suka mengkonsumsi minuman high-class macam itu. 

Pemuda berambut hitam itu hanya tertawa malu sambil menerimanya. Ia dekati ujung gelas itu pada bibirnya. 

*Glek ...

Ughh… Rasanya sangat intens! Mungkin ekspresinya dengan ujung bibir yang melengkung kebawah sudah bisa menggambarkan jelas rasa wine -nya seperti apa. 

Di sisi lain, Brian diam-diam mengarahkan kamera ponsel pada sohibnya. Membuat video boomerang dengan raut wajah Ditya yang jelek dan langsung ia simpan di galeri. 

" Don't do stupid things, Bri! " Geram Ditya yang terlihat seperti mau merebut ponselnya Brian. Namun usaha itu sia-sia karena si bule langsung mengamankannya. 

" Chill out, mate! I'm just sending it to someone… " Seru Brian, kemudian berbalik membelakangi Ditya. 

" Say Ditya, do you have a girlfriend? " Tanya Lisa tiba-tiba. 

" Eh? No ma'am, I don't… Why?

Lisa mengambil kentang wedges dari piring, " Just guessing that a nice young lad such as you would probably date someone already. You're better than our son after all ." 

" Whoa, Mom. Can't you see I'm a ladies man material? I look good, I can cook, I wash my own laundry, I can pretty much do all the chores. While this monkey over here doesn't even know the difference between a broccoli and a cauliflower . Plus, he rarely cleans his own room unless the housemaid do it for him. I'm at least 10x better! " Protes Brian. 

" Wait I thought cauliflowers are white broccoli? " Tanya Ditya bingung. 

" No it's not! See what I mean, mom? " Brian protes kembali untuk kedua kalinya. 

Lisa tertawa kecil, " But Ditya, surely there must be someone you like, no? " Tanya iseng wanita itu menduga-duga. 

Spontan Brian terperanjat mendengar pertanyaan dari ibunya. Sudah lama ia juga penasaran. Amat penasaran. 

"... Yeah, I'm kinda curious too. " Brian menoleh antusias, terlalu dekat ke arahnya. Hal yang membuat Ditya kaget sampai air yang ia minum sedikit muncrat. Hampir saja ia mempraktekan semburan ala dukun di TV. 

Hatinya menjadi sangat gugup. Ia harus menjawab apa? 

" Gee, I don't know, the last time I dated a girl was probably 9th grade. And currently my band and my hectic schedule in engineering major only kept me away from having a proper love life. So yeah… I'm more of a career oriented person ." Jawabnya ngaler-ngidul penuh dusta.

" He's just a loser ." Kata Brian dengan nada yang dibuat se-sok mungkin untuk mengejek temannya. 

Kedua orang tua Brian hanya tertawa saat melihat tingkah gaduh mereka. 

" Don't worry, son. You'll know it when you find the right girl ." Ucap Marcus pelan. " In my experience, if you like a girl then go all out on her face. And she'll fall for you in no time! "

" Yeah like that time when you'd threw pebbles at my dorm window in the middle of the night, waking everyone up and played The Beatles's song, and then shamelessly shouting at me to go to prom with you.

" I was being romantic.

" Of course you were, and I got into trouble after that. My friends won't stop teasing me about it ." 

" But you said 'yes' ." 

" ...Yes, because you're my best friend, Marcus. Nobody understands me better than you do. And I've loved you long way before then ."

Marcus mendekap bahu Lisa dan menariknya mendekat. Tawa sayang mereka tidak luntur sedetik pun, sebelum akhirnya bibir Lisa menyentuh Marcus dengan kecupan. 

Masih menggenggam tangan istrinya, perhatian Marcus kembali pada dua pemuda di hadapannya, " Gotta tell you lads, she's my childhood crush. Though we got married in our mid 30's. We fell in love at the age of fourteen. And she lived a couple blocks away from my house ."

" We're basically neighbours, hahaha ."

" Oh, I almost forgot ." Ditya memberikan sebuah kotak kue tart transparan yang dihias cantik dengan pita emas, " This is for you, Mr. And Mrs. Anderson. Happy anniversary ." 

Pemuda itu menghadiahkan kue tart pavlova yang diberi tulisan dari coklat dan selai merah :

[Marcus & Lisa, Est. 1994]

" I told him it's your favourite cake, Mom ." 

" Oh my, Ditya… You don't really have to, dear. This is so sweet ." 

" Nah, it's just a small gift. Mom also wishes to congratulate you guys ." 

" Ahh thank you, son. You're such a goodhearted young man… You really know how to put a smile on this old man's face, hahaha ." Puji Marcus. 

" We love you so much ." Sela Lisa. 

" Has Brian told you yet? " Tanya Marcus. 

" Told me what?

" That we'll be going home to Aussie permanently next year ." 

" Oh yeah, he told me already ."

" I'm sorry, mate. We gotta stay with Pops through his old days ." Marcus menambahkan. 

" No, no. Don't mind me. I mean… Family comes first. I'd do the same if I were in your shoes ." 

" You've always been like our own family, Ditya. Thank you for being a good friend to Brian ." Lisa menggenggam tangan kiri Ditya dan memberikan senyuman hangat padanya. Perkataan tersebut benar-benar tulus dari hati. 

Mata Lisa mulai berkaca-kaca, Ia sangat bersyukur Ditya dapat menjadi bagian dari hidup Brian. Membantu membimbing putranya menjadi pribadi baik seperti sekarang ini. Namun ditengah momen emosional seperti ini, Brian malah cengengesan sendiri chatting di ponselnya. 

" Honey! Stop texting on your phone. This is a family dinner ."

" Er, what? Sorry, my friend just sent me this funny video ." Sewot Brian cengengesan dengan jemari yang masih berkutik pada ponselnya selama beberapa detik sebelum ia masukan kembali kedalam saku celananya. 

" Hey Dad, why don't we just call Uncle John and Pops on Skype? I bet he'll be happy to see us all together.

" I was thinking the same thing! Hold on, I'll go grab my iPad ." Marcus beranjak menuju ruang keluarga dan kembali dengan sebuah komputer tablet di tangannya. Ia langsung menyambungkan video call dengan Uncle John di belahan dunia yang lain. 

Sejujurnya Ditya jadi malu jika harus ikut gabung di kamera dan bertemu keluarga besar sahabatnya. Pasalnya ia hanya hadir disini sebagai tamu. 

" Hey, Marc! Congratulations on your anniversary, eh mate! " Suara Uncle John memantul keluar lubang audio. 

" John! Thanks mate! Me, Lisa, Brian and one of his friends are having dinner here ."

" Hey, Johnny. It's nice to see you!

" Oh hey guys! Wow looks like you're all having a good time! By the way Dad is currently watching TV in the living room. Let me get him on camera, wait a sec ." 

Uncle John berjalan menuju ruang keluarga di kediaman Anderson di Adelaide. Terlihat disana ada seorang pria tua yang duduk di kursi besar lengkap dengan sandaran kaki sedang menonton acara pencarian bakat di TV. 

Saat Uncle John menyerahkan layar elektroniknya pada Pops. Pria tua itu menyipitkan matanya ke arah panggilan video. 

" Hey Pops, it's me! " Brian melompat lebih dekat ke kamera. 

" ... Oh it's you Brian. Ehemm… Hey listen here mate, I have a funny story to tell ." Ujar Pops terlihat senang walaupun wajahnya dipenuhi keriput berlapis. 

" Last night at 3 am. A racoon snuck into the kitchen and mangled the trash can. I woke up to the strange noise, and quickly grabbed my gun and my walking cane, fearing it'd be a burglar. John and Abby were sleeping upstairs… I can't be bothered to call out for help. So I went alone, walking my steps quietly…

" Whoa, you must be so scared! "

" I was… But as soon as I arrived at the kitchen, I saw no human silhouette. Except for a creature with a pair of fierce glowing green eyes! I aimed my gun at it and BANG! It ran away and managed to escape through the doggie door!

Ditya ikut terkagum melihat Pops melanjutkan ceritanya dengan semangat prajurit, padahal suaranya sudah serak. 

" Holy Pops, you're a maniac! " Orang-orang yang mendengar celetukan Brian ikut tertawa lepas. 

" And then our neighbour panicked and called the police because of the gunshot. Luckily they didn't charge us with anything. But they still arrest your hunting rifle into custody. Hhhh… You need to be more careful next time dad. We don't want you to put yourself in danger. " Ujar Uncle John gusar, geleng-geleng kepala. 

" ...Sorry Johnny I'm old… But enough of that. Marcus, congratulations on you and Lisa. I'm very happy for you both, I wish we could celebrate together here next year…

" Thank you so much, Dad ." Jawab Marcus dan Lisa hampir bersamaan.

Setelah itu Brian tiba-tiba mengambil gelasnya dan berdiri tegak, " Hey guys, I want to make a toast! "

" Hear, hear! " Salut Marcus mengacungkan segelas wine. 

" Hold on champ, wait for us too! " Uncle John terlihat berlari ke dapur dan kembali dengan dua gelas jus jeruk. Satu diberikan pada Pops. " No wine for Pops, hahahah!

" First of all, congratulations Mom and Dad. For the 24 years of marriage, you guys still become the loving parents that I cherish everyday. And always did your best to make sure I grew up happy. I love you.

Bisa juga si Brian mengatakan hal romantis seperti itu. Kedua orang tuanya bahkan sampai terharu. 

" For happiness.

" And second, cheers to Pops. For his outstanding bravery in a bloody fight against a racoon! May he always be in a healthy condition so he can keep defending the house from rodents!

" AHAHAHHAHHAHA!

" Cheers! Cheers to Pops! " Semua orang bersorak sorai dengan ramai.

*Clank! 

Suara denting gelas kaca saling adu. 

Chapter Text

Malamnya, setelah makan malam bersama keluarga Anderson, Brian mengajak Ditya untuk membeli rokok ke supermarket depan taman komplek, sekalian mencari udara segar juga. 

Tanpa banyak bicara, Brian masuk dan menghampiri penjaga konter sementara Ditya menunggu diluar, melihat suasana taman komplek yang kini sudah diperbaharui jadi lebih modern dengan ditambahnya sarana olahraga. 

Nampaknya sedang ada sebuah perayaan disana. Hiasan bendera berwarna merah dan musik EDM yang bombastis dapat didengar dari tempatnya berdiri. Seperti pasar malam saja. 

Tak lama, orang yang belanja datang kembali membawa bungkusan plastik dan sekotak rokok Marlboro Black ditangannya, " Got it!

Ditya menoleh ke arahnya, kedua tangannya bersembunyi dalam saku celana, "Udah, Bri?" 

Yang ditanya hanya mengangguk memberikan jawaban 'iya'. Kemudian ia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. 

"Bagi sebat dong, Bri." 

" Here, take it ." 

"Mana vape punya lo?" 

"Belom diganti coil sama gue, rasanya jadi gak enak kayak bau gosong." 

"Heheh, makanya ngerokok yang biasa aja, gak usah belaga sok gaul." Ledek Brian. 

"Elah berisik lo. Buruan pinjem korek."

"Iyee."

Brian melirik sebentar ke arah taman seberang yang cahayanya kontras, "Rame bener tuh taman." 

"Mampir bentar yok, Bri. Gue kepo." Ujar Ditya. 

"Ayok." Brian mengikuti keinginannya. 

Mereka berdua berjalan di tepi trotoar sampai ke tepi zebra cross . Menunggu celah yang tepat untuk melangkah ke seberang jalan. Ternyata di taman komplek tersebut sedang digelar semacam pertandingan futsal betajuk Gading Cup 2018. Pantas saja dari tadi mereka lihat pengunjungnya banyak yang pakai baju jersey, ternyata perlombaan antar anak SMA. 

Brian mengajak Ditya untuk menonton sebentar, kini yang tengah tanding adalah SMAK Tarsisius melawan SMAK Penabur Kelapa Gading dengan skor 3 - 2. Namun bangku penonton yang sudah terisi penuh memaksa mereka untuk menyaksikan sambil berdiri bersama kumpulan bocah dan warga lokal lainnya.

Brian mencolek bahu Ditya, "Dit, taruhan sama gue. Kalo Tarsisius yang menang lo bayar gue 100 ribu. Kalo Penabur yang menang gue yang balik bayar." 

"Anjrit, apaan dah!? Curang banget lo pilih tim yang skornya lebih gede." Sanggah Ditya yang kesal. 

" Oh, come on . Taruhan gak akan rame kalo gak ada tantangan!" 

Dita masih menatap Brian sengit, ia kembali menghisap rokoknya dan mengetuk abu yang menempel, "Ogah." 

" You're no risk taker ." Hobi sekali bule yang satu ini memprovokasi sobatnya. 

Salahnya, Ditya juga selalu terpancing umpannya Brian, " Fine! Kalo sampe tim Penabur yang menang, lo bayar gue 100 ribu…" 

Brian tertawa kegirangan. Baru saja ia akan meng-iyakan, Ditya kembali menyela. "... Plus masakin gue steak yang kaya tadi di kostan!"

Buset dah, nih monyet satu banyak maunya! 

" Deal? " Tagih Ditya. 

"Kalo gue masak di kostan nanti banyak yang minta, Dit. Lo gak kasian sama gue?" Ujar Brian dengan mata puppy eyes nya yang memelas. 

" Then it's not a deal and you're a loser ." Jawab sahabatnya hampa dengan maksud meledek. 

Wajah Brian berubah merah akibat tersungut. Pemuda disampingnya mampu membalikkan suasana. Sudahlah, ia adalah pria penyuka tantangan! Perjanjian macam itu hanya ibarat mainan anak kecil!

Kedua tangan mereka berjabat untuk bukti pengikatan persetujuan. 

Akhirnya dua pemuda itu menonton pertandingan dengan serius. Entah tim Tarsisius yang terlalu brutal atau lawannya yang terlalu loyo. Pertandingan babak pertama dipimpin oleh SMAK Tarsisius dengan skor 5 - 2. Ditya sudah gigit-gigit kuku sendiri lantaran khawatir uang sakunya akan dirampas. Bahkan ia sempat berpikir untuk menyabotase kompetisi itu dengan menembakan sinar laser ke arah mata sang keeper gawang Tarsisius. 

"Bagi sebat lagi, Bri."

Brian terkekeh, kemudian ia memberi sebatang rokok pada Ditya. Tangannya langsung merangkul pundak sahabatnya, dan kepalanya condong kesamping dekat telinga. 

"Mulai panik ya, masnya?" Bisiknya pelan sambil menyeringai. 

Ditya menganggapnya bagai bualan omong kosong. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan. 

*TUUUUUUTT!!!  

Sirine Daddy Yankee Spanish nyaring dibunyikan, tanda babak kedua dimulai. Terlihat tim Penabur mengganti 3 dari pemain inti mereka. Semuanya merupakan siswa kelas 11 SMA keturunan tionghoa yang memiliki perawakan atletis. Aura lapangan futsal tersebut sontak berubah. Seakan ada tim yang lebih mendominasi diantara mereka. 

Ditya nyengir dan mengepalkan tangannya, sebuah harapan baru telah tiba. Sepertinya SMAK Penabur sengaja menyembunyikan kartu AS mereka untuk membuat sebuah gebrakan. 

Tak sampai waktu 15 menit tim Penabur mampu membobol gawang Tarsisius dengan 3 angka. Riuh penonton meledak bergantian. Yang mencetak goal tersebut adalah pemain yang mengenakan jersey nomor 04 bernama Anthonius. Hampir seluruh perhatian penonton berfokus padanya, apa karena dia terlalu jagoan? Atau karena model rambutnya yang mirip Captain Tsubasa? Peduli amat, anak itulah yang menjadi harapan Ditya berada di posisi kemenangan. 

Go Tsubasa Ozora KW Super!!!  

Ia ingin menyombongkan hal tersebut pada Brian. Lalu ia menoleh dengan muka mengejek, berharap melihat ekspresi Brian yang kini kelabakan. Tapi tidak, orang yang ia lihat sedang chatting di ponsel. 

"Bri!" Panggil Ditya keras. 

"Eh, kenapa!?" Brian terkejut hampir menjatuhkan poselnya. 

Ditya menyegir, " My team is catching up!

Brian spontan menengok ke arah score board . Ia tidak percaya pada matanya sendiri. Tim lain berhasil menyusul! Skor keduanya adalah seri 5 - 5. 

" Bloody hell??" 

Waktu tinggal tersisa 1 menit lagi. Para pendukung kedua sekolah tersebut saling membalas yell-yell. Pemain nomor 04 melaju dengan bola di kakinya, namun ia sergap dihadang oleh dua pemain lawan, lalu ia melihat isyarat pemain nomor 08 untuk mengoper bola padanya. Nomor 08 menerima bola itu dan langsung ia tendang kencang ke arah gawang. Di sisi lain, keeper Tarsisius sudah memasang ancang-ancang. 

* SWOOSH!! 

Bola itu melesat jauh. Keeper Tarsisius melompat, namun bola tersebut bergerak meliuk seperti kurva yang membuat tembakannya yang sulit ditangkis. 

"GOAAALLL!!!!!" 

Kumpulan anak SMA dan penonton lain menyaut histeris, tak terkecuali Ditya. Pertandingan tersebut resmi dimenangkan oleh SMAK Penabur Kelapa Gading. Brian hanya menganga akibat syok melihat kekalahannya. 

Setelah pertandingan selesai, keduanya masih berjalan-jalan disekitaran taman dan duduk disebuah bangku kayu dekat jembatan cinta. Ditya tak henti-hentinya mengolok Brian, dan si bule berpendapat bahwa tim Ditya hanya jago kandang. 

"Mau taruhan apa lagi nih? Hahaha." 

"Berisik, nyet!" 

"Yeeeh, si babang pundungan. Mana duit gue cepe ceng? "

"Cih, nanti gue transfer via m-banking!" 

" Alright, alriiight ." 

Ditya merangkul pundak Brian. Senyuman belum meninggalkan wajahnya. Kalau mereka sudah lulus nanti. Kalau suatu hari mereka berpisah. Apakah hari-harinya akan terasa sama seperti ini? 

"Bri?" 

"Hmm?" 

"Apa gue bisa ikut lo ke Aussie?" 

Mata Brian melebar terkejut. Pernah sekali ia memikirkan ide itu sebelumnya, tapi belum ia tanyakan langsung pada sahabatnya. Ia takut jika Ditya punya cita-cita lain untuk dikejar dan bilang tidak. Mendengar hal itu dari orangnya langsung, hatinya terasa seperti terbang meroket bersama bintang-bintang di langit malam ini. 

Pemuda bule itu terkekeh, kemudian ia mengeluarkan dua kaleng bir dari kantong plastik dan memberikan satu kepada Ditya.

"Yakin lo mau kesana? Di Aussie gak ada apa-apa loh. Lebih seru di Indo." Ucap Brian sambil meneguk minuman rendah alkohol itu. 

Ditya mengangguk, "Kan gue bisa sekolah lagi disana. Ambil program S2 terus kerja di perusahaan gede." 

"Nanti Mamah lo sendirian dong?" Tanya Brian.

"Yah… Paling itu konsekuensi nya." Ditya menunduk muram. 

"Kayaknya lo cuma pengen ngikutin gue doang ya? Hehe udah ketebak. Lo emang gak bisa jauh-jauh dari gueee." Sewotnya sambil mengacak-ngacak rambut hitam Ditya. 

"Ughh… Kagak bego." Protes Ditya meskipun tebakan Brian benar. Ia membuka kaleng bir di tangannya dan meneguk isinya.

" I know we're soulmates ." 

Deg

Canda Brian yang sekena jidat terdengar seperti halilintar yang menyetrum tubuh Ditya. Jantungnya seperti kehilangan fungsi. Rahasia yang ia pendam mungkinkah terbongkar?

Sekarang ia harus bagaimana? Mengaku bukanlah pilihan! Apa mungkin… Brian juga? Ah tidak! Ditya tidak ingin melakukannya. Tidak ingin menerima penolakan dari sahabat kecilnya. 

Tapi… Dipendam terus juga rasanya sakit. Apa harus ia coba saja? Apa mungkin Brian juga suka pada dirinya? 

Perlahan sangat perlahan, detik demi detik, suaranya mulai terbuka. 

" Brian… What if someone… Someone you knew for a very long time..."

"Err... Do I know this someone?" Hening mengikuti pertanyaan itu.

Kedua tangan Ditya mulai gemetar, "What if that someone... Secretly like you that way...? And they're trying to confess to you..."

"...Well, it'd be awkward I guess... But of course if we knew each other in the first place, I would consider their feelings too. Who knows I might be attracted to them as well, right?"

Demi Tuhan waktu terasa berhenti saat itu. Jantung Ditya berdegup kencang. Mulutnya bersuara seperti orang gagap. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. 

"...I ...I like y- "

* PING!!!  

Ponsel Brian bergetar dalam saku, ia lalu merogohnya dan mengalihkan fokusnya pada benda itu. 

"..." Ditya menghela nafas. 

Jari-jari Brian berkutik dengan setiap huruf alphabet pada keyboard ponselnya. Bibirnya melengkung keatas dan tawa kecil sesekali keluar dari mulutnya. Sepertinya ada orang lain yang lebih menarik untuk diajak ngobrol. Brian seakan lupa ada orang lain disampingnya. 

"..." 

Diam-diam firasat Ditya meniup nafas lega. Ia tidak berhasil mengucapkan kalimat terlarang itu. Biarkan saja lah terbungkam selamanya. 

Sejak tadi makan malam Brian sibuk melulu dengan ponselnya. Siapa coba bajingan yang berani mengusik waktu berduannya? Anggi? Ah, masa iya, meskipun Ditya tahu mereka teman dekat, keduanya tidak suka chat seintens itu. Grup kuliah juga tidak mungkin, karena ini hari libur. Atau mungkin temannya Brian yang lain? Apapun itu yang jelas membuatnya merasa sedikit tersisihkan. 

Ditya berdehem lalu berdiri, mencuri perhatian Brian dari benda pipih itu. 

"...Huh?"

"Gue mau balik." 

Brian terdiam, tiba-tiba sekali si monyet mengajaknya pulang. Ia tidak berkomentar, lalu menghabiskan tetesan terakhir bir miliknya sebelum meremas kalengnya dan dibuang ke tong sampah. 

"Yuk balik." 


Setelah berjalan kembali ke parkiran motor dan melanjutkan perjalanan pulang ke kediaman Anderson. Ditya bergegas mengambil tasnya dan berniat untuk pamit pada orang tua Brian. 

" Eh? You wanna go home? " Lisa bertanya. 

" Yes, thank you so much for your hospitality ." Ujar Ditya. 

"Oh Ditya, Just spend the night here." Lisa berjalan mendekat dan menepuk bahu pemuda itu. 

" Well, I don't wanna bother you guys. And besides, my house is not that far from here ." Ditya hanya tertawa gugup. 

" Jesus son, you used to sleep here all the time. Why being so modest now? it's getting kinda late to go out anyway. " Seru Marcus menimbrung. 

" Umm… My mom is- " Lagi-lagi ucapannya dipotong oleh orang lain. 

" Stay here, Ditya. You can visit your mom tomorrow morning ." Brian melepas ransel dari bahu sohibnya dan ia gendong ke pundaknya sendiri. 

" ...Bri? "

" I'll go take this upstairs, okay? " Ujarnya sambil berjalan menaiki tangga. 

" Brian honey, fetch some fresh clothes for him as well ." Ucap wanita pirang itu lantang. 

Yah, tidak ada pilihan lain selain menurut. Sudah ditawari begini masa ditolak. Akhirnya ia terpaksa menginap di rumah sahabatnya. 

Ditya mengikuti Brian menuju ke kamarnya yang terletak di ujung lorong lantai dua. Ruangan tempat Brian istirahat cukup luas dan rapi, mungkin bisa memuat hingga 10 orang di dalamnya. Di ujung kamar terdapat ranjang berukuran queen size yang berseberangan dengan meja belajar dan PC gaming, lengkap dengan asbak kotor penuh bekas rokok yang belum dibersihkan. 

Kamar tersebut tak banyak berubah, sejak terakhir kali Ditya datang berkunjung. Dekorasinya masih sama. Medali kejuaraan olahraga masih bersinar, menggantung berjajar di temboknya. Foto kelas SMA juga masih dipajang. Belum lagi ada poster pensi SMA mereka yang ada foto Raisa-nya. 

Ditya membuka ranselnya yang sudah Brian taruh diatas meja belajar. Namun saat ia hendak menaruhnya di lantai, tak sengaja sikutnya mengetuk sesuatu hingga jatuh. Ia buru-buru merapikannya, karena yang punya kamar bisa ngomel. Ia pegang benda tersebut yang ternyata adalah sebuah figura mini yang diisi foto mereka berdua sedang makan es krim saat masih jadi bocah ingusan.

Kayaknya ini foto diambil 12 tahun yang lalu… 

Ditya ingat sekali waktu itu es krimnya Brian sempat tumpah dan ia merengek minta dibelikan yang baru. Dalam hati dirinya tertawa, memperhatikan bagaimana waktu sudah banyak berubah sejak mereka kecil dan cengeng. 

Ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada Mamah, memberitahukan bahwa ia akan menginap dan baru akan pulang besok pagi. 

Ditya : [Mah]

Ditya : [Malem ini Ditya nginep di rumah Brian ya] 

Ditya : [Besok pagi Ditya pulang ke rumah] 

Tumben saat itu Mamah tidak langsung membalas pesannya, biasanya status Whatsappnya selalu online . Biarkan saja deh, setidaknya ia sudah memberi kabar. 

Pemuda itu lalu berjalan menghampiri jendela. Memperhatikan cahaya kelap-kelip dari halaman belakang yang memantul di permukaan kaca. Kemudian ia membuka jendela itu, mempersilahkan angin malam meniup seisi kamar.

Seketika saat ia berada di tepi jendela itu, perhatiannya langsung dicuri oleh sepasang suami istri di halaman belakang rumah mereka tengah saling hanyut dalam dekapan. Menari slow waltz diiringi alunan musik 90an dari stereo. Tampak jelas dari wajah Marcus dan Lisa, keduanya amat mencintai satu sama lain. Seperti memanggil kembali ingatan euforia saat pertama kali menjalin cinta. 

Sangat hangat. Sangat manis. Sangat romantis. Sebuah adegan yang tidak pernah ia temui di keluarganya. Karena keluarga Ditya tidak lagi utuh. Melihat kedua orang tuanya bisa harmonis seperti keluarga Brian, hanya bisa muncul dalam imajinasi. 

"Bri." 

"Hmm?" Jawab Brian sambil melepas atasan pakaiannya. 

"Liat deh, bokap nyokap lo lagi ngapain." Titah Ditya. Brian mengintip sedikit lalu mendengus. 

"Yah gue sih udah bosen, Dit." Ucapnya datar. 

"Pertama kali gue liat mereka begini… Lucu ya, mereka makin tua makin lovey dovey gitu." 

"Mereka udah kenal semenjak kecil kan. Terus sempet pisah lama karena Momma sekolah asrama dan kerja di Sydney. Baru ketemu lagi waktu umur 30 taun. Jadinya kayak gitu, gak mau pisah." 

Brian membuka lemari dan melempar sehelai kaos oblong dan celana boxer ke kasur. "Noh, pake aja. Lo mandi duluan gih, handuk sama sikat giginya udah gue siapin."

" Alright thanks, Bri ." 

Gemericik air dingin membasuh sekujur tubuhnya. Ditya memikirkan kembali perasaannya pada Brian. Terutama setelah rasa terpendamnya yang nyaris keluar waktu tadi di taman. 

Apa dia bener-bener bego? Atau sebenernya dia peka, tapi memilih biasa saja karena gak punya rasa yang sama dan cuma nganggap gue sebatas sahabat? 

Lalu dirinya kembali melamun, menekan keningnya pada tembok keramik yang dingin. Ada banyak alasan mengapa ia memilih bertahan di zona sahabat. Karena tidak mau sendirian. Karena sangat membutuhkan. Karena merasa cocok dan nyaman. Karena pilih aman… Demi menghindari kehilangan. 

Sesudah bersih ia buru-buru menyeka dengan handuk, memakai baju tidur, dan menyikat gigi. Kini giliran Brian untuk mandi. 

"Bri, gue udah kelar nih. Sana lo mandi." Si Bule masih bermain ponsel. Lagi. 

"Bri." 

"Iye iyee bentaar." 

"Elaah lo sibuk mulu dah, chattingan sama siapa sih?" Omel Ditya menendang pelan kaki si bule. 

"Ada deh, kepo bet." Barulah setelah kena omel Brian menaruh ponselnya di meja dan masuk ke kamar mandi. 

Pemuda berambut hitam itu leyeh-leyeh di kasur pemilik kamar. Sambil membaca salah satu tabloid gosip koleksi sohibnya itu. 

*PING!!!  

Ponsel Brian kembali berbunyi. Ditya tidak menggubrisnya dan kembali membaca. 

*PING!!! PING!!! 

Deringnya tidak juga berhenti. Ditya pun penasaran dan menyalakan ponsel Brian tanpa sepengetahuan pemiliknya. Ketika layarnya menyala, sejumlah pop-up notifikasi pesan muncul berderet. 

Yang membuat Ditya kaget adalah nama pengirimnya. Cinta Putri Utami. 

Cinta : [Gue lagi nonton Stranger Things nih, wkwk] 

Cinta : [Udah episode 11 bentar lagi season finale. AAAAHHH GAK SABAR LIAT ENDINGNYA] 

Cinta : [Eh bri lo pernah coba Sate Taichan Senayan blum? Besok2 kita makan yuk, gw lagi bm nih hahaha] 

Ditya terdiam, seperti dihantam sesuatu. 

Cinta? Sejak kapan?? 

Cinta adalah teman satu timnya. Vokalis perempuan dari band yang mereka rintis. Gadis cantik yang sedikit cerewet namun memiliki kontribusi yang besar dalam membangun citra band mereka seperti sekarang ini. Tak disangka setelah putus dengan cowoknya gadis itu akan beralih ke Brian. Ditya merasa seolah terhianati. Pasalnya ia terlalu mengenal Cinta. 

Kenapa coba diantara semua wanita di muka bumi ini harus Cinta yang dipilih? Rasanya amat tidak mengenakan. 

Hatinya sakit. 

Seperti jatuh ke tanah dan pecah berkeping-keping. 

Takdirnya Brian memang bersama perempuan. Bukan dengan cowok abnormal seperti dia. Kenyataan pahit ini harus Ditya telan secara bulat-bulat. 

Kalaupun dia emang gak ada rasa sama Cinta. Yang udah pasti, gak mungkin juga dia bakal ada rasa sama gue…  

Ponsel itu langsung ia matikan dan diletakan di posisi semula. Sosok Brian yang bertelanjang dada dengan boxernya memasuki kamar, mengecek ponselnya, dan langsung berbaring di samping Ditya yang meringkuk membelakanginya, siap untuk tidur.

"Woi, udah ngantuk lo?" Brian jahil menepuk pantatnya. 

"Gue capek, Bri." Lebih tepatnya capek secara emosional. 

Brian beranjak sebentar untuk mematikan lampu kamar menjadi gelap gulita, menyisakan lampu kecil diatas meja untuk sedikit menerangi sarang mereka. Ia pun kembali naik ke kasur, dan sibuk chatting lagi. 

Sedihnya, Ditya sudah tahu Brian sedang berhubungan dengan siapa. Ia hanya berdoa agar cepat tertidur.

Satu jam kemudian. 

Cinta : [Udah ngantuk nih, besok lanjut lagi nontonnya ah] 

Cinta : [Good night Briann nanti berkabar kalo kita jadi kesana yahh] 

Brian : [Ok Cintaaa.. good night have a sweet dream ;))] 

Brian simpan ponselnya diatas meja dan menengok untuk terakhir kalinya ke arah Ditya yang sudah tertidur pulas. 

Ia melipat kedua tangannya dibelakang kepala dan memejamkan mata. Saat itulah tiba-tiba tubuh disampingnya ikut bergerak. 

* Plek

Tubuh Ditya berbalik menghadapnya, secara tak sadar kepalanya bersandar pada lengan Brian dan menaruh tangan di dada bidangnya, mencari kehangatan. 

Terperangah, Brian melirik wajah Ditya yang masih mendengkur pelan. Sosok lelaki itu terlihat sangat tenang saat tidur. Ia pandang paras itu untuk sesaat. 

Tangannya lalu bergerak meraih wajah sahabat kecilnya. Mengusap rambut yang turun menempel di dahinya. Dan memperlihatkan sedikit titik kemerahan jerawat pada kulitnya yang menurut Brian malah membuatnya terlihat lucu. 

Hatinya dag-dig-dug tak karuan. Hanya ada satu penyebab dan Brian sangat takut untuk mengakuinya : 

Brian menyukainya. Brian menyukai Ditya. 

Itulah yang membuatnya sangat paranoid. Brian hanya ingin dirinya kembali normal. Jalannya pun sudah terbuka melalui sosok gadis bernama Cinta. Tapi kenapa Tuhan masih memberikan godaan ini padanya. 

Dibawah cahaya lampu diatas meja kecil, ia dapat dengan jelas merasakan bobot dilema yang mengukir di hatinya, mengambil alih dan memakan pikirannya. 

Ditya… Don't be like this to me… 

Seluruh badan Brian menegang, menolak untuk mengakui rasa itu. Namun hatinya mengatakan untuk terus mendekat. 

Pada akhirnya, Brian Joseph Anderson, dirinya sendiri. Berinisiatif untuk menghampiri kening Ditya… 

…Dan menciumnya. 

Brian hanya ingin merasakannya sesaat. Menikmati rasanya tenggelam dalam romansa sesat itu sekejap saja. Daripada ia harus diderita oleh penasaran. Biarkanlah ini menjadi rahasia semesta. Kalaupun ia harus mati. Ia akan membawa rahasia itu terkubur bersamanya. 

Pemuda bule itu lalu memejamkan mata. Tangannya melingkar di sekeliling tubuh lelaki lain yang kini bersarang dalam pelukan hangatnya. Tanpa sekat. Seperti kepompong. Brian dapat merasakan setiap nafasnya, setiap denyut jantung mereka berpadu menjadi satu. Seolah itu adalah lagu merdu yang mengantarnya tidur. 

" Nite, Ditya…

Chapter Text

Gue suka sama Brian.

Gue tau, itu salah dan gak seharusnya gue berpikiran kayak gitu.

Tapi gue sendiri gak ngerti, rasa itu hadir tanpa bisa gue cegah, dan tiba-tiba langsung merengut akal sehat gue dari pandangan kriteria hidup normal sama perempuan.

Bisa dibilang, Brian itu penyelamat hidup gue. Walaupun rasanya nyaman jatuh cinta sama dia. Awal mula rasa ini hadir karena satu tragedi.

Semuanya dimulai saat menjelang kenaikan kelas XI.

Tahun 2013 silam, Sukmana Perkasa datang berkunjung tanpa kabar. Suara mobil sedannya yang khas terdengar menggerung dari luar. Kala itu Ditya baru saja pulang sekolah, bahkan seragam yang ia kenakan masih melekat belum dilepas.

"Sudah waktunya anak itu ikut sama saya."

"Ditya itu bukan anak kecil lagi, Mas. Gak perlu disuruh ikut sana-sini."

Sukmana dan Nike sepertinya sedang membicarakan hal serius di lantai bawah. Tanpa rasa peduli akan dunia, anak tunggal mereka menyumpal kedua telinganya dengan sepasang earphone, memutar lagu 'Baby Blue Eyes' lagunya band A Rocket To The Moon, sambil ia coba latih aransemennya dengan gitar.

My eyes are no good, blind without her.

The way she moves, I never doubt her.

When she talks, she somehow creeps into my mind.

Tiba-tiba ia mendengar suara gaduh. Seperti tangan yang dihentakan ke permukaan meja.

Apa itu barusan?

"Nike, ini sudah perjanjian kita sejak dulu. Saya yang merelakan hak asuh Ditya pada kamu saat di pengadilan."

"Mas Sukma, waktu itu kan Ditya masih kecil. Mas sendiri yang bilang kalau dia masih butuh saya."

"Betul. Dan sesuai kesepakatan kita berdua, anak itu akan ikut saya saat umurnya 14 tahun, kan? Sekarang berapa usianya? 15 tahun?"

Wanita itu diam tak melawan.

"Saya pikir kamu sengaja mengulur waktu agar saya lupa, Nike."

Keringat dingin dan gertakan gigi mulai bermunculan. Apa yang diucapkan mantan suaminya adalah benar.

"Apa Mas Sukma masih cukup tega sama saya!? Saya rela kita pisah, saya juga rela Mas punya keluarga baru. Tapi jangan ambil apa yang menjadi satu-satunya orang yang saya cintai saat ini, Mas!" Emosi Mamah mulai pecah.

"Nike, secara hukum kamu sudah melanggar perjanjian kita. Saya bisa saja menggugat kamu akan hal ini." Sukmana mengeluarkan berkas pernyataan yang sudah dibubuhi legalitas resmi pengadilan. Itu adalah surat keputusan hak asuh anak.

"Saya masih ingin menghargai kamu, saya coba lakukan ini baik-baik tanpa campur tangan pengacara. Atau harus saya katakan kebenaran kita pada Ditya?"

Kebenaran?

Sepertinya kata 'aib' lebih pantas untuk menggambarkannya. Ada aib selama ini Nike tutupi menyangkut keluarganya. Ada aib yang selama ini ia kubur menyangkut putra semata wayangnya.

"Tolong kamu panggil anak itu kesini." Pinta Sukmana.

Wanita itu memilih untuk mengalah, karena ada rahasia yang harus ia jaga.

Nike mengetuk pintu kamar putranya di lantai atas, Ditya pun mengintip sedikit dari celah yang menganga, dan melihat sosok perempuan dengan mata sembab. Sosok itu tersenyum dan meminta putranya untuk ikut kebawah. Namun Ditya menyadari senyuman tersebut tampak janggal.

Apa yang Mamah sembunyiin?

Dengan berat hati remaja itu bertatap muka dengan ayahnya kandungnya di ruang tengah. Pria itu terlihat tegas seperti biasanya. Sukmana langsung menyuruhnya duduk, dan tanpa basa-basi menjelaskan perkara situasi mereka saat ini.

Remaja itu terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Tinggal dengan ayahnya? Pindah ke Tangerang? Yang benar saja! Bagaimana dengan sekolahnya?

"Nak, ikutlah sama Papah kamu."

"Siapkan barang bawaan kamu, Nak. Kita berangkat sekarang."

Sebanyak apapun Ditya menolak, tak ada seorang pun menerima haknya untuk didengarkan.

Mengapa kedua orang tuanya yang tak pernah akur kini kompak bersikeras menitahnya untuk tinggal bersama ayahnya, Sukmana. Bukankah hal ini terlalu dadakan?

Udara dalam rumah itu semakin bertambah sengit. Nike sesekali mengusap matanya dan terisak samar. Tatapan ibu dan anak bertemu. Banyak hal yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Kesal dan bingung yang melejit tinggi. Remaja itu menggebrak meja kaca dihadapannya. Mendesak Sukmana untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi dan rahasia apa yang disembunyikan darinya.

Sukmana mengetuk jarinya, menimang-nimang keputusan yang akan ia pilih sambil melihat ke arah mantan istrinya yang menggeleng takut.

Jangan!

Teriak Nike dalam batin.

"Kamu yang bilang sendiri, anak kita sudah besar kan? Mungkin ini sudah saatnya dia tahu alasan sebenarnya kita berpisah..."

"Nak, dengar Papah baik-baik."

Sukmana mulai cerita apa adanya. Sedikit mengeluarkan kalimat berkonotasi negatif yang perlu digaris bawahi.

Hamil diluar nikah.

Terpaksa kawin.

Apa ia tak salah dengar? Apa kalimat tersebut masih manusiawi untuk diucapkan?

Ditya melepas pegangan Nike, dan berlari ke arah kamar.

"Ditya!" Panggil Nike sebelum ia berbalik menatap mantan suaminya dengan amarah, "Kamu puas, Mas...? Melihat anak kamu sedih!? Mulai sekarang kamu keluar dari rumah saya!"

Wanita itu meninggalkan Sukmana dan mengejar Ditya.

Anak muda itu mengurung diri di dalam kamar, "Aaarrggh!!!"

Barang diatas meja belajar dilempar dengan kasar hingga terpecah belah di lantai. Perhatiannya lalu tersangkut pada refleksi dirinya sendiri pada cermin.

"Dityaa! Dityaaa! Dengerin Mamah dulu nak..."

Anak haram.

Dua kata yang terus terngiang-ngiang di kepalanya bagai berputar dalam lingkaran setan.

Gue... Anak... Haram.

Jantungnya yang panik membuat paru-paru Ditya ikut menjadi tidak stabil. Ia terjatuh di lantai, memegang lututnya sambil menunduk.

"Dityaa... Nak, tolong buka pintunya buat Mamah..." Nike melirih di balik pintu.

"MAMAH MAU APA HAH!?? SIALAN TINGGALIN GUE SENDIRI!!" Mulut itu meneriakan kata yang tak pantas.

"Maafin Mamah, nak... Maafin Mamah..."

Nike terus menangis terseguk di depan pintu. Lalu akhirnya pasrah meninggalkan kamar Ditya, sementara Sukmana melihat dari jauh.

Ditya bergegas mengambil beberapa baju dari lemari dan dimasukan kedalam tas sekolah.

Kabur. Kabur sejauh mungkin. Sampai tak ada lagi yang mengejarnya. Hanya itu yang terpikir dalam benaknya.

Ia berhasil menyelinap keluar dari jendela kamar tanpa ketahuan. Mengendap di antara kendaraan yang terparkir di teras depan. Dan melesat lari kencang.

Kakinya yang lemah hanya mampu membawanya sampai ke Masjid yang tak begitu jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Ia berhenti sejenak untuk melepas lelah, sampai waktu shalat maghrib tiba. Saat itu seorang bapak polisi yang tengah selesai beribadah kerap memperhatikan Ditya yang diam di pojokan. Kehadiran polisi tersebut membuatnya merasa sangat tak nyaman.

Panik dan takut bercampur aduk. Ia sambar barang bawaannya dan kembali lari di jalanan. Lalu ia sembunyi di balik bilik toilet umum di sebuah supermarket komplek dan diam berlama-lama disana, selama berjam-jam. Hatinya cemas setiap kali melihat orang yang lewat, terlebih jika yang berpenampilan seperti petugas keamanan.

Malam turun semakin larut, Supermarket pun sudah hampir tutup. Remaja pelarian itu berbaring pada sebuah bangku taman komplek dengan menjadikan tas sekolahnya sebagai alas kepala.

Anak malang itu melamun terdiam, menatap kosong ke arah langit yang bergemuruh. Ia jauh dari kata bahagia, namun dekat dengan kata kesedihan dan terguncang yang berat.

Ragu akan arti sejati dari kehidupannya.

Tuhan, apa Engkau melihatku? Apa salahku ya Tuhan? Apa aku ini cuma anak yang gak direncanakan? Apa aku ini diinginkan? Tolong bantu aku Tuhan. Aku kebingungan. Aku gak tau caranya ngusir setan-setan di kepala ini. Aku cuma butuh seseorang yang memeluk aku. Tapi aku gak tahu harus lari ke siapa lagi.

Ia benar-benar buta tujuan.

Apa Tuhan juga kini mengabaikannya?

"Woi!" Suara itu datang diiringi dengan tangan yang mengelus rambutnya dengan lembut.

"Ditya, lo dari mana aja!? Dicariin orang-orang tuh, nyokap lo gak berenti telponin gue. Semua orang pada khawatir tau..." Nada bicara orang misterius itu dibuat santai.

Brian?

"Bri... Ngapain lo disini!?" Ditya waswas sekaligus heran.

"Harusnya gue yang bilang begitu, stupid. Ada masalah apa, Dit? Gue gak pernah liat lo sampe nekat begini." Tanya Brian khawatir, remaja lain itu melirik Ditya yang masih memakai seragam sekolah.

"Bukan urusan lo... Gue lagi males balik ke rumah." Ditya membuang muka.

"Ada firasat lo bakal lari kesini, ternyata bener. Ayo masuk dulu ke mobil."

"Udah gue bilang, gue gak mau balik, Bri!" Protes Ditya mendesis ke arahnya.

Wajah remaja itu tampak sangat kusut. Brian sempat kaget ketika Ditya tiba-tiba membentaknya. Namun hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk menolong. Ia menjulurkan tangannya untuk menyentuh pundak Ditya yang kaku.

"Siapa yang mau bawa lo balik? Gue nyuruh lo masuk ke mobil karena diluar sini dingin, nyet. Ayolaaahh..." Brian berusaha membujuknya, namun Ditya terpaku di posisinya tak bergeming.

Brian memberanikan diri untuk duduk disampingnya, dan sesekali mengusap lengan Ditya yang dilipat rapat.

Dingin.

How long has he been out here alone?

"Ditya, kita istirahat di mobil aja yuk. Biar lo lebih nyaman... Kita gak usah pulang ke rumah kalo lo gak mau. Okay?"

Sahabatnya masih bisu tak menjawab. Tetapi bola mata gelap itu kini melirik kearahnya, enggan untuk menjawab 'mau' tapi terlalu menderita untuk menolak. Brian membalas tatapan itu dengan senyuman hangat, tak lama Ditya pun mengangguk. Hati kecil Brian bersyukur akan hal itu.

Remaja bule itu sadar bahwa ada beban berat yang membuat hati sahabatnya berantakan saat ini, maka dari itu ia tidak langsung menghujaninya dengan peetanyaan, ia akan menunggu sampai Ditya siap membuka diri padanya.

"Snikers?" Tawar Brian, Ditya menatapnya dengan sinis, "Lo rese kalo lagi laper."

"Gue lagi galau, anjing! Jangan bikin gue emosi napa!?"

"Okay... Okay... Sorry." Lirih Brian menciut, "If you're not ready to talk to me then it's fine. At least lemme cheer you up a bit."

Remaja pelarian tersebut kembali membungkam mulutnya. Akhirnya Brian mencoba berlari keluar untuk membeli segelas minuman hangat emperan untuk Ditya. Beruntungnya, usaha itu sedikit membuahkan hasil, Ditya mau menerimanya.

Brian bahkan menghidupkan sound system nya dan memutar lagu favorit Ditya. Berharap ada sebuah keringanan yang muncul dari wajah kusam yang penuh kegelisahan itu.

My eyes are no good, blind without her.

The way she moves, I never doubt her.

When she talks, she somehow creeps into my mind.

"...Bri."

"Ya, Dit?"

"Gue ini anak haram."

"Anak haram? Siapa yang bilang begitu!?"

Bibir keringnya bergetar, entah ia harus memulai cerita dari mana. Atau apakah ia sanggup membeberkan aibnya sendiri pada orang lain.

"Jadi dulu... Papah dan Tante Rini itu pernah lama pacaran dari mereka muda. Mereka bahkan sempet rencana mau nikah. Tapi ternyata orang tuanya Tante Rini gak setuju karena waktu itu karir Papah belum stabil. Akhirnya Tante Rini sendiri dijodohin ke orang kaya di Padang, dia gak bisa nolak karena itu keputusan orang tuanya."

"Udahnya mereka pisah dan hilang kontak, Papah akhirnya mutusin buat kerja lebih keras buat ngejar jabatan tinggi, supaya hidup lebih mapan dan gak dipandang rendah sama orang lain lagi."

"Di waktu yang sama, Mamah diterima kerja di divisi sales di kantor Papah. Dan seiring waktu mereka kerja bareng, entah kenapa di mata Mamah, Papah itu orangnya karismatik dan sangat berwibawa. Dia jatuh cinta. Sampe tergila-gila. Bahkan Mamah sampe rela ngorbanin harga dirinya buat Papah. Sampe suatu hari Mamah hamil."

Ketika itu suara Ditya mulai hancur. Rasa sakitnya pasang hingga ke tenggorokan, karena kejadian yang selanjutnya akan terjadi adalah yang paling perih. Namun tetap ia paksakan diri untuk tetap tegar.

"Mereka berdua bingung. Panik. Papah cerita, waktu itu praktek aborsi masih jarang dan Papah belum punya banyak uang buat aborsi, ditambah Mamah juga takut. Akhirnya mereka terpaksa nutupin kasus itu dengan nikah, demi melindungi reputasi."

"Buat Mamah, dia ngerasa sedikit bahagia karena bisa berkeluarga sama orang yang dia cintai. Tapi buat Papah itu semua gak ada artinya. Papah gak ada rasa sayang kaya gitu ke Mamah sejak awal."

"Selang sembilan bulan, gue lahir, dan orang tua gue harus terbiasa dengan kehidupan baru. Waktu gue umur 8 taun, Tante Rini balik lagi ke Jakarta. Dia udah punya anak dan menjanda karena mendiang suaminya meninggal akibat stroke. Papah gak berpikir dua kali buat cerai sama Mamah demi perempuan laknat itu. Terus mereka nikah, dan buat perusahaan sendiri, didukung sama hartanya Tante Rini."

"Tapi sayangnya setelah mereka resmi nikah, Papah sama sekali gak dikaruniai anak dari Tante Rini. Itu karma dari Tuhan kali ya? Makanya si brengsek itu ngejar-ngejar gue sekarang. Karena cuma gue anak kandungnya."

Mendengar cerita Ditya, dada Brian menjadi sesak. Siapa yang bisa tegar mendengar berita seperti itu? Apalagi sahabatnya sendiri yang mengalami. Sungguh, hatinya ikut sakit dan marah.

Saat itu Brian diam-diam bersumpah bahwa apapun yang terjadi ia akan selalu berada di sisi Ditya saat terluka. Jika tidak begitu maka ia tidak pantas disebut sebagai sahabat.

"You know... In western countries, many people in relationships are having kids outside of marriage, like it's a common thing. Just look at Kourtney Kardashian for example."

"Bukan waktunya buat bercanda, Bri."

Brian juga sedikit salah sih, orang sedih jangan dulu diajak bercanda karena emosinya sedang sensitif.

"But they do love you, right? Your parents? They tried to be a family with you right? Your mom cares about you a lot. And your dad... Well, he's a shitbag, but he still gives you allowance and even pay for school. Even though he's no longer living together with you."

Ditya mendenguskan napas panjang, "Gak tau... Bahkan sekarang gue ragu. Apa semua orang beneran sayang sama gue ato nggak..."

"Don't hurt yourself... Let it go slowly, parents hide many things from their kids. Yours just more surprising."

She's a doll, a catch, a winner.

I'm in love and no beginner.

Could ever grasp or understand just what she means.

"Oh baby, baby blue eyes stay with me by my side! Till the morning through the night!" Brian bernyanyi seirama alunan lagu dengan lantang penuh semangat, nadanya sedikit meleset memang.

"Hey sing with me, c'mon. I know you love this song." Ajak Brian, awalnya Ditya diam saja, kemudian ia mulai menyair liriknya pelan seperti bergumam.

"C'mon sing it off your chest!"

"My eyes don't believe her. But my heart, swears by her!" Teriak Ditya melepas semua emosinya sampai udara di paru-parunya terasa habis.

Kedua sahabat itu bernyanyi kencang dengan suara khas remaja laki-laki di masa pubertas.

"Yeah, that's my man!" Puji Brian bangga.

"Hey." Tangannya menyentuh dada Ditya, dan dengan bola mata biru yang seakan menatap langsung jiwanya yang goyah, ia berkata pelan, "I'm with you. No matter how dipshit the world did to you. I'm with you and I love you."

Baby, baby blue eyes.

Stay with me by my side.

'Til the mornin', through the night.

"...Bri?"

"Sorry to say this, but I'm glad your parents did hit it off that night. Because of that you exist. And I get to be friends with you. You're a blessing to me, Ditya."

Well baby.

Stand here, holdin' my sides.

Close your baby blue eyes.

Kalimat itu mengalir dengan lembut. Serentak setelah Brian mengucapkan kata-kata itu, air mata yang sudah lama ia bendung lancang menetes keluar membasahi pipinya. Ia terlalu naif, ia pikir ia kuat, namun ternyata ia terlalu lemah.

Jantung Ditya terasa berdebar. Waktu seolah terhenti. Dunia tiba-tiba terasa kembali damai dan tenteram. Dengan penuh harap Ditya berusaha melihat ke arah sahabatnya itu.

Ia tak kuasa menahan beban itu lagi.

Pemuda itu menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Brian. Baru kali ini kekurangannya serasa diterima. Entah perasaan apa yang membuat dirinya merasa sangat nyaman dan dicintai oleh sahabat kecilnya sehingga Ditya tak ingin lepas dari pelukan itu.

Every moment feels right.

And I may feel like a fool.

But I'm the only one, dancin' with you.

Sepertinya hanya Brian seorang yang benar-benar bisa mengerti isi hatinya. Dan kini hatinya mulai meleleh untuk pemuda dengan mata biru indah itu.

Baby, baby blue eyes.

Stay with me by my side.

'Til the mornin', through the night.


"Ahh!"

Cuma mimpi? Ya?

Pemuda itu bangun dengan napas terengah, ia tidak menyangka kejadian masa lalunya yang kelam bisa terbayang melesap di alam bawah sadar. Matanya melirik sekeliling, ada tubuh lelaki yang dadanya bergerak kembang kempis disertai suara ngorok.

Lengan berotot Brian melekat erat mengelilingi pinggulnya. Wajahnya pun menyusur intim membuat tiap hembusan napasnya menghangatkan kulit belakang leher Ditya. Aneh, terakhir di mimpinya ia hanyut dalam dekapan Brian, sekarang ia pun bangun di dunia nyata dan masih berada di pelukan orang yang sama!

... Apa yang lo lakuin, Brian?

Ditya meraba punggung tangan Brian. Saling mengaitkan jemari mereka berdua, dan mendorongnya menjauh.

Harapannya untuk mengejar dan mencintai Brian tidak mungkin terjadi.

Tolong jangan kasih gue harapan kalo lo punya rasa yang sama, Bri. Jangan buat rasa di hati gue makin dalam.