Actions

Work Header

i shall return to you

Work Text:

Seperti melempar sekeping koin ke udara: dunia mana yang akan dia pilih. Betapa mudahnya mempermainkan dunia, So-ryu berpikir.

Tetap saja, ada beberapa hal yang tidak semudah itu diubah: Han-ah yang menatapnya dengan padangan kosong; kematian Ha-rim, lagi dan lagi, yang tidak dapat dihindarkannya; Isana yang tidak mampu menyelamatkannya; Ryu-sang yang enggan menatapnya.

Bukan yang ini, So-ryu menutup mata dan mengubah masa lalu.

Bukan yang seperti ini, So-ryu lagi-lagi membengkokkan dunia.

Jangan begini, tetap saja So-ryu tidak menemukannya.

Ryu-sang masih menatapnya dengan cara yang sama, dengan cara yang selama ini So-ryu takutkan dan yang selalu berusaha dia cegah terjadi: selayaknya menatap udara hampa. Tak ada satu hal pun yang tercermin di sepasang mata yang sebiru langit Dataran Hamat itu ketika menatap dirinya; seolah So-ryu tak ada, seolah eksistensinya tak berarti sama sekali baginya.

So-ryu masih percaya: Ryu-sang lah yang bisa menyelamatkannya. Karenanya dengan segala yang dimilikinya, So-ryu berusaha menahan pemuda itu di sisinya. Tetapi Ryu-sang, satu-satunya yang memiliki kekuatan untuk menyelamatkannya; bahkan Ryu-sang pun tidak dilahirkan untuknya. Tidak seorang pun


"Kau…” So-ryu tercenung; dia sudah paham sejak awal, tetapi selalu takut mengutarakannya. “…meski aku menghilang, kau tidak akan mencariku?”

“Tidak.” Selalu sederhana: kejujuran Ryu-sang selalu yang paling ingin dia ubah, tetapi tak pernah bisa.

“Aku sudah berada di sisimu jauh lebih lama dibandingkan gadis kecil itu,” ujarnya, pandangan terarah kepada Ah-ru yang tertidur pulas di pangkuan Ryu-sang. Betapa dia iri terhadap kepolosannya. “Karena itu dia terus-terusan membolak-balikkan dunia. Penderitaan ini tidak akan ada akhirnya.”

Semua itu tak pernah ada artinya bagi Ryu-sang, meski So-ryu telah menemaninya di ratusan kehidupannya yang lain. Bukan So-ryu yang diinginkannya.

Angin bertiup menggoyangkan dedaunan bambu di luar, menerbangkan wangi kamelia hingga ke dalam ruangan.

“Sekali lagi,” ujar Ryu-sang, suara terkendali. “Aku ingin dunia diubah sekali lagi.” Dia sejenak terdiam. “Gadis itu … siapa namanya?”

“Myo-un?”

“Ya, nama itu.” Ryu-sang mengalihkan pandangan ke luar jendela; tatapan menerawang, menatap dunia yang asing. “Aku ingin tahu seperti apa dunia yang ada dirinya.”


Tak peduli dunia macam apa yang So-ryu buat untuk dirinya: murid Song Ho-wol, hidup dipenuhi kedamaian dan canda tawa setiap hari, keluarga yang hangat, rumah untuk kembali; prajurit Son Suk-myung, berdiri di sisi So-ryu, bersama Han-ah dan Ha-rim dan untuk kali ini, dunia akhirnya baik-baik saja—tetapi Ryu-sang selalu bisa merasakannya, ketika Myo-un tidak ada di dalam dunia mereka, dan bagaimana dia tidak pernah bisa memaafkan dunia yang semacam itu. Ryu-sang tidak pernah berhenti mencari dunia di mana Myo-un ada, supaya tidak sebegitu sakit rasanya.

Bukan So-ryu tempat Ryu-sang kembali.

“Myo-un,” panggilnya, suara nyaris hilang di antara tarikan napasnya yang nyaris tiada. Masih, dia berkata, “Sekali lagi, ayo bertemu sekali lagi.”


So-ryu, sekali lagi, memutar roda dunia. [ ]