Actions

Work Header

Night of the Hunter (Idn)

Chapter Text

Saat itu tanggal sebelas Juni, dua hari setelah Aoi kembali ke apartemennya. Pukul sepuluh malam lebih tiga puluh menit, bus itu berhenti di satu titik di Meiwa, Mie. Aoi turun dari bus itu dengan memanggul tas ranselnya di bahu kanannya. Dia berjalan menjauhi bus itu dan menelusui trotoar di pinggir jalan raya yang sudah tak lagi dipenuhi banyak mobil.

“Tidak memanggil taksi, Sayang?” tanya Takashima yang mengikutinya di sisi kiri belakang.

“Tak perlu...” jawab Aoi. “Kita sebentar lagi sampai.”

“Ah, rumahmu dekat sini?” tanya Takashima lagi. Kouyou, yang berjalan di sisi kanan belakang Aoi memilih untuk diam dan membiarkan Takashima yang mengutarakan semua pertanyaan.

“Sebenarnya... aku tidak punya rumah untuk pulang...”

“Eh, Sayang, jangan bilang begitu...” Takashima mengernyitkan dahinya. “L... lalu, kita sekarang mau ke mana?”

“Ke tempat ayah meninggal...” jawab Aoi.

Jawaban itu membuat Takashima dan Kouyou secara bersamaan menghentikan langkah mereka. Mereka saling bertukar pandang sejenak sebelum kembali mengikuti Hunter mereka.

Mereka berjalan kurang lebih sepuluh menit sebelum Aoi memperlambat langkahnya. Dia hanya melihat ke sebuah tikungan tajam yang ada di hadapannya. Ada sebuah tiang lampu yang tertancap di sudut tikungan itu. Sebuah pagar membatasi tiang lampu itu dari jalan besar. Aoi kemudian melanjutkan langkahnya lagi mendekati tiang lampu itu.

Takashima dan Kouyou hanya memperhatikan ketika Aoi meletakkan ranselnya di trotoar semen itu dan menyandarkannya di tembok. Aoi berlutut untuk membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah tabung panjang, sebuah vas kecil dan botol berisi air. Aoi mengisi vas itu penuh dengan air sebelum membuka tutup tabung itu dan mengeluarkan sebatang bunga kering dari dalamnya. Aoi memasukkan bunga kering tadi ke dalam vas, menutup kembali tabungnya dan mengembalikan tabung itu ke dalam tasnya. Membawa vas itu, Aoi berdiri dan melihat ke arah Takashima dan Kouyou. “Maaf...” katanya. “Bisa tolong jaga tasku?”

“Ah, ya. Tentu saja, Sayang,” jawab Takashima.

“Terima kasih...” sahut Aoi sambil tersenyum.

Aoi tersenyum. Itu adalah pertama kalinya Takashima dan Kouyou melihat Hunter mereka tersenyum.

Aoi berjalan mendekati tiang lampu itu. Dengan kedua kakinya dia berlutut untuk meletakkan vasnya di trotoar semen itu, dekat dengan tiang lampu. Aoi memandangi vas itu sesaat sebelum dia menunduk dan menghela napas panjang. Aoi kemudian menegakkan kembali kepalanya dan menangkupkan kedua tangannya di depan mulutnya. Aoi memejamkan kedua matanya selama beberapa menit.

*

“Maaf, Takashima. Tidak ada jus stroberi... lemon tidak apa-apa, ya?” tanya Aoi sambil menyerahkan sekaleng minuman pada Takashima.

“Ah, tidak apa-apa, Sayang,” kata Takashima ketika dia menerima kaleng itu. “Terima kasih banyak, ya.”

Aoi mengangguk dan tersenyum lagi. Dia kemudian menyerahkan kaleng berisi kopi susu pada Kouyou. Setelah itu, barulah dia duduk di bangku panjang itu, di antara Takashima dan Kouyou. Dia membuka kaleng minuman sodanya yang tadi dia beli dari mesin penjual minuman. “Kita tunggu di sini sebentar, ya. Sebentar lagi May-bacchan akan menjemput kita.”

“May-bacchan?” tanya Takashima.

“Ah, dia adik ibuku...” jawab Aoi. “Dia tinggal di daerah tak jauh dari sini. Kita nanti akan menginap di tempatnya...” Aoi menghela napas panjang. “Sebenarnya aku tidak pernah mau ke sana. Aku juga sudah bilang kalau kalian ikut, dan bisa sangat merepotkan dirinya. Tapi May-bacchan selalu memaksaku untuk mampir kalau dia tahu aku ke sini... sementara aku tak mungkin merahasiakan kedatanganku ke sini darinya.” Aoi kemudian memperhatikan kaleng di tangannya itu. “Yah, memang sudah seharusnya aku datang berkunjung ke rumah saudara ibu... aku hanya tidak suka merepotkan orang lain... membuatnya harus menjemputku di sini, malam-malam.”

“Lalu... orang tuamu?”

“Aku jadi ingat vas bunga tadi,” kata Aoi tanpa menggubris pertanyaan Takashima. “Terkadang aku merasa begitu dungu... untuk apa aku mengisi vas itu dengan air... isinya hanya bunga kering... tapi aku melakukannya setiap tahun...” Aoi menatap lurus ke depannya. Matanya tak fokus pada objek apapun. Hanya pikirannya yang membentuk gambaran vas tadi dalam benaknya. “Aku mengulang kebodohanku itu selama delapan tahun...” kata Aoi sambil tersenyum.

Senyuman itu kembali menyita perhatian Takashima – dan Kouyou. “Sayang,” panggil Takashima.

“Hm?”

“Kau... terlihat manis sekali hari ini...”

Aoi mendengus. Dia tertawa kecil. Untuk pertama kalinya, di depan Takashima dan Kouyou. “Menurutmu begitu?”

“Maksudku, kau memang selalu terlihat manis. Tapi... lihatlah,” kata Takashima lagi. “Kau tertawa. Kau... terlihat paling manis kalau kau tersenyum dan tertawa seperti itu, Sayang.” Kata-kata itu membuat Aoi menoleh ke arahnya. “Aku tidak salah, ‘kan, kalau aku bilang... ini... pertama kalinya kami... aku dan Kouyou... melihatmu tertawa?” tanya Takashima. “Sebelum ini kami tak pernah melihatmu tersenyum, Sayang...”

“Benarkah?” tanya Aoi sambil mengembalikan pandangannya lurus ke depan. Dia bergumam pelan sebelum menjawab, “Mungkin... karena aku suka kota ini...” Aoi tertawa kecil. “Ironis, ya... aku justru menyukai kota tempat orangtuaku meninggal...”

“Maaf, Sayang... ibumu... juga..?” tanya Takashima.

Aoi mengangguk. “Di kota yang sama... di sini juga... hanya beda waktu...” Aoi menarik napas dalam-dalam dan menghelanya perlahan. Dia hanya memutar-mutar kaleng sodanya. “Ayah... meninggal karena kecelakaan... di tempat tadi aku meletakkan vas bunga itu. Saat itu ayah tak bisa mengendalikan mobilnya. Di belokan itu, ayah bermaksud menghindari tiang lampu. Ayah membanting stir, tapi mobil ayah malah menabrak tembok. Ayah terjepit di dalam mobil... dan meninggal karena kehabisan darah...” Aoi menghela napas panjang ketika Kouyou dan Takashima sempat menahan napas ketika mereka mendengar cerita itu. Aoi kemudian melanjutkan kata-katanya. “Dan ibu... tewas dibunuh...” jelas Aoi yang membuat Takashima dan Kouyou terkesiap.

“Di... bunuh..?” tanya Takashima.

Sambil tersenyum, Aoi mengangguk. “Kalian pernah dengar aku menyebut nama ‘Kai’?” tanya Aoi.

“Ya,” jawab Takashima. “Saat kita berhadapan dengan The Emperor...”

“Ibu dari orang bernama Kai itu... adalah orang yang membunuh ibuku...” jelas Aoi. “Tak secara langsung memang. Dia menggunakan jasa orang lain untuk melakukannya...”

“Kenapa... kenapa ibumu dibunuh?”

“Cemburu,” jawab Aoi sambil tersenyum. “Ibu Kai cemburu pada ibuku.”

“S... Sayang, maafkan aku... tapi—”

“Ibuku itu... Cinderella...” kata Aoi. “Ibuku itu... hanya orang miskin yang diketemukan oleh laki-laki tampan yang kaya raya...” Sambil tertunduk Aoi tersenyum. “Kalian pasti tidak percaya kalau ibuku hampir menjual dirinya...” kata Aoi pelan. Dia tak melihat ketika di samping kanan dan kirinya, untuk kesekian kalinya, Takashima dan Kouyou sudah terkejut karena penjelasan yang dia utarakan. “Ya, aku hampir jadi anak dari seorang pelacur. Ibuku hampir jadi pelacur yang tak berpengalaman. Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atau menyesal karena ayah adalah pelanggan pertama... dan terakhirnya...”

Aoi menggigit bibirnya. “Sebenarnya aku... tidak begitu paham... apakah ayah selingkuh dari ibu, atau ayah selingkuh bersama ibu...” jelas Aoi yang membuat Takashima dan Kouyou di sampingnya kembali terkesiap. Aoi sedikit menangkap cara Takashima menarik napas. Pemuda berambut hitam itu tertawa kecil. “Itu, ‘kan, yang tadi ingin kau tanyakan? Tentang apakah ayah berselingkuh dengan ibuku dan membuat ibu Kai cemburu..?” tanya Aoi yang dijawab Takashima dengan sebuah anggukan pelan tanpa melihat ke arah Aoi. “Aku lahir lebih dulu, Takashima... aku lahir lebih dulu... ayahku menikah dengan ibu Kai ketika ibu sedang mengandung aku...”

“Aoi-san...” kata Kouyou pelan.

“Aku dan Kai... kami kakak-beradik. Kami adalah saudara lain ibu. Kai itu... adikku. Lalu, ibu dari adikku itulah yang sudah membunuh ibuku...” Aoi terdiam sesaat. Saat dia akan bicara lagi, Aoi buru-buru menutup mulutnya. Sesaat menggigit bibirnya, Aoi kemudian berkata, “Dan yang dilakukan ibunya pada ibuku itu... ingin Kai lakukan padaku...”

“Apakah dia—”

“Sepertinya kita masih punya banyak waktu,” kata Aoi, memotong kata-kata Takashima. “‘Kurasa, tidak ada salahnya menceritakan sedikit bagian dari masa laluku? Kalian sudah tahu bagaimana ayahku meninggal. Sekarang aku akan cerita tentang bagaimana ibuku meninggal…” Sekali lagi, Aoi menggigit bibirnya, dan nafasnya sedikit bergetar saat itu. “Kau tahu, Kou, Takashima? Aku sangat ingin menyalahkan seseorang karena kematian ibuku tapi aku tidak bisa melakukan itu… itu semua bermula saat ayah berumur dua puluh tujuh tahun. Aku tahu cerita ini karena aku mengalami sepertiganya. Sepertiganya lagi aku dengar dari cerita ibu, dan aku mendengar sepertiganya lagi secara tidak sengaja saat ayah sedang berbincang-bincang dengan ibu Kai...”

Dengan itu, Aoi memulai ceritanya…

=*+*+*=

“Aku bisa menemukan pasangan hidupku sendiri!” seru pemuda itu. Di hadapannya, di tengah-tengah ruang keluarga yang dihiasi dengan berbagai macam perabotan dari kayu yang diukir itu, duduk seorang laki-laki berusia enam puluh tiga tahun yang mengenakan kimono berwarna coklat gelap. Seorang perempuan datang dan meletakkan secangkir teh di meja kecil di samping kursi tempat laki-laki berkimono itu duduk.

Laki-laki itu berdeham seraya membenahi letak kacamatanya. “Kau satu-satunya penerus keluarga ini, Gakuto,” kata laki-laki tua itu. “Shiroyama tidak menerima perempuan sembarangan untuk menjadi pendamping satu-satunya penerus perusahaan.”

“Apa bedanya!?” seru pemuda bernama Gakuto itu. “Memangnya ada perempuan yang membuatku tidak bisa menjadi direktur di perusahaan ayah!? Mau dengan siapapun aku menikah, aku tetap akan terkungkung di dalam perusahaan kebanggaan ayah itu, ‘kan?!”

“Jaga bicaramu, Gakuto,” kata perempuan tadi yang kemudian mengambil tempat duduk di ujung sebuah sofa yang ada di sisi kanan tempat duduk laki-laki berkimono tadi. Ada kerut usia di wajahnya. Tapi dia masih membawa dengan jelas kecantikan dari masa mudanya. Rambut pendeknya sedikit mengikal di bagian bawah, tak menyentuh kimono tebal merah tua yang melindungi dirinya dari suhu rendah musim gugur. “Tak pantas kau bicara seperti itu pada ayahmu.”

“Dan menurut ibu, ayah pantas memaksaku menikah dengan perempuan yang tak ‘kukenal?” tanya Gakuto. “Menurut ibu, aku wajib menghabiskan sisa hidupku dengan perempuan angkuh yang sama seperti kebanyakan orang di keluarga ini? Apakah aku benar-benar harus mengikat perjanjian sehidup-semati dengan perempuan yang hanya peduli tentang pangkat dan predikat? Ibu pikir aku mau membiarkan keturunanku memiliki darah yang sama dengan orang-orang yang hanya tahu tentang menjaga martabat, tanpa ada sedikitpun rasa keinginan untuk berbahagia tanpa mempedulikan apakah kita berjalan di pinggir jalan dengan bertelanjang kaki atau tidak!?”

“Gakuto—”

“Aku tidak melukai siapapun, Ibu!” seru pemuda itu lagi. “Dengan sesekali mengenakan baju tanpa kerah, aku tidak menodai jabatan siapapun! Aku tidak mengganggu hidup siapapun! Aku bukan kriminal hanya karena aku mengenakan gelang misalnya!”

“Gakuto, dengarkan ayahmu dulu—”

“Ayah dan ibu sudah mengambil semua kebebasanku!” seru Gakuto sambil menunjuk wajah ayahnya. “Aku tak bisa ikut klub baseball seperti teman-temanku hanya karena aku harus belajar privat tentang akuntansi! Aku tak pernah pergi bersama teman-temanku ke taman bermain hanya karena aku harus kursus tentang tata krama di meja makan! Aku bahkan tidak pernah duduk di sebelah teman perempuanku hanya karena ibu takut teman sekelasku itu akan membohongiku!”

“Jangan menggunakan kata ‘hanya’, Gakuto. Itu semua adalah hal penting—”

“Oh! Seakan-akan anak perempuan dari teman bisnis ayah itu tidak punya kemampuan untuk mempermainkan laki-laki.”

“Gakuto, ibu peringatkan, jaga bicaramu. Kau tak pantas bicara buruk tentang anggota keluarga Uke seperti itu.”

“Cukup, Ibu.” Untuk kesekian kalinya Gakuto memotong perkataan orangtuanya. “Cukup. Cukup sudah ibu dan ayah mengekang hidupku. Jangan pilihan tentang teman hidupku juga tidak bisa ada di genggamanku sendiri.”

“Kau bebas memilih, Gakuto.”

“Dari jutaan perempuan yang ada di muka bumi ini, ibu dan ayah hanya memberikan tiga pilihan padaku. TIGA!” seru Gakuto sambil membuat gestur dengan tiga jari tangan kanannya. “Dan tak satupun dari perempuan itu tahu apa makanan kesukaanku.” Gakuto menghela napas panjang. “Itupun kalau mereka benar-benar ingin menjadi istri yang baik nantinya.”

“Mereka adalah pilihan ayah dan ibu. Tentu saja mereka akan menjadi istri yang baik.”

“Ya, istri yang baik yang tahu bagaimana caranya berdandan saat perusahaan kita mengadakan acara makan malam dengan perusahaan saingan. Istri yang tahu baju mana yang sebaiknya tidak dia kenakan dua kali di dua acara yang berbeda. Istri yang tahu serutin apa sebaiknya dia harus ke salon daripada membuat betisnya besar karena lelah mengejar anak kami berlari di halaman rumah kami kelak.”

“Gakuto, kau tahu kalau perempuan itu tak seburuk yang kau katakan.”

“Mereka bahkan terlalu lelah menutupi mulut mereka saat mereka tertawa.” Gakuto berdecak. “Tak bisakah mereka sedikit santai dan membiarkan tawa mereka terlepas begitu saja?”

“Kau tahu itu bukan tindakan yang patut dilakukan seorang wanita di tempat umum, Nak.”

“Persetan dengan itu,” kata Gakuto. “Aku mau menikah dengan perempuan. Dengan manusia hidup. Dengan orang yang memiliki gairah tentang hidup. Bukan manekin berjalan yang hanya peduli dengan posisi urutan pisau dan garpu di samping piring di atas meja makan.” Pemuda itu kemudian berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar ruangan besar itu.

“Gakuto, kami belum selesai bicara..!” seru ibunya sambil beranjak dari tempat duduknya.

“Ibu sudah selesai bicara,” kata Gakuto sambil menghentikan langkahnya dan melihat ke arah ibunya. “Ayah juga...” Dia bergantian melihat ke wajah ayah dan ibunya. “Ayah dan ibu sudah selesai bicara sejak beberapa tahun lalu. Ayah dan ibu hanya mengulang kata-kata yang sama sejak itu... sampai sekarang... dan masih akan berlangsung sampai nanti...” Pemuda itu kemudian menoleh ke arah ayahnya. “Oh, ya. Ayah bilang, jaringan internet kita di daerah Mie sedang mengalami gangguan, ‘kan?” tanya Gakuto sambil mengambil jas dari gantungan yang berdiri di dekat pintu keluar ruangan itu.

“Lalu apa yang mau kau lakukan sekarang?” tanya ayahnya.

“Aku akan ke sana. Sekarang,” katanya seraya mengenakan jas biru gelap itu.

Ayahnya menoleh dan melihat ke sebuah jam besar dengan bandul yang berdiri di salah satu sudut ruangan itu. “Sekarang sudah pukul delapan malam. Apa yang mau kau lakukan pada jam seperti ini?” tanya ayahnya. “Pukul berapa kau akan sampai di Mie nanti?”

Gakuto mendengus. “Tentu saja aku tak akan mengurusnya malam ini juga, Ayah. Aku berangkat sekarang supaya aku bisa memeriksanya besok pagi.”

“Dan kau tahu itu bukan urusanmu, ‘kan, Nak?” tanya ayahnya lagi. “Biarkan bagian teknis yang mengerjakannya. Kau cukup menerima laporan, ‘kan?”

“Kalau aku bisa melakukan sesuatu, kenapa harus menunggu orang lain yang melakukannya?” tanya Gakuto. “Lagipula, aku belum benar-benar berada dalam posisi yang bisa membuatku menunggu laporan macam apapun. Ayah masih pemimpin tertinggi di perusahaan. Rasanya tidak etis kalau aku tak melakukan apapun dan sudah berlagak seperti direktur.”

“Para karyawan akan mengerti.”

“Aku tidak mengharapkan mereka akan melakukan itu,” jawab pemuda itu. “Aku ingin mereka tahu kalau mereka tidak akan kecewa KALAU suatu saat nanti aku harus menggantikan ayah,” jelas Gakuto. “Aku tak ingin memberikan sedikitpun alasan pada mereka untuk menggunjingkan aku sebagai calon pasti penerus kursi direktur.”

“Ayah bisa memecat mereka kalau mereka sampai melakukan itu.”

“Dan kehilangan orang-orang pintar yang begitu susah kita dapatkan?” Pemuda itu mendengus lagi. “Aku heran kenapa perusahaan ini bisa bertahan begitu lama.”

“Gakuto!” seru ibunya.

“Ah, ibu pasti akan ceramah lagi. Baiklah. Aku pergi sekarang. Semakin malam, aku bisa semakin terlambat sampai di Mie nantinya. Aku pergi dulu, Ayah, Ibu!” seru pemuda itu sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan besar itu.

“Gakuto, tunggu! Ibu belum selesai bicara!” seru perempuan itu lagi sesaat sebelum pintu ruangan itu tertutup dari luar. Anak semata wayangnya tak lagi berada dalam jarak pandangnya, dan perempuan itu hanya bisa menghela napas panjang. “Anak itu benar-benar keterlaluan.”

“Dia tidak akan pergi terlalu jauh, Hasumi...” kata laki-laki di sebelahnya itu memanggil nama istrinya. “Dia tidak akan pergi terlalu jauh...”

*

Jam sudah menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit dini hari ketika Gakuto menenggak alkohol untuk yang ke sekian kalinya di sebuah bar di Meiwa, Mie. Dia tak benar-benar mencari hotel untuknya menginap malam itu. Dia tak berniat untuk mengurusi segala macam hal yang menjadi masalah perusahaan ayahnya di cabang Mie. Keluar dari rumah besarnya adalah satu-satunya hal yang terlintas dalam benaknya, dan dia melakukannya saat itu. Mie hanyalah satu dari sekian banyak tempat yang menjadi tempat pelariannya. Kalau dia tidak berada di Mie malam itu, dia akan berada di tempat lain, dan itu tetap tidak berada di rumahnya.

Umur dua puluh tujuh tahun tak menjamin seseorang bisa tetap bersikap dewasa ketika dia sudah berada di bawah kuasa alkohol. Gakuto tak lagi bisa berpikir jernih. Dia bahkan tak mendengar ketika seorang bartender di tempat itu menyarankannya untuk berhenti minum.

Sementara itu, di luar bar itu, terlihat seorang gadis yang sedang mendorong seorang gadis lain untuk masuk ke bar. Gadis kedua menolak karena tak pernah masuk ke tempat seperti itu sebelumnya. Tapi setelah gadis pertama memaksa, kedua gadis itu kemudian masuk ke bar itu.

“May, aku takut. Kenapa, sih, kita harus masuk ke tempat seperti ini?” tanya gadis kedua memanggil nama gadis yang mendorongnya tadi.

Mereka mengenakan rok ketat pendek, baju dengan kerah rendah, sepatu-sepatu hak tinggi, dan makeup tebal. Aksesoris murah yang mereka kenakan juga terlihat di telinga, leher dan kedua tangan mereka. Tapi tak satupun orang di dalam bar itu yang menggubris mereka, mereka sudah terbiasa dengan kehadiran gadis-gadis itu. Gadis bernama May itu menggunakan baju seperti korset berwarna merah tua yang tertutup jaket hitam. Dia mengenakan rok ketat pendek berwarna merah marun yang ujungnya hanya mencapai pertengahan pahanya. Sebagai alas kakinya, gadis berambut panjang itu mengenakan sepatu hak tinggi dengan sol tebal. Sebuah tali kecil terikat di pergelangan kakinya.

“Kau sudah hampir seminggu tidak mendapat pelanggan, Chizuru-nee-chan..!” jawab May, memanggil nama kakaknya, sambil menyibakkan rambut panjangnya yang bergelombang. “Uang dariku saja tidak akan cukup. Kau mau kita diusir dari apartemen? Kau harus membantuku, Nee-chan!”

Berbeda dari adiknya yang tak berponi, Chizuru memiliki poni yang menutupi keningnya. Rambutnya lurus sampai ke bahu, dan bergelombang di bagian ujungnya. Dia menggunakan tank-top hijau muda yang tertutup dengan jaket yang serupa dengan milik adiknya. Dia juga mengenakan rok serupa, bedanya, roknya berwarna zamrud gelap. Yang berbeda lainnya adalah sepatu yang dia kenakan. Chizuru mengenakan boot tinggi sampai menutupi lututnya.

“Tapi—”

“Cukup buat dia buka baju saja. Setelah itu, ambil uang dari dompetnya secukupnya, dan tinggalkan dia. Aku sudah melakukan itu berkali-kali,” kata May sambil tertawa kecil. “Makanya, carilah orang yang sudah benar-benar mabuk..! Jadi kau bisa segera meninggalkannya sebelum dia bisa melakukan apapun padamu..!” kata gadis itu lagi sambil melihat ke sekelilingnya. Pandangannya kemudian terhenti pada Gakuto yang sudah hampir tertelungkup di meja counter di bar itu. “Nah, seperti orang itu misalnya..!” kata May sambil menunjuk ke arah punggung Gakuto yang terarah pada mereka. “Ayo..!”

“H... hei..! May..!” seru Chizuru ketika adiknya itu menariknya lagi.

“Ah, selamat malam... Satoru-san..!” seru May sambil melingkarkan tangannya di siku kanan Gakuto, menyebutkan sembarang nama yang terlintas di dalam kepalanya. Di belakangnya, Chizuru panik sambil menarik-narik bahu May. “Sudahlah, berpura-pura saja kau kenal orang ini..!” bisik May pada kakaknya.

“Tapi—”

“Hei, kalian berdua,” panggil bartender itu.

“Ya?” sahut May sambil menoleh ke arah bartender dan tersenyum.

“Kalian kenal orang ini?”

“Ah, ya! Tentu saja!” seru May dengan riang. “Tadi dia bersama kami. Lalu tiba-tiba dia menghilang. Ternyata dia ada di sini!” Tangannya mendorong kakaknya untuk mengambil posisi di sisi kiri Gakuto.

“Baguslah kalau kalian kenal. Bisa kalian bawa dia pergi sekarang? Bisa kacau kalau dia pulang sendiri. Dia sudah mabuk berat,” jelas bartender itu.

“Ah, baiklah..!” kata May sambil mengangkat tangan kanan Gakuto dan melingkarkannya di bahunya. Dia mendorong Chizuru untuk melakukan hal yang sama pada tangan kiri Gakuto. “Ah, dia sudah membayar minumannya, ‘kan?” tanya May memastikan.

“Ya,” jawab bartender itu. “Sepertinya dia memang sudah berencana untuk mabuk. Dia langsung membayar setiap kali dia memesan minumannya.”

“Ah, syukurlah kalau begitu...” kata May sambil tertawa kecil. “Kalau begitu, kami permisi dulu..! Dadaaah..!” serunya sambil memegangi tangan Gakuto. Bersama Chizuru, dia memanggul Gakuto keluar dari bar itu.

“S... sekarang, kita harus bagaimana, May?” tanya Chizuru ketika mereka keluar dari bar. Mereka masih memanggul kedua lengan Gakuto yang sudah separuh tertidur. Pemuda itu mengucapkan kata-kata yang tidak kedua gadis itu mengerti.

Di sisi Gakuto yang satu lagi, May melihat ke sekelilingnya. “Kita cari hotel..!”

“Hah!?” Chizuru terkejut.

May membenahi posisi tangan Gakuto di bahunya. “Ugh... laki-laki ini... kelihatannya saja ramping... tapi dia berat..!” komentar May sebelum melihat ke arah kakaknya. “Nee-chan punya ide yang lebih baik?” May terdiam sesaat sebelum dia tersenyum. “Ah, aku tahu. Kita bisa saja meninggalkan dia di sini. Nee-chan ambil uangnya. Aku bantu cari dompetnya. Bagaimana?”

“J... jangan..!” seru Chizuru. “Dia sudah mabuk..! Bagaimana kalau tiba-tiba dia dirampok?”

May menghela napas panjang sambil memutar matanya. “Kau pikir kita tidak sedang mencoba untuk merampoknya sekarang?” May kemudian menunjuk ke sebuah arah. “Ya, sudah. Kita ke sana saja..! Di sana ada hotel..!”


____....++++**・bersambung・**++++....____